Monochrome by Path of Heaven
T rated
ChangKyu
Mystery, Adventure, Romance, Action
Typo(s), Pelaku pembunuhan yang Gaku karang-karang namanya, etc.
.
.
"Hng... tetap saja aku tidak mengerti trik apa yang di gunakan. Kenapa pelaku bisa kabur, ya?" gumam Kyuhyun tidak mengerti.
"Bagaimana kalau pelaku bersembunyi di balik pintu dan saat anggota teater yang lain datang, ia keluar dan berpura-pura bahwa ia baru sampai di sana juga?" ujar Changmin mengeluarkan pendapatnya.
"Tidak, pintu di buka ke arah luar. Pelaku tidak bisa bersembunyi di sana," sahut Kyuhyun membantah usulan Changmin.
"Lalu?" tanya Changmin penasaran.
"Pasti... ada sesuatu yang pelaku lakukan... dengan panggung ini,"
.
.
Kyuhyun terdiam –jari telunjuknya mengusap-usah dagunya. Wajahnya terlihat amat serius. Changmin yang merasa sudah diabaikan akhirnya menghampiri Kang Min yang tampak tengah berlatih dance yang menurutnya unik.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Changmin dengan tak sopan mengganggu latihan Kang Min.
"Oh –ah, tidak. Saya hanya melakukan latihan secara rutin," jawab Kang Min ragu dan malu-malu.
"Keren. Berapa lama kau bisa melakukan gerak lambat itu? Gerakan seperti itu pasti membuat tubuh pegal dan lelah, 'kan?" tanya Changmin lagi.
"Eh? Mu-mungkin.. 30 menit?" sahut Kang Min dengan wajah yang mulai memerah karena terus di puji.
"Lama juga, ya? Yah, selamat melanjutkan latihanmu," ujar Changmin dan pergi seenaknya saja.
Changmin kemudian menuruni panggung –duduk di salah satu kursi penonton di sana. Mengamati Kang Min yang tengah kembali melatih dance miliknya. Dance Kang Min unik –terlalu lambat dari yang biasanya dan –terlihat melelahkan dan cukup membosankan untuk diulang berulang kali. Tapi yah- mungkin memang di sana seni nya. Lagipula, bukankah akan lebih menyenangkan juga melihat tubuh yang bergerak lambat itu bersinar diantara gelapnya panggung.
"Minnie, ayo pulang," ujar seseorang sambil menepuk bahu Changmin.
"Huaaa!" seru Changmin kaget hingga terjatuh dari kursinya.
"Kau kenapa sih, Minnie!" seru Kyuhyun tidak terima reaksi Changmin yang seperti melihat hantu itu.
Changmin mengelus dadanya, berusaha menenangkan jantungnya dan bangkit berdiri, "Kau mengagetkanku, Kyu," sahutnya.
"Huh, bodoh! Ayo, pergi!" ujar Kyuhyun dan menyeret Changmin bersamanya.
"Eh? A-ah... Kang Min-ah! Kami permisi dulu!" seru Changmin undur diri sebelum ia benar-benar menghilang dibalik pintu theater.
Sesampainya mereka di luar gedung Theater, Kyuhyun segera menghempaskan lengan Changmin dan berjalan cepat meninggalkan Changmin di belakangnya.
"Oi, Kyuhyun-ah! Kau kenapa?" tanya Changmin sambil menyusul Kyuhyun yang tentu saja tak akan sulit melihat kakinya yang panjang.
Kyuhyun tak membalas dan hanya memberikan tatapan mengerikan pada Changmin. Kyuhyun kembali mempercepat langkahnya, meninggalkan Changmin.
Changmin menggeruk kepalanya yang tak gatal, bingung dengan kelakuan Kyuhyun yang tiba-tiba itu. Changmin pun berlari kecil, ditangkapnya lengan Kyuhyun dan menahan pemuda manis itu.
"Ne, kalau kau tidak bicara –bagaimana aku bisa mengerti masalahnya?" bujuk Changmin memandang lurus Kyuhyun.
Kyuhyun membalas tatapan itu dengan tatapan tajam sebelum membuka mulutnya, "Tadi –kau bengong melihat apa, huh?"
"He? Maksudmu saat di Theater? Oh –itu, aku melihat Kang Min-ah yang sedang latihan," sahut Changmin jujur.
"Sampai ngiler begitu, huh? Memangnya dia berdada besar dan bepinggang langsing apa?!" protes Kyuhyun tidak terima.
"Hei, Hei, apa maksud ucapanmu itu, huh? Aku tidak mengiler dan aku ini tidak tertarik dengan dada besar. Aku lebih suka yang berdada rata," sahut Changmin menatap Kyuhyun aneh.
Kyuhyun nampak agak merona sebelum kembali menyahut, "La-lalu! Kenapa kau sampai terbengong menatapnya begitu, huh!"
"Yahh.. kenapa, ya? Well, dia memang manis sih –cepat merona dan cukup seksi. Lumayan tipeku jug-"
Plak!
"Ouch! Sakit, kau apa-apaan- hoi! Tunggu! Jangan lari setelah menampar orang! Oi!"
0o0
"Jadi... Kyuhyun-ssi masih mengurung diri di kamarnya dan menolak menyelesaikan kasus ini?" tanya sang inspektur dengan nada kecewa pada Changmin yang tengah menerima telepon darinya.
"Yah, begitulah kejadiannya, ossan (*). Dia terus mengurung dirinya semenjak kami pulang dari Theater," sahut Changmin menghela napas.
"Kenapa masalahnya?" tanya Inspektur itu tak mengerti.
"Kalau aku tahu dia juga tak akan mengambek selama itu, ossan. Belakangan dia makin aneh saja memang," sahut Changmin malas-malasan.
"Memangnya apa yang kau lakukan saat kalian kembali dari Theater?" tanya Inspektur itu lagi.
"Ehh –kami hanya bicara," jawab Changmin polos.
"Bicara apa?" sahut sang inspektur lelah dengan kebodohan partner dari detektif kecil tsundere kesayangannya itu.
"Apa ya? Hmm... aku tidak begitu ingat –pokoknya, aku ditampar setelah bilang Kang Min-ah seksi," jawab Changmin dengan nada polos atau bodoh, entahlah.
Jeda beberapa sebelum sang inspektur kembali menjawab, "Kyuhyun –ssi itu tipe tsundere. Ingat itu Changmin-ssi,"
Tutt- sambungan diputuskan sepihak.
"Huh? Tsundere? Kalau itu sih aku juga tahu. Tapi –apa hubungannya dengan masalah ka- eh? Tunggu. Jangan-jangan..."
0o0
Tok! Tok! Tok!
"Ne~ Kyuhyun-ah~ buka pintunya~ Ne~" bujuk Changmin dengan suara yang dipaksanya memohon.
"Berisik! Pergi sana!" sahut Kyuhyun dari dalam kamar.
"Ayolah, Kyuhyun-ah~" pinta Changmin lagi.
"Berisik!" sahut Kyuhyun masih sama.
"Kyu-ah~" minta Changmin lagi dengan memanggil Kyuhyun dengan 'kyu-ah' kali ini. Biasanya, Kyuhyun akan melunak jika dipanggil begitu olehnya.
"Pergi!" –tapi, sepertinya tidak berhasil kali ini.
Changmin mendengus –mungkin inilah saatnya senjata pamungkas, pikirnya.
"Kyunie, buka pintunya. Kita butuh bicara," ujar Changmin dengan nada tegas namun terdapat nada lembut di sana saat ia memanggil 'Kyunie'-nya itu.
Kamar itu tak menimbulkan suara –sampai kunci diputar dan terbukalah pintu kamar itu. Menampilkan Kyuhyun dengan wajah kusut, dan piyama yang berantakan.
Tanpa butuh ucapan mempersilahkan, Changmin menerobos masuk dan duduk di pinggiran kasur Kyuhyun. Ditepuk-tepuknya sisi di sebelahnya, mengisyaratkan Kyuhyun untuk duduk di sebelahnya. Kyuhyun dengan ragu menurut, mendudukkan dirinya di sebelah Changmin. Perlahan, Changmin melingkarkan tangannya di bahu Kyuhyun. Memeluk pemuda manis itu lembut.
"Jadi, kau marah karena cemburu?" mulai Changmin.
"Ap-! Siapa bilang aku cem-"
"Kyunie," tegur Changmin. Meminta Kyuhyun untuk jujur.
"Ja-jangan besar kepala! Aku hanya- hanya –aku! Aku..." bantah Kyuhyun kacau.
Changmin tersenyum jahil kemudian berucap, "Kalau tidak cemburu –aku boleh menerima ajakan makan malam dengan Kang Min-ah, dong-"
"Hentikan, tidak boleh!" seru Kyuhyun tiba-tiba. Wajahnya ditundukkan dan tangannya meremas celana piyamanya erat.
"Kenapa? Padahal Kangmin-ah su-"
"Berhenti memanggilnya dengan akrab begitu!" seru Kyuhyun lagi.
Changmin diam, dia sadar kini waktunya untuk Kyuhyun bicara... dengan jujur.
"Kenapa kau mudah akrab dengan semua orang? Kenapa kau begitu hangat pada siapapun? Kenapa –kau selalu menebarkan senyum bodoh mu itu, huh?!" seru Kyuhyun yang makin lama makin parau.
"Se-seharusnya... seharusnya kau hanya tersenyum padaku! Bertingkah ramahlah hanya denganku saja –harusnya... harusnya... semua kehangatanmu itu... untukku... seorang," ucap Kyuhyun akhirnya dengan jujur dari lubuk hatinya terdalam.
Changmin menghela napasnya, mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun.
"Meski begitu –apa kau yakin aku melakukan itu semua pada mereka dengan tulus?" ujar Changmin berbisik di telinga Kyuhyun.
Kyuhyun mendongak –wajah mereka berhadapan. Hanya berbatas udara beberapa centi saja. Mereka bahkan bisa merasakan napas satu sama lain.
"Aku sudah pernah bilang, 'kan? Yang kupercaya itu Cuma kau saja," ujar Changmin melanjutkan.
Kyuhyun menatap Changmin tak percaya.
'Jadi... ucapan itu –benar?'
"Kau tidak percaya, ya? Kalau begitu –akan kuubah ungkapan itu menjadi sebuah janji," putus Changmin. Direngkuhnya bahu Kyuhyun dan mendekatkan wajah mereka hingga hidung keduanya bersentuhan.
"Aku –Shim Changmin. Berjanji akan mencurahkan semua rasa percayanya hanya pada Cho Kyuhyun seorang. Merelakan nyawa nya hanya untuk Cho Kyuhyun dan akan terus setia berada di sisinya hingga... Waktuku sampai," ujarnya tegas. Changmin mendekatkan bibirnya. Dikecupnya pelan bibir merah yang selalu ia idamkan itu dengan lembut. Mengalirkan semua curahan perasaannya pada pemuda manis yang sesungguhnya selalu ia jaga dalam hatinya.
Ciuman itu terlepas –Changmin tersenyum menatap Kyuhyun yang memerah wajahnya.
"Hei... hentikan wajah seperti itu atau akan kumakan kau malam ini," ancam Changmin dengan bercanda namun-
Kyuhyun justru makin merona dan matanya menjadi tak fokus. Menatap antara ingin dan malu.
Changmin menjauhkan wajahnya dan menghembuskan napas kasar, "Kau yang minta,"
Dan malam itu –menjadi malam milik mereka berdua. Ya, kali ini –hanya mereka berdua saja. Seutuhnya, hanya milik mereka.
0o0
"Bisa aku bertemu dengan produser di sini? Ada yang ingin kutanyakan," pinta Kyuhyun dengan keprofesionalan-nya pada salah seorang staff yang hanya mengangguk kemudian membawa pemuda manis itu pergi.
"Mood anak itu benar-benar menyeramkan. Bagaimana kau bisa membuatnya jadi bersemangat begitu lagi, Changmin-ssi?" tanya inspektur penasaran.
Changmin hanya tersenyum menampilkan gigi-giginya kemudian menjawab, "Bagaimana ya~?"
Sang inspektur hanya mendengus maklum kemudian pergi dari sana.
Changmin kembali mendudukkan dirinya di kursi penonton –memandangi panggung yang kosong melompong.
"Sendirian saja, Changmin-ssi?" sapa seseorang dari belakangnya.
Changmin menoleh, "Oh? Kang Min-ah?"
"Halo. Sedang melakukan investigasi lagi?" tanya pemuda itu ramah –rambut pirangnya terlihat bersinar dibawah sinaran lampu redup di ruang theater itu.
"Begitulah. Kau sendiri? Latihan?" tanya Changmin beramah tamah.
"A-ah... iya. Ng... anu, Changmin-ssi apa setelah ini kau-"
"Minnie!" panggil Kyuhyun memotong ucapan Kang Min.
Kang Min mendengus –menatap kesal pada Kyuhyun yang tengah berlari kearah Changmin. Kyuhyun yang sudah sampai disebelah Changmin menyadari tatapan itu dan segera membalasnya dengan tatapan yang seolah mengatakan 'aku-sudah-menang-jelek'.
Changmin yang menjadi objek perebutan sendiri hanya menghela napas lelah. Satu pelajaran yang dia dapat. Kyuhyun itu tipe tsundere yang kekanakan –tidak akan bisa berubah bagaimana pun.
"Ada apa, Kyunie?" tanya Changmin menarik tangan Kyuhyun untuk duduk di sebelahnya. Ya, sejak semalam uhm! Tepatnya setelah 'apa yang terjadi' semalam, Changmin memutuskan untuk memanggil Kyuhyun dengan Kyunie untuk kedepannya.
"Aku sudah dapat apa yang aku mau. Jadi, ayo pulang," ajak Kyuhyun mengabaikan kehadiran Kang Min.
"Baiklah. Aku permisi dulu, Kang Min-ah. Sampai jumpa," ucap Changmin kemudian berjalan keluar bersama Kyuhyun disampingnya.
0o0
"Jadi... apa yang kau dapatkan, Kyunie?" tanya Changmin sesampainya mereka di apartemen mereka.
Kyuhyun hanya tersenyum manis –menyalakan AC diruangan itu dan duduk di sofa. Oh yah, mereka berhasil membeli AC. Akhirnya.
"Duduklah," ujar Kyuhyun.
Changmin menurutinya dan hanya memperhatikan saat Kyuhyun memasukan sebuah CD dalam DVD player mereka.
"Film apa?" tanya Changmin penasaran.
"Pentas theater saat pembunuhan itu terjadi," sahut Kyuhyun dan menekan tombol 'play' pada remote.
Televisi pun mulai menampilkan gambar dimana panggung mulai terisi. Beberapa aktor dan aktris mulai dengan dialog mereka. Opera kali ini bertemakan tentang kesalah pahaman. Klasik, karya Shakespeare.
"Aku benci karya shakespeare," komentar Changmin sambil menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Shht! Jangan protes dan perhatikan saja baik-baik," perintah Kyuhyun dengan mata yang masih terfokus pada televisi.
Changmin mendengus –bagi Kyuhyun yang memang lumayan penyuka drama –opera klasik membosankan seperti ini pasti menyenangkan. Tapi baginya –seorang otomegamers, opera seerti itu hanyalah sampah yang harus dibakar hangus.
Changmin manatap televisi tanpa minat. Matanya tak mengikuti alur cerita. Hanya berkeliaran tak jelas memperhatikan setting panggung yang setidaknya membuatnya merasa lebih tertarik.
Waktu berlalu tanpa terasa –Changmin yang hampir tertidur kembali terduduk tegap dan memperhatikan televisi. Seketika matanya menangkap sesuatu yang janggal. Direbutnya remote di tangan Kyuhyun yang langsung menuai protes dari pemuda manis itu.
"Minnie!" seru Kyuhyun tak terima saat Changmin justru memutar mundur tayangan itu.
Changmin tak menjawab –matanya mengawasi televisi dengan awas. Seketika bibirnya melengkungkan sebuah senyuman. Dia pun memutar maju dengan cepat video tersebut.
"Perhatikan," perintah Changmin.
Kyuhyun menurut dan mengalihkan pandangannya pada televisi.
"Mengerti, 'kan?" ucap Changmin melempar senyuman pada Kyuhyun.
"Hoo... begini toh, caranya dia kabur,"
0o0
Siang itu, Theater sepi. Tak ada pentas hari ini. Dipanggung pun hanya ada detektif muda Cho dengan salah satu staff dance performance kebanggaan kelompok theater itu. Saling berhadapan dengan pandangan saling menusuk. Aura dingin menyeruak meski tak ada pendingin ruangan yang dinyalakan.
Kyuhyun menarik napas dan memulai, "Kang Min-ssi, bisa Anda jelaskan mengapa Anda membunuh Seo Chan-ssi?"
Kang Min membelalakkan matanya, tubuhnya menegang dan mundur selangkah. Matanya tak lagi terfokus, "Apa yang kau bicarakan?"
"Aku sudah memecahkan kasus ini –jadi, tak ada lagi gunanya kau berusaha menyembunyikannya," ujar Kyuhyun lagi.
Kang Min menunduk, tak menjawab.
"Beberapa hari lalu –sesaat setelah kau membunuh Seo Chan-ssi, kau melarikan diri dengan cara... bersembunyi di balik properti panggung," lanjut Kyuhyun memulai penjelasannya.
"Apa yang kau bicarakan? Kalau bersembunyi di sana, lama kelamaan akan ketahuan, 'kan?" bantah Kang Min membuang mukanya.
"Ya, mungkin saja. Tapi, kau tidak akan ketahuan jika kau bergerakbersama properti itu dengan amat lambat selama berlangsungnya opera di panggung," sahut Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan.
Kang Min tak menjawab, tangannya mengepal erat tak nyaman.
"Penonton tidak akan sadar jika kau bergerak sangat lambat. Ditambah, mata mereka semua pasti akan terfokus pada pentas opera. Tak ada yang mau repot-repot memperhatikan properti panggung. Dan lagi, telah menjadi sifat dasar manusia jika mereka sudah terfokus pada satu objek, objek lain menjadi seolah tak terlihat,"
"Anggota theater ini sudah profesional. Tidak mungkin melakukan kesalahan bodoh seperti tersandung properti. Jadi, ada yang seseorang yang dengan sengaja menaruh properti itu di sana. Atau mungkin juga... terpaksa meninggalkan properti itu di sana," Kyuhyun terus melanjutkan.
"Bekas gesekan di sana buktinya," tunjuk Kyuhyun pada lantai panggung yang tergores hitam.
Kang Min mendongak, menatap Kyuhyun marah, "Untuk apa kau membongkarnya?"
Kyuhyun tersentak kemudian tersenyum sedih, "Karena aku hanya ingin... dunia ini di isikan oleh dua warna. Aku tidak ingin dunia ini di isi oleh manusia-manusia abu seperti mu,"
"Heh! Dengan bermain detektif begini... kau pikir kau sudah menjadi putih, HUH?!" seru Kang Min tidak terima dan menodongkan sebuah pisau pada Kyuhyun.
Dengan sigap dan lincah, Kang Min segera berlari menuju Kyuhyun, berusaha menikam pemuda itu. Kyuhyun mengelak namun sayangnya kakinya terbelit dan ia pun terjatuh. Sama sekali tak siap dengan serangan semacam itu.
"Tu-tunggu! Kau tak bisa membunuhku di sini! Kau akan dipenjara!" seru Kyuhyun berusaha menghentikan Kang Min.
"Apa perduli ku? Kalau pun aku tiddak membunuhmu, aku juga akan dipenjara, 'kan?" sahut Kang Min.
Ya, laki-laki itu benar. Membunuh Kyuhyun saat ini atau tidak, ia tetap akan masuk penjara dengan alasan pembunuhan.
Kang Min sudah siap dengan pisau di tangannya, menodongkannya pada Kyuhyun dengan jarak dekat.
"Ja-jangan... Tunggu!" mohon Kyuhyun namun pisau justru makin mendekati lehernya.
"Ch-CHANGMIN!"
Duak!
Kang Min terpelanting. Tendangan memutar Changmin tepat mengenai kepalanya.
"Maaf, Kyunie. Toiletnya penuh tadi," alasan Changmin sambil membantu Kyuhyun berdiri.
Plak! –Kyuhyun menampar Changmin keras. Matanya berkaca-kaca.
"Bodoh!" seru Kyuhyun tidak terima.
Changmin hanya nyengir tidak bersalah sambil mengusap pipinya yang memerah dan perih.
"Ngambek nya disimpan dulu, ya? Untuk sekarang... kita harus membawa orang itu ke kantor polisi dulu," ujar Changmin sambil menunjuk tubuh Kang Min yang pingsan tak sadarkan diri akibat tendangan kuatnya.
0o0
Dan begitulah, hari-hari sudah menjadi damai kembali. Kyuhyun sudah tidak lagi mengambek setelah berhasil menghukum Changmin dengan menyuruh pemuda itu untuk membelikan semua ice cream yang ia inginkan. Tidak ada kasus yang harus di selesaikan yang dengan kata lain –mereka sedang menjadi pengangguran.
"Ne, Kyunie," panggil Changmin pada Kyuhyun yang sedang malas-malasan sambil membaca majalahnya.
"Hm?"
"Sebaiknya kita mencari pekerjaan jika kita masih ingin hidup enak," saran Changmin.
"Kau ini kenapa sih serius sekali begitu? Seperti uang di rekening kita menipis saja," ledek Kyuhyun tanpa memandang Changmin sama sekali.
Changmin menghela napas, "Sayangnya, kenyataannya memang begitu, Kyunie,"
"..."
"..."
"..."
"..."
"Serius?"
"..."
"..."
"..."
"Heeeehhhh?!" Seru Kyuhyun tidak terima.
"Makanya, ayo cari kerja sambilan,"
.
.
.
TBC
(*) ossan: middle-age man
.
.
.
Reader-ssi~! Maaf lama banget updatenya!
Si Tendou lagi kecantol banget sama 'Tomochin' sih. Tiap hari kerjanya nonton AKB0048, PV AKB48, baca AKB49 dan lain-lain makanya jadi males banget nulis –liat aja, chap ini pendek banget, 'kan? Dasar cowok. Pasti sukanya ngeliatin yang gravure gitu deh =="
OK! Semoga reader-ssi semua puas dengan chap ini dan ohya!
Saya mau kalian VOTE LAGI! XD
Kalian maunya Changmin kerja sambilan dimana? Terus, Kyuhyun kerja sambilan dimana? Lalu, kalian ingin kasus selanjutnya yang seperti apa? –nanti akan Gaku sampaikan keinginan kalian sama Tendou~
Format vote nya...
Changmin: (Tenpat kerja sambilan) + alasan
Kyuhyun: (Tenpat kerja sambilan) + alasan
Kasus yang diinginkan:
Contoh:
Changmin: Salon. Jadi stylist kayaknya keren deh! Lagian cewek mana sih yang nggak mau di sentuh stylist ganteng?
Kyuhyun: Nekocafe. Kayaknya lucu aja liat Kyunie pake nekomimi trus melayani pelanggan.
Kasus yang dinginkan: Aku ingin kasus yang banyak adegan berantem antara Mino sama Changmin.
Vote dengan alasan paling menarik yang akan dipilih! OK! Sampai jumpat chap depan ya~ ^o^/
