"Chanyeol, aku rindu" – BBH
"Jangan rindu, berat. Kau tak kan kuat, biar aku saja" – PCY
Benar kata Chanyeol, rindu itu berat tapi entah kenapa aku suka merindukan Chanyeol.
1st of January
.
[1 February 2018]
Chapter 1
Apa arti cinta menurut kalian? Aku sebenarnya bukan orang yang paham akan kata cinta, menurutku itu hanya omong kosong belaka karna aku bahkan terlahir bukan dari hal yang dinamakan cinta itu sendiri. Hidupku sangat miris, tapi bagaimanapun aku tak pernah punya keinginan untuk mati walau hidup ini tidak menyenangkan. Dan sekarang aku juga memiliki alasan kuat kenapa aku harus hidup di dunia yang keji ini.
Dia berdiri dibalik pagar besi mendongakkan kepalanya dengan pikiran melayang-layang, terlihat begitu menikmati dedaunan yang tertiup oleh angin musim gugur. Byun—ah tidak maksudku Park Baekhyun suami mungil kesayanganku yang menjadi alasanku untuk tetap hidup setelah kehilangan alasan pertamaku. Benar kata orang-orang bahwa tuhan membawa orang-orang pergi dari kita kemudian mempertemukan kita dengan orang yang lebih baik.
Aku memeluk suami mungilku dari belakang, melingkarkan kedua tanganku diperut ratanya, dia kelihatan kaget namun sedetik kemudian berhasil mencairkan suasana dengan kembali menatap dedaunan yang berjatuhan.
"Menikmati musim gugur?"
Aku berbicara pelan ditelinganya yang nyatanya dia malah membawa tangan lentiknya menyusuri kedua lenganku yang melingkar diperutnya. Baekhyun memang manja tapi aku tetap menyayanginya karna bagaimanapun aku adalah suaminya, haha mungkin kata-kata yang aku rangkai tak senyaman ketika Baekhyun yang menceritakan nya bukan? Percayalah jika bukan karna Baekhyun aku juga tak ingin bercerita seperti ini.
"Chan~" Dia memanggil namaku dengan lembut sarat akan sesuatu "Hng" gumamku ditelinganya menampakkan rona merah dipipi putih Baekhyun, ia menolehkan kepalanya kesamping untuk menjemput bibirku, aku tahu siapa Baekhyun. Aku tahu apapun tentang nya mulai dari hal terkecil sekalipun dan sekarang aku tahu dia pasti merindukan kecupanku. Kami saling membelit dalam ciuman yang romantis, membawa tangannya mengalung dileherku dan aku mempererat pelukan kami.
"Kenapa?" Tanyaku ketika ciuman kami terputus setelah beberapa saat mengambil nafas, Baekhyun menatapku dengan tatapan polos seperti biasanya walau sebenarnya dia sudah tak bisa dikatakan polos karna ulahku. Tidak— ini bukan sepenuhnya ulahku karna Baekhyun juga duluan yang menggodaku.
"Hanya rindu," Dia berkata seolah kami telah lama tak bertemu padahal seingatku sejak pagi aku selalu bersamanya. Aku bahkan selalu bilang padanya agar tidak rindu karna rindu itu berat tapi memang dasarnya Baekhyun itu keras kepala dan aku sendiri tak mampu untuk menolak apa yang dia inginkan juga apa yang dia lakukan jadi biarlah rindu itu tumbuh selagi aku masih disini. Aku memeluknya dengan pelan mengusap punggung suami mungilku penuh sayang sebagaimana aku memang menyayanginya.
e)(o
Sayang,
Kasih sayang.
Jauh sebelum nya aku sangat minim tahu apa itu arti kasih sayang, aku tumbuh di lingkungan yang terbilang buruk untuk anak-anak seusiaku. Lingkungan yang seharusnya tak ada anak-anak tapi aku malah tumbuh disini, tapi aku tak pernah menyesalinya karna itu merupakan bagian dari puing-puing hidupku serta Baekhyun juga mengetahui hal tersebut.
Baekhyun tak seharusnya menjadi teman seorang bocah kusut sepertiku, aku yang tidak pernah benar dalam berpakaian serta gaya tapi aku tahu bagaimana cara menjaga kebersihan walau aku tinggal di lingkungan yang kotor sekalipun. Byun Baekhyun, dia adalah anak kedua dari keluarga Byun yang berkecukupan walau Baekhyun tidak kaya raya tapi dia memiliki hidup yang berkecukupan dengan ibunya yang merupakan seorang dokter.
Saat ke sekolah dia akan diantar oleh ibunya, bajunya rapi, wangi nya seperti bayi, rambutnya juga selalu tertata rapi dengan poni yang diturunkan membuatnya terlihat manis. Setiap jam istirahat dia makan sekotak bekal sehat dari rumahnya sendirian, awalnya aku tidak tahu dia itu antisocial atau bagaimana karna tak seorangpun dia memiliki teman dikelas kami saat pertama mengenalnya di SMP dulu.
Sebenarnya aku memiliki niat untuk menyapa nya lebih dulu karna dia merupakan anak baik yang tidak banyak tingkah tapi entah kenapa aku selalu merasa canggung ketika akan menyapanya. Aku adalah orang yang terbilang tak peduli dengan apapun sebenarnya bukan tidak peduli— hanya saja jika dirasa tidak penting untuk apa aku melakukan nya sama saja tidak ada manfaat.
Bahkan setelah aku memiliki hari piket yang sama dengan nya aku masih tak menyapanya begitupun dengan dia yang kelihatan antara takut dan canggung padaku. Sampai Sohyun datang dengan kecembruan nya mengatai bahwa Baekhyun adalah wanita membuatku malu saja anak ini. Aku membawa Sohyun pergi secepatnya keluar kelas menjauhi Baekhyun setelah kejadian yang membuatku malu tersebut, setelah menawari untuk membawakan tas nya aku memulai pembicaraan dengan bocah sekolah dasar nan manis ini.
"Kim Sohyun"
"Tidak! Park Sohyun"
"Terserah, Sohyun-ah kenapa tadi kau berteriak-teriak pada Baekhyun?"
"Kenapa? Oppa tidak suka?"
"Itu tidak sopan Sohyun-ah," Aku mencoba berbicara dengan pelan karna anak ini membuat emosiku naik dengan nada bicara nya. Dia memang seorang anak yang susah untuk diajari baik-baik, melakukan segala cara agar keinginan nya tercapai. Seorang bocah yang terlalu berambisi dan penuh obsesi aku bahkan takut jika sikap nya akan terbawa hingga dewasa.
"Aku hanya tak suka kalau kau dekat-dekat dengannya"
"Kau!?" Aku murka ketika dia memanggilku tidak sopan nya mengatakan 'kau' begitu santai didepan wajahku bagaimanapun aku lebih tua dua tahun darinya itu namanya tidak sopan ketika dia hanya memanggilku tanpa embel-embel Oppa.
"Iya! Aku tidak suka— Aaakh," Dia juga sangat ceroboh sampai bisa terjatuh hanya karna tersandung kakinya sendiri, Sohyun meringis kesakitan melihat lututnya lecet akibat ulahnya sendiri, aku jadi tidak tega melihat air matanya mulai keluar membuat mata jernihnya tampak berkaca-kaca.
"Dasar ceroboh, naikklah!"
Aku membungkuk didepan nya dengan malas-malasan awalnya dia hanya diam tapi ketika aku hendak menoleh leherku bahkan hampir tercekik karna dia memelukku begitu erat, bocah ini benar-benar menjengkelkan tapi entah kenapa aku tak pernah bisa memarahinya dengan benar. Sohyun tidak berat sama sekali bagiku, entah karna memang dia yang kurus atau aku yang kuat tapi begitulah, aku mendengar kekehan disebelah telingaku dan aku tahu ketika Sohyun tersenyum atau tertawa pipinya akan naik seperti dua buah telur dibawah matanya.
"Aku suka parfum barumu," Katanya disamping telingaku
"Aku tidak pakai parfum"
"Tapi Oppa wangi"
"Hng" Saat ini Sohyun telah berhasil merusak mood ku yang tadinya baik menjadi buruk dan seperti biasanya aku hanya akan bergumam menanggapi apa yang dikatakan oleh orang lain saat mood ku jelek. Aku hanya membawa kakiku terus melangkah menjauhi Baekhyun disana, saat itu bahkan aku tidak pernah mengerti kenapa aku begitu peduli dan kepikiran Baekhyun yang sendirian berdiri didepan kelas menunggu jemputan nya seperti biasa.
e)(o
Dulunya aku tidak benar-benar menyukai Baekhyun yang kelihatan begitu peduli denganku, aku suka jika ada orang yang peduli denganku tapi tidak dengan yang satu ini. Dia membunntutiku kerumah hanya untuk mengembalikan catatan sejarahku yang tertinggal di kelas saat matahari sudah hampir tenggelam di barat. Aku marah tentu saja, bukan nya aku gengsi atau malu dengan keadaan rumahku hanya saja aku jelas sudah terbiasa dengan pemandangan bak dunia malam disini, para jalang— yang juga ibuku sendiri tengah bermain panas dengan para hidung belang. Aku malu mengakui ini bahwa aku adalah anak seorang ibu seperti dia.
Setiap malam dia bertukar ranjang dengan orang yang berbeda, membuka pahanya lebar-lebar agar para pengusaha kotor tersebut memtransfer uang dalam rekening miliknya, aku muak. Sungguh muak dengan hidupku sendiri yang tinggal di kawasan bar yang disebut Red Pumpkin yang berada dipinggir kota. Aku yang memang tidak pernah melihat kebelakang jika berjalan, aku terkaget dengan Sohyun yang memudarkan senyumnya di depan pintu seperti melihat sesuatu dibelakangku. Ketika aku menoleh aku menemukan Byun Baekhyun dengan bodoh mencengkam sebuah buku didepan dadanya, matanya melotot melihat seorang jalang keluar dari Bar bersama seorang pria tambun sambil berciuman panas padahal sebenarnya ini belum terlalu malam karna matahari baru saja terbenam.
"Brengsek, apa yang dia lakukan disini!?" Aku mendesis penuh amarah melangkahkan kaki mengarah pada Baekhyun yang masih berdiri kaku mata melotot walau pemandangan nya telah usai bahkan dia tak menyadari keberadaanku, aku melirik buku yang berada di dadanya sekilas, tertulis nama 'Park Chanyeol' disana.
"Puas dengan pemandanganmu Byun!?" Aku sengaja menyentak buku didalam dekapan nya dengan kasar membuat Baekhyun berjengkit kaget menyalangkan matanya menatapku "C-Chanyeol— Aku hanya ingin mengembalikan buku sejarah yang kau tinggalkan dimeja karna besok ada tugas sejarah," dia berbicara begitu cepat menyembunyikan ketakutan nya melihat wajahku, dia menundukkan pandangan nya masih tak menatapku.
Aku tersenyum remeh meremas buku yang sudah berada di tanganku "Sejak kapan kau jadi peduli padaku hah!?" Kalap akan emosi aku membentaknya hingga air mata Baekhyun bercucuran bagai hujan kemudian secepat kilat dia menghapus air matanya sementara tangan mungil itu kotor membuat parasnya ikut terkotori oleh jejak airmata serta tanah.
Menit sudah berlalu sekitar lima menit dan aku masih kukuh untuk memandangi Baekhyun sampai dia ketakutan seakan aku menelanjanginya, dia tak kunjung membuka suara sejak menit-menit pembentakkanku padanya, isakan-isakan kecil keluar menyesakkan nafasnya membuatnya tercekik oleh nafasnya sendiri.
"Lepaskan saja, jangan ditahan," Aku memberikan instruksi agar nafasnya tenang, pada akhirnya Baekhyun menangis terisak-isak tapi tetap menutup mulutnya rapat-rapat tak ingin bicara, bagaimanapun aku juga manusia jadi aku merasa iba. Jemari tanganku menggenggam tangan mungilnya membawa Baekhyun keluar dari kawasan mengerikan ini. Kami berjalan tanpa melepas genggaman tangan kami, aku melihat blazer sekolah Baekhyun kotor juga tangan nya yang tadi menghapus wajah kotor.
"Apa kau tadi terjatuh?" Aku bertanya pelan saat kami sampai dijalanan pinggir kota, sinar matahari kini digantikan oleh lampu-lampu jalanan menerpa wajah menyedihkan Baekhyun. Dia memandangku dengan pandangan menyiratkan maaf juga meminta pertolongan kemudian mengangguk menundukkan wajahnya.
"Mana yang luka?" Aku masih memulai pertanyaan sementara Baekhyun masih diam dengan sisa-sisa isakan tangisnya tadi. Kepala mungilnya hanya menggeleng lemah dihadapanku membuatku geram, tak tahukah dia bahwa aku sedang marah? Lalu kenapa dia malah bersikap seolah aku yang salah disini? Sial. Tanganku bergerak mengambil sebuah sapu tangan didalam sakuku kemudian mengusap wajahnya dengan tidak lembut tapi tidak menyakitinya juga hingga paras cantiknya kembali terlihat namun dia masih setia dalam keterdiaman nya.
"Katakan sesuatu atau aku akan meninggalkanmu disini" Kurasa itu adalah pilihan terbaik untuk membuka jahitan mulutnya itu, Baekhyun masih diam jadi aku memutuskan untuk meninggalkan nya walau sebenarnya hatiku berat melakukan ini tapi aku benci mengatakan bahwa aku tidak suka didiami. Rasanya sudah cukup aku bersikap baik padanya setelah dia dengan tidak sopan nya membuntutiku sampai ke rumah, melihat adegan panas yang tak pantas dilihat anak seusianya, kemudian mendiamiku hanya karna bentakan emosiku.
Dia tidak memanggilku,
Dia hanya diam disana, dengan seragam sekolah dimalam sedingin ini. Baekhyun masih tidak meminta bantuanku walau bajunya telah kotor dan aku yakin bahwa dia terluka karna celana serta bajunya terlihat kotor, tapi apa peduliku? Dia sendiri yang tidak mau berbicara, setinggi itukah gengsi orang kaya? Cih! Menyedihkan.
Tapi nuraniku memberontak,
Kau harus menolongnya Chanyeol, bagaimanapun Baekhhyun berniat baik mengembalikan buku sejarah milikmu. Mungkin saja dia tidak ingat jalan pulang! Kau tahu sendiri jika rumahmu dan sekolah tidaklah dekat
Salah sendiri dia membuntutimu hingga ke rumah, dia pantas mendapatkan itu. Lagi pula dia bukan anak dungu yang tidak tahu jalan bukan? Lupakan saja dia
Batinku berperang didalam sana dengan geram aku membalik tubuhku menemukan punggung sempit Baekhyun berjalan menjauh ke ujung sana. Pada akhirnya aku juga yang mengalah mengikuti dia secara diam-diam dari belakang, mau memanggilnya untuk meminta maaf saja aku tak sanggup dia nya juga tidak menoleh kebelakang sedikitpun membuatku kesusahan menjaganya.
Baekhyun sudah berjalan jauh melewati sekolah kami, rumahnya berlawanan arah dengan rumahku. Malam semakin gelap juga semakin jarang orang yang lewat dijalanan, untung saja aku mengikutinya jadi aku bisa menjaganya walau dari kejauhan. Langkahnya berhenti menghadap rumah disebrang jalan, sebuah rumah dengan cat biru muda dengan pagar yang tak terlalu tinggi, dia bukan anak orang kaya raya rupanya tapi cukup mapan dari pencerminan rumahnya.
Ketika kaki mungil Baekhyun melangkah menyebrangi jalan dia bahkan tak melihat kanan-kiri ketika itu, tak menyadari sebuah mobil diujung sana mendekat kearahnya— ini refleks percayalah, aku memeluk tubuhnya dengan cepat menariknya ketepi jalan semula. "Kau gila! Mau mati? Kenapa menyebrang tidak lihat-lihat!?" Tanpa sadar aku kembali membentaknya dalam pelukanku, tangan Baekhyun melingkari pinggangku menyembunyikan kepala dalam dadaku.
"Hiks—Chanyeol, aku lelah, kakiku sakit, tanganku juga tadi terluka karna terjatuh ikh—aku lelah Chanyeol, aku mengantuk!" Baekhyun menangis terisak-isak mengadukan semua yang dia rasakan dalam pelukanku, aku tertegun karna ternyata dia menyadari bahwa yang memeluk dirinya sekarang adalah aku, Park Chanyeol.
"Maaf," Hanya itu yang terucap dari bibir Baekhyun ketika aku berpikir dalam keterdiamanku, aku menundukkan kepalaku menatap bayangan diriku sendiri dalam bola mata hitam yang dipenuhi air mata. "Jangan menangis," Tanganku bergerak menghapus air matanya.
"Tapi ibu pasti sangat khawatir," Bibir tipisnya mencebik sedih mengingat kecemasan atau mungkin kemarahan ibunya. Bukan nya sedih aku justru ingin tertawa melihat ekspresi Baekhyun saat ini, "Tenang saja, aku akan mengatakan pada ibumu bahwa kita ada belajar tambahan di sekolah kemudian saat pulang kau terjatuh jadi aku membantumu" Kebohongan yang sudah direncanakan memang.
"Chanyeol pintar berbohong ya—" Rahangku mengeras ketika yang dikatakan Baekhyun lebih terdengar seperti hinaan disbanding pujian tapi karna dia begini gara-gara aku jadi aku memilih mengalah dengan tersenyum hambar "—tapi ibu pasti akan tahu karna dia tahu semua jadwalku," Bibir mungilnya kembali mencebik sedih.
"Ya sudah kalau begitu kita tinggal jujur saja," Baekhyun menggeleng lemah, kami bahkan tak sadar bahwa kami sama-sama berpelukan saat itu.
"Kenapa?"
"Nanti ibu bisa memarahi Chanyeol dan aku akan dilarang untuk berteman denganmu lagi," Kata-kata Baekhyun begitu terdengar tulus penuh kekhawatiran. "Jangan khawatirkan aku, memangnya kita berteman," Kurasa ucapanku saat itu memang kasar tapi aku melihat Baekhyun tersenyum saat itu.
Ketika manik kami bertabrakan aku jelas melihat luka dalam tatapan nya, "Baekhyun maksudku kita memang teman, hanya saja kau tau kita tidak sedekat seperti yang kau akan katakana pada ibumu" Baekhyun hanya membuang pandangan nya kemudian bergumam samar "Hng" , dia melangkahkan kakinya ringan dijalanan menuju rumahnya dengan aku mengikuti dari belakang.
Pagar rumahnya berdecit ketika kami berjalan dihalaman pintu rumahnya sontak terbuka menampakkan sosok ibunya berdiri didepan pintu. Awalnya wajah cantik wanita itu terlihat khawatir dan marah tapi ketika dia menatapku pandangan nya berubah teduh langsung memeluk anaknya dengan kasih sayang. Aku tersenyum miring sementara hatiku meratap iri melihat kedekatan Baekhyun dengan ibunya.
"Masuklah dulu nak," Ibu Baekhyun rupanya wanita yang lembut pantas saja anaknya seperti Baekhyun, aku hanya menggeleng kemudian merundukkan tubuhku demi member hormat "Lain kali saja bi, ini sudah malam aku harus pulang"
Baekhyun menatapku dengan pandangan memohon nya tapi ini memang sudah malam, bahkan sudah lewat pukul delapan malam "Kalau begitu terimakasih sudah menjaga Baekhyun sampai kesini nak, Um siapa namamu?"
"Park Chanyeol," Aku menjawab berusaha memberikan senyuman yang baik untuk ibu Baekhyun dan tanpa kusangka sama sekali tangan lembut wanita itu mengusak rambutku walau tinggi badan kami sama, dia melempar senyuman manisnya membuatku benar-benar iri pada Baekhyun yang memiliki ibu dengan kasih sayang berlimpah seperti ini.
"Jagalah Baekhyun ketika di sekolah ya Yeol, dia tidak sekuat kelihatan nya. Dia hanya akan menangis jika sesuatu menyakitinya," Aku tertegun mendengar permintaan ibu Baekhyun, dia seakan mempercayakan putranya padaku saat ini. Kurasa tidak ada salahnya jika aku berteman dengan Baekhyun, sementara anak itu hanya mengulum senyum diwajah manisnya.
"Baiklah jika bibi yang meminta," Aku pamit pulang setelahnya, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa dianggap sebagai seorang anak bahkan disaat pertemuan pertama kami, aku berpikir ibu Byun Baekhyun juga akan menjadi ibu yang baik untukku.
.
Biasanya aku tidak pernah menyapa orang lain ketika aku disekolah, aku hanya akan acuh tak acuh karna pada dasarnya semua orang disekolah ini seperti itu, tapi aku ingat senyuman manis ibu Baekhyun kemarin. Bukan berartti aku tertarik pada ibunya Baekhyun aku hanya terlalu suka dengan sikap keibuan nya yang membuatku teringat akan kasih sayang ibu yang sebenarnya. Aku melihat anak itu memakan bekalnya sendirian di kelas, dengan ragu aku melangkah kesana bersama dua orang temanku, Jongin dan Jongdae.
"Um hai," Aku menyapa dengan canggung karna anak itu tak kunjung mendongakkan kepalanya ketika makan. Aku sempat melihat ekspresi Jongin dan Jongdae tampak sedikit kaget dengan sikap ku yang tiba-tiba kelihatan—sok—ramah pada orang lain.
"Chanyeollie~" Baekhyun sontak berdiri memberikanku senyuman manis yang menelan matanya membuat kedua temanku menahan tawa karna panggilan menggelikan tersebut. Aku menaikan sebelah alisku mendengarnya, Baekhyun menundukkan kepalanya seperti kemarin mencicit kecil tapi cukup terdengar ditelingaku "Maafkan aku, C-chanyeol aku tidak akan memanggilmu seperti itu lagi," Dia berujar kelihatan penuh sesal.
"Kenapa?" Aku bertanya dengan nada dingin membuat tawa duo Jong berhenti seketika.
"Karna kelihatan nya Chanhyeol tidak suka."
"Siapa yang bilang?"
"Huh?" Baekhyun mendongak kelihatan kebingungan dan aku hanya memberikan senyuman mengusak kepalanya mencoba menjelaskan kalau semua itu bukan masalah buatku, toh kemarin ibu Baekhyun memintaku untuk menjaga dan menyayangi Baekhyun yang penangis ini. Sejak saat itulah aku dan Baekhyun mulai dekat, dia benar-benar anak yang supel. Dia selalu ceria membuat mood-ku yang kadang tak enak menjadi baik, juga Jongdae dan Jongin tidak keberatan dengan kehadiran Baekhyun.
e)(o
Sejak hampir satu jam lalu Baekhyun bergantungan di leherku, rasanya lumayan pegal tapi aku biarkan saja asal dia tidak menangis. Aku mengalihkan perhatianku pada ponsel dianganku menghubungi dua rekan yang masih berada dikelas, sebut saja Jongin dan Jongdae. Hari ini kami memiliki janjian untuk bertengkar bersama salah seorang berandalan jalanan bernama Yifan—ralat, namanya Kris Wu.
Itulah alasan kenapa tadi Baekhyun menangis, sejak istirahat tadi aku dan dia sama sekali tak memasuki kelas lebih memilih duduk di atap sekolah. Sebenarnya aku sudah meminta dia untuk masuk kelas duluan saat dia bertanya tapi dia tidak mau. Mengejutkan nya, dia malah minta agar aku membawanya ikut ke tempat perjanjian kami. Tentu saja tidak aku izinkan, dia tidak bisa berkelahi sama sekali lagi pula aku tak mau dia sampai terluka, tapi ketika aku bilang tidak boleh dia malah terlihat sedih dan mengatakan bahwa dia akan tidur dilorong perpustakaan.
Ingatlah preman sekolah ini bukan hanya aku, mereka tidak akan ragu menyetubuhi Baekhyun yang manis ini dilorong perpustakaan nantinya. Aku masih ingat ketika pertama kali masuk sekolah ini, saat masa orientasi salah seorang temanku—maksudku teman berkelahi, namanya Dongho. Dia memintaku untuk menemuinya di sekolah lamaku. Sebenarnya dia adalah mantan kakak kelasku waktu SMP sebut saja sekarang dia sudah SMA hanya saja berbeda sekolah tempat aku dan Baekhyun mendaftar sekarang. Aku memenuhi keinginan nya karna sebenarnya aku juga malas mengikuti orientasi ini.
"Dae, kutitipkan Baekhyun padamu," Aku sudah berpesan pada Jongdae sebelumnya, walaupun Baekhyun tidak tahu. Lagipula dia dan Jongdae berada di kelas yang berbeda saat masa orientasi, si mulut besar hanya merotasikan matanya tapi aku anggap dia setuju dengan itu.
Ketika aku pulang memenuhi ajakan Dongho yang berhasil menncetak segaris memar dipelipis kananku, aku menemukan Jongdae tengah berlari kearahku dengan nafas teregah. Firasatku langsung buruk, aku menatap datar kearah Jongdae melayangkan satu pukulan di rahangnya tanpa bertanya apa maksudnya mengejarku kesini. Pastilah tentang Baekhyun.
"Dimana dia?" Aku bertanya dengan suara datar menahan emosi.
"Aku tadi sedang menjalan hukuman, saat aku kembali Baekhyun sudah tidak ada di kelas. Aku sudah bertanya pada beberapa teman yang lain katanya dua orang senior membawanya ke gudang belakang tapi aku tidak—" Jongdae tak sempat melanjutkan ucapannya karna aku sudah berlari sekuat mungkin kearah gudang belakang yang dimaksud Jongdae, aku benar-benar marah jika sesuatu terjadi pada Baekhyun. Secepat kakiku berlari sampai didepan sana, aku ingin menendang pintu itu saja rasanya tapi aku urungkan karna kelihatan sekali bahwa aku hancur didepan sini.
Sialan!
Beraninya mereka menyentuh Baekhyun, mereka harus membayar perbuatan mereka. Aku membuka pintu tersebut mendekati mereka yang seakan lupa diri menyentuh Baekhyun. Amarahku memuncak sampai ke ubun-ubun ketika melihat kelopak mata indah nya mengeluarkan air mata, aku mendang salah satu dari mereka menghajar yang lain nya dengan brutal. Aku benci! Aku membenci mereka yang menyakiti Baekhyun.
"Brengsek!" Aku mengumpat sambil terus memukulinya dengan kasar, aku ingin membuat wajahnya yang tampan ini menjadi tak tampan lagi karna telah menyakiti Baekhyun sampai aku mendengar suara seraknya memanggil namaku, kemarahanku langsung menguar mengejar Baekhyun. Aku ingin sekali memeluknya saat itu hanya saja aku tak berani mengingat kejadian seperti tadi bisa saja meninggalkan trauma dalam dirinya. Aku memutuskan untuk mendengarkan tangisnya sampai dia membuka suara, aku ingat saat itu adalah ciuman pertama kami, dia menciumku dan aku menerima ciuman nya. Aku hanya berusaha menghapus jejak anak sialan tadi tapi beruntung akulah ciuman pertama Baekhyun karna mereka tak menyentuh bibirnya.
Malam itu aku menggendong Baekhyun pulang, aku bahkan menginap disana. Ketika pintu rumah terbuka menampilkan wanita dengan senyum malaikatnya mengelus kepala Baekhyun dengan sayang, ibunya. Dia mengiring kami masuk tanpa bertanya lebih dulu, ketika sampai didalam dia tersenyum padaku.
"Bawa saja dia kekamarnya, Chanyeol tolong ya," Aku merasa dia mengetahui sesuatu tentang keadaan Baekhyun tapi kenapa dia meminta bantuanku? Apa yang bisa kubantu selain membawa Baekhyun kesini? Ketika sampai di kamar Baekhyun aku membaringkan tubuh terlelapnya, memandang Baekhyun yang pulas seperti ini membuatku kembali marah pada bajingan tadi siang. Aku mengelus kepalanya yang berkeringat saking nyenyaknya tidur.
"Chanyeol?" Aku mendengar suara bibi Byun dari luar, ketika membuka pintu aku disambut dengan segelas susu hangat, Dia tersenyum seperti biasanya, memberikan susu dalam genggamannya padaku.
"Bisa bibi minta tolong padamu lagi?"
"Ya bi?"
"Tolong ganti kissmark dileher Baekhyun dengan punyamu."
Aku mati kutu,
Yang kulakukan malam itu hanya melaksanakan perintah ibu Baekhyun karna dia adalah ibuku juga, apapun yang dia minta pasti akan aku turuti. Cerobohnya aku tidak menutupi jejak si bajingan tadi sebelum kerumah tapi tak apa karna perintah bibi Byun membuatku sadar bahwa aku menyukai setiap apa yang ada dalam diri Byun Baekhyun.
Aku mulai berbaring disebelahnya, mulai mengendusi lehernya yang ternyata wangi. Disana aku melihat dengan jelas sebuah tanda merah yang dihasilkan oleh si bajingan membuat amarahku memuncak. Aku langsung mencium leher Baekhyun dengan lembut kemudian menghisap tepat di dekat tanda yang dibuat oleh si bajingan tadi, rasanya memang aneh dan menyenangkan.
"Eugh Chanyeollie, jangan disanahh~" Rupanya dia sadar dan mendesah membuatku malu karna perbuatanku tapi taunya Baekhyun malah memeluk kepalaku dengan sayang member kode agar aku melanjutkan kegiatanku tadi padanya, aku menghela nafas berat karna perasaanku kacau saat itu dan ya, aku melanjutkan pekerjaan membuat kissmark dileher Baekhyun, yang awalnya hanya satu malah menjadi kembar karna ulahku, itu kelihatan indah dan membuatku bangga.
e)(o
Seperti ketika aku menggendongnya pulang saat itu seperti itu juga aku menggendong Baekhyun sekarang hanya saja tujuan kami sekarang berbeda. Anak nakal ini akhirnya mendapatkan keinginan nya untuk ikut melihatku berkelahi dengan Kris tadi, dia itu nakal kan. Jadi tadi dia pingsan karna Kris memukul tengkuk nya, jika aku sih tidak akan pingsan. Tapi ini adalah Baekhyun, jika saja besok aku bertemu lagi dengan Kris aku pastikan tangan sialan nya itu patah.
Tadinya aku kan sudah melarang Baekhyun untuk ikut tapi anak ini masih saja bersikeras sampai dia menangis, bahkan tadi Dae dan Kai—nama lain Jongin—sudah melarang untuk ikut karna Baekhyun pasti hanya akan merepotkan. Tapi benar juga kan? Toh aku yang direpotkan sekarang bukan mereka jadi santai saja karna aku tetap membawanya tadi dan berakhir dengan memukuli salah satu rekan Kris dengan sangat brutal. Ingat aku paling tidak suka ada orang lain yang menyentuh Byun Baekhyun.
Aku menekan password untuk membuka flat kecil kami, sejak kami masuk SMA bibi Byun menyewakan sebuah flat kecil untuk kami berdua, dia menitipkan Baekhyun padaku agar aku menjaga anak nya dengan baik. Jarak sekolah kami dengan rumah Baekhyun cukup jauh karna itu kami harus tinggal disini, aku dan Baekhyun sudah tinggal bersama selama hampir tiga tahun terakhir karna sekarang kami berada dikelas terakhir SMA. Banyak yang mengira aku adalah kekasih Baekhyun sebenarnya mengingat kami sering sekali melakukan skinship dan Baekhyun juga sangat manja padaku tapi nyatanya tidak.
"Eugh," Anak ini melenguh disebelah telingaku ketika aku membaringkan nya ditempat tidur, tangan nya langsung melingkari leherku lebih erat dari pada yang tadi. Baekhyun memang jadi sangat manja ketika sakit seperti ini.
"Tidur Chanyeollie," Dia berkata singkat menarik tubuhku menindihnya, aku hanya diam membiarkan kami dalam suasana ini beberapa saat. Bahkan lampu kamar belum dinyalakan tadi, jadi aku menindihnya dalam keadaan gelap.
"Ugh Chanyeol berat," Erangnya mendorong dadaku, aku hanya terkekeh berguling kesebelahnya menyamankan posisi ketika lenganku melingkari perutnya.
"Lain kali jangan nakal lagi ya Baekhyun, aku tak mau kau terluka"
"Hng," Dia hanya bergumam tapi aku tak yakin dia benar-benar mendengarnya atau tidak selang beberapa detik dengkuran halus nya kembali terdengar menjadi lullaby dalam tidurku, kurasa lain kali akan kuceritakan juga bagaimana aku mendapatkan tatto sepasang sayap ditengkuk ku ini.
e)(o
Oke sekian dulu ya, makasih banget buat yang udah baca terutama buat yang minta lanjut.
Summary nya saya ganti karna katanya itu punya Dilan 1990, lah memang kan kemaren itu lagi booming kata katanya Dilan di copas orang. Maaf sekali lagi buat yang ga nyaman sama summary kemaren.
Masih ada yang mau ngelanjutin?
Maaf untuk kesalahan penulisan, mohon kritik dan saran yang membangun ya sayang
