Fade into You
(Fade #1)
(Remake)
Chanbaek's fanfiction based of novel by Kate Dawes
Jadi, ini bukan murni ceritaku. Aku hanya me-remake dari novel karya Kate Dawes dan mengganti nama dalam cerita dengan nama anggota EXO dan lain-lain.
Cerita seluruhnya karangan Kate Dawes
GS, M rated.
Warn! NC scene.
*
Tiga puluh menit kemudian, kami berada di Malibu, berjalan masuk kesebuah rumah besar. Pohon-pohon palem yang menghiasi halaman rumput, dan rumah itu diterangi oleh lampu yang bersinar dari atas tanah.
Chanyeol membuka garasi, mematikan mesin mobil dan berkata, "Aku tidak sabar untuk mengajakmu ke rumahku." Dia keluar dan membuka pintu untukku. Ketika aku berdiri, dia membawaku dalam
pelukannya dan menciumku dengan ganasnya.
"Aku tak sabar untuk melihat rumahmu. Ini terlihat indah."
"Itu bukan alasanku membawamu ke dalam rumah." Dia mengambil tanganku dan menuntunku ke dalam.
Kami masuk melalui pintu di garasi, dan mengarah tepat ke ruang tamu yang luas. Nuansanya gelap mulai dari dinding, lantai dan perabotan, nuansa cokelat dan merah, dengan kolam renang kecil yang bercahaya dari lampu di sekitar ruangan. Kantornya cerah dan terlihat modern, tapi rumahnya bernuansa hangat, sangat maskulin.
Sama seperti dirinya. Dan seperti caranya yang posesif ketika menciumku lagi saat kami baru saja masuk ke dalam rumah.
Tasku jatuh ke lantai. Chanyeol membuka ritsleting di bagian belakang gaunku dan jatuh ke pergelangan kakiku. Aku melangkah keluar dari gaunku, dan menemukan diriku berdiri hanya menggunakan bra, celana dalam, dan sepatu.
"Kau punya cara untuk membuatku telanjang, Chanyeol."
"Aku suka ketika kau terekspos untukku."
Bibirnya menutup bibirku, lidahnya lahap menjelajahi mulutku.
Aku berhasil menarik diri sedikit. "Bolehkah aku melihatmu?"
Dia mengerang dari dalam dadanya. "Aku ingin kau melihatku. Terlanjangi aku."
Tangannya jatuh ke sisi tubuhnya dan dia berdiri di depanku, menunggu. Sialan. Aku akan membuka pakaian Park Chanyeol dan melihat tubuh indahnya telanjang.
Aku mengangkat kemejanya, tanganku di bawah, merasakan otot-otot di perut dan dadanya. Aku membuka kancing kemejanya, menariknya bahunya dan menjatuhkan pakaiannya bersama dengan pakaianku di lantai.
Tubuhnya seindah seperti yang aku bayangkan. Dadanya yang lebar, ditutupi oleh rambut halus yang tipis. Aku meletakkan tanganku membelai dan merasakan betapa keras dadanya.
Ketika aku menatap wajah Chanyeol, aku melihat matanya membara dengan intensitas. Aku terus menatap matanya saat aku menurunkan tanganku ke perutnya dan menemukan sabuknya. Mendengar denting logam saat aku melepaskan gesper itu seperti denting peringatan: Kau akan segera menyentuh kejantanannya...
Dan begitulah yang kulakukan. Tanganku menyelinap di bawah pinggang boxernya dan sebelum aku tahu, jariku sudah menyentuh pangkal ereksinya. Aku menggerakkan tanganku untuk
membungkusnya dalam genggaman, dan merasakan seberapa besar miliknya.
Tangan Chanyeol membelai sisi wajahku, dan ia menarikku ke mulutnya. Sebuah ciuman panas membakar diikuti tanganku yang mengeksplorasi panjang ereksinya. Kulit selembut beludru, menyelubungi kejantanan terkeras dan terbesar yang pernah kurasakan. Sebuah gelombang kegairahan meledak dalam diriku saat
kusadari bahwa aku adalah obyek yang menyebabkan kegairahannya.
"Ya Tuhan, Baekhyun, sentuhanmu begitu sempurna."
Dia menciumku lagi saat ia melepas bra-ku. Payudaraku terasa berat dan ia menangkup masing-masing di tangannya, menggosok putingku dengan ibu jarinya.
Aku mencium lehernya dan turun dari dada ke perut, kemudian berlutut. Aku membuka ritsleting celananya dan menurunkan bersama dengan boxernya. Aku pertama kali melihat kejantanannya. Itu panjang dan besar, mencuat lurus dan berkedut dengan semangat.
Sepertinya aku melihat itu selama beberapa menit, tapi aku tahu itu hanya beberapa detik. Ketika aku akan memasukkannya ke dalam mulutku ia menyentuh bahuku dan mendesakku untuk berdiri.
Chanyeol membungkus tangannya di pinggangku. "Aku ingin kau di sofa."
Dia mengangkatku dengan mudah dan melangkah ke arah sofa, menurunkanku hingga berbaring di sofa.
"Aku sudah sangat ingin merasakanmu sepanjang hari," katanya, mencium leherku, dadaku, berhenti di masing-masing puting dan membuat lingkaran dengan lidahnya. Puncak putingku mengeras karena gerakannya.
Chanyeol sedang berlutut di lantai saat aku melirik sambil berbaring di sofa. Dia menarik celanaku turun kaki dengan cepat, hampir menghentak, dan pada saat itu aku bahkan tidak peduli jika dia merobek celana dalamku sekalipun.
Dia mengangkat kakiku dengan salah satu tangannya yang besar, tangan yang kuat memegang pergelangan kedua kakiku, dan melepaskan sepatuku.
Dia menjilati kedua betisku, kemudian turun belakang lututku, dimana hampir menggelitik sedikit, tapi ini terlalu panas untuk menggelitik. Dibagian bawah pahaku, mencium, mengisap... berhenti di sana, mengisap... Apakah dia memberiku cupang di bagian belakang pahaku? Menandaiku? Whoa.
Ketika kakiku terpisah, dia menempatkan salah satu kakiku di atas bahunya. Dia mendorong keluar kakiku yang lain, jauh, menyebarkan diriku terbuka lebar sama seperti yang ia lakukan di sofa kantornya.
"Aku suka kalau kau begitu terbuka bagiku," katanya, menggemakan pikiranku.
"Chanyeol..." Suaraku melemah. Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata. Aku bahkan tak yakin apa yang harus kukatakan.
Dia mencium bagian dalam masing-masing pahaku, berlama-lama sedikit disalah satunya, membuka mulutnya dan membiarkan giginya menyeret sepanjang kulitku. Kemudian membenamkan wajahnya di antara kedua kakiku, lidahnya membelai sepanjang lipatan basah.
Chanyeol menggunakan jari-jarinya untuk membukaku, mengekspos clitku yang sudah begitu terangsang kepadanya. Ketika lidahnya bersentuhan dengannya, aku ingin tetap seperti itu untuk sementara waktu, mungkin berjam-jam, mungkin berhari-hari... Aku hanya tak ingin dia berhenti.
Pinggulku bergoyang bersama dengan sentuhan lidahnya yang membuat gerakan melingkar di sekitar clitku, tubuhku membuat gerakan dalam arah yang berlawanan, menciptakan gesekan yang
belum pernah kurasakan sebelumnya. Tubuhku memohon untuk di sentuh dan Chanyeol memberiku semua yang ku bisa terima.
Aku menjadi gila oleh suara yang dia ciptakan, erangan dan hampir menggeram dalam kenikmatannya sendiri, kenikmatan itu berasal dari usahanya memuaskanku.
"Chanyeol, aku begitu dekat..."
Aku merasakan napas panasnya padaku saat ia bicara sambil menjilat. "Ayo klimakslah. klimakslah dalam mulutku."
"Jangan berhenti."
Aku menggeliat bersamaan dengan belaian lidahnya, orgasme menyentak melalui tubuhku. Otot perutku meregang, berhenti, berulang-ulang, dan tubuhku bergetar saat aku melemparkan kepalaku
di atas bantal dan meneriakkan namanya.
Dia mengerang, menambahkan getaran saat lidahnya membelai, dan orgasme meningkat mengguncang melalui setiap inci dari tubuhku.
Ketika orgasme itu mereda, Chanyeol terdiam di tempat, mencium paha dalamku. Setelah beberapa saat, ia bergerak di atasku, mulutnya segera akan mengaitku. Aku merasakan kelaparan dalam ciumannya-mendalam, bergairah, penuh keinginan, kebutuhan.
Dia berlutut di antara kakiku dan merobek paket foil dan memegang kondom. Aku menyaksikan bagaimana ia menggulirkannya di sepanjang ereksinya. Aku bisa mendengar jantungku berdetak di telingaku. Aku ingin lebih. Aku butuh lebih.
Kepalaku berguling ke satu sisi ketika ia meletakkan tangannya di samping sofa. Ia memberi bantal untuk menopang berat tubuhnya yang kuat. Lenganku hanya di atas kepalaku. Chanyeol meraih kedua
tanganku dengan satu tangan, memegang pergelangan tanganku bersama-sama seperti yang ia lakukan dengan pergelangan kakiku, menjepitku di sofa.
Aku melihat wajahnya. Bibirnya terkatup rapat, hidungnya mengembang, dan matanya menatap tajam ke arahku dengan nafsu. Aku berada di bawah kendali seorang pria yang berniat mendapatkanku, memilikiku secara seksual, menuju pelepasannya sendiri.
"Siap, Baekhyun?"
Aku mengangguk.
"Bagus, karena aku akan bercinta denganmu."
Aku merasakan kepala kejantananya menyentuh di antara lipatanku. Dia mendorong sedikit dan aku menerima satu inci pertama atau lebih.
"Kau begitu ketat."
"Uh huh..." nada suaraku menjadi tinggi lagi. Chanyeol memiliki cara untuk membuatku terdengar seperti diriku yang bukan biasanya.
Dia masuk sepenuhnya dalam satu dorongan keras, membuat kepalaku kembali ke bantal, saat punggung dan leher melengkung, menerima semua miliknya dalam diriku, aku merasakan bolanya menempel kulitku.
Aku terkesiap. Chanyeol begitu keras, begitu besar, begitu dalam, aku tak yakin aku bisa menerima lebih lagi tanpa mencapai orgasme dengan cepat.
Mulutnya dileherku dan aku merasa bibirnya mengisap kulitku, dan lidahnya menjilatiku dan dia menyebut namaku lagi dan ditarik kembali, hampir semuanya keluar, kemudian masuk lagi ke dalam
diriku dengan dorongan yang panjang.
Sebelumnya, aku belum pernah dikendalikan seperti ini sebelumnya saat berhubungan seks, belum pernah seorang pria memegang pergelangan tanganku dan menguasaiku seperti ini. Aku bahkan tidak pernah berpikir tentang hal itu. Mungkin ada aspek yang tak nyaman atau bahkan menakutkan, tapi Chanyeol melakukannya dengan keahlian yang tinggi. Benar-benar memegang kendali, dan benar-benar fokus pada kenikmatan kami berdua.
Pinggulnya bergoyang maju mundur, kemudian bergerak hampir seperti gerakan melingkar, kejantanannya mengisiku dan menyentuh setiap bagian dari intiku yang membengkak.
"Kau terasa begitu nikmat," geramnya.
Dia menundukkan kepala ke dadaku dan mengambil puting ke dalam mulutnya. Dia mengisapnya dengan dalam dan lembut, tapi kemudian merapatkan bibirnya, menggoda dan menarik putingku hingga benar-benar berubah menjadi keras. Chanyeol memandangnya, menjilat, dan
kemudian memberikan perhatian yang sama dengan putingku yang lain.
Dia melepaskan pegangannya padaku dan meletakkan tangannya di kedua sisi tubuhku. Aku mengulurkan tangan dan merasa lengannya yang keras. Tangannya menopang berat badannya saat ia
menghunjamku dengan lebih keras. Chanyeol nyaris garang saat ia
menghujamku. Napasnya berubah semakin dalam dan pendek.
Dia memberiku kenikmatan saat dia juga memberi kenikmatan untuk dirinya sendiri. Aku ingin dia klimaks dan mendapat orgasme terbaik yang pernah ia alami.
Dia menciumku lagi, mengambil lidahku ke dalam mulutnya dan kemudian mengisapnya. Kenikmatan itu meningkat dan aku mulai membuat suara-suara kecil di dalam mulutnya, yang membuat
pinggulnya bergerak dengan kekuatan yang lebih.
Aku merasa kejantanannya berdenyut, berdenyut semakin dekat untuk mencapai klimaks. Tanganku mengepal erat di lengan atasnya dan aku merasa otot-ototnya berubah menjadi lebih menegang. Aku mendongak dan melihat dia memiringkan kepalanya ke belakang.
Lalu ia melihatku lagi, mengambil bibirku dalam ciuman liar dan berkata, "Aku akan keluar di dalam dirimu, Baekhyun."
Aku belum pernah disetubuhi seperti ini sebelumnya. Belum pernah memiliki seorang pria yang begitu bertekad untuk bercinta seperti ini. Belum pernah ada seorang pria bicara denganku dengan begitu manis dan begitu kotor pada saat yang bersamaan. Aku belum pernah begitu
terangsang seperti sekarang dan itu membuatku ingin memberikan apapun yang Chanyeol inginkan.
"Apa kau menginginkannya?" Ia menghela napas.
"Ya, keluarlah. Aku sangat ingin kau klimaks."
Sangat sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Dia benar-benar mengambil napasku, secara harfiah. Aku tersentak dan bergetar saat aku mulai merasakan orgasme lain muncul dalam diriku dari titik dimana kejantanan Chanyeol yang keras itu bergesekan denganku dalam irama yang sempurna.
"Persetan..." Suaranya rendah dan mendesah.
Aku merasa dia menegang. Sodokannya melambat nyaris berhenti. Lalu ia kembali masuk ke dalam diriku, sangat dalam, dan mengerakkan pinggulnya penuh semangat saat ia memompa benihnya masuk ke dalam kondom.
"Ya Tuhan, Baekhyun," katanya saat ia klimaks.
Dia menurunkan tubuhnya ketubuhku dan memelukku erat-erat. Aku menyukai berat tubuhnya berada di atas tubuhku, kelelahannya akibat nafsu yang kuat atas diriku.
Kami berbaring seperti itu selama beberapa saat, dan kemudian Chanyeol
merubah posisinya sehingga aku berbaring di samping tubuhnya di sofa besar dan lebar, dengan lenganku melintang di dadanya dan kepalaku bersandar padanya, menatap kearah wajah pria yang begitu mendambakanku.
•••
Kami bersantai di sofa selama sekitar tiga puluh menit, memikirkan apa yang baru saja kami lakukan.
"Itu menakjubkan," kata Chanyeol.
"Yang terbaik."
Aku tidak berbohong. Itu memang seks terbaik yang pernah kumiliki, tidak diragukan lagi karena dia menjadi pria paling seksi yang pernah tidur denganku, dan cara dia melakukannya, mengambil kendali, menguasaiku.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Aku benar-benar tidak
mengharapkan apa-apa, tapi apa yang akhirnya terjadi adalah mengejutkan.
"Apakah kau siap?" Katanya.
Aku menatapnya dengan senyum di wajahku. "Itu tergantung. Aku harus membersihkan diri dari apa yang baru saja kita lakukan." aku tertawa, dan dalam beberapa detik, aku menyesalinya.
"Kau bisa istirahat di jalan. Aku akan memastikan kau akan baik-baik saja."
Apa? Dia akan mengantarku pulang. Aku tidak mau bertanya mengapa, dan merasa lebih dari kewalahan, aku mungkin tidak dalam kerangka berpikir yang benar untuk percakapan ini. Di atas semuanya, apa yang akan kulakukan? Memohon padanya untuk membiarkanku menginap?
Kami nyaris tidak bicara di dalam perjalanan kembali ke LA. Semakin lama kita berada di dalam mobil, semakin aku merasa sakit hati, dimanfaatkan, dan murahan. Aku bertanya-tanya di mana
namaku akan berada di daftar nama wanita lain yang ia bawa pulang, begitu menggebu-gebu, dan kemudian dilupakan.
Ketika kami sampai ke tempatku dia berkata, "Aku akan mengantarmu sampai ke pintu."
"Tidak, kau tak perlu melakukannya... Sungguh." aku mengambil tasku dan meraih pegangan pintu.
"Baekhyun, tunggu sebentar." Dia meraih tanganku dan membawanya ke wajahnya. Dia mencium punggung tanganku dan berkata, "Terima kasih untuk malam yang luar biasa."
Aku berhasil mengeluarkan senyum palsu terbaikku yang ku bisa dan cepat keluar dari mobil tanpa berkata apa-apa. Aku berjalan di jalan setapak, sampai ke pintu, memasukkan kunci di lubangnya... tanpa
berbalik untuk melihat dia duduk di sana didalam mobilnya. Butuh kemauan yang keras untuk melakukannya, aku tak tahu aku memilih untuk melakukan itu.
Aku melangkah masuk dan segera pergi ke kamar mandi. Aku memandang diriku di cermin dan air mata mulai mengalir.
Bagaimana aku bisa begitu bodoh? Begitu mudah tertipu? Kenapa aku membiarkan pertahananku bobol? Kenapa aku membiarkan seorang pria menggunakan dan mengontrolku seperti itu? Sial! Aku tahu aku bisa lebih baik dari itu!
Semua pikiran negatif yang dulu aku punya, setelah Daehyun, datang
bergemuruh kembali ke pikiranku. Aku menyalahkan diriku sendiri atas segala sesuatu yang telah terjadi malam itu, sama seperti aku menyalahkan diriku sendiri karena membiarkan diriku menjadi begitu rentan terhadap Jung Daehyun.
Apa yang Daehyun lakukan adalah jauh dari apa yang Chanyeol baru saja lakukan padaku, tapi itu semua karena aku membiarkan diriku menjadi rentan terhadap sesuatu yang selalu penuh dengan bahaya, yang membuatnya seperti tindakan yang kuat, tapi sesuatu yang aku tidak siap untuk melakukannya lagi, dan melihat apa yang terjadi.
Aku begitu emosional dan meninggalkan kamar mandi. Mungkin Luhan masih terjaga, dan dia akan membiarkanku melampiaskan frustrasiku. Dan mungkin akan menjadi "Aku bilang juga apa" untuk
kuhadapinya, tapi pada saat itu aku tak peduli. Aku hanya tidak ingin sendirian.
Ketika aku sampai ke kamarnya, aku menemukan bahwa dia tidak ada di sana.
Bagus. Aku sendirian.
Aku berpikir untuk menelpon Kyungsoo, tapi sekarang sudah hampir pukul satu pagi di L.A, dan benar-benar larut malam di Ohio. Tidak mungkin aku akan meneleponnya. Mungkin itu pilihan terbaik
bahwa aku tidak bisa bicara dengan kakakku sekarang.
Akibat kelelahan fisik dan emosional aku tertidur dengan cepat, terima kasih Tuhan. Aku butuh istirahat.
Apa yang aku tidak butuh adalah mimpi: Aku berdiri dengan punggung menempel ke dinding, dan dia telah menyudutkanku. Dia memunggungiku, dan yang aku bisa lihat adalah siluet tubuhnya, berdiri sekitar dua meter di depanku. Aku tak punya jalan keluar. Tubuhku bergetar dengan rasa takut. Adrenalin mengalir melalui pembuluh darahku. Aku bisa mencoba untuk berlari, tapi aku tahu dia akan menangkapku. Aku melihat siluet bahu kanannya naik dan ditarik kembali. Kemudian hal yang lebih menakutkan yang pernah kulihat: lengannya telah mengepal siap menghantam, sejajar dengan wajahku.
•••
Aku terbangun, bersyukur bahwa itu hanya mimpi, bahwa aku belum terkena pukulan, dan kerusakan yang dilakukannya adalah saat aku berbaring di sana berendam dalam keringat dingin.
Sialan Chanyeol. Tidak, aku yang sialan karena membiarkan kewaspadaanku turun dan membiarkan orang lain masuk ke zona amanku.
Orang-orang mengatakan aku telah memasang dinding pembatas setelah insiden dengan Daehyun. Tapi apa yang mereka tidak tahu adalah bahwa itu lebih dari dinding. Ini sebuah benteng. Ada parit di sekitarnya, dan air bawahnya diisi dengan buaya. Ada jembatan dengan kabel yang akan menyala dengan semburan api besar jika seorang pria mencoba untuk menyeberanginya.
Jadi bagaimana Park Chanyeol bisa masuk ke dalam benteng pertahananku?
Aku melepaskan sprei tempat tidur yang basah, dan menanggalkan pakaianku. Aku berbaring kembali, telanjang, telanjang di tempat tidur, dan untungnya kantuk datang sekali lagi... kali ini tanpa mimpi.
•••
Ketika aku bangun di pagi hari, masih belum ada tanda-tanda adanya Luhan, tapi mobilku ada di sana. Aku sudah berharap dia akan membiarkanku meluapkan semua pada dirinya.
Aku tidak melihatnya selama sisa akhir pekan. Aku mengirim sms padanya beberapa kali, tetapi tidak mendapat balasan. Aku tahu aku tidak bisa menelepon Kyungsoo dan menceritakan semuanya. Dan ketika minggu bergulir aku selalu menelepon orang tuaku- aku tidak merasa butuh bicara dengan mereka.
Aku mengirim email sebagai gantinya, pura-pura flu dan sakit tenggorokan, dan meminta maaf karena tidak bisa bicara. Ayahku menulis kembali dalam waktu tiga puluh menit, menyampaikan pesan ibuku tentang resep obat untuk sakit tenggorokan. Aku merasa bersalah karena berbohong pada mereka, tapi aku tidak bisa bicara dengan mereka saat itu. Aku tidak punya pilihan.
Aku menghabiskan akhir pekan sendirian saja, menonton hal-hal yang akan dimasukkan ke dalam daftar antrian Netflix-ku.
Di satu sisi, aku juga takut untuk menghadapi hari Senin. Kutahu aku tidak bisa bolos bekerja, tak peduli betapa aku ingin menghindarinya, tapi terlihat seperti ada sesuatu yang salah dan akan membuat Kris bertanya padaku tentang hal itu. Dari sisi baiknya bahwa aku
memiliki sesuatu selain dari streaming film yang harus aku fokuskan, dan tidak berpikir tentang betapa bodohnya aku telah melakukan hal sejauh itu dengan Chanyeol.
Kris memanggilku tak lama setelah aku membuka kantor dan mengatakan bahwa dia akan keluar sepanjang hari. Aku menarik napas lega. Aku bisa kembali dengan mudah ke pekerjaanku selama
satu hari.
Aku akhirnya bisa berhubungan dengan Lugan kembali ketika makan siang dengan menu salad di mejaku.
"Bagaimana akhir pekanmu?" Tanyanya.
"Oke."
"Apa yang terjadi dengan Chanyeol?"
Pintu air telah terbuka dan aku mengatakan padanya semua ceritanya.
Ketika aku selesai dia berkata, "Dasar bajingan, Lihat, ini apa yang sudah kubilang padamu agar kau waspada."
"Aku tahu, aku tahu." Aku tidak ingin dikuliahi.
"Dan dia tidak meneleponmu sepanjang akhir pekan?"
"Tidak."
"Ah, lupakan dia," katanya. "Aku tahu kau memiliki hubungan kerja dengan dia, tapi hanya sampai di situ saja."
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Luhan bertanya, "Jadi...apakah itu nikmat?"
Aku menghela napas. "Terbaik malah."
Dia tertawa kecil. "Oke, jadi kau hanya mengingat itu sebagai seks terbaik yang pernah kau rasakan dan lupakan. Hidup harus terus berlanjut di kota ini."
"Omong-omong, apa yang kau lakukan sepanjang akhir pekan lalu?"
"Oh, Tuhan. Aku bertemu dua orang cowok..." Dia melanjutkan untuk menceritakan kisahnya menghabiskan akhir pekan dengan dua pria, lengkap dengan rincian cabul dari threesome pertamanya.
"Apa kau bercanda?" Ujarku.
"Tidak."
"Sialan. Dan kupikir kau sedang bekerja dan aku terus berpikir bahwa aku hanya tidak ketemu denganmu atau ada sesuatu yang lain." Itu tidak benar-benar apa yang aku pikir. Bagaimana aku tidak ketemu
dia diantara jam kerjanya? Aku mulai tahu bahwa Luhan memiliki semacam gaya hidup liar dan cukup unik. Dan aku mulai bertanya-tanya bahwa gaya hidupnya tidak berhubungan dengan bekerja di sebuah restoran dan pergi ke audisi. Tapi aku tidak mau ikut campur. Belum saatnya.
•••
Kami tidak bicara lagi tentang hal itu sepanjang sisa minggu. Aku hanya melihatnya pada Rabu malam, dan hanya beberapa menit ketika aku berangkat ke tempat tidur saat ia sampai di rumah.
Aku menelepon orang tuaku selama beberapa menit pada hari Selasa untuk membiarkan mereka tahu bahwa kondisiku lebih baik, bekerja, dan segala sesuatu akan baik-baik saja. Kyungsoo kebetulan berada di sana ketika aku menelepon dan kami bicara selama beberapa menit.
Dia merendahkan suaranya pada satu saat dan berkata, "Aku bertemu Daehyun di pom bensin."
Mendengar namanya disebut aku menggigil sampai ketulang dan membawaku kembali pada gambaran dari mimpiku yang kualami akhir pekan lalu.
"Aku bahkan tak ingin tahu."
"Well," katanya, "dia ingin tahu kabarmu."
"Apa yang kau katakan padanya?"
Ada jeda. kemudian hening.
"Kyungsoo? Apa yang kau katakan padanya?" Aku bertanya, nada tegas dalam kata-kataku.
"Aku mengatakan padanya bahwa kau pindah ke California."
"Uh huh. Dan?"
Aku mendengar pintu ditutup, dan kemudian terdengar seperti angin bertiup di telepon. Dia pergi keluar untuk menghindar dari jangkauan pendengaran orang tua kami.
"Maafkan aku," katanya. "Aku tahu itu bodoh. Aku hanya ingin dia tahu bahwa kau baik-baik saja, dan bahkan lebih baik, tanpa dia. Aku ingin membuatnya merasa seperti sampah."
Aku mengertakkan gigiku. "Jika ia menelpon ke sini-"
"Dia tak akan mencari tahu di mana kau bekerja. LA sangat besar, kan?"
Aku bersandar di kursiku. Aku tidak ingin berdebat tentang hal ini. "Kau seharusnya tidak mengatakan apa-apa padanya."
"Aku tahu. Maafkan aku."
"Tapi," kataku, "Aku ingin si brengsek itu tahu bahwa aku tidak hancur tanpa dia. Ini satu-satunya rasa... kemenanganku atau
semacamnya, kau tahu?"
Kami melewaatkan masalah itu dan dia menceritakan padaku tentang bayinya dan hal-hal lain yang terjadi di kota kecil kami. Untuk pertama kalinya, dan agak aneh, aku merasa sedikit bernostalgia. Tidak benar-benar rindu dengan rumah. Belum saatnya. Kupikir itu hanya sebuah fantasi pelarian yang mudah untuk menghadapi
kenyataan bahwa aku belum benar-benar menyesuaikan dengan keramaian dan hiruk pikuk LA dan Hollywood.
Hanya rindu kesederhanaan dan ketenangannya saja.
TBC
AN: Halo, maaf ga apdet selama puasa karena you know lha wkwk.
Masih dalam suasana lebaran, Minal aidzin wal faidzin maafin aku ya guys kalo banyak salah hehe.
See ya next chapter!
Ciao!
