Regrets
Kecilakaan yang menimpanya tak lepas selalu menjadi pemikiran disetiap waktunya. Mengingatkannya pada setiap penderitaan yang selalu dialami oleh Hinata selama ini. Semenjak kecilkaan itu ia menjadi sosok lain, selama sebulan ia memutuskan untuk tidak memasuki sekolah. Tubuhnya rapuh dan ia ingin sendiri untuk merenungi setiap kejadian demi kejadian yang selama ini ia lewatkan.
Setelah percekcokan kedua orang tua Hinata, ia memilih untuk menyewa apartement ketimbang untuk pulang kerumah dan harus bersitatap dengan ibu tiri dan saudari tirinya. Mana sudi Hinata harus menggantungkan dirinya pada orang asing seperti ibu barunya itu. Meski Hiashi selalu mengomel dengan memaksa Hinata untuk dirawat dirumah tetapi dengan tegas Hinata menolaknya. Ibu Hinatapun turut andil menyetujui kemaunan anaknya karena ia akan tinggal bersama diapartement untuk mengurus Hinata sementara. Selama seminggu itu juga, selebihya karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan ibu Hinata harus kembali ke New Zeland, dan terpaksa menyerahkan Hinata kepada suster yang disewanya.
Karin, Ino, Shion dan Tenten keempat siswi itu tak pernah absen untuk selalu berkunjung ke apartement baru Hinata. Mereka kadang membolos dan berdiam diri dari pagi yang seharusnya mereka habiskan menimba ilmu di sesekolah tetapi mereka lebih mengahabiskan waktunya di apartement Hinata sampai paginya kembali. Namun selama mereka berkunjung ke apartementnya Hinata selalu berdiam diri meski keempat sahabatnya selalu mengajaknya untuk sekedar bercanda.
Saat malam hari Hinata selalu tiba-tiba menangis, bahkan kedua matanya seperti mata panda seperti orang yang tak pernah menjamah bantal. Suster yang menjaganya sedikit khawatir dengan kondisi Hinata yang tak ada semangat sama sekali.
Ia berpuluh-puluh kali selalu berkata maaf. Seperti orang yang begitu menyesali perbuataanya yang sangat sulit dimaafkan. Kejadian kecilakaan itu penyebab utamanya, ia seolah ditampar untuk mengingat masalalu. Kesalahan apa yang sudah diperbuatnya, sampai ia selalu dihantui hal-hal yang begitu menguras pikirannya.
.
Pagi yang cerah, matahari menyilaukan ruangan makan dari sinar sang surya yang berhasil menysup dari jendela. Beberapa makanan tersaji masih hangat dan mengepul di atas meja makan. Pagi-pagi sekali sahabat Hinata, Ino Yamanaka datang berkunjung keapartement Hinata sambil membawa bungkusan yang berisikan makanan yang baru saja dipasak dirumahnya.
Tenten, Shion dan Karin baru saja sampai. Ino sengaja menghubungi mereka untuk sarapan bersama di apartement Hinata. Mereka begitu bersemangat mengingat hari ini adalah hari pertama Hinata untuk kembali bersekolah. Selama merenung sebulan dan mendapakan perawatan intensif akhirnya Hinata sudah benar-benar sembuh.
"Waah Ino-chan pasakan mu benar-benar mantap!" Seru Shion sambil melahap besar makanan yang berada dimangkuknya. Ino hanya tersenyum menerima fujian dari salah satu sahabatnya. Ino beberapa kali memindahkan makanan keatas piring Hinata "Nah Hinata-chan kau harus banyak makan!" Ucap Ino. Hinata mengangguk sambil tersenyum dan melihat satu persatu kearah sahabat-sahabatnya yang begitu lahap memakan masakan Ino. Hinata merasa bahagia, sahabatnya berhasil menciptakan suasana kekeluargaan yang salama ini ia harapkan. Selama acara sarapan berlangsung mereka saling melontarkan kata-kata bersifat candaan sampai waktupun tak terasa hingga makanan yang tersaji di atas meja itu ludes tak bersisa. Mereka layaknya seperti tidak mendapatkan makanan selama berhari-hari, begitu lahap seolah makanan itu tak akan pernah bisa mereka cicipi kembali.
Mereka berhasil menghabiskan makananya. Meski Shion beberapa kali mengeluh karena program dietnya tidak berjalan lancar jika sudah menyantap makanan Ino. Sahabat lainnya hanya tertawa saja melihat Shion yang begitu menderita.
Setelah semua selesai mereka segera bergegas untuk berangkat kesekolah. Mereka akan menggunakan bus untuk pergi kesekolahnya, hal itu yang sangat di idam-idamkan mereka, selama ini mereka selalu diantarkan oleh supir pribadi, dan kali ini menjadi waktu yang tepat untuk menaiki bus. Selama perjalanan mereka tak henti-hentinya bercanda sambil kadang-kadang membully Shion yang selalu saja bertingkah konyol. Perjalanan menuju kesekolah tak membutuhkan waktu lama, sekitar 20 menit berlalu mereka telah sampai kedepan gerbang sekolah.
Kali ini mereka menjadi pusat perhatian siswa dan siswi, keabsenan Hinata salama sebulan membuat mereka selalu berkasak kusuk membicarakan komplotan yang paling ditakuti itu, kali ini gengs itu kembali beranggotan lengkap.
Sasuke, Naruto, Shikamaru baru saja tiba di parkiran mobil. Seperti biasa aura Sasuke sebagai idola sekolah begitu menjadi titik fokus para siswi untuk mengagumi ketampanannya. Hari ke harinya Sasuke semakin tampan saja, apalagi pemuda itu tampak menjadi semakin pendiam. "Hoy, apa Hinata sudah kembali bersekolah?" Tanya Naruto pada Shikamaru yang tampak bermuka bantal.
"Mana ku tahu, bukan urusanku!" Jawab Shikamaru cuek sambil berlalu menyusul Sasuke yang sudah jalan terlebih dahulu. Naruto mendengus sebal dengan tingkah-tingkah sahabatnya yang tak mau memancarkan aura kegembiraan.
"Teme, tunggu!" Teriak Naruto sambil berlari menyusul kedua sahabatnya itu.
Sasuke tampak tak mengubris perkataan Naruto ia terus melangkahkan kakinya. Hingga, ia bersitatap dengan Hinata yang kini tengah berjalan didepannya bersama sahabat-sahabatnya. Namun, Sasuke bukannya berhenti ketika Hinata tersenyum kearahnya ia malah berjalan melewatinya begitu saja, seolah ia tak pernah ada kejadian sebelumnya "Lihat Hinata, apa dia terlihat akan mengucapkan terimakasih" Ucap Karin dengan sedikit volume ditinggikan agar Sasuke mendengarnya. Pemuda itu tak acuh ia semakin melangkahkan kakinya, dibelakangnya disusul kedua temannya yang hanya melirik sekilas seolah apa yang dilakukan Sasuke sudah benar.
"Manusia macam apa itu!" Ucap Ino kesal. Lihat Hinata, dia tidak begitu mempermasalahkan sikap Sasuke terhadapnya barusan, seolah hal itu memang akan ia terima. "Sudahlah, ayo kita kekelas" Balas Hinata cuek, setelah itu ia berjalan duluan untuk memasuki kelasnya yang terhalangi dua ruang kelas lagi.
.
Waktu istirahat memang yang ditunggu-tunggu semua peserta didik sekolah. Apalagi saat pagi yang tidak sempat sarapan menjadikannya timing yang tepat untuk segera mengisi perut yang sudah terasa sangat keroncongan, di tahan selama empat jam selama pembelajaran pertama dan kedua berlangsung bisa dibayangkan bagaimana cacing-cacing diperut itu minta diisi. Hinata dan kawannya berhubung sudah sarapan saat pagi tadi, tidak membuat gerombolan itu tergesa-gesa untuk segera kekantin, melainkan mereka menghabiskan waktunya untuk mencari tempat yang nyaman sambil berulah pada siswi atau siswa yang menurut mereka mengesalkan. Namun Hinata tidak akan memilih opsi itu, ia akan berulah hal lain, ke empat sahabatnya sebenarnya tidak tahu Hinata akan melakukan apa, tiba-tiba saja mereka di ajak ketengah lapang -kecuali Ino yang tidak berhasil diboyong karena ia sedang ada urusan sebentar, setelah sebelumnya Hinata ke ruang osis untuk mengambil toa speaker.
"Hinata kau akan melakukan apa sih?" Tanya Shion sambil menutupi kepalanya dengan kipas Ino yang berhasil ia ambil dari tangan Ino sebelum ketengah lapang, di saat matahari terik seperti itu sebenarnya apa yang tengah Hinata lakukan pikir ketiga sahabatnya. "Seperti biasa aku akan mengganggu ketenangan Sasuke" Ucap Hinata sambil mencengir lebar, mendengar alasan Hinata barusan membuat Karin diterpa kesal, padahal ia sudah mati-matian menceramahinya agar ia menyerah saja "-oh ayolah Hinata! Aku muak mendengarnya" Timpal Karin. Tapi, Hinata tak menggubrisnya ia malah mulai bersuara.
"Hoy Sasuke!" apa kau mendengarku! Jika kau mendengarku. Tolong dengarkan perkataanku baik-bak" Ucap Hinata, membuat semua siswa-siswi segera mengalihkan fokusnya ketengah lapang dimana dibawah teriknya matahari ada Hinata yang tengah beraksi, beberapa siswa dan siswi ada yang antusias bahkan mereka mengerebuni Hinata meski cuaca begitu panas.
"Sasuke, sampai kapan kau akan buta! Lihatlah sayang aku begitu menyukai mu" Lanjut Hinata kembali, kali ini berada di atas kursi yang dibawa siswa lain yang turut menyemangati Hinata.
"Ck, benar-benar deh!" Ucap Karin sambil berdecak kesal. Berbeda dengan Shion dan Tenten yang tampak berantusias ria mendukung Hinata.
"Sasuke-kun, bolehkah aku memanggilmu seperti itu! Hahah tentu sajakan, karena selama ini tak ada yang bisa melarangku" Ucap Hinata sambil tertawa. Disaat seperti itu tiba-tiba terdengar suara riuh saat mereka melihat Sasuke yang berwajah datar tengah berjalan ketengah lapang.
"Ternyata akhirnya kau berani muncul" Ucap Hinata begitu Sasuke sampai didepannya "Hah! Sebenarnya aku tak akan berkata ini yang terakhir tapi ini menjadi kata seribu kalinya saat aku mengatakan bahwa aku sungguh mencintaimu!" lanjut Hinata kembali dan membuat ia diberikan tepukan dari semua siswa dan siswi. Namun, setelahnya penonton mendesah kecewa saat Sasuke menarik Hinata dari sana, dan pergi meninggalkan lapangan.
"Hinata mau di bawa kemana!" Seru Shion kepada sahabatnya yang kini tengah melihat kemana Sasuke membawa Hinata.
"Entahlah, aku tidak tahu!" Jawab Karin cuek sambil berjalan meninggalkan lapangan, semua siswa dan siswi yang menggerebuni itupun kini bubar.
Hinata yang di bawa Sasukepun kini tengah berhenti dimana ada Sakura yang tengah berada di kantin. Hinata tak mengerti dengan tarikan Sasuke yang membawanya ke kantin, tak berapa lama pertanyaan Hinatapun terjawab Saat Sasuke menarik Sakura dan menciumnya tepat dihadapannya bahkan didepan semua pengunjung kantin termasuk sahabat-sahabat Sasuke seperti Naruto, Shikamaru, Gaara dan Kiba.
Hinata mengalihkan tatapannya kearah lain, melihat hal itu secara langsung membuat hatinya serasa tercubit. Hinata mundur selangkah, tiba-tiba lututnya lemas melihat hal itu. Tetapi tiba-tiba penglihatannya menjadi gelap saat ada sebuah jaket yang tiba-tiba menutup kepalanya. Membuat Hinata segera melepaskannya dan melihat kearah siswa yang hanya bisa ia lihat punggungnya tapi ia tahu siapa sosok itu bukankah itu siswa intovrted Utakata yang kebetulan sekelas dengannya.
Kejadian yang benar-benar membuat semua tak bisa percaya. Kejadian pertama saat Sasuke mencium Sakura, yang kedua sangat sulit dipercaya siswa introvert seperti Utakata mau berrepot-repot menutupi hal yang begitu menyakitkan bagi Hinata "Hwaa apa yang tengah terjadi!" Ucap Naruto kemudian.
Hinata tak mengerti niatan pemuda itu, apa ia mengejek dirinya. Sialan! "Hinata sudahkah kau mengerti, ku harap kau tak mengganggu lagi!" Ucap Sasuke, mengabaikan tatapan Sakura kepadanya.
"Cih, terserah! Kau melakukan hal sia-sia" Jawab Hinata, setelah itu ia meninggalkan tempat itu untuk mengejar si pemuda kurang ajar. Hinata berlari sambil menenteng jaket milik orang itu. Tujuan utama adalah kelas, tetapi eksistensinya tidak terlihat, Hinata berlalu begitu saja mengabaikan tatapan tanya Karin. Hinata berpikir keras, dimana ia bisa menemukan pemuda itu, bukankah ia adalah siswa pendiam biasanya karakter seperti itu menyukai hal-hal yang tidak begitu ramai, seperti hal nya atap sekolah.
Utakata, pemuda itu sedang tertidur di atas kursi kayu panjang sambil menggunakan headset di telinganya. Hinata berjalan menghentak-hentak begitu sampai di atap sekolah, di sana ia melihat Utakata sedang tertidur dengan damai sampai ia terusik ketika Hinata menarik headset nya ditelinga. Ia merasa wajahnya tertimpa kain, membuat ia langsung terbangun dari tidurnya. Terduduk dan melihat kearah dimana Hinata berada.
Haish! Hinata mendengus ketika ia bersitatap dengan Utakata. Meski pemuda itu bisa dikatakan tampan dan cool selera para gadis. Tapi ia merasa muak melihat berwajah tampan itu.
Ekpresi tampang Utakata tak berubah, hanya ia mengeryitkan sebelah alisnya seolah menandakan keheranan melihat Hinata ada di hadapannya.
"Heh pendiam! Kau ingin menantangku?" Ucap Hinata lantang.
"Cih, apa-apaan kau!" Jawab Utakata cuek, ia berdiri berniat meninggalkan Hinata.
"Jelaskan maksudmu melakukan hal tadi!" Hadang Hinata. Ia merentangkan tangannya mengahalangi laju jalan pemuda itu yang kini menatapnya datar.
"Sudahlah, tak usah so tak membutuhkan hal itu, kau itu perempuan paling menyedihkan" Ucap Utakata yang berhasil membuat Hinata melebarkan matanya. "Kau tau usah berekpresi hal apapun dihadapanku karena aku sudah bisa menebaknya!" Tambah Utakata sambil menepis tangan Hinata yang direntangkan setelah itu ia berjalan meninggalkan Hinata.
Hinata benar-benar shock, kenapa pemuda kurang ajar itu bisa mengetahuinya. Apa dia cenayang, atau selama ini ia stalkernya , Hinata mengerjap dari lamunannya, ia lihat kembali kearah dimana pemuda itu tengau berjalan, jaketnya masih tergeletak di atas kursi kayu panjang itu.
"Haish! Hari ini mengesalkan" Ucap Hinata sambil mengusap wajahnya kasar.
.
Yamanaka Ino, sedari tadi eksistensinya tak terlihat. Kemanakah si surai pirang itu? Urusan apa yang tengah dilakukannya. Tak ada yang mengetahui keberadaan siswi itu, kecuali Haruno Sakura yang kini tengah menatap punggung rikih itu tengah memasukan bingkisan ke dalam loker milik seseorang yang ia kenal. Sakura mendekatinya segera, dan hal itu membuat Ino yang berprilaku mencurigakan itu terperangah kaget saat ia mendapatkan tepukan di bahunya, segera ia menoleh dan melihat Sakura yang tengah tersenyum tipis, setelah itu Ino mendengar susulan pertanyaan dari siswi berambut pink itu? "Apa yang sedang kau lakukan?".
Ino berekspresi datar tak bersahabat ketika melihat Sakura. Sakura tak begitu terganggu dengan ekspresi Ino padanya malah ia tersenyum sambil menerka "Kau menyukai Shikamaru ya!" Ucap Sakura membuat Ino langsung membekap mulut Sakura agar ia diam. "Ck, bukan urusanmu!" balas Ino galak, sambil melepas tangannya dari mulut Sakura.
"Sudahlah Ino-chan, kau tak usah mengelak!" Ucap Sakura kembali, dan Ino malah berlalu meninggalkan Sakura, sampai ia berhenti melangkahkan kakinya ketika Sakura kembali bersuara "Aku bisa membantumu untuk dekat dengannya!"
Sakura berjalan mendekati Ino yang terdiam, lalu ia merangkul pundak Ino, so akrab sekali! " Ku dengar kau suka memasak? Akupun sama suka memasak" Ucap Sakura masih sambil merangkul pundak Ino, namun kali ini mereka sambil berjalan, keterdiaman Ino seolah menyetujui apa yang tengah di tawarkan oleh Sakura mengingat gadis itu adalah sahabat pemuda yang disuakinya.
"Kadang aku suka memasak makanan untuk Shikamaru! Aku tahu percis makanan kesukaannya. Jika kau berniat mendekatinya aku bisa membantumu!" Entah apa niatan Sakura, setiap kata per katanya berhasil membuat Ino untuk menyetuji apa yang di tawarkannya itu.
Saat pulang, seharusnya Hinata dan keempat sahabatnya pulang bersama, tapi kali ini Ino lagi-lagi absen dengan alasan urusannya belum selesai, Hinata dan yang lainnya mengangguk mengerti. Setelah kepergian Hinata dan yang lainnya Ino menghubungi Sakura yang katanya akan mencoba membuat masakan yang akan diberikan kepada Shikamaru.
Sasuke, Shikamaru dan yang lainnya. Mereka di ajak untuk berkumpul di rumah Gaara, setelah sebelumnya Gaara di hubungi oleh Sakura yang mengajaknya untuk makan-makan di rumah Gaara, pemuda bersuarai merah itu setuju-setuju saja mengingat rumahnya selalu sepi.
Semuanya tercengah ketika melihat Yamanaka Ino tiba-tiba datang bersama Sakura, para lelaki tiba-tiba merasakan aura tidak beres, apakah kawanan lainnya akan datang dan merusak acaran makan-makan mereka.
"Kenapa kau berekpresi seperti itu Naruto?" Tanya Sakura ketika melihat Naruto yang berekpresi tegang ketika melihat Ino. "Ino-chan datang sendir kali ini, kami sedang berniat membuat resep baru untuk di ajukan di club memasak!" Ucap Sakura, yang tanpa sadar mengendorkan aura tegang para lelaki pengecualian Sasuke yang bersikap biasa saja sedari tadi.
"Ayo, Ino-chan kita ke dapur" Ajak Sakura mengurangi kecanggungan anatara Ino dan para lelaki yang memang sadari dulu dongkol dengan Ino bersama sahabat lainnya.
Sasuke sedari tadi diam, bahkan saat sahabat-sahabatnya mulai mengerebuni playstations milik Gaara. Sasuke malah beranjak dari duduknya untuk pergi keluar, kali ini ia merasa bosan berada disana ia memilih untuk pergi, kepribadiannya yang cuek tak membuatnya repot-repot untuk berpamitan pada sahabatnya. Sebenarnya ia tengah gundah karena menyesal tengah melakukan hal yang membuat seseorang sakit hati, tapi apa boleh buat hal itu adalah kebaikan untuknya.
Sasuke memasuki mobilnya yang berada di halaman depan rumah Gaara, ia terdiam di dalam mobilnya sambil mengingat kilasan dimana ia tengah mempermainkan seseorang yang lainnya.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan" Ucap Sasuke sambil memukul setir yang digengamnya. Ingatannya mengenai siang tadi saat dikantin dimana ia menarik Sakura yang dijadikannya pelampiasannya terhadap Hinata. Sasuke tak bisa pura-pura buta mengenai perasaan Sakura terhadapnya, ia bisa menebak bahkan tak harus berlarut memikirkannya selama ini Sakura menunjukan secara terang-terangan bagaimana ia menyukainya meski tak seprontal Hinata, melihat kelakuan dan perhatiannya saja Sasuke bisa tahu.
Penyeselan selalu datang terlambat. Itualah pepatah orang-orang bilang, agar bertindak hati-hati dan tidak gegabah agar saat nantinya tidak merasakan penyesalan. Sasuke merutuki kebodohannya, dengan tindakannya tadi mencium sepihak Sakura bahwa ia seolah memberikan hal palsu padanya, apalagi sampai saat ini ia dan Sakura belum bicara untuk meluruskan, bisa saja gadis itu menganggapnya sebagai pengalihan untuk Hinata berhenti tapi kali ini berbeda karena saat itu Sasuke menatapnya tulus seolah tidak ada kebohongan dimatanya. Salahkan Hinata yang memang membuatnya bertindak bodoh seperti itu, dan sialnya Sasuke malah melihat Sakura seperti Hinata orang yang selama ini sangat dicintainya.
Berlama-lama berdiam diri merutuki kebodohannya didalam mobilnya. Ia merasa pening dan membutuhkan distraction . Haish kenapa saat ini ia ingin melihat Hinata, selama sebulan penuh ia menjadi seorang pengecut dan menemuinya secara diam-diam. Sasuke merutuki tindakannya pada Hinata, seharusnya ia melebarkan pelukannya pada Hinata menerimanya dengan tangan terbuka, andai saja Hinata tak seperti main-main padanya saat dulu mungkin ia akan tak serepot ini seolah pura-pura tak balas mencintainya. Sasuke bisa bersumpah! Sejak awal Hinata menaruh minat padanya meski hanya untuk pelampiasannya untuk cari perhatian ia sudah jatuh cinta pada Hinata, Sasuke tidak buta terhadap gadis itu menurutnya Hinata adalah orang berhati lembut aslinya hanya saja sesuatu hal telah merubahnya.
Sasuke melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Gaara, ia ingin mengunjungi tempat seseorang, seseorang yang telah meninggalkannya selama-selamanya!
"Aku membutuhkanmu Matsuri!" siapa nama permepuan yang dikatakan Sasuke itu?
Tbc
Yuk review, jika ada kekecewaan di chapter ini! Utarakan saja. Hehe..
