Love From Airport
Chapter 02
.
.
Jaemin mencebik bibirnya untuk yang kesekian. Pasalnya nih ya, Hyung dan sahabat tercintanya itu malah lovey dovey ria, benar-benar mengabaikan Jaemin yang masih berkeliaran disekitar mereka. Tidak juga sih, Renjun masih peduli, kalau Jeno sudah sangat dipastikan, PEDULINYA HANYA PADA RENJUN SAJA.
"Adik sepupu apa sih gunanya? Jadi laler yang ada." kata Jaemin sambil menggesekkan sepatunya hingga membuat suara decitan. Menatap Jeno dan Renjun yang didepan dia, sesekali berhenti karna, berfoto. Tetap saja, dari sekian banyaknya foto yang diambil oleh kamera tersebut, wajah Jaemin tidak akan nampak.
"Kalau begini ceritanya, aku benar-benar memilih berada didalam rumah di Korea saja." dengus Jaemin. Ia sudah menutup mata, tapi, memang mereka berdua saja yang kelewatan. Jaemin lapar, tadi pagi dia hanya makan 2 helai roti dicampur selai coklat dan secangkir teh hangat. Dan, ini sudah jam 2 siang. Sudah sekitar 7 jam mereka lewatkan.
'Kalau begini ceritanya, gue yang kelaperan dan mereka masih kenyang, karna, masih lovey-dovey gitu. Jones mah apa atuh?' batin Jaemin.
Jaemin segera menyelip diantara mereka berdua, "Jeno jelek, ini sudah jam 2 siang. Aku lapar dan ingin makan sekarang." kata Jaemin dengan mencebikkan bibirnya. Jeno hanya menatap jamnya dengan santai.
PLETAK
Jaemin menjitak kepalanya Jeno. Tidak perlu shock, menrut Jaemin ini pantas, karna, Jeno mengabaikan tugas seorang kakak. "YA! HYUNG! Aku tidak bercanda. Aku benar-benar kelaparan. Kasih makan kek, tanya kek, atau apapun lah itu. Ini malah sibuk pacaran dengan Junnie dan mengabaikanku. Aku ingin pulang ke Korea saja." cerocos Jaemin dengan mengebu-ngebu.
"Ya sudah, mau makan apa, Minnie? Baby Junnie,... kepalaku sakit..." kata Jeno yang bersikap tegas pada Jaemin dan bersikap manja sekian detiknya pada Renjun.
Renjun memrolling eyes dan mengelus kepala Jeni dengan pelan. "Dasar manja. Kita makan spaghetti saja, Minnie. Jeno yang traktir." kata Renjun yang memberi saran pada sahabatnya. Sedikit bersalah sih...
"Ide bagus. Kajja, hyung, Junnie. Kita cari restoran itu." kata Jaemin yang kembali semangat, merangkul Renjun, kembali menjadi pemisah Noren couple.
"Dompetku..." kata Jeno dengan nelangsa.
"Minnie-ya, loe dibandara hari itu ingin mengatakan apa sih?" tanya Renjun dengan kepo.
"Oh... Itu... Loe tahu gak? Ini insiden parah, Jun... Beneran parah."
"Emangnya apaan sih?"
"Jadi gini, tangan gue pas masuk bandara kan gue goyangin depan belakang. Jadi, guenya gak sadar kalo ada 2 orang dibelakang gue. Tangan gue jahil atau gimana, gue juga gak ngerti, eh... mampir ke 'itu'nya salah satu pria diantara mereka, deh." terang Jaemin dengan semangat. Ia juga memerlukan sosok yang mendengar ceritanya.
"Masa? Jadi, tingkah cowoknya gimana?"
"Cowoknya ya... langsung pegang 'itu'nya lha. Pria yang satu lagi keknya sih hyung dia, langsung nanya kabar sih. Guenya cabut lari karna, Jeno hyung manggil." kata Jaemin yang rupanya masih ingat kejadian tersebut.
"Gue mau nanya, namja yang jadi korban tangan loe, tampan gak?" tanya Renjun. Keknya Renjun punya bakat untuk ikut sesi wawancara, nanya mulu sih...
"Lumayan sih. Gak tahu ah! Baru juga jumpa sekali, mana kepalanya kan langsung nunduk dan gue cabut lari. Kabur deh wajahnya..." jawab Jaemin dengan sabar.
"Tampanan mana dengan Jeno?"
"Tampanan..."
"Berniat selingkuh Baby?"
Renjun dan Jaemin langsung membeku saat mendengar suara tersebut. Siapa lagi kalau bukan Jeno. Jaemin membalikkan tubuhnya dengan pelan, "Hyung marah pada Junnie hanya karna pertanyaan itu?" tanya Jaemin yang sedikit mencolek Renjun untuk berbalik.
Jeno masih diam. "Huang Renjun, berbalik atau tidak jadi makan siang." ancam Jeno.
Renjun berbalik, "Jeno-ya, emangnya kenapa? Aku hanya bertanya siapa yang lebih tampan? Is that wrong?" bela Renjun. Bagaimanapun juga, ia juga sedikit lelah dengan sikap Jeno yang terlalu berlebihan.
"Oh, jadi, kalau aku tidak menyela dan Jaemin mengatakan bukan aku yang lebih tampan. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jeno yang tentunya hanya main-main, walaupun terkesan menantang.
"Mungkin aku akan memutuskanmu dan menjadikan dirinya gebetanku. Atau mungkin, bermain dibelakangmu, bias lebih mengasikkan." kata Renjun tak kalah pedes dengan Jeno.
Jeno segera berbalik sebelum mengatakan sesuatu pada Renjun, "Katakan selamat tinggal pada Jeno Lee yang menjadi mantanmu sekarang. Jadikan saja dia yang lebih tampan dariku menjadi gebetanmu, aku tidak peduli." kata Jeno, meninggalkan adik sepupu dan ex-nya.
"Junnie, kau serius?" tanya Jaemin dengan wajah yang terkejut.
Renjun hanya memasang wajah misterius dan mengajak Jaemin makan siang, mungkin sambil makan mereka akan mengatakan tentang sikap Jeno.
_Love From Airport_
"Hyung, berapa berkas lagi yang harus kubaca dan tandatangani?" tanya Mark sambil membaca sebuah berkas yang berusi kontrak dengan perusahaan lain.
Jaehyun mengangkat bahunya, "Mana aku tahu, saeng. Jika aku melihat tumpukan berkas disudut kananmu mungkin sekitar ada 8 and something like that." kata Jaehyun yang kembali memainkan ponselnya.
Jadi, mereka berdua, sedang berada di kantor perusahaan di Kanada yang diminta oleh appa mereka untuk diurus. Sebenarnya, sedaritadi pagi jam 7, hanya Mark yang bekerja dengan serius sedangkan Jaehyun sibuk dengan ponselnya. Mark memang workaholic, penyakit turunan ayahnya, Jaehyun bekerja, hanya saja mengambil pangkat yang lebih rendah dari Mark, seperti sekretaris dan asisten pribadi Mark jika di kantor dan menjadi model photoshoot untuk beberapa majalah.
"Hyung, hari ini aku tidak ada meeting dengab siapapun kan?" tanya Mark basa-basi. Sebenarnya, ia ingin melimpahkan sebagian atau bahkan seluruh tugas tersebut pada Jaehyun saja. Seharusnya dia yang memegang jabatan ini.
Jaehyun mengetuk dagunya, "Kalau tidak salah, ada pertemuan dengan Mr. Smith tentang proyek yang dibahas semalam dengan appa. Terus, makan malam dengan beberapa kolega penting appa." kata Jaehyun yang menimang-nimang jadwal adiknya.
"Hah... Arraseo. Hyung, bisa minta tolong?" tanya Mark dengan senyuman misterius yang mengundang rindingan Jaehyun.
"Bisa tolong lacak lokasi Jaemin?"
NA
#Hello!!! Akhirnya, bisa ku-up setelah berbulan-bulan. Maafkan ketidakprofesionalitasan Hyuna sebagai writer. Hyuna benar-benar tahu, Hyuna tidak bertanggung jawab atas cerita ini. *deep bow* Jeongmal Mianhamnida~~~~
#Maaf, jika ada typo, alur yang tidak memuaskan kalian. Ini Hyuna next karna, Hyuna termotivasi kembali oleh review kalian.
#Mind to review?
