Dragon Ball Super
Original : Akira Toriyama
.
.
.
Si kembar tertidur di atas tumpukan kotak-kotak makanan. melewati satu malam di mobil box, lelah dan mengantuk, membiarkan diri mereka terbawa laju menuju tempat lain.
ketika sinar kecil masuk melalui celah jendela mobil, Lazuli bangun perlahan-lahan. sinar matahari langsung menyerang iris mata birunya.
"...?"
Pandangannya masih buram, tapi Lazuli tahu kalau ini sudah pagi. sementara Lapis masih tidur nyenyak di pangkuannya.
"Lapis? Lapis...?"
Lazuli mengguncang tubuh adiknya, Lapis ikut terbangun.
"Hhh...?"
"Ini sudah pagi" gumamnya.
Lapis menguap sebentar, melihat sekeliling berantakan akibat ulah mereka memakan semua roti dan sosis didalam kotak.
"Kita ada dimana, Laz?" tanya Lapis.
Lazuli masih mengintip di luar kaca mobil. "Entahlah... aku sendiri juga tidak tahu. sepertinya kita... eh? tunggu dulu!"
Lazuli melihat sesuatu yang tidak pernah biasanya ia lihat dalam seumur hidup.
"Apa yang kau lihat?" tanya Lapis, ikut mengintip.
"Lautan!"
"LAUTAN?"
Si kembar melihat pemandangan indah tersebut dari balik kaca mobil. matahari terbit di pesisir timur dengan suara gemuruh ombak laut dan juga bunyi pekik burung-burung pelikan.
"Waaah! kita ada di laut!" kata Lapis.
"Sepertinya.. kita sudah pindah dari kota, Lapis!" jawab Lazuli.
"Waktu kecil kita pernah ke lautan kan? aku jadi ingin main pasir pantai lagi!" sahut Lapis.
"Kau rindu laut ya?"
"Hehehe, lautan itu luas kan?"
Iya, lautan itu adalah hamparan air asin penuh gelombang yang luas tak berujung di muka bumi ini. Tiba-tiba, mobil pun berhenti. pikiran cepat yang datang ke otak Lapis adalah : Mobil ini akan terbuka.
"Gawat, supir ini akan membuka pintu mobil ini!" kata Lazuli.
Lapis melihat-lihat sekitar, jika saja ada barang yang dapat menyelamatkan mereka sedetik saja...
"Lazuli! kau harus bantu aku ya!" kata Lapis.
Lazuli agak berkedip sebentar, tapi rasanya Lapis punya ide.
"Baiklah"
Ketika si supir hendak membuka pintu mobil box...
BUAAAKGGH!
Lemparan kotak dari dalam yang keras langsung menghantam wajah si supir. Lapis dan Lazuli kabur dari mobil.
"Apa yang-!?"
"Anak-anak itu!?"
"Terima kasih tumpangannya pak!" teriak Lapis. akhirnya dia dan Lazuli kabur ke pesisir pantai.
"Idemu memang selalu lucu, Lapis!"
"Hahahahhaa!"
Kaki kecil mereka memijak pasir lembut pantai, hal sederhana yang membuat kebahagiaan mereka bertambah.
"Hahaha! ayo Lapis! kita langsung buat istana pasir!" sahut Lazuli.
"Coba saja kita punya bola, jadi kita bisa langsung main"
"Untuk apa bola? buat istana pasir saja sudah cukup kok"
Lapis melihat sekeliling pantai. sepi, tenang dan nyaman. hanya mereka berdua disini. dua orang anak pindahan dari kota sebelah yang datang untuk mencari kehidupan baru.
"Eh?"
Terdengar suara gemuruh lonceng perahu dari kejauhan. sesuatu yang besar, membuat kedua iris birunya melebar kagum.
"Lapis, apa yang kau lihat?" tanya Lazuli.
"PERAHU BESAR!" jawab Lapis, intonasi nadanya sangat bersemangat.
Sebuah Kapal pesiar berlayar tepat melewati tempat si kembar yang tengah berpijak di pantai. kapal itu, berwarna putih dengan tiga tingkat, penuh dengan ratusan jendela, dan sedikit asap mengepul keluar dari cerobong besar.
"Oh, kau suka melihat perahu ya" kata Lazuli.
"Nanti, kalau aku sudah besar. aku mau punya perahu seperti itu!" sahut Lapis.
Lazuli sampai mengangkat alisnya. "Eh!? kau serius?"
"Pasti menyenangkan kan? punya perahu besar dan keliling dunia! kita bisa memilikinya, Laz!" tambahnya lagi.
Lazuli tersenyum tipis. ini bukan mimpi kecil, ini adalah mimpi besar Lapis yang sedari dulu ingin sekali menaiki perahu mewah. Jika saja kehidupan mereka tak seperti ini...
"Kau pasti akan memilikinya, kalau sudah besar" kata Lazuli.
Lapis melambaikan kedua tangannya ke atas, memanggil si Kapal pesiar dan berteriak "Hei! Perahubesar! Aku disini!"
"Lapis, kenapa kau memanggil perahu?" tanya Lazuli.
"Hoi! AKU DISINI! Hoooiii~!" teriaknya lagi. Lapis berlari mengikuti garis pantai dan terus melambai-lambaikan tangannya.
"Hooi! suatu hari aku akan menaikimu dan keliling duniaaaaaaa-!, aku pasti bisa mendapatkanmu perahu besaaaaaaarrr~!
Hoi! kau dengar aku dari sini!?"
Tapi sayangnya, si Kapal pesiar itu pergi semakin menjauh.
"Yahh... dia tidak dengar" gumam Lapis.
Lazuli menepuk pelan bahu adiknya, dia masih menatap kapal tersebut yang perlahan-lahan menjauh.
"Aku penasaran, kemana Perahu itu akan berhenti?"
"Entahlah, yang pasti... perahu itu pasti mengelilingi seluruh dunia!" jawab Lapis.
"Bagaimana kalau kita nanti menyelinap masuk ke perahu itu?" saran Lazuli.
Lapis agak terdiam, tapi... ide ini... sebuah ide luar biasa!
"Ya! ayo kita cari perahu!"
"Tapi tunggu dulu!" Lazuli menahan. "Kita baru sampai disini, sebaiknya kita mencari makanan dan uang dulu untuk persediaan di perahu nanti!"
"Ah! benar juga!"
Si kembar berjalan melalui deretan toko mewah di pinggir jalan. tak seperti kota tempat mereka tinggali sebelumnya, kota ini memiliki banyak gedung tinggi dan juga banyak kendaraan. Lapis melihat semuanya dengan tatapan kagum, belum pernah ia membayangkan bisa pergi ke tempat ini.
"Sepertinya... ini tempat orang kaya" gumam Lapis.
"Aku juga berpikir begitu..." sahut Lazuli.
Tukk!
Sebuah pesawat mainan jatuh tepat di bawah kaki Lapis. pesawat tersebut merupakan mainan modern dengan satu antena kecil yang terletak di atapnya. sebuah pesawat yang lumayan besar untuk seumuran anak-anak.
"Laz! lihat! ada pesawat jatuh!" Lapis tertawa, dia mengambilnya.
"Waahh pesawatnya besar sekali, pasti ini mahal" gumam Lazuli.
Lapis mengamati mainan tersebut, muncul di pikiranna kalau dia ingin memiliki pesawat ini.
"Laz, boleh aku mempunyai mainan ini?" tanya Lapis.
Lazuli mengangguk pelan. "Baiklah, kan kita yang menemuka-"
"MAINANKU!"
"Eh?"
Si kembar sama-sama menatap seorang anak berpakaian seperti anak pejabat datang dan mulai menyabet pesawat miliknya.
"Kembalikan! itu punyaku tahu!"
"Punyamu?" Lapis bertanya-tanya.
"Ya! itu pesawat mahal! kembalikan mainanku!" sahut si anak kaya.
Lapis menyipitkan mata mengancam, kalau urusan saling berebut, Lapis adalah jagonya.
"Tidak! aku yang menemukannya!" Lapis bersikeras, mendekap pesawat itu erat-erat ke dada.
"Punyamu!? itu pesawatku! dasar anak miskin!"
Giliran si anak kaya itu mulai menarik-narik mainannya dari tangan Lapis.
"Ugghhh! Aku yang menemukannya! ini punyaakuuu!" teriak Lapis. kedua tangannya seperti lem, terlalu kuat untuk melepas sebuah benda.
"Lapis!" Lazuli mencoba untuk mencegah, dia menepuk keras kedua bahu Lapis dari belakang. "Sudah, lepaskan saja, dia yang memilikinya" ucapnya lagi.
"Ggggr aku tak peduli! pokoknya ini jadi punyaku!"
"Itu mainanku!"
"Lepaskan tanganmu!"
"GggGgGGRGRRRR!"
Dengan gerakan kasar, Lapis menarik pesawat mainan itu sampai sayapnya patah.
"HAH!?"
Gawat... Lazuli merasa air keringat dinginnya meluncur deras di sisi lehernya.
"Waaaa!? Pe-pesawatku...!"
"Lapis! kau sih kasar!" Lazuli mengomeli adiknya.
Lapis membela diri "Tapi dia yang kasar duluan!"
"Hei hei! ada apa ini!?" suara bariton seseorang datang dari belakang si anak kaya tersebut. ternyata... itu ayahnya.
"Mereka merusak mainanku!" jawab si anak.
Lapis dan Lazuli mulai gemetar takut.
Si ayah dari anak tersebut memerhatikan si kembar. matanya menyipit tajam, entah bagaimana cara dia melihat mereka berdua. tapi nampaknya, dia tak suka.
"Heh, kalian kerjanya pasti cuma mengemis tiap hari" kata si ayah.
Si kembar cuma menunduk takut.
"Kembalikan pesawatnya, itu mahal. mainan itu adalah kesayangan anakku, cepat!"
Dengan hati terpaksa, Lapis menaruh pesawat itu ke bawah. dia takut untuk berbicara.
"Jauhi anak-anak itu! lihat mereka, kumuh sekali! kotor, mana ada yang mau dekat-dekat dengan si pengemis seperti kalian"
"..."
Si kembar hanya menunduk sedih.
"Ayo pergi" ujar si ayah. anaknya langsung meledek si kembar.
"Weeekk! dasar miskin"
"gggrr..." Lapis merasakan kedua tangannya mengepal erat-erat.
Lazuli langsung mengelus rambut adiknya, sedikit menghibur. "Lapis, sudah tidak apa-apa. nanti kalau kita punya uang banyak, kita bisa membeli mainan seperti itu"
"Sama saja, ternyata kota ini jauh lebih kejam daripada sebelumnya..." gumam Lapis.
Lazuli menghela nafas berat.
Sepertinya... mereka kurang beruntung. meskipun wilayah ini adalah distrik paling modern dan maju, tetapi moral masyarakat perkotaan nampaknya sangat minim kepedulian.
"Ayo pergi" ujar sang kakak.
"Lazuli?"
Lazuli menoleh. "Hm?"
"Aku... ingin... punya segalanya..." gumam Lapis, suara kecil.
"Apa?"
"Aku bilang... aku ingin punya segalanya" jawab dia lagi.
"Tidak perlu segalanya" jawab Lazuli. sontak Lapis langsung menatap kakaknya.
"Apa?"
"Kau adalah segalanya bagiku, Lapis" jawab Lazuli. "Aku yakin, dunia ini luas. masih banyak tempat yang belum kita kunjungi. suatu hari... kita akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. aku percaya itu akan terjadi"
Dunia ini luas, masih banyak tempat yang akan mengubah masa depanmu.
"Tapi, kurasa ayah si anak tadi itu benar, lihatlah... pakaian kita kotor dan sobek. kita harus mencari baju baru" kata Lazuli.
Lapis memerhatikan pakaiannya sendiri. sebagian compang-camping kecuali syal oranye miliknya.
"Baiklah, kita mencari baju"
Mereka sudah membuat keputusan.
TO BE CONTINUED
