Hyunnieoh

.

.

.

.

.

2017

.

.

.

.

.

LOVE FROM AIRPORT

.

.

.

.

.

CHAPTER 01

"I THOUGHT I HAVE FALLEN FOR YOU"

.

.

.

.

.

Cast :

Lee Minhyung as Mark Lee NCT

Na Jaemin NCT

Rate :T

Genre : School life, romance

Summary : Minhyung atau kerab dipanggil Mark merasa sesuatu aneh saat melihat wajah lesu namja manis dibandara.

Disclaimer : Cast belong to the owner. Alur cerita milik Hyunnie jika ada kesamaan jalan cerita itu ada unsur ketidaksengajaan.

.

.

.

.

.

WARN!

It is YAOI Fanfiction!

Seme! Mark, Uke! Jaemin

MANY BAD WORDS INCLUDE!

DON'T LIKE! DON'T READ!

...

Incheon International Airport, adalah bandara yang selalu sibuk akan orang-orang yang selalu bolak-balik dari Negri Ginseng ke tempat tujuan ataupun sebaliknya.

Ditengah keramaian bandara tersebut, seorang namja imut yang sayangnya terus memasang wajah cemberut dari rumah sampai ke tempat tersebut. Sebut saja namanya Jaemin, "Hyung jelek, mana Junnie?" tanya Jaemin yang duduk dijok belakang, padahal disebelah sang pengemudi kosong alias tidak ada orang.

'Hukumannya sebagai supir aku sehari. Biarin. Siapa yang suruh membawaku ke luar negri?' batin Jaemin dengan wajah yang berseri-seri. Pengemudi yang akrab dipanggil Jeno hanya menghela nafas.

'Yang menjadi namjachingunya Junnie sebenarnya siapa sih? Aku atau si Nana sialan ini?' batin Jeno yang berusaha untuk tidak memarahi adiknya.

"Ada didalam bandara. Katanya masih berada di tempat makan." Kata Jeno setelah memarkirkan mobilnya diparking lot yang tersedia.

Jaemin memasang wajah lesunya, tanpa mempedulikan kerabat jauhnya yang membuka pintu belakang untuk menurunkan koper dan semacamnya, Jaemin segera masuk kedalam bandara. Jeno yang melihat aksi Jaemin menggelengkan kepalanya, 'Terlalu biasa untuk ditinggalkan.' Batin Jeno sambil menurunkan koper yang satunya lagi.

Jaemin mengedarkan matanya ketika sampai didalam, beruntung saja sahabat dekatnya belum duduk ditempat penerbangan, 'Aku tahu dia itu tipe sahabat yang setia. Tidak mungkin duluan pergi jika aku dan Jeno hyung belum sampai.' Batin Jaemin dan mengayunkan tangannya secara sembarang sembari berjalan.

"Hyung, sungguh atas dasar apa hyung membawaku ke Kanada? Apa appa baik-baik saja?"

"Bukan karna appa, saeng. Ini karna masalah perusahaan di Kanada. Appa ingin kamu yang mengurusnya." Kata seorang namja yang berjalan beriringan dengan seseorang namja lagi dibelakang Jaemin.

"Oh jadi begitu. Arraseo." Kata namja tersebut dan ingin berjalan lebih dahulu dari lawan bicaranya.

PUK

'OMO? Apa yang kupukul tadi?' batin Jaemin yang telah takut-takut menghadap belakang. Dimatanya telah ada dua orang namja yang dimana satunya sedikit terkejut dan satunya lagi seperti melindungi bagian 'itu'nya. If you know what I mean.

"Saeng, gwenchana?" tanya namja yang tadinya terkejut. Yang menjadi korban perbuatan Jaemin mengangguk kepala walaupun sedikit meringis. Jaemin akui, ia tidak sengaja mengayunkan tangannya cukup kuat, ia bahkan tidak tahu kalau namja tersebut dekat dengannya.

Jaemin menggigit bibir bawahnya, ia bingung sekarang mau berbuat apa, "Jaeminnie~~~" panggil Jeno yang celingak-celinguk mencari adiknya. Bisa panjang masalahnya jika adiknya hilang.

"Hyung!" kata Jaemin dengan sedikit berteriak dan segera menjauhi dua namja tersebut dan menghampiri Jeno.

Jeno tersenyum melihat Jaemin yang masih dalam mode ngambeknya, "Baiklah, jangan marah lagi ya. Hyung mau menemui Renjunnie dulu, ikut yuk." Kata Jeno sambil menggenggam tangan Jaemin kesebuah tempat makan yang ada disana.

Meanwhile...

"Hyung, hyung kenal dengan namja imut tadi?" tanya namja yang masih menyembunyikan 'itu'nya dengan kedua tangannya.

"Waeyo? Apa 'itu'mu masih sakit, Mark?" tanya yang lebih tua atau biasanya dipanggil dengan Jaehyun. Mark menggeleng.

"Liar." Kata Jaehyun dengan pelan dan melihat Jaemin yang sedikit mengerucutkan bibirnya saat Jeno menarik tangannya. Memang jarak antara Mark dengan tempatnya Jaemin tidak begitu jauh, jadi, Jaehyun masih bisa melihat mereka berdua.

"Hyung tahu dia siapa, Markeu. Hyung ingat sekarang." Kata Jaehyun tiba-tiba karna tidak merasa asing dengan namja yang mengenggam tangan Jaemin.

"Nugu?" tanya Mark sambil menatap Jaemin yang berjalan semakin jauh dengan mereka.

"Na Jaemin, adiknya Lee Jeno. Tidak bisa dikatakan adik kandung sebenarnya. Lee Jeno itu masih termasuk kerabatnya, karna adik appa-nya Jaemin menikah dengan namja bermarga Lee." Kata Jaehyun yang berusaha memberikan penjelasan pada adik tersayangnya.

"I got you, Na Jaemin." Kata Mark dengan pelan sambil melihat Jaemin yang berlari kecil melewati Mark dan Jaehyun. 'Mungkin ke toilet.' Batin Mark.

Mark mengalungkan tangannya dileher Jaehyun, "Sudah hyung. Kalau mau reuni dengan Jeno hyung nanti saja, ne. Paling lambat sesudah kita balik lagi ke Korea." Kata Mark dan menarik Jaehyun untuk ke boarding gate.

Mark memicingkan matanya ke kiri saat si Jaemin keluar dengan wajah yang ditekuk lagi serta jangan lupakan bajunya yang sudah kebasahan. "Mark, ingat sampai disana, jangan seperti anak-anak." Kata Jaehyun sembari memberikan pasport dan tiketnya kepada yang berwenang.

"Iya, hyung. Biasanya juga, hyung yang lebih kekanakan daripadaku." Kata Mark dengan kekehan kecil, dimana, dirinya selalu ingat disaat mereka pulang ke Kanada, hyung-nya ini akan selalu memeluk ayahnya dan menyenderkan kepalanya dipaha sang ibu, sedangkan Mark sendiri, hanya sekedar sesi peluk-pelukan kemudian, menuju ke kamarnya untuk mengerjakan tugas di usia yang ke-22 ini.

"Ish... itu kan karna, aku menyayangi eomma." Kata Jaehyun yang mengantri untuk masuk kedalam pesawat.

"Hyung, hyung duduk dimana?" tanya Mark yang berusaha mengalihkan perhatian Jaehyun.

"Duduk diatas jok kursi." Kata Jaehyun dengan polosnya membuat Mark menepuk jidatnya sendiri.

'Hyung, untung sayang, untung hyung sendiri, inget Mark.' Batin Mark yang berusaha menahan dirinya untuk tidak menjambak rambut hyung-nya.

"Maksudku, hyung duduk dinomor berapa?" tanya Mark yang langsung dibalas dengan sodoran tangan Jaehyun yang menggenggam sebuah kertas kecil akibat sobekan yang disengaja.

"Nomor 11 A. Berarti kita beda nomor hyung. Aku di nomor 14 D." Kata Mark yang sedikit bersedih karna, biasanya, ia duduk disebelah Jaehyun.

"Jangan sampai ketiduran, Mark." Kata Jaehyun yang berusaha mengingatkan adiknya. Mark mengangguk dan perlahan-lahan menuju ke tempatnya.

...

Jaemin berjalan dengan teropoh-opoh dan wajah yang semakin ditekuk. Berjalan ke tempat makan dimana Jeno menyuapi Renjun dengan sabar disaat Renjun berkata ia tidak mau makan sayuran ini dan sayuran itu.

"Makan ini, Baby Junnie. Sungguh. Jika baby memakan sayuran ini, hyung akan membawamu sebuah boneka moomin besar sebesar ukuran badanmu. Eotthae?" tanya Jeno dengan senyuman manis. Renjun menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang penawaran Jeno.

Jaemin yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya dan memeluk leher Renjun dari belakang.

"Junnie, gue kesel sama pacar loe ini. Sumpah, putusin dia, dia itu benar-benar gak baik untuk loe, Junnie." Kata Jaemin yang sengaja dikeras-kerasin suaranya biar si Jeno dengar. Ah! Jaemin kalau sudah ketemu Renjun itu bahasanya langsung gaul, pake gue-loe gitu. Arraseo? Jadi, jangan bingung.

"YA! NA JAEMIN! LEPASKAN TANGANMU ITU DARI LEHER BABY JUN." Pekik Jeno yang rupanya overprotectivenya tidak hanya pada Jaemin, pada Renjun juga.

"Minnie, baju loe kenapa? Kok basah? Loe mandi didalam?" tanya Renjun

"Itu dia, Junnie. Gue tadi banyak pikiran, makanya gue permisi ke toilet, rupanya, pas gue cuci tangan, tuh kran sialan bocor, nyembur deh kemana-mana. Kena baju gue tentunya." Kata Jaemin yang membuat Renjun dan Jeno tertawa.

Renjun yang berada ditengah-tengah hanya bisa terkekeh geli hanya menarik tangan Jaemin untuk duduk disebelahnya dan menjadikan bahu Jaemin sebagai sandaran kepalanya.

"Huang Renjun, tegakkan kepalamu, jika masih ingin berjalan dengan benar besok." Kata Jeno yang lebih tepatnya mengancam Renjun. Renjun mencebik dan menjalankan amanah dari pacar overprotectivenya. Jaemin mendengus kesal dan berjalan menuju tempat Jeno.

PLETAK

"Hyung jelek, aku baru tahu selain kau adalah sosok yang overprotective padaku dan Junnie, kau juga seorang pria pervert, eoh? Hyung memang jelek." Kata Jaemin setelah menjitak kepala Jeno. Wah,... Jaemin-ah, Jeno itu adalah hyungmu dan kau berani melakukan itu? Daebak...

"Junnie, kita tinggalkan saja namja mesum ini. Tak ada gunanya dekat-dekat dengan dia, aku sarankan padamu, sahabatku tercinta, putuslah dengan hyungku itu, sungguh, dia itu membawa pengaruh buruk padamu, tidak ada pacar yang mengurung pacarnya sendiri diruangannya saat istirahat disekolah berlangsung. Kalau saja aku tahu, namja yang sering medekatimu adalah hyungku sendiri, aku tidak akan memintamu untuk berhubungan dengannya melainkan dengan Chenle saja." Kata Jaemin yang panjang lebar sambil mengaitkan tangannya dilengan Renjun. Membawa sahabatnya menjauh dari hyungnya sendiri.

Renjun hanya dibawa lari pasrah saja, mungkin Jaemin benar putus dengan Jeno dan pacaran dengan Chenle lebih baik. Renjun mengangguk-angguk saat menunggu pesawat yang akan ia tumpangi mendarat. "Wae, Junnie? Kenapa mengangguk sendiri?" tanya Jaemin yang masih disebelah Renjun. Tidak membiarkan Jeno mendekati Renjun seinchipun.

"Aku..."

"Huang Renjun, jika kau berniat memutuskan aku dan berpacaran dengan Chenle karna Jaemin, maka akan aku pastikan, kau hanya akan berada diapartemenku 24 jam dibawah pengawasanku." Kata Jeno datar yang posisi duduknya tepat didepan Renjun.

"Kau benar-benar ingin memutuskan Jeno? Daebak! Aku mendukungmu, Huang Renjun." Kata Jaemin. Renjun mengigit bibir bawahnya, "Panggil dia hyung, Minnie. Sungguh, aku juga sedikit lelah atas sikapnya, tapi, ada rasa bahagia juga sih, dia seperti benar-benar takut kehilangan diriku." Bisik Renjun ditelinga Jaemin. Jaemin mengangguk.

"Jeno hyung pasti bangga punya pacar yang kuat untuk menghadapi sikapnya yang over itu." Kata Jaemin yang sampai ditelinga Jeno yang hanya tersenyun tipis.

'Tentu saja, Baby Jun adalah yang terbaik untukku.' Batin Jeno.

Jaemin menarik tangan Renjun dan membawanya duduk disebelah Jeno, sedangkan dia sendiri duduk disebelah Renjun. "Aku tidak tega melihatmu jones begitu, hyung. Seolah tak punya pacar sama sekali. Tenang saja, aku akan menutup mataku dari kalian anggap saja aku tidak ada." Kata Jaemin dan memilih untuk memainkan ponselnya. Membiarkan pasangan tersebut menikmati waktu berharga mereka.

Jaemin menghela nafas yang kesekian disaat Jeno mengecup bibir Renjun ditempat umum. Catat! DITEMPAT UMUM. Renjun hanya membalas perlakuan Jeno dengan memerahkan kedua pipi yang selalu Jeno kecup.

"Aigoo... Baby Jun... Neomu neomu kiyowo..." kata Jeno dan mencubit kedua pipi Renjun dengan gemas. Renjun hanya mengigit bibir bawahnya dan sedikit menunduk saat menerima perlakuan tersebut.

Jaemin menggelengkan kepalanya, 'Kurasa kalau Junnie bersama Chenle. Apa dia akan sebahagia ini?' batin Jaemin yang penuh penasaran, entah kenapa, pipinya kembali memerah saat seberkas peristiwa tadi pagi terngiang kembali diingatannya.

"Sialan. Kenapa masih memikirkannya?" tanya Jaemin dengan pelan. Ia tidak ingin mengganggu pasangan yang dimabuk cinta ini. Sedikit ia akui, ia geli saat melihat pembalasan Renjun yang seperti cewek. Heol! Jaeminnie lihat dirimu nanti, kau akan menjilat ludahmu sendiri, Minnie.

'Kira-kira apa yang dia lakukan ya? Emangnya 'itu'nya benar-benar sakit? Aku kan tidak sengaja.' Batin Jaemin yang terus memikirkan nasib cowok yang tidak sengaja menjadi korban pukulannya.

Jaemin menggigit bibir bawahnya, jari telunjuk yang berada di pahanya diketuk-ketuk. Jaemin menghela nafas disaat Renjun memintanya untuk segera menaiki pesawat yang akan mereka tumpangi.

"Junnie, gue ingin bicara. Tapi, nanti saja saat hyung jelek gak ada. Eotthae?" tanya Jaemin. Renjun menyatukan alisnya kemudian mengangguk.

"Anytime for you, Minnie." Kata Renjun sambil mengaitkan tangannya di lengan Jaemin. Melupakan Jeno yang mengerang frustasi karna tingkah Renjun.

...

Hah... akhirnya, selesai juga nulis Chapter 1. Mianhaeyo, kalau kurang memuaskan. Soalnya, buatnya disaat peristiwa-peristiwa genting terjadi.

For the first time, Hyuna buat cerita yang melibatkan kelamin namja walaupun tidak sampai kejauhan. Tapi, Hyuna merinding sendiri saat membayangkannya.

So, mind to review?