Love From Airport

Chapter 03

"Kha!"

"Astaga... Hanya karna begini, kamu marah."

"Aku tidak peduli. Siapa yang menyuruhmu melakukannya?"

Jaemin me-rolling eyes saat dirinya melihat Renjun dan Jeno bertengkar dikamar hotelnya.

Jaemin seorang diri?

Tentu! Kemarin malam itu, terjadi kegaduhan sebenarnya, Jeno ingin tidurnya dengan Renjun saja. Masalahnya ada Jaemin. Inginnya sih... sewa extra bed aja. Tapi, Jaeminnya yang gak mau. Jadi, deh, si Jeno keluarin kantong lagi, untuk Jaemin.

Trus, kenapa Noren ada di kamarnya? Itu karna, selepas makan siang itu tadi, Jeno tetap kukuh tidak mau membuka pintu kamar untuk Renjun, iya, sehabis di jalan itu, Jeno ada di kamar ternyata. Alhasil, Renjun stay di kamarnya Jaemin. Selang 5 menit kemudian, itu kakak sepupunya Jaemin, langsung menyembur pada Renjun. Jaemin sih, kek merasa aura ke-semenya Jeno kek hilang gitu. Masa semengambek sih?

"Aish... KALIAN BERDUA! BISA DIAM GAK SIH?" Jaemin akhirnya keluar suara. Seketika suasana hening.

"Neo! Hyung! Jangan percaya deh! Masa sih Renjun bisa berpindah ke lain hati, padahal orangnya juga udah entah kemana. Dan, Junnie, loe jangan ngerjain Jeno lagi deh. Puyeng gue nanti."

KRIK... KRIK... KRIK...

Yeap! Noren hanya diam seribu bahasa. Tidak ada kata-kata, Jaemin berkacak pinggang setelah berdiri dari kasurnya. "Hah..." desah Jaemin dan mendorong pasangan itu keluar dari kamar hotelnya lalu menguncinya dengan rapat.

"Melelahkan saja. Jangan sekarang deh, keluar jalan-jalannya jam 4 aja." kata Jaemin dan menghempaskan badannya diatas kasur lalu larut dalam mimpi.

_Love From Airport_

"Mark," panggil Jaehyun sambil menyembulkan kepalanya dari belakang pintu.

"Apa sih, hyung? Habis ini kan masih ada pertemuan makan malam kan?" tanya Mark sambil membolak-balikkan berkas tersebut dan menandatanganinya.

Jaehyun duduk didepan Mark dengan meja sebagai pembatas. "Masalah Jaemin, hyung sudah mendapatkannya."

Congrats, Jay! Perkataanmu langsung membuat Mark membeku seketika. Kedua matanya membulat dan ada titik kesenangan disana.

"Serius, hyung. Dia dimana?"

"Di Ottawa. Mark, untuk apa kamu mencarinya?" tanya Jaehyun sambil duduk diatas sofa, berpindah tempat.

"Sedikit bermain-main dengannya. Hyung tahu dia kapan balik ke Korea? Aku tahu, dari tubuhnya ada kemungkinan dia itu pelajar." kata Mark.

"Maybe... 3 days more, 5 days more, or maybe... a couple of weeks. I don't know. Should I find it when?"Mark hanya menampilkan senyum tipis, yang mampu membuat Jaehyun mendengus, "Aku hyungnya. Tapi, kenapa seperti aku itu babunya.".

"Hyung, Tae hyung meminta oleh-oleh jika balik nanti. Katanya sih dia mau yang sesuatu yang lain." kata Mark yang membuat Jaehyung hanya mengangguk.

"Aku tahu dia itu sesuatu. Mark, sudah waktunya untuk meeting dengan Johnny. Katanya ada masalah di tanah yang baru dibeli appa dua minggu yang lalu."

"Masalah apa? Astaga,... Appa memang sedikit membebankan diriku saja. Ya sudah, hyung ingat tentang Jaemin. Katakan padaku kapan ia balik, masalah disini akan beres deh." kata Mark yang mengambil jas hitam yang tergantung disebelahnya, lalu menutup pintu tanpa berpamitan dengan Jaehyun.

Jaehyun mendengus, "Apa salahku sebenarnya? Sampai menjadi babunya Mark." kata Jaehyun sambil menekan digit nomor diponselnya.

"Hallo, Doyoung-ah. Bisa bantu aku?"

"Ne. Wae, Jay?"

"Adik gue berulah lagi. Sekarang, dia lagi gencar sama entah siapanya Jeno."

"Jeno? Kok gue kek pernah dengar nama ini ya?" tanya si penyebrang telepon, Doyoung.

"Tentu loe pernah dengar nama Jeno. Kita itu seangkatan dengannya tahu. Itu lho yang... si ketua ketertiban berusaha deketin Huang Renjun, adik kelas kita, sampai didekap diruangannya pula."

"Jeno... Huang Renjun... Jeno... Oohhhh... Jenoooo... aku ingat siapa dia sekarang. Hah, emang kenapa? Kenapa harus nyangkut ke dia?"

Jaehyun berusaha sabar untuk menghadapi sohibnya, "Adik gue, Mark... Lagi gencar-gencarnya deketin orang yang entah siapanya Jeno."

"Lha? Terus, loe mau gue lakuin apa? Jadi spy gitu? Mata-matain orang yang loe bilang entah siapanya Jeno?"

"Loe itu emang sohib gue dah, Young. Loe tahu persis gue mau loe buat apa." kata Jaehyun yang membuat Doyoung menghela nafas bahkan, Jaehyun sendiri mendengarnya.

"Iya... iya... Cuman, nih orang yang entah siapanya Jeno gak jelas nih identitasnya. Bantuin gue, Jay."

"Masalah itu, tenang, Young. Nanti malam jam 7 di Hidden cafe. Arraseo?" tanya Jaehyun yang telah memberi tanda untuk sebentar kepada Mark, karna, mungkin ada sesuatu.

"Arra, Jay. Don't be late." kata Doyoung yang sedikit mendengus kesal, karna, pernah sekali, Jaehyun telat di pertemuan mereka selama sejam, hanya karna, Taeyong merengek pada sohibnya ini.

Jaehyun hanya terkekeh geli lalu menutup hubungannya.

"Ada apa Mark?"

NA

#Holaaaaaa... Udah di-up, Hyuna tahu ini cukup lama. Soalnya ini memang selingan doang sih.

#Seperti biasanya, Sorry for typonya, alur yang tidak memuaskan, dan banyak lagi. Karna, memang fic ini banyak kurangnya.

#Last but not least,... Hyuna gak bosen untuk terus minta tolong untuk reviewnya. Soalnya tanpa review, Hyuna bisa down untuk menulis kelanjutan cerita.