The Last Nine Stars

-A Touken Ranbu Fanfiction by Kanikan18-

Touken Ranbu milik DMM dan Nitroplus

Asami punya saya

Enjoyy!

.

.

.

CHAPTER 6-Why?

Pertengahan musim gugur…

"Kau mendapatkan surat teguran lagi, Asami-sama," kata Konnosuke sore itu. Asami menghela napas lalu memandang ke luar, menghindari mata si rubah. Dedaunan sudah mulai berguguran, memenuhi halaman dengan warna jingga kemerahan. Oleh karena itu, halaman harus lebih sering disapu. Untunglah pedang-pedang baru mulai berdatangan sehingga Asami tidak harus mengurusi semuanya sendirian—seperti pada minggu-minggu pertama ia menjadi saniwa. Meski begitu, gadis itu harus mengajari para pedang cara memegang sapu dan segala hal tentang pekerjaan rumah tangga. Mereka memang sedikit linglung ketika mendapatkan tubuh manusia.

"Asami-sama! Kau mendengarkanku?"

"Ah! I-iya! Maaf," Asami terkejut. Ia kembali pada sang rubah.

Konnosuke berdeham. "Teguran kali ini hampir sama dengan teguran yang lalu," katanya. "Mereka menegurmu atas perintah sembrono yang menyebabkan para pedang terluka serius."

Asami hanya menunduk. Sekelebat memori tentang misi kemarin terlintas. Pasukannya berada dalam kondisi gawat. Ia masih ingat betul Aizen Kunitoshi dan Namazuo Toushirou yang hampir di ambang kematian. Souza Samonji harus memapah Yamanbagiri Kunihiro yang hampir tidak sadarkan diri. Yagen datang belakangan setelah berusaha menghentikan pendarahan di perut Shishiou. Darah menggenang di lantai ruang perbaikan. Para pedang merintih lemah, seolah napas sudah sampai di ujung kerongkongan. Asami mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Kali ini, Asami begitu ketakutan bila mendengar adanya jikanshokogun yang terdeteksi. Tiap kali pedang dikirimkan untuk misi, hanya ada darah di mana-mana ketika mereka kembali. Ia mulai merindukan masa-masa tenang di musim panas dimana semuanya berjalan begitu lancar.

"Nakano-sama selalu menaruh perhatiannya padamu," kata Konnosuke lagi. "Di antara para pimpinan, nampaknya beliau yang paling menentang kehadiranmu. Hati-hati, Asami-sama. Meski yang termuda, bukan berarti Nakano-sama tidak bisa memecatmu!"

Asami merasa detak jantungnya berhenti sejenak. Ada rasa dingin yang merambat dari ujung kaki. Dipecat menjadi saniwa? Kalau hal itu terjadi, bagaimana ia bisa hidup? Di luar honmaru ini, tidak akan lagi kehidupan baginya. Asami tidak ingin lagi hidup tertindas di bawah kaki orang lain. Ia juga tidak ingin hidup di gang-gang sempit dan makan dari tong sampah, seperti para gelandangan di sekitar penginapannya. Kakek Shinosuke bukan lagi tempat berlindung karena menghilang semenjak serangan pada malam penobatan.

Di luar sana, tidak akan tempat untuk dirinya. Meninggalkan honmaru ini sama saja memotong bagian tubuhnya satu persatu.

"Ma-maafkan aku," Hanya itu yang bisa dikatakan Asami. Ia tidak tahu untuk meminta maaf untuk apa dan siapa. Sejak dulu, segala hal yang bisa dilakukannya hanyalah membungkuk dan meminta maaf.

Konnosuke memandang tuannya dengan tatapan prihatin. Ia sudah tahu hal ini akan terjadi. Tanggung jawab tuan barunya sudah begitu berat, ditambah lagi beban lain yang harus ditanggung gadis itu. Asami yang tidak memahami alur sejarah Jepang sudah merupakan kesalahan fatal. Seorang saniwa harus memahami sejarah dengan baik agar bisa mengambil keputusan yang tepat. Tidak bisa baca tulis? Itu kesalahan lain yang sangat fatal. Selama ini, Konnosuke selalu memberi segala pertimbangan atas keputusan Asami. Bahkan bisa dibilang, ialah kunci dari keputusan sang saniwa. Meski lebih memahami alur sejarah, bukan berarti pertimbangan dan keputusannya tepat sasaran. Maka, semua kecelakaan yang terjadi disebabkan olehnya juga.

Rubah itu tidak tahu sampai kapan mereka bisa merahasiakan hal ini dari Konsil Saniwa. Saniwa yang tidak memenuhi standar akan dibuang begitu saja. Ada kemungkinan, dirinya juga ikut dibuang. Konnosuke menundukkan kepala, memikirkan segala hukuman yang menanti di depan mereka jika Konsil Saniwa mengetahui hal ini.

-iii-

"Untuk saat ini, teruskan belajarmu, Asami-sama. Sekali kau menguasainya, kau bisa membuat keputusan yang tepat dalam setiap misi."

Kata-kata Konnosuke terus berputar di kepala. Asami menyusuri lorong dimana tiga ruang perawatan terletak berdampingan dengan pintu tertutup rapat. Di samping pintu terpampang nama para pedang yang dirawat.

Seluruh aktivitas di honmaru ini membutuhkan kekuatan spiritualnya sebagai sumber tenaga. Oleh karena itu, Asami selalu kelelahan ketika masa-masa sibuk seperti saat ini. Pedang selalu terluka di setiap misi dan hal itu menguras energinya. Konnosuke pernah berkata, beberapa saniwa, terutama saniwa muda, bahkan harus dirawat intensif karena kelelahan. Saniwa yang masih muda memiliki kekuatan dan ketahanan yang lebih kecil dibandingkan saniwa dewasa. Namun, seiring dengan waktu, dua hal itu akan terus bertambah karena dalam setiap kegiatan di honmaru, para saniwa muda secara tidak langsung telah melatih kekuatan mereka. Asami dihitung sebagai seorang saniwa muda yang masih dalam masa rentan. Ia tidak boleh mengeluarkan kekuatannya terlalu banyak.

Kini, ia berdiri mematung di depan ruang perawatan. Semua ruangan yang tersedia sudah penuh olah Aizen, Namazuo, dan Yamanbagiri. Mereka harus beristirahat total setelah diperbaiki. Di antara anggota tim yang dikirim sebelumnya, ketiga pedang inilah yang mengalami kerusakan paling parah. Yagen, Souza, dan Shishiou sudah kembali beraktivitas seperti biasa.

Pintu shoji bergeser. Asami mengendap-endap masuk, takut membangunkan Aizen yang tengah tertidur. Dengkuran halus keluar dari mulutnya yang setengah terbuka. Wajah anak berambut merah itu begitu tanpa beban. Seluruh honmaru kini terasa senyap tanpa seruan penuh semangat dari Aizen yang selalu enerjik. Asami memandangi tantou itu dengan rasa bersalah. Bagaimana kalau tubuh itu tidak lagi mampu melompat riang seperti biasanya?

Beberapa saat kemudian, Asami duduk di samping Namazuo. Wakizashi itu mengigau tentang kotoran kuda, hal yang selalu dibicarakannya setiap saat. Ia begitu tanggap ketika ditugaskan untuk merawat kuda. Meski sering mengkhawatirkan, Asami mulai merindukan sekeranjang penuh kotoran kuda yang dikumpulkan pemuda berambut hitam panjang itu. "Kotoran kuda cocok untuk pupuk tanaman!" Namazuo selalu berkata seperti itu dengan penuh kebanggaan.

Asami memutuskan untuk melihat Yamanbagiri. Ia terkesiap ketika sepasang mata kebiruan milik pemuda bertudung itu menatapnya dari atas futon. Uchigatana itu tidak beranjak bangun ketika Asami duduk di sampingnya.

"A-Anda sedang apa di sini?" Yamanbagiri memalingkan wajah. Pedang ini selalu menghindari mata siapa pun.

"Aku hanya menjengukmu," jawab Asami. "Orang sakit memang harus dijenguk bukan?"

Yamanbagiri meringkuk, menarik tudung hingga rambut pirangnya tertutup sempurna. "Pedang duplikat sepertiku tidak perlu dijenguk," katanya pelan.

Asami tertunduk. "Maafkan aku. Karena diriku, kalian semua jadi begini," kata gadis itu dengan suara tercekat. Bola matanya terasa basah dan panas. "Saniwa sepertiku tidak perlu ada."

Baru kali ini Yamanbagiri menatapnya lekat-lekat. Dua pasang mata berkabut saling bertemu. "Tidak, Aruji. Hal seperti ini terjadi karena adanya pedang duplikat seperti diriku," ujarnya.

Mulut Asami terkunci. Ia tidak pernah tahu cara menanggapi perkataan Yamanbagiri yang selalu merendahkan diri sendiri. Siapa yang salah? Pedang duplikat atau saniwa yang tidak cakap? Atau bahkan dua-duanya?

Semua ini adalah salahku, batin Asami. Para pedang hanya mengikuti perintah tuannya. Baik asli maupun duplikat, tidak ada hubungannya. Semua masalah justru berasal dari dirinya sendiri. Saniwa itu berjalan di lorong. Putaran waktu serasa lambat, menjadikan setiap suara di sekelilingnya hanya gaung tak bermakna. Nafsu makannya mendadak turun saat makan malam tiba. Ia mengunyah nasi lambat-lambat tanpa selera. Para pedang makan seperti biasa, termasuk Souza, Yagen, dan Shishiou. Tidak ada rasa dendam yang terlihat ketika mereka tidak sengaja bertatapan.

"Ada apa, Aruji? Anda sakit?" tanya Kasen khawatir. Ia sempat meletakkan tangannya di kening Asami. "Hm, tapi tidak panas."

"A-aku tidak apa-apa, Kasen-san," Asami cepat-cepat melahap nasi dan ikan. Ia mengunyah dengan senyum yang dipaksakan. "Lihat? Aku sehat kan?"

Meski ia sudah berkata begitu, Kasen terus menatapnya lekat-lekat, bahkan mengikuti Asami hingga ke ruang saniwa.

"Beristirahatlah, Kasen-san," kata Asami sebelum duduk. "Kau 'kan tidak bertugas sebagai sekretaris kali ini. Aku bisa mengurus semua ini bersama Souza-san dan Konnosuke."

"Anda tidak boleh menyalahkan diri," ujar Kasen kemudian. Ia memicingkan mata. Ada rasa sakit yang tercermin dari sepasang manik biru kehijauan itu. Melihat tuannya seperti ini membuat hatinya begitu remuk.

"Lagipula," Tiba-tiba Souza sudah melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia duduk merapikan kertas-kertas yang berasa di meja lain. "Terluka adalah hal biasa yang terjadi ketika ada di medan perang. Anda tidak bisa menyebut diri Anda sebagai saniwa kalau tidak bisa menerimanya."

"Souza-san," Suara pedang Hosokawa itu terdengar begitu dingin.

"Aku benar kan?" Souza menatap Asami. "Aruji, fokuslah. Anda hanya perlu duduk di balik meja dan mengatur pergerakan kami di garis depan. Mudah sekali. Hanya saja, Anda harus lebih berhati-hati agar tidak ada yang terluka seperti Aizen dan lainnya. Yah, kalau Anda benar-benar merasa bersalah atas apa yang terjadi."

Souza mengatakan segalanya dengan begitu santai. Suaranya pun begitu lembut. Tapi, kata-kata itu tak ubahnya seperti kumpulan anak panah yang menghujam jantung tanpa ampun. Tanpa sadar, Asami mencengkram hakama hingga kusut. Sakit. Ia tidak suka. Hanya saja, dirinya tidak pernah berani mengutarakan perasaannya karena masa lalu yang mengajarinya demikian. Berbicara hanya akan mengundang rasa sakit lainnya.

"Kau berani membantahku, heh?!"

"Bukan begitu, Okaa-san. To-tolong, ampuni aku!"

"Terima ini! Hm! Berapa kali aku harus memukulmu agar kau mengerti?!"

"Maaf! Maafkan aku!"

"Aruji," panggil Souza dengan tegas. "Ayo, selesaikan laporan ini. Kasen-san, seperti kata Aruji, kau bisa beristirahat."

Melihat Asami mengangguk, Kasen pergi meski tidak rela.

Mereka berdua bekerja dengan serius. Souza merangkum seluruh laporan ketua tim, menggantikan tugas saniwa yang sebenarnya. Sesekali ia membaca dan Asami mendengarkannya baik-baik. Konnosuke datang belakangan dan memeriksa semua laporan sembari menguap. Biasanya pekerjaan ini bisa dikerjakan saniwa seorang diri, tapi mengingat kondisi khusus Asami, rubah itu harus mulai beradaptasi dengan kebiasaan barunya yakni tidur larut malam.

"Laporan ini sudah cocok," kata Konnosuke. "Kau bisa mengirimkannya ke Tachibana-san."

Asami menekan tombol pengiriman. Untuk saat ini, ia hanya mampu menghafal letak berbagai macam tombol tanpa mengerti artinya. "Terima kasih atas kerja keras kalian," katanya ketika laporan sudah terkirim. Konnosuke menguap dan Souza sedikit meregangkan badan. Mereka terlihat begitu lelah.

Gadis itu menghela napas. Pelajarannya dengan Kasen memang berjalan baik. Asami sudah mengetahui aksara hiragana sebagai dasar. Beberapa insiden penting dalam alur sejarah pun sudah ia mengerti. Tapi, dirinya masih membutuhkan bantuan dalam menyusun laporan. Sampai kapan Asami akan terus bergantung pada orang lain?

"Aku benar-benar tidak berguna," gumam Asami perlahan.

"Kau bilang apa?" tanya Konnosuke.

"Hmm, tidak apa-apa," sahut gadis itu cepat. Ia menangkap mata hijau-biru Souza yang meliriknya sekilas. "Selamat beristirahat. Selamat malam."

Satu hari telah berlalu dan keadaan begitu runyam. Asami mulai berharap esok hari tidak usah datang. Masalah hanya datang bersama terbitnya matahari. Akan lebih baik kalau dunia terus tenggelam dalam kegelapan malam. Dengan begitu, tidak akan ada yang akan terluka lagi.

TING!

Suara denting itu membuat Asami serasa masuk ke dalam kubangan es. Patah-patah, ia menghampiri meja kerja, melihat kilat kemerahan di atas sebuah pulau.

Tidak… Tolong hentikan…

"Kali ini di Osaka pada tanggal 2 Desember 1614. Dua hari sebelum pengepungan Kastil Osaka," gumam Konnosuke. "Kita harus mengirimkan pasukan secepatnya esok pagi."

Tidak. Asami tidak mau lagi mengirimkan sebuah tim dan melihat mereka pulang bersimbah darah. Tidak lagi.

"Aruji," kata Souza. "Kita harus menyusun pasukan malam ini."

Dunia mendadak kelabu. Gaung-gaung tanpa makna memekakkan telinganya. Asami ingin menjerit tapi ia begitu ketakutan. Berbicara hanya mendatangkan rasa sakit. Itu adalah prinsip yang dipegangnya.

"Ya," Hanya itu yang bisa diucapkannya.

.

.

.

Next chapter teaser

Jikanshokogun muncul di Osaka. Meski terpaksa, Asami tetap mengirimkan para pedang ke garis depan. Namun, siapa sangka misi kali ini mengubah hidup sang saniwa selamanya?

"Konnosuke-san? Konnosuke-san?! Kau bisa mendengarku?!" seru Asami panik. Ia menoleh ke Souza yang terbelalak. "Souza-san, mereka menghilang!"

CHAPTER 7: They're Gone?!

.

.

.

Kembali bersama Kanikan18~ Terima kasih telah membaca The Last Nine Stars~

Untuk chapter kali ini, saya sedikit kesulitan untuk membuat atmosfer sedihnya. Semoga apa yang dirasakan Asami sampai kepada para reader sekalian. Mungkin para reader bisa memberi wejangan kepada diri ini untuk membangun atmosfer pada suatu cerita…

Oiya, lokasi semua misi di fic ini bener-bener berdasarkan maps di game, soalnya saya awam soal sejarah Jepang heuheu, jadi gabisa ambil kisah yang macem-macem. Dannnn next chapter berkisah tentang Siege of Osaka, Winter Campaign (mungkin reader tau ini map berapa hehe). Saya fokuskan pada tanggal 4 Desember 1914, dimana kastil Osaka dikepung oleh…siapa hayo? #apaan si

Seperti biasa, saya mohon review dari para reader sekalian. Silakan juga kalau ada yang ingin tanya-tanya hehe

Sampai jumpa di chapter berikutnya ya!