The Last Nine Stars

-A Touken Ranbu Fanfiction by Kanikan18-

Touken Ranbu milik DMM dan Nitroplus

Asami punya saya

Enjoyy!

.

.

.

CHAPTER 4-Kasen Kanesada

Mimpi. Ini pasti mimpi.

Asami menekuri lantai yang akan ia pel.

"Namaku Kasen Kanesada. Aku adalah pedang seni terkenal yang mencintai segala hal yang elegan. Senang bertemu denganmu."

Ia bahkan masih mendengar suaranya sampai saat ini!

Matahari belum sepenuhnya merajai langit. Langit berwarna kelabu dengan sapuan warna jingga di bawahnya. Asami memperbaiki gulungan kimononya. Di bawah kakinya, tergeletak sebuah ember kayu berisi air dengan kain yang tersampir di pinggirannya. Ia berniat membersihkan lantai kayu yang berdebu ini.

Pe-pedang itu…benar-benar hidup. Dan dia…ada di kamar itu…

Asami menatap kamar yang masih tertutup. Sulit dibayangkan ada seorang pria jelmaan pedang yang tengah terlelap di sana. Menurut Shinosuke, hal itu bisa terjadi karena ia adalah seorang saniwa. Dan kata Konnosuke, ia adalah saniwa dari keturunan yang sah. Masalahnya, keturunan dari mana?

Gadis itu menggelengkan kepala. Bukan waktunya memikirkan hal itu. Honmaru ini harus segera dibersihkan. Mungkin agak sulit karena ia harus bekerja sendirian, tapi setidaknya ia harus membersihkan lantai sebelum menyiapkan sarapan.

Asami menghela napas. Ternyata, lebih enak kalau bekerja bersama seperti di penginapan. Walaupun ia sering kena jitak.

Lantai berderap di bawah pijakan. Tangan mungil kokoh bertopang pada kain pel. Warna kayu yang semula kusam karena debu kini mengilat kembali seperti kaca. Asami melakukan pekerjaannya dengan teliti. Setiap sudut tak terlewatkan. Ia bekerja tanpa suara.

Tepat ketika Asami memeras kain, seseorang berkata, "Ada yang bisa kubantu?"

Ia mendongak. Kasen Kanesada berdiri di hadapannya. Senyum tersungging di wajah. Tak seperti tadi malam, pria itu mengenakan kimono sederhana dengan lengan yang digulung. Sebuah pita merah mengikat rambut ungu ikalnya.

"Ah," balas Asami sekenanya karena terkejut. Gadis itu menelan ludah. "Sudah selesai, kok. Setelah ini aku akan menyiapkan sarapan. Permisi."

"Tunggu," Kasen mencegah Asami melangkah lebih jauh lagi. "Aku bisa membantu Anda."

-iii-

Asami terkagum-kagum. Pedang itu bisa memasak!

"Telur dadar yang elegan adalah telur dadar yang berwarna kuning keemasan," kata Kasen. "Bukan begitu, Asami-sama?"

"Eh?" Asami tertegun. "Kau tahu namaku?"

Kasen tersenyum manis. Ia mengangkat telur dadar dari penggorengan. "Shinosuke-sama, pria yang selalu Anda bawakan makanan itu, memperhatikanmu setiap hari. Aku selalu ada di sampingnya, Anda tahu kan?"

Asami mengangguk samar. Terbayang olehnya tongkat terbungkus kain yang selalu dibawa kakek itu. Tongkat yang ternyata sebuah pedang yang diserahkan begitu saja padanya. Kasen Kanesada ini mengingat semua hal yang dilihatnya meski masih berwujud sebuah pedang.

"Kakek itu selalu berkata," Kasen menyiapkan rebusan. "'Inilah tuanmu yang sebenarnya, Kasen Kanesada. Lihat dan perhatikan. Sayang sekali keturunan terakhir klan Hosokawa harus berada di tempat seperti ini.'"

Hosokawa. Klan yang selalu disebut-sebut oleh Konnosuke. Asami memberanikan diri untuk bertanya. "Um, apa itu klan Hosokawa? Lalu, siapa itu Hosokawa…Tadaoki?" Suaranya sedikit tercekat. Ada rasa berdebar tiap kali nama itu disebut karena Asami melihat secercah harapan tentang dari mana asal usulnya. Gadis kecil itu tidak ingat apa pun selain namanya. Yang ia tahu hanyalah ruang bawah tanah yang menampungnya dan penginapan Okaa-san yang memperkerjakannya.

"Tuan Hosokawa?" Kasen kembali menatapnya. Ada kelembutan yang ada di kedua manik kebiruan itu. Pedang itu—mungkin bisa disebut pria itu—menerawang jauh ke depan. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum.

"Tuan Hosokawa Tadaoki adalah putra tertua dari Tuan Hosokawa Fujitaka. Ia pernah melayani Oda Nobunaga dan menikah dengan putri dari Akechi Mitsuhide. Yang aku tahu, Tuan Hosokawa adalah pria yang baik, meski banyak orang yang menilainya sebagai pria bertemperamen buruk dan sering bertindak brutal. Hahaha," Kasen terkekeh. "Namun, yang terpenting adalah Tuan Hosokawa sangat menghargai seni. Ia adalah ahli seni minum teh dan puisi. Namaku saja diilhami dari Sanjuurokkasen-Puisi dari 36 Mahkluk Abadi. Elegan sekali kan?"

Asami hanya bisa mengangguk-angguk. Ia tidak paham benar apa yang Kasen bicarakan. Membayangkan seorang pria yang elegan dan menghargai seni sekaligus brutal, rasanya sedikit aneh. Bagaimana Hosokawa Tadaoki hidup seperti itu?

"Oleh karena itu, Aruji," Kasen beralih menata hidangan setelah semua masakan mereka selesai. "Keeleganan sangat penting bagiku. Setelah mendapatkan tubuh manusia, aku ingin sekali menghias tempat ini agar lebih menawan. Ckckck. Kita benar-benar membutuhkan sesuatu yang berkelas untuk honmaru tua ini."

Asami terkekeh geli. Ia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Kasen Kanesada di sampingnya.

"Hmm, aku bertanya-tanya kapan kita bisa bertemu Osayo," gumam Kasen kemudian.

"Osayo?"

Kasen mengangguk. "Maksudku Sayo Samonji, tantou milik Tuan Hosokawa Fujitaka. Aku menantikan dirinya untuk menjadi bagian dari pasukan Anda."

"Maksudmu akan ada pedang selain dirimu yang datang ke sini?" tanya Asami.

"Tentu saja. Untuk melindungi sejarah, kita tidak bisa melakukannya berdua saja," jawab Kasen.

Asami tertawa gugup. Pikirannya penuh dengan hal yang menurutnya begitu rumit. Melindungi sejarah, keturunan klan, menghidupkan pedang, tugas seorang saniwa…. Semuanya tumpang tindih bagai benang kusut yang sulit diurai. Benang kusut itu masih dibawanya ke ruang makan, ruangan terbesar di honmaru.

"Gouchisousama deshita," Sarapan telah tandas.

"Baiklah," kata Konnosuke kemudian. "Saatnya untuk menjalankan tugas pertamamu, Asami-sama."

"Hah? Apa?" Asami tergagap.

"Iya. Pengiriman pedang ke garis depan," ujar rubah itu. "Singkatnya, kau akan terus melakukannya selama menjadi seorang saniwa. Walau tidak sesederhana itu, sih."

Kasen mengangguk siap. "Lantas kami harus bagaimana?"

"Setelah membereskan semua ini, kita akan membahasnya di ruang saniwa," balas Konnosuke singkat.

Beberapa saat kemudian, mereka berkumpul di ruang saniwa. Angin musim panas berhembus pelan dari pintu shoji yang terbuka.

"Asami-sama," Konnosuke memulai penjelasan panjangnya. "Seperti yang sudah dijelaskan, kau bertugas melindungi sejarah agar tidak berubah akibat serangan Jikanshokogun-Pasukan Revisionis Sejarah. Mereka akan muncul di masa-masa tertentu sepanjang sejarah Jepang. Tenang saja. Kehadiran mereka bisa dideteksi oleh Konsil Saniwa yang akan memberitahukannya pada setiap saniwa. Salah satu tugasku di sini adalah menjadi perantara antara Konsil Saniwa dan dirimu. Ketika mereka muncul, aku akan segera memberitahukannya kepadamu. Paham?"

Asami mengangguk.

"Nah, kau akan mengirim pasukanmu melalui pelataran yang ada di luar itu," Konnosuke beralih ke Kasen. "Kasen-san, tugasmu sebagai pedang hanyalah menumpas semua jikanshokogun yang ada di tempat yang ditunjuk. Agar lebih mudah melakukannya, kau harus mengetahui apa yang menjadi tujuan mereka."

Konnosuke melompat ke balik meja saniwa. Ia tampak menekan permukaannya. "Kemarilah Asami-sama," panggilnya kemudian. Asami menghampiri si rubah. Permukaan meja itu tampak seperti layar yang memuat peta kepulauan Jepang. Ada sebuah titik merah berkedip yang menandai sebuah pulau.

"Tanda ini menunjukkan dimana jikanshokogun akan muncul. Selain itu, waktu kemunculannya pun tertera di sini," kata Konnosuke. "Kau mengaku tidak bisa membaca kan? Tenanglah. Aku akan membantumu."

Kasen tampak terkejut mengetahui Asami adalah seorang gadis buta huruf. Gadis itu menyadarinya. Ia menunduk malu.

"Jikanshokogun diperkirakan akan muncul di Hakodate pada tanggal 2 Desember 1868," Konnosuke membaca tulisan yang tertera di layar. "Hmm, saat itu sudah era Meiji…. Lalu…ah! Pada tanggal 4 Desember 1868, pertempuran Hakodate telah dimulai."

"Pertempuran?" Asami terkejut.

"Pertempuran Hakodate," Sebuah panel baru muncul berisi tulisan dan sedikit gambar. Konnosuke membacanya. "Di sini terjadi pertempuran antara sisa angkatan bersenjata Keshogunan Tokugawa yang bersatu menjadi pemberontak Republik Ezo melawan angkatan darat Pemerintah Kaisar Meiji. Pertempuran ini terjadi di Benteng Goryookaku."

"Mengapa pasukan jikanshokogun muncul 2 hari sebelum pertempuran?" tanya Kasen heran.

"Hmm, ada kemungkinan mereka mencegah perang itu tidak akan terjadi. Bisa saja era Meiji tidak akan ada," Konnosuke menggaruk kepala. "Oleh karena itu, aku akan mengatur agar kita bisa tiba 3 hari sebelum kedatangan mereka."

"Nah, Asami-sama," kata Konnosuke kemudian. "Silakan perhatikan layar ini baik-baik. Pengiriman pasukan hanya bisa dilakukan oleh saniwa, jadi layar ini tidak akan bisa diutak-atik oleh diriku maupun para pedang. Kasen-san akan berdiri di pelataran itu sebagai titik keberangkatan. Ia akan tiba pada tempat yang telah ditentukan. Yang kau lakukan hanyalah menekan tombol ini. Akan ada jeda 5 detik sebelum Kasen-san diberangkatkan."

Asami memandang tombol emas besar yang terpampang di sana. Jantungnya sedikit berdebar. Tugas pertamanya. Membayangkan ia akan mengirim seseorang melintasi waktu membuatnya sedikit takut.

"Jangan takut," kata Konnosuke. Kemarin ia hanyalah rubah kebingungan karena mendapat tuan baru yang tidak jelas asal-usulnya. Sekarang rubah itu siap membantu tugas sang saniwa. "Baik, Kasen-san, bersiaplah lalu datang ke pelataran itu. Aku akan ikut denganmu sebagai perantara antara dirimu dan saniwa."

Kasen mohon diri untuk bersiap. Konnosuke kembali menjelaskan segala macam hal tentang pengiriman pasukan ke medan pertempuran dan ekspedisi kepada Asami. Gadis itu mendadak kehilangan semua keraguan dan rasa takutnya. Ia merasa tanggung jawab yang ada padanya harus diutamakan terlebih dahulu.

Melihat saniwa barunya ternyata cepat tanggap membuat Konnosuke diam-diam merasa kagum. Kemarin gadis itu hanyalah anak manusia yang kebingungan dengan kehidupan barunya. Sayang sekali, kehidupan baru yang akan dijalaninya akan semakin berat. Ia berniat akan selalu mendukung gadis ini, sesulit apapun rintangannya.

"Aku sudah siap," kata Kasen setelah mengenakan pakaian tempurnya lengkap.

"Aku akan pergi bersama Kasen-san selama seminggu untuk memastikan Pertempuran Hakodate berjalan tanpa gangguan," sahut Konnosuke. "Asami-sama, kau tahu apa yang harus dilakukan hingga kami kembali kan?"

"Ya," kata Asami dari balik meja.

"Kalau begitu kita berangkat, Kasen-san," Konnosuke berjalan dulu diikuti Kasen. Mereka melangkah di jalan setapak menuju pelataran.

Asami tampak teringat sesuatu. Ia bergegas berlari menuju muka pintu lalu membentuk corong dengan telapak tangan di sekitar mulut. "Kasen-san! Konnosuke-san!" serunya. "Selamat jalan! Hati-hati ya!"

Yang dipanggil berhenti lalu menoleh. Kasen melambaikan tangan sebelum mengikuti Konnosuke.

"Baik, Asami-sama. Kami sudah siap," Suara Konnosuke mendadak terdengar dari layar di atas meja. "Silakan tekan tombolnya."

Asami menekan tombol sesuai instruksi. Beberapa saat kemudian terdengar suara berdesing dan kilatan cahaya dari luar. Kasen dan Konnosuke menghilang di tengah kilatan itu.

-iii-

"Selamat datang," ucap Asami. Ia berdiri di muka pintu, menyambut Kasen dan Konnosuke yang sudah kembali. Ketika mereka kembali, matahari baru saja muncul dari peraduannya. Semburat jingga muncul berselang-seling dengan awan kelabu.

"Kami pulang," balas Kasen membalas sambutan tuannya.

"Lihat apa yang kami dapat!" timpal Konnosuke.

Kasen membawa sebuah tantoudi tangan. Asami memandang benda itu dengan tatapan kagum. Sarung hitamnya tampak berkilat-kilat.

"Yagen Toushirou," kata Konnosuke lagi. "Syukurlah. Kita akan punya ahli medis di honmaru ini. Mumpung masih pagi, Asami-sama bisa memberinya ruh lalu mengajaknya sarapan bersama. Aku sudah lapar."

"Kalau begitu kalian bisa menunggu di ruang makan," kata Asami. Ia menerima tantou itu tanpa berkedip. "Aku akan menyusul bersama Yagen Toushirou."

Asami meletakkan Yagen Toshirou di batu keramat—istilahnya sendiri—lalu melakukan apa ia lakukan terhadap Kasen. Tak seperti pertama kali membangkitkan pedang itu, kini aliran energinya terasa lebih halus, mengalir ke sekujur tubuh bagaikan air.

Suara kaki yang mendarat di atas batu membuka matanya. Seorang anak laki-laki berambut hitam pekat berdiri tegap menenteng tantou. Senyuman halus terukir di raut wajahnya yang halus.

"Hai, Taishou. Aku Yagen Toushirou. Bersama saudara-saudaraku, aku harap kita akan menjadi akrab."

Asami tertegun. Panggilan untuknya sepertinya bermacam-macam dan saudara? Maksudnya? "Halo, namaku Asami, saniwa di sini," Ia tersenyum seraya membungkuk formal, dibalas oleh Yagen. "Selamat datang di honmaru kami. Mulai hari ini, mohon kerjasamanya."

-iii-

Usai makan malam, Konnosuke mengajak Asami berbicara di ruang saniwa. Kasen tengah mengajak Yagen berkeliling, membahas berbagai tugasnya di sini.

"Asami-sama," kata rubah itu. "Besok, jam 14.00, kau dijadwalkan akan menghadiri rapat Konsil Saniwa bulanan. Ini akan menjadi rapat pertamamu. Yah, sebenarnya hal yang dibahas mungkin itu-itu saja, sih, karena tidak ada peristiwa penting. Mungkin hanya diisi laporan dari setiap saniwa perwakilan provinsi dan penyambutan kecil untukmu."

Mereka beringsut ke meja saniwa. "Lihat, data dirimu ada di sini. Shinosuke yang memasukkannya. Wah, ia benar-benar penuh persiapan. Nama, alamat, semua ada. Hanya nama margamu yang tidak."

Asami menatap layar itu dengan mengerutkan dahi. Aksara disana bagi dirinya hanya simbol tanpa makna.

"Asami, saniwa dari provinsi Bingo, usia 14 tahun," ucap Konnosuke. "Kau akan bergabung dengan 3 saniwa yang juga bertugas di provinsi ini. Ketuanya bernama Tachibana Akira. Laporan bulanan serahkan saja ke dia. Kau kan masih baru."

Sang saniwa mengangguk-angguk.

"Besok Kasen-san akan menemanimu," kata Konnosuke lagi. "Baiklah, silakan beristirahat."

-iii -

Beberapa jam yang lalu, di sebuah tempat yang jauh…

Empat orang berkimono putih dan berhakama merah duduk di sekeliling meja bundar. Di depan mereka terhampar kertas-kertas serta terpampang proyeksi hologram di pusat meja.

"Besok rapat bulanan, ya," ucap seorang yang memiliki raut paling muda. Meski begitu umurnya tampak mendekati usia 30.

"Ya. Memangnya kenapa? Kau mau bolos lagi?" kata seorang yang memiliki luka yang tertoreh di alis. Ubannya sedikit muncul di sana-sini.

"Aku tahu," ucap satu-satunya perempuan di antara mereka. "Ini pasti berhubungan dengan saniwa baru itu kan? Fufufu…"

"Ia hanya saniwa baru," kata yang tertua di antara mereka. Semua rambutnya berwarna putih. "Jangan macam-macam."

"Tapi, ia tidak punya data yang jelas! Satu-satunya petunjuk hanyalah Kasen Kanesada itu," Si muda bersungut-sungut. "Mungkin…Hosokawa ya?"

"Ya," Si wanita bersandar santai. "Hosokawa. Klan itu sudah lama musnah kan? Ada kemungkinan anak itu adalah keturunan terakhir yang masih hidup. Ck. Tapi, munculnya saniwa tidak jelas seperti itu membuatku ikut kesal."

"Saniwa tanpa nama," gumam si tua. Matanya menerawang jauh.

"Siapapun ia," Si luka mencondongkan badan. "Kita sambut saniwa tanpa nama itu dengan sambutan yang sebaik-baiknya."

.

.

.

Next chapter teaser

Asami, saniwa baru, bertemu saniwa lain untuk pertama kalinya! Dengan asal-usul yang tidak jelas, ia mendapatkan julukan: Saniwa Tanpa Nama. Bisakah ia bertahan dengan Konsil Saniwa yang menekannya?

Pedang semakin bertambah dan misi semakin sulit. Asami harus berusaha lebih keras agar bisa diakui saniwa lainnya. Kasen memutuskan untuk mengajarinya baca tulis dan sejarah Jepang. Di saat itulah, saniwa muda ini mengetahui arti namanya.

"Anda tahu apakah yang lebih tajam dari sebilah pedang?" Kasen tersenyum. "Kata-kata."

CHAPTER 5: Unnamed Saniwa

.

.

.

Kembali bersama Kanikan18

Perlu diketahui kalau segala yang ada di sini bersumber dari riset singkat di Wikipedia dan saya lupa cantumkan /maap

Oke, sejauh ini saya menjabar sistem di citadelnya Asami /bosen ya?/ walau tidak lengkap ahaha…

Saya menunggu review dari para readers untuk bahan pembelajaran di dunia tulis menulis! Karena prinsip saya adalah readers adalah guru

Makasih~~~