Monochrome by Path of Heaven
T rated
ChangKyu
Mystery, Adventure, Romance, Action
Typo(s), Pelaku pembunuhan dan korban pembunuhan yang Gaku karang-karang namanya, etc.
.
.
Peraturannya adalah, kau harus bisa menyelesaikan kasus-kasus yang kukirimkan padamu. Kalau kau berhasil menyelesaikannya, kau akan dapat petunjuk dimana tuan puteri mu berada.
Batas waktumu... 8 jam. Sebelum... kekasih kecilmu ini meledak.
8 jam... dimulai dari sekarang...
07:59:59
.
Tanuki...
'Atatasobitamatashoneta'...
.
07:59:58
.
A-ta-ta-so-bi-ta-ma-ta-sho-ne-ta
Hapus semua 'ta' dan kau akan menemukan...
.
07:59:57
.
Asobimasho ne
'Ayo, main,'
.
.
"Sial!" seru Changmin penuh kekesalan. Dengan keras ia menendang tiang listrik di dekatnya. Napasnya memburu. Wajahnya memerah karena marah. Giginya bergemeletuk menahan amukan.
"Minho...!" kutuk Changmin,
Segera, ia berlari ke kedai yakiniku dimana inspektur Kim berada. Ia membutuhkan bantuan kepolisisan saat ini. Bukan untuk memecahkan kasus, namun untuk mendapatkan kasus. Ia tidak tahu kapan Minho akan mengirimkan kasus dan yang mana. Jadi, dia harus terus menempel dengan kepolisian dan memilah semua kasus yang datang. Semua itu ia lalukan agar bisa menemukan mana kasus yang dikirimkan Minho untuknya.
Brak! Changmin membuka pintu kedai dengan kasar. Tanpa memperdulikan protes pemilik kedai, Changmin kembali ke meja dimana inspektur Kim berada. Ditariknya kerah kemeja pria lajang itu dan menariknya keluar begitu saja.
"Ch-changmin-ssi! Apa-apaan ini? Lepaskan!" serunya memberontak. Changmin tidak menjawab dan semakin menarik jauh inspektur Kim. Setelah cukup jauh, Changmin melepaskan cengkramannya, membiarkan inspektur Kim terjatuh ke aspal yang dingin.
"Changmin-ssi, sebenarnya ada ap-"
"Aku butuh akses ke kepolisian," potong Changmin tiba-tiba dengan nada yang serius.
"Sudah kubilang tidak bisa. Kalau bukan anggota kepoli-"
"Aku akan jadi anjing kepolisian untuk sementara. Tapi tolong, tolong! Berikan aku akses pada setiap kasus yang datang," potong Changmin lagi kali ini dengan memohon.
Inspektur Kim menatap Changmin menilai. Changmin sedang aneh. Tiba-tiba pergi, tiba-tiba kembali. Saat kembali keadaannya juga jadi lebih buruk. Pasti sesuatu sedang terjadi pada pemuda jangkung itu.
Inspektur Kim berdiri, "Kau sebenarnya sedang ada masalah apa?"
"Tidak ada," sahut Changmin singkat, menghindari pandangan inspektur Kim.
Inspektur Kim mengangkat alisnya. Tidak mungkin pemuda di hadapannya ini tidak punya masalah. Lihat saja, pemuda yang biasa santai dan banyak tertawa ini jadi pendiam. Bicaranya irit. Bahunya kaku dan ekspresinya tegang.
"Tidak mungkin tidak apa-apa. Sesuatu pasti sedang-"
"Kubilang tidak ada apa-apa!" bentak Changmin. Napasnya tersengal, wajahnya memerah.
Changmin mengusap wajahnya kasar, "Maaf... aku berteriak padamu, inspektur Kim,"
"Ti-tidak apa-apa," sahut inspektur Kim tertawa kecil berusaha meringankan suasana.
Tidak pernah sekali pun Changmin menaikkan suaranya. Apalagi pada orang yang lebih tua atau lebih tinggi jabatannya. Changmin itu terkenal sopan dan ramah. Berkebalikan dengan Kyuhyun yang sombong dan seenaknya. Baru kali ini ia melihat Changmin begitu kehilangan kendali. Sesuatu yang besar pasti sedang terjadi.
"Jadi, uhm..."
"Ah, tidak ada apa-apa, kok! Tidak ada apa-apa, tenang saja! Ahahaha..." sahut Changmin tertawa dan merangkul bahu inspektur Kim akrab.
"Yah... kau tahu lah... aku ini masih muda dan punya banyak masalah," ujar Changmin memberikan alasan.
Inspektur Kim tertawa canggung. Perubahan emosi Changmin mengerikan. Baru tadi pemuda itu berteriak marah padanya. Sekarang? Ia sudah tertawa-tawa lagi dengan ceria. Inspektur Kim menatap Changmin dengan bingung. Senyuman pemuda itu... apa memang sekecil itu? Bukankah biasanya lebih lebar? Apa perubahan sikap pemuda itu karena surat yang ia temukan di toilet tadi? Apa ia bertengkar dengan Kyuhyun? Inspektur Kim berdeham, menguatkan diri untuk kembali bertanya meski mungkin akan diteriaki lagi oleh Changmin.
"Ch-changmin-ssi... apa... surat tadi-"
Kriiinggg!
Bunyi panggilan masuk menghentikan ucapan inspektur Kim.
"Ah, maaf. Itu telponku. Maaf, sebentar," ujar inspektur Kim dan mengangkan teleponnya.
Changmin mengangguk, membiarkan inspektur Kim mengangkat teleponnya. Pemuda itu baru saja memutuskan untuk pergi ketika ponselnya bergetar. Ia merogoh sakunya dan membuka ponselnya. Pesan masuk. Dari nomor tidak dikenal.
Sayup, ia mendengar inspektur Kim berbicara. Mungkin pada atasannya.
"Ekh? Sekarang juga? Ah, tidak, saya tidak menolak. Iya. Iya, baik,"
Changmin melirik inspektur Kim, memastikan pria itu tidak melirik ponselnya. Changmin kemudian membuka pesan masuk itu. Matanya menyipit berbahaya. Pegangannya pada ponselnya mengencang.
'GAME START!'
"Ah, Changmin-ssi. Aku harus pergi. Ada kasus yang harus kutanga-"
"Aku ikut, ya?" pinta Changmin.
"Eh? Tapi ini sudah malam. Apa tidak sebaiknya pulang?" tanya inspektur Kim khawatir.
Air wajah Changmin terlihat tidak baik. Ia tidak ingin pemuda itu sakit karena memaksakan diri. Terlebih pemuda itu memang baru dibebaskan. Penjara meski hanya untuk sementara bukan tempat yang baik.
"Tidak apa-apa. Selain itu, kasus itu memang untukku," ujar Changmin sambil tersenyum.
Inspektur Kim menatap Changmin tidak mengerti namun hanya mengangguk.
"Baiklah, ayo ke mobilku. Lokasinya cukup jauh," ujar inspektur Kim dan berjalan lebih dahulu.
Sesampainya di lokasi, Changmin segera turun dari mobil dan meregangkan tubuhnya. Duduk di dalam mobil selama lebih dari 2 jam itu memang melelahkan.
"Huahhh! Pegal," keluh Changmin sambil mulai mempraktikkan sedikit peregangan otot.
"Ahahaha, masa begitu saja mengeluh, Changmin-ssi? Padahal masih muda," sahut inspektur Kim.
"Yah, kalau dibandingkan dengan inspektur Kim yang masih juga melajang meski sudah 35 tahun sih... ya, aku masih muda," ujar Changmin meledek.
"Ya! Kau ini. Sama saja menyebalkannya dengan partner mu itu!" protes inspektur Kim kesal.
"Ahahaha, sudahlah Hwangsoon-ssi. Yang dikatakan anak muda ini kenyataan, 'kan?" ujar seseorang mengikuti pembicaraan mereka.
"Ah! Detektif Shin Jungmo! Terima kasih atas kerja kerasnya!" sahut inspektur Kim begitu mengetahui siapa yang berbicara.
"Ahahaha, kau ini... masih saja terlalu serius begitu," goda detektif tua itu.
"Maaf," inspektur Kim salah tingkah dan menggaruk kepalanya canggung.
"Oh? Dan anak ini, siapa?" tanya detektif Jungmo menatap Changmin.
"Ah, saya-"
"A-anak ini sepupuku. Ahahaha, iya. Dia dari kampung, sedang liburan ke sini. Karena dia maniak cerita detektif makanya kubawa saja ke sini. Ah, tidak apa-apa, 'kan?" potong inspektur Kim.
"Saya Changmin. Salam kenal, paman," ujar Changmin sopan dan membungkukkan tubuhnya.
"Hahahaha, tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Lagipula dia anak yang sopan," puji detektif Jungmo senang.
"Terima kasih," ujar Changmin tersenyum ramah.
"Jadi, kau maniak cerita detektif, huh?" tanya detektif Jungmo mengisyaratkan Changmin untuk mendekat padanya.
"Ah, iya. Begitulah," sahut Changmin.
"Kalau begitu, jangan kaget, ya. Di sini, bukan novel. Mayat di sini asli, bukan tokoh fiksi. Di sini, benar-benar terjadi pembunuhan. Tapi, tidak apa-apa. Kau bersama kami, tidak akan terjadi apa-apa padamu. Jangan takut," ujar detektif Jungmo menepuk punggung Changmin akrab.
"Aku mengerti," sahut Changmin berterima kasih.
"Kalau begitu ayo kita ke TKP sekarang. Kalau nanti ada yang terlintas di kepalamu, katakan saja padaku. Pandangan orang lain juga penting untuk pemecahan kasus, kau tahu?" ujar detektif dengan rambut yang sudah semuanya memutih itu tertawa kecil.
Changmin mengangguk dan tersenyum kecil. Pria itu seperti santa saja. Bertubuh bulat dan sikapnya hangat. Inspektur Kim membiarkan detektif itu berjalan lebih dahulu sebelum mengikutinya. Changmin pun segera mengikuti langkah inspektur Kim.
"Hmm, sepupu, ya?" bisik Changmin pada inspektur Kim.
"Mau bagaimana lagi? Aku tidak mungkin memperkenalkanmu sebagai detektif privat, 'kan? Bisa dianggap melecehkan detektif senior seperti beliau nanti!" balas inspektur Kim berbisik.
"Yah, tidak apa-apa, kok. Toh, aku ke sini bukan untuk uang," sahut Changmin memasukkan tangannya ke dalam mantelnya. Udara malam memang dingin belakangan ini.
Inspektur Kim hanya tertawa canggung mendengar ucapan Changmin. Meski tidak bermulut tajam seperti Kyuhyun. Ternyata, Changmin juga tipe yang asal bicara, ya. Mereka berjalan beriringan tanpa banyak bicara. Hanya sesekali detektif Jungmo bertanya tentang Changmin. Seperti berapa umurnya, apa hobinya dan semacamnya. Changmin sendiri menjawab dengan nada ceria seolah tengah bicara dengan kakeknya sendiri.
"Ah, di sini, di sini," ujar detektif Jungmo menghentikan langkahnya di depan kamar apartemen 305.
Detektif Jungmo menyodorkan sarung tangan lateks pada inspektur Kim dan Changmin. Keduanya segera memakainya dan memasuki ruangan apartemen itu. Apartemen itu rapi, tidak ada tanda-tanda perampokan sama sekali. Tubuh korban ditemukan di meja makan. Terduduk lemas dengan kepala yang jatuh begitu saja ke atas makan malamnya.
Changmin berjalan mendekati tubuh korban. Memandang langsung ke wajah korban. Terdapat lubang di kepala korban. Disekitar luka itu nampak kulit yang terbakar. Seperti luka tembakan dari jarak dekat. Tapi... justru itu yang aneh. Kenapa... bisa ada luka tembak? Di daerah yang nampak asri ini?
"Bagaimana? Melihat mayat dari dekat secara langsung?" tanya detektif Jungmo terenyum melihat keseriusan Changmin.
"Ah, iya. Ternyata lumayan seram juga," komentar Changmin pura-pura dan mejauhkan wajahnya dari wajah korban.
"Hahaha, seram, 'kan? Jadi, apa yang kau temukan?" tanya inspektur Jungmo sambil membaca berkas yang diserahkan tim forensik.
"Ah, ini luka tembakan. Kurasa jarak dekat karena ada luka bakar disekitar luka," ujar Changmin sambil berpikir.
"Oh? Kau boleh juga. Sama persis dengan laporan tim forensik," ujar detektif Jungmo.
"Eh? Anda tidak akan memeriksanya sendiri?" tanya Changmin.
"Ah, tidak. Tidak perlu. Itu tugas tim forensik, 'kan?" ujar pria tua itu.
Changmin memandang tidak setuju dan melancarkan protes lewan pandangannya pada inspektur Kim. Inspektur Kim hanya menghela napas dan mengangkat bahunya. Yah, biasa lah. Perilaku orang yang sudah di atas 'kan memang begitu.
"Tapi, ini aneh. Di Korea kepemilikan senjata api untuk warga sipil itu dilarang. Yang diperbolehkan pun hanya hunting rifle. Itu pun pasti sedang di simpan di kantor polisi mengingat ini masih off-season," ujar Changmin memandang ke luar jendela.
"Berarti, pakai senjata lain, 'kan?" sahut detektif Jungmo.
Changmin tidak menjawab. Mungkin akan lebih mudah jika berpikir seperti itu. Namun, entah kenapa Changmin tidak ingin melepaskan ide bahwa korban dibunuh menggunakan senjata api. Padahal, ia adalah pemuda yang berpikiran terbuka.
"Jangan dipikirkan terlalu sulit. Kalau tidak bisa menemukan jawabannya anggap saja ini tindakan bunuh diri," ujar detektif Jungmo santai.
"Tidak mungkin bunuh diri. Kalau pun ini adalah tindakan bunuh diri, luka itu harusnya di pelipis. Seseorang akan lebih mudah melakukan bunuh diri dengan melukai pelipisnya dibandingkan dahinya. Apalagi dahi tengahnya, tepat di antara alis. Seharusnya di pelipis kanan atau kiri mungkin. Jika korban adalah seorang kidal. Tapi kulihat korban kita bukan orang kidal. Jadi, kasus ini dapat kita simpulkan bunuh diri apabila lubang itu ada di pelipis kanan korban," bantah Changmin tanpa sadar.
"Ch-changmin-ssi..." bisik inspektur Kim mengingatkan perannya. Hanya sebagai maniak cerita detektif, bukan sebagai detektif profesional.
"Ah, maaf! Tanpa sadar, saya-"
"Sepertinya kau percaya diri," potong detektif Jungmo.
"Maafkan anak ini, detektif Jungmo! Anak ini memang tidak tahu sopan kalau sudah semangat begini. Hei, ayo minta maaf pada detektif Jungmo," ujar inspektur Kim dan berusaha membuat Changmin membungkuk minta maaf.
"Tidak, inspektur Kim. Biarkan anak itu. Kita lihat apa anak ini memang bisa memecahkan kasus ini," bantah detektif Jungmo tersenyum menantang pada Changmin.
Changmin yang tidak suka diremehkan langsung menegakkan badannya, "Akan kubuktikan kalau ini adalah pembunuhan,"
"Changmin-ssi...!" desis inspektur Kim serba salah.
Changmin tidak memperdulikannya dan menghampiri tim forensik, "Apakah ditemukan peluru dalam tubuh korban?"
"Kami tidak yakin. Tapi, kami mencurigai pecahan logam dalam tubuh korban dan sekitaran lokasi adalah peluru yang pecah," ujar tim forensik dan memperlihatkan pecahan logam itu pada Changmin.
Changmin memperhatikannya dan menyadari sesuatu, "Boleh kusimpan ini?"
Tim forensik itu terdiam sebentar sebelum mengangguk, "Silahkan. Detektif Jungmo tidak akan perduli dengan bukti yang menurutnya tidak penting itu,"
Changmin berterima kasih sebelum pergi keluar kamar apartemen itu. Begitu keluar, Changmin melihat banyak penghuni apartemen yang keluar dan berusaha mencuri lihat keadaan di balik garis polisi. Changmin yang melihat itu segera memanfaatkan kesempatan untuk menggali informasi.
"Ah, permisi, apakah Anda penghuni apartemen di sini?" tanya Changmin pada salah satu ibu-ibu di sana.
"Ah iya, aku penghuni kamar 407," sahut ibu itu.
"Saya Changmin, detektif yang sedang menangani kasus ini. Apakah Anda mengetahui atau mendengar sesuatu dari arah kamar ini?" tanya Changmin.
"Sesuatu? Ehh... apa ya? Oh! Tadi, saat sedang makan malam dengan anakku, aku mendengar sebuah suara yang keras. Keras sekali, 'kan?" ujar ibu itu meminta persetujuan dari ibu-ibu lain.
"Iya, benar itu tuan detektif! Suaranya besar sekali, aku sampai kaget," ujar ibu yang lain.
"Suara besar? Hmm, suara yang seperti apa, ya?" tanya Changmin, meminta kejelasan.
"Seperti... seperti..."
"Seperti ledakan!" potong ibu yang lain.
"Ah iya, seperti ledakan. Bam! Begitu," ujar ibu yang ditanyai oleh Changmin.
"Ledakan, ya?" gumam Changmin.
"Sebenarnya ada apa ini, tuan detektif? Apa ada kebocoran gas?" tanya ibu itu.
Changmin tersenyum berusaha menenangkan para ibu-ibu itu, "Kami sedang menyelidikinya. Tapi, tenang saja. Semua akan abik-baik saja,"
"Baiklah... kalau tuan detektif yang mengatakan itu," ujar ibu itu dan mengajak teman-temannya untuk pergi.
Kerumunan itu pun mulai berbalik pergi satu per satu setelah gerombolah ibu-ibu itu pergi. Changmin menghela napas lega. Kalau sampai mereka tahu ada pembunuhan di sini, pasti akan terjadi kepanikan. Tentunya kepolisian tidak menginginkan hal itu terjadi, 'kan?
"Younghee-ya, sudah ayo kita kembali," bujuk seseorang membuat pandangan Changmin beralih pada mereka.
"Sehong-oppa, tunggu dulu. Aku ingin tahu apa lagi yang dilakukan tukang cari ribut itu!" bantah seorang gadis tetap berdiri di tempatnya.
"Ah, selamat malam," sapa Changmin medekati mereka.
"Selamat malam," sahut keduanya bersamaan. Kaget tiba-tiba sudah berdiri seorang pemuda jangkung di dekat mereka.
"Ahh, sebenarnya ada apa di sini? Apa ada kebocoran gas? Apa Joonho-ya tidak apa-apa? Apa yang-"
"Kau pasti dari kepolisian, 'kan? Beritahu kami apa yang terjadi di sini!" perintah gadis itu pada Changmin dengan tidak sopan memotong ucapan pemuda di sampingnya.
"Younghee-ya!" ujar pria di sampingnya memperingatkan.
"Ah, maafkan adikku. Dia ini memang kurang diajari sopan santun," ujar pria itu membungkuk pada Changmin.
"Ah, tidak apa-apa," sahut Changmin tertawa kecil.
"Hei, jangkung! Beritahu aku!" tuntut gadis yang dipanggil Younghee itu.
"Younghee-ya..." mohon pemuda itu.
Changmin tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada gadis itu, "Kalau kubilang ada yang mati di sini, bagaimana?"
Wajah gadis itu menunjukkan keterkejutan sebelum terhias senyum lebar, "Oh, si tukang cari ribut itu mati? Bagus deh,"
Changmin terkejut dengan reaksi gadis itu. Ia pikir gadis itu akan memucat dan ketakutan. Mungkin juga menangis. Bukan tersenyum penuh kepuasan begini.
"Younghee-ya! Apa yang kau katakan!" tegur pemuda itu.
"Habis, aku benci dia, oppa! Selalu saja menyusahkan oppa!" protes Younghee.
"Eh?"
"A-ah... maafkan ucapan adikku. Dia tidak bermaksud apa-apa," ujar pemuda itu pada Changmin.
"Ah, iya. Tidak ada apa-apa," sahut Changmin.
"Tapi apa maksud ucapannya itu?" tanya Changmin.
"Uhm, itu... kami... maksudku aku dan Joonho memang satu kantor. Kami satu bagian dan yah.. hubungan kami... tidak begitu baik," ujar pemuda itu menjelaskan.
"Joonho menyebalkan itu, ya! Selalu saja mengejek Sehong-oppa! Huh, menyebalkan!" ucap Younghee melipat kedua tangannya kesal.
"Ahh... ya... Joonho memang punya mulut yang tajam. Juga tidak begitu disukai beberapa rekan kami yang lain," jelas Sehong.
Changmin nampak berpikir sebentar sebelum bertanya, "Sepertinya Anda tahu lumayan banyak hal tentang Lee Joonho. Bolehkah saya bicara dengan Anda?"
Pemuda itu nampak ragu-ragu sebelum menjawab, "Baiklah. Nah, Younghee-ya kembali duluan saja. Oppa harus bicara dengan tuan detektif,"
Younghee menggeleng keras dan menarik tangan kakaknya.
"Ouch!" pekik SeHong saat Younghee menggenggam telapak tangannya erat.
"Akh! Maaf, oppa! Aku lupa tangan oppa sedang terluka," ujar gadis itu buru-buru dengan wajah bersalah.
"Ahh, tidak apa-apa Younghee-ya," ucap Sehong mengusap puncak kepala Younghee sayang.
"Tangan Anda kenapa, Sehong-ssi?" tanya Changmin. Pandangannya tertuju pada tangan Sehong yang terluka. Matanya menatap penuh penilaian.
'Senjata yang digunakan untuk membunuh kemungkinan adalah senapan rangkaian sendiri. Kemungkinan meledak saat menarik pelatuk cukup besar. Bisa meninggalkan luka bakar di tangan yang memegangnya,' pikir Changmin sambil terus menatap tangan Sehong.
"Oh, ini... hanya luka bakar biasa kok. Tidak sengaja memegang wajah panas tadi," sahut Sehong tertawa canggung.
"Jangan meremehkan luka bakar! Tangan oppa harus segera ditangani. Ayo, kembali saja," bujuk Younghee.
"Ahh, tapi..." Sehong ragu, melirik Changmin.
Changmin terdiam sebentar matanya memandang menilai 'Sebaiknya aku cek lebih jauh,' sebelum kembali buka bicara.
"Bagaimana kalau kita bicara di apartemen Sehong-ssi saja? Sekalian mengobati luka itu?" tawar Changmin.
"Ah, iya! Begitu saja. Kalau begitu aku memperbolehkan. Ayo, oppa!" ujar Younghee.
"Ah, mari lewat sini, tuan detektif," ujar Sehong mempersilahkan Changmin untuk mengikuti mereka.
"Panggil Changmin saja, Sehong-ssi," sahut Changmin dan mengikuti dua bersaudara itu.
"Silahkan masuk. Maaf berantakan," ucap Sehong mempersilahkan Changmin masuk.
Changmin memasuki apartemen itu dan disambut oleh ruangan yang terasa hangat. Ruangan apartemen itu dicat berwarna hijau pucat dengan wallpaper setengah dinding bergambar bunga-bunga kecil yang manis. Di dinding, banyak terpajang foto-foto kedua bersaudara itu. Mulai dari foto upacara penerimaan murid baru sebuah sekolah dasar adiknya hingga foto kelulusan Sehong sendiri. Meski begitu, tidak ada foto kedua orang tua bersaudara itu.
"Silahkah duduk dulu, Changmin-ssi. Ah, Anda ingin minum apa?" ujar Sehong ramah.
"Terima kasih dan tidak usah repot-repot, Sehong-ssi," sahut Changmin mendudukan dirinya di sofa depan televisi.
"Tidak merepotkan, kok. Saya akan segera-"
"Oppa! Tangan oppa harus cepat ditangani dulu. Kalau soal minum nanti aku yang buatkan," potong Younghee menaruh kotak P3K di meja.
"Detektif Changmin, tolong obati oppa, ya! Aku siapkan minum dulu. Kau ingin minum apa?" ujar Younghee beranjak menuju dapur.
"Younghee-ya! Tidak sopan menyuruh tamu untuk-"
"Tidak apa-apa, Sehong-ssi. Saya cukup ahli dalam First Aid, kok," kali ini Changmin lah yang memotong ucapan Sehong.
"Ah, Younghee-ssi. Saya minta teh saja kalau boleh," ujar Changmin pada Younghee yang hanya mengangguk untuk jawabannya.
Changmin kemudian meraih telapak tangan Sehong perlahan agar tidak menyakiti pria itu.
"Maaf, ya. Sampai repot begini jadinya," ujar Sehong meminta maaf pada Changmin.
"Ah, tidak apa-apa, kok. Saya tidak merasa direpotkan," sahut Changmin ramah.
"Younghee... dia memang mudah khawatir kalau tentangku. Saking cepat khawatirnya sampai cerewet begitu, deh," ujar Sehong tertawa kecil.
"Saya bisa memakluminya. Yang Younghee-ssi miliki saat ini cuma Anda. Tentunya ia tidak ingin terjadi apa-apa pada Anda," ujar Changmin sambil membuka kotak P3K.
"Eh? Kenapa Anda bisa tahu?" tanya Sehong heran.
Changmin bangkit berdiri dan menunjuk foto-foto di dinding, "Tidak ada foto orang tua kalian di sana," ujarnya dengan senyuman kecil.
Changmin kemudian berlalu menuju dapur untuk mengambil air. Ia kembali dengan sebaskom air dan sebuah handuk kecil. Changmin kembali meraih tangan Sehong dan mengompres luka bakar Sehong dengan handuk yang disah dibasahi air itu. Tak lama, Younghee kembali dengan minuman mereka. Ia meletakkan teh untuk Sehong dan Changmin serta sebuah susu hangat untuknya sendiri.
"Tuan detektif, kok tidak pakai air dingin saja? Kalau pakai air dingin kan jadi lebih cepat," ujar Younghee memotong kegiatan Changmin.
"Air dingin justru memperparah luka bakar, Younghee-ssi. Luka bakar yang dialami Sehong-ssi hanya luka bakar tingkat satu. Hanya perlu di kompres dengan air biasa selama 30 menit lalu dibalut jika perlu. Kalau terlalu sakit, kau juga bisa meminum obat yang mengandung analgesik sederhana seperti ibuprofen," ujar Changmin menjelaskan.
Younghee terdiam, nampak berpikir sebelum berucap tiba-tiba, "Mau jadi suami Sehong-oppa tidak?"
Uhuk!
Changmin maupun Sehong yang sedang meminum tehnya langsung tersedak. Kaget mendengar ucapan tidak terduga Younghee. Siapa juga yang tiba-tiba membicarakan pernikahan setelah membicarakan penanganan pertama luka bakar?
"Younghee-ya!" pekik Sehong malu, sedangkan Changmin masih terbatuk-batuk.
"Apa? Aku lebih suka tuan detektif ini dibandingkan pacar oppa si nenek sihir Oksun itu. Oh, atau si genit Hang Yongjo itu," ujar Younghee mengangkat bahu cuek dan meminum susunya.
Wajah Sehong memerah dan segera membungkuk pada Changmin, "Ma-maafkan kelakuan adikku, Changmin-ssi!"
"Ti-tidak apa-apa," sahut Changmin jadi canggung juga.
Changmin kemudian memandang Younghee yang membalas tatapannya, "Maaf ya, Younghee-ssi. Tapi aku... sudah punya pacar. Hehehe,"
Younghee tersenyum kecil sebelum menghela napas keras, "Hahh... tuh 'kan! Barang bagus pasti sudah ada yang punya. Selalu,"
Changmin tertawa sementara Sehong mengingatkan adiknya untuk tidak sembarangan bicara. Changmin membiarkan Sehong selesai dengan Younghee sebelum ia akan mulai bertanya mengenai korban kali ini, Joonho.
"Uh, Jadi tentang Joonho-ssi..."
"Oh! Ya, maafkan aku. uhm, soal Joonho-ya... dia baru masuk perusahaan kami sekitar setahun lalu. Tetapi karena ia orang yang cukup terampil, ia dengan mudah mendapatkan promosi. Ia akan diangkat menjadi menejer bagian minggu depan," ujar Sehong menjelaskan.
"Terampil apanya, dia suka melimpahan pekerjaannya pada oppa, 'kan!" sahut Younghee sinis.
"Younghee-ya, itu tidak benar. Lagipula kau tahu gosip itu dari mana?" tanya Sehong.
"Dari si genit Han Yongjo itu," sahut Younghee cuek.
"Melimpahkan pekerjaan pada Anda, ya? Anda... tidak kesal?" tanya Changmin dengan nada penuh pertimbangan.
Sehong menunduk, wajahnya memerah.
"Aku... tidak punya pilihan," sahut pria itu menyesap tehnya perlahan untuk menenangkan dirinya.
Merasakan kalau Sehong tidak bisa bicara jika ada Younghee di sana, Changmin segera beralih pada Younghee yang menonton televisi dengan santai.
"Younghee-ssi, bisa tinggalkan kami berdua dulu?" tanya Changmin lembut.
"Ehh? Kenapa?" tuntut Younghee.
"Ada hal yang harus kami bicarakan berdua. Nanti kukenalkan oppa mu pada temanku yang sesuai dengan kriteria darimu, deh!" bujuk Changmin tersenyum jahil.
Younghee nampak berpikir sebelum akhirnya menyerah, "Baiklah,"
Younghee kemudian memasuki kamarnya dan menutup pintunya. Tidak lama, terdengar musik dari kamar anak itu. Sepertinya anak itu mengerti untuk tidak menguping pembicaraan dua laki-laki di luar. Changmin tersenyum, Younghee sebenarnya anak yang baik dan manis. Hanya mulutnya saja yang sulit dijaga.
'Seperti Kyuhyun,' batin Changmin tersenyum sedih.
Changmin menggelengkan kepalanya. Berusaha memfokuskan kembali pikirannya pada kasus di hadapannya. Changmin kembali menyusun informasi di kepalanya dan mulai bertanya kembali pada Sehong.
"Bisa Anda jelaskan kenapa dia melakukan penindasan macam itu pada Anda?" tanya Changmin dengan suara pelan.
Sehong membuka mulutnya ragu kemudian menutupnya kembali. Pria itu tampak ragu menceritakan apa yang ia alami selama ini. Tentu saja, siapa pria yang tidak malu mengakui dirinya mendapatkan penindasan dari orang lain. Mau ditaruh mana harga dirinya.
"Tidak apa-apa, saya bisa merahasiakannya. Terlebih, tidak ada hal yang memalukan untuk diceritakan," ujar Changmin meyakinkan Sehong.
Sehong mengangkat wajahnya menatap Changmin sebelum kembali membuka mulutnya, "Aku... pernah mencurangi alat presensi di kantor,"
Changmin hanya diam, mengisyaratkan Sehong untuk melanjutkan ceritanya.
"Di kantorku... ada kebijakan jika karyawan tidak pernah absen atau terlambat selama tiga bulan berturut-turut akan mendapatkan bonus. Aku menginginkan bonus itu. Berhubung ulang tahun Younghee saat itu sudah dekat, aku ingin memberikan pesta dan banyak hadian untuk anak itu," ujar Sehong mulai bercerita.
"Younghee... dia pasti sering diledek teman-temannya karena memakai barang-barang lama. Aku ingin memberikannya barang-barang baru yang bagus. Aku ingin Younghee bahagia. Namun, hari itu... aku terlambat datang ke kantor. Hari itu aku sedikit demam dan terlambat bangun. Tahu hal itu akan membatalkan bonusku... aku... mencurangi alat presensi," lanjut Sehong malu.
"Saat aku mencurangi alat itu... Joonho melihatku. Aku memintanya untuk tidak melaporkanku. Ia hanya mengangguk dan memberikanku syarat... membantunya agar dapat promosi dengan cepat," ujar Sehong meremas cangkirnya.
"Hmm... dengan mengerjakan lebih banyak pekerjaan dalam waktu singkat, tentunya dia dianggap sebagai karyawan yang kompeten. Berbanding terbalik dengan hal itu, pamor mu di depan atasanmu akan semakin jatuh. Karena, kau menghabiskan banyak waktumu bekerja untuk mengerjakan pekerjaan milik Joonho-ssi," ujar Changmin menarik kesimpulan.
"Be-begitulah..." ujar Sehong.
"Lalu, kenapa uhm... si ukh..." ujar Changmin berusaha mengigat nama yang disebutkan Younghee sebelumnya sebagai si genit.
"Si genit Han Yongjo?" tebak Sehong tertawa kecil.
"Ah, iya, Yongjo-ssi!" sahut Changmin.
"Iya, kenapa Yongjo-ssi mengetahui kalau Anda mengalami penindasan?" tanya Changmin kini lebih ringan.
"Ah... Yongjo ya?" gumam Sehong dengan wajah sedikit memerah.
"Menurut kabar... dia menaruh perasaan padaku. Itulah alasan mengapa ia sering datang kebagian pemasaran," jelas Sehong dengan salah tingkah.
"Humm..."
"Dia melihat saat Joonho-ya mengancamku akan melaporkan tindakanku. Hampir terjadi pertengkaran karena Yongjo mengamuk," ujar Sehong tertawa kecil.
"Aku menghargai perasaannya yang ingin membantuku. Tapi, aku katakan padanya kalau aku bisa mengatasinya sendiri. Kalau hal seperti ini saja sampai butuh bantuan dari laki-laki lain... aku bisa kehilangan muka di depan pacarku Oksun-ah nanti," ujar Sehong terkekeh kecil.
Changmin terdiam dan berpikir. Bisa dikatakan yang memiliki motif dalam pembunuhan kali ini adalah...
Pertama, Sehong sebagai orang yang mengalami penindasan dari Joonho.
Kedua, Yongjo yang menaruh perasaan pada Sehong yang ditindas oleh Joonho dan ingin melakukan pembalasan.
Dan mungkin...
"Kalau hubungan pacar Anda dengan Joonho-ssi sendiri bagaimana?" tanya Changmin.
"Ah, mereka tidak saling kenal. Pacarku ada di luar kota selama ini. Kami menjalani hubungan jarak jauh," jelas Sehong seraya berjalan ke dapur untuk menuang cangkir kedua tehnya.
'Jadi hanya dua orang ini saja, ya?' pikir Changmin.
'Sehong bisa saja menjadi pembunuh Joonho. Apartemen mereka hanya berjarak lima pintu. Ah, tapi... luka bakar tingkat satunya itu... Ledakan senjata api paling tidak menimbulkan luka bakar tingkat dua. Hahh... ini mulai terasa melelahkan,' batin Changmin mengusap wajahnya lelah.
"Silahkan tehnya lagi," ujar Sehong menuangkan teh ke cangkir Changmin.
"Ah, terima kasih," sahut Changmin menerimanya dengan senang hati.
"Melelahkan, ya?" tanya Sehong tersenyum maklum.
"Ahh... ya..." sahut Changmin ragu.
"Jadi, apa ceritaku membantu?" tanya Sehong bertanya.
Changmin menatap Sehong penuh perhitungan sebelum membuka mulutnya, "Dari ceritamu... aku mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang mungkin membunuh Jonnho-ssi adalah Yongjo-ssi dan... Anda sendiri, Sehong-ssi,"
Sehong terdiam, tidak menunjukkan banyak reaksi sebelum menjawab, "Begitu, ya?"
"Anda sepertinya menerima hal ini dengan cukup baik," komentar Changmin.
"Aku sudah menduganya,kok. Aku yang selalu jadi korban... pasti memiliki banyak dendam dan akhirnya memutuskan untuk melampiaskannya, 'kan?" jawab Sehong tersenyum lemah.
"Tapi, detektif Changmin. Tolong percayalah. Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Aku... aku punya Younghee yang harus kujaga. Aku tidak mungkin melakukan hal tidak bertanggung jawab seperti membunuh," ujar Sehong menatap Changmin dengan memohon.
Changmin terdiam, menghela napas.
"Changmin-ssi!" mohon Sehong.
Changmin tiba-tiba menyodorkan sebuah kantung barang bukti pada Sehong. Saat menunjukkan benda itu pada Sehong, mata Changmin tidak melepaskan pandangannya dari wajah Sehong sama sekali.
"Sehong-ssi... tahu ini apa?" tanya Changmin.
"Barang bukti? Sepertinya dari besi," jawab Sehong setelah memperhatikan dengan lebih baik apa yang ditunjukkan Changmin.
Changmin tersenyum dan kembali memasukkan barang bukti itu ke sakunya, "Sehong-ssi, bisa kau panggil Yongjo-ssi ke sini?"
Tok! Tok! Tok!
"Sehong-ah! Sehong-ah!" seru seseorang di luar dengan panik.
Changmin memandang Sehong dengan wajah heran, sedangkan Sehong sendiri hanya memasang wajah tidak enak.
"Maaf, dia memang suka berlebihan," ujar Sehong tersenyum canggung.
"Tidak apa-apa. Ah, sebaiknya cepat bukakan pintu untuknya," sahut Changmin tertawa kecil.
Sehong pun bangkit dan membukakan pintu untuk orang tersebut. Begitu membuka pintu, Sehong langsung disambut oleh pelukan.
"Sehong-ah! Aku panik sekali saat kau menelepon memintaku datang sambil meringis sakit begitu. Kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit? Kau terluka di bagian mana?" tanya Yongjo berturut-turut.
"Yo-yongjo-ya! Lepaskan..!" ujar Sehong berusaha melepaskan tangan Yongjo di tubuhnya. Memang saat ia menelepon Yongjo tadi, tangannya sedang dibalut oleh Changmin. Changmin dengan sengaja mengeratkan balutannya hingga Sehong meringis sakit dan membuat panik Yongjo. Strategi yang tepat agar Yongjo segera datang, 'kan?
"Tapi! Tapi...!" bantah Yongjo tidak ingin mepelaskan pelukannya.
"Selamat malam," ujar Changmin memotong pembicaraan mereka.
Yongjo yang mendengar suara laki-laki lain dari dalam apartemen Sehong segera melepaskan pelukannya dan mendongak. Matanya melebar melihat seorang pemuda yang –sepertinya lebih muda darinya, dengan tubuh jangkung dan tampan berdiri di dekat mereka. Yang lebih penting dari itu, berjalan dari arah dalam apartemen menuju mereka berdua. Tunggu! Apa maksudnya ini?! Apa akhirnya Sehong akhirnya memutuskan hubungan dengan Oksun dan berpaling pada laki-laki yang...
"Kenapa bukan aku?!" pekiknya berlebihan dan menangis tersedu.
Changmin dan Sehong hanya bisa bengong melihat reaksi tiba-tiba dari Yongjo.
'Uwaahhh, orang yang merepotkan,' batin Changmin.
"Yongjo-ya, sebaiknya masuk dulu. Ada yang perlu dibicarakan Changmin-ssi denganmu," ujar Sehong mengabaikan tangisan Yoongjo dan menarik bahu laki-laki itu agar masuk ke dalam apartemennya.
"Sehong-ah..." rengek Yongjo.
"Kenapa?" tanya Sehong sambil menutup pintu apartemennya.
"Kenapa harus dengan yang lebih muda? Kenapa bukan denganku saja?" rengek Yongjo menunjuk-nunjuk Changmin tidak sopan.
"Maaf, saya memotong tapi, saya tidak punya hubungan apa-apa dengan Sehong-ssi. Saya di sini hanya untuk kepentingan pekerjaan," potong Changmin mulai lelah dengan sikap Yongjo yang berlebihan.
"Pekerjaan?" tanya Yongjo.
"Ya, Changmin-ssi ini detektif yang sedang menangani- oh! Tanganmu kenapa dibalut begitu, Yongjo-ya?" tanya Sehong tiba-tiba teralih perhatiannya pada telapak tangan kiri Yongjo yang terbalut.
"Oh, ini? Ahahaha... itu, uh –aku tersiram air panas," ujar Yongjo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya ampun! Harusnya kau berhati-hati. Kau ini 'kan kidal, kalau tangan kirimu terluka begitu bagaimana kau bekerja besok?" tanya Sehong sambil menuntun Yongjo menuju sofa.
"Ahh, senangnya diperhatikan Sehong-ah," ujarnya mengalun.
Changmin sendiri hanya berdiri ditempatnya dengan canggung. Kenapa rasanya ia seperti sedang berada di rumah pengantin baru, ya? Kalau sikap Sehong yang begitu perhatian... tidak heran Yongjo jadi menyukai pria itu.
"Kau ini ternyata ceroboh juga. Tidak mengerti kenapa kau bisa menjadi pemimpin lab 1 RnD (Research and Development)," komentar Sehong mengambil baskom yang diisi air, handuk dan kotak P3K.
"Yahh, kalau di lab aku tidak ceroboh, kok," sahut Yongjo tertawa.
Sehong hanya menggelengkan kepalanya dan menghadap Changmin, "Maaf Changmin-ssi, bisa tolong tangani luka Yongjo? Aku rasa Changmin-ssi bisa menanganinya lebih baik dibandingkan aku," pinta Sehong.
Changmin tersenyum dan mengangguk, "Baiklah. Ini juga kesempatan untuk mendekatkan diri agar bertanya-tanya jadi lebih enak, 'kan?"
"Terima kasih. Ah, aku akan buat minuman untuk Yongjo dulu," sahut Sehong dan berlari kecil menuju dapur.
Changmin kemudian mendudukkan dirinya di sofa. Changmin tersenyum ramah pada Yongjo dan menunjuk telapak tangan pria itu yang terluka.
"Biar kuobati," ujar Changmin dengan cara bicara yang santai.
"Ekh? Aku ingin dengan Sehong-ah saja," bantah Yongjo kekanakan.
"Sehong-ssi memintaku untuk menangani lukamu. Tidak apa-apa, tidak akan sakit, kok," bujuk Changmin tersenyum terpaksa. Sebenarnya sudah sejak tadi ia ingin memukul kepala pria berlebihan ini.
"Tidak mau. Lebih baik dengan-"
"Yongjo-ya... biarkan dia merawat lukamu. Luka bakarku juga ditangani Changmin-ssi tadi dan rasanya sudah lebih baik sekarang," potong Sehong.
Yongjo memajukan bibirnya protes, namun menjawab, "Mohon bantuannya, Changmin-ssi,"
Changmin menghela napas lelah dan mengambil gunting untuk membuka perban di tangan Yongjo. Perban itu dibalutkan dan diikat dengan sembarangan. Sepertinya karena terburu-buru. Mudah-mudahan tidak kotor. Luka bakar itu luka steril, sih.
Changmin membuka perban dengan perlahan. Setelah terbuka semuanya, Changmin membuang perban kotor itu. Diperhatikannya luka bakar di tangan Yongho. Luka bakar terjadi di telapak tangan. Sekitar ibu jari dan telunjuk terlihat lebih parah. Selain itu... jika diperhatikan...
"Ini... luka bakar tingkat tiga," ujar Changmin pelan.
"Eh?"
"Luka bakar tingkat tiga? Apa maksudnya, Changmin-ssi?" tanya Sehong.
"Ah... Sehong-ah, Changminssi, ini –sebenarnya aku mendapatkan luka ini dari-"
"Kau berbohong. Luka bakar tingkat tiga tidak mungkin di dapatkan hanya karena tersiram air panas. Umumnya... luka bakar tingkat tiga disebabkan oleh ledakan," potong Changmin berdiri.
Diraihnya sakunya dan mengeluarkan barang bukti yang ia pinjam dari tim forensik, "Ini –kau pasti tahu apa ini,"
"A-apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti," sahut Yongjo.
"Semalaman ini, dimana saja kau?" tuntut Changmin.
"Dimana saja? Aku... di rumah. Menonton sambil makan malam," sahut Yongjo lagi.
Changmin menghela napas, "Napasmu tidak teratur, kau berkeringat, tempo bicaramu melambat, matamu terus melirik ke arah kanan. Kau berbohong. Pembohong yang buruk,"
"Berbohong?" lirih Sehong.
"Apa-apaan ini? Kau sendiri tiba-tiba bertanya-tanya aneh padaku!" balas Yongjo berteriak.
Changmin tidak menyahut dan hanya melangkah mendekati Yongjo, "Luka bakar itu... biar kutebak, kau mendapatkannya dari ledakan gun yang kau rangkai sendiri,"
"A-apa... maksudmu? Sebenarnya kau ingin bicara apa, huh?!" pekik Yongjo.
Sehong yang tidak mengerti arah pembicaraan mereka hanya terdiam dengan wajah bingung bercampur panik. Tidak pernah dilihatnya Yongjo sepanik itu dan... tidak pernah ia merasakan aura seberbahaya yang dipancarkan oleh Changmin.
"Kudengar kau kepala lab RnD? Tentunya, merakit hal-hal seperti ini bukan hal sulit untuk, 'kan? Sayangnya... kau tidak memiliki banyak uang dan terpaksa menggunakan bahan yang murah. Senjata itu meledak di tanganmu, bersamaan dengan meluncurnya peluru... ke kepala Joonho-ssi," ujar Changmin menatap tajam Yongjo.
"Apa... yang kau bicarakan? Jonnho tidak mungkin-"
"Ahh, berhenti berbohong saja Yongjo-ssi. Kau tahu Joonho-ssi mati. Ah, bukan. Kau tahu Joonho-ssi dibunuh... oleh kau sendiri," ujar Changmin memotong Yongjo.
Yongjo tidak membalas kali ini, dia hanya terdiam.
Changmin yang semakin gusar karena tidak ada jawaban semakin memojokkan Yongjo, "Yongjo-ssi... kau membunuh Joonho-ssi, 'kan?"
Tubuh Yongjo menegang sebelum bergetar hebat dan tertawa keras, "Benar. Benar aku membunuhnya. Tapi... tapi ini bukan salahku! Pria busuk itu memang PANTAS MATI!"
"Yo-yongjo-ya..."lirih Sehong terkejut mendengar pernyataan Yongjo.
"Awalnya aku hanya ingin mengancamnya untuk tidak menindas Sehong lagi. Tapi... tapi pria itu...!"
.
"Berhenti memperlakukan Sehong-ah seperti itu. Sudah cukup, 'kan? Kau sudah mendapatkan promosi yang kau inginkan," ujar Yongjo berdiri di hadapan Joonho yang hanya tersenyum. Tangannya terlipat dan menyangga dagunya. Alisnya terangkan dan senyum mengejek terbentuk di bibirnya.
"Hahh... kau ini tidak mengerti, ya? Aku ini masih membutuhkannya. Kerjaannya rapi dan ia sangat berguna," bantah Joonho tertawa licik.
"Berhenti atau aku akan..!"
Yongjo menarik senapa rakitannya dari balik mantelnya dan menekan moncongnya ke dahi Joonho.
"Atau apa? Kau pikir aku bodoh? Itu senapan palsu, 'kan? Di Korea penduduk sipil biasa sepertimu mana bisa mendapatkan benda seperti itu," ujar Joonho namun Yongjo justru lebih menekankan moncong senapan itu pada dahi Joonho.
"Hahh... harus kucapkan berapa kali. Barang bagus seperti Sehong mana mungkin aku lepaskan. Ahaha... untuk selanjutnya akan kusuruh ia melakukan apa, ya?" ujar Joonho santai.
"Diam,"
"Ahh, kusuruh dia membelikanku jam limited edition itu dengan uang gajinya saja,"
"Diam."
"Oh! Atau kusuruh dia pinjamkan pacarnya padaku? Kudengar pacarnya cantik,"
"Diam!"
"Apa? Kau tidak suka aku membicarakan pacar Sehong? Oh ya, aku ingat sekarang. Kau suka Sehong, 'kan? Ahahaha, bagaimana? Kau sudah tidur dengannya?"
"..."
"Kalau begitu... untuk selanjutnya, kusuruh dia bercinta denganku sa-"
"Diaaaaammm!"
Bam!
.
Semua orang dalam ruangan itu terdiam. Yongjo sejak tadi sudah merosot ke lantai dan menangis dalam diam. Sehong sendiri terlalu terkejut untuk bereaksi apapun. Entah dia terkejut mendengar apa yang Joonho rencanakan untuknya atau kenyataan bahwa Yongjo baru saja membunuh Joonho demi dirinya.
Changmin sendiri terdiam, melihat sosok Yongjo yang menangis hingga bahunya bergetar. Bila ia dalam posisi Yongjo pun... ia yakin akan membunuh Joonho. Meski begitu... membunuh itu tidak diperbolehkan. Meski begitu... meski begitu...
"Joonho sendiri... tidak sepenuhnya putih," gumam Changmin lirih.
Changmin menghela napas lalu berbalik, "Aku akan minta paramedik menangani tanganmu sebelum membawamu ke meja pengadilan,"
Changmin kemudian menghampiri inspektur Kim yang tengah bicara dengan detektif Jungmo. Detektif Jungmo tersenyum melihat Changmin yang kembali dengan wajah yang kusut. Sepertinya bocah itu sudah menyerah.
"Bagaimana? Jadi kau sudah menyerah, 'kan?" tantang detektif Jungmo.
Changmin mendongak dan menatap detektif Jungmo sebentar sebelum berbalik menatap inspektur Kim, "Pelakunya ada di apartemen 310. Pria dengan kacamata dan rambut hitam, tingginya 177cm dan... luka bakar tingkat tiga di telapak tangan kiri yang butuh penanganan segera,"
Inspektur Kim terbengong sebelum buru-buru menjawab, "A-ah... baik! Akan segeraku-"
"Tunggu, biar yang lain saja. Antar aku pulang, aku lelah," ujar Changmin menahan lengan inspektur Kim.
Inspektur Kim memandang Changmin bingung dan ingin membantah, "Tapi, Changmin-"
"Inspektur Kim!" potong detektif Jungmo.
"Selebihnya... biar aku yang tangani. Antarkan saja anak ini pulang. Soal pembunuhan ini... dia akan bicara, 'kan?" ujar detektif Jungmo pada Inspektur Kim dan bertanya pada Changmin.
Changmin hanya mengangguk.
"Baiklah... kalau begitu, kami duluan. Terima kasih atas kerja keras Anda, detektif Jungmo," ujar inspektur Kim kemudian menuntun Changmin menuju mobilnya.
Selama perjalanan kembali, Changmin hanya terdiam sambil memandang ke luar jendela. Inspektur Kim berkali-kali melirik ke arah Changmin namun tidak berani bicara. Sepertinya pemuda itu sedang dilanda masalah besar atau mungkin...
"Kasus tadi... apa ada masalah?" tanya inspektur Kim namun hanya diabaikan oleh Changmin.
Inspektu Kim yang diabaikan akhirnya memutuskan untuk menutup mulutnya saja. Sepertinya Changmin sedang tidak ingin diajak bicara. Biarlah Changmin menyusun pikirannya sendiri sebelum kembali diajak bicara.
Ponsel di sakunya bergetar, membuat Changmin mengalihkan fokusnya dari jalanan. Diraihnya ponselnya dan terdapat pesan dari nomor tidak dikenal yang berbeda. Namun, ia tahu. Itu pasti Minho.
'Kau suka rangkaian senapanku? Aku mempelajarinya darimu.'
Setelah membaca pesan itu, secara instan Changmin segera menghapus pesan itu.
'Kau harus memperhatikannya dengan baik. Aku mengubah sedikti modelnya.'
Changmin baru akan menghapus pesan itu lagi sebelum ia teringat sesuatu. Benar, barang bukti yang ada di sakunya. Masih di sakunya. Dengan tergesa ia mengambilnya dan menuangkan potongan logam itu ke tangannya.
"Uhh, Changmin-ssi? Apa itu? Jangan bilang itu barang bukti. Kau harus-"
"Inspektur Kim," potong Changmin.
"A-ah, iya?" sahut inspektu Kim takut-takut diomeli Changmin.
"18151513 Square Circle Square. Apa kau tahu artinya?" tanya Changmin.
"Eh? Eh? Square Circle –eh? Itu nama departement store baru?" tanya balik Inspektur Kim.
Changmin tidak menjawab dan mulai memutar otaknya.
'18151513 Square Circle Square. 18/15/15/13 Square/Circle/Square. Square... kotak... apa maksudnya? Tempat? Lokasi? Arah? Ck! Minho brengsek!' batinnya sibuk berpikir, diabaikannya gerakan tiba-tiba mobil inspektur Kim yang terbanting ke kanan. Membiarkan sebuah mobil pemadam kebakaran lewat terlebih dahulu.
Ponsel Changmin kembali bergetar dan menampilkan pesan ke tiga dari Minho malam itu,
'Aku tahu kau sedang sibuk memecahkan kode sederhana itu sambil memaki-makiku. But, yeah...
YOU SHOULD CHASE IT."
Changmin yang membaca pesan itu langsung mendongak, melihat mobil pemadam yang semakin jauh dari pandangan.
"INSPEKTUR KIM, KEJAR MOBIL PEMADAM ITU!" serunya.
"Huh?! Kejar? Kenapa kita-"
"Kejar saja!" potong Changmin tidak sabar.
"Iya! Aku kejar! Tapi kenapa?" sahut inspektur Kim seraya meningkatkan laju mobilnya.
"Itu... kasus itu... akan menjadi petunjuk keduaku,"
.
04.35.45
.
04.35.44
.
04.35.43
.
TBC
.
REVIEW PLEASE
QUIZ TIME!
18/15/15/13 Square/Circle/Square
Ayo... siapa yang bisa tebak arti kode ini? ^^
Silahkan jawab lewat REVIEW atau PM
