The Last Nine Stars
-A Touken Ranbu Fanfiction by Kanikan18-
Touken Ranbu milik DMM dan Nitroplus
Asami punya saya
Enjoyy!
.
.
.
CHAPTER 5-Unnamed Saniwa
Asami mematut diri di depan cermin setinggi tubuh sebelum berputar beberapa kali untuk memastikan kimono dan hakama terpasang rapi. Setelah memastikan tidak ada kerutan di sana, gadis itu menyisir rambut pendeknya. Kata Kasen, ia harus tampil serapi mungkin karena ini adalah pertemuan resmi.
"Bagus," gumam gadis itu.
Cermin pribadi merupakan suatu kemewahan. Dulu, ketika ia masih bekerja di penginapan, hanya ada satu cermin di kamar pelayan yang selalu digunakan beramai-ramai tanpa ada kesempatan untuk mematut diri. Tidak jarang ada kimono yang tidak terpasang rapi atau rambut yang masih berantakan. Oleh karena itu, seringkali Asami harus menggunakan pantulan air kolam untuk bercermin.
Gadis itu membuka pintu kamar, membiarkan hawa musim panas masuk. Angin bertiup, membuat furin—lonceng kaca—yang digantung berdentingdengan irama yang tidak tetap. Suara tonggeret saling bersahutan dengan nada tinggi. Gemericik air kolam terdengar merdu.
Benar-benar damai.
"Anda sudah siap?" kata Kasen begitu Asami sampai di ruang saniwa. Pria itu berdiri menyambut. Konnosuke mengutak-atik sesuatu dari balik meja.
"Maaf, aku terlambat," kata Asami merasa tidak enak karena membuat Kasen harus menunggunya.
"Tidak apa-apa. Kita tidak akan terlambat."
Mereka terdiam dalam perasaan canggung selama beberapa saat.
"Maaf. Ada sesuatu di rambut Anda," Kasen menghampirinya. Asami terhenyak ketika tangan itu terulur, mengambil sesuatu di atas kepalanya. "Ada benang di sini," kata pria itu sembari menunjukkan seutas benang merah kecil.
"Oh," Hanya itu yang bisa Asami katakan.
"Ini adalah pertemuan pertama Anda, bukan? Ingat, Aruji. Kesan pertama adalah hal penting dan kesan pertama yang baik dimulai dari penampilan," ujar Kasen. Ia terlihat merapikan dirinya sendiri. "Lagipula seorang wanita seperti Anda harus selalu tampil elegan."
Penampilan. Asami tidak pernah memperhatikan hal itu. Asal kimono sudah terikat baik dan tidak mengganggu geraknya, tidak akan masalah. Ia akan keluar begitu saja dengan kerutan di semua bagian pakaiannya karena toh dirinya tidak pernah bekerja di depan tamu. Tampil elegan merupakan istilah yang asing baginya. Dirinya sering melihat para tamu wanita yang berpakaian indah dengan riasan di wajah. Mereka saling bercanda dengan menutup wajah dengan kipas ketika tertawa. Begitu cantik dan memesona di matanya. Mungkin itu yang dimaksud elegan? Apakah Asami bisa seperti mereka? Tidak mungkin. Ia tidak pernah merasa cantik. Tidak ada gunanya tampil seelegan apapun.
"Kalian siap berangkat," Konnosuke membuuat lamunan Asami buyar seketika. "Silakan menuju pelataran."
"Kita berangkat?" kata Kasen.
"Ba-baik!"
Mereka berangkat melalui pelataran dengan batu keramat itu. Konnosuke mengatur perjalanan mereka. Asami menyimpulkan, kekuasaan mutlaknya pada meja itu hanya sebatas pada pengiriman pedang ke medan perang dan ekspedisi.
Sinar keemasan menyelimuti keduanya. Asami terperanjat ketika angin yang hangat membuat pakaiannya berkibar. Mendadak ia menjadi seringan kapas. Seluruh pemandangan honmaru menghilang dalam lautan warna putih. Sekejap mata, sebuah gerbang yang terbuka ada di depan mata. Asami mengedipkan mata berkali-kali.
"Baiklah. Kalian sudah sampai," Suara Konnosuke muncul dari dalam kepalanya. Asami terlonjak kaget. Ia memegangi kepalanya.
"Konnosuke-san?!" seru Asami. Dari seberang sana, Konnosuke tertawa geli.
"Maaf," kata rubah itu di sela tawa. "Ini pertama kalinya untukmu ya? Beginilah cara kita berkomunikasi antar waktu dan dimensi."
"Oh, begitu ya," Saniwa itu menggaruk tengkuk. Suara Konnosuke terdengar begitu jernih seolah-olah mereka berbicara langsung. Tapi, ada rasa geli yang merayap. Di sampingnya, Kasen ikut tertawa dan itu membuat Asami malu luar biasa.
"Asami-sama, silakan berjalan ke gerbang itu. Penjaga gerbang akan memeriksa identitasmu," kata Konnosuke. "Lakukan saja apa yang mereka minta. Itu sudah prosedurnya. Kau tidak akan apa-apa."
Asami mengangguk kemudian mengajak Kasen untuk segera berjalan. Ada beberapa kali desingan cahaya dari balik punggungnya diikuti suara derap langkah. Gadis itu sedikit menoleh. Ia menemukan beberapa orang yang berpakaian sama sepertinya, masing-masing diikuti oleh seseorang yang berpakaian aneh sebagai pengawal, berjalan menuju arah yang sama. Beberapa mengobrol satu sama lain sedangkan sisanya memilih diam.
"Para saniwa dan pedangnya," gumam Kasen mengikuti kemana mata tuannya tertuju.
"B-banyak juga, ya," Asami kembali berpaling ke depan. Ia menelan ludah karena merasa gugup.
Mereka berdua disambut oleh 2 orang pria dengan hakama yang berjaga di sisi kanan gerbang. Hal yang sama juga ada di sisi kiri gerbang.
"Silakan berdiri di belakang garis ini," kata pria yang satu. Satunya lagi duduk di belakang meja. "Kami akan memeriksa Anda."
Asami menurut sesuai kata Konnosuke. Pria itu mengeluarkan sebuah alat berbentuk persegi sembari memeriksa sesuatu pada gelang semacam arloji di lengan lain. Segaris cahaya bergerak dari atas kepala hingga kakinya, persis ketika Konnosuke memindainya dulu.
Sebuah panel hologram muncul dari arloji. Pria itu mengerutkan dahi lalu menoleh pada rekannya. Mereka saling bertukar pandang dengan ekspresi bingung.
Asami mulai merasa ada yang salah ketika ia melihat saniwa lainnya di sisi kiri hanya dipindai sekali lalu masuk ke dalam begitu saja. Bahkan penjaga di sana mengucapkan salam pada setiap saniwa yang masuk.
"Maaf. Apakah ada yang salah?" tanya gadis itu.
Pria itu sedikit membungkuk. "Maafkan aku, Nona. Tapi, bolehkah aku memeriksamu sekali lagi?" katanya sembari memindai tanpa izin Asami. Panel hologram itu muncul lagi. Dahi pria itu lebih berkerut dari sebelumnya. Ia kembali bertukar pandang dengan rekannya, kali ini lebih lama. Rekannya itu mengangguk. Sedangkan, di seberang sana, para saniwa saling berbisik.
"Bisakah kalian lebih cepat sedikit?" Suara Kasen terdengar begitu dingin dari belakang. Terdengar bunyi pedang yang akan dikeluarkan dari sarungnya. "Kami bisa terlambat."
Kedua pria itu tergagap. "Ma-maafkan kami," Pria di hadapan Asami membungkuk dalam diikuti rekannya. "Silakan masuk, A-Asami-sama."
Mereka berdua melangkah masuk. Gedung tempat pertemuan hampir sama seperti honmaru milik Asami, hanya saja lebih megah. Ada taman kecil yang diapit jalan setapak untuk dilewati. Bunyi air mengalir dan gemericik suara riak kolam membuat hati terasa damai. Asami tersenyum kecil ketika melihat ikan koi yang berenang lincah.
Seseorang menyambut mereka di muka bangunan utama. "Silakan lewat sini, Asami-sama dari Provinsi Bingo," katanya. "Untuk Kasen Kanesada, silakan tunggu di sayap kanan. Semua pedang saniwa tidak diijinkan masuk ke dalam aula pertemuan."
Asami dan Kasen saling bertukar pandang. Pria itu tersenyum menenangkan tuannya yang terlihat cemas. "Tidak apa-apa," katanya. "Anda akan baik-baik saja."
Selepas kepergian Kasen, Asami melangkah masuk. Apa yang ada di dalam mengejutkannya. Bangunan bergaya tradisional telah menipu mata. Asami mengira ruangan itu hanya berisi bantal duduk saja. Di dalam sana begitu banyak kursi dan meja yang disusun berundak-undak. Ada 4 kursi utama di depan ruangan. Hologram berisi tulisan tergantung di langit-langit. Gadis itu terperangah kagum meski rasa gugup belum juga hilang dari hatinya. Ia tidak bisa menerka makna setiap aksara yang terpampang di sana. Bagaimana kalau dirinya harus membaca sesuatu? Tanpa Kasen atau Konnosuke di sisinya, Asami hanyalah gadis buta huruf biasa.
Tidak. Tidak akan ada apa-apa, Asami menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Ia segera menuju kursi yang telah ditunjukkan.
Tepat pada pukul 14.00, semua pintu ditutup. Seisi ruangan larut dalam kesunyian. Pertemuan resmi dimulai.
Di depan ruangan, muncul 4 orang saniwa yang duduk di kursi masing-masing. Tiga orang pria dan satu orang wanita. Tampaknya mereka memiliki posisi yang disegani di antara semua saniwa.
Pertemuan diisi dengan laporan rutin dari setiap provinsi. Konnosuke pernah memberitahunya. Konsil Saniwa dipimpin oleh 4 orang yang dipilih berdasarkan pengambilan suara. Anggotanya tersebar dalam 21 provinsi dan tiap provinsi memiliki 4 orang saniwa yang berisi 3 anggota dan 1 ketua. Laporan bulanan harus diserahkan anggota kepada ketua sebelum ketua melaporkannya pada rapat bulanan seperti ini. Asami masih terhitung baru dan belum sempat menyerahkan laporan lengkap. Tugasnya untuk melapor akan dimulai bulan depan.
Asami memasang telinga baik-baik karena ia tidak bisa mencatat segala hal yang dibicarakan dalam pertemuan ini. Setiap saniwa yang menjabat sebagai ketua berdiri dan membacakan laporan. Wajah mereka terpampang di hologram besar yang menggantung di tengah-tengah.
"Selanjutnya, laporan dari Provinsi Bingo oleh Tachibana Akira."
Asami terhenyak ketika melihat wajah seorang wanita terpampang di hologram. Ia mengira Tachibana Akira adalah seorang laki-laki! Wanita itu memiliki raut wajah yang tegas dengan rambut yang diikat ekor kuda. Laporan dibacakannya dengan intonasi yang mantap tanpa terbata. Sejauh ini, Provinsi Bingo dalam keadaan aman, Asami menyimpulkan.
Laporan semua provinsi telah selesai. Beberapa saniwa tampak menguap karena bosan.
"Acara selanjutnya ialah perkenalan singkat saniwa baru dari Provinsi Bingo. Untuk Asami-san, silakan berdiri."
Asami terkejut ketika dipanggil. Sebuah cahaya yang menyorot dari atas hampir membutakan matanya. Ia berdiri dengan canggung hingga menabrak meja di hadapannya. Hologram memuat wajah yang terlihat kebingungan itu. Beberapa kali terdengar menahan tawa dari seluruh jengkal aula yang membuat Asami serasa mati konyol saat itu juga.
"Hadirin harap tenang. Silakan, Asami-san, perkenalkan diri Anda."
Asami menarik napas. "P-Perkenalkan namaku Asami, saniwa baru di Provinsi Bingo," Ia membungkuk formal. "Masih banyak hal yang perlu kupelajari dalam tugas sebagai seorang saniwa. Ja-jadi, mohon kerjasamanya," katanya sembari membungkuk lagi. Ada jeda sebelum seluruh ruangan tenggelam dalam gemuruh tepuk tangan yang dipaksakan. Para saniwa kembali saling berbisik.
"Diakah yang diperiksa dua kali tadi?"
"Ternyata saniwa sungguhan."
"Tak kusangka ada saniwa tanpa nama di sini."
Saniwa tanpa nama. Asami tertegun ketika mendengar kata itu dibisikkan oleh saniwa yang duduk tepat di sampingnya. Ada rasa tidak suka dari mereka. Seisi aula memandangnya seolah ia makhluk asing yang datang entah darimana. Keempat pemimpin di depan ikut melihatnya lekat-lekat seolah tak ingin membiarkannya bergerak barang sejengkal pun. Sedikit demi sedikit, keberanian gadis itu menciut karena mata yang menghakimi dari semua saniwa yang ada.
Pertemuan akhirnya ditutup dan pintu dibuka. Semua saniwa meninggalkan tempat. Asami kembali bertemu Kasen di muka bangunan.
"Asami-san," Sebuah suara memanggilnya. Asami mengenali suara itu. Ia menoleh dan menemukan Tachibana Akira di belakangnya. Selain ia, ada 2 orang saniwa yang semuanya laki-laki disertai 3 orang jelmaan pedang. "Bisa kita bicara sebentar? Kasen-san juga bisa ikut."
Asami mengangguk sebelum mengikuti ketua dari Provinsi Bingo itu.
-iii-
Tachibana Akira membawanya pada sebuah ruangan khusus untuk anggota Provinsi Bingo. Mereka berempat duduk mengelilingi sebuah meja. Para pedang saling berbincang di taman.
"Begini, Asami-san," Wanita itu mengawali pembicaraan. "Pertama, aku ingin mengucapkan selamat datang di Provinsi Bingo. Namaku Tachibana Akira sebagai ketuanya. Perlu kau ketahui, Konsil Saniwa sangat besar. Ada 88 orang saniwa dan puluhan orang di balik layar. Tapi, aku hanya ingin kau mengenal 7 orang, termasuk diriku."
Ia mengarahkan tangan pada kedua laki-laki itu. "Perkenalkan," katanya. "Yang berjenggot tipis ini Nishimura Daichi dan anak kecil ini adalah Mizushima Hiro."
Mizushima Hiro menatap Tachibana dengan tatapan tidak suka. "Akira nee-san," katanya. "Aku bukan anak kecil."
Akira dan Daichi tertawa. "Sudahlah, jangan marah begitu, Hiro-kun," kata Daichi. "Kau sudah punya teman sebaya di sini. Berbahagialah, haha."
Asami mengangguk perlahan. "Salam kenal semuanya," Ia membungkuk. Hiro tersenyum tipis padanya.
"Kau tidak perlu bersikap terlalu formal. Di sini kami semua saling memanggil dengan nama depan," kata Akira. "Kalau kau mengizinkan, kami akan memanggilmu 'Asami-chan'. Bolehkah?"
Asami mengangguk. Ia menatap rekannya satu persatu. Akira, Daichi, dan Hiro.
"Lalu, 4 orang pimpinan tadi," Akira berdeham. "Yang paling tua bernama Saitou Nobuyuki, yang punya luka di alis Minami Juichiro, yang paling muda Nakano Kenji, dan yang wanita bernama Fujimori Yuki."
Semua nama itu berusaha diingatnya dengan baik. Hanya 7 orang. Tidak masalah.
"Kedua, Asami-chan," Akira memasang wajah lebih serius. "Aku minta maaf atas sambutan saniwa lain yang tidak sopan kepadamu."
"Mereka terus menerus membicarakan dirimu sebagai 'saniwa tanpa nama' di belakang," timpal Daichi. Ia tampak prihatin. "Itu karena darahmu diakui sebagai keturunan dari klan Hosokawa tapi namamu sama sekali tidak ada dalam daftar silsilah. Padahal, Konsil Saniwa selalu merekap dengan rapi seluruh silsilah keluarga yang ada di Jepang dan selalu diperbarui tiap tahun. Adanya orang di luar daftar sedikit merisaukan mereka. Harap maklum."
"Keturunan sama sekali bukan hal yang penting," sahut Hiro. Nada bicaranya terdengar dewasa, mengimbangi kedua seniornya. "Asalkan kau resmi menjadi seorang saniwa, satu-satunya hal yang harus kau pikirkan adalah menjaga alur sejarah."
"Itu benar," sambung Akira. "Ingat, Asami-chan. Kau adalah saniwa dan tugasmu hanyalah melindungi sejarah agar tidak berubah dari aslinya. Jangan pedulikan kata orang-orang yang ada di sekitar. Tetap fokus pada tugas. Kami akan selalu ada di sisimu."
"Lagipula," Daichi melirik Hiro dengan tatapan jahil. "Anak ini adalah keturunan terakhir klan Date. Kudengar klan Hosokawa dan Date berhubungan dekat di masa lalu. Sepertinya, kalian akan cocok."
Hiro terus menerus mengatakan kalau keturunan bukan hal penting yang harus dibahas, tapi ia berjanji untuk selalu membantu Asami sebagai seorang teman, bukan semata karena kedekatan klan mereka dulu.
"Nah, Asami-chan," kata Akira sebelum mereka bersiap kembali ke honmaru masing-masing. "Kalau kau perlu bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi kami. Kita adalah keluarga dan keluarga harus saling membantu."
Keluarga. Wajah Ume melintas dalam memori. Asami memang telah kehilangan keluarganya di penginapan itu, tapi rupanya Kami-sama masih berbaik hati memberikan keluarga baru untuknya.
"Terima kasih," kata saniwa itu dengan perasaan terharu.
-iii-
"Aruji," kata Kasen sekembalinya mereka ke honmaru. Mereka memutuskan duduk-duduk di teras ruang saniwa untuk menikmati pemandangan sore.
Asami sedikit menggeliat, melemaskan badan. "Ya? Ada apa?" Ia menatap Kasen dengan mata yang sedikit sembab. Menghadiri satu kali pertemuan saja rasanya begitu melelahkan.
"Aku akan mengajari Anda cara membaca dan menulis," ujar pria itu. "Dengan begitu, Anda juga bisa mempelajari sejarah Jepang dan ilmu sastra."
Saniwa itu terkejut. Ia akan belajar baca-tulis! Bangku sekolah tidak pernah dinikmatinya sejak dulu. Asami hanya bisa mematung di hadapan aksara-aksara yang berdiri pongah, sementara orang lain bisa membacanya dengan mudah. Sepertinya menyenangkan juga mengetahui segala sesuatu seperti anak sekolah yang selalu terlihat sibuk membaca buku. Tapi…sastra? Haruskah ia belajar sastra? Asami pernah mendengar Kasen membaca puisi buatannya sendiri. Kata-katanya begitu indah namun sulit dipahami. Apa ia bisa melakukannya?
"Um, Kasen-san," kata Asami pelan. "Aku gembira kau mau mengajariku baca-tulis, tapi…untuk sastra…sepertinya terlalu sulit untukku. Bisa membaca dan menulis sudah cukup. Tidak perlu sastra." Ia sedikit menunduk.
Kasen menghela napas, seolah menduga hal ini akan terjadi. "Aruji, aku akan memberitahu sesuatu yang sangat penting," katanya.
"Apa?" Mata bening Asami bertemu dengan sepasang mata biru Kasen yang terlihat berkilau ditempa matahari senja.
"Anda tahu apakah yang lebih tajam dari sebilah pedang?" Kasen tersenyum. "Kata-kata."
Mereka terdiam. Semilir angin kembali berhembus. Ada kesunyian yang menyergap tiba-tiba, mengenyahkan suara jangkrik yang sejak tadi berderik. Pedang klan Hosokawa itu berdeham sejenak sebelum berkata,
"Furin berdenting,
Aku lihat sang dewi,
Tersenyum cantik."
"Itu puisi tentang Anda," ucap Kasen kemudian. Asami yang sebelumnya mematung karena terkesima, memiringkan kepala, tidak mengerti.
"Tadi pagi, aku melihat Anda menyapu halaman," kata pria itu. "Ketika itu, tubuh Anda tampak berpendar karena terkena cahaya matahari yang baru terbit. Kelihatan seperti seorang dewi. Cantik sekali, sesuai dengan nama Anda."
"Namaku?"
"Ya. Nama Anda ditulis dengan kanji 'pagi' dan 'cantik'. Jadi, secara keseluruhan, Asami artinya 'kecantikan pagi'," kata Kasen. "Nama yang indah," Senyum pria itu melebar ketika menemukan rona kemerahan di pipi tuannya.
"Sekarang Anda tahu bahwa sebuah nama bukanlah panggilan kosong. Ada makna di setiap katanya," kata Kasen. Asami mengangguk pelan dengan pipi yang masih bersemu.
"Nah, mengapa aku sangat menyukai puisi?" ujarnya lagi. "Isi hati manusia itu begitu rumit sehingga tidak bisa diungkapkan dengan mudah. Tugas sebuah puisi adalah menyampaikan isi hati manusia dengan cara yang lebih sederhana. Oleh karena itu, hanya kata-kata terpilih yang boleh dituliskan. Kekuatan sebuah kata terletak pada kemampuannya untuk menuangkan segala perasaan pada setiap hurufnya."
Kasen menarik napas. Matanya kembali menerawang jauh. "Kata-kata adalah cerminan jiwa. Apa yang diucapkan seseorang, itu menunjukkan siapa jati dirinya," Ia menatap kembali tuannya. "Kekuatan yang sejati terletak pada kata-kata yang dipilih. Anda bisa melindungi atau menyakiti orang lain dengan satu kata saja. Penggunaan kata pun begitu luas. Baik dalam pemilihan nama maupun pembuatan puisi. Maka, hal itu penting sekali untuk dipelajari."
Asami merasa ada sesuatu yang merekah di dalam dadanya. Bagaikan rumpun bunga yang mekar satu persatu. Atau seperti kembang api yang meletus beriringan. Ia tidak mengerti apa yang tengah terjadi di dalam hatinya, hanya saja rasanya begitu ringan. Mungkinkah dirinya merasa bersemangat? Rasa ingin tahu yang begitu besar tiba-tiba saja muncul.
"Sepertinya aku akan belajar, Kasen-san," ucap gadis kecil itu setelah terdiam beberapa lama. "Aku akan belajar padamu," Asami menggangguk, memantapkan diri. Banyak yang harus dipelajarinya.
Kasen menghela napas karena lega. "Terima kasih sudah percaya padaku," katanya. "Kita bisa mulai besok?"
Asami mengiyakan. Senyuman bahagia terpancar dari wajah. "Kalau begitu sampai jumpa saat makan malam," katanya sembari melangkah pergi.
"Tunggu, Aruji. Ada hal lain yang ingin kukatakan," kata Kasen. Pedang itu memperpendek jarak di antara mereka berdua. Ia sedikit membungkuk agar wajah mereka sejajar. Kasen menatap lurus ke dalam bola mata Asami, menemukan kegelisahan terpendam dari balik iris hitam kecoklatannya. "Jangan biarkan mereka memengaruhi Anda. Anda bukan saniwa tanpa nama. Anda adalah Asami. Itu saja sudah cukup."
Asami terkejut. "Ba-bagaimana kau bisa tahu…"
Suara denting berulangkali tiba-tiba terdengar. Konnosuke berlari masuk ke dalam ruang saniwa. "Pergerakan jikanshokogun terdeteksi!" serunya. Asami bergegas ke balik meja lalu menekan sebuah tombol yang telah ditunjukkan si rubah.
"Kali ini mereka berada di Aizu," kata Konnosuke. Ia berpaling pada sang saniwa yang menggangguk paham.
"Kasen-san, tolong panggil Yagen-san! Bersiaplah untuk pergi ke garis depan!" seru Asami.
Tak perlu waktu lama, Kasen dan Yagen telah bersiap di pelataran. Konnosuke menyusul beberapa saat kemudian. "Asami-sama, kami sudah siap," katanya. Sinar keemasan mulai menyelubungi mereka bertiga. Kasen memandang lurus ke arah honmaru, seolah memandang sang saniwa dari balik temboknya.
Entah Asami benar-benar keturunan Hosokawa atau tidak, Kasen tak peduli lagi. Ia adalah Kasen Kanesada, pedang pertama dari seorang saniwa yang bernama Asami. Itu saja sudah cukup.
.
.
.
Yuhuu…Kanikan18 di sini…Terima kasih sudah setia menemani saya hingga sejauh ini~
Untuk chapter kali ini sepertinya terlalu panjang dari biasanya dan…sedikit membosankan haha :D Yak, memang hanya di honmarunya Asami, saniwa diceramahin toudan /plak
Oke, saya punya dua poin utama yang ingin dimuntahkan
Pertama, terima kasih banget untuk reader yang sudah memberikan reviewnya :"D Saya terharu loh!
Untuk Kak Aline azurE
Maaf untuk beberapa typo, saya akan lebih teliti lagi di chapter selanjutnya.
Saya bisa bernapas lega karena mampu menceritakan Kasen dengan baik. Dan…mirip anime ya? Haha. Iya si *sweatdrop. Eniwei, terima kasih atas reviewnya. Mulai ke depannya, mohon bimbingannya~ *bungkuk ala Asami
Untuk Kak meidaarriwani
Aduh kak, terima kasih loh ya…. Saya terharuuu… Syukurlah saya bisa menciptakan citra loli dari diri Asami tanpa harus susah payah, ahahaha /tonjok. Semoga chapter selanjutnya bisa memuaskan rasa penasarannya ya kak! Terima kasih dan mohon bimbingannya~ *insert suara loli
Kedua, saya akan membicarakan beberapa hal penting dalam chapter ini. Ehem:
21 provinsi yang ada diilhami dari server di Touken Ranbu (terakhir kali liat di wiki sih ada 21). Saya sendiri anak Bingo no Kuni ohoho~ Dan itu aja udah mepet mau full #curhat.
Ada pun sistem organisasi Konsil Saniwa, sepenuhnya diada-adakan. Ide konsil sendiri terinspirasi dari author sebelah (uwu)
Seperti yang Akira nee-san katakan, ada 7 orang penting di antara Konsil Saniwa, meski yang jadi fokus tetap 3 orang itu aja biar tidak bingung
Untuk Nee-san, sepertinya sudah pada tahu ya. Onee-san (singkatnya nee-san) itu artinya kakak (perempuan), istilah jawanya 'mbak'
Karena anak-anak Bingo no Kuni berjiwa muda, mereka manggilnya mas dan mbak gitu…
Puisi yang dibacakan Kasen itu bikinan saya sendiri! Hahaha! Jelek kan?
Iyap. Saya bikinnya dengan peraturan puisi haiku yang polanya 5-7-5 suku kata itu loh (silakan check di gugel)
Sebenarnya saya mau mengutip dari kumpulan puisi Sanjurokkasen atau Hyakunin Isshu (silakan cari di gugel), tapi capek riset karena minim sekali informasinya
Ya udah bikin sendiri wkwk
Apalagi ya….kayaknya sudah cukup si…
ENIWEI, terima kasihhhhh sekali pada pembaca sekalian yang mau menghabiskan waktunya untuk membaca fic saya
Sekali lagi pintu review dan QnA saya buka pada setiap chapter, karena kedua hal tersebut penting untuk melatih kemampuan saya
Sekian dan sampai jumpa di chapter berikutnya~
