The Last Nine Stars

-A Touken Ranbu Fanfiction by Kanikan18-

Touken Ranbu milik DMM dan Nitroplus

Asami punya saya

Enjoyy!

.

.

.

CHAPTER 2-The Awakening

Udara malam musim panas terasa begitu lembap sehingga Asami harus bersusah payah mencari udara untuk ia hirup. Yukata menempel erat di kulitnya yang berkeringat. Seluruh tubuhnya terasa begitu ringan namun langkahnya begitu gontai. Dipegangnya tembok-tembok sebagai pegangan agar tak goyah ketika berjalan. Ia terlalu lelah untuk berlari kembali.

Gadis itu memutuskan untuk beristirahat di sebuah gang yang begitu gelap. Diselonjorkan kakinya. Dadanya naik turun mengatur napas.

"Asami-chan?"

Sebuah tangan yang hinggap di pundaknya membuat Asami hampir memekik.

"Ini aku."

Asami menoleh. "Ojii-san?" katanya tatkala ia menemukan mata teduh milik pria tua yang selalu diberinya makanan. Pria itu tampak terengah-engah pula. Caping lebar di kepalanya dan tongkat berkain di tangannya bisa dikenali. Gadis itu menarik napas lega.

Mendadak ia teringat pada Ume. "Ume-san!" serunya. "Ojii-san! Aku harus kembali! Ume-san membutuhkanku! Dia akan dijual!"

Pria tua itu menggeleng. "Kau tidak bisa kembali," katanya perlahan. "Aku tahu apa yang terjadi, Asami-chan. Terlalu berbahaya untuk kembali."

"Tapi, aku harus menolongnya!" pekik Asami panik. "Aku harus meminta bantuan dan…"

"Dengar," Pria itu berjongkok hingga wajah mereka sejajar. "Aku tahu suatu tempat aman dimana kau bisa meminta pertolongan. Tapi, dengarkan perkataanku."

Asami mengangguk pelan.

"Antar benda ini ke arah rumah besar di daerah bukit di selatan kota. Di sanalah kau bisa meminta bantuan," Ia menyodorkan tongkat berkain itu pada Asami yang menerimanya dengan bingung. "Kau tahu tempatnya kan?"

Gadis kecil itu mengangguk sekali lagi.

"Bagus," Pria itu tersenyum. "Pergilah dan jangan takut. Aku akan menjagamu dari belakang."

Asami menuruti kata pria itu. Sebenarnya ia merasa sangsi akan kepatuhannya pada pria yang bahkan ia tak tahu siapa namanya. Tapi, demi pertolongan untuk Ume, gadis kecil itu melangkah melintasi remang jalanan malam yang begitu sunyi. Suasana menjadi sangat mencekam ketika ia mendaki bukit. Beberapa macam serangga hingga di tubuhnya. Kaki telanjangnya melangkah dengan irama tetap. Pelukannya pada tongkat semakin mengerat.

Apa yang terjadi pada sahabatnya tatkala ia melarikan diri? Asami ingin tahu. Akan dibawa kemana sahabatnya? Apa yang terjadi kalau dirinya tidak melarikan diri? Masih terbayang wajah Ume yang ketakutan. Suaranya pun masih menggema di pikiran. Ume selalu menolak ajakannya untuk melarikan diri, tapi justru Ume yang menyuruhnya untuk lari.

Akankah ia benar-benar bisa menolong Ume dengan mengantarkan tongkat ini? Asami memandang tanjakan yang harus ia lalui untuk sampai di rumah itu, Rumah besar dengan gaya barat itu bisa ia lihat dari sini. Bahkan cahaya lampu kristal yang tergantung di teras depan begitu menyilaukan matanya. Tidak ada pilihan lain. Asami menelan ludah. Rumah itu pasti milik orang terpandang. Dengan mengantarkan tongkat ini, ia bisa meminta pertolongan. Ya, ia harus yakin.

Ditapakinya jalan setapak yang menanjak semakin curam. Betisnya yang telah pegal dipaksa untuk bergerak. Sedikit lagi…sedikit lagi…. Asami mampu mendengar suara beberapa orang dari rumah itu. Begitu ramai. Mendadak hatinya merasa lega. Sedikit lagi... Ume-san, tunggu aku.

"Bagaimana pedang itu bisa hilang?!"

"Cari di segala penjuru! Aku tidak peduli walau kau harus mencarinya di dasar laut!"

"Di saat seperti ini kakek itu malah menghilang!"

Asami sampai di halaman rumah itu. Beberapa orang hilir mudik tanpa tahu kedatangannya. Ia mendekap erat tongkat berkain itu. "Pe-permisi…"

Orang yang ia hadang mendengus kesal. "Heh, kalau mau mengemis, jangan di sini…" Tiba-tiba mata itu tertuju pada tongkat yang Asami pegang. "Sialan! Dasar pencuri! Semuanya! Gadis ini mencurinya!"

Dengan kasar, direnggutnya tongkat itu dari tangan Asami. Beberapa orang mengerumuni gadis kecil itu dengan tatapan marah. Beberapa pukulan mendarat di tubuhnya.

"Kurung dia!"

"Suruhan siapa kau hah?!"

Asami merunduk. Tubuhnya jatuh ke tanah. Dilindunginya kepala dengan tangan. Isakannya mulai terdengar.

"Tunggu!"

Pukulan itu berhenti. Tangan Asami terangkat tiba-tiba. Ia memekik ketakutan. Apa yang akan terjadi padanya setelah ini?

"Gadis ini utusan Shinosuke-sama!" kata orang yang memegang tangannya. "Lihat, ada di simbol di tangannya."

Asami memandangi lengannya. Ada sebuah simbol merah di sana, berbentuk bunga yang ia tak ketahui apa jenisnya. Sejak kapan simbol itu ada di sana?

"Nona," kata orang itu. "Maafkan kami. Kami tidak tahu kalau Anda adalah utusan Shinosuke-sama."

Shinosuke? Siapa? Nama dari kakek itu? Asami mengerutkan kening.

"Ah! Aku meminta pertolongan kalian!" Gadis itu teringat pada tujuan asalnya. "Tolong temanku! Dia…"

Mendadak pandangannya menjadi buram. Kegelapan seolah menyergapnya. Tubuh Asami tak kuat lagi untuk berdiri. Ia jatuh dan bumi pun menyongsongnya. Hal terakhir yang ia dengar dalam kegelapan hanyalah teriakan panik dari orang-orang yang mengerumuninya.

"Asami-dono!"

Suara kakek tuna wisma itu adalah suara terakhir yang ia dengar.

-iii-

Hangat. Rasanya ada Ume yang menggenggam tangannya bila ia bermimpi buruk. Asami menggeliat. Futon yang ini terlalu empuk, aneh tapi nyaman. Matanya masih terpejam namun suara cicit burung terdengar jelas di telinga. Sudah pagi?, gadis itu bertanya-tanya.

Asami! Lari!

Asami membuka mata. Sinar matahari langsung menusuk indera penglihatannya. Pandangannya menjadi jelas. Langit-langit dengan ornamen barat klasik itu bukan langit-langit kamarnya. Ia tidak tidur di futon, namun di sebuah ranjang yang bergaya barat pula. Ia memandang sekeliling. Kamar ini terasa asing.

Gadis itu bangkit. Tubuhnya terasa lebih segar dan bersih. Ia tak lagi mengenakan yukata. Sebuah baju terusan berenda yang lembut membalut tubuhnya yang ditempeli perban dan plester. Disibakkannya selimut tebal dan berat itu.

Aku ada di mana?

Sekelebat memori datang untuk menjawab pertanyaannya. Terakhir kali, Asami berhasil mengantarkan tongkat itu ke rumah di atas bukit, meski harus dipukuli, kemudian pingsan.

Ume! Ume-san! Ia teringat tujuan awalnya.

Kakinya melangkah cepat di atas karpet berbulu halus. Kenop pintu diputarnya perlahan. Terdengar suara orang yang tengah bertengkar dari balik pintu ini.

"Apa yang Anda lakukan? Anda menyerahkan hal yang berharga pada orang asing!"

"Aku hanya ingin pedang itu dibawa oleh saniwa yang sesungguhnya!"

"Anda tidak bisa menyimpulkan hal itu seenaknya, Shinosuke-sama!"

"Aku sudah melacaknya selama bertahun-tahun. Tidak mungkin salah! Gadis itu adalah keturunan yang sah!"

Asami mengenali suara Ojii-san. Mengapa ia ada di sini?

Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang wanita berpakaian aneh masuk dengan membawa nampan berisi makanan serta minuman. Mata mereka bertemu. "Tuan, Nona Asami telah sadar!" seru wanita itu.

Sekonyong-konyong, dua orang pria dengan hakama masuk. Salah satunya adalah Ojii-san yang telah dikenalnya. Asami didudukkan di atas kursi di tengah ruangan, berhadapan dengan nampan yang telah diletakkan di atas meja. Gadis itu merasa bingung. Mengapa ia diperlakukan bak seorang puteri padahal sebelumnya ia dianggap seorang pencuri? Asami hanya memilih air putih dari beberapa makanan dan minuman yang ditawarkan. Segelas air putih cukup untuk menyegarkan kerongkongannya.

"Asami-dono," kata Ojii-san. "Anda sudah baikan?"

Asami hanya mengangguk. Ia dipanggil 'dono'? Apa tidak salah dengar?

"A-anu, Ojii-san," katanya dengan suara tercekat. "Ume-san, temanku… Aku harus menolongnya. Apakah aku bisa meminta bantuan pada kalian?"

Kedua pria itu saling berpandangan sebelum akhirnya Ojii-san mengatakan sesuatu dengan wajah sedih. "Temanmu, Ume, dia tewas bersama pria yang membawanya," kata pria itu. "Pria itu—kau mungkin mengenalnya sebagai Kimura—adalah Hashimoto, seorang politisi yang banyak ditentang."

"Rombongannya dihadang di daerah perbatasan oleh penentangnya," sambung pria yang satunya. Di dagunya yang terbelah terdapat rambut pendek bekas pencukur. "Tentu saja ia dihabisi. Semuanya. Tak kecuali temanmu itu. Mayatnya baru saja dimakamkan."

"Maksud Anda…Ume-san mati?"

"Dengan menyesal kukatakan demikian."

Asami mendadak lemas. Pagi musim panas yang hangat tiba-tiba terasa sedingin musim dingin, membekukan jemarinya hingga ke dalam. Dunia menjadi kelabu seketika. Ucapan dukacita terdengar seperti gaung-gaung parau tak bermakna.

Ume meninggal. Tujuannya hidup hanyalah untuk Ume. Menatap masa depan bersama teman yang telah dianggapnya saudara sendiri. Bila Ume tiada, untuk apa dirinya hidup? Dimana ia akan tinggal? Ke mana ia harus melangkah? Apakah ia pantas hidup?

Asami menangis tanpa suara. Air matanya berjatuhan, menimbulkan noktah gelap di pangkuannya. "Ume-san…Ume-san…," isaknya pilu. Kalau saja ia tak lari, mungkin dirinya akan tewas bersama Ume. Menggenggam erat tangan gadis itu seperti Ume menggenggam tangannya. Ia penjahat! Pembunuh!

"Asami-dono," Ojii-san menghapus air mata gadis itu dengan jemarinya yang keriput. "Anda bisa tinggal di sini, tapi Anda harus menuruti permintaan saya."

"Shinosuke-sama! Ini bukan saat yang tepat," timpal pria yang satunya.

Asami mengusap pipinya yang basah. Seolah tak mendengar kedua orang yang berdebat di depannya, gadis itu berkata suara parau.

"Bo-bolehkah aku mengunjungi Ume-san?"

-iii-

Asami memandangi gundukan tanah itu begitu lama. Dibayangkannya Ume yang tengah tertidur dengan wajahnya yang cantik tanpa bekas luka apapun. Hatinya kosong. Hidupnya kini bergantung pada kakek tuna wisma yang biasa ia berikan makanan dulu. Ia tak bisa pergi ke manapun di kota ini, apalagi kembali ke penginapan itu. Asami mendapatkan kebebasan yang ia dambakan, tapi kebebasan ini begitu mencekiknya. Ada harga yang harus ia bayar demi mendapatkan naungan, yakni menuruti permintaan kakek tuna wisma yang biasa ditolongnya.

"Asami-dono, sudah saatnya untuk kembali," kata Shinosuke pada gadis itu.

"Baik."

Mereka kembali menempuh jalan kecil dengan mobil untuk kembali ke rumah itu. Matahari hampir saja tenggelam, menimbulkan kemilau jingga yang unik di langit yang membentang luas. Selama perjalanan, Asami termenung dan memandangi pemandangan luar, walau sebenarnya ia memikirkan kata-kata Shinosuke.

"Jadilah seorang saniwa," kata Shinosuke-sama dengan tatapan bersungguh-sungguh.

"Saniwa?" kata Asami. Kata itu sangat asing.

"Sebuah pasukan, Jikanshokogun, akan kembali ke berbagai masa di masa lalu untuk mengubah sejarah. Bila mereka berhasil, maka segala hal yang terjadi di masa ini dan masa ke depannya akan berubah. Maka, seseorang akan dipilih menjadi saniwa, yang bertugas untuk menghentikan mereka. Saniwa akan memimpin pasukan khusus. Pasukan yang terdiri dari pedang-pedang dari masa lalu yang diberikan ruh oleh saniwa itu sendiri."

Memberi ruh pada pedang? Menghidupkan benda mati? Apakah itu bisa?

"Tongkat yang Anda bawa itu adalah sebuah pedang," kata Shinosuke. "Dia akan jadi prajurit pertama Anda, Asami-dono."

"Mengapa harus aku?"

"Itu ada dalam darah Anda, Asami-dono," kata Shinosuke tiba-tiba, seolah dapat membaca pertanyaan yang berputar di kepala Asami.

"Maksud Anda?"

Mobil berhenti. Mereka telah tiba.

"Anda akan tahu saat penobatan Anda sebentar lagi," Shinosuke tersenyum. Mereka melangkah beriringan. "Sekarang kembalilah ke kamar. Semuanya sudah dipersiapkan. Kita harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat."

Benar saja. Sesampainya di kamar, para pelayan langsung menyambutnya. Mereka langsung memandikan Asami—meski gadis itu menolaknya keras—dan memakaikan pakaian yang terlihat baru untuknya. Sebuah kimono putih dan hakama merah, seperti seorang gadis kuil.

"Anda sudah siap," kata pelayan itu. "Mari kami antar."

Langit telah menjadi gelap ketika mereka berjalan ke halaman belakang. Pepohonan tinggi menjulang menciptakan siluet ketika beradu dengan bulan purnama. Angin musim panas menghembuskan lengan panjang hakamanya. Di antara pepohonan itu, sebuah jalan lebar yang tersusun oleh balok-balok batu membentang, mengantarkan mereka pada sebuah kuil.

Di sisi jalan, terdapat kerumunan yang saling berbisik. Mereka semua berpakaian formal dan menutupi wajah dengan kipas. Beberapa menatap Asami lekat-lekat, membuat gadis itu menunduk.

"Asami-dono," Shinosuke menunggunya di muka kuil. Ia memakai setelan kimono dan hakama gelap dan menenteng sebuah pedang. "Berdiri di sampingku."

Pria tua itu berseru, "Hadirin semuanya! Malam ini adalah malam yang kita tunggu selama hampir 10 tahun. Malam dimana seorang saniwa dari keturunan yang sah akan dinobatkan."

Asami tetap menekuri kaki. Apakah keputusannya benar? Menjadi seseorang yang tidak ia ketahui sebelumnya? Kata Shinosuke, semuanya akan baik-baik saja. Karena darah saniwa mengalir dalam darahnya. Tapi, bagaimana kakek ini tahu? Apakah ia tahu keluarganya? Ayah ibunya?

"Sekarang, Asami-dono akan menunjukkan kekuatan sejatinya sebagai seorang saniwa."

Hah? Apa? Asami menatap Shinosuke dengan tatapan bingung. Pria itu membimbing tangannya, menyentuhkan telapaknya ke sebuah segel di pintu kuil.

"Pintu ini hanya bisa dibuka oleh orang-orang yang terpilih menjadi seorang saniwa," Entah Shinosuke itu berbicara pada dirinya atau orang di sana. "Nah, Asami-dono. Konsentrasilah. Pusatkan kekuatan Anda pada segel ini."

Apa? Asami merasakan dingin segel besi di telapak tangannya. Ia tak tahu apa-apa soal kekuatan apapun itu namanya!

Namun, sesuatu yang hangat menyeruak dari dalam dadanya, menjalar pelan ke ujung telapak tangan.

GREK

Suara besi yang bergeser, berderit halus bak sebuah irama musik. Beberapa belah besi bergeser, membuka, bergerak ke samping.

"Sudah kubilang itu ada dalam diri Anda, Asami-dono," Shinosuke berbisik bahagia. "Karena Anda adalah…"

Adalah?

"Jikanshokogun!"

Suara bilah pedang beradu tiba-tiba terdengar bersamaan dengan lenguhan asing yang baru Asami dengar. Begitu ia menoleh, beberapa bayangan hitam bergerak cepat, membunuh kerumunan di belakangnya. Mata merah mereka yang berkilat kejam lebih merah dari darah yang tertumpah.

"Astaga! Bagaimana bisa?!" seru Shinosuke seraya menggertakkan gigi. Ia meraih sebuah pedang yang terletak di meja depan kuil lalu memberikannya pada Asami. "Dengar, Asami-dono. Begitu pintu ini terbuka, Anda harus segera masuk! Aku akan menjaga Anda dari sini!"

"Ta-tapi…"

"Ingat, pedang ini akan menjadi menjadi prajurit pertama Anda," kata pria itu. "Pedang ini akan menjadi seorang manusia! Jangan khawatir, Konnosuke akan membimbing Anda."

Bayangan hitam itu semakin mendekat. Asami bisa merasakan getaran hebat di bawah kakinya. Pintu kuil terbuka di belakangnya, memperlihatkan kegelapan yang begitu pekat. Angin berhembus dari dalam, meniup rambut dan pakaiannya.

"Masuk, Asami-dono!" Shinosuke mendorong tubuhnya masuk. "Dan ingat baik-baik nama pedang ini!"

Asami merasa tubuhnya melayang dalam gelap. Ia melihat pria tua itu menghunuskan pedangnya lalu menahan serangan dari salah satu bayangan hitam itu. Sebelum pintu kuil tertutup, pria itu sempat menoleh ke padanya dan berteriak.

"Nama pedang ini adalah Kasen Kanesada!

.

.

.

Hai hai! Di sini Kanikan18~

Chapter 1 rasanya berantakan banget sih ya maap, masih baru di fanfiction

Untuk chapter selanjutnya saya akan mencoba lebih rapi lagi

Enjoy ya….