The Last Nine Stars

-A Touken Ranbu Fanfiction by Kanikan18-

Touken Ranbu milik DMM dan Nitroplus

Asami punya saya

Enjoyy!

.

.

.

CHAPTER 3-Honmaru

Gelap berganti terang. Asami membuka mata perlahan. Hamparan rumput yang tertiup angin menggesek bawahan hakama merah. Suara serangga terasa begitu dekat di telinga. Langit biru membentang luas di atas kepala. Ia berdiri sendiri di sebuah padang rumput masih dengan pedang di tangan.

"Selamat datang!" Sebuah suara terdengar dari bawah kakinya.

Asami menunduk dan menemukan seekor rubah mungil duduk manis di hadapannya. Warna bulunya merupakan perpaduan antara putih dan coklat muda dengan sedikit titik-titik merah di beberapa tempat. Seutas kalung berbandul lonceng ada di lehernya. Rubah itu menatapnya dengan mata coklat besar. Ekornya berkibas ke kanan dan kiri.

"Kuucapkan selamat datang, saniwa muda," kata rubah itu.

Asami memekik kaget. "Ru-rubah yang bisa bicara!" Ia terhuyung mundur. Pelukannya pada pedang itu semakin erat.

"Namaku Konnosuke," Rubah itu berdeham. "Aku akan mendampingimu, saniwa muda."

"Jangan-jangan kau adalah Konnosuke yang dibicarakan Shinosuke-sama?" Asami berjongkok agar dapat sejajar dengan Konnosuke. "Yang akan membantuku?"

"Benar sekali, um…" Konnosuke memiringkan kepala. "Namamu siapa ya?"

"Asami," jawab Asami singkat.

"Marga?"

"Tidak ada."

"Hm, Asami, Asami," gumam rubah itu dengan ekspresi bingung seolah ia tengah berusaha mengingat sesuatu. "Tunggu sebentar."

Secercah cahaya kuning keluar dari lonceng itu. Asami menyipitkan mata. Cahaya itu melewati tubuhnya, bergerak ke atas hingga bawah seolah tengah memindainya.

"Sudah kuduga! Nama itu tidak ada dimanapun!" seru Konnosuke. "Mengapa kakek itu mengirimkan orang yang tidak jelas begini sih?"

"Anu, ada apa ya?" Asami turut memiringkan kepalanya. Ia merasa bingung dengan tingkah rubah berbicara yang tampak kesal.

"Ka-kau!" Konnosuke menatap tajam. "Kau ini memang berasal dari keluarga saniwa atau didaftarkan?"

Asami menggeleng tidak paham. Ia lantas menceritakan segalanya bagaimana dirinya bisa menjadi seperti ini.

"Tu-tunggu! Ka-kau benar-benar bisa membuka pintu itu?! Dengan tanganmu sendiri?!" Konnosuke memekik panik usai cerita itu selesai. Ekornya mengibas liar.

Asami mengangguk.

"Berarti kau benar-benar keturunan asli," gumam Konnosuke pelan. "Pintu yang itu tidak akan bisa dibuka kecuali oleh keturunan asli."

"Aku harus bagaimana?"

"Sudahlah, kau ikut aku dulu," Konnosuke berbalik kemudian melangkah. Asami mengikuti. "Kita bisa menyelesaikan itu nanti."

Mereka berjalan melintasi padang rumput dalam diam. Asami berjalan seraya mengamati pedang ia bawa sesekali. Cukup berat di tangan. Ada semacam tali berwarna gelap di ujung sarung yang bercorak keunguan.

Kasen Kanesada…. Bahkan pedang pun punya nama.

Karena tak tahan diam, Konnosuke berkata, "Kau tahu, pedangmu itu milik seorang pria bertemperamen buruk yang hidup di era Sengoku…"

Era Sengoku? Ah, Asami saja baru dengar. Ia hanya bisa menggumam "ya", "hmm", untuk menghormati rubah yang mengatakan hal-hal yang baru didengarnya. Asami tidak tahu apa itu Hosokawa Tadaoki, Oda Nobunaga, Sengoku, Honno-ji, Akechi Mitsuhide. Ia bahkan tidak bisa membaca!

"Oleh karena itu, aku bingung," lanjut Konnosuke. "Pedang asli itu diberikan kepadamu, yang artinya kau adalah keturunan dari pria itu. Tapi, datamu sama sekali tidak ada! Tidak ada nama 'Asami' dalam daftar keturunan Hosokawa."

Jadi, aku hanya seorang gadis tanpa nama? Asami menunduk. Sejak awal yang ia tahu namanya hanya Asami. Tanpa embel-embel apapun di depannya.

"Nah, kita sudah sampai!"

Asami kembali mendongak. Di hadapannya, terdapat sebuah gerbang coklat yang tengah tertutup. Di kedua sisinya, membentang tembok yang membentuk pagar yang sangat panjang. Rasanya seperti mengunjungi kediaman keluarga besar.

"Ini adalah honmaru-mu!" kata Konnosuke. "Alias benteng pertahanan. Kau akan tinggal di sini bersama pedang-pedangmu dan mengatur pasukan untuk mengalahkan jikanshokogun! Emm…, kau sudah tahu tugasmu kan?"

"Sudah," kata Asami dengan sedikit ragu. "Shinosuke-sama telah menjelaskannya kepadaku. Sedikit sih."

"Seiring waktu, kau pasti akan paham," kata Konnosuke. "Mari masuk!"

Apa pun yang berada di balik gerbang itu, semuanya melebihi ekspetasi Asami. Isinya ternyata lebih indah dari yang ia duga. Selasar kayu yang panjang, ruang-ruang berpintu shoji, taman di halaman, semuanya sangat tertata apik.

"Oh, ya, aku belum sempat membersihkannya dengan baik karena kau datang terlalu cepat," kata rubah itu. Asami menyadari kalau kaus kakinya telah tertempel debu. "Kuantar berkeliling," lanjut Konnosuke.

Banyak ruangan yang harus Asami hafalkan agar tidak salah jalan. Dapur, kamar mandi, kamar para pedang, kamarnya sendiri. Semuanya begitu lengang.

"Dan, ini ruang kerjamu, Asami-sama!"

Sebuah ruangan luas berada di balik pintu shoji bercorak khusus. Dindingnya dipenuhi ornamen-ornamen cantik. Ada sebuah meja dan bantal duduk yang berada satu tingkat lebih tinggi dari tatami dasar. Ada rak berisi buku-buku di pojokan. Asami menduga ruangan ini bisa digunakan untuk makan bersama atau rapat karena luasnya.

"Di situ," Konnosuke berada di pintu yang berseberangan dengan pintu masuk ruangan. "Adalah tempatmu untuk mengantarkan dan menerima para pedang yang akan bertempur. Tempat itu juga tempat untuk memberikan ruh pada pedangmu itu."

Terhampar taman yang luas di ujung pintu. Tepat di arah yang lurus dengan matanya, tampak sebuah taman kecil yang dikelilingi danau buatan yang dapat dijangkau dengan meniti jembatan. Taman kecil itu ternyata memiliki sebuah pelataran batu dengan corak khusus yang terukir begitu Asami berjalan di atasnya.

"Di sinilah kau mengantar pedangmu dan di batu ini," Konnosuke menghampiri sebuah batu yang menonjol di ujung taman. Terdapat tali tambang dengan beberapa kertas jimat putih yang melilitnya, tanda kalau batu itu keramat. "Kau memberi ruh pada pedangmu!"

Asami menghampiri batu itu perlahan.

"Nah, letakkan saja uchigatana itu di situ, yak, bagus!" Konnosuke mengawasi gerak-gerik Asami.

"Tunggu, uchigatana? Apa itu?" tanya Asami.

"Heh? Kau tak tahu? Pedang itu banyak jenisnya. Tachi, uchigatana, ootachi, wakizashi. Ada juga belati—tantou Tombak yari, naginata. Banyak! Kau tidak tahu?"

Asami hanya menggeleng. Ia kira semua pedang itu sama.

"Sepertinya ini akan jadi lebih sulit dari yang kuduga," keluh Konnosuke. "Kalau begitu, sekarang coba berikan ruh pada uchigatana itu!"

"Caranya?"

"Hmm…, ah! Sama seperti kau membuka pintu itu," Konnosuke duduk di sampingnya. "Bedanya, yang ini akan sedikit lebih berat."

"Tapi, pintu itu…hanya kebetulan…"

"Tapi, kau merasakannya kan? Aliran energimu…. Mungkin yang rasanya hangat itu, lho."

"Ta-tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian," kata rubah itu tegas. "Coba saja. Sebut nama pedang itu dan alirkan energimu."

Asami menyentuh sarung pedang itu. "Kasen Kanesada," katanya ragu. Pedang itu bergeming. "Begitu kan? Tidak berhasil."

"Sudah kubilang, ini akan sedikit lebih berat. Coba lagi!"

"Kasen Kanesada," kata Asami seraya berkonsentrasi. Perlahan, ia merasakan sesuatu yang hangat keluar dari dadanya secara perlahan. Ia terhenyak. Konsentrasinya buyar seketika.

"Energimu hampir keluar! Coba lagi!"

Asami mengulangi hal yang sama berulang-ulang. Kehangatan itu belum juga mengalir ke ujung tangannya bahkan terasa semakin berat. Semakin ia mencobanya, semakin ia kelelahan. Bulir-bulir keringat tampak membasahi wajahnya.

"Ka…sen Kane…sada…," kata Asami seraya terengah-engah. Aliran kehangatan itu mengalir pelan dari dada menuju tangannya. Ia kira ia akan berhasil. Pedang itu sedikit bergetar.

"Ayo, Asami-sama! Kau hampir bisa!"

Hilang. Beban itu tiba-tiba hilang. Asami terhuyung lemas. Ia terengah-engah.

"Hmm, memang belum bisa ya," Konnosuke tertunduk Kupingnya menurun seolah layu. "Tidak apa-apa. Kalau kau belum bisa, tidak apa-apa. Istirahat saja dulu."

"Maafkan aku," kata Asami.

"Kesehatanmu jauh lebih penting, Asa—hoah!" Konnosuke mendongak. "Sudah mau gelap?!"

Benar juga. Langit telah berubah warna menjadi jingga gelap. Burung bersuara parau terbang melintang di atas kepala mereka.

"Ah, benar," gumam Asami. "Ini juga mendekati waktu makan malam."

"Mmm, di dapur ada banyak bahan makanan yang baru saja datang," kata Konnosuke. "Tapi, aku tidak bisa memasak."

"Tenang saja," Asami tersenyum. "Aku yang akan memasak."

Dapur itu seperi dapur pada umumnya. Di bawah kakinya, terdapat kotak-kotak yang berserakan. Ketika Asami membuka semuanya, ia tahu kalau bahan-bahan makanan itu masih segar, baru saja datang dari tempat yang tak diketahui. Ia memikirkan menu apa yang akan dimasaknya. Ada sayuran seperti kubis, lobak, tomat, dan tahu.

Tahu yang putih bersih.

Mendadak, Asami mendapatkan ide bagus.

-iii-

"Ta-tahu goreng!" seru Konnosuke gembira saat sepiring tahu goreng dihidangkan di depannya. Uap panasnya yang mengepul mengantarkan aroma gurih dan manis ke hidung. Asami tersenyum. Dugaannya benar. Rubah mistis katanya suka dengan tahu goreng.

"Itadakimasu!"

Suasana pun larut dalam denting sumpit beradu dengan mangkok. Asami harus sedikit bekerja keras tadi. Sebelum memasak, ia harus membersihkan beberapa peralatan masak dan peralatan makan.

"Makanmu sedikit sekali, Asami-sama," komentar Konnosuke melihat nasi di mangkok Asami yang memang sedikit.

"Ah, makanku memang sedikit," Asami meletakkan mangkoknya dengan salah tingkah.

"Makanlah lebih banyak! Oh, ya, tahu goreng buatanmu enak sekali lho!"

Asami memandang hamparan makanan di hadapannya. Makan sebanyak ini merupakan suatu kemewahan baginya. Di penginapan, ia hanya makan dengan porsi kecil. Jatah makan pagi selalu ia bagi untuk si kakek—Shinosuke dan jatah makan malamnya tidak menentu karena ia sering mendapat hukuman. Seringkali, di tengah malam, Ume membawakannya makanan walau jumlahnya sedikit.

Ume-san, andai saja kau bisa menikmati semua ini…

Tiba-tiba, gadis itu teringat sesuatu. "Jadi, Konnosuke-san, aku ingin menanyakan sesuatu," Asami meletakkan sumpitnya.

"Apa?"

"Soal saniwa," kata Asami. "Kau bilang sesuatu tentang keturunan atau tentang yang didaftarkan—semacam itu. Apa maksudnya?"

"Oh," Konnosuke menelan tahunya. "Begini, setiap orang, setiap manusia, memiliki kekuatan spiritual yang terpendam untuk memberikan roh pada pedang. Tubuh ibarat cangkang yang menjadi wadah kekuatan itu. Mereka berpotensi untuk menjadi seorang saniwa. Akan tetapi, untuk menjadi saniwa, kekuatan itu harus dikeluarkan dari cangkangnya. Paham kan?"

Asami mengangguk paham.

"Untuk orang yang mendaftarkan diri menjadi saniwa, mereka akan dilatih secara khusus dalam waktu yang cukup lama—bisa empat sampai lima tahun bahkan lebih—untuk mengeluarkan kekuatan terpendam itu sekaligus melatih kemampuan dasar yang diperlukan saniwa. Biasanya sih, kekuatan itu akan mati bersama orang itu. Tapi, ada beberapa kasus dimana orang itu menurunkan kekuatan itu pada anak cucunya, meski sangat langka. Hei, kau masih mendengarkanku kan?"

"Masih, masih. Tolong lanjutkan!"

"Untuk keturunan, mereka adalah orang-orang yang kekuatannya telah lepas dari cangkangnya sejak lahir. Memang ada beberapa klan khusus yang bisa seperti itu. Oleh karena itu, yang mereka lakukan tinggal melatih calon saniwanya saja."

"Kalau aku?"

"Kukira kau memang seorang keturunan saniwa, Asami-sama. Kau bisa membuka pintu yang memang diperuntukkan khusus untuk darah klan-klan itu. Tapi, aku tidak mempunyai data tentangmu sedikitpun. Apalagi tentang keluargamu. Kau tidak terdeteksi seolah-olah, maaf, kau tidak pernah terlahir. Aku heran. Seharusnya, karena Shinosuke yang mengantarmu, kau memiliki data tersendiri. Apalagi pedangmu adalah Kasen Kanesada milik Hosokawa Tadaoki. Mungkin saja kau adalah keturunan klan Hosokawa. Tapi…"

Asami menunduk. "Kau tidak lupa kan, kalau aku ini hanya pelayan yang hanya mengingat namaku?"

"Ya, tentu saja," Konnosuke terdiam. "Ah, sudah malam. Mari membereskan semua ini, mandi, dan pergi tidur!"

Bicara memang gampang, tapi nyatanya, Asami tak dapat memejamkan mata sekejap pun. Di luar sana, sinar bulan purnama yang berwarna biru merasuk masuk ke kamarnya. Kamar itu terlalu luas untuk ditempatinya sendiri. Lengang dan remang. Gadis itu mendadak teringat Ume. Biasanya meraka akan tidur seraya bergandeng tangan.

Pedang—uchigatana —Kasen Kanesada tergeletak di samping futonnya. Asami memandangi pedang itu lama. Ia memutar ulang semua kejadian sejak hari pertama ia tersadar ruang bawah tanah itu hingga bisa tidur di sini. Rasanya semua kejadian ini begitu ajaib hingga gadis itu takut kalau semua ini hanya mimpi. Dibelainya pedang itu dengan perlahan.

Kalau aku benar-benar seorang saniwa, aku pasti bisa melakukannya.

Gadis itu bangkit lalu mengambil uchigatana-nya. Ia berjingkat-jingkat menuju ruang kerja saniwa, padahal Asami tak perlu takut untuk membangunkan siapa pun. Benteng itu sunyi, hanya berisi dirinya dan Konnosuke.

Bulan purnama besar yang mengambang di langit berbintang mengingatkan Asami akan malam penobatannya yang kacau. Ia meniti jembatan lalu menoleh ke belakang. Ruang kerjanya diapit dengan dua buah bangunan. Yang satu untuk penyembuhan pedang, yang satu untuk ruangan arsip, kata Konnosuke tadi.

Kembali Asami berjalan dalam sunyi. Semilir angin malam meniup ujung lengan kimono tidurnya. Seperti yang dilakukannya tadi, ia meletakkan uchigatana itu di atas permukaan batu keramat.

Kalau aku memang pantas di sini, aku pasti bisa.

Tangannya terulur. Matanya terpejam. Asami menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Ia memusatkan konsentrasinya.

"Kasen Kanesada."

Aura hangat menyeruak perlahan dari dadanya, merekah bagaikan kelopak bunga yang berusaha mekar, menjalar ke seluruh tubuh, berpusat pada tangan yang terulur, sama seperti tadi siang. Kini, alirannya lebih lembut.

Aku merasakannya.

Aura itu sampai di telapak tangannya. Cahaya putih berpendar dalam remangnya malam, menyelimuti Kasen Kanesada dalam kilaunya. Uchigatanaitu terangkat, menentang sang bulan yang berdiri pongah. Di antara cahaya putih itu, muncul kelopak-kelopak sakura yang terbang mengelilinginya. Sinar putih itu semakin menguat lalu berpencar dengan cepat ke seluruh penjuru.

TEP.

Asami mendengar suara kaki yang berpijak. Ia membuka mata lalu mendongak. Di hadapannya, berdiri seorang pria dengan pakaian indah menenteng sebuah pedang yang terlihat sama. Rambutnya yang ikal keunguan berkibar pelan oleh angin. Matanya terbuka, memperlihatkan iris biru kehijauan yang menatap Asami dengan ramah. Bibirnya membentuk seutas senyuman yang manis.

"Namaku Kasen Kanesada," katanya. "Aku adalah pedang seni terkenal yang mencintai segala hal yang elegan. Senang bertemu denganmu."

Asami terdiam. Ia harusnya tahu hal seperi ini akan terjadi. Bahkan, ini adalah hal yang ia tunggu-tunggu. Hanya saja, semua ini terlalu cepat baginya. Ia mematung lalu menjerit keras.

.

.

.

Hello, Kanikan18 di sini

Sebenernya saya baru punya 4 chapter buat di-post tapi karena gaptek sisanya baru nyusul pagi ini karena sinyal internet-nya lagi bagus *badumtes

Saya nulis bukan karena apa-apa, hanya melepaskan imajinasi yang numpuk di otak

BUT I LOOKING FOR YOUR REVIEW SO MUCH! /yah kalo ada yang baca

Masih baru di TKRB dan sama kagetannya sama Asami yang "Hah? Apa?" mulu, tapi saya akan berusaha!