Chapter 05
"WE"
_Love From Airport_
Mark kembali masuk kedalam ruangannya, tepat setelah Jaehyun memutuskan komunikasinya.
"Hyung, siapkan heli untukku." kata Mark yang memakai jasnya kembali. Jaehyun merengut bingung.
Untuk apa anak ini membutuhkan helikopter pribadinya?
"Kita akan bertemu dengan Jaemin." kata Mark dengan senyum yang berseri-seri. Jaehyun sendiri hanya mengangguk seperti orang bodoh.
"Kamu yakin akan bertemu dengan Jaemin sekarang? Tidak mau hyung bertanya dulu?" tanya Jaehyun sekali lagi.
"Kalau hyung bertanya pada Doyoung hyung kan untuk berbicara dengan Jeno saja." kata Mark yang membuat Jaehyun segera menyiapkan heli untuk adik yang kurang ajar ini.
_Love From Airport_
Jaemin ditendang dari kamar hotelnya oleh Renjun. Pasangan Noren itu kembali berulah. Kali ini Jeno yang memancing amarah Renjun, Jaemin bahkan belum bertanya kenapa Renjun misuh-misuh sambil masuk kekamar hotel Jaemin seenak jidatnya.
"JAEMIN, KELUAR!"
Jaemin sendiri sebenarnya ingin sekali, berteriak pada Renjun seperti...
"INI KAMAR GUA! KENAPA GUA YANG KELUAR WOI? HARUSNYA ITU ELU!"
Tapi, diurungin saat lihat Renjun dengan mata yang berkaca-kaca. Jaemin dengan berat hati meninggalkan kamarnya, setelah mengambil dompet, ponsel dan mantel tentunya.
Diluar sudah jam enam sore. Langit hampir gelap. Mana tadi ketukan pintu kamar Jeno yang dilakukan oleh Jaemin sama sekali tidak dijawab oleh sepupunya yang kampret itu.
Jaemin tidak takut sih kalau harus keluar jam segini. Tapi, ini bukan di Korea. Ini di negara orang lain. Gimana kalau Jaemin tersesat? Diculik oleh orang asing? Lebih parahnya dijual?
Lumayan kalau yang membeli itu cowok ganteng, kalau om-om? Lebih parahnya pedo pula? Jelek lagi? Jaemin mau modar saja.
Tapi, jangan sampai dijual deh. Kan mama papanya Jaemin masih sayang dengan Jaemin.
"Jalan-jalan kesekitaran sini saja deh. Atau tanya dimana taman terdekat kali ya?" tanya Jaemin yang lebih berbicara pada dirinya sendiri.
Jaemin turun hingga ke lantai paling bawah dan menghampiri customer service yang ada.
"Excuse me," kata Jaemin dengan ragu-ragu. Seorang pegawai yang berdiri disana langsung menatap Jaemin dengan ramah.
"Yes. May I help you?"
Gilaaaaaa
Didepannya ini cowok ganteng woi. Wajahnya bule-bule gimana gitu. Jaemin melirik tanda pengenalnya.
Vernon.
Digebet, jangan?
"May I know where is the nearest park?"
Vernon mengangguk, "Sure. You may turn left after you find a minimarket beside our hotel. After that go ahead, there is the nearest park." jawab Vernon.
Jaemin mengangguk mantap. Begini-begini juga Jaemin belajar bahasa Inggris dengan serius.
"Thanks."
Jaemin berjalan keluar hotel dan melangkah sesuai dengan perintah Vernon tadi.
Jaemin telah sampai di taman. Memang sampai ditaman sudah gelap. Tapi, yang membuat Jaemin aneh. Apa pemerintah negara tidak menyediakan fasilitas lampu jalan? Kenapa taman ini gelap sekali?
"Excuse me,"
Jaemin tidak berbicara, melainkan ornag asing, yang tampaknya merupakan penjaga taman ini.
"Yes." kata Jaemin.
"We are closed now." kata penjaga taman itu membuat Jaemin merengut.
"But, may I know your name?" tanya penjaga taman itu.
"Sure. My name is Na Jaemin." kata Jaemin dengan ragu. Untuk apa namanya?
"Your cousin?"
"Eum... Lee Jeno." kata Jaemin dengan mantap. Walaupun ia ingin menjawab dengan sepupu yang lainnya. Namun, Jeno yang membawanya kemari.
"You may go in." kata penjaga taman itu dengan sedikit memundurkan dirinya.
Jaemin menampilkan wajah bingung. Serius ini? Hanya karena namanya dan Lee Jeno dia bisa masuk?
Penjaga taman itu menggoyangkan kepalanya sekali untuk memastikan bahwa Jaemin boleh masuk.
Jaemin tersenyum kikuk, dan berjalan masuk.
Gelap.
Serius ini mah. Jaemin bahkan hampir tersandung batu tadi. Jaemin berkeliling hingga ia tidak sadar kalau ia berada ditengah-tengah taman.
SPLASH
Jaemin tersentak kecil. Lalu menoleh kebelakang. Ia baru sadar kalau dibelakangnya adalah air mancur, dengan lampu warna-warni yang menyinari dari bawah.
TEK
TEK
TEK
Jaemin semakin bingung. Ketika didepannya ada sebuah karpet yang digelar dengan ntah dimana ujung karpet itu karena ia berbelok dari gerbang pintu yang terbuat dari ranting kayu dan daun. Sejenis seperti red carpet.
Yang membuatnya menganga, adalah... disamping karpet itu, ada bunga kecil yang bersinar karena didalamnya diberi lampu.
"Terpesona?"
Jaemin menoleh ke gerbang pintu tersebut. Disana berdiri seorang pria dengan setelan jas yang rapi. Tidak seperti Jaemin, kaus warna putih dengan celana training warna hitam, mantelnya berada disikunya.
Pria tersebut berjalan mendekati Jaemin melalui karpet tersebut. Kenapa Jaemin meraa familiar dengan pria ini?
"Melupakanku?" tanya pria itu lagi. Sialnya Jaemin tidak menjawab sama sekali.
Hingga saat pria itu berada didekatnya, Jaemin baru sadar. Kalau pria ini yang tidak sengaja menjadi korban pukulan Jaemin di bandara.
Jaemin langsung menunduk. "Mau apa kamu?" tanya Jaemin dengan pelan.
Pria itu tersenyum misterius, semakin mendekat pada Jaemin, mencondongkan wajahnya ke telinga namja manis itu, "Make you become mine." bisik pria itu dengan baik, hingga Jaemin merinding seketika.
"Bu the way, kamu boleh panggil aku, Mark." kata pria tersebut.
"Aku..."
"Na Jaemin. Aku tahu." Mark menyela dengan kurang ajarnya. Jaemin menunjukkan raut bingung.
"Tidak perlu bertanya, kamu juga akan tahu jawabannya nanti."
Jaemin menggigit bibirnya pelan. "Apa yang mau kamu bicarakan disini?" tanya Jaemin.
"Kamu tahu pepatah orang yang mengatakan kalau falling in love by the first sight?" tanya Mark.
Jaemin mengangguk, "Aku tahu. But, I don't believe it."
Mark mengangguk, "Aku juga tidak percaya. Maka dari itu, aku ingin kamu membuatku percaya kalau itu adalah hal yang nyata."
"NE?"
Mark terkekeh geli, "Aku tidak bercanda lho. Aku serius. Aku sampai sekarang tidak percaya, tapi, aku merasakannya. Tugasmu adalah membuatku yakin kalau aku telah jatuh cinta..." kata Mark yang terhenti sebentar karena membiarkan Jaemin mencerna maknanya.
"Dan itu kurasakan padamu." kata Mark yang menyelesaikan kalimatnya.
"Jadi, kamu mau membantuku?" tanya Mark yang membuat Jaemin menjadi orang bodoh.
"Kamu juga harus membantuku merasakannya juga, Mark." kata Jaemin yang tentu saja dibalas dengan senyuman Mark yang tampan.
"Tentu, baby."
"Thankyou..."
Love From Airport
The End
AN:
# Yeayyy tamattttt akhirnya.
# Setelah dipikir-pikir mending sekarang saja end nya. Daripad entar aku bawa-bawa, dan membiarkan kalian ditengah kebingungan.
# Maaf mengecewakan.
# Kolom review adalah kolom khusus buat kalian untuk menghujat saya, INGAT SAYA SEBAGAI AUTHOR, BUKAN MARK, RENJUN, JENO, JAEMIN, meminta saya untuk melakukan yang kalian inginkan.
# Aku menunggu kalian yeorobunnnnn
