Monochrome by Gaku
T rated
ChangKyu
Mystery, Adventure, Romance, Action
Typo(s), Pelaku dan korban pembunuhan yang Gaku karang-karang namanya, etc.
.
.
'18151513 Square Circle Square'
.
Ponsel Changmin kembali bergetar dan menampilkan pesan ke tiga dari Minho malam itu,
Aku tahu kau sedang sibuk memecahkan kode sederhana itu sambil memaki-makiku...
.
"INSPEKTUR KIM, KEJAR MOBIL PEMADAM ITU!" serunya.
"Huh?! Kejar? Kenapa kita-"
"Kejar saja!" potong Changmin tidak sabar.
But, yeah...
.
"Iya! Aku kejar! Tapi kenapa?" sahut inspektur Kim seraya meningkatkan laju mobilnya.
"Itu... kasus itu... akan menjadi petunjuk keduaku,"
YOU SHOULD CHASE IT
.
.
Inspektur Kim saat ini benar-benar merasa bersalah. Untuk alasan pribadi –Changmin tentunya bukan dirinya sendiri- ia menyalakan sirine polisi. Secara tak langsung memberikan dirinya kemudahan untuk mengejar mobil pemadam kebakaran yang melaju cepat di jalan tengah malam itu. Ia sendiri jadi tidak paham dengan dirinya. Bisa-bisanya ia mengiyakan perintah Changmin begitu saja. Tetapi, melihat wajah gusar dan panik Changmin, Inspektur Kim jadi tidak punya pilihan. Entah kenapa dirinya jadi sangat ingin membantu Changmin yang kesusahan itu.
Mobil kebakaran itu kemudian memasuki sebuah kompleks sekolah berasrama. Posisi sekolah itu cukup jauh ke dalam gunung. Sedikit terpencil. Mungkin agar siswa-siswanya tidak terkontaminasi kehidupan kota yang begitu... gemerlap dan memabukkan.
Inspektur Kim menarik rem tangan untuk menghentikan mobil. Ia melirik Changmin di sebelahnya yang dengan tergesa membuka sabuk pengaman. Saat Changmin hendak turun dari mobil, Inspektur Kim menahan tangannya.
"Changmin," tahan Inspektur Kim.
"Huh?"
"Aku tahu ini bukan urusanku dan –ya, aku mengerti kau tidak suka saat orang lain mencampuri urusanmu. Tapi..." ujar Inspektur Kim ragu.
"Tapi...? Inspektur Kim, santai saja. Aku bukan Kyuhyun. Aku tidak akan berteriak di depan wajahmu apapun yang kau katakan," canda Changmin.
"Uh, ya. Aku mengerti. Jadi... aku di sini untuk membantumu Changmin dan aku bisa memberikan lebih banyak bantuan jika kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi," ujar Inspektur Kim dengan suara lembut.
Changmin terdiam, "Ini bukan-"
"Bukan urusanku. Aku mengerti. Tapi, aku temanmu, 'kan? Apa gunanya teman bila bukan untuk saling membantu, huh?" bujuk Inspektur Kim.
Changmin tersenyum dan menepuk bahu Inspektur Kim akrab, "Aku senang sikap positifmu, Inspektur,"
"Thanks,"
"Tapi, aku sungguh tidak bisa mengatakan apapun padamu. Bukan karena aku tidak ingin bantuanmu atau aku tidak ingin kau mencampuri urusanku. Ini soal keamananmu sendiri. Aku sudah lama berurusan dengan orang-orang ini dan aku tahu mereka bukan seorang pemaaf. Sekali mereka tahu kau berusaha mengendus mereka, kau tamat," ujar Changmin serius.
"Apa...? Aku tidak mengerti," sahut Inspektur Kim mengerutkan dahi.
"Uhm, intinya; Kyuhyun diculik oleh... uh, kenalan lamaku? Ya. Lalu, kenalanku ini akan membebaskan Kyuhyun bila aku bisa memecahkan kasus-kasus yang datang padaku," ujar Changmin berusaha menjelaskan ulang.
"KAU BERURUSAN DENGAN SINDIKAT KEJAHATAN?!" pekik Inspektur Kim.
"YA! DAN TOLONG JANGAN BERTERIAK," seru Changmin.
"Uh, kau berteriak juga,"
"Sorry,"
"Kau ini kasus besar yang berhubungan dengan sindikat kejahatan, kenapa aku tidak-"
"Kyuhyun akan mati bila aku melakukan hal itu," potong Changmin.
Inspektur Kim menatapp Changmin tidak percaya.
"Inspektur, dunia ini tidak sebaik yang kau pikirkan," ujar Changmin menghela napas.
"Aku tahu itu, tentu saja. Aku bekerja untuk menangkap semua pelaku kejahatan," jawab Inspektur Kim bingung.
"Dunia ini lebih dari semua itu, Inspektur. Lebih gelap dan busuk," lirih Changmin.
Inspektur Kim menghela napas, "Baik! Untuk sekali ini aku akan menutup mata dan membantu segala keperluanmu,"
"Appreciate that," ujar Changmin bergegas turun dari mobil.
"Kau berhutang penjelasan setelah semua berakhir, Shim!" pekik Inspektur Kim yang masih terkekang di bawah sabuk pengamannya.
.
.
Mobil pemadan itu berhenti di sebuah sekolah asrama di tengah hutan. Angin lembab menusuk tulang Changmin membuat tubuhnya sedikit gemetar. Hutan itu tidak terlihat ramah. Gelap dan lembab. Seolah bila kau memasukinya sudah ada sesuatu yang siap untuk menarikmu dan memerangkapmu di dalamnya.
Seorang pria dengan jas rapi namun, dengan rambut yang berantakan menghampiri salah seorang pemadam. Pria itu berbicara pada pemadam itu mengenai sesuatu. Pemadam itu pun segera menggerakkan timnya untuk menuju belakang sekolah. Changmin yang melihat hal itu juga refleks mengikuti para pemadam itu sampai sebuah tangan menahannya.
"Changmin, kau mau apa?" tahan Inspektur Kim.
"Eh? Aku mau melihat apa yang terjadi," sahut Changmin seolah menjawab pertanyaan yang pasti.
Inspektur Kim menghela napas, "Kau tidak tahu tata krama nya, ya? Kau harus meminta izin pada pihak sekolah dahulu,"
"Oke, kalau begitu kuserahkan urusan itu padamu Inspektur! Biar aku yang melihat tubuh korban!" uajr Changmin dengan licin melepaskan diri dari Inspekur Kim dan berlari.
"Changmin! Agh! Aku memang bilang mau bantu, tapi jangan seenaknya begitu dong!" erang inspektur Kim lelah.
Changmin menghampiri para pemadam yang terlihat berusaha mengangkat tubuh seseorang dari sungai. Ia segera menghampiri tubuh korban tersebut. Namun, tubuhnya segera ditahan oleh tangan seorng pemadam.
"Maaf, tolong jangan mendekati tubuh korban. Kami masih menunggu tim forensik untuk memeriksanya," ujar pemadam tersebut.
"Ah, iya. Maaf. Aku sebenarnya seorang detektif dan-"
"Maaf sekali. Kami tidak bisa membiarkan detektif privat untuk melakukan pemeriksaan. Kami memiliki aturan yang harus diikuti di sini," ujar pemadam itu memotong ucapan Changmin.
"Tapi, aku bisa menyelesaikan kasus ini dengan lebih baik dan lebih cepat," bujuk Changmin.
"Tuan, mohon jangan membuat pekerjaan saya makin sulit," mohon sang pemadam.
Changmin jadi merasa tidak enak padanya. Namun, kalau dia tidak bisa menyelesaikan kasus ini...
"Permisi, saya dari pihak kepolisisan dan saya baru saja mendapatkan perintah bahwa kasus ini diserahkan pada saya dan dia adalah rekan saya," ujar suara yang sangat dikenal oleh Changmin.
"Inspektur Kim!" seru Changmin semangat.
"Oh, kalau begitu silahkan kemari," ujar pemadam tersebut menuntun Inspektur Kim menuju tubuh korban.
Changmin segera membuntut di belakang Inspektur Kim, "Bagaimana kau bisa mendapatkan izin untuk menangani kasus ini?"
"Performaku belakangan ini bagus karena kau sering membantuku, makanya aku jadi mudah mendapatkan kasus yang aku inginkan," jelas Inspektur Kim melempar sepasang sarung tangan lateks pada Changmin.
"Korban nampaknya adalah salah satu guru di sekolah asrama tidak jauh dari sini. Sam Woosung, 38 tahun, mengajar Fisika. Nampaknya dia juga berkesan baik hampir dari setiap lapisan anggota sekolah. Guru-guru mengaguminya karena kelas yang diajar olehnya selalu memiliki rata-rata nilai yang tinggi, para murid menyukai cara mengajarnya dan sifatnya yang ramah dan hangat, para karyawan sekolah juga menyukainya karena sikapnya yang sopan dan selalu memberikan laporan tepat waktu. Kalau bukan pembunuhan karena iri, aku tidak tahuapa yang mungkin menjadi motif pembunuh," ujar Inspektur Kim seraya mengecek tiap kantung di pakaian yang dikenakan korban.
Changmin tertawa kecil, "Inspektur Kim, memang menyegarkan sekali ya berteman denganmu?"
"Hey! Kau mengolokku, ya?!" protes Inspektur Kim.
"Tidak kok. Aku yakin... dunia ini masih butuh kepolosan itu, Inspektur," sahut Changmin yang sedari tadi hanya berdiri di belakang inspektur Kim.
"Kau jelas mengolokku," gumam Inspektur Kim.
"Tapi... semakin terang cahayanya, semakin gelap pula bayangannya," bisik Changmin pada dirinya sendiri.
"Huh? Kau bicara padaku?" tanya Inspektur Kim.
"Tidak. Oh! Tim forensik datang. Sebaiknya kita membiarkan mereka melakukan pekerjaan mereka. kita ke sekolah, siapa tahu ada saksi," ujar Changmin berjalan mendahului Inspektur Kim.
"Kenapa rasanya aku yang jadi anjing, sih?" gumam Inspektur Kim tidak mengerti.
.
"Silahkan duduk," ujar kepala sekolah mempersilahkan Inspektur Kim dna Changmin untuk duduk.
"Terima kasih. Jadi, apa Anda bisa menceritakan apa yang Anda ketahui mengenai Woosung-ssi?" tanya Inspektur Kim mengeluarkan catatannya.
"Aku hanya bisa mengatakan bahwa Woosung-ssi adalah guru yang hebat," ujar kepala sekolah.
"Tidak ada musuh?" Tanya Inspektur Kim.
"Pekerjaan Woosung-ssi sangat baik, dia jauh lebih brilian dibanding guru yang lain. Mungkin kalian berpikir bahwa tu akan membuat orang lain iri. Namun, nyatanya tidak. Karena sikapnya yang ramah dan suka membantu, tidak ada guru yang tidak menyukainya," jelas kepala sekolah.
"Bagaimana dengan para murid?"
"Itu lebih tidak mungkin lagi. Semua murin menyukai Woosung-ssi dan ini adalah sekolah khusus laki-laki," kepala sekolah menjelaskan.
"...ini sulit juga..." keluh Inspektur Kim.
"Apa Anda dapat merekomendasikan orang yang dekat dengan Woosung-ssi dan dapat kami wawancarai?" tanya Changmin.
"Woosung-ssi adalah pembimbing klub eksperimen. Kalian bisa mewawancari semua anggotanya. Saya akan kumpulkan para murid dengan segera," ujar kepala sekolah bangkit dari duduknya.
"Silahkan tunggu di ruang Auditorium," ujar kepala sekolah lagi dan keluar dari ruangannya.
Changmin bersama inspektur Kim pun berjalan menuju ruang Auditorium saat seorang dari tim forensik menghampiri mereka, "Kami baru membedah korban dan kami ingin segera menyampaikan hasilnya karena ada hal yang ganjil,"
"Ganjil?" tanya inspektur Kim mengambil laporan forensik dan membaginya pada Chagmin juga.
"Hmm, paru-paru korban kering padahal ditemukan di sungai? Itu berarti korban mati sebelum dibuang ke sungai, 'kan? Apa yang ganjil?" tanya Inspektu Kim.
"Bukan itu. Tapi-"
"Ditemukan banyak sidik jari di tubuh korban tapi tidak cocok dengan satupun data base sidik jari di kepolisisan," ujar Changmin memotong.
"Ya, itu maksudku,"
"Apa? Bagimana bisa?" tanya inspektur Kim.
"Dua kemungkinan. Pertama, pelakunya adalah salah seorang guru yang memiliki kontak dengan seorang di kepolisian dan meminta orang tersebut untuk menghapus data sidik jarinya. Kedua, pelakunya adalah seorang murid dibawah umur yang belum terdata oleh kepolisian," ujar Changmin dan bergegas menuju Auditorium.
Sesampainya inspektur Kim dan Changmin di Auditorium, ruangan itu telah dipenuhi sekitar 15 orang murid. Mereka saling berbicara satu sama lain. Menanyakan apa yang terjadi dan mengapa mereka dikumpulkan di ruangan ini.
"Selamat malam semuanya," mulai inspekur Kim.
"Kami ingin mewawancarai kalian seputar guru pembimbing klub kalian, Woosung-ssi. Kami akan mewawancari kalian satu persatu secara bergantian. Mohon kalian masuk ke ruang sistem bergantian," lanjut inspektur Kim memasuki ruang sistem meninggalkan Changmin.
Changmin duduk diantara anak-anak itu, memperhatikan tingkah mereka satu persatu. Anak-anak meliriknya penasaran. Namun, tidak ada yang berani bertanya atau mengangkat suara.
"Anu..." panggil seorang murid akhirnya.
"Ya?" sahut Changmin ramah.
"Sebenarnya... ada apa, ya? Apa yang telah terjadi? Apa kami dalam masalah?" tanya anak itu.
"Hmm, orang tua selalu percaya apa yang anak tidak ketahui tidak akan menyakiti mereka. tapi, aku justru berpikir sebaliknya. Anak-anak perlu tahu sehingga mereka tidak terluka. Jadi, aku akan memberitahukan kalian," ujar Changmin tersenyum lebar.
Para murid segera beringsut mendekat, berusaha menangkap ucapan Changmin dengan lebih jelas.
"Guru pembimbing kalian Woosung-ssi ditemukan mati di tengah sungai di belakang sekolah," ujar Changmin.
Para murid menahan napas mereka. Wajah mereka terlihat ketakutan.
"A-apa... kami dalam bahaya?" tanya seorang murid.
"Oh, tidak tentu saja," sahut Changmin.
"Bagaimana Anda bisa yakin akan hal itu? Bisa saja pembunuhnya adalah pembunuh berantai dan-"
"Kalian terlalu banyak membaca novel misteri. Hmm, harusnya aku tidak mengatakan ini pada warga sipil tapi... anggap saja ini pelajaran untuk kalian. Woosung-ssi terbunuh karena kehabisan napas. Bukan karena tenggelan namun karena dicekik menggunakan tangan. Itu menandakan bahwa pembunuh memiliki dendam atau kemarahan personal pada korbannya," jelas Changmin.
"Kalau dicekik dengan tangan... harusnya ada sidik jari yang tertinggal, 'kan?" tanya seorang murid.
"Bodoh! Sidik jarinya pasti sudah dihapus!" bantah murid yang lain.
"Benar juga ya," –sayang sekali mereka tidak mengetahui kenyataan mengenai kasus ini.
Pintu tiba-tiba terbuka, masuklah dua orang pemuda ke dalam ruangan tersebut.
"Maaf kami terlambat," ujar salah satu diantara mereka yang lebih bertubuh kecil dan kurus.
"Ketua! Kupikir ketua sudah ketiduran," ujar salah satu diantara mereka.
"Dia memang ketiduran. Makanya aku harus mengetuki pintunya berkali-kali sampai dia bangun," ujar pemuda di sebelah sang ketua.
"Minjun-ah!" protes sang ketua sambil menyikut pemuda di sampingnya.
"Itu kenyataan, Sujin,"
"Selanjutnya!" suara inspektur Kim memotong pembicaraan diantara para murid.
Wawancara pun berlangsung cukup lama. Satu persatu dari para murid diwawancarai hingga tersisa sang ketua klub sendiri. Setelah beberapa menit bersama isnpektur Kim, Sujin keluar. Namun, Changmin menahannya.
"Ah, maaf. Boleh aku minta tolong padamu?" tanya Changmin ramah.
Sujin mendongak. Memandang Changmin dengan mata cokelat yang nampak bulat dan muda. Penuh rasa penasaran dan harapan untuk masa depan. Anak ini, Changmin yakin memiliki masa depan yang cerah.
"Ya, apa yang bisa kubantu?" tanya Sujin.
"Bisa perlihatkan tanganmu padaku?" pinta Changmin.
Sujin mengangguk dan mengulurkan tangannya pada Changmin. Changmin perlahan menggulung lengan piyama yang dikenakan Sujin saat tiba-tiba dirinya dipotong oleh Minjun, sahabat Sujin.
"Hey! Kau mau apa dengan Sujin?!" pekik pemuda itu membuat Changmin tersentak.
Minjun segera menarik tubuh Sujin yang lebih kecil untuk berlindung di belakang tubuhnya sendiri.
"Aku hanya ingin melihat lengan Sujin-"
"Jangan macam-macam, mesum!" potong pemuda itu lagi membuat Changmin tersedak ludahnya sendiri.
"Me-mesum?"
"Ayo, Sujin. Malam ini menginap di kamarku saja dulu," ujar Minjun dan menarik Sujin bersamanya.
"Aku... ingin sendirian dulu, Mijun-ah. Maaf ya,"
Berlalunya kedua pemuda itu membuat Changmin terdiam di tempatnya. Kaget juga tiba-tiba diteriaki mesum begitu.
Puk! –seseorang menepuk bahunya ringan.
"Ckckckck, ternyata seleramu luas juga ya, Changmin," ledek inspektur Kim tertawa.
"Sialan. Ngomong-ngomong... aku sepertinya sudah tahu siapa pelakunya," ujar Changmin santai.
"APA?!"
"Please, jangan teriak di kupingku. Jadi berdenging, nih!" protes Changmin mengusap daun telinganya.
"Maaf. Tapi, bagaimana kau bisa tahu? Maksudku, kita baru beberapa jam di sini," tanya inspektur Kim.
"Hmm... anggap saja aku sudah terlalu banyak melihat pembunuhan," sahut Changmin berjalan menuju ruang kepala sekolah.
"Lalu, sekarang kau mau apa?" inspektur Kim mempertanyakan rencana Changmin.
"Aku saat ini dikejar waktu jadi... aku akan bongkar sekarang juga," ujar Changmin memasuki ruang kepala sekolah.
"Aku menemukan pelakunya. Tolong panggil dia ke sini sekarang juga, Pak kepala sekolah,"
.
"SUJIN!" sebuah seruan dan debrakan pintu ruang kepala sekolah membuat semua orang menoleh.
Sujin yang diteriaki namanya langsung mendongak. Mendapati sahabatnya berlari ke arahnya dan memeluknya erat.
"Aku khawatir sekali. Aku mengecek apa kau sudah tidur tapi kau tidak ada di kamarmu," uajr Mijun lembut.
"Mijun-ah..."
"Ayo, kembali ke kamarmu. Kau butuh istirahat," ujar Mijun lagi.
Sujin menggeleng dan mendorong tubuh Mijun menjauh.
"Sujin...?"
"Aku... maafkan aku..."
"Apa yang kau katakan?"
Sujin hanya menggeleng lagi. Mijun menatap sekelilingnya, detektif dan inspektur yang belum lama mewawancarai mereka, kepala sekolah dan beberapa orang polisi.
"Tidak... seharusnya tidak begini... aku sudah-"
"MIJUN!" potong Sujin berusaha menutupi apa yang akan Mijun katakan selanjutnya.
"Ternyata benar dugaanku," ucap Changmin membuat perhatian semua orang kini teralih padanya.
"Woosung-ssi dibunuh oleh Sujin dan kau –Mijun, kau membantu menutupi kenyataan itu," ujar Changmin lagi.
"Tidak! Tunggu! Mijun... Mijun tidak terlibat sama sekali! Aku yang-!"
"Yang melakukannya bukan Sujin! Aku yang melakukan semuanya! Aku yang membunuh guru Fisika brengsek itu!" potong Mijun.
Changmin menatap keduanya. Ada yang salah di sini. Kenapa... keduanya begitu pasrah menghadapi hukum? Seharusnya siapapun yang melakukan tindakan kriminal akan gugup, sekecil apapun kejahatannya.
"Semuanya, bisa tinggalkan aku dengan Sujin dan Mijun untuk beberapa saat?" pinta Changmin.
"Tapi-"
"Ayo, semuanya. Kita berikan waktu untuk Changmin-ssi," potong inspektur Kim dan menggiring semua kecuali Changmin dan kedua siswa itu keluar ruangan.
Setelah semua orang keluar, Changmin mulai membuka mulutnya lagi.
"Awalnya, aku mengira pelakunya adalah guru yang menghapus data sidik jarinya atau murid yang belum terdaftar dalam data negara. Namun, hipotesisku berantakan saat aku melihat lenganmu, Sujin. Harusnya kau tidak perlu dicurigai, karena kau seharusnya sudah terdaftar dalam data negara. Tapi, sikap gugupmu, luka di lenganmu, dan hilangnya data sidik jarimu... semuanya menjelaskan bahwa kau adalah pelaku pembunuhan Woosung-ssi," ujar Changmin mengusap wajahnya pelan.
"Sujin tidak membunuh siapapun," bantah Mijun keras kepala, tubuhnya bergetar.
"Dan kau Mijun, kau juga dalam maslaah karena berusaha meloloskan pelaku pembunuhan. Kau bisa diberikan hukuman karena kalian beruda sudah-"
"KUBILANG SUJIN TIDAK MEMBUNUH SIAPAPUN!" seru Mijun mencengkram kerah baju Changmin.
"Mijun-ah, apa yang kau lakukan!" seru Sujin berusaha melepaskan Mijun dari Changmin.
Changmin menatap Mijun kemudian beralih memandang Sujin.
"Aku juga tidak ingin percaya kenyataan seperti ini. Tapi, ada seseorang yang kehilangan nyawanya di sini. Meski berat kau harus menerima kenyataannya. Sahabatmu yang kelihatan polos dan tidak bersalah itu membunuh gurumu sendiri," ujar Changmin dingin.
"DIAM! KAU TIDAK TAHU APA-APA! BERANINYA KAU BERKATA SEMBARANGAN SOAL SUJIN?!" pekik Mijun.
"KAU YANG TIDAK MENGERTI! DUNIA INI TIDAK SEINDAH YANG KAU BANYANGKA-"
"HENTIKAN! Kumohon..." seru Sujin menyentak Changmin dan Mijun.
Air mata mengalir di pipi Sujin. Bibirnya gemetar begitupula jemarinya.
"Aku... aku memang membunuh seonsaengnim. Bila aku menceritakan semuanya... apa Anda mau percaya padaku?" tanya Sujin pelan.
"Tentu saja! Aku akan-"
"Pembohong! Semua guru mengatakan hal yang sama tapi mereka semua tidak ada yang percaya Sujin! Mereka membiarkan Sujin menderita!" potong Mijun.
Sujin terisak membuat Mijun segera beralih pada Sujin dan memeluk erat tubuh pemuda yang lebih kecil tersebut. Melihat reaksi keduanya, Changmin semakin merasa dirinya mendekat pada kebenaran.
"Aku bukan guru kalian. Aku tidak mengenal Woosung-ssi. Aku tidak mengaguminya. Kau tidak perlu takut aku akan berpihak pada Woosung-ssi. Karena... aku percaya, semakin terang sebuah cahaya, akan semakin gelap bayangan yang mengikutinya," ujar Changmin lembut menatap Sujin langsung.
Sujin mengangguk dan mulai membuka mulutnya, "Seonsaengnim... beliau suka menindasku,"
"Aku pernah melihatnya merobek buku teks salah satu teman sekelasku. Semenjak itu dia mengancamku untuk menutup mulutku. Aku sering dipanggilnya ke ruang penyimpanan peralatan olahraga. Awalnya dia hanya memukulku... namun, a-akhir-akhir ini... seonsaengnim... mulai... me-menyentuhku,"
Mijun mengepalkan tangannya. Ia berusaha manahan amarahnya. Ia tahu semuanya karena Sujin selalu menceritakan segalanya. Berkali-kali ia meminta bantuan para guru namun, tidak ada yang percaya. Selain itu, meski meminta bantuan kepada pihak kepolisian pun, lintah itu dapat meloloskan tuduhan dengan mudah. Tidak ada yang percaya pada mereka, mengatakan bahwa mereka hanya tidak menyukai kepopuleran guru mereka dan merasa iri.
"D-dan... kemarin, seonsaengnim memaksaku untuk...untuk..."
Changmin memeluk erat Sujin, "Tidak usah diceritakan lagi. Aku mengerti,"
Sujin tersentak, apa ini artinya akhirnya ada seseorang yang percaya padanya?
"A-aku tahu bila Sujin menceritakan yang sesungguhnya tidak akan ada percaya. Karena itu aku mengusulkan untuk membuang tubuh seonsaengnim ke sungai dan membereskan semua hal menyangkut data sidik jari. Aku terampil dengan komputer, aku bisa dengan mudah menghapuskan data itu," ujar Mijun ikut menceritakan bagiannya.
"Maaf... aku harusnya segera menyerahkan diri... maafkan aku..." rintih Sujin membenamkan wajahnya ke dada Changmin.
"Apa... kalian tidak bisa memberikan bukti bahwa Woosung-ssi yang melakukan semua hal ini?" tanya Changmin. Mijun segera menatapnya marah. Menyakini bahwa Changmin tidak percaya pada cerita mereka.
"Bukannya aku tidak percaya kalian. Hanya saja... begitulah kerja hukum. Bila tidak ada bukti, aku juga tidak bisa membantu kalian. Bila kalian memiliki bukti, aku bisa membantu meloloskan kalian dengan mengatakan bahwa itu hanya tindakan pembelaan diri," ujar Changmin.
Mijun menunduk, "Seonsaengnim itu cerdik. Ia tidak pernah melakukan apapun pada Sujin dimana orang bisa melihat atau area yang terekam CCTV,"
"Hmm, tapi, bukti bukan hanya dari sana," ujar Changmin dan menatap Sujin dalam.
Wajah Sujin segera memucat.
"Aku tahu ini berta untukmu. Aku tahu ini akan sangat memalukan untuk tapi, ini satu-satunya kesempatan kita," ujar Changmin dengan wajah serius.
"Kalau begitu... bo-bolehkah Mijun menemaniku?" tanya Sujin ragu-ragu.
Changmin tersenyum lembut, "Baiklah. Aku akan memanggil salah satu tim medik ke sini,"
"Apa? Apa sih? Aku tidak paham, nih!" protes Mijun.
Changmin menepuk bahunya, "Tetaplah di sini dan temani Sujin, ya,"
"Itu sih, sudah pasti. Tapi, memangnya Sujin mau apa, sih?" tanya Mijun namun diabaikan oleh Changmin yang segera keluar ruangan.
"Hey! Apa sih? Sujin, apa kau –hoy! Kenapa memalingkan muka begitu, sih? Siapa yang bisa jelaskan padaku ada apa ini?!"
.
Salah seorang tim medik keluar dari ruang kepala sekolah dan membuang napasnya keras, "Seperti yang diperkirakan oleh Shim-ssi, terdapat luka memar di lengan atas dan pinggul Sujin. Memar tersebut terbentuk karena remasan tangan orang dewasa dan ukurannya sesuai dengan ukuran lengan korban kita, Woosung,"
"Apa hanya itu?" tanya Changmin.
"Ada bukti kekerasan seksual. Anus anak itu sobek dan terlihat sedikit infeksi," ujar tim medik tersebut dengan pahit.
"Jadi... itu bukan kejadian pertama kali?"
"Ada beberapa luka lama dan luka baru. Jadi, ya. Sepertinya itu adalah kejadian berulang,"
Changmin mengusap wajahnya kasar.
"Mustahil... orang sebaik Woosung-ssi melakukan-"
"Itulah mengapa kejadian ini terjadi!" potong Changmin kecewa.
"Kalian dibutakan tampilan luar. Kalian tidak menyadari kebusukan hatinya. Kalian membiarkan anak-anak menjadi korban! Kalian membiarkan kejahatan seksual terjadi TEPAT DI BAWAH HIDUNG KALIAN!" seru Changmin menendang tembok begitu keras.
"Changmin..." lirih inspektur Kim sedih. Baru kali ini ia melihat Changmin beremosi seperti ini. Apa karena korban sebenarnya adalah anak-anak maka Changmin sampai beremosi seperti ini?
"Detektif!" panggil seseorang memecah ketegangan diantara para orang dewasa tersebut.
"Ah, Mijun, Sujin. Ada apa?" tanya Changmin ramah.
"Sujin baru saja menerima pesan dari nomor tidak dikenal. Katanya dia meminta untuk menunjukkan pesan ini pada Detektif," ujar Mijun menunjukkan layar ponsel Sujin pada Changmin.
.
Halo~
Bagaimana kasus kali ini? Seru 'kan? Serasa naik roller coaster, 'kan?
Oops! Sebelum kau salah paham, bukan aku yang menyuruh guru itu untuk memperkosa muridnya sendiri, lho! Aku hanya mengidekan pada anak malang itu untuk membalas perbuatan gurunya!
Oh ya, hampir lupa! SELAMAT terpecahkannya kasus kedua!
As expected from you who's alway at TOP in anything!
Here's your last clue!
Y721V - 4WKN611P9
.
Melihat ada petunjuk terbaru dari Minho, Changmin segera mengeluarkan catatan berisi petunjuk sebelumnya.
18151513 Square Circle Square
Y721V - 4WKN611P9
Apa maksud semua kode ini? Tch! Harusnya ia lebih banyak belajar! Kalau terlalu lama Kyuhyun bisa...!
"...tif? ...tu... de...tif? Tuan detektif!" panggil Sujin membuat Changmin tersentak.
"Ah, maaf aku sedang sibuk. Bisa tinggalkan aku sendiri?" sahut Changmin menolak memperhatikan Sujin.
"Hey! Kau ini tidak sopan ya! Padahal Sujin sudah mau membantumu dengan kode-kode itu!" protes Mijun.
"Eh?"
"Makanya, Sujin menawarkan diri untuk memecahkan kodemu, pak tua! Berterima kasihlah, si jenius Sujin mau membantumu!" uajr Mijun bangga.
"Bukan! Uh, aku merasa... aku hanya bisa membalas semua kebaikan tuan detektif dengan membantu Anda memecahkan kode itu..." ujar Sujin malu-malu.
Changmin mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menyodorkan catatan dan ponsel yang ia rebut kepada Sujin. Anak itu segera mengeluarkan pulpen dari kantungnya dan mulai menulis pada kertas catatan Changmin.
.-.-
18151513 Square Circle Square
18/15/15/13 Square Circle Square
= Room 404
Y721V - 4WKN611P9
at TOP in anything - he want to be on the top one but fail - always be no.2
Y/7/21/V/ - 4/W/K/N/6/11/P/9
WEST BUILDING
-.-.
"West Building, room 404," ujar Sujin pada Changmin.
"Eh?"
"Uh, isi pesannya," lanjur Sujin dengan wajah memerah malu karena ucapannya tidak jelas.
"West building... room 404... got it!" gumam Changmin mengingat-ingat yang dikatakan Sujin.
Changmin segera berbalik berlari, "Terima kasih Sujin!"
'Kyuhyun... Tunggulah! Aku akan segera menyelamatkanmu!'
.
.
I'M BACK!
HOW EXCITING!
Maaf ya update nya telat banget...!
WELL! Paling ngga saya udah update ya! HEHEHE!
do you enjoy this fanfiction? please support me by submiting a review or reviews! Hehe!
thanks for the wait!
LOVE Y'ALL!
