Monochrome by Path of Heaven

T rated

ChangKyu

Mystery, Adventure, Romance, Action

Typo(s), Pelaku pembunuhan yang Gaku karang-karang namanya, etc.

.

.

"Sebaiknya kita mencari pekerjaan jika kita masih ingin hidup enak," saran Changmin.

"Kau ini kenapa sih serius sekali begitu? Seperti uang di rekening kita menipis saja," ledek Kyuhyun tanpa memandang Changmin sama sekali.

Changmin menghela napas, "Sayangnya, kenyataannya memang begitu, Kyunie,"

"Makanya, ayo cari kerja sambilan,"

.

.

"Tunggu, Changmin!" cegah Kyuhyun sambil menahan tubuhnya dari tarikan kuat Changmin yang menyeretnya menjauh dari apartemen nyaman mereka.

"Kubilang tunggu!" pekik Kyuhyun dan menghempaskan tangan Changmin kasar saat kekasihnya itu tak mau mendengarkannya dan terus mempermalukannya dengan menyeret tubuhnya begitu.

"Apa lagi, Kyu?" tanya Changmin sabar.

"Sudah kubilang aku-tidak-mau! Apa kata dunia jika AKU, SEORANG DETEKTIF PRIVAT PENUH TALENTA MELAKUKAN KERJA SAMBILAN?!" seru Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri dengan sombong.

"Dunia bahkan tidak mengenalmu, Kyu," ujar Changmin lemah mendengar ucapan Kyuhyun yang penuh percaya diri itu.

"Pokoknya, AKU –TIDAK-MAU, titik!" ujar Kyuhyun dan berbalik meninggalkan Changmin sendiri.

"Lalu, kita harus bagaimana? Kau mau makan mie instan terus sampai kita mendapatkan tawaran kasus berikutnya?" ujar Changmin berusaha membujuk Kyuhyun untuk melakukan kerja sambilan.

Kyuhyun terdiam, terlihat jelas kalau pemuda manis itu tidak rela jika harus memakan makanan instan penuh lemak dan kolesterol itu setiap hari hingga mereka mendapatkan tawaran kasus baru.

"Jadi... kau mau, 'kan?" bujuk Changmin hati-hati.

"Ti-dak ma-u," sahut Kyuhyun keras kepala.

"Ayolaaahhhh~" bujuk Changmin.

"..."

"Pleaseeee?"

"..."

"Terserah," ujar Changmin menyerah untuk membujuk Kyuhyun dan terpaksa melakukannya sendiri.

"Ukh... baik! Baik! Ayo kerja sambilan!" seru Kyuhyun akhirnya menyerah.

"Okay!"

Dan Kyuhyun pun kembali diseret dengan seenaknya oleh Changmin, kekasihnya.

"Hmm, dimana kira-kira kita bisa mendapatkan kerja sambilan, ya?" gumam Changmin tampak berpikir serius.

"Makanya kubilang tidak usah! Lebih baik kita ke kantor polisis dan minta mereka memberikan kita satu kasus untuk dipecahkan!" ujar Kyuhyun kesal melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Dan kau pikir mereka akan memberikannya begitu?" sahut Changmin menatap Kyuhyun dengan pandangan meremehkan.

"Huh? Tentu saja," sahut Kyuhyun percaya diri.

"Dan... apa dasar dari keyakinanmu itu, hm? Bagaimana cara kau membujuk mereka?" tanya Changmin menghentkan langkahnya.

"Dengan... memohon?" sahut Kyuhyun ragu-ragu.

"Harr... Harr.. jenius sekali, tuan detektif yang hebat," sahut Changmin sarkastik.

Kyuhyun menghentakkan kakinya kesal karena sarkastik yang dikeluarkan oleh Changmin. Ia tahu, ucapannya tadi bodoh. Tapi, bukan berarti Changmin bisa mengoloknya begitu saja, 'kan?

"Ayo kita mulai dari cafe itu," ujar Changmin tiba-tiba dan menarik tangan Kyuhyun bersamanya.

Bunyi lonceng yang ringan menyambut mereka ketika mereka membuka pintu cafe tersebut. Wangi cinnamon langsung menyerbu hidung mereka. Cafe itu terlihat manis dan elegan. Cafe itu berlantai kayu dengan dinding yang di cat berwarna pastel. Di pojok-pojok cafe terlihat pot-pot bunga yang cantik. Dinding cafe itu dihiasi oleh beberapa ornamen khas eropa. Benar-benar cantik dan elegan.

"Selamat datang!" ujar salah satu pegawai menyambut mereka.

"Meja untuk dua orang?" tanya pelayan itu ramah mengembangkan senyumannya.

"Ah, tidak. Kami ingin bertemu dengan manager cafe," sahut Changmin membalas senyum pegawai tersebut dengan senyum yang tidak kalah lebar.

Seolah tidak terkena efek senyuman 1000 watt Changmin, pegawai itu menjawab, "Kalian ingin melamar untuk kerja sambilan?"

"Begitulah," sahut Changmin.

Pegawai itu mengangguk dan menunjuk satu arah, "Owner ada di dalam ruangan itu, ketuk saja,"

"Terima kasih," ujar Changmin dan berjalan menuju pintu tersebut dengan Kyuhyun yang mengekor di belakangnya.

Tok! Tok!

"Silahkan," sahut sebuah suara dari dalam.

Changmin pun perlahan memutar knop pintu dan mendorong pintu terbuka. Di dalam ruangan terdapat seorang pria paruh baya yang memiliki wajah ramah. Pria itu tersenyum dan menggesturkan pada Changmin dan Kyuhyun untuk masuk dan duduk di hadapannya.

"Kalian ingin melamar kerja paruh waktu di sini?" tanya pria itu ramah.

"Ya, jadi apa kami dapat pekerjaan ini?" sahut Kyuhyun tidak sabar.

"Kyuhyun..." desis Changmin memperingatkan.

"Apa?" sahut Kyuhyun cuek.

Sang owner yang melihat interaksi Changmin dan Kyuhyun hanya tertawa terhibur, "Kalian menarik ya. Baiklah, sebelum kalian aku pekerjakan kita lakukan wawancara dulu. Pertama-tama, sebutkan nama, umur dan pekerjaan kalian,"

"Saya Shim Changmin. Umur rahasia. Pekerjaan: bodyguard part-time," sahut Changmin seraya tersenyum polos.

"Aku Cho Kyuhyun. Kau tidak perlu tahu umurku. Pekerjaan: orang jenius," sahut Kyuhyun asal sambil tersenyum sombong.

Snag Owner terpaku di tempatnya hingga akhirnya tertawa terbahak-bahak, "Sudah kuduga kalian itu menarik. Tapi, maaf saja aku tidak mempekerjakan orang tidak jelas seperti kalian. Aku tidak mungkin mempercayakan pelangganku pada orang mencurigakan seperti kalian,"

Kyuhyun baru saja akan membentak sang Owner hingga pria paruh baya itu memotong, "Tapi! Mungkin kalian bisa bekerja di tempat temanku. Aku akan menuliskan alamatnya untuk kalian,"

Owner mengambil secarik kertas dan menuliskan sebuah alamat di atasnya, "Ini. Katakan manajer Chrome cafe merekomendasikan kalian,"

"Terima kasih, paman," sahut Changmin menerima secarik kertas tersebut dengan sopan.

Kedua pemuda itu kemudian membungkuk. Memberikan salam pada sang Owner sebelum pergi menuju alamat yang dituliskan. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya masing-masing. Memikirkan kira-kira tempat apa yang direkomendasikan pada mereka.

"Ah, di sini tempatnya," ujar Changming begitu mereka tiba di...

"HOST CLUB?!" pekik Kyuhyun histeris.

"Wah, uang mudah , ya?" gumam Changmin dan menggenggam engsel pintu hendak membukanya.

"Changmin!" tahan Kyuhyun.

"Ada apa lagi?" tanya Changmin lelah.

"Kau yakin bekerja di sini? Di tempat ini kan kita harus me-me-me-"

"Jangn berpikiran macam-macam soal tempat kerjaku, ya," potong sebuah suara dari belakang mereka.

Keduanya menoleh cepat dan mendapati seorang pemuda tanggung dengan rambut wajah yang ditata rapi dan membuatnya nampak tampan. Di bibirnya tersela rokok yang dihisap penuh khidmat. Rambut pemuda itu berwarna pirang, membingkai wajahnya dengan sempurna.

"Ah, permisi. Kami ingin melamar pekerjaan di sini," ujar Changmin membungkuk sopan.

"Hm. Masuk saja," ujar pemuda tanggung itu dan berjalan mendahului mereka.

"Untung dia tidak marah. Jangan bicara sembarang lagi, Kyu-ah," tegur Changmin dan berjalan mengikuti sang pemuda pirang.

"Kenapa aku?" gerutu Kyuhyun dan mengikuti Changmin masuk.

Mereka dipersilahkan memasuki sebuah ruangan yang nampaknya ruangan menejer dari host club ini. Begitu membuka pintu mereka disajikan seorang wanita paruh baya dengan rambut yang disanggul mempesona. Meski wajahnya menunjukkan kerutan, hanya ada aura masa muda yang menguar dari tubuhnya.

"Ah, permisi. Kami ingin melamar pekerjaan di sini. Kami direkomendasikan oleh Owner dari Chrome cafe," ujar Changmin lancar.

Wanita itu mengangguk dan menatap mereka dari atas ke bawah. Matanya terus memandang Changmin dan Kyuhyun seolah menelanjangi mereka.

"Uh... Nyonya?" tegur Changmin yang merasa dicueki oleh sang wanita.

"Kau, jangkung. Kau diterima jadi host. Kau, banci. Kau jadi pelayan," ujar wanita itu tiba-tiba.

"Ah, terima ka-"

"BANCI?! PELAYAN?! Apa maksudmu wanita tu-"

Hmph!

Dan keributan berhasil dihindari berkat mulut Kyuhyun yang kini dibekap erat oleh Changmin.

"Ah, terima kasih, nyonya. Kami akan bekerja dengan baik," ujar Changmin .

Wnaita itu mengangguk dan menekan sebuah tombol dan tak lama muncul seorang pria di umur 30 an. Pria itu berambut hitam dengan mata yang berwarna karamel lembut. Di dagunya terbentuk beard yang unik.

"Anda memanggil, Nyonya?" tanya pria itu.

"Joo Won, urusi keperluan si jangkung. Yang lebih pendek, buang saja di dapur," sahut sang wanita paruh baya dan kembali kepada kesibukannya menghitung jumlah penghasilan host club miliknya.

"Ya!" seru Kyuhyun protes namun diabaikan semua orang di ruangan.

"Mari, lewat sini," ujar Joo Won dan menggiring Kyuhyun dan Changmin ke tempat mereka masing-masing. Setelah mengantar Kyuhyun ke dapur untuk diurusi oleh para staff dapur dan pelayanan, dan Changmin pergi ke ruangan khusus para host.

"Ini pakaian untukmu. Semoga pas, kau tinggi, sih," ujar Joo Won seraya menyerahkan sebuah setelan berwarna abu-abu pada Changmin.

"Terima kasih, sunbae. Ah, ngomong-ngomong namaku Shim Changmin, mohon bantuannya Joowon-sunbae," ujar Changmin dengan sopan menerima pakaian yang disodorkan kepadanya.

"Ahahaha, jangan terlalu dipikirkan, Changmin-ssi. Mulai sekarang kita rekan kerja 'kan? Nah, kalau sudah berganti pakaian aku akan menjelaskan tugasmu di sini," ujar Joo Won keluar dari ruangan dan membiarkan Changmin menggganti pakaiannya.

Changmin dengan segera mengganti pakaiannya dengan suit yang sudah disiapkan. Ternyata, ukuran setelan tersebut tidak pas untuk tubuhnya. Terlalu pendek. Changmin pun membuka pintu dan memanggil sunbae sesama host nya itu.

"Sunbae, setelan nya... tidak pas," ujar Changmin dengan nada bersalah.

"Oh? Kau lebih tinggi dari dugaanku, ya? Hmm, tapi suit itu setelan terbesar yang kita punya. Ah, sebaiknya kau pakai saja pakaianmu. Menutrutku cukup rapi, kok. Lagipula ini hari pertamamu bekerja," ujar Joo Won.

"Baiklah," sahut Changmin dna kembali ke dalam untuk mengganti kembali pakaiannya.

Changmin kembali keluar dengan pakaiannya, kemeja bergaris dan celana jeans kasual.

"Ah, sebaiknya kau gulung lengan kemejamu hingga siku. Anggap saja kau memerkan ototmu," ujar Joo Won memberikan saran.

Changmin pun menggulung lengan kemejanya sesuai saran Joo Won.

"Nah, jadi pekerjaanmu adalah menemani pelanggan minum dan mengobrol. Shift mu dari jam sembilan malam hingga jam tiga pagi setiap hari Senin, Selasa, Rabu, dan Jumat," ujar Joo Won menjelaskan pekerjaan yang akan dilakukan Changmin.

"Eh? Hanya minum dan mengobrol?" tanya Changmin.

"Ahahaha, memangnya kau pikir apa lagi, hm? Kita host, Changmin-ssi. Bukan gigolo, hahahaha," sahut Joo Won santai.

"Ah, ahahha, uhm, maaf," ucap Changmin merasa tidak enak.

"Tidak apa-apa. Asal jangan sampai terdengar Nyonya Hwan saja," goda Joo Won.

"Malam ini, karena kau baru kau tidak akan mendapat pelanggan. Kau akan duduk denganku. Gunakan dengan bijak untuk mempromosikan diri agar besok kau sudah dapat pelanggan sendiri," ujar Joo Won dan mendudukkan dirinya di sebuah sofa empuk berwarna putih.

Changmin mengikutinya dan duduk berjaran dari sunbaenya itu. Belum lama mereka duduk di sana, datang seorang wanita diakhir umur 30 an diantar seorang pemuda ke arah mereka. Joo Won segera bangkit dan diikuti oleh Changmin.

"Hee Sun-ah~ Sudah lama aku tidak melihatmu," ujar Joo Won seraya mengecup telapak tangan wanita itu.

"Hohohoho, kau bisa saja, Joo Won-ah. Aku baru kemari seminggu lalu, 'kan?" sahut wanita itu.

"Seminggu itu lama bagiku," ujar Joo Won lagi.

"Kau ini! Oh, siapa ini?" tanya Hee Sun menyadari kehadiran Changmin.

"Sh-"

Bugh! Sebuah siku menghantam tulang rusuknya. Changmin menoleh pada Joo Won dan mengerti maksud sunbae nya tersebut.

"Uhm, saya Im Changmin. Saya host baru di sini. Untuk hari ini saya akan belajar banyak dari Joo Won sunbae. Saya harap Anda tidak merasa terganggu," ujar Changmin membungkuk.

"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku merasa terganggu ditemani pemuda menawan seperti Im-ssi ini, hohohoho," ujar wanita itu tertawa aneh.

"Terima kasih atas pengertiannya, ahjum-"

Bugh! Lagi-lagi sebuah siku menghantam rusuk Changmin. Menghentikan pemuda itu di tengah ucapannya.

"Uhm, noona," ralat Changmin tesenyum menahan sakit.

"Ah, duduklah, Heesun-ah. Kau ingin minum apa malam ini?" tanya Joowon.

"Hmm... malam ini aku tidak ingin mabuk. Suamiku akan pulang besok pagi. Aku tidak mungkin menyambutnya dengan mulut berbau alkohol, 'kan?" ujar Heesun menunjukkan wajah berpikir yang tidak ada imutnya sama sekali. Yah, mau bagaimana lagi, sudah tante-tante sih.

"Ah, bagaimana kalau... Brioso? Brioso salah satu cocktail dengan kandungan alkohol yang rendah. Selain itu, ini cocktail yang segar karena mengandung jus lemon. Cocok untuk dinikmati sambil mengobrol," ujar Changmin menawarkan.

"Oh? Aku belum pernah mencobanya. Baiklah, karena Im-ssi sudah susah menyarankannya padaku, aku akan menghargainya. Aku pesan Brioso nya satu gelas," ujar Heesun tersenyum menggoda pada Changmin.

"Ah, ahahaha... terima kasih," Changmin tertawa canggung.

Joowon tersenyum melihat Changmin yang sepertinya natural sekali dalam mejalani pekerjaannya. Sepertinya besok malam Changmin sudah bisa menerima tamu sendiri. Joowon mengambil rokoknya dan mematiknya. Menghisap rokok mendalam dan menghembuskannya.

"Jadi, ada apa Heesun-ah sampai datang menemuiku lagi? Apa bosmu masih mengganggumu?" tanya Joowon.

"Ah, aku jadi ingat! Iya, benar Joowon-ah. Justru belakangan ini semakin parah. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi," ujar wanita itu menunduk.

"Apa lagi yang pria itu lakukan? Ceritakan saja padaku agar kau lega," sahut Joowon.

"Dia... Bos ku... dia melakukan pelecehan seksual padaku," ujar Heesun dengan suara parau.

Changmin yang mendengar suara parau seorang mau tak mau buka bicara, "Apa kau sudah melaporkannya pada pimpinan perusahaan atau manajer di tempatmu bekerja?"

Heesun menggeleng, "Aku tidak berani. Pria itu licin seperti belut. Bisa-bisa aku yang dipecat,"

"Tapi, lebih baik dipecat dibandingkan-"

"Aku tidak bisa dipecat! Suamiku... baru-baru ini pindah pekerjaan. Gajinya kecil. Aku harus membantu suamiku," ujar Heeseun lirih tangannya menutupi wajahnya.

Joowon yang melihat hal itu langsung berpindah duduk di sebelah Heesun dan memeluk bahu wanita itu, "Tenanglah, Heesun-ah. Aku yakin akan ada jalan keluarnya nanti,"

Heesun hanya terdiam namun mengangguk. Seolah mengatakan bahwa ia mengerti dan ia bisa menunggu. Hal itu tentunya tidak bisa Changmin terima. Wanita ada bukan untuk dilecehkan. Meski bukan penyuka wanita, bukan berarti Changmin tidak bisa menghormati wanita.

"Bagaimana... kalau kau balas saja, Noona?" ujar Changmin tiba-tiba.

"Eh?" Heesun mengangkat wajahnya, menatap bingung pada Changmin.

"Changmin-ssi, tolong jangan memberikan ide yang aneh pada-"

"Tunggu, Joowon-ah. Aku... aku ingin mendengarnya dahulu," potong Heesun.

"Pertama, kau harus menerornya dahulu. Buat pesan-pesan tanpa nama untuknya. Katakan kalau kau tahu apa perbuatannya," ujar Changmin.

"Tetapi dengan demikian, pria itu akan langsung mencurigaimu sebagai pelakunya. Tidak apa-apa. Karena itu baru langkah pertama. Untuk langkah selanjutnya-"

"Biarkan dia melakukan pelecehan padamu –ditempat banyak saksi," potong sebuah suara membuat Changmin, Joowon dan Heesun mendongak.

"Bisa ditempat yang ada CCTV atau kau bisa mengatur hingga manajer atau beberapa rekan kerjamu melihatnya," ujar Kyuhyun sang pemilik suara seraya meletakkan minuman yang dipesan.

"Setelah memegang bukti kuat, kau bisa bebas. Benar, 'kan? Changmin-ssi?" ujar Kyuhyun tersenyum jahil.

"Ahahaha, benar sekali, Kyuhyun-ssi," sahut Changmin.

Heesun terdiam, memikirkan ucapan Kyuhyun dan Changmin. Memang mungkin rencana itu bisa berhasil namun... jika harus merelakan diri untuk dilecehkan seklai lagi...

"Setiap pencapaian, membutuhkan pengorbanan. Ingat itu baik-baik," ujar Kyuhyun sebelum membungkuk dan kembali ke dapur.

Heesun tertegun kemudian tersenyum. Senyumnya begitu cerah hingga wajahnya terlihat lebih muda. Diraihnya gelas cocktail miliknya dan menyesapnya perlahan.

"Banyak rekanku yang memandangku miring karena sering datang ke host club. Mereka tidak tahu, jika di sini, di tempat ini -kita bisa menemukan jawaban paling tidak terduga," ujarnya tersenyum.

Changmin ikut tersenyum sebelum menjawab, "Terima kasih kembali, Heesun-noona,"


Tidak terasa, hari berhanti hari. Minggu berganti minggu. Sudah dua bulan sejak Changmin dan Kyuhyun bekerja di host club tersebut. Changmin sudah memiliki banyak tamu. Bahkan, minggu lalu, ia dinobatkan sebagai host nomor satu di club itu. Menggeser kedudukan Joowon. Semua berjalan baik-baik saja. Tidak ada perselisihan meski Joowon tergeser posisinya oleh Changmin dalam waktu singkat. Mereka berdua justru semakin akrab. Saat ditanya mengapa Joowon baik-baik saja meski posisinya tergeser pria itu hanya menjawab,

"Terkadang, menjadi nomor dua itu lebih baik dibandingkan menjadi nomor satu,"

Changmin mengerti mengapa subae nya itu mengatakan hal itu. Joowon sebenarnya memiliki kekasih. Dengan turunnya posisinya, ia akan lebih mudah melepaskan diri dari host club ini dan mencari pekerjaan yang lebih stabil. Tentunya, hal itu dibutuhkan saat seseorang berniat untuk menikahi seseorang.

Hari itu, hari Jumat. Hari terakhir shift Changmin untuk minggu itu. Setelah mengirim pelanggan terakhirnya pulang, Changmin menuju ruang ganti. Tubuhnya sudah capek. Ia ingin segera pulang dan beristirahat. Saat membuka pintu, ia melihat Joowon sedang terduduk memandangi sebuah kotak kecil beludru berwarna biru.

"Sunbae?" panggil Changmin.

"Ah? Changmin, ya?" sahut sunbae nya mengangkat kepala dan menatap ke arah Changmin.

"Apa itu?" tanya Changmin.

"Oh ini? Ini... cincin pertunangan ku dengan Mina, pacarku. Aku berniat untuk memintanya menjadi tunanganku minggu nanti, di hari ulang tahunnya," ujar Joowon tersenyum lembut memandangi cincin di hadapannya.

"Waaah! Selamat, sunbae! Berjuanglah! Aku yakin pacar sunbae akan senang sekali menerimanya," ujar Changmin menyemangati Joowon.

"Terima kasih, Changmin," jawab Joowon dengan senyuman makin lebar.

"Beri tahu aku bagaimana hasilnya, ya! Kalau begitu, aku duluan, sunbae. Kalau dibiarkan menunggu terlalu lama, Kyuhyun akan marah denganku," ujar Changmin mengganti bajunya dengan terburu-buru dan meninggalkan Joowon.

"Ah, Changmin! Sapu tanganmu-"

Joowon memotong ucapannya sendiri saat menyadari Changmin sudah menghilang.

"Anak itu, hilangnya cepat sekali. Sudahlah, biar kusimpankan sapu tangannya. Senin akan kukembalikan," ujar Joowon pada dirinya sendiri dan memasukkan sapu tangan itu ke katung jasnya yang digantung di dalam loker.


Setelah melewati akhir minggu yang penuh omelan Kyuhyun, Changmin pun kembali bekerja sebagai host di malam Senin. Seperti biasanya club host ini ramai pengunjung. Terlebih pelanggan Changmin. Sepertinya, pemuda itu akan kena omelan kekasih manis miliknya itu.

Changmin beranjak menuju ruang host untuk mengganti pakaiannya. Ia tidak begitu suka mengenakan pakaian formal, memuat tubuh kaku katanya. Saat membuka pintu, ia melihat Joowon yang terduduk menatap ponselnya dengan wajah yang tidak terbaca.

"Sunbae? Belum pulang?" tanya Changmin.

"Ah, iya. Sebentar lagi. Ada yang kutunggu," sahut sunbae nya.

"Ngomong-ngomong bagaimana? Kau jadi bertunangan dengan kekasihmu?" tanya Changmin sambil mengganti pakaiannya.

Joowon tidak menjawab dan hanya tersenyum kecil.

"Ohhh! Selamat, sunbae! Kalau menikah undang aku dan Kyuhyun, ya!" ujar Changmin semangat.

Joowon tersenyum geli, "Tentu Changmin. Aku pasti akan mengundangmu dan Kyuhyun-mu itu,"

"Ah, sunbae kau tidak apa-apa? Wajahmu sedikit pucat," tanya Changmin.

"Tidak apa-apa aku hanya... sedang banyak pikiran dan perutku sedikit sakit," sahut Joowon lemas.

" Kau yakin tidak apa-apa, sunbae?" tanya Changmin lagi.

"Aku tidak apa-apa, Changmin. Yakin. Lebih baik kau segera jemput Kyuhyun, sana. Sebelum kau kena marah lagi," ujar Joowon meledek.

"Hehehehe... kalau begitu, aku duluan, sunbae," ujar Changmin dan meninggalkan ruangan.

"Sampai besok, Changmin,"

Changmin pun memutuskan untuk pergi ke dapur untuk menjemput Kyuhyun. Sesampainya di dapur, Changmin melihat seisi dapur kosong kecuali Kyuhyun yang sedang memegang sapu dengan hidung yang memerah. Changmin segera menghampirinya.

"Kyu-ah, kau tidak apa-apa? Hidungmu merah," ujarnya menyentuh dahi Kyuhyun. Tidak panas memang tapi ia tetap khawatir.

"Ukh... kau tahu sendiri aku alergi debu tapi aku malah piket bersih-bersih begini," keluh Kyuhyun.

Changmin tersenyum lembut, dibukanya jaketnya dan meletakkannya di kursi, "Biar aku yang kerjakan,"

"Eh, tapi-"

"Tidak apa-apa, club sudah waktunya tutup, 'kan? Kau pulang saja duluan," ujar Changmin mengambil sapu dari genggaman Kyuhyun.

Kyuhyun yang senang bisa terlepas dari pekerjaannya mengangguk, "Aku akan belikan makan malam. Kau ingin apa?"

"Pasta, saja," sahut Changmin mulai menyapu.

"Baiklah. Kalau begitu, kutunggu di rumah," ujar kyuhyun dan berbalik pergi.

"Kyu!" panggil Changmin tiba-tiba membuat Kyuhyun kembali berbalik.

"Ap-"

Cup! Sebuah kecupan mendarat di pipi berisi Kyuhyun.

"Hati-hati di jalan," ujar Changmin dengan senyuman lembut yang membuat wajah Kyuhyun memerah dengan cepat.

"Bodoh!" pekik Kyuhyun dan keluar dapur terburu-buru.

"Hahahaha, masih saja malu-malu," kekeh Changmin dan mulai meneruskan pekerjaan Kyuhyun.

Setelah selesai membersihkan dapur, Changmin mengambil jaketnya. Ia berjalan menuju luar toko dan mendapati cahaya yang masih memancar dari ruangan host. Mungkin sunbae belum pulang, pikir pemuda itu. Changmin hanya mengangkat bahu dan segera pergi. Dibandingkan mengurusi sunbae nya, ia lebih ingin menikmati makan malam hangat bersama Kyuhyun.

Changmin berjalan cepat, di luar ternyata lumayan dingin. Changmin merapatkan jaketnya dan mulai berlari kecil. Sesampainya di apartemennya dan Kyuhyun, Changmin segera membuka pintu dan menerjang masuk.

"Dingin..." keluhnya.

"Changmin?" panggil suara dari dalam.

"Ah, aku pulang, Kyu-ah!" sahut Changmin menggantung jaketnya dan melepas sepatunya.

"Masuklah, aku akan menghangatkan pastanya," ujar Kyuhyun.

Changmin tersenyum lebar. Kalau sedang dalam mood baik, Kyuhyun memang sudah seperti seorang istri saja. Ah, apa sebaiknya ia melamar Kyuhyun saja? Seperti sunbae nya melamar kekasihnya itu. Hmm, mungkin bukan ide buruk.

"Terima kasih, Kyu-ah. Aku seperti punya seorang istri saja," ujar Changmin duduk di meja makan.

Kyuhyun tidak menjawab. Changmin terkekeh melihat daun telinga Kyuhyun yang memerah.

"Wahh, sepertinya ada yang malu-malu," goda Changmin yang dihadiahi lemparan sendok.

"Tutup mulut!" pekik Kyuhyun.

"Ahahahaha,"


Changmin dan Kyuhyun berjalan beriringan. Kedua tangan mereka saling bertautan. Senyum terkembang di wajah keduanya. Mereka terlihat begitu bahagia. Tentu saja, kemarin malam –mereka menghabiskannya bersama. Mengingat kemarin malam, wajha Kyuhyun mejadi sedikit memerah. Matanya melirik kecil pada Changmin. Ahh, betapa bahagianya memiliki Changmin di sisinya.

Kemarin malam, Kyuhyun menyampaikan rasa khawatirnya pada Changmin. Rasa khawatirnya bahwa Changmin akan berpaling darinya. Mengingat Changmin banyak dikelilinggi wanita cantik belakangan ini. Kyuhyun menyampaikan kekhawatirannya itu dengan suara yang lemah. Mau tak mau, Changmin pun luluh. Setelah meyakinkan Kyuhyun bahwa ia tidak akan berpaling, Changmin pun dipaksa berjanji akan berhenti bekerja sebagai host. Changmin pun mengangguk pasrah. Meski bisa mendapatkan uang dengan mudah, ia tidak bisa berkutik jika Kyuhyun sudah memohon dengan manis begitu.

Sesampainya mereka di host club, mereka di sambut oleh garis polisi. Keduanya saling bertatapan dan segera menghampiri inspektur yang bertanggung jawab menangani kasus ini. Mereka melihat seorang pria paruh baya dengan rambut abu-abu berdiri di dekat ruang host. Kyuhyun yang melihat pria itu langsung memasang wajah tidak enak.

Pria itu termasuk polisi kolot yang membenci detektif privat. Bagi pria itu, detektif privat hanya anjing liar yang suka mengendus seenaknya. Hubungan keduanya dengan pria itu pun tidka begitu baik

"Selamat sore, Inspektur Park. Ada apa, ini?" tanya Changmin sopan.

"Oh, anjing liar datang? Padahal tidak ada makanan," ejek pria itu membuat tubuh Kyuhyun bergetar penuh amarah.

"Ya ampun, kenapa di sini ada simpanse? Jangan-jangan kabur dari sirkus," sahut Kyuhyun sinis.

"Apa katamu?" desis pria itu berbahaya.

"Kyu-ah!" bisik Changmin mengingatkan.

"Dia yang mulai!" bisik Kyuhyun balik.

Changmin menghela napas lelah, "Jadi, ada apa, inspektur?"

"Salah satu host di duga bunuh diri dengan meracuni dirinya sendiri. Tapi, semua pegawai mengatakan kalau ini kasus pembunuhan. Kami juga mencurigai bahwa ini kasus pembunuhan. Kau tahu, lah. Bisnis seperti ini tidak pernah bersih," ujar pria itu menunjukkan tubuh Joowon.

Changmin yang melihat tubuh kaku Joowon terpaku tidak percaya. Tidak mungkin sunbae nya itu membunuh dirinya sendiri. Lamarannya baru saja di terima –oh! Apakah sebenarnya lamarannya di tolak dan ia akhirnya berencana membunuh dirinya? Tapi tidak. Joowon bukanlah orang seperti itu. Tetapi, jika memang seperti itu...

Banyak pikiran yang berputar di kepala Changmin. Memikirkan kemungkinan yang terjadi hingga Joowon tidak lagi bernyawa saat ini.

"Oh ya, kudengar –kalian pegawai di sini. Kalau begitu, aku harus menanyakan alibi kalian. Menurut rigor mortis, pria ini mati lebih dari 12 jam yang lalu. Sekitar pukul 2 hingga 4 pagi, mungkin. Saat itu, dimana kalian?" tanya pria itu.

"Aku membeli pasti di kedai ujung blok. Kedai itu langgananku, kau tanya saja ke sana," ujar Kyuhyun bersungut-sungut.

"Huh! Nah, bagaimana dengan kau, Shim?" tanya pria itu pada Changmin.

"Eh? Jam 2 hingga 4? Aku..." Changmin terdiam sebentar sebelum melanjutkan, "berada di sini hingga jam 5 pagi,"

Inspektur Park tersenyum miring, "Hohh?"

"Tunggu! Meski berada di club, Changmin tidak mungkin pelaku-"

"Inspektur Park!" seru seorang polisi memotong ucapan Kyuhyun.

"Apa?" sahut pria itu tidak ramah.

"Ini! Saya menemukan sapu tangan ini di jaket milik host itu," ujar polisi itu.

Changmin yang melihat sapu tangan miliknya secara refleks berkata, "Ah itu!"

"Hm? Sepertinya kau mengetahui sapu tangan milik siapa ini," ujar inspektur Park menyeringai.

"...milikku," bisik Changmin.

"Apa? Aku tidak mendengarnya," ujar pria itu makin tersenyum jahat.

"Tunggu! Changmin, kau dijebak! Jangan! Kau tidak boleh-"

"Milikku. Sapu tangan itu milikku," ujar Changmin memotong ucapan Kyuhyun.

"Changmin!" pekik Kyuhyun.

"Ahahahaha! Aku menemukan tersangka pembunuhan kita. Kalian, tangkap detektif Shim Changmin ini, bawa dia," ujar inspektur Park.

"Siap!" sahut beberapa polisi. Mereka memborgol Changmin dan menarik pria itu menuju mobil polisi.

"Tidak! Tunggu, ini semua salah paham! Changmin tidak mungkin membunuh!" seru Kyuhyun menarik lengan polisi yang menggiring Changmin.

"Membunuh atau tidak, kami yang putuskan. Yang penting tersangka harus dibawa terlebih dahulu. Lagipula, kudengar Shim cukup pintar, 'kan? Dia pasti bisa dengan mudah membuat hal ini sebagai bunuh diri. Juga, saat kutunjukkan tubuh host itu, ia tidak bereaksi sama sekali. Sudah jelas, 'kan?" kekeh Inspektur Park menertawakan Kyuhyun.

"Hentikan! Ocehanmu tidak beralasan!" pekik Kyuhyun.

"Tidak beralasan? Dia tidak punya alibi! Sapu tangannya ditemukan di jaket host itu! Kurang alasan apa lagi, huh? Dasar anjing liar!" seru pria itu.

Tangan Kyuhyun terangkat, siap menampar inspektur Park saat sebuah suara menghentikannya, " Hentikan, Kyuhyun!"

Kyuhyun menghentikan tangannya, kaget mendengar teriakan Changmin.

"Tapi... Minnie..." lirih Kyuhyun menatap kekasihnya dengan mata berkaca-kaca.

Changmin tersenyum, "Tidak apa-apa. Semua... akan baik-baik saja,"

"Changmin..."

"Jangan banyak bicara, cepat jalan!" ujar seorang polisi dan menarik Changmin lebih kasar.

Changmin hanya tersenyum lemah dan membiarkan dirinya dimasukkan ke mobil polisi dengan kasar.

"CHANGMIN!" seru Kyuhyun.

Changmin yang sudah berada di dalam mobil hanya diam, tidak menoleh pada Kyuhyun. Mobil polisi pun mulai berjalan, membawa Changmin pergi. Menjauh, dari Kyuhyun.

"CHANGMIIINNN!" pekik Kyuhyun putus asa sebelum terjatuh di atas lututnya dengan frustasi.

.

.

.

TBC

.

.

.

Jeng! Jeng! Akhirnya setelah entah berapa tahun lebih update juga!

Maaf semuanya, kami berdua sibuk banget. Sibuknya... minta ampun. Tapi, yang penting akhirnya update juga, 'kan?

Hehehe... sebagai hadiah, kita update langsung 2 chapter nih! Ayo, silahkan dilanjut ke chapter selanjutnya~