Dragon Ball Super
Akira Toriyama
.
.
.
Ada sebuah toko di dekat lampu merah perempatan yang tak jauh dari tempat si kembar berdiri.
Si kembar menyelinap ke sebuah gang sempit dan berlari ke halaman belakang toko. mata birunya melirik ke kanan dan kekiri, memastikan aman. dia menggandeng tangan Lapis dan segera membuka pintu toko.
"Pintu ini pasti terkunci, kita harus mencari kayu untuk melepas gemboknya" kata Lazuli.
"Kita masuk lewat jendela saja" ujar Lapis. jarinya menunjuk ke jendela besar yang agak tinggi.
Lazuli mengangguk cepat. dia mendorong sebuah kotak berat dan naik ke situ, kemudian giliran Lapis yang langsung naik ke bahunya untuk segera masuk ke jendela. si kembar ini memang lincah seperti tupai yang pandai melompat.
Lapis melihat di dalam : kosong. dia membuka jendela dan langsung terjatuh ke lantai.
"Lapis!?" Lazuli kaget, kalau penjaga toko mendengar bunyi jatuh di dalam, di pastikan aksi mereka akan tamat.
"Aduuhh dduhh... ugghh..." Lapis mengaduh kesakitan, tapi syukurlah dia mendarat di atas tumpukan pakaian.
"Lihat Laz, banyak pakaian disini" bisik Lapis.
Lazuli berusaha masuk ke dalam dan ikut terjatuh ke lantai. dia melihat banyak sekali tumpukan pakaian-pakaian di ruangan ini.
"Waahh, kita bisa mengambil sebanyak-banyaknya!" kata Lapis, dia juga mengambil tas dan memasukkan semua isinya ke dalam.
"Ambil beberapa saja, yang paling utama jaket ya. biar tidak kedinginan" ujar si pirang.
"Lihat ini Laz! topinya berbentuk katak!"
"Lapis, berhenti main-main. waktu kita tidak banyak disini"
"Maaf"
Thump! Thump!
"EH?"
Bunyi hentakan sepatu di luar. penjaga toko mulai datang ke pintu.
"Gawat, Laz. kita akan ketahuan" Lapis berbisik panik.
Lazuli melihat sekeliling, jika saja ada suatu benda yang dapat mengunci pintu itu agar si penjaga toko tidak masuk...
"Itu dia!"
Lazuli mengambil batangan besi dan mengganjal kenob pintu.
"Cepat keluar, Lapis. cepat!" perintah Lazuli.
Lapis berusaha naik lagi ke jendela, tapi dia menoleh ke kakaknya yang masih menahan pintu.
"Ayo Laz! nanti kau tertangkap"
"Kau yang keluar duluan Lapis, aku akan baik-baik saja" ucap si pirang.
"Aku tidak mau keluar tanpamu, ayo kemari!"
Lapis memang keras kepala, tapi Lazuli tidak punya pilihan untuk berlari.
"Hei? pintu ini kok terkunci?"
"Terkunci? aku tidak menguncinya"
"Coba di buka lagi"
Cklek! Cklek!
Gagang pintu makin di paksa kuat untuk segera membuka pintu, Lazuli panik. sementara Lapis terus-terusan memanggil kakaknya untuk lari.
"Ayo Lazuli!"
Lazuli meraih sebuah trolley besar dan mendorongya sampai menempel ke pintu, kemudian dia berlari ke jendela. Lapis meraih tangan kakaknya dan segera menariknya keluar.
Braaaaaaakkh!
Si karyawan toko mendobrak pintu. betapa terkejutnya mereka melihat seisi ruangan berantakan total.
"Haah! ke-kenapa ruangan ini...!?"
"Apa yang terjadi!?"
Yap, si 'Tupai' kembar yang melakukannya.
Hujan lagi...
Lapis berusaha menutupi kepalanya dengan tas, tapi sayang rintikan air hujan lama-kelamaan semakin deras. dan sialnya lagi, tidak ada tempat untuk mereka berteduh. kota ini tidak memiliki teras pertokoan ataupun sebuah rumah kosong untuk tempat tinggal mereka sementara.
"Laz, bagaimana ini? tidak ada tempat untuk berteduh?" tanya Lapis.
"Jangan khawatir, kita akan menemukannya"
Lazuli tidak membenci hujan, hanya saja hujan turun di saat mereka tengah 'bekerja'. yah, tidak ada yang bisa salahkan dalam keadaan susah.
Tempat ini seperti tidak punya atap sama sekali! Lazuli sendiri bahkan bingung bagaimana kota semewah ini tidak memiliki satupun sesuatu yang bisa membuat mereka menumpang beberapa jam saja. halte saja pun sudah cukup.
Masalah besarnya cuma satu : Lapis tidak tahan kedinginan, itu yang Lazuli khawatirkan. dia melihat bibir adiknya mendadak gemetar dan pucat.
"Lapis, pakai jaket dulu. kau kedinginan"
"Kau kan juga kedinginan" kata Lapis.
"Jangan sok kuat begitu, kau ini tidak tahan dingin tahu cepat buka tasnya dan pakai jaket" ujar Lazuli.
Lapis mengangguk cepat, dia buru-buru membuka isi tasnya-
SEETTT!
"HEI!?"
Seseorang menyabet tas mereka dan pergi begitu saja.
"Itu tas kita!" teriak Lapis.
"Kembalikan! HEI! KEMBALIKAN TAS KAMI!" si kembar langsung mengejar.
Di tengah hujan, mereka saling mengejar. si pencuri masih menggenggam tasnya erat-erat ke dada dan kabur begitu cepat. si kembar berusaha, mereka mengejar melewati kerumunan orang-orang berpayung.
"Laz! kau melihatnya!?" tanya Lapis.
Mata biru Lazuli cepat mencari-cari dimana si pencuri pergi. orang itu menyebrang jalan.
"Disana!" Lazuli menggenggam tangan adiknya. tidak peduli lampu penyebrangan, mobil-mobil yang tadinya harus berjalan karena lampu hijau terpaksa rem mendadak akibat dua anak kecil berlarian di tengah jalan.
"Kenapa dia mencuri tas kita sih!?" protes Lapis.
"hahh...! hahh...! aku tidak tahu! pencuri itu mengira pasti kita punya uang!"
Si pencuri hilang dari pandangan. si kembar sudah kehabisan tenaga untuk berlari.
"Hahh... hahh... kita di curi..." gumam Lazuli.
Lapis sampai membungkuk, kesal karena lengah. "ugghh... sialan! padahal kita bersusah payah mencuri itu di toko! tapi... kita malah kecolongan..."
"hhh... kau masih punya sisa makanan?" tanya Lazuli.
Lapis memeriksa saku celananya, hanya sepotong roti yang dia ambil waktu didalam mobil box.
"Cuma segini"
"..."
Well, sepertinya Lazuli mengerti.
Dukkh!
Seseorang tak sengaja menabrak Lapis dari belakang. menyebabkan sisa potongan rotinya langsung jatuh ke tanah.
"Ahh!?"
"Hei! minggir anak kecil! kalian punya mata tidak sih!?" omel si pemuda.
"Eh!? kau yang menabrakku sialan!" bentak Lapis.
"Lapis!" Lazuli langsung mendekap mulut adiknya.
"Dasar berandalan, ku kira di kota ini sudah bersih dari pengemis!" gerutunya lagi, kemudian dia pergi.
Lapis tidak dapat menahan diri. Itu adalah penghinaan terbesar baginya. Emosinya mulai naik, dia mengambil sebuah batu di bawah kakinya dan langsung melempari si pemuda tersebut.
"Aduhh!?"
"Ayo lari, Laz!" si kembar langsung kabur.
"HEI! KALIAN!?"
Lazuli berpikir, sepertinya dia dan Lapis salah memasuki kota.
TO BE CONTINUED
