Dragon Ball Super
Akira Toriyama
.
.
.
"Ibu!"
"Ibu! Besok kita liburan kan?"
"Iya sayang"
"Sungguh!? bersama ayah kan!?"
"..."
"Bu?"
Tangan halus itu membelai pipi si kembar, menatap sebentar secercah warna aquamarine di pasang mata anak-anaknya.
"Tidak apa-apa sayang, ayah sedang sibuk. kita bisa menghabiskan waktu bersama di pantai ya"
"Tanpa ayah?"
Dia mengaitkan sesuatu ke leher Lapis, sebuah syal berwarna oranye. Lapis hanya heran menatapi kain tersebut.
"Ini untukmu, jaga baik-baik"
"Oh?"
Si anak berambut hitam itu hanya berkedip polos. mungkin ayahnya sibuk bekerja, sehingga dia hanya bisa berlibur dengan ibu dan Lazuli. Lapis hanya menunduk kecewa.
"Jangan khawatir, kau masih bisa main dengan kakakmu. besok kita pergi"
"Pergi ke pantai?" Lapis mulai tersenyum girang.
"Kau akan mengetahuinya"
Lapis selalu tahu! dia, Lazuli dan ibunya akan pergi ke pantai!
.
.
.
Seolah, percakapan itu menjadi yang terakhir bagi Lapis dan Lazuli. setelah mereka mengetahui segala masalah di dalam keluarga, orang tuanya pun memutuskan untuk membawa si kembar ke panti asuhan.
Dengan harapan, agar mereka bisa merawat si kembar sebaik-baiknya.
Masa depan masih panjang, tidak seharusnya seorang anak kecil menghadapi situasi sulit dan memaksa mereka untuk bersikap dewasa sebelum waktunya.
Di teras panti asuhan, Lazuli cuma diam. sementara Lapis terus-terusan menangis melihat kedua orang tuanya pergi meninggalkan mereka. bahkan sampai pengasuh panti asuhan pun berusaha menghibur adiknya, tapi semua percuma.
"Hmphh..." Lazuli mengeram sedih.
Dan dari sini, semuanya telah berubah.
.
.
.
"HAH!?"
Lazuli terbangun.
Matanya melirik kemana-mana. dia baru sadar, dia dan Lapis tertidur di bawah papan seluncur taman. hujan masih mengguyur, namun kali ini sudah mereda.
Lazuli menghela nafas seringan mungkin. yang tadi cuma mimpi buruk, tapi rasanya seperti nyata. dia tidak terlalu mengingat pesan yang di sampaikan ibunya. tapi Lazuli meyakini, ibunya ingin dia dan Lapis tidak pernah berpisah.
Dia dan Lapis sudah mulai jadi berandalan di jalan selama setahun. mereka menjadikan profesi 'Mencuri' untuk menyambung hidup.
"nghh..." Lapis mulai terbangun.
"Sshhhh, Lapis. tidur lagi. kau kelelahan" bisiknya.
"Kepalaku pusing, Laz..." keluh Lapis.
Lazuli melihat kedua pipi Lapis memerah. dia memegang dahi adiknya, seketika alur terkejut di dalam hatinya membuat Lazuli panik.
Lapis demam
Lapis mulai sakit, sepertinya karena sering kehujanan.
Tidak ada pilihan lagi. gumamnya. Lazuli mulai berpikir keras. menjadi anak baik saja tidak cukup. ada satu tindakan yang terpaksa harus ia lakukan, demi Lapis, demi menyambung hidupnya.
Bunyi hentakan sepatu yang menginjak genangan air terdengar, Lazuli sedikit menoleh ke kiri. sesosok pria tua berjaket hitam datang menghampiri.
"Ah?"
"Hei? kenapa kalian menetap disini?" tanya si pak tua.
Lazuli cuma diam. siapa orang ini?
Si pria tersebut membuka topi beanie nya. dia sudah tua, nampak berumur 55 tahun lebih dan memiliki sedikit luka di atas mata kirinya.
"Anda siapa?" tanya Lazuli.
"Aku sama seperti kalian, ayo keluar dari situ. kalian butuh tempat yang aman" tawar dia lagi.
Lazuli masih tertegun. dia tidak mempercayai orang lain, hanya saja... Lapis...
"Ayo, tidak apa-apa. kalian tidak boleh berada disini" ucap si pak tua.
"Adikku sedang sakit... aku tak bisa pergi"
"Biar ku gendong"
Lazuli mengangguk pelan. si pak tua itu menggendong Lapis ke punggung nya dan segera menggandeng tangan Lazuli. dia akan membawa si kembar ke tempat yang aman.
Tidak terlalu jauh dari taman, Lazuli mengikuti si pak tua tersebut menyusuri gang sempit. kemudian ke sebuah halaman di belakang apartemen tua. ada sebuah gudang bekas yang sangat besar dan bagian atap-atapnya banyak yang berlubang. ada beberapa orang yang tengah mengerumuni tong besar yang telah di nyalakan api untuk menghangatkan diri.
"Ini tempat tinggal semua orang jalanan" jawab si pak tua.
"Sungguh?" tanya Lazuli.
"Iya, semua orang disini adalah tunawisma"
Tunawisma, Lazuli baru menyadarinya.
"Hei! aku bawa seseorang" sahut si pak tua.
"Hah?"
Mereka beramai-ramai menatapnya. Lazuli langsung sembunyi di belakang si pak tua, takut dan malu.
"Tidak apa-apa, mereka pasti menerimamu" jawabnya, tersenyum tulus.
"Kau membawa anak-anak?" tanya mereka.
"Aku menemukannya di kolong papan seluncur taman"
"Bawa kesini! mereka kedinginan!"
Lazuli tidak menyangka, mereka bisa secepat itu menerima keadaan dirinya.
"Anak yang ku gendong ini sakit, berikan selimut"
Salah satu di antara mereka langsung menggelar sebuah alas dan si pak tua menaruh tubuh Lapis ke tikar. Lapis tidak sadarkan diri, demamnya makin naik.
"Adikmu ini butuh obat"
"Tapi... aku tak punya uang untuk membeli obat" gumam Lazuli.
"Jangan khawatir" si pak tua tetap tersenyum, dia menyuruh temannya untuk mengambil sesuatu dari saku.
"Apa itu?"
"Sisa obat demam, kemarin juga ada yang sakit disini" jawabnya.
Mereka juga ikut mengompresi dahi adiknya, Lazuli sangat terharu melihat kebaikan orang-orang ini.
"Nah, sekarang tinggal menunggu demamnya turun. meskipun aku tak menjamin obatnya bisa bereaksi cepat malam ini"
"Te-terima kasih, a-aku... aku sangat berterima kasih pada kalian" Lazuli bersujud di hadapan para tunawisma. tapi si pak tua langsung menegakkan kepala Lazuli.
"Hei, jangan bersujud begitu. kami hanya menolongmu"
"Kami tidak pernah dapat perlakuan baik seperti ini" ucapnya.
"Sebenarnya, kalian berasal darimana?"
Lazuli terdiam sejenak, rasanya dia harus menceritakan ini semua.
.
.
.
Api unggun masih menyala untuk membagikan aura hangatnya pada beberapa tunawisma yang belum tidur.
Dengan tubuh terbungkus selimut tebal, Lazuli sedikit meneguk teh hangat.
"Jadi.. kau dan adikmu kabur dari panti asuhan?"
Si pirang mengangguk pelan. "Yah.. banyak yang terjadi, kami sudah terbiasa hidup di jalanan"
"Siapa namamu?" tanya si pak tua.
"Aku Lazuli, dan adikku bernama Lapis. kami kembar" jawabnya.
"Oh, jadi kalian anak kembar ya. nama kalian mirip seperti batu Kristal biru Lapis Lazuli"
"Anda sendiri siapa?" Lazuli bertanya balik.
Si pak tua itu menggosok-gosok kepala botaknya, dia kembali mengenakan topi beanie. "Aku Reddi, aku adalah pensiunan tentara"
"Pensiunan tentara?"
"Dulu aku seorang tentara di sebuah organisasi" tambahnya.
"Lalu kenapa kau jadi tunawisma?"
"Yahh, karena organisasi tempatku bekerja sudah hancur waktu itu. aku terpaksa pensiun, banyak yang telah terjadi" ucapnya lagi. langsung menyesap teh.
Lazuli menatap refleksi wajahnya di atas air teh. dia juga memiliki masa lalu yang telah terjadi.
"Kenapa kalian memilih kabur panti asuhan?" tanya Reddi.
Lazuli memejamkan mata, menghela nafas ringan. "Aku dan Lapis tidak nyaman. kami berasal dari tempat yang jauh, sudah 4 kota yang kami datangi"
"Oh, begitu ya"
"Bagaimana denganmu? kau tentara kan?"
Reddi tersenyum tipis. "Dulu aku memang tentara, organisasi tempatku bernaung selalu melakukan sebuah tugas yang cukup sulit. aku sampai kewalahan" dia tertawa santai.
Bunyi percikan api makin lama-semakin mengecil, satu tunawisma langsung menambahnya dengan sebatang kayu.
"Aku dan Lapis ingin menemukan kehidupan yang lebih baik. tapi... kami tak pernah beruntung. semua hal yang kami lakukan sekarang adalah bertahan hidup"
"Yahh, kau masih anak-anak, tapi kau bekerja sebelum waktunya dewasa"
"Kau tentara dari organisasi apa?"
"Red Ribbon Army" jawab Reddi. "Sebagian tunawsima disini juga pensiunan anggota RR"
Lazuli agak berkedip cepat. "Red Ribbon? aku baru dengar"
"Begitulah, tugas kami disana mencari sesuatu yang tak mungkin di temukan. tapi jendral kami saat itu sangat bersikeras" kata Reddi.
"Memangnya mencari apa?"
"Kata mereka sih, ada sebuah bola naga yang bisa mengabulkan permintaan"
Tunggu dulu, Lazuli ingat perkataan Lapis sebelumnya. mereka pernah membicarakan tentang Bola naga ini sebelum pindah.
"Aku sendiri tidak percaya, tapi itu adalah tugas. jadi.. ku usahakan agar bola itu bisa kami dapatkan, tapi nyatanya. ada seseorang yang langsung menghancurkan organisasi ku" jelas Reddi.
"Oh.. begitu ya..." Lazuli mengangguk paham. dia melirik ke Lapis, adiknya masih tidur.
"Adikmu akan baik-baik saja, jangan khawatir"
Lazuli tersenyum kecil. dia menaruh gelas tehnya dan langsung tidur di sebelah Lapis. dia juga berbagi selimut dengannya.
"Tidurlah, besok akan jadi hari yang panjang"
"Terima kasih banyak, Reddi"
Dan akhirnya, dia tidur nyaman.
TO BE CONTINUED
