Monochrome by Gaku
T rated
ChangKyu
Mystery, Adventure, Romance, Action
PLEASE EXCUSE THE TYPOS I'M TOO LAZY TO PROOF READ.
.
.
"West Building, room 404," ujar Sujin pada Changmin.
"West building... room 404... got it!" gumam Changmin mengingat-ingat yang dikatakan Sujin.
Changmin segera berbalik berlari.
'Kyuhyun... Tunggulah! Aku akan segera menyelamatkanmu!'
.
.
Changmin merebut paksa kunci mobil milik Inspektur Kim dna membawa lari mobil itu. Ia tidak perduli karena menyetir asal-asalan. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Kyuhyun. Tidak jarang matanya melirik jam di ponselnya. Tidak banyak waktu lagi. Kalau ia tidak sampai dalam satu jam...
"Kyuhyun akan mati,"
Changmin segera mengusir pikiran itu dari kepalanya.
"Tidak akan kubiarkan...!"
Siapa yang sangaka, heh, ataukan Changmin sudah menyangka? Tentu saja. Gedung ini gedung terbengkalai, tanpa lift yang berfungsi. Changmin segera menuju tangga darurat. Ia memaksa kaki-kakinya untuk berlari lebih cepat, lebih cepat. Matanya melirik cepat kesetiap nomor di pintu. Kakinya tidak sedikitpun menurunkan kecepatan.
"Itu dia! Room 404..!"
"Kyuhyun!" serunya seraya mendobrak terbuka pintu ruang tersebut.
Ditengah ruang kosong, Kyuhyun terikat di sebuah kursi. Bajunya terlihat kotor dan berantakan. Changmin segera menghampiri Kyuhyun dan mengangkat wajah pemuda itu untuk menatapnya.
"Hmmmpp?!"
"Kau tidak apa-apa?" tanya Changmin sambil mengecek apakah ada luka di wajah dan tubuh Kyuhyun. Anehnya, wajah Kyuhyun baik-baik saja. Tidak ada memar sama sekali.
"Hmmph!"
"Oh, ya. Maaf,"
Changmin segera melepaskan perekat yang mencegah Kyuhyun untuk berbicara.
"Puah! Ini bukan saatnya untuk mengkhawatirkan luka kecil! Bom! Ada bom di sini!" pekik Kyuhyun melirik ke seluruh sudut ruangan dengan panik.
Ruangan itu gelap. Hanya sedikit cahaya bulan yang menerangi ruangan itu. Ruangan itu juga pengap. Penuh dengan debu yang mampir di atas kardus-kardus yang tertumpuk tak beraturan.
Changmin ikut melarikan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Bila ada bom di sini, maka kemungkinan besar bom itu disembunyikan di dalam sebuah kardus untuk kepentingan kamuflase. Tentunya, hal itu justru menjadi celah.
'Itu...! Kardus yang tidak tertimbun debu!' batin Changmindan segera berlari pada kardus itu.
Kardus itu dibukanya hati-hati. Di dalam kardus itu terdapat sebuah bom yang tersambung dengan sebuah laptop. Layar laptop itu menyala. Menuntut password untuk menghentikan laju countdown dari bom.
"Password! Apa Minho mengatakan sesuatu padamu?" seru Changmin pada Kyuhyun.
"Kau bodoh atau apa?! Mana ada penjahan berbagi password untuk menghentikan bom yang ia pasang pada musuhnya! Pikirkan sesuatu!" pekik Kyuhyun mengamuk.
"Kau tidak membantu dengan berteriak begitu! Bantu aku berpikir!" sahut Changmin menoleh pada Kyuhyun.
"Sudah kukatakan aku tidak tahu! Kau saudaranya! Pikirkan sesuatu!" seru Kyuhyun tidak mau disalahkan.
"Meski kami saudara, aku tidak begitu mengenalnya, tahu! Terakhir aku bertemu dengannya itu-" Changmin memotong ucapannya sendiri
"Changmin?"
"Terakhir... terakhir kali aku menemuinya... hari dimana aku... mengkhiataninya..."
Changmin terburu-buru memauskkan kombinasi angka. Kyuhyun menahan napas. Bersiap dengan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Tangan Changmin terhenti untuk memasukkan kombinasi angka terakhir. Perlahan ia menoleh pada Kyuhyun yang balas menatap.
"Kyuhyun, senyum dong?"
"Huh?"
"Ya... bagaimana ya? Aku ingin yang kulihat terakhir kali sebelum mati itu senyumanmu,"
"Bodoh! Apa yang kau katakan, huh? Kita akan selamat! Cepat pecahkan passwordnya dan hentikan bom sialan itu!"
"Duh, sampai akhir tsundere, ya? Ya sudah lah."
'251210'
Beeeeep!
"A-apa yang terjadi? Changmin!" pekik Kyuhyun panik saat bom tersebut mengeluarkan suara keras.
Changmin segera bangkit dan berlari mendekati Kyuhyun. Ia tahu dirinya telah gagal dalam memecahkan password untuk menghentikan bom waktu tersebut. Harusnya ia tahu. Harusnya ia lebih berpikir panjang. Minho bukanlah anak cengeng seperti dulu mereka kecil. Minho bukan lagi seorang bocah emosional yang akan menggunakan tanggal penting seperti itu sebagai password menghentikan bom ini.
Bodoh.
Kini –ia harus menanggung kebodohannya itu.
Changmin segera memeluk Kyuhyun erat. Berusaha melindungi Kyuhyun dari ledakan yang akan datang. Setidakya, Changmin ingin menanggung kesalahan ini sendiri. Bila Kyuhyun juga mati akibat kesalahan yang dibuatnya –Changmi tidak akan bisa beristirahat dengan tenang dalam kematiannya.
BOOM!
Sebuah ledakan terjadi. Asap tebal memenuhi ruangan. Changmin dan Kyuhyun terbatuk –tersedak asap. Bersamaan dengan asap itu, ribuan kertas bertebaran ke seluruh ruangan berakat tenaga ledakan dari bom tersebut. Ledakan itu tidak besar. Tidak sampai menimbulkan luka –atau bahkan panas.
Kyuhyun dan Channgmin saling menatap. Kedua mata mereka melebar kebingungan.
"Apa... yang baru saja terjadi?"
"Bomnya meledak."
"Serius?"
"Iya."
Changmin melepaskan pelukannya dar Kyuhyun dan mengambil sebuah kertas yang jatuh di dekat kakinya.
'FTXCKUUJZQ-IYXSH'
"Apa tulisannya?" tanya Kyuhyun ingin tahu.
"Teka-teki lain."
Changmin terdiam. Apakah bom tadi memang hanya pengecoh? Tapi, Minho mengembalikan Kyuhyun padanya. Apa maksudnya ini? Permainan apa yang sedang dimainkan oleh Minho sebenarnya?
"Changmin?"
"..."
"Changmin! Hoy! Dengar tidak sih?" bentak Kyuhyun tidak sabar.
Changmin tersentak dan segera menoleh, "Ah, ada apa?"
"Lepaskan ikatanku, bodoh! Lenganku sakit, nih!"
"Oh, oke. Tunggu sebentar."
Changmin mulai bekerja melepaskann ikatan yang mengikat. Changmin mengerjakan tugasya sambil terdia,. Kepalanya enuh dengan berbagai hipotesis mengapa Minho melakukan hal ini. Tapi, tidak ada satupun jawaban pasti yang bisa ia dapatkan. Ia kebingungan. Kenapa? Kenapa? Minho sebenarnya apa yang kau inginkan?
"Changmin, daripada bergumam tidak jelas begitu lebih baik kita pecahkan dulu kode itu," ujar Kyuhyu terseyum maklum. Chagmin pasti sedang kelelahan karena harus mencarinya. Kepalanya pasti sudah kehilangan tenaga untuk berpikir.
Changmin tersneyum kecil, "Benar juga,"
"Sambil makan malam, ya? Aku lapar."
"Hahahaha, baik, baik."
.
.
Changmin dan Kyuhyun duduk berhadapan. Changmin sibuk meletakkan daging di atas pemanggang, sedangan Kyuhyun hanya memakan daging yang sudah dimasakkan oleh Changmin tanpa merasa bersalah sama sekali. Changmin sendiri hanya meneguk sujo sejak tadi. Belum ada daging yang masuk ke perutnya.
Kyuhyun menghela napas dan menyodorkan sepotong daging ke mulut Changmin, "Buka,"
"Eh?"
"Buka mulutmu," perinta Kyuhyun.
Changmin menurut dan membuka mulutnya lebar. Changmin meletakkan daging di dalam mulut Changmin. Changmin dengan patuh mengunyah daging di dalam mulutnya.
"Aneh tahu melihatmu tidak makan. Kau 'kan rakus," komentar Kyuhyun tajam.
Changmin tertawa kecil.
"Jadi, sudah dapat ide?"
Changmin menggeleng, "Aku benar-benar tidak mengerti. Jika Minho sudah mengembalikanmu padaku –kenapa ia masih meninggalkan jejak?"
"Mungkin dia ingin ditangkap?" usul Kyuhyun.
"Mustahil. Tertangkap sama dengan artinya mati bagi organisasi appa," bantah Changmin.
"Karena rahasia organisasi akan terbongkar?" tanya Kyuhyun.
"Bukan. Maksudku sungguhan. Bila kau tertangkap atau terdeteksi polisi –seorang dari organisasi akan datang untuk membunuhmu. Itulah mengapa tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaan organisasi itu kecuali anggota keluarga dan anggota organisasi sendiri," jelas Changmin.
Kyuhyun menelan ludah. Ia tidak bisa membayangkan. Sebenarnya seberapa gelap dunia Changmin sebelum bertemu dengannya?
Kyuhyun meraih kertas berisikan kode yang diberikan Minho untuk Changmin, "Bagaimana caramu menemukanku?"
"Aku mengikuti pertunjuk yang diberikan Minho," sahut Changmin.
"Mungkin cara memecahkan kode ini sama dengan kode itu?" saran Kyuhyun.
Changmin menggeleng lemah, "Setiap kode yang kuterima dari Minho memiliki teknik pemecahan yang berbeda. Aku tahu Minho –dia anak yang mudah bosan. Tidak mungkin menggunakan teknik yang sama dua kali. Itulah mengapa ia menjadi favorit appa dengan waktu singkat."
Kyuhyun mengangguk. Ia merogoh saku Changmin dan mengampil pulpen untuk dia gunakan sendiri.
"Karena kau sudah berusaha keras menyelamatkanku, kali ini biar aku yang memecahkan kode ini. Aku ini otak dalam duo detektif kita, 'kan?" ujar Kyuhyun tersenyum berusaha menenangkan Changmin.
Kyuhyun sibuk mencorek-coret kertas. Memikirkan berbagai macam kemungkinan untuk memecahkan kode di hadapannya. Tiba-tiba, sebuah pemikiran menghampiri kepala Kyuhyun.
"Changmin, apa password untuk bom tadi?"
"Huh? Tidak tahu. Bom itu meledak, kau sadar 'kan?"
"Bagaimana kalau itu sengaja? Maksudku –bom itu sengaja dibuat untuk meledak biarpun kau berhasil memecahkan passwordnya?"
Changmin menatap Kyuhyun dalam-dalam.
"25 desember 2010. 25-12-10. Tanggal saat aku lari dan meninggalkan Minho dalam cengkraman apaaku. Tanggal yang... dikutuk oleh Minho dan olehku sendiri," suara Changmin bergetar. Wajahnya menunduk. Tidak berani memperlihatkan emosi di wajahnya pada Kyuhyun di hadapannya.
Kyuhyun mengangguk paham. Tangannya kembali sibuk menuliskan sesuatu pada kertas:
F – 2 – D
T – 5 – O
X – 1 – W
C – 2 – A
K – 1 – J
U – 0 – U
U – 2 – S
J – 5 – E
Z – 1 – Y
Q – 2 – O
I – 1 – H
Y – 0 – Y
X – 2 – U
S – 5 – N
H – 1 – G
"Dowajuyeso... hyung..." baca Kyuhyun perlahan.
"Eh?"
"Dowajuseyo hyung. Itu yang tertulis dalam kode ini. Changmin... apa mungkin Minho sedang dalam masalah?" tanya Kyuhyun.
Changmin manatap Kyuhyun. Matanya berkaca-kaca dan memancarkan ketakutan.
"Apa Minho berurusan dengan kepolisian?"
"Bukan. Minho tidak takut pada kepolisian. Dia berpikir semua anggota kepolisian itu bodoh."
"Jadi?"
"Appa. Appaku pasti sedang mengintainya."
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Tidak mungkin aku tidak menolongnya. Aku yang sudah mendorongnya jatuh dalam lubang penuh dosa itu. Akulah yang bertanggung jawab untuk menariknya keluar. Ke dalam lindungan sinar matahari."
.
.lol
Minho kembali mendapatkan misi. Kali ini langsung dari pemimpin organisasi atau ayah dari sepupunya, Changmin.
"Aku berharap banyak padamu," ujar suara itu berat akibat banyak asap rokok yang dihirupnya.
"Saya mengerti. Mohon percayakan ini pada saya," ujar Minho masih dalam posisi membungkuk.
"Tidak ada batas waktu untuk misi kali ini. Aku hanya ingin agar misi ini tidak menarik perhtaian siapapun," perintah pria dengan bekas luka di lengannya itu.
"Baik."
"Pergilah."
.
Minho menyusuri jalanan ramai kota Seoul yang tidak ramai. Udara hari ini cukup dingin. Apalagi angin tengah bertiup lebih kencang dibandingkan biasanya. Mungkin akan ada badai yang datang nanti. Namun, semua itu diabaikan dengan mudah oleh Minho. Udara dingin seperti ini tidak akan dapat menghentikannya setelah seluruh latihan dari pamannya yang kejam itu.
Sudah beberapa minggu ia memperhatikan kerja sistem keamanan gedung perusahaan dimana targetnya bekerja. Namun, tidak ada hasil. Ia tidak menemukan celah dari sistem keamanan mereka. ia sekarang mengerti kenapa pamannya tidak memberikan batasan waktu untuk pekerjaan kali ini. Pekerjaan kali ini memang sulit.
Minho menghela napas dan berusaha menghangatkan telapak tangannya dengan segelas kopi yang baru ia beli tadi. Hari ini angin begitu kencang, sepertinya akan ada hujan badai malam nanti. Minho berbalik, sebaiknya ia pulang sebelum badai sungguh datang.
"Ah! Tolong tahan pita itu!" seru seseorang membuat Minho berbalik.
Sebuah pita berwarna emas melayang cepat terbawa angin ke arahnya. Pita itu melayang ke atas. Dengan refleks yang cepat, Minho segera menaiki pagar pembatas jalan dan melompat. Tangannya melujur panjang dan berhasil menangkap pita tersebut.
"Terima kasih!" ujar pemuda yang tadi berteriak padanya. Napas pemuda itu terengah, di satu tangannya terdapat sebuah buket bunga besar.
Minho mengulurkan pita ditangannya, "Ini,"
"Ah, iya. Tolong pegangi buket ini dulu," sahut pemuda itu dengan sebarangan menyodorkan buket besar itu ke tangan Minho selama ia sendiri mengikatkan ulag pita itu di leher buket bunga.
"Sekali lagi terima kasih, ya!" ujar pemuda itu mengambil kembali buket di tangan Minho.
Minho hanya mengangguk.
"Nah! Sekarang tinggal antar ke ruang CEO Eun Tae," ujar pemuda itu pada dirinya sendiri.
Minho yang mendengar nama targetnya dan betapa mudah pemuda biasa ini mendekati sang target membuatnya tersentak.
"Ada apa?" tanya pemuda yang lebih pendek dari Minho tersebut memiringkan kepalanya bingung.
"Oh! Maaf, aku belum mengenalkan diri, ya? Uhum! Aku Lee Taemin, dari toko bunga 'Guns in Roses'. Ini kartu namaku," ujar pemuda itu menyodorkan kartu namanya pada Minho.
Minho mendengar nama toko bunga itu tidak dapat menahan tawanya, "Kau tidak kena tuntutan hak milik?"
"Hey! Aku mati-matian tahu memberikan nama untuk tokoku!" protes Taemin.
Minho tidak membalas.
"Pokoknya, karena kau sudah membantuku, aku akan memberikanmu diskon. Hanya separuh harga untuk satu buket! Ah, tapi hanya berlaku sekali saja, ya. Kalau terlalu sering aku bisa bangkrut," ujar Taemin banyak bicara.
Minho mengangguk, "Terima kasih,"
"Alamat tokoku sudah tertulis di kartu namaku. Aku duluan, ya. Ada bunga yang harus kuantarkan!" ujar Taemin sambil berlalu.
Minho menunduk, memandangi kartu nama di tangannya.
'Ini kesempatanku,'
.
Klining!
"Selamat datang! Oh! Kau yang tempo hari membantuku itu, 'kan? Kau ingin buketmu sekarang?" sambut Taemin menghampiri Minho.
"Untuk itu, bisa kau ganti buket bunganya dengan memberikan saya pekerjaan?" tanya Minho.
"Eh?"
"Saya butuh pekerjaan. Saya rela dibayar berapapun. Tolong pekerjakan saya," ujar Minho membungkuk di depan Taemin.
"He-hei! Jangan membungkuk begitu! Aku jadi tidak enak untuk menolakmu, tahu!" protes Taemin berusaha menegakkan tubu Minho.
"Kumohon! Saya butuh sekali pekerjaan!" ujar Minho tidak bergeming.
"Iya! Iya! Akan kupekerjakan!" ujar Taemin akhirnya. Minho pun kembali menegakkan tubuhnya.
"Kau ini aneh sekali, sih?" protes Taemin kembali menuju kasir.
"Terima kasih, boss!" sahut Minho.
"Hhh, aku menuntut pekerjaan yang bagus, ya! Pertama-tama aku memintau untuk membantuku merawat bunga-bunga di belakang. Jangan lupa disiram tiap pagi dan sore. Memupuk juga. Nanti akan aku ajari bagaimana caranya. Lalu, kau juga yang bertugas mengangkat benda-benda berat. Kau juga kutugaskan menjadi kurir antar. Bagaimana? Kau masih mau bekerja di sini?" tantang Taemin.
"Tentu," sahut Minho menghampiri Taemin berusaha membuat wajahnya terlihat meyakinkan.
"Okay! Aku mengharapkan karyawan yang rajin. Nah, ayo ke belakang. Kutunjukkan cara merawat bunga," ujar Taemin melempar celemek pada Minho.
'Selama aku bisa menyusup ke dalam gedung perusahaan itu, apa saja akan kulakukan,'
.
"Minho~ tolong angkut bunga-bunga ini ke area display!"
"Minho~ tolong antar bunga ini!"
" Minho~ tolong belikan pupuk yang 5 kg, ya!"
"Minho~"
'SIALAAAAANNN! Ini namanya perbudakan!' gerutu Minho dalam kepalanya.
"Taemin-ssi, tolong. Saya juga manusia," ujar Minho mengacak rambutnya frustasi.
"Hm? Padahal aku menawarkan snack dan istirahat sebentar. Tidak jadi deh kalau begitu,"
"Tunggu! Saya terima senang hati," cegah Minho cepat dan melepaskan apron dan sarung tangannya.
"Hehehe. Snack dan teh nya ada dibelakang. Nikmatilah. Aku akan jadi kasir," ujar Taemin ceria.
Minho menghela napasnya lelah. sudah beberapa minggu ia bekerja di sini namun belum ada permintaan buket bunga dari targetnya. Apa dia sudah salah langkah? Apa jangan-jangan pemesanan bunga itu hanya sekali waktu? Ah, tapi tidak mungkin. Kalau bukan pelanggan tetap, tidak mungkin targetnya dengan sembarangan membiarkan orang asing mendekatinya. Lihat saja keamanan gedung itu.
Minho memakan cookies buatan tangan Taemin dan segera dikeutkan oleh rasa yang... uhm, abstrak.
"Uhuk! Uhuk! A-apa ini?!" ujar Minho bertanya pada dirinya sendiri.
Segera diraihnya secangkir teh mengepul hangat di hadapannya dan... kembali terbatuk.
"Asin! Sialan, dia ingin meracuniku, ya?!"
Mendengar keributan yang disebabkan Minho, Taemin segera menghampiri.
"Minho! Jangan ribut! Untung sedang tidak ada tamu. Kalau ada, aku bisa malu tahu!" gerutu Taemin.
"Yang seharusnya marah itu aku! Apa-apaan rasa cookies dan teh yang asin ini?!" bentak Minho.
"Eh? Aku pasti ketukar antara gula dan garam lagi, ya? Hehe, maaf ya!" sahut Taemin santai.
Wajah Minho memerah kesal, 'Jangan bercanda! Sampai kapan aku harus melakukan ini semua? Bersama... boss gila ini?!'
"Maaf, maaf. Jangan membuat wajah menyeramkan begitu. Akan kubuatkan teh lagi dengan gula," ujar Taemin mengambil cangkir di tangan Minho. Taemin pun ssegera berlalu untuk memperbarui teh Minho.
Minho membanting tubuhnya ke kursi dan melempar pandangan benci pada cookies di atas piring. Taemin segera kembali dengan dua cangkir teh di tangannya. Taemin mengulurkan satu cangkir pada Minho yang menerimanya penuh kecurigaan.
"Pakai gula, kok. Sudah kupastikan dengan mencicipinya sedikit," ujar Taemin tertawa kecil melihat tingkah skeptis Minho.
Minho menyesap kecil teh di cangkirnya, memastikan rasanya manis. Minho mengerutkan alisnya.
"Kurang manis," komentarnya.
"Huh? Sudah kumasukkan dua blok gula, lho!"
"Empat. Biasanya aku minum dengan empat blok gula dan krim," sahut Minho.
Taemin hanya diam memandangi Minho.
Minho yang merasa diperhatikan melirik Taemin dari sudut matanya, "Apa?"
"Ah, tidak. Hanya... fufu, tidak disangka Minho punya sisi manis ya. Ahh, imutnya!"
Minho merasa pipinya terasa menggelitik dan panas.
"Jangan sebarangan dlaam bicara." kau tidak tahu siapa dan apa yang kulakukan sebenarnya.
"Buu~ dasar tidak seru. Tidak perlu marah begitu 'kan? Oh! Apa jangan-jangan..."
"Apa lagi?" sahut Minho mendengus.
"Tsundere, ya?"
"Boss, kau ini benar-benar ya."
"Hahahaha, aku hanya bercanda, 'kok! Ngomong-ngomong, kau sadar tidak? Sejak tadi kita berhasil berbicara santai, lho!"
"...heh?"
"Hehe, habisnya Minho selalu bicara dengan kaku dan sopan, sih! Padahal kau karyawanku satu-satunya. Aku 'kan ingin lebih akrab denganmu," protes Taemin tersenyum manis.
"...memang, apa untungnya juga akrab denganku?"
"Bukan masalah untung atau bagaimana... aku hanya senang bisa dekat dengan orang lain. Aku sulit dapat teman, sih," sahut Taemin menyelesaikan secangkir tehnya.
"Tidak kelihatan seperti itu," sahut Minho mengangkat satu alisnya.
"Masa'? Hahaha, tapi... memang begitu kenyataannya. Mereka memandangku sebagai laki-laki manis, berpikir perlaku dan ucapanku semanis penampilanku. Mereka yang seenaknya berpikir demikian, mereka sendiri yang seenaknya kecewa," lirih Taemin menatap ujunga sepatunya.
"Memangnya kau kenapa?"
"Heh? Minho... tidak sadar?"
"Apanya?"
"Aku sarkastik, tukang suruh, kikuk, dan asal asalan," jelas Taemin.
"Hmmm, begitu ya? Memangnya kenapa dengan begitu?" tanya Minho cuek.
"...eh?"
"Menurutku kau normal saja. Ya, sedikit menyebalkan memang. Tapi... menurutku kau orang baik dan tidak pantas diperlakukan seperti itu," setidaknya kau tidak pernah melimuri tanganmu sendiri dengan darah
Taemin hanya terdiam membuat Minho penasaran.
"Hoy, kau kena-"
Ucapan Minho terhenti ketika melihat wajah Taemin yang memerah dan bibir yang nampak seolah berusaha menahan senyuman. Kedua tangan Taemin berada di pipi. Pemuda itu terlihat bahagia sekali. Melihat wajah Taemin yang seperti itu, Minho merasa dirinya sendiri juga menjadi aneh. Perutnya melilit, dadanya tidak mau tenang dan rasa menggelitik di pipi itu kembali.
"Te-terima kasih... Minho," ucap Taemin pelan.
"Ti-tidak masalah,"
Dan kecanggungan kembali menghampiri mereka.
Klining!
"Permisi!"
Minho tidak pernah merasa sebahagia ini saat pelanggan datang.
.
.
Sejak hari itu, entah kenapa aku jadi sedikit canggung dengan Boss. Aku mengacak rambutku sendiri dan melenguh frustasi. Aku tidak mengerti ada apa dengan diriku sendiri. Rasanya... aku jadi tidak bisa tenang kalau berada dekat dengan Taemin-ssi. Kenapa aku jadi aneh begini? Sial!
"...kalau terlalu banyak terdistraksi begini... aku bisa gagal dalam misi dan menjadi sampah," gumamku pada diriku sendiri.
Aku baru akan masuk toko bungan miliki Taemin-ssi saat aku dikagetkan dengan tulisan 'CLOSED' besar di pintu.
"...huh? Aku tidak diberitahukan kalalu hari ini akan libur?" ujarku pada diriku sendiri.
"Itu karena aku ingin Minho datang," sahut sebuah suara mengagetkanku.
Tidak biasanya aku kaget. Aku pasti terlalu terdistraksi hingga tidak menyadari seseorang di belakangku.
"Selamat pagi, Taemin-ssi... dan apa maksudmu?" sapaku pada Taemin-ssi yang berdiri di belakangku.
Taemin-ssi beridiri dengan menyanggah di satu kaki. Ia mengenakan trench coat dengan hood berwarna cokelat terang. Dibalik trench coat nya, aku bisa melihat cardigan berwarna merah marun dan kemeja sederhana berwarna putih. Kakiny ayang jenjang dibalut jenas gelap yang agak ketat. Ia menggunakan boots sederhana sewarna tanah sebagai alas kaki. Rapi sekali. Mungkin Taemin-ssi ada keperluan dengan orang penting?
"Ha-hari ini... bagaimana kalau... uh, itu..." ucap Taemin-ssi ragu.
"Ya?"
"A-aku ingin kencan denganmu! Ke-kencanlah denganku hari ini!" serunya tiba-tiba membuat kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang.
"...kencan?"
"Iya. Minho... tidak mau ya?" tanyanya sedih. Rasanya aku bisa melihat telinga kucing yang melipat sedih.
"Bukan begitu. Aku hanya belum pernah kencan. Aku tidak tahu cara melakukannya," sahutku jujur.
Tu-tunggu! Apa yang kukatakan! Harusnya aku menolaknya! Dasar bodoh! Aku tidak seharusnya membangun hubungan interpersonal dengan orang-orang yang-
"Benarkah? A-aku juga jarang pergi berkencan," sahut Taemin.
"Kalau begitu, biar kucari di internet dulu,"
Bukan! Bukan! Harusnya 'kan 'kurasa ini ide yang buruk sebaiknya kita pulang saja,' 'KAN?!
"Ba-bagaimana kalau kita pergi ke cafe dulu? Kau pasti kedinginan, Minho. Kau hanya memakai jaket tipis," ujar Taemin meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Uh, baiklah," sahutku seolah disihir dan membiarkanku diseret oleh Taemin.
Kami kini duduk berhadapan dan menikmati kopi yang kami pesan. Suasana diantara kami canggung. Aku pun mengeluarkan ponselku dan mencari tahu apa yang sekiranya dilakukan orang-orang untuk kencan pertama. Aku memang tidak pernah pergi main apalagi berkencan. Aku sibuk.
Ya, sibuk membunuh orang lain sebagai bentuk bisnis keluarga
"Apa kau sudah menemukan sesuatu, Minho?" tanya Taemin.
"Hum? Oh, ada beberapa sugesti. Theme park, Museum, Dancing Class, Cooking Class, Bar..."
"Bosan!"
"Eh?"
"Ah, tidak maksudku-"
Bosan? Tapi, Taemin-ssi bilang ia jarang berkencan, 'kan?
"Kalau begitu... bagaimana kalau planetarium?" usulku.
"Planetarium? Pfftt! Minho ini kencan, bukan study tour anak sekolah," ujar Taemin menahan tawanya.
Perilakunya itu...
"Kau sepertinya sudah berpengalaman dalam berkencan, Taemin-ssi," ujarku
"Eh? Ah, tidak- aku-"
"Meski kau mengatakan jarang berkencan tadi," potongku menatap matanya.
Taemin terdiam. Matanya tidak membalas menatap.
"Sudahlah. Ayo, pergi. Planetarium tidak masalah, 'kan?"
Taemin ikut bangkit dan mengikutiku dalam diam.
Taemin-ssi... tidak pandai berbohong.
.
Kami duduk di dalam planetarium. Aku menatap bintang-bintang dengan kagum. Aku selalu menyukai langit malam yang terbentang luas dengan bintang yang menghiasinya. Entah kenapa rasanya nostalgik sekali.
"Maaf," bisik Taemin tiba-tiba.
"Maaf kenapa?" tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari bintang-bintang.
"Maaf. Kau marah padaku, 'kan? Karena... aku sudah berbohong," bisiknya lagi.
Oh, soal itu
"Aku... hanya tidak ingin Minho menjauhi ataupun membenciku," bisiknya lagi.
"Bisa lakukan nanti? Aku berusaha mendengarkan penjelasan rasi bintang," ujarku dan Taemin segera menutup mulutnya.
Kami kini duduk berhadapan di sebuah restoran keluarga. Aku memesan steak dan Taemin memesan lunch set sederhana.
"Ah, kau bisa lanjutkan pembicaraan tadi," ujarku.
Taemin mengangkat kepalanya, "Kau kejam Minho,"
"Huh?"
"Kalau aku perempuan aku pasti akan mengatakan itu. Tapi, aku laki-laki dan sudah cukup dewasa. Jadi, aku akan melanjutkan pembicaraanku. Karena, aku tidak ingin ada kecanggungan diantara kita saat bekerja," ujar Taemin.
"Aku... sebenarnya sudah banyak berkencan," mulai Taemin.
"Ohh,"
"Banyak orang yang memiliki harapan tinggi dengan berkencan denganku. Namun, mereka meninggalkanku setelah kencan pertama. Katanya aku mengecewakan mereka. Aku tidak seperti ekspektasi mereka," ujar Taemin-ssi menjelaskan.
"Ekspektasi?" tanyaku tidak mengerti.
"Ya. Mereka berekspektasi aku adalah seorang pria manis, berbicara dengan nada halus dan sopan. Tapi mereka kecewa saat nyatanya aku seorang yang menyukai humor sarkastik, cara bicaraku juga asal-asalan. Pokoknya jauh dari ekspektasi mereka," jelas Taemin.
"Ohh."
"Tapi, kau berbeda. Kau tidak menampakkan wajah kecewa. Kau tidak mengomentari caraku beritngkah laku ataupun caraku bicara. Aku menyukai sisimu yang seperti itu. Karena itu... aku tidak ingin mengecewakanmu. Aku ingin setidaknya dapat memenuhi ekspektasimu," ujarnya jujur.
Aku memandangnya, "Ekspektasiku? Taemin-ssi yakin bisa memenuhi ekspektasiku?"
"Uhm... itu..."
"Bercanda. Kalau boleh jujur, aku tidak ada ekspektasi apapun. Sudah kukatakan, ini pertama kalinya aku kencan. Mana bisa aku menetapkan ekspektasi kalau tidak ada yang bisa dijadikan pembandingnya? Lagipula, aku sudah lebih dulu jadi karyawanmu sebelum jadi teman kencanmu. Aku sudah paham betul perilakumu, boss," ujarku panjang lebar.
Taemin balas menatapku akhirnya.
"Mulai sekarang, dibandingkan memikirkan hal tidak penting begitu lebih baik kau menikmati kencan kita," ujarku menatap keluar jendela.
"Ba-baik!"
.
Mungkin sejak kencan pertama kami. Atau mungkin sejak jauh lebih lama dari hari itu. Tapi, kini sepertinya aku menjalani sebuah hubungan dengan Taemin-ssi. Memang mengejutkan. Aku sendiri saja terkejut.
"Bagaimana kalau kita berkencan, owner? Sekali saja! Aku akan membuktikan bahwa aku pria yang menarik!"
Lagi-lagi. Pelanggan yang hanya datang dan membeli bunga untuk menemui Taemin-ssi dan mengajaknya kencan.
"Maaf, tapi aku sudah punya kekasih," sahut Taemin-ssi penuh senyuman.
"Si-siapa kekasihmu itu?" tanya pelanggan itu.
"Tentu saja Minho!"
Prak! –ah, aku tidak sengaja menjatuhkan pot.
"Akh! Minho! Hati-hati saat mengangkut pot. Apa kau terluka?" tanya Taemin-ssi segera menghampiriku.
"Taemin-ssi... kita berkencan?"
"Hum? Iya, 'kan?"
"Kok aku tidak tahu?"
"Eh?"
Wajah Taemin-ssi segera memerah hebat.
"Ma-maaf! A-aku lagi-lagi dengan seenaknya berpikir yang tidak-tidak. Ukh, memalukan sekali. Harusnya aku mengetahui kalau Minho tidak ingin berkencan denganku!" gerutunya pada dirinya sendiri.
"Bukan begitu,"
WAIT! APA YANG KUKATAKAN?!
"Eh? Jadi... kita tetap berkencan? Senangnya! Kupikir Minho tidak suka padaku," ujar Taemin-ssi dengan wajah merona yang... manis sekali.
A-apa yang kupikirkan?!
"Aku cari udara segar sebentar."
Merasa kalut, aku segera berlari keluar toko. Aku menghirup udara sebayak-banyaknya. Berusaha menenagkan jantungku dan menghilangkan rasa panas menggelitik di pipiku. Aku sudah mulai tenang saat tiba-tiba ponselku bergetar menandakan telepon masuk.
Ah, ponsel dari paman.
"Halo?"
"Minho,"
"Ya, ada apa Paman?" tanyaku hati-hati.
"Bagaimana tugasmu yang kuberikan? Kuharap semuanya berjalan lancar," tanyanya.
"Uh, ya. Semuanya... baik-baik saja,"
"Benarkah?" tanyanya lagi penuh penekanan.
"Kenapa Paman menanyakan hal itu? Kupikir misi ini tidak memiliki batasan waktu?" sahutku balik.
"Ya, memang begitu. Tapi, meski begitu... aku tidak menyangka kau akan bermain-main, Minho," suara Paman berubah menjadi sangat dingin secara tiba-tiba.
"Eh?"
"Hahh... kau pikir Paman tidak mengawasimu? Paman tahu semua gerak gerikmu. Paman melepon karena kau sudah mulai diluar jalan, Minho," meski tidak melihat wajahnya, aku bisa membayangkan otot wajah Paman mengeras dan membentuk sebuah ekspresi marah.
"Apa maksud Paman?"
"...kau tahu Paman tidak suka tingakah pura-pura bodoh begitu. Apa ini karena anak itu?" tanya Paman tajam.
Taemin-ssi? Ka-kalau aku biarkan arah pembicaraan seperti ini... Taemin-ssi bisa..!
"Paman, aku hanya bermain agar orang-orang ini menurunkan kewaspadaan mereka. Untuk misi, aku memang belum mendapatkan kesempatan. Tapi, tenanglah. Akan segera kueselsaikan," ujarku dengan nada datar dna dingin seperti biasa.
"...baiklah. Paman percaya padamu. Kali ini pun lakukan dengan sepurna, Minho," perintah Paman dan menutup teleponnya.
Aku kembali memasukkan ponselku ke kanntung. Aku memasuki toko kembali.
"Minho, tolong kunci pintunya. Sudah jam tutup," ujar Taemin-ssi.
"Baik," sahutku.
Aku mengunci pintu dan berbalik menatap Taemin-ssi yang tengah sibuk memasukkan kembali beberapa bunga ke dalam kamar pendingin. Entah apa yang merasukiku. Namun, tiba-tiba aku membawa tubuhnya ke dalam pelukanku.
"Mi-minho?"
Kepalaku kosong. Aku tidak ingin melepaskannya. Tidak ingin.
"Minho... ada apa?" tanya Taemin-ssi kali ini lebih lembut. Ia berbalik, mengusap sisi wajahku dan mengecup bibirku lembut. Aku membalas kecupannya. Melumat bibirnya hingga ia kehabisan napas.
"Ada apa? Tidak biasanya kau-"
"Habiskan malam ini denganku. Kau... mau, 'kan?" potongku.
Anggukan dari Taemin-ssi membuat perutku terasa melilit karena perasaan khawatir, cemas, dan kebahagiaan yang tak terhingga.
.
Toko lebih ramai hari ini. Mungkin karena sudah mendekati Holiday Season? Entahlah.
"Minho~ bisa kau antarkan buket ini?" pinta Taemin.
Taemin... akhir-akhir ini dia jadi lebih ceria. Syukurlah.
"Baik," sahutku.
"Untuk CEO Eun Tae. Kau tahu 'kan? Dia orang terkenal. Ah, bawa ini. Ini tanda pengenal khusus. Tolong ya! Ah, jaga buketnya baik-baik, selamat jalan," ujarnya dan kembali sibuk menata buket baru.
Ini... bisa dikatakan kesempatanku, 'kan?
Kalau begitu... sampai di sini saja, kah?
"Taemin-ssi," panggilku membuatnya berbalik.
"Ap-" Chu! Aku memotong ucapannya dengan kecupan.
"Minho! Kita sedang bekerja!" protesnya dengan wajah memerah.
Aku menatapnya sedih.
"Sekali lagi. Boleh kah?" pintaku.
Taemin menatapku ragu sebelum melingkarkan lengannya di sekitar leherku. Kami saling menikmati bibir satu sama lain hingga napas menjadi memburu. Aku menghentikannya dengan satu kecupan kecil lagi.
"Aku akan segera kembali" ujarku.
Bohong.
"Baiklah. Hati-hati, Minho," ujar Taemin tersenyum lebar.
Aku mengangguk dan mulai berjalan. Aku mengeluarkan ponselku dan men-dial satu nomor.
"Tolong siapkan alibi untukku, Paman,"
"Baiklah,"
.
Aku hanya bisa memandanginya dari jauh sekarang. Karena... baginya aku sudah mati. Hari itu, hari dimana aku membunuh CEO Eun Tae dan hari diaman aku mati. Aku tidak sungguh mati, hanya alibi. Paman membuat sebuah kecelakaan yang seolah merengutku dari dunia ini. Aku melihat Taemin dibanjiri air mata. Ia mengurus pemakanmanku. Ia membuat semua buket bunya sendiri. Ia menangis sendirian. Aku ingin menghampirinya, memeluknya, mengatakan bahwa semua baik-baik saja, bahwa aku akan selalu berada di sisinya. Tapi, itu semua tidak mungkin. Dunia kami terlalu berbeda. Aku tidak ingin menariknya ke dalam lubang kotor dimana aku hidup. Aku ingin ia hidup normal dan bahagia.
Aku menggelengan kepalaku. Mengusir semua pikiran yang tidak berhubungan dengan kewajibanku. Kalau tidak begitu, Paman bisa-
"Aku ingin kau membunuh Lee Taemin. Ini fotonya,"
Eh? Paman?
"Siapa laki-laki ini, Tuan? Dia tidak nampak berbahaya. Dia hanya seorang florist,"
"Dia menganggu Minho, membuat anak itu tidak fokus,"
A-apa? Tapi... aku menyelesaikan misi dengan baik!
"Tidak seharusnya pewaris organisasi ini melibatkan pikirannya pada hal-hal tidak penting. Kau ingin kau menyelesaikan ini dengan cepat. Lalu... jangan sampai Minho tahu. Buat semua seolah terlihat seperti bunuh diri atau kecelakaan. Kau mengerti?"
"Baik,"
Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku harus menyelamatkan Taemin! Tapi... aku tidak mungkin menang melawan semua-
...sial!
Aku tidak ingin tapi... aku tidak punya pilihan lain.
Changmin-hyung..!
.
.lol
Changmin mengusap lembut pipi Kyuhyun yang tertidur disampingnya. Diliriknya ponselnya dengan ragu. Semenjak Kyuhyun memecahkan kode dari Minho Changmin menjadi kebingungan. Ia ingin menolong adiknya. Hanya ia tidak tahu harus melakukan apa. Anak itu memang sejak dahulu kikuk. Sulit menyampaikan perasaan dan pikirannya pada orang lain. Bahkan pada Changmin, hyung nya sendiri. Selain itu Minho sendiri juga tidak meninggalkan banyak petunjuk yang bisa digunakan oleh Changmin.
Drrrtt!
Ponsel itu tiba-tiba bergetar. Menandakan datangnya sebuah panggilan.
Nomor tidak dikenal.
"Hyung..." suara lemah diseberang terdengar di telinga Changmin.
"Minho," sahut Changmin. Perlahan pemuda jangkung itu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju ruang makan diaman ia bisa lebih leluasa berbicara dengan Minho tanpa membangunkan Kyuhyun.
"Hyung..." panggil Minho lagi. Suara terdengar lelah.
"Minho, tenanglah. Hyung pasti akan menyelamatkanmu," janji Changmin.
"Bukan. Bukan aku," bantah Minho.
Changmin mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"Taemin. Lee Taemin. Tolong selamatkan dia," pinta Minho.
"Lee... Taemin? Siapa dia?" tanya Changmin hati-hati. Berharap siapapun itu, ia bukanlah seseorang yang memiliki hati Minho.
"Kekasihku."
Jantung Changmin terasa jatuh ke kakinya. Minho jatuh cinta. Adiknya yang menggemaskan itu jatuh cinta. Changmin ingin merasa bahagia untuk adiknya itu. Hanya saja, dengan posisi Minho dna kondisi keluarga mereka Hcnagmin paham. Ini semua sama artinya dengan membunuh hatimu sendiri.
"Minho-ya..."
"Aku akan membunuh Shim-appa," ujar Minho tiba-tiba.
"Apa yang kau pikirkan! Kau akan mati!" bentak Changmin berusaha mengubah pikiran adiknya itu.
"Selama aku merencanakan pembunuhan ini. Tolong jaga Taemin untukku," ujar Minho seolah tidak mendnegarkan perkataan Changmin.
"MINHO!"
"Terima kasih sudah menjaga Taemin untukku, Changmin-hyung. Kau memang yang terbaik. Selamat tinggal."
"MINHO-YA!"
Panggilan terputus.
Changmin dengan panik berusaha menyambungkan kembali panggilan namun tidak memberikan hasil berarti. Sebuah tangan dengan lembuh mengusap punggung Changmin yang bergetar.
"Changminnie?"
Changmin berbalik dna memeluk Kyuhyun erat.
"Gwenchana?"
Changmin menggeleng. Air mata mengalir di pipinya.
"Yang tadi Minho?"
Changmin mengangguk.
"Apa yang ia inginkan?"
Channgmin mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun, "Ia ingin aku menjaga kekasihnya."
"Kenapa?"
"Karena ia akan membunuh dirinya sendiri dengan berusaha melawan appaku."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
Changmin tidak menjawab.
"Apa yang ingin kau lakukan, Changmin?"
"Aku tidak ingin lari lagi."
Kyuhyun tersenyum lemah.
"Aku akan menjebak ayahku. Aku tahu ciri khas cara kerjanya. Aku akan menangkapnya. Mengurungnya di pejara paling ketat di korea. Tidak akan kubiarkan siapapun menderita karen appa."
Kyuhyun tersenyum lebar, "Itu yang ingin kudengar darimu."
Changmin membalas senyuman Kyuhyun dan mengecup bibir kekasihnya lembut.
"Aku ingin kau menyembunyikan Taemin. Ajak inspektur Kim bersamamu."
Kyuhyun memukul dada Changmin ringan, " Jangan memerintahku. Aku tahu apa yang kulakukan."
Changmin tertawa kecil, "Benar juga, ya."
Keduanya kembali saling berbagi kehangatan. Mempersiapkan diri untuk mimpi buruk yang akan menghampiri mereka. Mungkin ini akhirnya, pikir mereka berdua. Akhir dari pelarian mereka. Akhir dari rasa sakit dna takut yang selama ini selalu menhantui tidur mereka.
'Dengan ini... semuanya akan berakhir.'
.
.
.
To be continued
Hey, guys! I know! I know! It almost a year since the last time I updated this story.
I'm busy, okay? Like seriously. I have classes and part-time job.
BTW! I recently watch Produce 101 –or more like BRODUCE 101. So yeah, I become some sort of some of the boys fans like Sewoon, Seonho, and Dongho (or NU'EST in general). Don't judge me! And I HAVE A LOT OF NEW SHIPS! If you want to talk to me about it, just send me some message!
Oh yeah, about the story itself. I might end it for one or two chapter after this one. Don't be disappointed. I might write another story for you guys!
Only if I get any review that asking me to do so LOL.
If you want any specific pairing or prompt you'd like for me to write a story about it just send me an email! I'll give you my email address if you message me first!
I think that's all!
THANK FOR YOUR SUPPORT, GUYS!
