Monochrome by Path of Heaven
T rated
ChangKyu
Mystery, Adventure, Romance, Action
Typo(s), Pelaku pembunuhan yang Gaku karang-karang namanya, etc.
.
.
"Chang... min...?"
Bruk! –tubuh pemuda jangkung itu terjatuh, membentur lantai dengan amat keras dan menimbulkan bunyi debuman yang seolah bergema terus-menerus dalam telinga Kyuhyun. Gerak itu bagai gerak slow motion dalam matanya. Gerak saat tubuh itu terjatuh –tertarik gaya gravitasi dan menumbuk lantai dingin itu.
Air mata mengalir dari matanya tanpa bisa ia sadari. Bibirnya bergetar. Hatinya tertekan. Dadanya sakit. Kepalanya menolak kenyataan itu. Kenyataan bahwa Changmin... orang ia cintai sudah...
"Mati...?" bisik Kyuhyun tertahan.
"Ahahahahaha!" anak itu tertawa puas diputarnya revolver itu di jarinya dan menodongkannya pada Kyuhyun mengancam.
"Bagaimana? Sakit, bukan? Kehilangan seseorang seperti itu –tepat di depan matamu," lanjut anak itu senang.
Kyuhyun menegang –giginya bergemeletuk penuh amarah. Tangannya mengepal erat. Buku-buku tangannya mendingin dan memutih. Dengan kasar ditariknya bahu anak itu. Membawa wajah anak itu menghadap ke arahnya. Menusuk pemuda itu dengan pandangan penuh dendam dan amarahnya.
"Apa?" tanya anak itu dengan nada terganggu dan tangan yang langsung menodongkan revolver itu tepat di perut pemuda detektif itu.
Kyuhyun tak menjawab ucapan anak itu. Giginya masih bergemeletuk hingga rahangnya sendiri terasa sakit. Ia kalut –ia tak punya rencana apapun. Ia hanya –hanya... entahlah? Hanya perasaan ingin membunuh yang tengah mendominasinya saat ini.
Anak itu membalas tatapan penuh dendam Kyuhyun dengan wajah tanpa ekspresi. Sungguh tak terbaca. Perlahan, tangan itu menurunkan revolver yang teracung mengancam tadi. Dengan sekali hentak –dilepaskannya cengkraman Kyuhyun. Sebuah dengusan meluncur darinya dan ia pun berbalik. Berjalan meninggalkan Kyuhyun yang masih terpaku di tempatnya tanpa melakukan apapun.
"Jika kau ingin balas dendam –cari aku. Kita selesaikan urusan kita," ujar anak itu dan melangkah keluar ruangan. Tanpa sopan –dilangkahinya tubuh tak bergerak Changmin.
Duagh! –sebuah tendangan tiba-tiba melayang dan membuat genggamannya pada revolver anak itu terlepas.
"Ap- Kau?!" geram anak itu melangkah mundur menjauh dari pelaku penendangan –Changmin.
"Hai? Kaget, tidak?" tanya Changmin dengan napas sedikit tersendat.
"Changmin?!" pekik Kyuhyun refleks.
Changmin tak menjawab panggilan partnernya itu. Ditodongkannya handgun di tangannya –mengancam anak itu agar tak bergerak.
"Hai, sepupu," sapa Changmin dengan nada casual.
Anak itu menegang –menatap Changmin nyalang, masih memegangi pergelangan tangannya yang nyeri akibat tendangan Changmin yang nampaknya tak segan-segan itu.
"Aku bukan lagi sepupumu, pengkhianat!" seru anak itu tak terkendali.
"Begitukah?" sahut Changmin santai dan menurunkan handgun nya. Memberikan kesempatan untuk anak itu kabur. Mengerti akan kesempatan yang diberikan, anak itu segera melesat. Mencari jalan keluar dari gedung itu dan kembali ke rumahnya dengan selamat tanpa kurang apapun.
Changmin hanya tersenyum miris menatap kepergian anak itu. Diusapnya wajahnya dan menghela napas dalam. Perlahan ia pun berbalik –menatap Kyuhyun yang masih menatap tak percaya pada dirinya.
"Kyuhyun?" panggilnya meminta Kyuhyun mendekat padanya.
"Changmin?" panggil Kyuhyun balik dan perlahan berjalan mendekati Changmin.
"Ya, ini aku," gumam Changmin menikmati sentuhan lembut Kyuhyun di pipinya. Ahh~ ternyata pemuda sinis nan tsundere ini punya sisi baik juga. Sampai mau mengusap pipi lemb-
Plak!
Ouch! Itu pasti sakit.
"K-kyuhyunnie, i-itu sakit," ucap Changmin sambil meringis mengusap pipinya yang di tampar keras oleh Kyuhyun.
"Ohh~ sakit? Sakit, ya?" sahut Kyuhyun dingin dan-
Plak! –menampar pemuda jangkung itu lagi.
"Sakit! Kau jahat sekali! Wajah tampanku bisa rusak, nih!" protes Changmin dan segera menghindar begitu Kyuhyun kembali melayangkan tangannya hendak menampar Changmin kembali.
"Bodoh! Bodoh! Aku pikir kau sungguh-sungguh... mati..." ucap Kyuhyun makin memelan. Tubuhnya bergetar antara lega dan takut. Wajahnya menatap sendu Changmin di hadapannya.
Changmin menghela napasnya dan mendekati Kyuhyun. Membawa tangan pemuda itu ke tubuhnya. Menyentuh sesuatu yang keras di balik vest juga kemejanya.
"Kau 'kan yang menyuruhku untuk selalu memakai anti peluru, kau ingat?" ujar Changmin tersenyum lembut menenangkan Kyuhyun.
Kyuhyun tak menjawab dan hanya mengangguk perlahan.
"Dan lagi –kalau aku mati duluan, siapa yang akan melindungimu selanjutnya? Karena itu... aku tidak akan mati semudah dan se konyol itu," ucap Changmin membawa Kyuhyun dalam pelukannya –menenangkan pemuda itu. Memastikan pada pemuda dalam pelukannya itu bahwa ia nyata. Ia masih di sisi pemuda itu –hidup dan bernapas.
"Jangan... menakuti aku lagi... bodoh," ucap Kyuhyun dengan suara parau hendak menangis.
"Maaf, maaf-" ucap Changmin mengelus punggung Kyuhyun lembut.
"Changmin," ujar Kyuhyun melepaskan pelukan Changmin dan menatap pemuda jangkung yang memeluknya tadi dengan tatapan serius dengan mata sembabnya.
"Ceritakan –siapa anak itu dan apa hubungannya denganmu,"
0o0o0
Waktu itu –aku mesih kecil. Berpikir jika dunia ini seragam tanpa perbedaan. Aku dan anak yang lainnya sama saja. Tak ada bedanya sama sekali. Aku seperti mereka, mereka sepertiku. Ya, aku percaya itu semua sampai hari itu datang.
Hari dimana Appa memanggilku ke ruangan yang tak pernah kusentuh di rumahku sendiri.
"Changmin?" panggil Appa ku dengan suara tegas.
"Iya, Appa?" sahutku berusaha menyesuaikan mataku dengan penerangan semu dalam ruangan tersebut.
"Kau sudah berumur delapan tahun. Sudah saatnya kau belajar kondisi keluarga kita yang sesungguhnya," jelas Appa dari kursi kebesarannya.
Aku diam –tak menjawab, tetap mendengarkan dengan patuh layaknya anak penurut.
"Appa ingin kau melakukan semua pelatihan yang akan kau terima. Lalu, jadilah penerus Appa untuk keluarga Shim sebagai pemunuh bayaran profesional," jelas Appa lagi dengan serius.
Aku diam –tak berani menjawab. Tapi hatiku berteriak menolak, jadi kuputuskan untuk menjawabnya. Untuk pertama kalinya.
"Tapi Appa, membunuh itu tidak benar," ucapku melawan.
Appa diam saja tak menyahut untuk beberapa saat, "Kau akan mengerti nanti,"
"Tidak, Appa! Sekarang ataupun nanti, membunuh tetap akan salah," bantahku lagi memberontak.
"Kau penerus satu-satunya di keluarga ini, Changmin! Tunduk dan menurut lah. Takdir itu bayangan –kau takkan bisa melarikan diri darinya. Dan kau selamanya adalah keturunan dan penerus dari keluarga pembunuh!" seru Appa dan menyuruh beberapa bawahannya untuk menyeretku keluar ruangannya dan memulai pelatihan khusus ku.
"Tidak! Aku tidak akan membunuh siapa pun! Tidak akan!" seruku sebelum aku benar-benar terseret keluar ruangan gelap Appa.
Aku tak percaya –aku ingin menangis namun enggan. Aku tak percaya jika Appa justru ingin melumuriku dengan dosa. Ingin mewarnai tanganku dengan pekatnya darah. A-aku tidak mau, Appa. Maaf, tapi untuk kali ini saja –aku ingin Appa yang mengerti diriku. Aku tahu bagaimana pun aku menyembunyikannya kenyataan bahwa aku adalah keluarga pembunuh bayaran profesional tak 'kan berubah. Hanya terkubur bukannya terhapus.
Tapi –masa depan adalah sesuatu yang bisa di ubah.
Maafkan aku jika di masa depan nanti –aku akan ada di sisi seberang. Melawanmu atau mungkin harus menghabisi mu dengan tanganku sendiri. Aku tidak takut. Asalkan –aku tak perlu menjerumuskan generasi setelahku ke dalam sebuah kubangan dosa pekat itu.
0o0o0
"Maaf, aku menyembunyikan nya. Aku tidak punya maksud buruk sama sekali," ujar Changmin pada Kyuhyun yang sejak tadi mendengarkan cerita nya penuh khidmat.
Kyuhyun terdiam tak menjawab. Minuman di hadapannya ia cueki saja tak meminumnya. Shock sepertinya.
"Haha, kaget ya?" goda Changmin tertawa kecil.
Kyuhyun tersentak, tersadar. Dia menggelengkan kepalanya semangat, "Nggak! Aku Cuma berpikir 'wow! Ini keren banget! Kayak di drama!',"
Changmin mengedipkan matanya tak percaya. Reaksi Kyuhyun unik sekali. Menggemaskan. Changmin tertawa hebat. Berkali-kali tangannya memukul paha nya sendiri saking gelinya. Kyuhyun di seberangnya memajukan bibirnya tak terima di tertawakan begitu. Ditendangnya tulang kering Changmin dan menyebabkan pemuda jangkung itu mengaduh sakit.
"Sakit, Kyunie. Kau suka sekali menyiksaku," protes Changmin masih tertawa kecil.
"Kau suka sekali menertawakan ku!" sahut Kyuhyun berseru tidak terima dan membalas.
"Oke, anggap saja impas," putus Changmin agar tidak terjadi adu argumen tak berarti diantara dirinya dan Kyuhyun.
Kyuhyun mendengus tidak terima dan memajukan bibirnya merajuk. Changmin hanya tertawa kecil dan mengacak poni Kyuhyun.
"Manis nya~" goda Changmin mencubit kecil hidung Kyuhyun.
Pipi Kyuhyun memanas, segera di tepisnya tangan Changmin dari wajahnya dan dipalingkannya wajahnya, "Aku bukan anak kecil,"
Changmin tertawa kecil kemudian mengulurkan tangannya pada Kyuhyun, "Ayo pulang,"
Kyuhyun menyambut tangan itu. Sebenarnya, ia tak begitu perduli tetang masa lalu Changmin. Karena untuknya –Changmin nya adalah Changmin yang saat ini berdiri di hadapannya, yang mengulurkan tangan besar nan hangat itu padanya. Persetan dengan takdir dan latar belakang keluarga. Yang terpenting adalah hati dan keteguhan diri. Changmin berjanji akan selalu berada di pihaknya, melindungi nya. Lalu, apa lagi yang ia butuhkan? Semua sudah cukup. Tak perlu memusingkan yang lain-lain.
'Ya 'kan, Changminnie?'
0o0o0
Di siang yang panas seperti ini –memang lebih menyenangkan jika berada di dalam rumah saja. Penembakan calon kepala kepolisisan yang baru itu tak di besar-besarkan karena beliau sendiri tidak meninggal. Krisis pun tidak. Jadi menurut kepolisisan biarlah kasus ini tenggelam.
Kyuhyun sendiri setuju –selain karena sepertinya Changmin tak begitu suka berurusan dengan Minho –oh ya, ngomong-ngomong, Changmin baru memberi tahunya kalau anak itu bernama Minho-, Kyuhyun juga tidak suka jika kasusnya berat sebelah begini.
Dan seharusnya saat ini –Kyuhyun sedang di rumahnya. Duduk di depan kipas dengan sepiring semangka dingin yang baru di potongkan Changmin untuknya dan mungkin juga, es serut dengan sirup vanilla dan mint yang dingin dan nikmat itu. Yah, sekali lagi, itu semua 'seharusnya'. Ya, jika saja tetangga mereka tidak menelepon mereka tiba-tiba dan meminta dicarikan anak nya yang menghilang karena terpisah di taman bermain di kota itu.
Taman bermain itu memang cukup luar dan lagi ini hari libur. Pasti akan sangat ramai –pantas tetangga mereka panik. Tapi, tunggu –kenapa tetangga mereka tidak menghubungi bagian informasi alih-alih menelepon mereka dan menyuruh mereka membantu mencarikan anaknya dengan iming-iming dibantu membayar sewa apartemen untuk tiga bulan ke depan?
Maklum –ornag awam pasti berpikir kalau soal 'pencarian' detektif ahlinya. Tapi...
"Tapi, kita bukan anjing pelacak, Minnie!" protes Kyuhyun melepas fedora nya dan menjadikannya kipas dadakan.
Changmin sendiri mengelap keringat yang mengalir di pelipisnya kepanasan, "Sudahlah Kyuhyun –dengan begini kita bisa menabung lebih banyak untuk membeli AC di apartemen kita, 'kan?"
Kyuhyun mendengus. Ucapan Changmin benar tapi –ini terlalu panas untuk Kyuhyun. Kulitnya mulai terasa terbakar. Memang salahnya sih lupa memakai sun bock meski Changmin sudah mengingatkannya.
"Tapi si luar panas sekali, Minnie!" rengek Kyuhyun menyandarkan kepalanya pada bahu Changmin yang justru membuat Changmin makin gerah saja.
"Kau 'kucing'(*) sih ya," ledek Changmin menyeringai yang hanya mendapat balasan berupa cubitan di lengannya.
"Ouch! Ouch! Ampun, Kyunie!" mohon Changmin seraya berusaha melepaskan lengannya dari cubitan Kyuhyun.
"Kyuhyun-ah! Changmin-ah!" panggil seorang wanita tua dari kejauhan menghampiri mereka.
Kyuhyun segera memakai fedoranya kembali dna bertingkah seolah penuh karisma dan wibawa sedangkan Changmin kembali memasang senyum ramahnya sambil sesekali mengelus lengannya yang perih karena di cubit Kyuhyun.
"To-tolong bantu Bibi menemukan Yoen Ran-ah. Sedari tadi sudah di cari tapi tidak ketemu," jelas Bibi Shin panik. Changmin berusaha menengakan tetangga mereka tersebut dengan tingkah ramah sedangkan Kyuhyun mulai memasang wajah bosan nya. Gila, kenapa ia mesti terlibat masalah kecil yang dibesar-besarkan begini?
"Di mana Bibi merasa kehilangan Ran-ah?" tanya Changmin lembut.
"Di sekitar komidi putar," sahut Bibi Shin perlahan mengingat-ingat.
Changmin tersenyum, "Baiklah, Bibi tunggu saja di sini. Kami akan kembali dengan cepat,"
Bibi Shin mengangguk patuh.
Changmin menarik tangan Kyuhyun bersamanya. Karena ia tahu pasti kalau tidak di ajak, si evil ini pasti akan mulai menggerutu tidak jelas tentang kelalaian Bibi Shin dan berakibat batalnya perjanjian 'dibayarkan sewa apartemennya tiga bulan' dengan Bibi Shin.
"Minnie, memangnya kau tahu dimana Ran-ah?" tanya Kyuhyun memandang Changmin tidak yakin. Biasanya yang bertindak sebagai otak itu dirinya. Dan hari ini –dengan tidak biasanya Changmin menawarkan dirinya untuk memecahkan kasus ini –atau dalam bahasa mudahnya, menemukan Ran-ah.
"Tidak tahu," sahut Changmin polos yang mendapat hadiah jitakan oleh Kyuhyun.
"Kalau begitu kenapa kau terlihat meyakinkan sekali di depan Bibi Shin?" seru Kyuhyun misuh-misuh.
Changmin tertawa kecil, "Seorang ibu akan sangat panik saat anaknya hilang. Apalagi Ran-ah itu anak perempuan. Bibi Shin butuh sokongan dan kita berada di sini sebagai penyokongnya, Kyunie."
Kyuhyun terdiam sebentar kemudian mengangguk –berusaha memahami.
Akhirnya mereka pun sampai di daerah wahana komidi putar. Wilayah ini memang ramai. Selain karena hari libur –wahana ini juga salah satu wahana yang paling diminati oleh anak-anak. Wajar jika terlihat ramai begini. Changmin memerhatikan keadaan sekitar , tak lama matanya menangkap sesuatu.
"Kyunie, tunggu di sini sebentar ya?" ujar Changmin mulai meninggalkan Kyuhyun.
"Mau kemana?" tanya Kyuhyun tidak mau ditinggal.
"Sebentar saja. Jangan hilang, ya!" sahut Changmin dan mulai menghilang di tengah kerumunan.
Kyuhyun berdiri gusar. Ia tak suka sendirian di tempat ramai begini. Rasanya tidak nyaman. Namun, sesuai janji nya, Changmin kembali beberapa saat kemudian.
"Kau kemana sa-"
"Ayo, kita jempun Ran-ah," potong Changmin dengan senyum terkembang di wajahnya.
"Kau serius?"
.
"Umma!" seru gadis keciil itu melepaskan diri dari gendongan Changmin dan menghampiri dan memeluk Umma nya erat.
"Oh, Ran-ah! Ran-ah! Kenapa kau menghilang, nak?" lirih Bibi Shin panik.
Changmin dan Kyuhyun yang melihatnya hanya tersenyum maklum.
"Ayo, katakan terima kasih pada hyungdeul yang menemukanmu," ujar Bibi Shin menyuruh Yeon Ran untuk bertemia kasih.
"Gomawo, Hyung," ucap Yeon Ran membungkukkan tubuhnya sopan.
Changmin tertawa kecil kemudian mengacak rambut Yeon Ran gemas, "Jangan hilang lagi. Genggam tangan Umma mu erat-erat, ya!"
"Uhm!" sahut Yeon Ran patuh dan segera melilitkan lengannya pada lengan Umma nya.
"Terima kasih, Changmin-ah, Kyuhyun-ah. Sebagai bayaran –seperti yang kujanjikan, ya?" ujar Bibi Shin kemudian undur diri dari hadapan mereka.
Changmin masih asik saling melambai dengan Yeon Ran saat Kyuhyun tiba-tiba memaksanya untuk melihat pada Kyuhyun.
"Kenapa kau bisa tahu kalau Ran-ah ada di McD?" tuntut Kyuhyun tak sabar.
Changmin tersenyum kecil, "Katanya kau detektif profesional dan hebat. Masa' menemukan anak hilang saja susah?"
"Berisik! Jelaskan saja, kenapa?" shaut Kyuhyun dengan wajah memerah.
Changmin terkekeh sebelum kemudian menjelaskan.
"Tadi, kau lihat banyak badut di sekitar wahana merry-go-round, 'kan?" tanya Changmin.
Kyuhyun mengangguk, "Iya, aku tidak suka badut,"
"Itu mengapa aku menyuruhmu menunggu di sana karena aku bermaksud berbicara dengan badut tersebut," jelas Changmin.
Kyuhyun mengangguk lagi. Changmin meneruskan penjelasannya,
"Anak kecil itu, cenderung mengikuti sesuatu yang menurutnya menarik. Saat Bibi Shin menelepon kita, aku melihat jam sebelum kita berangat. Jam-jam itu adalah saatnya pergantian shift kerja atau pun jam istirahat makan siang." Jelas Changmin.
"Oh! Jadi, Ran-ah mengikuti badut itu sampai ruang staff McD tanpa sadar kalau dirinya sudah terpisah dari ibunya begitu?" tanya Kyuhyun.
Changmin mengangguk, "Benar. Karena itu aku bertanya pada badut di sana megenai Ran-ah dan ia mengatakan kalau beberapa staff yang sedang istirahat sedang menjaganya di ruang staff,"
Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ternyata sederhana, ya? Changmin memang berpikirn luas.
"Kau hebat, Minnie!" puji Kyuhyun tulus.
"Tentu saja. Aku 'kan ingin jadi ayah yang hebat dan bertanggung jawab," sahut Changmin bangga.
Kyuhyun cemberut, "Bodoh,"
"Haha, ayo pulang –aku ingin memakan ice cream yang kusimpan kemarin," ajak Changmin.
Kyuhyun mengangguk kemudian mengikuti langkah lebar Changmin.
Duk! –seseorang menyenggol bahu Kyuhyun keras dan membuat pemuda manis itu terjatuh.
"Aduh! Hati-hati, bodoh!" rutuk Kyuhyun kesal.
"Maafkan sa- lho? Kyuhyun-ssi?" sahut orang yang menabraknya barusan.
Merasa namanya dipanggil, Kyuhyun mendongak menatap pelaku penabrakan barusan, "Lho? Inspektur Kim, ada apa ke sini?"
"Berhubung Anda sedang di sini, mari ikut saya ke TKP –Kyuhyun-ssi!" ujar Inspektur itu dan segera menarik Kyuhyun bersamanya sednagkan Changmin refleks mengikuti Kyuhyun dengan senang hati.
"Tidak! Tunggu! Aku mau makan ice cream di rumah! Ice creaaammm!" seru Kyuhyun di tengah tarikan kuat Inspektur Kim.
0o0o0
"Hng... jadi korban terbunuh di ruangan ini. Penyebab kematian pendarahan hebat di kepala akibat pukulan benda tumpul. Waktu kematian sekitar 45 menit yang lalu –dimana pertunjukan musikanl masih berlangsung," ulang Changmin sambil mencatat indormasi itu pada note yang selalu di bawanya kemana pun.
"Benar. Lagi-lagi kasus ruang tertutup," sahut sang inspektur.
"Bagaimana, Kyunie?" tanya Changmin menghampiri Kyuhyun yang tampak tengah memperhatikan ruang persiapan drama musikal itu dengan seksama.
"Senjata yang digunakan apa?" tanya Kyuhyun masih melihat-lihat sekitarnya.
"Eng... bokken(**)," sahut sang Inspektur.
"Eh? Bukannya itu hanya properti untuk keperluan pertunjukkan saja? Semuanya terbuat dari gabus, 'kan?" tanya Changmin tak mengerti.
"Ya, tapi ternyata ada satu yang asli," sahut sang Inspektur.
"Sederhana. Yang unik dari kasus ini adalah –cara pelaku melarikan diri tanpa terlihat oleh siapapun," ujar Kyuhyun mengelus dagu nya serius.
"Benar. Hanya satu pintu yang bisa digunakan untuk jalan keluar bagi pelaku namun jalan itu berujung pada bagian depan gedung ini sendiri. Para penjual souvenir yang berada di bagian ujung lorong dari pintu ini mengatakan kalau mereka tak melihat siapapun keluar dari ruang persiapan saat pertunjukkan berjalan," jelas sang Inspektur memberikan informasi lebih.
"Jalan keluar lain?" tuntut Kyuhyun.
"Lewat panggung. Tidak mungkin 'kan pelaku bisa melarikan diri lewat panggung tanpa terlihat oleh penonton atau pemain yang sedang berada di panggung," sahut Inspektur.
Kyuhyun mengigit jarinya, memang benar. Hal itu mustahil di lakukan pelaku. Tapi –itu satu-satunya jalan keluar yang digunakan sang pelaku. Intinya adalah 'bagaimana caranya menjadi tidak terlihat?'.
"Pertunjukkan hari ini mengalami satu kesalahan. Salah satu aktor tersandung properti di atas panggung, aktor itu mengaku kalau properti itu tidak biasanya berada di sana makanya ia melakukan kesalahan tersebut," bisik Changmin di telinga Kyuhyun.
Kyuhyun mengangguk, "Inspektur, izinkan aku melihat panggung nya,"
Kyuhyun dan Changmin pun mulai perlahan menyusuri panggung itu dengan teliti. Kyuhyun kemudian menangkap sesuatu. Diatas panggung itu –terdapat bekas menghitam. Seperti terkena gesekan berkali-kali. Dengan kode dia memanggil Changmin dan menyuruh pemuda jangkung itu memotretnya.
"Maaf, apa ada masalah?" tanya seseorang pada mereka membuat mereka segera bangkit seolah tak terjadi apapun.
"Ah, tidak. Panggungnya... bagus ya?" ujar Changmin berusaha mengalihkan topik dengan... amat bodoh?
Kyuhyun segera menginjak kaki Changmin, menyuruh pemuda itu diam.
"Maaf, dia memang aneh," ujar Kyuhyun.
"Ahahaha, tidak apa. Jangan dipikirkan. Ngomong-ngomong, Anda siapa, ya?" tanya orang itu sopan.
"Ah, maaf. Kami, detektif privat di kota ini. Saya Cho Kyuhyun dan ini partner saya, Shim Changmin," ujar Kyuhyun memperkenalkan dirinya dan Changmin.
"Saya Kang Min Chan. Dance performance dalam pertunjukkan," balas orang itu memperkenalkan dirinya.
"Ah, ya. Saya di suruh menyerahkan ini pada kalian," ujar Kang Min menyerahkan sebuah kertas pada Kyuhyun.
"Apa ini?" tanya Kyuhyun.
"Itu denah teater," sahut Kang Min.
"Oh, terima kasih," jawab Changmin ikut melirik isi kertas tersebut.
"Baiklah, saya akan melanjutkan latihan dulu. Permisi," ujar Kang Min mengundurkan diri.
"Bagaimana, Kyunie?" tanya Changmin penasaran.
"Hng... tetap saja aku tidak mengerti trik apa yang di gunakan. Kenapa pelaku bisa kabur, ya?" gumam Kyuhyun tidak mengerti.
"Bagaimana kalau pelaku bersembunyi di balik pintu dan saat anggota teater yang lain datang, ia keluar dan berpura-pura bahwa ia baru sampai di sana juga?" ujar Changmin mengeluarkan pendapatnya.
"Tidak, pintu di buka ke arah luar. Pelaku tidak bisa bersembunyi di sana," sahut Kyuhyun membantah usulan Changmin.
"Lalu?" tanya Changmin penasaran.
"Pasti... ada sesuatu yang pelaku lakukan... dengan panggung ini,"
.
.
.
TBC
.
.
.
(*) kucing di sini maksudnya laki-laki yang berada di 'bottom' dalam hubungan sesama jenis. (Gaku juga baru tahu dari Tendou 0_o)
(**) Kata Tendou –"Bokken'" itu pedang kayu yang biasanya digunakan untuk latihan kendo untuk tingkat ebih tinggi. Beda dengan Shinai, Bokken memerlukan kelenturan dan kekuatan lebih pengguna.
