1st of January

.

[1 February 2018]

Chapter 3

Tubuhku rasanya remuk ketika ledakan-ledakan itu terjadi, Chanyeol benar-benar meninggalkanku. Aku menyesal telah memintanya pergi,, sungguh. Tapi aku tak punya pilihan lain selain duduk diam di tengah api yang mulai melalap dinding kamarku. Whirlwinds sungguh benar menghancurkan tempat ini tanpa peduli berapa banyak korban yang tewas. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka menampilkan Chanyeol dengan rahang mengerasnya menatapku.

"Sungguh kau mau mati disini?" dia bertanya menahan emosi yang menggebu, aku buru-buru memalingkan wajahku yang terasa panas bukan hanya karna api ini tapi karna hatiku terasa diremas melihat Chanyeol dengan wajah setengah hitam nya kembali kesini yang pastinya karna keinginan Baekhyun.

"Pergilah," Tubuhku benar-benar tak bergerak ketika Chanyeol berjalan mendekat kemudian merengkuh tubuhku, tangannya menarikku dengan kasar mengangkat tubuhku keluar rumah.

"Lepaskan aku Chanyeol, biarkan aku mati!" aku berteriak seperti orang kerasukan memukuli punggung Chnayeol yang tengah membopongku keluar rumah, aku terus meronta, memukul, menolak semua kenyataan bahwa lebih baik aku mati ditempat ini dari pada melihat Chanyeol terus saja bersama Baekhyun, aku tak tahu dimana anak itu sekarang yang aku tahu Chanyeol menurunkan tubuhku kemudian mengerang kesakitan.

Lehernya, bagian itu baru saja tertimpa sebuah besi kala api mulai membakar hampir semua bagian rumah. Aku jelas melihat Chanyeol marah, aku tak tahu apa yang membuatnya benar-benar marah seperti ini. Mungkin karna aku tak menurut padanya tapi siapa yang peduli? Toh dia adalah milik Baekhyun, dia sangat menyayangi Baekhyun bahkan sampai menamparku tadi karna aku mengatakan Baekhyun nya itu jalang yang jelas-jelas telah merebut dia dariku.

"Pergilah Chanyeol, aku sungguh membencimu," harusnya yang diketahui anak berusia limabelas tahun ini hanyalah cinta sesaat tapi aku sungguh marah pada Chanyeol karna aku mencintainya.

"Itukah yang kau inginkan Sohyun-ah"

"Iya," aku hanya menjawab singkat jelas melihat bagaimana mata indahnya menatap kecewa kearahku, dia menangis. Secepat kilat menghapus air mata, membawa tubuhku keluar dari rumah ini seluruh tubuhku seakan mati rasa sekarang dan aku hanya pasrah ketika Chanyeol coba membawaku, aku sudah pasrah jika akhirnya dia meninggalkanku.

Dan itu sungguh terjadi.

Didepan sana Baekhyun duduk menangis memegangi kakinya yang membiru, aku dicampakkan. Sendirian terbaring menahan sakit melihat kepergian Chenyeol menggendong Baekhyun keluar dari kawasan ini. Bibirku menyumbangkan senyuman miring menertawakan diriku sendiri yang masih saja berharap. Seandainya Baekhyun tak pernah ada, maka Chanyeol tak akan pernah meninggalkan aku tapi nyatanya semua berubah sejak kedatangan anak itu, aku benar-benar ingin membunuh Baekhyun. Menyesali semua kata-kataku pada Chanyeol tadi, membentak dan memintanya pergi sekarang semua sudah terlambat. Tempat ini benar-benar akan hancur dalam hitungan menit, aku memejamkan mata bersiap menerima kematianku, mungkin semenit lagi, atau limabelas menit lagi atau bahkan sepuluh menit lagi tergantung kapan semua ini runtuh.

Namun aku salah, seseorang membawa tubuhku dalam gendongan nya menatapku dengan mata dingin yang menenangkan walau tak setampan Chanyeol tapi dia mendekapku tak membuangku seperti Chanyeol. Aku jelas tahu siapa dia, putra kedua Whirlwinds yang mengesankan, aku tak tahu apa tujuan nya membawaku karna aku hanya pasrah kala itu. Pasrah jika sesampai nanti aku tetap akan mati dengan cara yang berbeda.

e)(o

setelah aku dan Baekhyun menikah,

aku memeluk tubuhnya yang kini berada dalam pelukanku, dia terbangun tengah malam karna tak merasakan keberadaanku didekatnya. Baekhyun memelukku dan sedari tadi berceloteh tentang bagaimana aku dulu mudah sekali tertidur ketika menunggu ibunya datang menjemput dan satu hal yang baru Baekhyun ceritakan padaku bahwa dulu Sohyun memang pernah mengatakan padanya untuk 'bersaing secara sportif' untuk mendapatkan aku, wanita itu benar-benar gila sejak kecil rupanya. Aku mengendus tulang belikat Baekhyun yang terdapat jejak luka disana. Semua ini adalah perbuatan wanita gila yang ambisius itu, lagi pula kenapa juga kami pindah ke California setelah menikah kalau bukan untuk menghindari bertamu dengan wanita gila itu lagi.

"Tidak mengantuk hm?" Aku mendongakkan kepala menatap Baekhyun dengan mata sayu, dia hanya menguap lebar-lebarmenjatuhkan kepalanya dibahuku, tangan nya merambat kepunggungku memeluk dengan begitu erat.

"Chanyeol?" suara indah mengalun disamping telingaku, dengan nafas lembut menyapu leherku

"Apa sayang?"

"Kapan kita kembali ke Korea? Ini sudah dua tahun, aku merindukkan ibu"

"Kau ingin kesana? Bertemu wanita gila itu lagi?"

"Chanyeol, dia adikmu"

"Bukan"

"Kumohon"

"Baekhyun," Aku mencoba memperingati lagi pula ini adalah zaman yang modern dimana kau bisa melihat ibu yang jauh disana melalui video call walau itu tak nyata namun dua tahun bukanlah waktu yang mudah kulalui setelah semua kejadian gila itu terjadi.

"Aku hanya ingin memeluk ibu Chanyeol," dia mencicit pelan disamping telingaku

"Aku akan meminta ibu untuk kesini, kita bisa—"

"Tapi aku juga rindu rumahku"

"Park Baekhyun!"

Baekhyun langsung terdiam ketika suaraku mulai meninggi, dia hanya diam dengan tangan mungilnya turun perlahan dari punggungku. Tubuhnya hendak pergi namun aku menahan nya agar tetap duduk dipangkuanku, aku mengalihkan wajahku kesamping mengecup kepala belakangnya menenangkan dia yang hampir menangis, anak ini benar-benar cengeng tapi sungguh aku mencintainya dengan segala kecengengan itu.

"Maafkan aku, kita akan kesana minggu depan jika kau benar-benar menginginkan nya"

"Tidak usah," Lihat? Dia mulai lagi dengan ssegala rajukan mematikan yang membuat jantungku teremas karna rasa bersalah, harusnya aku tidak membentaknya tadi. Sekarang dia malah diam diatas tubuhku seperti patung, dia menangis dalam diam sampai limabelas menit kami tidak bersuara. Aku hanya mengusap kasar wajahku, memeluknya dengan erat.

"Ma-af kan aku Chanyeol," dia masih menangis meminta maaf padahal aku yang salah dan itu semua jelas membuat aku merasa semakin bersalah padanya tapi aku tetap memeluknya hingga semua tangisnya tumpah. Memeluknya adalah salah satu cara ampuh menenangkan tangisan Baekhyun, aku menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi yang otomatis membawa Baekhyun ikut tersandar padaku karna tangan nya mengalung dileherku.

"Aku yang salah sayang, maafkan aku"

"Kita tidak usah ke Korea, aku akan meminta ibu agar bisa kesini nantinya"

"Tidak, kita akan kesana minggu depan. Aku juga rindu," Baekhyun menggeleng dalam pelukanku membuatku merasa frustasi

"Apa yang kau rindukan selain ibu Chan? Maaf karna aku telah mengajakmu ke sana, aku sangat tahu bahwa kita memiliki kenangan buruk disana terlebih itu kau. Maafkan aku sungguh"

"Kita akan tetap kesana"

"Chanyeol aku mohon," Baekhyun menangis lagi, aku mengangkat kepalanya membawa kami dalam sebuah ciuman hangat yang dapat menenangkan hati masing-masing serta meredam emosi yang mulai naik, aku memeluk Baekhyun setelah tautan bibir kami terpisah.

"Aku juga rindu, sampai disana kita akan bermain kesekolah menengah pertama kita dulu," Akhirnya Baekhyun pasrah dan mengangguk, dia kembali bersandar pada bahuku.

"Bawa aku ke kamar Chan, aku mengantuk," pintanya

"Hng," menggendongnya seperti koala adalah kesukaan Baekhyun sambil terus memelukku, dia menjauhkan wajahnya menangkup kedua pipiku dengan tangan nya menatapku dengan binary penuh cinta pada matanya yang basah, bibir manisnya berulang kali mengecup bibirku kemudian tersenyum sampai aku membaringkan tubuhnya memeluknya hangat hingga fajar datang.

e)(o

Red pumpkin adalah sebuah kawasan bar layaknya kompleks perumahan tempat aku dibesarkan selama enambelas tahun, kawasan itu adalah milik sebuah kelompok mafia bernama Whirlwinds yang diketuai oleh Oh Mansoo. Kebakaran waktu itu adalah sebuah perataan yang disengaja, kawasan bar dulunya sangatlah luas. Seperti sengaja dibangun sebuah kota, fasilitas disini sungguh lengkap tak hanya prostitusi tapi juga tempat penyeludupan narkoba dulunya, ibuku merupakan salah seorang yang mengelola tempat itu dulunya.

Mengapa kawasan illegal tersebut dihanguskan? Untuk menghilangkan bekas, kematian seorang pejabat ternama Korea yang meninggal dunia sehabis bermalam bersama salah seorang jalang disana, dia mati dalam keadaan mengenaskan malam itu yang jelas diketahui adalah perbuatan orang-orang yang ada disana. Pada tahun itu Oh Mansoo ketua besar Whirlwinds berada dirumah sakit, dia sudah sekarat membuat kedua putranya harus bertanggung jawab atas klan mereka.

Ketika salah seorang dari jalang mereka tertangkap oleh pihak kepolisian, anak-anak Whirlwinds jelas panik akan keselamatan klan mereka. Bagaimana jika semua prostitusi, penyeludupan dan perbuatan kotor mereka yang lain nya ketahuann? Bisa-bisa mereka mendekap di jeruji besi sementara Master Oh tengah meregang nyawa dirumah sakit. Karna itulah mereka memilih menghancurkan tempat tersebut agar semua jejak hilang dan polisi tidak dapat melanjutkan penyelidikan mengenai kematian Kim Jung dan juga usaha kotor klan Whirlwinds selama ini.

Aku juga baru mengetahui hal itu dua tahun lalu, juga alasan kematian Kim Jung yang sebenarnya. Malam itu setelah diobati oleh ibu Baekhyun dirumah aku dibawa ke kantor polisi oleh seorang penyidik, ibu Baekhyun sempat menjelaskan bahwa aku masih dibawah umur saat itu tapi polisi mengatakan ini hanya demi penyelidikan..

"Jadi apa urusanmu disana tadi Park Chanyeol?" Aku di investigasi sejak setengah jam yang lalu oleh salah seorang polisi yang ada disana dengan penuh kesopanan karna dia juga tahu bahwa aku anak dibawah umur yang tak mungkin melakukan tindak kejahatan serius dalam kawasan orang dewasa.

"Itu adalah rumahku,"

Polisi tersebut memandangku sejenak kemudian mengalihkan pandangan nya pada jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam sudah tak ada orang lain disini kecuali kami dans seorang rekan polisi nya diluar sana, dia menghela nafas karna tak mendapatkan informasi apapun dariku saat itu.

"Istirahatlah dulu, aku ingin meminum kopi sebentar karna sungguh begitu banyak kasus yang harus aku tangani"

Aku mengangguk memilih duduk disalah satu kursi tunggu, aku meremas rambutku saking frustasi dan tertekan nya aku. Bahkan aku tak tahu dimana ibuku saat ini, sungguh kupikir ini adalah hari terburuk dalam hidupku, walau nyatanya aku salah sih.

Tempat kosong disebelahku berdecit menandakan seseorang baru saja menempatkan diri mengisinya tapi aku tak peduli karna aku hanya ingin cepat pergi dari sini menemui Baekhyun yang tadi kutinggalkan dalam keadaan tertidur. Aku butuh pelukan nya, aku baru berusia enambelas tahun okay? Jadi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu, ada sesuatu dalam diriku yang mengatakan bahwa seharusnya aku menyesal telah selamat dari kejadian itu meninggalkan ibu dan adikku namun ada sesuatu yang lain membuatku bahagia bahwa aku selamat bersama Baekhyun..

"Yo man, itu adalah jahitan yang bagus," seseorang disebelahku mengoceh, aku tahu yang dia maksud adalah luka jahit penghuni tengkuk ku tapi aku hanya diam menoleh sebentar ternyata dia Jongin temanku yang tahun lalu berkelahi membuat hubungan kami merenggang aku kemudian kembali memegangi kepalaku.

"Apa kepalamu sakit?" dia kembali bertanya ,

"Masalahmu berat ya? aku bisa membantu jika kau mau"

"Kau siapa?" Akhirnya aku membuka pembicaraan menoleh padanya, dia hanya tersenyum lebar terlihat bodoh dengan kulit gelapnya itu

"Kenalkan namaku Kim Jongin tapi kau bisa memanggilku Kai" ingin rasanya aku meninju karna jelas aku tahu bahwa dia adalah Kai anak kelas sebelah.

"Bukan itu maksudku, kau mau membantuku tapi kau siapa disini?"

"Aku? Ouh—" ucapan nya terhenti ketika polisi yang tadinya menginvestigasiku keluar dari dalam ruangan nya, dia langsung menyambar bahuku melingkarkan tangan nya dengan sok akrab tersenyum lebar pada polisi tadi.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Hai hyung, kenapa temanku bisa ada disini?" alih-alih menjawab dia malah bertanya pada polisi tadi yang nyatanya kakak Jongin, polisi itu menatap dengan rotasi pada mata.

"Karna dia berada dalam proses penyelidikan."

"Wow, kupikir anak berusia seperti dia tak mungkin melakukan kejahatan yang serius."

"Memangnya kau tahu apa?" Kakak nya kembali bertanya menyesap kopi kemudian duduk dikursi tempat aku diinvestigasi tadi, aku lupa mengatakan bahwa investigasiku tidak serius karna itu aku tak diinvestigasi dalam ruangan berlapis kaca anti peluru seperti pelaku kejahatan pada umumnya.

"Dia seumuran denganku, kau pikir kejahatan yang aku lakukan serius?"

"Itu hanya kenakalan remaja Jongin."

"Nah benar, jadi kurasa kami akan sama."

"Kau mengenalnya?" jelas polisi itu bertanya padaku dan aku hanya menjawabnya dengan anggukan kaku karna jelas aku mengenal Jongin tapi kami tak sedekat seperti yang dikatakan Jongin pada kakaknya, dulu kami bertengkar sampai hidung Jongin berdarah dan pelipisku lebam yang bahkan aku sudah lupa apa penyebabnya.

"Dia keluar dari kawasan Red pumpkin tadi sore"

"Hah?—" Jongin melotot menatapku tak percaya "—Kau sudah bermain dengan para jalang Chanyeol?" dia bertanya dengan raut kaget yang jelas dibuat-buat membuat ku ingin marah karna aku ingat bahwa ibuku adalah salah satu dari mereka, tapi aku ingin semua ini cepat selesai sungguh.

"Bukan, itu rumahku"

"Kurasa dia adalah korban yang selamat hyung, kau berlebihan. Aku bawa dia, kami harus melanjutkan game online yang tertunda tadi siang"

"Kau pikir kantor polisi tempat bermain-main Kim Jongin?" Kakak nya terlihat marah, namun kemudian memijit pelipisnya dengan mata terpejam kelelahan.

"Jika aku memintamu untuk datang kembali maka kau harus menjelaskan semua yang kau tahu Chanyeol, sekarang pulanglah. Dan kau Jongin, jangan berani-berani membuat kerusuhan lagi di tempat kau bermain game online itu"

"What the—"

"Jangan mengumpat!"

"Oke oke, aku akan pergi dan izinkan aku membawa temanku ya"

"Terserah kau saja, masih banyak yang harus kuurus"

Kami keluar beriringan, Jongin bukanlah anak yang penurut terlihat dari penampilan kusutnya yang tak jauh berbeda dariku, aku memperhatikan dia berjalan memasukkan tangan dalam saku celana mengangguk akrab dengan rekan kakak nya yang berjaga diluar tadi, aku mengikuti dari belakang. Kami berjalan dibawah temaram lampu taman didepan kantor polisi, dia membalikkan tubuhnya meghadapku memandang dar atas hingga bawah.

"Lama tak berbicara denganmu Chanyeol?" Aku hanya mengangguk menanggapinya

Dia kembali berjalan, tangan nya menggapai apapun yang ada disampingnya melucuti dedaunan yang tumbuh disekitar taman bersiul kecil, menendang bebatuan kecil yang menghalangi jalannya. Dia adalah anak yang baik, secara teknis kami mulai bersahabat kembali dari sini.

"Kenapa kau menolongku? Bukankah dia kakakmu?"

"Karna luka jahitmu keren bung!"

"Alasan macam apa itu," aku berdecih ketika dia ikut mencibir karna kata-kataku

"Well, beberapa tahun lalu aku hanya diam melihat seorang laki-laki meremas rambutnya dikantor polisi karna adiknya memecahkan kaca mobil seseorang"

"Apa kau sedang menceritakan kenakalanmu?"

"Peka sekali, Yo Jong!" dia meneriaki seseorang yang berjalan sama santainya dari ujung sana dengan panggilan Jong seperti namanya, Jongdae.

"Chanyeol!" si mulut besar setengah berlari menghampiri kami, dia memelukku dengan erat seakan kami teman lama yang tak pernah bertemu.

"Dia keluar dari rumahnya membawa Baekhyun dan kakakku malah menangkapnya"

"Bisa jelaskan kenapa Red pumpkin menjadi rata bung?"

"Aku lelah, lain kali saja. Ngomong-ngomong terimakasih Jongin"

"Kai," dia meralat dengan cepat

"Hng, terimakasih Kai"

"Jangan canggung begitu, bisakah kita melupakan masalah lama?" dia mengulurkan tangan nya padaku, kemudian memelukku penuh rasa persabatan setelah uluran tangan nya kuterima, inilah yang dinamakan sahabat. Dia datang disaat kau sulit bukan nya senang.

Malam itu aku pulang larut sekitar jam sepuluh karna bermain game online bersama duo Jong, mereka mengantarku pulang berjalan kaki. Jantungku berdenyut ketika membuka pintu rumah Baekyun melihat sahabat lemahku itu tertidur di sofa tanpa selimut. Kurasa dia keluar kamar saat ibunya sudah tertidur, aku berjalan kearahnya mengangkat tubuh ringan nya menuju kamar karna jelas kakinya masih membiru karna kecelakaan tadi.

"Chanyeol?"

"Ya Baek?" aku menghentikan langkah didepan pintu ketika dia memanggilku.

"Kenapa lama sekali? Aku menunggumu dari tadi"

"Dimana ibumu?"

"Ibu sudah tidur saat aku keluar mencarimu"

"Maaf," ucapku kembali membuka pintu kamar membaringkan tubuh kami berdua diatas ranjang milik Baekhyun, aku memeluknya karna aku benar-benar membutuhkan dia saat ini. Baekhyun hanya balas memelukku melanjutkan tidurnya tapi malam itu aku benar-benar tak tidur karna aku merasa hancur, aku sepenuhnya bergantung pada Baekhyun dan ibunya saat ini. Hidupku, Baekhyun adalah alasanku untuk tetap hidup saat ini karna rumah, dan keluargaku disini sekarang.

e)(o

Mengingat wanita gila yang adalah adikku itu kejadian itu terjadi beberapa bulan sebelum kami lulus sekolah menengah atas, sepertinya tahun terakghir sekolahku selalu berjalan buruk. Setelah beberapa tahun tak bertemu dengan Sohyun aku kembali bertemu dengan nya disebuah bar, Jongin adalah tipe yang suka mabuk-mabukkan walau aku tak suka dengan suasana bar karna semua kembali mengingatkanku dengan masa lalu nyatanya aku harus kesini lagi bersama temanku menemani Jongin yang tengah dirundung duka setelah sang pujaan hati—Kyungsoo menolak cintanya tadi siang untuk kesekian kali.

Baekhyun sudah kuantar pulang ke flat juga sudah diberi izin menemani Jongin malam ini bersama Jongdae, seorang wanita mengarahkan gelas entah yang keberapa pada Jongin namun aku jelas menangkap matanya terarah padaku, aku tidaklah mabuk seperti Jongin tapi aku tidak terlalu peduli dan tak memperhatikan wajahnya berfokus pada temanku yang sedang mabuk.

"Aku mau vodka Joohyun," wanita itu hanya mengangguk mengambilkan minuman lagi, tapi aku menarik Jongin untuk keluar dari bar tak ingin dia lebih mabuk lagi dari ini sementara Jongdae sudah bersama wanita-wanita diujung sana.

Diluar bar aku melihat Baekhyun berdiri dengan hoodie putih milikku dan celana jens donker dengan tatapan marahnya menatapku, diamenghampiriku mengabaikan Jongin yang sempoyongan terlepas dari genggamanku memeluk erat tubuhku dengan isakan kecil yang keluar.

"Jika yang kau katakana menemani Jongin adalah ke bar maka aku tak akan mengizinkan Chanyeol," Kata-katanya sedingin angin malam membuatku mau tak mau balas memeluknya, tanpa menyadari Jongin sudah kembali kedalam bar.

"Maaf," Aku merasakan tubuh dingin Baekhyun bergetar

"Chanyeol, Jongin"

"Huh?" Aku tak lagi menemukan Jongin disebelah kami, menarik lembut tangan Baekhyun memasuki bar untuk menemukan Jongin, aku jelas melihat tatapan lapar lelaki-lelaki brengsek menatap Baekhyun yang nyatanya sudah menggunakan pakaian tertutup. Ingin aku meninju rahang mereka semua bergeser. Aku meremas tangan Baekhyun masih mencari keberadaan Jongin yang nyatanya kembali pada meja tadi menyesap minuman yang diberikan Joohyun atau mungkin—Sohyun. Mataku melebar sempurna melihat senyum miring wanita itu kearah kami.

"Lama tak bertemu Chanyeol," dia menyeringai, tapi kenapa sekarang namanya Joohyun? Aku buru-buru menarik Baekhyun keluar dari bar tak peduli lagi dengan Jongin alcohol atau Jongdae yang mabuk wanita. Aku jelas merasakan tangan Baekhyun dingin dan bergetar dalam genggamanku sementara wanita tadi masih menatap kami dari belakang.

"Baekhyun dengar," Aku menyandarkan Baekhyun pada dinding diujung bar, wajahnya tampak shock menatapku dengan mata berlinang, dia menyambarku dalam pelukan membenamkan tangisnya dalam dekapanku.

"Aku benar-benar tak tahu bahwa dia adalah Sohyun Baek, aku hanya memperhatikan Jongin sejak memasuki bar," dia menggeleng dalam memelukku semakin erat membuatku merasa bersalah. Mungkin Baekhyun berpikir bahwa aku sengaja bertemu Sohyun tanpa dia tahu tapi aku sendiri sama shock nya dengan Baekhyun ketika kembali melihat adikku dengan sungguh berbeda. Dia masih tujuh belas tahun tapi sudah terlihat dewasa karna bekerja di bar ini.

"Jongin masih didalam Chan," Baekhyun berbisik padaku, aku merogoh saku ku mengeluarkan ponsel menelpon Jongdae yang masih berada didalam sana.

"Jong?"

"Yo man, ada apa?" terdengar suara Jongin diujung sana semangat sekali membalas telponku dia sepertinya tengah bermain dengan para wanita, dasar kepala kotak itu.

"Aku harus pulang duluan karna sesuatu bisakah kau yang menjaga Jongin didalam?"

"Ck! Si hitam merepotkan, ya sudah sana"

"Terimakasih bung!"

"Dia juga temanku" sambungan terputus diujung sana dan aku kembali memeluk Baekhyun, dia masih memelukku erat karna kaget, aku berusaha menenangkan nya.

"Kita pulang?"

"Hm," dia hanya mengangguk lesu

"Mau ku gendong princess?"

"Aku laki-laki Chanyeol"

"Baiklah prince, mau ku gendong?"

"Tidak, aku bisa jalan sendiri"

"Ayolaah~"

Dia kelihatan tak lagi menolak naik keatas punggungku yang telah berjongkok didepan nya, Baekhyun menguatkan lingkaran tangan nya dileherku walau tak sampai membuatku sesak. Dia menghirup aromaku dalam-dalam kemudian menyandarkan kepalanya dibahuku.

"Kau bau alcohol Chanyeol"

"Itu karna Jongin tadi mabuk-mabukan"

"Kau tidak minum bukan?"

"Tidak kok"

"Janga bohong please," dia berkata seolah aku berbohong, tapi aku hanya diam saja terus melangkah jauh menuju flat kami. Seletah percakapan itu tak ada lagi yang membuka suara, aku menutup pintu dengan kaki kemudian menurunkan Baekhyun diatas ranjang.

Aku hendak pergi tapi tiba-tiba tangan nya melingkari perutku, menyandarkan kepanya dipunggungku terus diam beberapa saat. Baekhyun yang seperti ini yang aku kurang suka, dia yang biasanya cerewet sekarang jadi diam.

"Ada apa Baek?"

"Kau yakin tidak minum tadi walau hanya segelas?"

Aku dongkol mendengar pertanyaan konyol Baekhyun, dengan pelan melepaskan lingkaran tangannya yang berada di perutku, aku membalik tubuh berlutut di depan nya meraih pinggang Baekhyun hingga wajah kami sejajar. Tanpa aba-aba aku mencium bibir Baekhyun, menyesap bibir atas dan bawahnya bergantian sementara dia hanya diam dan memejamkan mata, beberapa saat aku mulai mengakses lidahku untuk membelit miliknya didalam sana saling berbagi saliva.

Tubuhku merangkak naik membaringkan Baekhyun yang telah melingkarkan tangan nya dileherku, kami terus bercumbu sampai kurasa Baekhyun kehabisan nafas dan mendorong pelan dadaku. Dia teregah menatapku dengan pandangan yang tak dapat aku artikan kemudian merangkul leherku untuk mengecup sekali lagi bibirku, ini membingungkan memang karna dia bukanlah kekasihku tapi ciuman adalah hal yang biasa bagi kamu berdua apalagi seperti tadi saat Baekhyun tak percaya bahwa aku tak minum alcohol di bar tadi.

"Apa mulutku rasa alcohol?"

"Tidak, rasanya seperti permen mint"

"Tadi aku memakan itu dari pada meminum alkohol, itu pahit"

"Aku suka Chanyeol"

"Mau lagi?"

"Boleh kah?"

Pertanyaan konyol macam apa itu pikirku, jika aku tak boleh aku tak akan menawarkan padanya saat ini. Baekhyun hanya kembali memejamkan matanya member tanda bahwa aku bisa kembali mencumbu bibirnya, dia melenguh ketika lidahku kembali membelit keluar masuk didalam mulutnya dalam posisi tertindih seperti ini.

"Chanyeol?"

"Iya?"

"Bolehkah aku meminta sesuatu?"

"Apa? Asal kau tidak meminta pergi ke bulan saja"

"Miliki aku mala mini please," dia memohon, memelukku menyembunyika wajahnya. Mungkin karna malu atau apa aku juga tak tahu tapi sungguh aku senang dengan permintaan sahabatku ini.

"Kalau kau tidak mau tidak apa-apa Chan, aku hanya asal biacara tadi kita tidak memiliki hub—"

"Jika kau butuh, aku akan membantumu Baekhyun"

"Terimakasih Chanyeol," itulah pertama kalinya aku dan Baekhyun melakukan sesuatu yang dikatakan luar biasa karna desahan dan erangan. Aku akan ceritakan detail nya lain kali karna pikiranku justru terbang pada apa yang terjadi seminggu setelahnya.

e)(o

"Sehun?"

"Hng?"

"Bisakah kau miliki aku mala mini?"

"Tak biasanya kau yang meminta duluan"

"Tapi setelahnya berikan apapun yang aku minta, bagaimana?"

"Baiklah, apapun. Bukalah bajumu untukku Joohyun-ah"

Aku benar-benar gila setelah melihat mereka pergi tadi, Chanyeol semakin tampan tapi Baekhyun juga semakin cantik hatiku seakan diremas oleh sesuatu tak kasat mata ketika mereka bergandengan tangan pergi meninggalkanku untuk kedua kalinya, hanya saja kali ini berbeda. Karna aku tak diam seperti dulu lagi, aku akan membunuh apa yang telah merebut milikku!

e)(o

Haluuuu ketemu lagi di chapter selanjutnya ya, kenapa Chanyeol bilang adik nya gila coba?

Jangan lupa tinggalin komentar nya teman-teman