1st of January

.

[9 April 2018]

ENDING

Jika kalian bertanya siapa orang yang paling aku cintai didunia ini maka jawaban nya adalah Baekhyun, tak aka nada opsi lain dalam pilihanku karna Baekhyun merupakan pilihan mutlak. Aku mencintainya, dan aku menyesali mengapa aku terlambat untuk menyadari bahwa perasaanku lebih dai sekedar kasih sayang antar sahabat padanya. Dia itu sangat menggemaskan, ketika kaki kecilnya berlari sepanjang koridor sekolah kami dulu, mulutnya juga tak hentinya berceloteh sampai berbusa menceritakan kenangan kami dulu, bagaimana kami menghabiskan waktu menunggu ibunya, memanjat tertidur bahkan ketika dia menangis karna tanganku patah.

"Kau bahkan selalu mengajakku untuk kembali menaihmttt"

Baekhyun tak bisa melanjutkan kalimatnya karna aku telah duluan mencium bibirnya, aku sungguh tak tahan jika mulut merahnya berceloteh penuh cinta seperti itu apalagi eyesmile yang menggemaskan itu membuatku hilang kesadaran, Baekhyun memeluk leherku melenguh dalam setiap belitan yang menjajahi mulutnya kemudian tubuhnya terpojok kedinding saat aku menghimpitnya. Baekhyunku memang sangat pasrah.

Empatpuluh delapan jam yang lalu kami mendarat di Korea, Baekhyun masih tertidur dilenganku ketika kami sampai. Aku sungguh tak tega membangunkan dia, aku meniup-niup poni nya yang lepek karna keringat –Baekhyun tak bisa tertiudur dengan pakaian hangat sebenarnya— mengusik tidur malaikat kecil disampingku, dia mengerang layaknya beruang kecil yang terbangun dari acara hibernasinya.

"Apa kita sudah sampai?"

"Sejak lima menit yang lalu."

"Kenapa tidak membangunkanku ish," dia cemberut karna aku tidak membangunkan nya padahal secara teknis aku telah membangunkan dia walau bukan dengan memanggil namanya setidaknya mengusik tidurnya merupakan salah satu cara membangunkan yang ampuh. Biasanya juga aku membangunkan nya dengan ciuman manis sayangnya aku sedang tak ingin menjadi pusat perhatian saat ini.

Ketika kami baru menapakkan kaki Baekhyun setengah berlari menghampiri ibunya yang ternyata sudah menunggu kedatangan kami, setelah memeluk Baekhyun ibunya juga memelukku dengan sayang. Aku juga rindu pelukan ibu mertuaku tapi tak selama memeluk Baekhyun anak itu sudah menengahi dengan wajah cemberutnya.

"Kenapa lama sekali berpelukan nya?"

"Kau cemburu pada ibumu?" Ibunya bertanya dengan nada kaget memandang Baekhyun yang masih mengerucut manis.

"Siapa bilang aku cemburu sih?" dia masih saja menyangkal

"Kau bilang kami berpelukan terlalu lama."

"Bukankah itu benar?" Kali ini matanya mengkilat tajam kearahku meminta keberpihakanku padanya dalam perdebatan ini, sungguh aku dibuat bingung hanya tersenyum canggung ketika mata ibunya juga menatap dengan tatapan yang sama padaku.

"Bisakah kita pulang? Aku kelaparan," benar. Itu adalah kebohongan yang sengaja aku ciptakan karna aku tak ingin suasana menjadi lebih buruk.

"Memangnya kau saja aku juga, dasar Chanyeolie bodoh"

Baekhyun terus menggerutu padaku, lihat? Sekarang siapa yang menjadi bahan gerutuan nya atas semua rasa cemburu yang timbul karna aku dan ibunya berpelukan tak sampai tiga menit lamanya. Saat kami sampai dirumah Baekhyun ingin makan banyak sekali makananan Korea katanya dia rindu, setelahnya dia malah tertidur pulas kemudian memintaku untuk ikut tidur bersamanya.

"Apa dia jadi anak yang baik disana Yeol?"

"Sangat baik dan penurut bi."

"Terimakasih sudah menjaga anak bibi dengan baik ya."

"Harusnya aku yang berterimakasih karna aku telah diizinkan bersama Baekhyun setelah semuanya bi," aku menundukkan kepala dalam ketika mengingat apa yang terjadi dimasa lalu

"Dia yang membutuhkanmu, karna itu aku menjemputmu secara paksa waktu itu"

e)(o

"Aku mencintai Baekhyun," itu adalah kalimat pertama yang aku ucapkan ketika Joohyun menemuiku didepan flat milikku dan Baekhyun hari itu. Wanita gila itu seketika berkilat marah kemudian menangis seperti seorang yang kehilangan barang berharga, aku benci sekali dengan wanita yang menangis terlebih dia adalah adikku.

"Tapi kau itu milikku Park Chanyeol!" dia mulai gemetar seperti saat aku meninggalkan nya dulu, ada perasaan bersalah padanya karna aku hanya meninggalkan dia saat kejadian kebakaran beberapa tahun silam tapi aku sungguh-sungguh dengan ucapanku bahwa aku mencintai Baekhyun. Aku baru menyadarinya setelah aku menidurinya, sungguh aku tak tahu bagaimana memulai mengatakan padanya duluan rasanya berat dan gugup padahal aku tahu jelas bahwa Baekhyun mencintaiku.

"Jangan menangis," aku membawanya dalam pelukanku kemudian mengelus rambutnya agar dia berhenti menangis, tapi yang terjadi selanjutnya diluar dugaanku.

"Kau tahu Chanyeol? apapun yang terjadi kau harus menjadi milikku."

Dua orang bodyguard berpakaian hitam yang berasal dari Whirlwinds datang berjalan kearah kami, wanita gila itu menusukkan sebuah jarum suntik menembus kulit. Rasanya dingin, seketika aku kehilangan tenagaku untuk lari. Aku ingin lari darinya, lari mengejar Baekhyunku tapi aku tak berdaya ketika hantaman dari lelaki berjas hitam mengenai lenganku , aku terjatuh tapi berusaha bangkit memukuli kedua orang didepanku agar aku bisa lari tapi sia-sia justru aku yang babak belur setelahnya.

Aku menutup mataku setelahnya tak tahu apa yang terjadi, aku tahu ini hanyalah mimpi dimana Baekhyun berdiri sendirian ditepi jembatan memikirkan diriku. Itu adalah mimpi, Baekhyunku sendirian menungguku ketika kami akan pergi berkencan ke Lotte world pada weekend saat itu. Aku bermimpi Baekhyunku, semua senyuman indahnya berganti dengan raut kesedihan menungguku sendirian.

"Chanyeol? kau dimana? Aku merindukanmu, aku menunggumu, aku sendirian"

Baekhyunku yang malang, aku ingin berteriak keras agar dia mendengarnya setidaknya aku akan mengatakan padanya cukup aku saja yang merindukan dia disini. Aku baik-baik saja asalkan dia juga baik-baik saja disana, aku melihat air mata jatuh dari kedua pipi Baekhyunku dan ketika aku membuka mata pandangan pertama didepanku adalah Joohyun yang memandangku dengan seringai setan miliknya.

"Tidurmu nyenyak? Kau bahkan menangis saat tertidur Oppa, apa yang sebenarnya kau mimpikan?" jemari nya menyusuri pipiku menghapus air mata yang mengalir disana, dia tersenyum lembut mendekatkan wajahnya padaku. Aku ingin pergi kemudian menghindar sampai kusadari bahwa aku terikat disini, disebuah kursi dengan tubuh penuh tali dan dua orang tadi masih setia dibelakangku berjaga-jaga.

"Cih!" dia berdecih ketika aku memalingkan wajahku saat wajahnya mendekat, dia mengambil sebuah lakban untuk menutupi mulutku setelah dia mengecup bibirku dengan bibirnya yang menjijikan itu kemudian keluar dari ruangan "Kau ingin bertemu dengan Baekhyunmu bukan? Tenang saja, sebentar lagi dia akan kesini"

Itu bukanlah kabar baik, aku justru ketakutan mendengar Baekhyun akan kesini dan benar saja ketika beberapa jam setelahnya Baekhyun datang aku menyesal dan sangat menyesal tak bisa berbuat apa-apa. Oh Sehun berdiri menyilangkan kedua tangan nya didada ketika Baekhyun memasuki ruangan, aku melotot kaget karna dia benar-benar disana seperti ucapan Joohyun dan yang membuatku hampir mati adalah melihat wanita gila tadi membenturkan kepalanya ke pintu.

Joohyun memperingati Baekhyun bahwa dia akan menyuruh bodyguard nya memukulku bila Baekhyun melawan dan dengan bodohnya sahabatku menuruti apa yang dikatakan oleh Joohyun menerima semua pukulan dan siksaan setan wanita tersebut. Aku sekarat melihat semuanya, mataku sudah basah oleh air mata dan suaraku nyaris hilang karna berteriak meminta dan memohon agar semua itu dihentikan tapi Joohyun hanya berpura-pura tuli, aku sudah tersungkur jatuh bersujud dihadapan dua laki-laki bertubuh kekar dihadapanku tapi mereka seperti patung sama sekali tak berniat melepaskan ikatan tali yang membelit tubuhku/

Aku rasanya hampir mati mendengar semua isakan dan jeritan kesakitan Baekhyunku, dia hanya menerima bahkan tak hanya fisik tapi juga mental karna Joohyun terus mengucapkan kata-kata kotor pada nya megatakan ini dan itu tentangnya, aku merangkak dengan susah payah tapi dua orang laki-laki tadi kembali menarikku menjauh, aku tidak sakit tapi hatiku benar-benar hancur dan sakit hingga kedalam melihat orang yang paling aku cintai terluka sementara aku baik-baik saja. Alangkah baiknya jika Baekhyun melawan dengan menjambak atau memukul balik wanita itu dan aku ditendang kemudian dipukuli hingga mati oleh bodyguard Joohyun ini.

"SUDAH CUKUP OH SEHUN"

Aku tak tahu pasti siapa yang berteriak, dia mirip denga Sehun hanya saja dia terlihat cantik. Dua orang yang datang bersamanya memegangi Joohyun agar berhenti menyakiti Baekhyun sementara kedua bodyguard tadi melepaskan ikatanku, Joohyun meronta-ronta seperti nenek sihir yang kehilangan sihirnya menggapai Baekhyun tapi salah seorang dari mereka menampar pipinya begitu keras hingga dia berhenti.

Aku tak peduli Sehun yang terduduk tak bedaya didepan lelaki bersurai merah muda yang menangis didepan nya melepas sebuah cincin di jari manisnya kemudian mengatakan bahwa dia mencintai Sehun. Meminta Sehun menghentikan semua ini.

Aku tak peduli dengan wanita gila yang diseret keluar.

Yang aku pedulikan adalah malaikat bersimbah darah didalam dekapanku, bahkan mulut manisnya masih sanggup mengatakan bahwa dia merindukanku. Aku kalap dalam tangisan membawa Baekhyun keluar dari kediaman Sehun, tubuhku sebenarnya masih lemas tapi aku tak ingin ini semua berjalan lebih lama. Yang aku pikirkan saat ini adalah Baekhyunku, aku mengis sambil membawanya dalam gendonganku.

"Chanyeol!"

Aku menoleh ketika seseorang memanggil namaku, dia adalah salah satu laki-laki yang menyeret Joohyun tadi. Aku tak peduli hanya menoleh kemudian terus berjalan keluar dengan cepat ketika dia berlari mengejar kami.

"Kami akan mengantarmu ke rumah sakit"

"Tenanglah Chanyeol, dia akan baik-baik saja. Suho bisakah kau ngebut?"

"Aku akan berusaha Yie"

Pikianku kalut sekali saat itu, aku hanya diam menangis dalam isakan kecil mengengam tangan Baekhyunku yang terasa dingin. Aku sungguh menyesal, menyesal telah melibatkan Baekhyun dalam kehidupan dan duniaku yang amat buruk baginya yang polos dan tak mengerti apa-apa. Aku sudah terlahir kotor sebagai anak tanpa ayah, aku salah telah membawa Baekhyun masuk dalam semua ini. Kupikir tahun dimana Red pumpkin hancur adalah akhir dari segalanya tapi aku salah. Salah besar karna nyatanya aku mengalami semua ini sekarang.

Chanyeol mencintaiku, dia mencintai aku dan mengucapkan itu dalam tangisnya ketika dia memeluk dan merangkul tubuhku yang rasanya remuk tadi, sungguh aku bahagia setelah mendengarnya aku ingin memeluk dan mencium Chanyeolku hanya saja tubuhku sudah tak sanggup sekedar mengucapkan hal itu padanya. Aku merasakan gelap, semuanya gelap setelahnya.

Aku bermimpi Chanyeolku menangis, membawaku kerumah sakit dengan keadaan kacau. Dia benar-benar penuh isakan membawa tubuhku memanggil dokter dan suster untuk membantu ku, aku sedih melihat Chanyeolku hancur seperti itu. Jika tau seperti ini jadinya aku lebih baik tidak sakit saja, aku tak kuat jika Chanyeolku harus menangis penuh isakan. Kemana Chanyeolku yang dulu yang bertarung dengan brengsek dan memukul semua orang yang menyakitiku? Dia benar-benar terlihat lelah dan tak berdaya dalam mimpiku meremas rambutnya dikoridor rumah sakit.

Ketika aku membuka mata hal pertama yang aku rasakan adalah kepalaku yang berdenyut nyeri, aku memandang kesekeliling dan aku hanya menemukan ibuku yang tertidur disebelah ranjangku diatas kursi dengan kepala bertumpu pada kasurku, aku menengok kanan kiri mencari sosok Chanyeol tapi aku tak menemukan nya.

"Ibu," aku memanggil dan suaraku serak bahkan nyaris hilang saat itu, ibuku mendongak dan menatapku dengan pandangan sayang mengelus kepalaku menyodorkan segelas air putih padaku. Aku meminumnya beberapa saat setelahnya aku memandang ibuku dengan pandangan bertanya.

"Bagaimana perasaanmu?" ibuku bertanya lebih dulu tapi aku kacau dan kalut karna belum melihat keberadaan Chanyeol

"Berapa lama aku tertidur?"

"Sekitar dua hari."

"Ibu?"

"Iya?"

"Dimana Chanyeol?"

Ibuku langsung menggulirkan matanya menghindari tatapanku, perasaanku tak kunjung membaik setelahnya. Aku memutuskan untuk berbaring memunggungi ibuku tertidur dalam isakan ketika tak menemukan Chanyeol, ini jauh dari apa yang aku harapkan. Aku berharap ketika terbangun aku menemukan Chanyeol disebelah ranjangku mengatakan bahwa dia mencintaiku lagi tapi justru keterdiaman ibuku mematahkan seluruh harapanku.

.

Ini adalah desember, bagaimana aku benar-benar membencinya bahkan setelah aku diizinkan pulang. Chanyeol tak pernah menampakkan batang hidungnya sejak aku bangun, dia hilang bagaikan ditelan bumi. Apa dia tidak merindukan aku? apa dia marah? Apa dia sudah pergi? Atau Chanyeol membenciku? Berbagai pemikiran berkeliaran dalam benakku.

Aku sudah izin pada ibu untuk mengunjungi flat tapi aku juga tak menemukan Chanyeol disana, aku tak kuat lagi rasanya. Dia begitu jahat tak menemuiku bahkan ketika natal seperti ini, tadinya aku sudah membeli ayam dan cola untuk kami makan bersama di flat merayakan natal tapi aku tak menemukan Chanyeol disana. Rumah ini benar-benar kosong, aku menangis lagi.

"Apa kau membenciku Chanyeol hiks… aku merindukanmu"

Itu adalah natal terburuk dalam hidupku karna aku tertidur di sofa dan Chanyeol tak kunjung datang, saat aku terbangun aku sudah berada di dalam kamar. Diatas ranjang dengan selimut tebal menyelimuti tubuhku, juga pakaianku sudah diganti.

Hanya Chanyeol yang akan melakukan ini semua, tapi kenapa dia pergi lagi sebelum aku terbangun? Dia benar-benar ingin pergi dari ku atau bagaimana, tapi setidaknya dia masih peduli padaku. Aku sedih, kecewa bahkan kembali menangis. Aku pulang kerumah ibuku dengan mata bengkak karna tak henti menangis sejak semalam, bahkan lima hari setelahnya laki-laki sialan itu tak kunjung datang membuat hatiku semakin perih. Dia jahat dan brengsek membuatku jatuh cinta, menyatakan cinta, kemudian membuangku begitu saja dengan semua rasa rindu yang membunuh seperti saat ini, tanpa alasan!

"Baekhyun, makan malam sudah siap. Kau tahu? Ibu memasak banyak mala mini karna ini adalah tahun baru"

Ibuku terlihat berusaha membujukku yang kehilangan nafsu makan, ini genap dua minggu setelah aku bangun. Aku hanya bergerak malas, mengangkat pantatku dari tempat tidur menuju ruang makan. Aku mengangkat sup yang dibuat ibu kemeja makan tapi aku malah tersandung dan menumpahkan semuanya, aku tidak tersiram panas atau apaun hanya sedikit lututku sakit tapi aku menangis meraung-raung setelahnya.

"Sakit bu, sakit sekali…hiks"

Ibuku membantuku berdiri menyelimutiku duduk disofa kemudian keluar tengah malam tanpa mengatakan dia akan pergi kemana, aku tak peduli sama sekali tengah malam itu jutaan kembang api menyala diluar sana, bunyi terompet memekkan telinga dan orang-orang bersorak 'happy new years'aku tak peduli. Tidak tanpa Chanyeol, hanya dia yang masih memenuhi otakku saat ini.

Chanyeolku, yang sangat jahat dan sangat aku cintai.

Aku meremas rambutku ketika Baekhyun berada dalam ruangan nya, dia mendapat beberapa jahitan karna lukanya cukup leber disekitar tulang belikat. Aku menangis merasakan sebuah lengan memelukku, dia adalah bibi Yoona ibu Baekhyun, aku kembali terisak merasakan bahwa aku benar-benar menyesal melibatkan Baekhyun dalam hiduupku.

"Aku akan pergi bi"

"Kenapa hm?" tangan nya mengelus rambut basahku dengan mata dipenuhi oleh air mata, matanya sembab karna menangis.

"Aku menyesal melibatkan Baekhyun dalam kehidupanku yang begitu mengerikkan, jika saja dia tak berteman denganku maka semua ini tak akan terjadi"

"Bukankah kau bilang kau mencintainya?"

"Sa-ngat," ucapanku tersedak oleh tangis yang berusaha aku tahan sejak tadi.

"Jadi kau akan melepaskannya begitu?"

Aku merasa semua ini adalah kesalahanku, seandainya saja lima tahun yang lalu ketika Baekhyun mengantar buku sejarahku aku membiarkan dia berjalan sendirian kerumahnya maka kami tak akan berteman, maka kami tak akan saling jatuh cinta, maka dia tak harus melihat bagaimana hancur nya Red pumpkin , dia tak harus terlibat dengan Joohyun, dia tak harus sakit seperti sekarang. Aku benci mengingatnya dan merasa akulah yang membuat hidup Baekhyun seperti ini, aku bahkan begitu brengsek telah menidurinya saat dia memintaku melakukan nya. Aku menyesal sekali, sangat menyesal.

"Kau akan pergi?" bibi Yoona kembali bertanya dan aku hanya menganggukkan kepala,

"Kau tahu Chanyeol, Baekhyun sangat mencintaimu. Kau berpikir dia akan bisa bertahan tanpamu? Bibi rasa itu akan sulit baginya," bibi Yoona mengatakan itu dengan air mata yang masih mengalir diwajahnya "Tapi jika memang itu menurutmu yang terbaik maka kau juga akan merasakan sakit yang sama seperti yang Baekhyun rasakan karna kalian saling mencintai dan saling membutuhkan satu sama lain, bibi tidak akan melarangmu jika suatu saat kau rindu dan menemuinya, bibi harap kau baik-baik saja"

"Jagalah Baekhyun untukku bi,"

"Kau akan pergi kemana nantinya?"

"Aku tidak tahu, mungkin aku akan menumpang dulu dirumah Jongin atau di kost Jongdae"

"Bibi akan mencarimu disana ketika terjadi sesuatu, kau hanya butuh waktu Chanyeol"

Hari itu aku mencium Baekhyun dalam tidurnya, wajah tertidurnya benar-benar membuat tangisku kembali pecah, aku pergi ke kost Jongdae setelahnya tidur disana selama beberapa hari sampai aku mendapatkan telpon dari bibi Yoona bahwa Baekhyun sudah siuman, aku ingin sekali kesana datang memeluk dan menciumnya tapi aku takut, aku takut aku tak mau lagi berpisah dengan nya kemudian menyakitinya untuk kesekian kali. Aku tak mau, jadi ketika dia tertidurlah aku kembali kesana, menyusuri paras indahnya kembali meninggalkan sebuah kecupan pada bibirnya. Aku mencintai Baekhyunku hanya saja aku tak siap jika harus kembali menyakiti dia, jika dia tetap berada disekitarku maka dia akan berada dalam bahaya karna aku jelas bukan anak yang baik buatnya.

.

Sudah berhari-hari aku tak menemuinya, aku merasakan rindu yang sangat berat hingga dadaku terasa sesak. Bibi Yoona bilang Baekhyun pergi ke flat kami sekarang, aku ingin memangis saat ibunya mengatakan bahwa Baekhyun akan merayakan natal bersamaku. Luka nya belum sembuh benar tapi wajahnya tampak berseri ketika aku mengikutinya membeli ayam dan cola untuk kami makan bersama, seketika wajahnya yang tadi berseri berganti menjadi sedih ketika tak menemukan aku didalam flat kami. Aku memang pengecut hanya diam melihat dari kejauhan ketika Baekhyun menangis bersimpuh mengatakan bahwa dia merindukan aku.

Dia tertidur di sofa saat dia lelah menangis, aku memindahkan tubuhnya ke ranjang kemudian membuka jaketnya yang basah karna salju diluar sana. Dia terisak memangil namaku dalam tidurnya, aku sedih melihat keadaan Baekhyun seperti ini tapi aku masih bertahan untuk tidak menyakitinya lagi, aku sungguh bodoh saat itu jika diingat bahwa dia menangis merindukanku juga adalah menyakiti nya.

"Baek, kau tahu? Aku mencintaimu, tapi jika ka uterus ada di sekitarku maka kau akan terus tersakiti karna begitu banyak yang membenci dan menginginkan kehancuranku. Melihatmu sakit bahkan rasanya lebih hancur dari pada dipukul dan ditendang oleh mereka baek."

Aku tak sannggup lagi, dia sudah terlalu banyak sakit karna aku. Saat memasuki SMA hampir diperkosa, saat dia memintaku mengajaknya bertarung dengan Kris dia bahkan demam, saat dia melihat lokasi rumahku diratakan, dan terakhir kemarin ketika dia benar-benar sakit karna dipukuli oleh Joohyun si gila itu. Aku tak ingin lagi, semua alasan dia sakit adalah aku, kupikir dia akan hidup baik jika tanpaku.

.

Ketika tahun baru datang banyak orang diluar sana mengucapkan happy new years , kembang api meledak disana-sini, bunyi terompet dan semacamnya tapi aku merasa kosong meneguk alkohol diatap kost Jongdae. Aku merindukannya tapi aku masih memikirkan banyak hal buruk yang akan menimpanya jika kami terus bersama, aku menangis sendirian ditepian meremas rambutku. Jongdae dan Jongin tengah merayakan pesta tahun baru bersama Kyungsoo dan Minseok hyung tapi aku disini sendirian menangis terisak-isak menekan dadaku yang rasanya sesak luar biasa.

Aku tersentak ketika seseorang membuka pintu dengan kasar kemudian menamparku, rasanya panas dan mengerikan melihat kilat marah dari mata bibi Yoona yang selama ini selalu memancarkan kelembutan. Aku menatapnya dengan tangis yang mengucur dari mataku diapun sama, dia menangis menatapku dengan pandangan sedih nya.

"Apa kau bodoh?" kata-katanya menyentak hatiku tapi aku hanya diam mendengar kelanjutan dari ucapan bibi Yoona selanjutnya.

"Kau bilang kau pergi agar dia tak sakit lagi? Tapi apa Chanyeol? dia bahkan merintih saat tersandung, menangis meraung-raung mengatakan kalau dia kesakitan, kau menyakitinya. DASAR BODOH!"

Aku menunduk, merasa terhenyak mendengar penjelasan ibu Baekhyun, benar. Dia benar aku memang menyakiti Baekhyun, harusnya aku sadar.

"Dia selalu menunggumu sepanjang hari, dia menangis dan berdiam diri dalam harapan bahwa kau akan kembali tapi apa? Kau bahkan seperti pecundang hanya diam melihat keterpurukan nya? kau bodoh? Kau bahkan merasakan sakit yang sama sepertinya, kau sesak menahan rindu padanya tapi tetap saja bersikeras untuk pergi darinya? Bibi mohon," suaranya mulai melunak ketika memohon, menundukkan kepal amenangis bersimpuh dihadapanku "bibi mohon agar kau berhenti menyiksa diri mu dan Baekhyun, kau tahu betapa sakitnya aku saat dia mengatakan 'ibu sakit, sakit sekali' bahkan ketika dia sama sekali tak terluka secara fisik? Dia sakit Chanyeol, kau menyakitinya"

"Cukup bibi, maafkan aku. Aku memang pengecut"

"Kumohon kembalilah pada Baekhyun"

e)(o

Aku mengangkat tubuh ringkihnya yang tertidur di sofa sejak ibunya keluar, membaringkan tubuh itu kemudian hendak beranjak melepas jaketku tapi tangannya menahanku, Baekhyun terbangun. Dia menatapku dengan pandangan memohon berurai air mata membuat hati kecil ku sakit ribuan kali seperti ditusuk oleh jarum yang tajam.

"Jangan lagi Chanyeol," tubuhnya bergetar melawan isakan

"Hei, aku hanya membuka jaketku sayang"

"Tidak, kau bohong. Kau akan meninggalkan aku lagi sete-lah ini, apa kau tidak lelah Chanyeol? hanya mendatangiku saat aku tertidur? Hanya mengu-capkan cinta ketika aku terlelap? Mengapa begitu pengecut?" Baekhyun bicara dengan nafas tersendat-sendat menahan isakan nya.

Aku merasa sungguh brengsek telah meninggalkan dia selama dua minggu ini, aku hanya kembali duduk ditepi ranjangnya namun cengkaman tangan nya pada tanganku. Dia mencengkamnya erat sekali sampai aku merasa cukup sakit.

"Kau pengecut, kau jahat Chnayeol. Tak tahukah kau aku begitu merindukanmu? Aku selalu berharap ketika terbangun maka aku akan mendapatkan pernyataan cintamu lagi seperti saat itu," aku membaringkan tubuhku disebelah Baekhyun memeluknya mengelus dan mengecup kepalanya.

"Aku mencintaimu," bukan nya berhenti terisak tangisan Baekhyun serta merta semakin keras membuatku tak tahu harus berbuat apa lagi. Aku benar-benar mencintai dia.

"Hei berhentilah menangis baby"

"Brengsek!" Baekhyun mengalungkan tangan nya dileherku membenamkan wajahnya disana penuh dengan air mata.

"Maafkan aku, maaf maaf"

"Aku juga mencintaimu Park Chanyeol bodoh!"

Baekhyun berhenti menanangis setelah aku menciumnya, dia suka sekali dicium olehku tapi kali ini aku merasa ada yang berbeda karna kami berciuman dengan penuh cinta tak seperti ciuman yang selama ini kami lakukan yang selalu aku katakana dengan alasan persahabatan.

"Aku mencintaimu."

Tak henti-hentinya aku mengucapkan kata-kata itu disela ciuman kami hingga Baekhyun merona kemudian perlahan jatuh dalam tidurnya, dia benar-benar manis ketika tertidur dengan mulut terbuka dan bibir merahnya yang membengkak itu.

e)(o

Ketika aku membuka mata aku sudah berada di kamar, perasaanku terasa lebih baik sekarang mengingat semalam Chanyeol disini dan aku harap itu bukan lagi mimpi seperti sebelum-sebelumnya. Aku membalik tubuhku namun tak merasakan kehadiran Chanyeol untuk kesekian kalinya aku terbangun sendirian ditempat tidurku, aku mulai menangis lagi mengingat mungkin yang semalam hanyalah mimpi tapi ketika aku merasakan sebuah lengan dingin melingkari leherku aku mendongakkan kepala mendapatkan morning kiss dari kekasihku yang bari selesai mandi.

"Chanyeol wangi."

"Tentu, aku habis mandi."

"Mengapa mandi pagi?"

"Karna ini tahun baru"

"Huh?"

"Baekhyunie maaf kan aku," dia meminta maaf menundukkan kepalanya hingga hidungnya menyentuh leherku. Dingin dan hangat dalam waktu bersamaan, dingin karna dia sehabis mandi dan hangat karna terpaan nafasnya.

"Maaf untuk?"

"Karna aku pergi selama dua minggu ini dan aku tahu itu menyakitimu."

"Hei kau juga sakit bukan?" tidak! Ini masih pagi dan aku tidak mau menjadi mellow

"Ingin tahu apa alasan nya?"

"Hm boleh, tapi bisakah kita kencan hari ini?"

"Dimana?"

"A-aku hanya merindukanmu," kalian tahu kenapa aku gugup? Itu karna barusan aku memikirkan hal kotor tentang kencan ranjang astaga aku malu sendiri jadinya.

"Merindukanku? Bagaimana kalau kita tidur seharian dengan berbagi pelukan dan ciuman?"

"Huh?"

"Aku janji tak akan berbuat lebih," Chanyeol mengatakan nya seraya meninggalkan sebuah kecupan dipipiku.

"Baiklah, dan aku mau mandi dulu"

"Aku mandikan ya?"

"Tidak Chanyeolie~"

Ini adalah tahun baru terbaik dalam hidupku, tanggal 1 januari yang benar-benar menjadi tanggal terbaik dalam hidupku dimana aku jalan-jalan bersama Chanyeol bergandengan tangan. Membeli makanan kemudian menghabiskan hari bersamanya sepanjang waktu didalam kamar dengan ciuman dan pelukan yang hangat. Chanyeol benar-benar memanjakanku dengan segala sikapnya, dia mengelus rambutku, mencium pipiku kemudian bibirku.

"Baek?"

"Hng?"

"Ingin tahu alasan nya sekarang?"

"Sebenarnya aku tak ingin tahu alasan nya, aku ingin melupakan semua itu karna kau sudah bersamaku Chanyeol. aku hanya butuh kau entah dengan alasan apapun saat kau pergi maka aku akan hilang"

Chanyeol mengecup pipiku lagi kemudian menyusuri mataku, dia mengelus rambutku memainkan nya dengan tangan besar itu.

"Kata-katamu manis sekali sayang, aku jadi semakin mencintaimu"

"Aku serius"

"Sebenarnya aku hanya tak ingin kau terluka lagi. Kau tahu? Ketika melihatmu—" Chanyeol menghela nafasnya dan aku tahu apa yang sedang menyerang pikiran kekasihku saat ini, aku mengelus pipinya meninggalkan sebuah kecupan manis disana membuat senyumnya mengambang kembali melanjutkan ceritanya "— aku benci ketika kau tersakiti Baekhyun, aku pikir jika aku pergi maka kau akan baik baik saja—"

"Nyatanya aku tak pernah baik-baik saja tanpamu"

"Hei aku belum selesai berbicara"

"Lnjutkan"

"Aku menyesal kau mengenalku Baek, kau begitu polos dan terlalu baik untuk masuk dalam dunia yang aku jalani. Keras dan berbahaya bagimu, mungkin jika ka uterus didekatku maka kau akan terus berada dalam bahaya sayang"

"Bagaimana dengan kita pergi dari sini?"

"Huh?"

"Kita pergi Chanyeol, memulai semua hal yang baru tanpa adanya kekerasan lagi. Hanya ada kau dan aku"

"Ini terdengar seperti lamaran"

"Terserah kau anggap apa!" Aku cemberut ketika Chanyeol menggodaku seperti tadi.

"California"

"Deal, nikahi aku dulu"

Sepanjang hidupku, hari dimana kami memutuskan untuk mengakhiri semua penderitaan kami. Tepat setelah acara tahun baru aku dan Baekhyun memutuskan untuk pergi, kami meminta izin pada ibu Baekhyun dan dengan senang hati dia mengurusi semuanya bahkan mencarikan pekerjaan untukku sebelum kami berangkat ke sana, tentu aku harus bekerja keras dulu sebelum menikahi Baekhyun karna aku harus memberinya makan dengan benar saat dia sudah menjadi tanggung jawabku nanti.

e)(o

Baekhyun hampir tertidur di punggungku ketika kami berjalan pulang kerumahnya dari sekolah lama kami. Setelah ciuman yang kami lakukan hampir satu jam tadi, sungguh kami nekat sekali berciuman disekolah walau nyatanya tak ada satu orang pun disana.

"Chanyeol?"

"Iya sayang?"

"Uu panggilan nya membuatku mabuk."

"Ada apa hm?"

"Aku ingin kau meniduriku."

Langkah kakiku terhenti, Baekhyun memang nakal dan sedikit agresif belakangan ini tapi aku tak pernah mempermasalahkan itu karna dia istriku. Aku sangat menyukai bagaimana dia mulai duluan, aku kembali melangkah kemudian menyeringai saat dia mengusakkan wajahnya di tengkukku.

"Bukan nya aku binal, tapi aku tak suka melihat banyak wanita yang melirikmu. Jika kau meniduri ku maka kau tak akan berpaling pada yang lain."

"Ada yang takut kehilangan aku rupanya"

"Itu wajar, karna kau suamiku. Lagipula aku rindu sentuhanmu"

"Mengapa begitu frontal?"

"Karna aku menginginkanmu," dia berbisik halus ditelingaku

"Damn! Stop it Park Baekhyun!"

"Aku tidak sabar sampai dirumah," Baekhyun terkekeh geli dibalik punggungku mengeratkan pelukan nya dileherku. Kami sudah sampai didepan gerbang rumahnya sekarang dan dia semakin bermanja-manja menggodaku.

"Ibu?"

"Ibu bilang ada pekerjaan dirumah sakit jadi kita bisa bercinta sampai pagi"

"Habisku Park Bunny!"

Aku berjalan lebih cepat menuju kamar membanting tubuh mungilnya, dia tersenyum mengangkat kedua tangan dan dengan senang hati aku menindihnya mulai menyerang bibir manis yang menjadi favorite ku sedangkan dia sibuk mengalungkan tangan kemudian mendesahkan namaku berulang kali beberapa jam setelahnya.

END

Makasih banyak buat teman-teman yang bersedia membaca ff pertama ini maaf kalau ada banyak kesalahan dalam menulis dan maaf jika endingnya tidak memuaskan masalah alur yang kecepetan waktu Chanbaek nya pisah itu disengaja karna ga mau buat mereka pisah lama-lama, terlalu cinta sama Chanbaek^^

See you, lordpcy