"Chanyeol, aku rindu" – BBH
"Jangan rindu, berat. Kau tak kan kuat, biar aku saja" – PCY
Benar kata Chanyeol, rindu itu berat tapi entah kenapa aku suka merindukan Chanyeol.
1st of January
.
[3 Maret 2018]
Chapter 2
Januari tahun itu adalah bulan yang paling menyenangkan bagiku, kenapa? Karna itu adalah pertama kalinya aku berteman dengan Chanyeol-ku. Aku ingat saat itu sehari setelah buku sejarah tertinggal di kelas dan entah kenapa aku sangat ingin memberikan nya pada Chanyeol. Aku dihadiahi bentakan dan ditinggalkan sendirian tapi kemudian dia juga yang menarikku dalam pelukan nya ketika aku hampir saja terserempet.
Chanyeol itu sebenarnya lelaki baik, sangat baik malah dan dia juga anak yang penurut karna ya seingatku setelah aku dilecehkan oleh anggota OSIS menjelang masuk SMA dia menuruti kata-kata ibu untuk mengganti kissmark di leherku dengan miliknya padahal saat itu aku sama sekali belum tau orientasi seksual Chanyeol. Saat itulah pertama kali nya aku berpikir bahwa dia seorang bisex.
Setelah apa yang dia lakukan padaku kemungkinan nya dia memang bisex atau mungkin Chanyeol hanya melakukan nya karna itu perintah ibuku. Aku jadi bingung dengan Chanyeol jadi suatu hari aku memberanikan diri untuk bertanya pada Chanyeol mengenai orientasi seksual nya dan jawaban nya membuat sesuatu dalam diriku ingin melompat, oh aku lupa kalau sesuatu yang berhubungan dengan Chanyeol selalu berhasil membuat jantungku hampir melompat.
"Chanyeol?" kami sedang duduk didepan kelas ketika jam istirahat sekolah, wajahnya terlihat tampan diterpa sinar matahari yang malu-malu mengintip dibalik daun.
"Hn?" Dia hanya menoleh memandangku dengan pandangan teduh
"Apa kau menyukai wanita?"
"Pertanyaan macam apa itu, bukan kah laki-laki memang seharusnya menyukai wanita," Aku gelagapan sendiri ketika Chanyeol mengatakan hal seperti itu, tanpa kusadari darahku berkumpul diwajah membuatnya terasa panas dan aku yakini sekarang pasti memerah.
"Maksudku Chanyeol, ada beberapa laki-laki yang tertarik dengan laki-laki juga"
"itu yang dinamakan dengan gay Baekhyun"
"Hn," Aku hanya berdengung samar ketika tak tahu lagi harus memulai pembicaraan ini dari mana. Seharusnya aku tidak menanyakan hal seperti ini tadi, yang ada sekrang aku malu sendiri kan.
"Tapi—" Chanyeol kembali membuka pembicaraan yang membuatku tanpa sadar menahan nafas menjelang kalimatnya selesai "—jika laki-laki nya semanis kau mungkin aku akan tertarik hahaha," Dia mengucapkan nya dengan iringan tawa yang begitu mempesona. Harus nya aku bahagia ketika Chanyeol mengatakan hal itu tapi justru aku menangis hari itu, malu sekali padahal waktu itu kami sudah SMA dan aku justru menangis sambil tertawa, Chanyeol mendekat kearahku meraih leherku kemudian mendekapku dalam dekapan dengan lembut mengusap punggungku.
"Kenapa menangis?" Seperti biasa, suara yanglembut
"Aku tidak tahu," Kepalaku menggeleng dalam pelukan Chanyeol, aku jelas melihat beberapa siswa dan siswi lain melirik kami dengan pandangan aneh karna tangisanku.
"Maaf kalau aku melukai harga dirimu Baekhyun, tapi aku tidak bohong. Kau itu cantik jadi aku menyukaimu, aku tahu kau juga seorang pria yang ingin dikatakan tampan jadi—" aku tidak membiarkan Chanyeol berbicara lebih banyak lagi jadi aku menbekap mulutnya dengan telapak tanganku.
"Bukan begitu, aku justru senang mendengar kalau Chanyeol menyukaiku. Ini adalah tangis bahagia," Aku menjelaskan kemudian kembali membelitnya dalam sebuah pelukan erat seakan tak ingin melewatkan satu detikpun tanpa kehadiran Park Chanyeol kesayanganku.
"Hn," Chanyeol balas memelukku tanpa peduli dengan tatapan orang lain pada kami. Sebenarnya mereka menatap aneh bukan karna gay itu tidak diterima karna di sekolah ini ada beberapa pasangan sesame jenis juga hanya saja mereka menatap aneh karna Chanyeol itu idaman para gadis, mungkin aneh kenapa Chanyeol memilh memeluk laki-laki cengeng seperti aku.
e)(o
Malam ketika kami sudah menikah dan tinggal satu rumah.
Seingatku dulu Chanyeol sangat gampang ketiduran, tapi ketika aku baru saja membuka mata barusan Chanyeol justru tidak ada disampingku. Aku pikir dia kemana malam-malam begini rupanya dia sedang sibuk didepan laptop mengerjakan beberapa tugas dengan sebuah kacamata bertengger dihidung sempurnanya.
"Chanyeol," Aku berjalan ke ruang kerja Chanyeol menatap wajah lelah suamiku, megusap wajahnya perlahan.
"Tidurlah lagi sayang," Chanyeol kembali terpaku pada pekerjaannya setelah 'mengusir'ku dengan halus barusan, membuatku kesal saja dia ini. Aku beralih duduk dipaha menghadap padanya, Chanyeol sempat terkejut namun kemudian memilih menyandarkan kepalanya di dadaku. Astaga posisi ini mengingatkanku akan ciuman pertama kami dulu.
"Lelah?"
"Hn," kepalanya mengusak dadaku mencari kenyamanan, tanganku mulai mengelus kepala Chanyeol selembut mungkin agar dia merasa lebih nyaman
"Aku pikir kau kemana malam-malam begini hampir saja aku menuduhmu berselingkuh tadi"
Aku merasakan tubuh Chanyeol bergetar karna kekehan dalam pelukanku, Chanyeol melingkarkan lengan di pinggangku kemudian mendongak menagkap mataku dengan manik bulatnya.
"Berselingkuh dengan siapa?"
"Dengan sekretarismu yang memiliki mata tajam itu mungkin atau dengan rekan kerjamu," Aku mendengus memang sama sekali tak suka dengan pekerjaan nya yang dikelilingi oleh banyak wanita cantik.
"Mana mungkin aku selingkuh di rumah kita sayang."
"Bisa saja kau melakukan phone sex dengan mereka."
"Kenapa harus melalui telepon kalau kau yang nyata bisa mendesah untukku huh?"
Sial. Aku terbakar mendengar ucapan frontal Chanyeol barusan, dia memang benar-benar bisa membuatku merona parah dengan kata-kata manisnya itu. Aku hanya mengelus kepalanya lagi kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Kau ingat Chan? Dulu kau itu sangat mudah sekali ketiduran"
"Hn?" Dengungan nya terdengar seperti pertanyaan, karna itu aku kembali melanjutkan kata-kataku
"Saat SMP kau sering ketiduran ketika aku menunggu ibu menjemput kan, haha kau itu manis sekali kalau tertidur tahu"
Aku ingat setelah kami bertemen Chanyeol menjadi benar-benar dekat denganku, aku tidak pernah merasa kesepian lagi karna setiap hari Chanyeol akan menunggui ibuku datang menjemput. Kami menghabiskan hari-hari bersama sepulang sekolah sebelum ibu datang menjemputku kadang-kadang juga diganggu oleh Sohyun tapi kadang juga anak itu memilih pulang lebih awal jika anak SMP pulang terlalu lama.
Saat itu kami benar-benar masih remaja polos yang hanya tahu bermain dan tertawa, walau sebenarnya aku yang lebih banyak tertawa dan heboh sementara Chanyeol hanya mengiringi, mengikuti apa yang aku mau sseperti aku yang tidak bisa turun dari pohon setelah kami duduk diatas pohon. Chanyeol dengan rela menjadikan bahunya sebagai pijakanku agar aku tidak terjatuh atau malah menyambutku dengan membentangkan tangan nya.
Pernah sekali ketika aku tidak bisa turun dari sebuah pohon mangga disamping sekolah Chanyeol mencoba menyambutku seperti biasa, namun kali ini usahanya gagal menyebabkan tangan kirinya patah karna tertimpa berat badanku tapi bukan nya Chanyeol yang menangis justru aku yang menangis awalnya karna kakiku terluka hingga mengeluarkan darah tapi ketika aku mengangkap wajah Chanyeol menahan sakit aku jadi merasa bersalah dan menangis semakin keras.
"Chanyeol maaf kan aku hiks," Chanyeol hanya mengusak kepalaku dengan lembut menggunakan tangan kanan.
"Tidak apa-apa Baekhyun, kakimu baik-baik saja?"
Ingin rasanya aku memukuli Chanyeol saat itu karna masih saja mengkhawatirkan aku disaat tangan nya sendiri terkulai tak berdaya dan mulai membengkak. Untunglah hari itu ibu datang cepat dan tangan Chanyeol bisa segera di obati, sejak saat itu aku tidak pernah lagi memanjat walau Chanyeol kadang mengajakku untuk menaiki pohon mangga yang sama.
"Ayolah Baek ini akan menyenangkan jika kau ikut memanjat bersamaku"
"Tidak akan Chanyeol, sebaiknya kau turun atau aku akan pulang jalan kaki saja"
"Hei kenapa malah seperti itu, aku tidak akan jatuh percayalah"
"Aku tidak percaya"
"Baekhyunee, aku ini bisa memanjat dengan baik dan turun dengan baik juga pastinya," Aku merasa tersinggung dengan ucapan nya yang seakan-akan mengejekku kalau aku ini tidak bisa turun setelah memanjat.
"Apa kau sedang menyindirku?"
"Kau merasa begitu?"
"Tentu saja, aku kan tidak bisa turun kalau memanjat"
"Mau mencoba lagi?"
"Tidak"
"Kau memang tidak bisa turun Baekhyun"
"Uh, menyebalkan"
Aku mengerucutkan bibir dengan kesal ketika Chanyeol mengatakan hal tersebut dengan sengaja aku mengalihkan perhatianku pada buku dan kembali menulis, Chanyeol menang selalu berhasil membuatku merasa kesal luar biasa dengan gaya bicaranya itu. Selalu saja seperti itu, jika sudah bersama Chanyeol maka aku tak akan pernah menang jika berdebat.
"Baekhyun," Chanyeol memanggil namaku, mau tak mau aku mendongakkan kepala dan tepat saat aku mendongakkan kepala bibir Chanyeol mengecup pelipisku. Dia sedang bergelantungan dengan kakinya diatas pohon, menjatuhkan kepala untuk mengecup pelipisku, aku membelalakkan mataku tak percaya.
"A-apa yang kau lakukan?"
"Jangan marah ya," Nada bicara Chanyeol terdengar sangat manja
"Turunlah," Pada akhirnya Chanyeol menurut kemudian membalik tubuhnya turun dalam satu hentakan, dia mengambil posisi disampingku. Dia menyandarkan kepala dibahuku beberapa saat kemudian aku mulai merasakan dengkuran halusnya. Senyuman tercetak dibibirku tanpa bisa ku elakkan, aku benar-benar menikmati Chanyeol yang tidur disampingku.
Aku kadang merasa bahwa aku ini sudah gila, iya. Gila karna aku menyukai Park Chanyeol, saat malam menjelang pagi aku akan selalu memikirkan dia, terbayang wajah tampan nya dan merindukannya. Gila memang karna ketika Chanyeol berada tepat didepan hidungku aku masih saja merindukan nya, masih saja memikirkan serta tak berhenti memandanginya.
Sudah kukatakan bahwa dia mudah ketiduran bukan? Ketika dia mulai bosan menunggu ibuku dia akan bersandar dipunggungku kemudian memejamkan mata, walau dia bersandar dibelakangku namun aku tahu bahwa Chanyeol tertidur melalui pola pernafasan nya. Dia selalu melakukan hal tersebut ketika dia bosan atau lelah, aku selalu menyukai saat-saat dimana Chanyeol tertidur karna aku dapat mendegar deruan nafasnya atau mungkin jika dia tidur dengan di pahaku aku bisa menelusuri wajah tampan nya.
Tapi ketika ada Sohyun aku sama sekali tidak menyukai Chanyeol yang tertidur, ini adalah pertama kalinya Chanyeol tertidur selama ada aku dan Sohyun. Biasanya dia akan selalu melerai pertengkaran antara aku dengan bocah ini tapi tidak ketika dia tertidur dan aku benci satu fakta bahwa bocah bernama Kim Sohyun ini memiliki pola pikir yang sama atau bahkan mungkin lebih dewasa ketimbang diriku.
"Baekhyun?" Dia memanggiku yang saat itu tengah menulis sementara Chanyeol bersandar dipunggungku, anak itu memang tidak pernah memanggilku dengan panggilan yang sopan, pada Chanyeool dia memanggil 'oppa' tapi padaku justru hanya memanggil nama saja. Tapi aku tak pernah mempermasalahkan itu semua.
"Hn?"
"Apa kau menyukai Chanyeolku?" Hatiku berdenyut sakit mendengar kata-kata bocah itu, senyuman miring mengiasi wajahku seolah aku sedang menertawakan diri sendiri saat itu. Apa dia bilang barusan 'Chanyeolku' bisa-bisa nya bocah ini mengklaim Chanyeol sebagai milik nya, tak terima tentu saja namun aku hanya menjawab seadanya.
"Menurutmu begitu?"
"Aku hidup di lingkungan orang dewasa Baekhyun, aku tidak akan asing melihat laki-laki berciuman dengan laki-laki"
Seluruh saraf tubuhku menegang ketika Sohyun mengucapkan itu dengan santai, aku mulai berpikir apa kelakuan ku pada Chanyeol sangat menunjukkan bahwa aku menyukainya? Kenapa anak sekecil Sohyun bisa menyadarinya sedangkan Chanyeol sendiri sama sekali tidak peka dengan hal itu.
"Kau tahu kenapa aku dulu menganggapmu perempuan? Itu karna wajahmu cantik, dan dari sana saja aku sebenarnya mengerti bahwa kau itu berbeda"
"Apa sih yang kau bicarakan aku tidak mengerti," Aku mengelak cepat setelah menangkap maksud pembicaraan Sohyun barusan, ingin rasanya aku menutup kedua telinga Chanyeol dengan earphone atau semacamnya.
"Aku hanya mau mengatakan, jika kau memang menyukai Chanyeol-ku maka kau dan aku harus bersaing secara sehat. Jangan mendapatkan dia dengan sikap meminta belas kasihan nya. Kau tahu? Sejak dia selalu menunggui mu pulang dia selalu telat makan dirumah dan kemarin tangan nya patah. Aku tidak bodoh untuk tahu bahwa kau yang menyebabkan semua itu—" dia berhenti sesaat berjalan kearah Chanyeol mengusap tangan kecilnya dikepala Chanyeol "— dia hanya terlalu baik sampai berbohong bahwa dia terjatuh dari pohon mangga sedangkan aku sangat tahu dia itu bisa memanjat. Dasar bodoh!" Sohyun menggerutu seraya mendorong pelipis Chanyeol hingga yang tertidur melenguh karna tidurnya terganggu kemudian Sohyun mengeratkan pegangan tas sandang kuning miliknya.
"Aku akan pulang duluan, katakana padanya bahwa aku mengantuk jadi aku pulang duluan. Jaga dia baik-baik mungkin kemarin tangan nya nanti atau besok bisa saja nyawanya"
Aku hanya tertegun melihat punggung gadis itu menjauh, Sohyun benar, dia hidup di lingkungan orang dewasa karna itulah dia bisa berbicara layak nya kakak ku bukan nya adik ku seperti tadi. Air mataku jatuh membasahi buku yang sedari tadi ku genggam, sekali lagi kenyataan yang dikatakan Sohyun itu benar. Chanyeol terluka karnaku, kemarin tangan nya yang patah besok bisa saja nyawanya yang menghilang karnaku.
Bisa saja dia tertabrak mobil karna ingin menolongku, atau tenggelam karna ingin menolongku, atau mungkin dipukuli penjahat hingga tewas karna menolongku. Berbagai macam pemikiran buruk berkeliaran di kepalaku, air mata yang tadinya hanya setetes dua tetes kini berbondong-bondong turun membasahi pipiku.
Aku yang ceroboh ini, aku yang cengeng ini, meremas pulpenku terisak dalam diam karna tak ingin membangunkan Chanyeol yang aku tak yakin masih tertidur karna nafasnya sudah mulai teratur dibelakang sana.
.
Keesokan harinya ketika pulang sekolah aku memilih keluar kelas lebih dulu—untuk menghindari Chanyeol— setelah bel pulang berbunyi aku buru-buru keluar kelas berusaha berjalan secepat mungkin agar Chanyeol tak melihatku, kepalaku menoleh kebelakang mencoba memasikan bahwa dia tidak mengikutiku namun ketika aku berbalik wajahku malah menabrak seseorang. Hanya dengan baunya saja aku sangat tahu bahwa ini adalah Park Chanyeol yang tengah aku hindari.
"Kenapa kau terburu-buru? Apa terjadi sesuatu?"
"Chanyeol minggirlah," Perasaanku mulai tak enak karna mulai memberikan dorongan untuk menangis saat ini, beberapa orang dikoridor mulai memperhatikan kami. Ralat, maksudku Chanyeol memang selalau menjadi pusat perhatian bukan?
"Katakan Baekhyun"
"Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin sendirian"
"Kau berbohong"
"Aku tidak berbohong Chanyeol"
"Kau iya," Chanyeol mulai menentangku dengan tatapan mata yang tajam dan penuh selidik, dan seperti biasa aku hanya akan menunduk, tubuhku bergetar, butiran bening turun satu persatu dari mataku.
"Aku hiks—aku tidak berbohong Chanyeol," Suaraku serak karna menahan tangis
"Lalu kenapa juga kau menangis?"
"A-aku tidak tahu"
"Baekhyun!" Nada suara Chanyeol mulai meninggi, aku selalu tahu bahwa Chanyeol bukanlah orang yang mudah menahan emosinya.
"Maaf…"
"Hn," Chanyeol hanya bergumam pelan membawaku dalam pelukan nya, aku tahu saat ini dia sedang marah.
"Maafkan aku Chanyeol hiks— "
"Apa ini ada hubungannya dengan yang dikatakan oleh Sohyun kemarin?" Chanyeol memotong perkataanku
Aku hanya terdiam, beberapa saat setelahnya aku merasa tubuhku dibawa kedalam ruangan oleh Chanyeol. Ini bukan kelas kami, setidaknya ini lebih baik dari pada koridor sekolah yang dipenuhi banyak orang seperti tadi. Chanyeol masih menatapku dengan tatapan mengintimidasi dan penuh investigasi.
"Maaf kan—"
"Berhenti meminta maaf dan jelaskan"
"Aku hiks A-aku"
Chanyeol kembali memelukku kali ini dengan lembut mengelus punggungku agar tangisanku mereda, aku tak tahu kenapa aku menjadi begitu cengeng seperti ini didepan nya. Tubuhku bergetar ketika Chanyeol kembali menenangkanku dengan kata-kata manis, aku masih diam tak kunjung berhenti menangis karna aku kembali mengingat apa yang dikatakan Sohyun kemarin.
"…jika kau memang menyukai Chanyeol-ku maka kau dan aku harus bersaing secara sehat. Jangan mendapatkan dia dengan sikap meminta belas kasihan nya…"
Chanyeol manjauhkan tubuh kami, mengecup pelan hidungku yang sudah dipenuhi oleh ingus dan memerah. Aku menatap manik hitam Chanyeol karna tangisku terhenti seketika Chanyeol mengecup hidungku barusan.
"Katakan," Chanyeol kembali memintaku mengatakan. Aku hanya tak ingin menjadi lemah lagi, aku tak ingin dipandang meminta belas kasihan Chanyeol lagi karna itu aku memeluknya dengan erat membenamkan wajahku didadanya.
"Aku hanya takut Chanyeol, aku hanya tak ingin kau terluka lagi—"
"Tapi aku baik baik sa—" Aku menutup mulut Chanyeol dengan tanganku menatapnya meminta pengertian sementara kedua tangan Chanyeol masih melingkari pinggangku.
"Dengarkan aku sampai selesai dulu, bisakah?" Chanyeol hanya mengangguk patuh kembali menatapku namun aku kembali memeluknya bersembunyi dalam dadanya.
"Aku hanya takut kau terluka seperti kemarin karna aku, aku hanya anak lemah Chanyeol. Jika kau teru-terusan melindungiku kau bisa menyakiti dirimu sendiri karna selain cengeng aku ini ceroboh Chanyeol. Aku tak ingin menyusahkanmu, aku ingin berusaha melindungi diri sendiri. Benar kata Sohyun, mungkin kemarin tanganmu bisa jadi hari ini atau kedepan nya adalah nyawamu"
Hening.
Kami sama-sama terdiam di tempat ketika ucapanku selesai, Chanyeol masih diam tanpa bicara sepatah katapun. Aku sampai bingung dibuatnya, ketika aku hendak bertanya aku merasakan wajah Chanyeol terkulai lesu dibahuku, hidungnya mulai menyentuh leherku bernafas disana membuat tubuhku serasa tersengat.
"Harusnya aku yang berkata seperti itu Baekhyun, aku takut kau terluka. Aku takut melukaimu, dan aku takut kau menjauhiku. Melihatmu pulang tanpa menungguku seperti tadi rasanya lebih sakit daripada tulangku yang patah kemarin, aku sudah terbiasa terluka Baekhyu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku hanya tetap bersamaku hingga akhir, kumohon"
Aku merasakan leherku basah, tidak. Chanyeol tidak menangis tapi dia menjilati leherku, tubuhku menegang ketika dengan pelan Chanyeol mulai mencumbu leherku. Saat itu usia kami masih lima belas tahun, pertama kalinya Chanyeol menyentuh tubuhku, maksudku ya kontak fisik yang berlebihan seperti sekarang ini.
"C-chanyeol?"
"Hn?" Dia hanya bergumam tanpa menghentikan aktivitasnya, kakiku rasanya lemas sekali ketika jilatan dan kecupan tadi berubah menjadi hisapan.
"A-apa yang kau lakukan?"
"Menurutmu?" Chanyeol kini mulai merambati hidungnya menuju telingaku, tanpa sadar aku mengeratkan pelukanku pada leher Chanyeol. Tangannya dibawah sana terus mendorong agar tubuh kami saling menempel satu sama lain, hingga aku benar-benar tak sanggup menahan tubuhku sendiri dan berakhhir dengan menumpukan berat tubuhku pada Chanyeol.
Cukup lama Chanyeol melakukan hal itu sampai aku merasa Chanyeol sudah menghentikan pekerjaan nya, aku hanya mengelus punggung lebarnya menghembuskan nafas berat menyamankan posisi kami berdua, tangan Chanyeol sudah tak lagi menekan tubuhku pada tubuhnya hanya bertengger saling bertaut dibelakang pinggangku.
"Sudah?" Aku bertanya pelan merambati rambut halusnya
"Hn, maaf kan aku Baekhyun"
"Maaf untuk?"
"Aku hampir saja merusakmu"
"Chnyeol, bahkan kau sudah membuat satu tanda di leherku"
"Maafkan aku"
"Hn,"
"Jangan menangis lagi, aku mohon"
"Maafkan aku Chanyeol"
"Sekaang kita pulang?"
Aku hanya mengangguk pelan mengikuti langkah Chanyeol keluar kelas dengan tangan saling menggenggam, aku memandang genggaman tanganku dan Chanyeol tersenyum simpul kemudian mengeratkan genggaman kami. Aku menyesal telah menghindari Chanyeol dan membuatnya marah seperti tadi, aku tak pernah menang berdebat dengan Chanyeol dan malah berakhir seperti tadi. Aku memang tak bisa menahan godaan sebesar Park Chanyeol ini jadi aku hanya membiarkan dia terus menggenggam tanganku hingga kami menikah.
e)(o
Berada dalam gendongan Chanyeol adalah hal yang paling aku sukai didunia ini, jika diberikan pilihan aku boleh mencium Zayn malik atau gendongan Chanyeol aku akan memilih digendong Chanyeol karna ya Zayn hanya idola ku ngomong-ngomong. Selain karna nyaman aku juga bisa mengendusi aroma Chanyeol yang begitu jantan menguar disekitar hidungku.
Malam itu setelah tengkukku dipukul sesuatu oleh Kris aku digendong pulang oleh Chanyeol, memasuki apartemen dengan pelan agar tak mengganggu tidurku yang nyatanya sudah sadarkan diri sejak tadi. Chanyeol dengan perlahan membaringkanku di tempat tidur, ketika dia hendak beranjak aku sengaja menarik lehernya dengan kalungan tangan agar Chanyeol tak pergi.
Bicara soal leher aku juga sangat menyukai tatto yang menghiasi leher Chanyeol, tatto sepasang sayap itu akulah yang memintanya. Aku tidak suka laki-laki bertatto sebenarnya tapi jika itu Chanyeol akan mendapat pengecualian. Itu terbentuk disana untuk menutupi lukanya, Chanyeol terluka di tengkuk meninggalkan jejak yang cukup jelas jadi aku meminta untuk menutupi bekas itu dengan tatto bergambar angel wings.
Kejadian ini terjadi saat kami berada dibangku terakhir sekolah menengah pertama, sore itu langit sangat indah menampakkan lembayung merah mengiasi. Chanyeol dan aku berjalan di trotoar menikmati sore sesekali saling melempar senyuman satu sama lain, sekedar informasi kami hari ini akan pergi ke rumah Chanyeol yang berada dipinggir kota. Hal yang paling aku sesali adalah, Chanyeol mengetahui seluruh sisi hidupku bahkan mengenal baik ibuku tapi aku tak pernah tahu bagaimana kehidupan Chanyeol selain tempat tinggalnya yang berada dalam kawasan orang dewasa layaknya bar malam setiap hari.
Red Pumpkin adalah sebuah kawasan bar yang luas, disana berdiri beberapa rumah layaknya kompleks. Iya kompleks bagi para pejabat yang ingin memuaskan nafsu, menyediakan berbagai macam minuman keras, prostitusi bahkan narkoba—aku tahu itu setelah memebaca artikel belakangan ini.
Namun malam itu semuanya menjadi mimpi buruk, benar-benar buruk. Saat kami sampai disana kami melihat Sohyun menatap dengan tatapan khawatir, Chanyeol hendak bertanya tapi gadis itu menangis menghapus air mata menggunakan punggung tangan yang kotor.
"Ada apa?"
"Kenapa kau tidak pulang dua hari ini sialan!?" Gadis itu berteriak pada Chanyeol, begitu lantang sampai membuat beberapa orang yang lewat memperhatikan bagaimana seorang gadis kecil menyumpahi teman nya.
"Kenapa malah meneriakiku!?" Chanyeol balas membentak tak kalah keras, suara husky miliknya memenuhi ruangan yang terasa kosong. Benar ada yang salah disini, rumah Chanyeol kosong tanpa satupun barang yang tersisa. Aku memperhatikan sekeliling rumah dan hanya terdapat dua kursi disudut sana menghiasi.
"Pergilah, sebentar lagi Whirlwinds akan menghancurkan seluruh tempat ini"
"Apa!?"
"Kenapa? Kau kaget?"
"Jika aku pergi kau juga harus ikut Sohyun, kau adikku"
"Kau masih menganggapku adik setelah meninggalkan aku dan bibi selama dua hari tanpa kabar? Aku tak akan pergi, aku lebih memilih mati disini. Ditempat aku dibesarkan"
"Kim Sohyun!"
"Jangan membentakku Park Sialan Chanyeol!"
Aku merasa sedih melihat pertengkaran mereka, ini semua salahku jika saja dua hari lalu saat pulang sekolah kami tidak hujan-hujanan dan aku tidak terkena demam tinggi pastilah Chanyeol pulang memberikan kabar pada Sohyun kemudian gadis ini tidak akan semarah sekarang. Sohyun sama sekali tak menangis walau aku melihat jelas dia menahan tangis, selama ini aku selalu melihat sisi manjanya pada Chanyeol dan sekarang dia justru memaki-maki Chanyeol.
"Dimana ibu?"
"Pergi dari sini Park Chanyeol—" mata kecilnya beralih menatapku, pandangan nya sungguh tak bisa aku artikan seperti memohon atau membenci."—ah kau bersama dia bukan? Sebaiknya kau bawa dia pergi dari sini sebelum Whirlwinds datang, bisa saja jalang ini diculik oleh mereka. Tentu kau tidak ingin bukan?"
"Perhatikan ucapanmu Kim Sohyun"
"Bukankah aku benar? Dia itu jalang Chanyeol, dia merebutmu dariku!"
Chanyeol mengeratkan kepalan tangannya sementara aku hanya menunduk mendengar semuanya, kasar sekali anak kecil ini pikirku, Sohyun sudah bukan anak SD lagi sekarang. Dia sudah kelas dua SMP hanya saja dia disekolahkan di sekolah khusus putri bukan di sekolah yang sama denganku dan Chanyeol. Aku terlarut dalam pikiranku sendiri, teriakan-teriakan Sohyun terus mengisi benakku. Bagaimana dia mengataiku merebut Chanyeol dari nya dan juga bagaimana dia menyematkan panggilan 'jalang' untukku sampai aku mendengar suara tamparan yang sangat keras.
"Kau bahkan sekarang melukai apa yang selalu kau katakana bergarga hanya karna dia? Brengsek, bibi telah di bawa oleh Whirlwinds kemarin karna salah seorang jalang disini tertangkap polisi"
Rahang Chanyeol mengeras, seiring dengan itu terdengar ledakan keras diluar sana. Tubuhku gemetar mendengar jeritan-jeritan kesakitan, aku tak tahu apa yang terjadi diluar. Aku mengalihkan pandanganku pada Sohyun, dia sedang menyeringai remeh sebelum masuk dalam sebuah ruangan yang mungkin adalah kamarnya. Chanyeol menarik lembut tanganku, membawa keluar rumah untuk pergi dari sini.
"Lepaskan aku bajingan, aku tidak tahu apa-apa tentang sialan itu tertangkap polisi," wanita dengan dress merah ketat itu menjerit keras ketika perutnya ditendang oleh sepatu berkilau lelaki berjas hitam didepan nya.
"Brengsek!" Chanyeol berlari kesana memukuli semua laki-laki dengan jas hitam tersebut hingga tumbang satu persatu, dia memukuli mereka seperti orang kesetanan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ledakan demi ledakan kembali terdengar, tempat ini terasa begitu panas karna telah dikelilingi oleh api. Rumah Chanyeol sendiri telah terbakar, aku ingin sekali berlari masuk kedalam sana untuk menolong Sohyun yang masih berada dalam kamar tapi yang bisa kulakukan hanya menangis meremas kedua tanganku, wajahku sudah kotor karna tanganku mengitap terkena abu dan aku mengusapkan nya pada wajahku. Orang-orang berlarian kesana-kesini disekitarku untuk menyelamatkan diri.
"Kita pergi," Chanyeol telah selesai memukuli orang-orang tadi aku dapat melihat luka dipelipis dan juga lebam diwajah tampan yang tadi ditendang oleh mereka sudah tak ada lagi disana.
"Tapi Sohyun…"
"Bukankah dia sudah mengatakan tadi kalau dia ingin mati disini? Aku tak akan membuang tenagaku lagi untuk masuk kedalam sana, meninggalkanmu sendirian disini untuk menolong nya"
"Dia adikmu Chanyeol"
"Lalu apa yang salah dengan itu?"
"Chanyeol aku mohon," Chanyeol menggertakkan rahang nya ketika aku masih mencicit soal Sohyun, dia menghempaskan tanganku memasuki rumah tersebut beberapa saat setelah Chanyeol menghilang dibalik pintu sebua ledakan terjadi di rumah yang bersebrangan dengan rumah Chanyeol. Tubuhku sakit, terpental keras ditanah dan sebuah kayu menimpa kakiku menimbulkan lebab dan membuatnya bengkak. Aku menangis melihat kondisiku sendiri, kupikir aku akan mati saat itu.
"Dasar bodoh," Suara Chanyeol mengalun ditelingaku, aku membuka mataku ketika Chanyeol sudah berada tepat didepanku. Wajahnya terlihat semakin kotor karna debu, aku memeluk lehernya cepat medengar ringisan Chanyeol. Aku membelalakkan mata ketika merasa lenganku yang membelitnya basah karna sesuatu yang kental.
Darah
Ternyata leher Chanyeol berdarah, sebuah luka robek dilehernya mengeluarkan banyak darah. Aku bersyukur karna itu tak mengenai nadinya karna jika sampai itu terjadi aku akan sangat menyesal.
"Kita pulang, berpegangan" Chanyeol berujar sambil mengangkat tubuhku berjalan keluar kawasan ini melewati beberapa tempat sempit dengan cepat untuk menghindari tertimpa kayu-kayu yang terbakar.
"Itu sakit hiks"
"Hanya jangan menekan nya," Aku kembali melingarkan lenganku di leher Chanyeol menghindari bagian luka tersebut. Ketika aku menoleh kebelakang aku melihat jelas tubuh seorang wanita dibelakang sana, terkulai dengan mata yang menatap kami dari teras rumah Chanyeol ditengah api. Itu Sohyun, . Itu adalah kali terakir aku melihat Sohyun karna setelahnya Chanyeol membawaku berbelok hingga kami keluar dari gang, melewati kerumunan orang didepan tempat kejadian. Beberapa polisi mencoba mencekat Chanyeol hendak bertanya tapi Chanyeol lebih dulu memotong.
"Aku bukan bagian dari mereka, tolonglah"
e)(o
Halo semuaaa, kembali up ya saya
Maaf jika masih ada kesalahan dalam pengetikan atau typo yang masih bertebaran, ff ini ga akan panjang beberapa chapter lagi juga tamat.
Masih ada yang mau membaca ff ini?
Tinggalkan jejak yaaaa
