Fade into You

(Fade #1)

(Remake)

Chanbaek's fanfiction based of novel by Kate Dawes

Jadi, ini bukan murni ceritaku. Aku hanya me-remake dari novel karya Kate Dawes dan mengganti nama dalam cerita dengan nama anggota EXO dan lain-lain.

Cerita seluruhnya karangan Kate Dawes

GS, M rated.

*

Chanyeol dan aku akhirnya berada di area bar kecil yang dikelilingi oleh kaca. Ruangan itu penuh dengan musik piano live. Ketenangan ini memberi jeda yang bagus dari pengaruh energi tak henti-henti lantai kasino.

Ini gelas kelima dari anggur yang ku minum. Aku bukan seorang peminum, mungkin harus berhenti di gelas ke empat. Mungkin ketiga. Tapi disinilah aku, meminum lima gelas anggur dalam hitungan hanya dua jam, sementara Chanyeol menikmati White Russian-nya.

Sial, apa yang sebenarnya sudah kulakukan, aku tak tahu. Aku sudah

melebihi batasku menghabiskan waktu sendirian dengan seorang pria seperti ini. Kupikir akan ada banyak pembicaraan bisnis, tetapi dalam waktu kurang dari sepuluh menit ia mengajukan pertanyaan-

pertanyaan yang tidak akan kusangka-sangka.

"Kenapa kau single, Baekhyun?"

"Mungkin aku tidak single." Aku memutuskan untuk bersikap main-main, daripada mengatakan yang sebenarnya: Oh, pacarku satu-satunya berselingkuh tiga kali dan kemudian membuatku ketakutan sampai aku harus pindah ke luar kota, pada dasarnya mengusirku

keluar dari kota, dan sejak itu aku belum pernah berkencan, dan ngomong-ngomong di setiap tidurku aku bertanya-tanya apakah aku akan pernah benar-benar percaya pada seorang pria lagi karena Daehyun telah menyembunyikan jati dirinya yang gelap dengan begitu baik,

meskipun kupikir aku mengenal jiwanya. Masih tertarik?

Dia tersenyum tipis. "Kau tidak memakai cincin di jarimu." Dia mengambil tanganku dan ibu jarinya membelai tempat kosong dimana cincin itu akan berada. "Dan kau datang ke sini tidak dengan seorang pria."

Aku mendongak dan membalas tatapannya. "Ini adalah weekend khusus cewek. Menjauh dari pacar masing-masing selama beberapa hari."

"Benar." Matanya mengungkapkan rasa gelinya. Dia bisa melihat jauh ke dalam diriku.

"Dan kau ke sini dengan siapa?"

Dia memandang sekeliling bar, lalu kembali menatapku. "Kau."

Chanyeol menyentuhku, dan cara dia berkata "Kau," sarafku langsung kesemutan. Aku menyilangkan satu kaki ke kaki lainnya, dan tekanan di antara kedua kakiku memicu riak kegairahan. Aku belum pernah merasa begitu bergairah hanya karena duduk dengan seorang pria.

Dan sekali lagi, aku belum pernah duduk berdekatan dengan pria manapun yang bisa menyaingi daya tarik seksual seorang Park Chanyeol.

Ini adalah ide yang buruk. Aku perlu untuk mengubah subyek pembicaraan atau keluar dari sana. Terlibat hubungan dengan Chanyeol adalah sesuatu yang bisa menjadi bisnis yang buruk. Dan bahkan mungkin lebih buruk untuk membiarkan dia terus merayuku dan

kemudian menolaknya. Aku tidak hanya harus melindungi diri, tapi juga harus melindungi pekerjaanku.

Dengan sopan aku mengucapkan terima kasih untuk segelas anggur dan berdiri.

"Punya kencan panas yang lain?" Tanyanya.

"Bukankah ini kencan yang panas?"

"Bisa saja."

"Senang berjumpa denganmu, Chanyeol. Tapi aku benar-benar harus pergi. Aku lelah setelah menempuh perjalanan berjam-jam..." Aku melangkah ke lantai kasino.

"Setidaknya biarkan aku mengantarmu kembali ke kamar."

"Baiklah," kataku.

Kami berjalan ke arah lift dan aku tidak bisa berhenti berpikir bahwa ia mungkin mencoba melakukan sesuatu. Untungnya, lift penuh sesak. Sayangnya, kami berdesak-desakan bersama-sama, dengan Chanyeol ada di belakangku. Aku bisa merasakan kejantanannya keras di atas

pantatku.

Ketika membuka pintu kamar hotel, aku berkata, "Luhan mungkin ada di sini. Jadi, sekali lagi terima kasih."

Dia menahan pintu tetap terbuka dan melihat ke dalam kamar dari atas kepalaku. "Dia tidak di sini. Bagaimana kalau sedikit kecupan untuk selamat malam?"

Aku menggeleng. "Maafkan aku-"

Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatnya, ia mencondongkan tubuh ke arahku, dengan cepat, menekan mulutnya ke arah mulutku. Lidahnya memisahkan bibirku dan meluncur ke dalam mulutku. Dia terasa samar-samar seperti minuman Kahlua. Janggut dua hari tak di cukur terasa kasar dan maskulin, perasaan yang sudah lama tidak aku dapatkan. Chanyeol berbau cologne mahal dan itu membuat aku ingin mengubur wajahku di lehernya dan menghirup aromanya.

Aku tahu aku tak sepantasnya seperti itu, tapi aku membiarkan dia terus menciumku. Dan membiarkan dia masuk ke kamar, dan semua pertahananku lepas sudah. Pintu tertutup di belakangnya dengan sekejap, dan dia mendorongku mundur sambil lidahnya menjelajahi mulutku.

Bagian belakang kakiku menyentuh tempat tidur dan aku hampir terjatuh. Dengan gesit lengannya menahanku, dan menurunkanku dengan lembut ke tempat tidur.

Kakiku terpisah dan gaun hitamku naik ke atas, memperlihatkan pahaku padahal malam ini aku tidak berencana memperlihatkannya kepada siapapun. Tangan Chanyeol melilit bagian belakang salah satu pahaku dan dia menetap di antara kedua kakiku. Melalui celanaku,

dan melalui kain celananya, aku merasakan ereksinya terhadapku.

"Tunggu," kataku, menarik mulutku menjauh darinya. "Kita tidak bisa melakukan ini."

"Tidak biasa bercumbu di tempat tidurmu?" Dia menciumku lagi.

Aku meletakkan tanganku di lengannya untuk mendorongnya. Tapi begitu aku merasakan otot bisepnya, aku meremasnya. Dia mengerang. "Kau menyukainya?"

Ya, aku suka, tapi aku tak akan mengatakannya dengan lantang.

"Chanyeol, aku serius."

Dia berhenti menciumku, berhenti menggosokkan dirinya terhadapku.

Tapi disinilah dia. "Aku juga. Aku ingin kau, Baekhyun. Di sini. Sekarang."

Dia menundukkan kepalanya dan lidahnya dalam mulutku, menjilati lidahku.

Aku menutup mataku dan kemudian jariku membelai rambutnya. Aku bisa mendengar jantungku berdetak di telingaku dan udara yang semakin panas yang berasal dari napas Chanyeol yang berat yang membuat ciuman kami semakin panas. Tangannya mengelus pahaku dengan posesif, jari-jarinya membelai tepi celanaku. Ia menarik diri dari ciuman dan menunduk saat ia mengangkat ujung gaunku lebih tinggi, mengekspos kaki telanjang dan celana dalam sutra, yang kini sudah mulai basah.

"Ya Tuhan, Baekhyun. Kau begitu seksi." Suaranya begitu rendah hingga hampir berupa getaran pada saat itu, tubuh kita begitu dekat hingga seolah-olah aku bisa menyerap suara yang dia buat.

Situasi ini benar–benar panas.

Dia mendorongku, membiarkanku merasakan betapa keras kejantanannya. Aku mengangkat pinggulku untuk bertemu

dengannya. Aku menatap matanya dan melihat keinginannya. Pikiranku berenang berfantasi, membayangkan menjadi obyek yang dia inginkan.

Chanyeol meraba bahuku. Satu jarinya membuat tali gaunku tergelincir ke

bawah.

Ini dia. Ia akan membuatku telanjang. Keadaan tak akan bisa kembali lagi setelah itu. Bukan hanya karena ia tidak ingin berhenti, tapi karena aku juga tak ingin.

Ini buruk, berita buruk. Itu penuh dengan potensi untuk merusak hubungan bisnis kami. Ini bisa menghancurkan segalanya. Ini bisa menghancurkanku, secara profesional dan emosional.

Di atas semua itu, ada risiko besar tentang gaya hidup Hollywood-nya yang terbiasa dalam situasi seperti ini sepanjang waktu. Saat benih keraguan dan ketakutan yang tidak menguntungkan memasuki pikiranku, aku tak bisa membuangnya. Aku tidak ingin masuk dalam daftar wanita petualangannya.

Aku harus menghentikan, sebelum semuanya jadi terlalu jauh.

Ketika aku mendengar pintu terbuka, aku mendongak dan mataku bertemu dengan mata Chanyeol. Dia berkata, "Persetan," dan menarik dirinya dariku, pindah ke posisi duduk di tempat tidur.

Luhan muncul di kamar sebelum aku bisa merapikan diriku. Aku baru saja bangkit dari tempat tidur, gaunku masih naik sampai pinggulku. Memalukan, ya, tapi itu cara yang paling mudah keluar dari situasi ini.

Luhan terhenti. "Ups. Maaf. Aku akan pergi."

Chanyeol tidak mengatakan apa-apa.

"Tidak, tidak, tidak apa-apa," kataku, menarik kembali gaunku menutupi kakiku agar lebih lebih terhormat.

Chanyeol menatapku. "Benarkah?"

Aku mengangguk dan menatap Luhan. "Chanyeol baru saja akan pergi."

Chanyeol berdiri.

Aku berkata, "Aku akan mengantarmu keluar."

Luhan melangkah ke kamar mandi. "Guys, serius, jika kalian ingin aku pergi..."

"Kau baik sekali," kataku.

Ketika kami keluar ke lorong, Chanyeol mendorongku ke dinding dan menciumku, lidahnya menjilat dengan nikmat melalui mulutku.

"Hampir saja," katanya.

"Ya. Syukurlah dia datang."

"Tidak, tidak bagus sama sekali. Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan menyerah padamu, Baekhyun."

Aku menyilangkan tangan di depan dada. Mungkin lebih defensif daripada yang aku butuhkan. "Ini mungkin akan menjadi ide yang baik jika kau melakukannya."

Chanyeol membungkuk, wajahnya hampir dua inci dari wajahku. "Apakah aku tampak seperti tipe orang yang tidak akan berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan?" Dia menciumku lagi untuk satu menit penuh, kemudian melangkah mundur, mengamatiku dari atas kebawah, dan berkata, "Kau sempurna."

Lalu ia berjalan menyusuri lorong, tidak menengok lagi. Aku berdiri disana dengan diam, terkejut dengan apa yang baru saja terjadi padaku selama beberapa jam terakhir.

Ketika Chanyeol berbelok menyusuri lorong aku bersandar ke dinding dan berkata pelan: "Begitu. Juga. Kau."

Luhan memberiku omong kosong tentang seluruh kejadian itu sepanjang sisa akhir pekan. Kami menghabiskan Sabtu berjalan

sekitar Las Vegas, makan siang di buffet murah. Memanjakan, tapi tidak terlalu sehat, dan hanya itu yang aku inginkan setelah mengalami malam yang gila.

Aku tak melihat Chanyeol lagi sampai Minggu pagi. Aku dan Luhan check out dari hotel, berdiri di meja resepsionis. Karena akhir pekan ini dia yang traktir, ia membayar tagihan dan aku hanya melihat-lihat sekeliling.

Chanyeol sedang berdiri di pintu masuk restoran hotel, mengenakan pakaian kasual. Dia memakai kacamata Ray Bans-nya, jadi aku tidak bisa melihat matanya. Kurasa dia mungkin sedikit mabuk dan ia

melindungi matanya dari cahaya.

Di sampingnya berdiri wanita pirang cantik bertubuh tinggi dengan gaun merah. Dia membelakangiku jadi aku tak bisa melihat wajahnya. Wanita itu berdiri dengan satu kaki disilangkan di atas yang lain,

pergelangan kakinya terkunci. Dia mengenakan sepatu tumit lima inci yang memamerkan otot betisnya. Dia tampaknya banyak bicara.

Pada satu titik dia meletakkan tangannya di bahu Chanyeol.

Aku benci kenyataan bahwa melihat bahasa tubuhnya yang membuat perutku bergolak. Sepertinya aku tidak punya alasan untuk cemburu. Setelah semua yang terjadi, aku adalah orang yang menolaknya pada malam itu. Tapi aku membenci kenyataan bahwa aku harus

mengakhirinya. Aku tahu aku telah melakukan hal yang benar, tapi aku masih benci itu.

Chanyeol telah mengatakan kepadaku bahwa dia tidak menyerah, dia bukan tipe pria yang tidak mengejar apa yang ia inginkan. Aku tidak punya alasan untuk berpikir bahwa itu tidak benar, tapi melihat dia dengan perempuan itu seperti sebuah tamparan di wajahku. Tentu saja dia pergi setelah mendapatkan apa yang dia kejar. Tentu saja dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan dia mungkin tidak ingin aku. Itu karena aku bukanlah satu-satunya. Persis seperti yang telah kuramalkan sendiri ketika dia berada di atasku di kamar hotel malam itu.

Aku benar-benar harus membiarkan ini berlalu...

Seperti biasa hari minggu adalah hari saling menanyakan kabar dengan orangtuaku, jadi aku menelepon mereka ketika kami kembali ke LA.

Mereka menggunakan telepon yang berbeda di rumah dan ketika aku

mengatakan kepada mereka apa yang telah kulakukan di akhir pekan kemarin, ada jeda kemudian hening sebelum ibuku berkata, "Sayang, kau dengar apa katanya?"

"Ya."

"Well, kau tidak akan mengatakan apa-apa?"

"Kupikir kau sudah mengatakannya."

Ini adalah hal biasa untuk orang tuaku. Mereka berdua sangat konservatif dan sangat menuntut kepada Kyungsoo dan aku, tapi untuk urusan memberi ceramah biasanya tugas itu jatuh pada ibuku.

Ibuku berkata, "Mereka menyebutnya 'Sin City', apa kau tahu itu, Baekhyun?"

"Ya, Bu, aku pernah mendengar itu sebelumnya."

Oh, kalau saja dia tahu betapa aku hampir saja berbuat dosa denganChanyeol.

"Kau tahu itu kan, Sayang?" sepertinya ibuku juga memarahi ayahku.

Aku menyudahi obrolan dengan bertanya tentang topik favorit mereka yaitu, Claire, keponakanku. Mereka menceritakan setiap hal kecil yang Claire lakukan saat ia hampir merayakan ulang tahunnya yang pertama, dan ibuku berkata, "Kau akan melihatnya segera. Thanksgiving, kan?"

Aku mengatakan kepadanya bahwa aku pasti pulang untuk Natal, tapi belum yakin saat Thanksgiving. Ini memicu perdebatan sepuluh menit, dan pada akhirnya aku sangatlah siap mengakhiri telpon yang

melelahkan itu.

Aku pergi keluar dari kamar dan menemukan Luhan berbaring di sofa menonton TV. Dia terpaku dengan argumen tentang dua Kardashian bersaudara. Aku duduk di salah satu kursi dan menonton selama beberapa menit, tapi itu menjengkelkan dan aku mampu untuk tidak memikirkan Chanyeol.

Ketika acara TV sedang iklan, Luhan mematikan suara televisi. "Apa yang salah?"

Aku tersentak dari lamunan. "Tidak ada."

"Bohong."

"Hanya ... aku tak tahu."

Dia duduk dan menghadapku. "Ini tentang Mr. Hollywood, bukan?"

Aku menarik kakiku ke kursi, memeluk lututku ke dadaku, dan mendesah. "Apakah itu jelas?"

"Uh, yeah. benar-benar jelas."

Aku mengatakan kepadanya seluruh cerita, apa yang terjadi setelah Chanyeol meninggalkan kamar hotel sehingga dia tahu tidak ada yang terjadi. Nah, tidak banyak, pula. Hanya cukup untuk membuatnya menjadi topik pembicaraan berulang, Luhan mengatakan bahwa aku

harus melupakan malam itu.

"Dengar," katanya, "jika kau akan menjalani hidupmu di sini, Kau harus terbiasa dengan hal semacam ini. Terutama karena kau akan bekerja di sekitar aktor, sutradara, produser... Maksudku, coba pikir, Kau cantik, lajang, dan banyak pria menyukaimu. Ini bukan Ohio, dan ini bukanlah kota kecil kita."

Ya dia benar. Aku berada di perairan yang belum terpetakan dan mungkin ini diluar jangkauan kepalaku. Tetapi jika aku akan hidup disini, aku harus belajar untuk berurusan dengan itu. Itu tidak berarti aku harus tidur dengan setiap pria yang membuatku tertarik, itu berarti aku harus menjadi terampil dalam memilih yang tepat untuk mengatakan iya dan mengatakan tidak untuk orang yang tidak tepat.

Aku harusnya tidak menarik Chanyeol pada situasi seperti itu, dan aku merasa sedikit bersalah tentang hal itu.

Tetapi masalah terbesarnya adalah, apakah kejadian malam itu akan membawa dampak kepekerjaanku.

"Sial. Apa yang akan kulakukan jika dia ternyata Jessica batal mendapat peran dan Kris tahu sebabnya? Aku akan kacau."

Luhan bangkit dari sofa dan menyambar gelas kosong. Dia berjalan ke dapur sambil menjawab. "Kupikir tak ada yang dapat kau lakukan tentang hal itu sekarang. Kecuali mungkin meneleponnya dan tidur dengan dia sekarang."

"Ayolah, aku serius."

"Aku tahu," katanya, suaranya terdengar dari dapur. "Maaf. Seandainya aku bisa memberimu saran. Apakah kau ingin minum anggur?"

"Ugh. Tidak, aku sudah banyak minum akhir pekan ini."

Luhan jelas tidak akan banyak membantu, tapi aku berharap dia memiliki beberapa pendapat untukku. Bahkan sesuatu yang kecil dan tidak berarti yang mungkin memicu solusi dalam pikiranku. Tapi

semua harapan itu pupus ketika dia datang kembali ke dalam ruangan.

"Oh! Acara itu sudah mulai lagi." Dia meraih remote televisi dan membesarkan volume. "Maaf, aku harus menonton lagi."

Aku tiba di kantor Senin pagi bertekad untuk mengembalikan pikiran jernihku sebelum perjalanan ke Vegas, yang berarti fokus pada pekerjaan dan pekerjaan saja, dan itulah yang aku lakukan sepanjang

minggu. Bekerja siang hari, Netflix di malam hari.

Kami tidak mendengar kabar dari Chanyeol atau orang-orangnya sepanjang minggu. Aku bicara beberapa kali dengan Jessica, dan ia menjadi semakin sulit untuk ditangani. Jessica yakin ia tidak

akan mendapatkan peran. Sekali lagi, aku harus menjadi terapis dan menjaganya secara stabil.

Jum'at ini aku harus bertemu dengan seorang komedian yang yang bercita-cita menjadi actor papan atas. Tugasku adalah melakukan ulasan dan membuat resume untuk surat-surat lamaran yang di kirim

kepada kami oleh orang yang mencari agen.

Oh Sehun terlambat lima belas menit untuk pertemuan, kesan pertama yang buruk bagi seorang aktor mencari representasi. Dia mengenakan celana jeans hitam, t-shirt putih, jaket kulit hitam, dan terlalu banyak aftershave.

Kami pergi ke ruang konferensi dan mulai dengan beberapa obrolan ringan tentang cuaca dan lalu lintas yang mengerikan, percakapan khas LA.

Dalam waktu sepuluh menit, aku tahu aku sedang berhadapan dengan seorang pria yang berpikir terlalu banyak tentang dirinya sendiri. Dia terus mengatakan betapa sutradara audisi tidak tahu apa yang mereka lakukan, betapa ada banyak sekali bakat terpendam di luar sana yang

belum dimanfaatkan dan dia adalah "cream of the untapped crop" (orang terbaik) dan bagaimana industri itu terlalu khawatir dengan uang yang berdampak merugikan pada seni.

Dia tidak jelas dengan sikapnya itu, dan itu bukan tugasku untuk mengubahnya. Dia tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Kris.

Kesalahan terbesarnya adalah dengan mengatakan padaku bahwa ia pernah ikut di dua episode Friends, dan ada bagian dialog untuknya di dua episode tersebut. Ia mengklaim bahwa ia seharusnya menjadi

salah satu karakter yang terus muncul yaitu mantan pacar Monica. Mudah bagiku untuk memeriksanya tapi itu tak perlu kulakukan. Aku adalah penggemar besar dari serial itu dan aku mungkin pernah

melihat salah satu episodenya sampai tiga kali. Aku akan ingat orang ini. Jadi aku menambahkan "pembohong" ke daftar negatifnya.

"Jadi kenapa anda tidak punya perwakilan agen sekarang?" Tanyaku.

"Yah, agen saya baru saja meninggal, jadi itu sebabnya mencari agen yang baru."

Aku merasa tidak enak untuk mengajukan pertanyaan dengan nada sarkastik. "Oh, aku ikut berduka mendengarnya. Siapa namanya? Pria atau wanita?" Aku melontarkan pertanyaan untuk menemukan resume miliknya.

"Estelle Leonard."

Aku berhenti. Itu adalah nama agen yang mewakili karakter Joey pada Friends. Ada apa sebenarnya dengan orang ini? Dia gila atau bodoh, atau dia mengira aku bodoh. Pada titik ini aku memutuskan ini tidak

lucu dan aku tidak memiliki kesabaran untuk mendengarkan omong kosongnya lagi.

Aku segera mengakhiri pertemuan dengan berdiri dan mengatakan padanya, "Terima kasih telah mampir. Kami akan menghubungi anda." Itu adalah cara yang baik untuk mengatakan: Jangan hubungi

kami, Kami yang akan menghubungi Anda.

"Kau punya rencana malam ini?" Tanyanya.

Aku tertegun, mengingat betapa dingin aku telah memperlakukannya. "Maaf?"

"Aku hanya ingin tahu mungkin kita bisa 'berkencan'," katanya, sambil jarinya membentuk tanda kutip.

"Saya rasa tidak."

Dia merendahkan suaranya, bukan untuk kepentingan privasi, tetapi dalam upaya nyata untuk terdengar seksi. "Anda tak tahu apa yang telah Anda lewatkan."

"Saya punya pacar."

"Jadi?"

"Jadi, sekali lagi, tidak."

Dia melangkah ke arahku, melihat tepat di dadaku. "Kau benar-benar panas. Katakan saja apa yang kau mau."

Jengkel, aku mengatakan padanya hal yang sebenarnya. "Kau ingin tahu apa yang aku mau? Sebuah hukuman serius untuk anda." Aku melangkah menuju pintu ruang konferensi, membukanya, dan

melangkah ke samping. Aku memberi isyarat keluar pintu dengan tanganku. "Semoga berhasil, Mr. Oh."

Dia berdiri tegak dan mulai bergerak menuju pintu. Aku memberinya sedikit lebih banyak ruang.

"Anda tidak harus menggerutu tentang itu," katanya.

Aku biarkan dia keluar dari ruangan, menuju lobi, dan ketika ia meraih pintu utama aku berkata, "Dan Anda tidak harus memakai aftershave murahan begitu banyak!"

Dia terus berjalan tanpa menengok ke belakang.

Pintu kantor Kris terbuka dan ia menjulurkan kepalanya keluar. "Apa semua baik-baik saja?"

"Ya, maaf. Semuanya baik-baik saja. "

"Oke. Aku sedang ada panggilan, tapi beri aku..." Dia melihat jam tangannya. "Beri aku sekitar lima belas menit dan kita akan

membahas beberapa DVD demo ini."

Aku sedang mengumpulkan barang-barang itu dari meja ruang konferensi untuk membuang ke tempat sampah, dan berpikir apakah Oh Sehun memang benar. Aku tak pernah menganggap diriku

sebagai perempuan penggerutu sebelumnya, tapi kukira ada bagian dari diriku yang hanya butuh sedikit stres dan menjadi orang menjengkelkan untuk melepaskannya.

Aku khawatir tentang seluruh hal yang berhubungan dengan Chanyeol dan

dampak penolakanku terhadap pekerjaan. Ya Tuhan. Betapa bodohnya aku, membiarkan hal-hal ini sampai sejauh ini? Kris mungkin akan segera memecatku jika ia mengetahuinya.

Ketika kembali ke kantor, aku mendengar pintu Kris terbuka. Aku melihat ke arahnya dan melihat dia melambaikan tangan meyuruhku ke kantornya. Aku meletakkan paket itu di atas meja dan pergi, dimana ia memberi isyarat kepadaku untuk duduk kemudian meletakkan jari ke bibirnya, menyuruhku diam dan hanya mendengarkan.

Kris beralih ke telepon speaker dan ruangan itu dipenuhi dengan suara halus dari Park Chanyeol.

Oh, sial. Ini dia, pikirku. Chanyeol akan memberitahu Kris bahwa dia akan memberikan keputusan tentang Jessica Jung. Lalu kami akan kehilangan dia sebagai klien. Kris mungkin akan mencari tahu apa yang terjadi di Vegas, aku akan kehilangan pekerjaanku, dan aku akan menjadi orang terakhir yang mendengar pepatah "Anda tidak akan pernah bekerja di kota ini lagi." Sialan, perutku, berhentilah

melilit... Aku merasa seperti akan muntah di lantai kantor Kris.

Apa yang aku dengar adalah Chanyeol berkata: "... banyak audisi, secara

langsung dan DVD, dan ini adalah salah satu keputusan yang sulit yang harus aku ambil. Jessica bagus. Dia cantik dan dia sangat natural. Kurangnya pengalaman memang agak mengganggu sedikit..."

Ini dia, pikirku.

"... Tapi itu bukan sesuatu yang tidak bisa diatasi," Chanyeol berkata. Kemudian ia menyebutkan nama sutradara. "Gary dan aku membicarakannya, dan dia juga terkesan. Kami ingin menawarkan peran kepadanya. "

Kris memberikan acungan jempol. "Senang mendengarnya, Chanyeol."

Aku mungkin lebih berbahagia mendengar kabar itu dibanding Kris. Sebuah aliran rasa lega yang luar biasa melandaku dan setiap otot di tubuhku menjadi rileks. Aku tidak merusak peluang Jessica, atau

bisnis Kris, atau masa depanku sendiri. Sekarang aku bisa santai.

Chanyeol berkata, "Saya memiliki kontrak yang siap untuk ditandatangani. Mungkin Anda dapat mengirim asisten Anda untuk mengambilnya."

Ternyata terlalu dini untuk menjadi rileks.

Kris menatapku. "Uh, tentu. Tidak masalah."

Teruslah bernapas, aku berkata pada diriku sendiri. Bagus. Sekarang aku akan berada di kantor Chanyeol. Ketika kupikir akhirnya semua stres dan kekhawatiranku sudah berakhir.

"Saya akan kesana dalam satu atau dua jam."

"Dia akan segera kesana. Dan sekali lagi terima kasih Chanyeol. Semoga bisa bekerjasama lagi dengan Anda."

"Saya akan menghubungi anda lagi, segera." Klik.

Kris menyentuh layar ponselnya dan meletakkannya di meja. "Apa kau bisa bayangkan betapa besarnya ini?"

"Ini... yeah, sangat menakjubkan." Suaraku tidak terdengar antusias, tapi dia seperti tidak menyadarinya.

"Ini adalah kesepakatan terbesarku dan yang paling penting sejauh ini." Dia berdiri dan mulai mondar-mandir, berjalan untuk membuang energi gugupnya. "Tapi kau sudah tahu itu." Dia melihat jam tangannya. "Kau ingat bagaimana untuk sampai ke studionya, kan? Ke kantor Chanyeol?"

Perutku mulai melilit lagi. "Ya, aku tahu."

Kris mengingatkanku untuk menyebutkan namanya pada penjaga gerbang, dan dalam waktu lima menit aku sudah berada di mobilku, membelah kepadatan lalu lintas LA, dan benakku berpacu dengan pikiran akan bertemu Chanyeol lagi.

TBC

AN: maap baru update lagi, saya pusing belajar sbmptn yeorobun:')

Enjoy this second chapter, and see ya in next chapter!

Ciao!