1st of January

.

[1 February 2018]

Chapter 4

Sebenarnya Red pumpkin hanya satu dari sekian banyak usaha kotor yang dilakukan oleh ayahku, master dari Whirlwinds tak akan mungkin bisa menjadi kaya raya hanya dengan satu cabang usaha yang disebut labu merah itu. Lagi pula Whirlwinds itu klan mafia yang besar bukan sekedar tikus jalanan yang dikejar oleh polisi kami lebih dari itu, oke.

Kami memiliki berbagai macam usaha diluar sana,ngomonng-ngomong namaku Oh Sehun aku adalah putra bungsu dari Oh Mansoo yang merupakan master dalam klan kami, aku pindah ke Korea saat aku baru akan memasuki SMP, tau apa yang kutemukan? Seorang gadis kecil yang selalu mengganggu dua orang pacaran sepulang sekolah. Bukan, tentu saja aku tidak bersekolah di sekolah mereka karna aku disekolahkan oleh ayahku di sekolah yang ternama dengan anak-anak yang hanya satu level denganku.

Sore itu aku hanya tidak sengaja melihat gadis itu cemberut dijalanan, karna itu dengan iseng aku mengikutinya memasuki sebuah sekolah menengah pertama dan disana dia hanya mengganggu dua orang teman nya. Aku tak menyangka ternyata kami memiliki sebuah ikatan layaknya takdir karna dia merupakan salah satu anak dari pesuruh Whirlwinds yang baru aku tahu dua tahun setelahnya, ini sungguh menarik pikirku. Namanya Kim Sohyun,

"Ini adalah putri angkatku, namanya Kim Sohyun," Bibi Taeyeon adalah ibu angkat Sohyun yang merupakan ketua Red pumpkin. Kakakku mengajakku kesini bukan karna ingin menyuruhku meniduri jalang-jalang yang ada disini tapi karna ayah kami sedang sakit.

"Aku Oh Sehun, senang berkenalan denganmu Taeyeon-ssi," Jelas aku melihat Taeyeon meringis kala aku memanggil namanya seakan kami seumuran tapi siapa peduli toh dia merupakan bawahan ayahku itu artinya dia juga bawahanku.

Bebrapa bulan setelah pertemuan itu aku dikagetkan dengan kakakku penuh emosi memasuki rumah kami, seorang pejabat bernama Kim Jung mati dalam kawasan Red pumpkin setelah bermalam dengan jalang disana dan parahnya jalang tersebut tertangkap basah oleh pihak kepolisian. Aku juga emosi karna aku tak pernah melihat kakak ku semarah ini, aku mencintai dia jadi tak akan aku biarkan seorangpun membuatnya bersedih.

Kalian tahu? Aku tak pernah menyesal berpikir pendek untuk menghancurkan tempat itu dalam waktu kurang dari dua jam setelah Taeyeon dibawa kerumah kami dan dibunuh. Karna setelah Red pumpkin hancur aku menemukan gadis pengganggu tersebut terbaring tak berdaya didepan salah satu pintu rumah disana, aku menyeringai.

Membawanya pulang bukan tanpa alasan tapi aku ingin membuatnya tunduk padaku, aku tak sudi memanggilnya dengan nama yang sama seperti orang lain memanggil namanya, Oh Joohyun. Aku mengubah marganya karna dia adalah istriku, aku memang tidak menikahinya karna aku tahu kami bersekolah lagipula dia tidak akan bersekolah lagi, dia hanya akan membuka kedua kakinya untukku membakar cemburu pada kakak yang tak pernah menerima cintaku. Hanya saja dia itu terlalu gila dia kelihatan seperti psikopat, dan beruntung aku tak pernah mencintainya sama sekali karna hatiku masih mengukir indah nama Oh Luhan didalam nya. Akan aku tunggu Luhan menyerah kemudian menyatakan perasaan nya padaku suatu hari nanti, kita lihat saja siapa yang akan menang dalam permainan hati ini.

"Kenapa kau membawaku kesini?"

"Menurutmu kenapa?" Aku balas bertanya ketika gadis itu membuka matanya dengan benar, tubuhnya sudah diobati oleh dokter keluarga kami tadi dan Luhan benar-benar terlihat cemburu ketika melihat aku menggendong gadis ini memasuki rumah, rasanya ada kepuasan tersendiri ketika aku melihat ekspresi membuang muka Luhan tadi.

"Apa kau akan membunuhku?"

"Ck! Jadi untuk apa aku mengobati semua lukamu itu? Kau pikir aku psikopat"

"Tentu saja! Kau bahkan tega membunuh banyak orang"

"Itu karna mereka pantas mendapatkan nya, sekarang tidurlah dan bersiap untuk besok pagi"

Aku pergi meninggalkan gadis itu, dia anak yang penurut. Kupikir dia sudah tak memiliki lagi rasa malu atau semacamnya, dia kelihatan seperti orang mati rasa setiap harinya. Tersenyum hanya bila diperlukan saja, padahal aku akui senyum nya lumayan cantik walau tak secantik senyuman Luhan pastinya. Aku ingat pertama kali aku memaksanya melakukan seks denganku saat aku duduk dikelas dua sekolah menengah atas, aku benci mengakuinya tapi alasan dia kupelihara dengan baik sampai sekarang adalah tubuhnya. Dia pemuas nafsuku, aku tak mau tidur dengan jalang yang setiap hari dimasuki oleh orang lain, itu tak akan sehat.

"Aku akan bertunangan dengan Suho dari Unicorn untuk memperluas klan kita," Luhan mengucapkan itu kelewat santai membuat piring diatas mejaku remuk menghantam lantai

"Apa kau bilang!? Untuk memperluas klan? Kau menolakku dengan alasan kita adalah sesame laki-laki lalu apa bedanya aku dengan Suho Brengsek! Apa kau sadar kalau dia sudah beristri?"

"Lalu apa yang harus kulakukan Oh Sehun! Klan kita tak akan bisa terus berjalan jika seperti ini, dan kau adalah adikku, Aku mencintaimu Sehun tapi kita tak bisa melakukan ini! INI SALAH!" Luhan berteriak kalap membuat semua maid yang menyaksikan kami terdiam seperti patung.

"Apanya yang salah!? Tak aka nada yang melarang kita karna Mansoo sudah mati"

"Jaga bicaramu brengsek. Dia ayahku!"

Luhan pergi, dia meninggalkan aku dipandangi para maid ditengah ruang makan. Aku marah, kecewa dan benci padanya tapi aku tak pernah bisa mengngkap kan itu semua karna rasa cintaku padanya juah lebih besar terpupuk sejak kami masih balita. Dia selalu menjagaku, memelukku dan menyayangiku karna itulah aku tak bisa menyakitinya.

"Kau akan menyesalinya Luhan"

Malam itu aku memasuki kamar anak jalang yang menjadi jalangku, dia duduk diatas ranjangnya dengan keadaan setengah telanjang tak kaget sama sekali ketika aku memasuki kamar kemudian berjalan kearahnya membuka paksa helaian handuk yang melilit tubuhnya. Dia menangis tapi aku tak peduli.

"Cukup buka kedua kakimu dan desahkan namaku, Jalang!"

Semua terjadi begitu saja, tangisan Joohyun bahkan tak terdengar olehku. Aku membiarkan darah mengalir dari lubang nya ketika aku menghujamnya setelah semua selesai aku keluar dari sana tanpa berkata apapun padanya, aku memang brengsek pikirku ketika melihat Luhan tertidur meringkuk didepan pintu kamar Joohyun saat aku keluar, wajahnya penuh tangisan dan lelah. Aku mengangkat tubuh ringan Luhan memasuki kamar kami memeluknya hingga pagi datang.

Meskipun begitu Joohyun tak pernah kelihatan membenciku, dia hanya akan melaksakan tugasnya membuka paha ketika aku memintanya dan setelah selesai aku akan pergi lagi sampai itu terulang puluhan kali. Wanita itu hanya tersenyum, aku pikir dengan membiarkan nya hidup mewah dirumahku sudah cukup untuk membayar harga lubangnya itu. Sampai suatu hari dia meminta ku menidurinya sepulang kerja, aku tentu saja tak keberatan juga dengan apa yang dia minta setelahnya. Aku sama sekali tidak keberatan.

e)(o

Sudah lama sekali sejak terakhir Chanyeol menggendongku dipunggung lebarnya, apa aku sudah pernah bilang bahwa didalam gendongan Chanyeol adalah tempat paling nyaman yang aku miliki? Iya, itu tidak bohong sama sekali. Menyandarkan pipiku pada pundaknya merasakan kenyamanan disana, Chanyeol sesekali berhenti memperbaiki gendongan ku. Dia menutup pintu dengan satu tangan karna aku masih bergantung pada lehernya.

Aku bertanya apa dia tadi meminum alkohol atau tidak dan Chanyeol sepertinya kesal karna aku terus bertanya, aku hanya penasaran. Aku tak suka jika Chanyeol minum alkohol, dia mencium bibirku membuatku mengecap rasa mulutnya karna lidah Chanyeol memporak-porandakan mulut dan juga hatiku tentunya. Dia memang selalu bisa membuatku kacau, aku hanya takut Chanyeol dimiliki orang lain jadi aku tak pernah menyesal memintanya meniduriku malam itu.

"Eugh.. Chanyeollieh," Aku mendesahkan namanya saat Chanyeol mempercepat tempo gerakan dibawah sana, aku tak mengerti karna aku seakan kehilangan akal sehat ku ketika Chanyeol menerobosku tadi. Rasanya memang sakit tapi Chanyeol itu pintar sekali, dia menciumku membuatku terlena dengan ciuman nya kemudian bergerak sementara aku menikmati cumbuan nya.

Tadinya dia hanya menciumku, dia kelihatan ragu saat membuka semua pakaian yang aku kenakan karna bagaimanapun ini adalah pertama kalinya bagi kami tapi kemudian dia tetap melakukan nya. Melakukan dengan lembut berusaha rileks dengan kegiatan kami, Chanyeol memang tak pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku sampai sekarang tapi ketika melihat dia memperlakukan aku dengan penuh cinta tak akan salah jika aku berpikir bahwa dia menyayangiku bahkan sampai mau berbagi ranjang denganku.

"Chanyeol Chanyeol…" aku terus memanggil namanya dalam pejaman mata karna ini terasa sangat menyenangkan bagiku, dia melepas semuanya kemudian terjatuh menindih tubuhku dengan nafas tak beraturan. Jemariku membelai rambut Chanyeol, dia sama sekali tak berat sekarang.

"Terimakasih Chanyeol, aku mencintaimu," Akhirnya aku mengatakan nya juga pada Chanyeol walau aku tahu dia tak akan membalas nya, dia hanya bangkit menatapku kemudian kambali menyatukan bibir kami kali ini hanya kecupan biasa diiringi senyuman manis nya diakhir.

"Tidurlah," aku hanya menurut ketika Chanyeol memintaku untuk tidur, kami tidur dalam keadaan telanjang hingga fajar. Chanyeol, kenapa kau selalu memberikan harapan padaku? Kapan kau akan mengatakan aku mencintaimu padaku Chanyeol? Berapa lama lagi aku harus menunggu?

.

Ketika aku bangun tidur pagi harinya aku tak menemukan Chanyeol di tempat tidur kami, aku sudah mengenakan baju dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Chanyeol. Dia memasangkan kemeja biru yang dia pakai semalam padaku, astaga aku merona mengingat semalam adalah malam terindah dalam hidupku. Sungguh!

Drttt… Drttt

Aku mendengar ponselku bordering diatas nakas seberang tempat tidurku, dengan cepat aku berdiri kesana tapi astaga demi rumah nanas spongebob pantat ku terasa sakit sekali. Aku kembali duduk menekuk lutut tanpa peduli dengan ponselku, air mata mulai membasahi pipiku karna rasa sakit dibawah sana sebenarnya aku juga sedih karna Chanyeol entah kemana sekarang. Aku merindukan dia, aku kan sudah pernah bilang bahwa aku kadang merindukan Chanyeol walau dia tepat berada didepanku.

Puk~

Sebuah handuk jatuh diatas kepalaku, sedikit basah. Aku mendongak mendapati Chanyeol bertelanjang dada dengan sebuah handuk lagi melilit dipinggangnya, rambutnya basah. Ya Tuhan, betapa tampan nya Chanyeol, aku ingin menangis lagi saking tampan nya pria kecintaanku ini, aku tak sadar sama sekali ketika mataku kembali berkaca-kaca memandang Chanyeol.

"Hei kenapa menangis? Apa sakit sekali? Atau apa kau menyesal telah—"

Chanyeol tak melanjutkan ucapannya ketika aku menghambur dalam pelukan nya, memeluk perut Chanyeol menenggelamkan tangisku disana. Tangan Chanyeol mengelus kepalaku yang masih berbungkus handuk tadi. Chanyeol bisakah kau dengar detak jantuungku sekarang? Aku hampir gila karnamu, aku menginginkanmu Chanyeol. Sangat!

"Maafkan aku sayang," dia duduk ditepi ranjang kembali memelukku. Tubuhku menegang ketika Chanyeol memanggilku dengan kata sayang, apa aku bermimpi? Aku masih tidur? Tapi kenapa aku bisa merasakan tubuh Chanyeol basah? Aku ingin menjerit tapi suaraku sama sekali tak keluar.

"Baekhyun… Baekhyun… hei, kenapa diam saja. Astaga Baekhyun jangan membuatku tak—"

"Hiks…. Bisa kau ulangi lagi Chanyeol, kumohon."

"Apa?"

"S-sayang?"

"Kau menangis karna aku memanggilmu sayang?" Chanyeol melotot tak percaya mengusap wajahnya, dia mulai merangkak mengukungku diantara lengan nya sedangkan aku terpojok pada kepala ranjang. Mata indahnya menatapku tanpa berkedip membuat kepercayaan diriku menurun. Aku belum mandi, belum mencici muka, juga aku habis menangis, pasti aku jelek sekali sekarang tapi Chanyeol malah tak henti-hentinya menatapku membuatku mau tak mau membuang wajah karna aku malu setengah mati.

"Kenapa memangnya kalau aku memanggilmu sayang?"

"A-apa itu artinya kau menyayangiku?"

"Apa yang aku lakukan selama ini kelihatan seperti aku tak menyayangimu Baekhyun?"

"T-tapi—"

"Aku menyayangimu Baekhyunee, kau adalah sahabat terbaikku. Prioritasku, bagaimana mungkin aku tidak menyayangimu? Aku tentu saja sayang padamu Baek"

Bagaikan api yang disiram air, hatiku terasa sakit ketika Chanyeol mengatakan kami adalah sa ha bat tak bisakah dia menaggapku lebih? Selalu saja seperti ini. Tapi aku bisa apa? Aku benar-benar mencintainya sampai aku tak bisa kecewa padanya, semua sudah terbutakan oleh cinta karna itu aku selalu menelan mentah-mentah rasa sakit seperti ini.

Tanganku mengalungi lehernya memeluk tubuh Chanyeol kembali menangis, dia seperti biasa selalu menenangkan aku dengan elusan dan pelukan sayangnya. Memberikan kecupan ringan serta kata-kata penenang yang bagiku terasa seperti mantra dan aku selalu menurut padanya, aku menyayangi Chanyeol seperti apapun dia menyayangi dan menganggapku dia tetaplah Chanyeol ku.

"Chanyeol?"

"Apa semalam itu…"

"Hm, aku sendiri tak tahu. Jongin memanggilnya dengan nama Joohyun jadi aku tak terlalu memperhatian nya."

"Jangan kesana lagi, kumohon."

"Apapun untukmu," Chanyeol mengecup pelipisku kemudian kembali memeluk dengan tubuh setengah telanjangnya, lelaki pilihanku adalah yang terbaik. Kata orang cinta pertama tak pernah menjadi nyata, aku bahkan hampir mempercayai itu karna hingga saat ini Chanyeol tak membalas cintaku, dia memang cinta pertamaku ngomong-ngomong.

Aku melepas pelukan Chanyeol karna merasa ingin pipis, aku ingin berdiri tapi rasanya sakit sekali kupikir mana yang lebih baik? Menahan pipis atau menahan sakit? Jadi kuputuskan untuk menahan sakit saja dari pada pipis ku tidak jadi keluar, aku turun dari tempat tidur dan berjalan mengangkang karna menahan sakit namun baru empat langkah aku berjalan tubuhku sudah digendong oleh seseorang dan siapa dia kalau bukan Chanyeol.

"Harusnnya minta tolong kalau memang sakit."

"Hng," aku malu sekali ketika Chanyeol menatapku dengan mata nakal, seperti bukan Chanyeol. Serius, biasanya dia tidak pernah kelihatan begitu bahagia dengan pandangan nakal seperti itu bahkan pada wanita sekalipun sekarang lagi-lagi aku merona karna si tiang ini.

Chanyeol menurunkan ku dilantai dingin kamar mandi, aku pikir dia akan keluar setelahnya tapi ternyata aku salah. Dia masih berdiri disana menatapku seakan tak terjadi apa-apa padahal aku sungguh menahan malu sekarang.

"Kau tidak keluar?"

"Mengusirku?"

"B-bukan seperti itu Chanyeol."

"Lalu?"

"A-aku malu," Aku menundukkan kepalaku setelahnya

"Aku bahkan sudah mencium setiap senti dari tubuhmu Baekhyun, aku sudah pernah melihatmu telanjang. Untuk apa malu padaku?"

"Tetap saja, malu."

"Pipislah,"

Ayolah, kapan aku mengalah pada Chanyeol? kata-katanya adalah mantra yang akan selalu aku turuti, aku sama sekali tidak merasa Chanyeol itu menyebalkan tapi aku malu sekali ketika pipis dan dia menatapi kepunyaanku seperti tanpa berkedip. Wajahku terbakar oke, sekarang terasa menyebalkan. Ingin aku melototinya sampai ketika aku memalingkan wajahku kesamping bibir Chanyeol langsung mencium bibirku, tangan nya mendorong bahuku agar duduk pada closet kemudian kembali menciumku dengan penuh nafsu, aku hanya diam berusaha sebisa mungkin membalas ciuman tuhan aku malu sekali.

"Eugh," Aku melenguh ketika ciuman kami terlepas, Chanyeol memandangku bersama tatapan sayunya.

"Kau tahu Baek—" dia mengelus sepanjang tulang pipiku, menatap mataku dengan mata kelam yang indah miliknya "—seseorang yang mencoba narkoba pasti akan kecanduan? Lihatlah bibirmu, seperti narkoba. Aku hampir sakau."

"Khusus untukmu gratis," Aku mengucapkan malu-malu karna aku rasanya terbang mendengar Chanyeol mengatakan bibirku adalah narkoba. Dia tersenyum, memeluk tubuhku kembali menggendongku menuju kamar, aku lupa mengatakan bahwa ini adalah hari minggu.

e)(o

Pulang sekolah Chanyeol selalu menggendongku selama dua hari belakangan setelah dia melakukan 'itu' denganku, jujur saja sebenarnya sudah tidak sakit lagi tapi entah kenapa aku selalu digendong oleh Chanyeol. Bahkan jalanku sudah tidak mengangkang lagi, Chanyeol membuatku merona karna tindakan nya. Ingat? Chanyeol itu selalu jadi pusat perhatian dan dengan dia menggendongku seperti ini dia tambah menjadi pusat perhatian, aku kesal sekali jadinya. Ditambah lagi dia tambah perhatian padaku ; mengabilkan makanan untukku saat dikantin atau membantu ku menjawab soal dengan memberikan jawaban nya ketika kami melaksanakan ujian, Chanyeol itu siswa pintar sedangkan aku bahkan tak bisa memasuki sepuluh besar dikelas.

Sebenarnya sejak kejadian malam itu Chanyeol selalu menciumku saat akan tidur, dia akan menciumku, memasukkan lidahnya, bahkan mengelus-ngelus tubuhku dengan telapak tangan besarnya. Dia selalu mengatakan bahwa dia menyukai kegiatan kami, aku tidak bohong karna aku juga menyukai kegiatan ini jadi kami terus melakukan nya setiap malam. Tak lebih, hanya ciuman dan kecupan sebelum tidur atau kadang sedikit desahan dariku karna Chanyeol selalu menggodaku dengan tangan nakalnya.

Weekend ini rencananya aku dan Chanyeol akan pergi ke Lotte World untuk bermain, karna seminggu kemarin kami melaksakan Ujian Nasional yang benar-benar menyulitkan bagiku untungnya Chanyeol selalu baik memberikan jawaban nya padaku secara diam-diam.

"Baekhyun?"

"Iya Chanyeol?"

"Aku akan tunggu diluar," Chanyeol tampan sekali bahkan aku bisa mencium wangi tubuhnya yang maskulin dari sini, dia mengeanakan kaos berwarna putih dengan kemeja biru cerah dibagian luarnya. Aku kembali memilih pakaian yang akan aku kenakan kemudian terakhir member mataku sedikit eyeliner agar terlihat lebih tegas.

Aku berharap ini akan menjadi hari yang indah, kami akan memakan banyak makanan nantinya juga berjalan-jalan. Kenapa aku merasa ini akan menjadi seperti kencan sekarang? Aku memegang kedua pipiku yang terasa panas sebelum membuka pintu flat kami namun aku menyesal karna yang aku temukan adalah sesuatu yang membuat mood ku hancur seketika, disana berdiri Chanyeol yang memeluk Sohyun ralat namanya Joohyun sekarang. Gadis itu menangis terisak memeluk leher Chanyeol membuat hatiku seakan diremas sesuatu tak kasat mata sekarang, aku benci mengatakan nya tapi aku cemburu ketika Chanyeol malah mengusap kepala Joohyun yang menangis itu.

Aku berbalik kea rah berlawanan, kurasa aku akan pergi ke Lotte world sendirian ketimbang bersama Chanyeol yang pakaian nya beraroma sama dengan Joohyun, aku marah, kecewa tapi aku tak tahu harus marah pada siapa karna nyatanya aku tak seharusnya cemburu, aku bukan kekasih Chanyeol. Aku sama sekali tak punya hak untuk cemburu padanya terlebih Joohyun itu sudah seperti adiknya. Aku merasa malu pada diriku sendiri.

Pikiranku melayang-layang ketika matahari sudah mulai beranjak senja, berjalan sendirian pulang menyusuri kota mengingatkanku bagaimana dulu aku pulang ketika pertama kali dimarahi Chanyeol setelah mengantar buku sejarahnya. Aku ingin Chanyeol juga mengikutiku seperti dulu sekarang tapi dia bahkan tak muncul-muncul, aku memikirkan Chanyeol tentu saja. Apa dia tidak mencariku sama sekali? Kenapa dia tidak mengejarku? Apa dia tidak tahu kalau aku sudah pergi? Percayalah walau aku pergi duluan tapi aku menunggunya, menunggu dia mencariku kemudian menerjangku dalam pelukan nya seperti biasanya saat dia khawatir tapi sekarang tidak. Apa aku tidak penting baginya? Hampir saja aku menangis sebelum seseorang memanggil namaku.

"Byun Baekhyun-ssi?"

"I-iya, anda siapa?"

"Aku Oh Sehun dari Whirlwinds," jantungku hampir beku ketika dia menyebut dirinya dari Whirlwinds karna aku tahu pasti apa itu yang dia katakan, organisasi yang telah meratakan tempat tinggal Chanyeol beberapa tahun lalu. Seketika ketakutan memenuhi pikiranku, aku ingin lari atau mungkin bumi bisa menelanku saat ini, yang dihadapanku bukanlah orang biasa tapi Oh Sehun.

"Ikutlah denganku, kau mau bertemu Chanyeol bukan?"

Ketakutanku semakin bertambah ketika dia menyebut nama Chanyeol, apa Chanyeolku dalam bahaya sekarang? Aku tak bisa berpikir jernih bagaimana khawatirnya aku pada Chanyeol sekarang, sungguh aku ingin segera bertemu dengan dia setelah seharian menghindar. Oh Jesus, harusnya aku tidak meninggalkan Chanyeol tadi, harusnya aku menghampiri mereka dan mengajak Chanyeol pergi bersamaku. Aku mulai menangis dalam diam sedikit terisak mengikuti langkah Sehun memasuki mobilnya.

Selama perjalanan kami hanya terdiam, Sehun tak mengeluarkan sepatah katapun sampai aku memijakkan kakiku dirumahnya.

"Masuklah."

Sesuai perintahnya aku hanya menurut masuk kedalam rumah mewah bagaikan istana tersebut. Aku tak akan heran semegah apa rumah ini karna nyatanya ini adalah sarang mafia besar yang dilingkupi oleh seibu penjaga, jika saja saat ini aku akan dibunuh tak akan ada cara untuk keluar dari kandang Whirlwinds selain patuh mengikuti kemauannya.

"Belok kanan," Sehun terus mengiutiku dari belakang memberikan arah mana yang harus aku tempuh sekarang, kakiku melangkah menyusuri lorong panjang kemudian berhenti disebuah kamar.

"Kau boleh masuk dan nikmati, aku hanya akan menonton"

"A-apa maksudmu Sehun-ssi?"

"Chanyeolmu itu, dia didalam," Sehun membukakan pintu yang tadinya tertutup.

Ketika aku membalikkan wajahku yang aku lihat adalah Chanyeolku, dia terikat meronta-ronta,, mulutnya disumpal dengan lakban seperti korban penculikan, dia berkeringat dan aku pikir dia sudah lama sekali disini dua orang bodyguard dibelakang kursinya, manik nya bertubrukan dengan manikku dia melotot dengan wajah memohon padaku membuatku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

Tapi setelah kepalaku dibenturkan oleh seseorang kepintu membatku sadar kenapa Chanyeol tampak memohon padaku, harusnya aku tak disini, harusnya aku tak mengikuti Oh Sehun karna aku malah kesakitan seperti sekarang.

"Jika kau berani melawan maka Chanyeol akan dipukuli oleh bodyguard disana, kau paham Byun?"

Alunan suara Joohyun terdengar seperti suara setan ditelingaku, dia menjambaki rambutku, melukai semua bagian tubuhku. Aku tak melawan, hanya memejamkan mata agar Chanyeolku baik-baik saja, aku mendengar Chanyeol menjerit tertahan dibalik lakban mulutnya. Dia mengatakan kata-kata tak jelas seperti meneriaki nama Joohyun dengan lantang tapi Joohyun psikopat itu seolah tuli terus memukuliku dengan sumpah serapahnya menuangkan segala kebencian nya padaku.

"Aku yang seharusnya selalu dipeluk oleh Chanyeol! kenapa? Kenapa kau datang dalam hidup kami jalang!"

"Kau seharusnya mati Baekhyun, mati saja kau!"

"Aku membencimu Baekhyun, aku benci bagaimana kau selalu lebih dari pada aku dimata Chanyeol. kau tahu? Kau tahu kenapa Kim Jung itu mati!? Karna dia ayahku!"

"Alasan kenapa Chanyeol tak pernah menginginkanku adalah dia, dia sudah membunuh ibuku dan mencampakkan aku di bar itu! Chanyeol tak memilihku karna aku anak buangan bukan anak manja sepertimu! Karna itu aku membenci Kim Jung, keparat itu mati setelah aku menusuknya puluhan kali, seharusnya kau juga sama karna tak ada yang bisa menghalangi jalanku," Aku merasakan sesuatu yang dingin dan tajam merobek tulang belikatku setelah jeritan histeris Joohyun.

Sakitnya sudah tak terasa, saking sakitnya aku sampai mati rasa ketika tubuhku dipukul, diremas, bahkan ditendang oleh wanita gila tersebut. Aku tak merasakan apapun lagi, sungguh ini sakit.

"SUDAH CUKUP OH SEHUN," aku tak tahu itu suara siapa, yang jelas ketika suara tersebut berteriak pukulan dan siksaan yang aku rasakan terhenti. Aku membuka mata aku menemukan seseorang berlutut didepan Sehun dengan wajah penuh tangis, dia menangis terisak isak didepan sana sementara Joohyun dipegangi oleh dua orang asing lain nya yang kupikir pasti datang bersama orang yang menangis didepan Sehun tersebut.

"Tak bisakah kau menghentikan semua ini? Tak cukupkah kau menyakiti aku kenapa menyakiti mereka juga? Kenapa kau hanya membiarkan jalang itu menyiksanya? KENAPA!?"

"Luhan maafkan aku, sungguh maafkan aku Luhan."

Aku dengan kesadaran yang tersisa melihat Oh Sehun yang keras menjadi lunak didepan Luhan, pria kecil dalam dekapan Sehun membuka cincin ditangannya kemudian membuang cincin tersebut dengan amarah berlipat-lipat.

"Aku tidak akan menikah dengan Suho sungguh, kumohon hentikan semua ini. Berhenti menuruti apa kata jalang itu, aku menginginkanmu. Tak sadarkah kau betapa hancurnya hatiku ketika mendengar kalian mendesah bersama didalam sini? Aku sakit Sehun aku—"

Aku tak lagi mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Luhan ketika Chanyeol merangkak kearahku, dia memeluk tubuh penuh lukaku kemudian mengecupi seluruh wajahku, Chanyeolku menangis. Dia menangis sambil memelukku tapi aku sungguh bahagia karna nyatanya dia baik-baik saja, dia menangisi rasa sakitku dan kini sakit itu bahkan jauh lebih sakit dari pada saat Joohhyun memukuliku tadi.

"Baekhyun… Baek maafkan aku, kumohon… kumohon bertahanlah sebentar lagi Baekhyun"

"C-chan, aku merindukanmu," aku tidak bohong ketika aku mengatakan bahwa aku merindukan nya, karna aku sungguh benar merindukan Chanyeol. Kaos putih dan kemeja biru cerahnya kotor karna tanah, aku tak yakin tapi mungkin dia dipukuli tadi karna jejak memar dipelipisnya juga bibirnya berdarah sekarang bertambah kotor karna darahku mengenai nya.

"Maafkan aku Baekhyun, kumohon bertahan untukku karna aku mencintaimu."

Aku menangis, terisak memeluknya dengan ringisan karna tubuh remukku tapi setelahnya semua terasa gelap. Aku bahkan lupa bagaimana Chanyeol membawaku ke rumah sakit setelahnya, aku pingsan setelah mendengar pernyataan cinta dari Chanyeol.

Chanyeol mencintaiku.

e)(o

Huyuuuu kembali lagi sama ff 1st of January kuuu

Maaf kalau masih banyak typo dalam penulisanku, kabar baiknya di chapter depan ff ini akan tamat hehe. Terimakah buat teman-teman yang udah menyempatkan diri buat membaca^^