Monochrome by Path of Heaven
T rated (please be at least 16, ok?)
ChangKyu
Mystery, Adventure, Romance, Action
Warning: Inappropriate Language, Mentioned Sexual Activity, Gruesome Crime, Mentioned Murder, etc
SO SORRY FOR THE SUPER LATE UPDATE! Life's never easy, y'know? For my older reader, i'm very sorry. I don't know if you guys even remember the story. Haha. Btw, i don't have much response (review or follow) from Ffnet so... i might want to publish my next work on different platform like tumblr? Sorry!
p.s. as always sorry for the typo(s)!
.
.
"Aku akan membunuh Shim-appa."
"Apa yang kau pikirkan! Kau akan mati!" "Selama aku merencanakan pembunuhan ini. Tolong jaga Taemin untukku."
"MINHO!"
"Terima kasih sudah menjaga Taemin untukku, Changmin-hyung. Kau memang yang terbaik. Selamat tinggal."
"MINHO-YA!"
.
"Aku tidak ingin lari lagi."
.
Keduanya kembali saling berbagi kehangatan. Mempersiapkan diri untuk mimpi buruk yang akan menghampiri mereka. Mungkin ini akhirnya, pikir mereka berdua. Akhir dari pelarian mereka. Akhir dari rasa sakit dna takut yang selama ini selalu menhantui tidur mereka.
'Dengan ini... semuanya akan berakhir.'
.
.
Changmin menggunakan segala cara untuk melacak keberadaan Minho. Adiknya itu harus segera dihentikan sebelum melakukan tindakan bodoh yang hanya menyia-nyiakan nyawanya. Ia memang ingin menghentikan Appanya sendiri, namun sebelum itu dia harus menyelesaikan masalah antara dirinya dan Minho. Meluruskan segala kesalahpahaman dan menyampaikan rencananya pada Minho.
"Bagaimana? Apa Minho sudah ketemu?" Kyuhyun menghampiri Changmin dengan segelas wiski.
Changmin menegak wiski tersebut dengan kasar hingga membakar tenggorokannya dan menghela napas keras, "Tidak ada kemajuan. Sudah kuduga. Semua anggota organisasi sangat pintar dalam menutupi jejak mereka. Minho menggunakan burner phone setiap kali menghubungiku dan semua burner phone itu selalu ketemukan di tempat pembuangan sampah."
Kyuhyun mengangguk mengerti, "Tapi, kau sudah periksa semua sejarah panggilannya padamu?"
"Apa maksudmu?" Changmin menatap Kyuhyun tertarik.
"Ya... siapa tahu dia menggunakan pay phone?" Kyuhyun mengangkat bahunya.
"Pay phone?"
"Telepon koin, Changmin!" Kyuhyun berteriak tidak sabar.
"Ah... biar kuperiksa sebentar," Changmin menuruti perintah Kyuhyun.
"Selain itu, beritahu dimana saja lokasi Minho membuang burner phone miliknya." Kyuhyun menghapus segala tulisan Changmin di papan putih di apartemen mereka dan menepelkan peta di sana.
"Untuk apa?" tanya Changmin bingung.
"Duh! Geographic profiling, lah!" Kyuhyun berdecak pinggang menatap Changmin kaget.
"Oh, ya. Ya. Tentu saja. Uhm, sebentar," Changmin terbata canggung dan kebingungan.
Kyuhyun menghampiri Changmin dan memeluk pemuda itu dari belakang, "Kau kacau."
Changmin tidak menjawab.
"Kau yang biasanya selalu keren dan suka bercanda jadi ceroboh dan bodoh,"
Changmin masih diam.
"Kalau kau ingin menyelamatkan Minho, kau harus tenang dan biarkan otakmu berpikir. Changmin yang ceroboh ini... bukan Changmin yang kukenal," Kyuhyun menyusupkan wajahnya pada tengkuk Changmin. Menghirup aroma maskulin yang sangat ia sukai.
"Aku tahu. Hanya saja... perasaanku tidak mau tenang. Untuk pertama kalinya, aku tidak bisa berpikir jernih. Seandainya kau tahu seberapa berbahayanya pria itu, kau pasti juga akan kehilangan akal sehatmu, Kyu," Changmin berbalik dan membawa Kyuhyun pada pangkuannya. Kali ini ia yang menyerukkan wajahnya pada perpotongan leher Kyuhyun. Menghirup aroma maskulin yang tertutupi bau buah-buahan dari shower gel yang Kyuhyun gunakan.
"Mungkin. Atau mungkin aku justru semakin bersemangat. Tidak setiap hari detektif privat seperti kita bisa main-main dengan ikan besar begini, 'kan?" Kyuhyun tertawa saat Changmin mendengus dan menggelitik lehernya dengan raspberry kiss.
"Aku sungguh tidak ingin melibatkanmu dalam urusan ini," Changmin menatap mata Kyuhyun berusaha menyampaikan kekhawatirannya.
Kyuhyun menyeringai kecil, "Tapi, Minnie~ bukankah sudah waktunya aku memberi salam pada ayah mertua?"
"You're ridiculous."
Untuk pertama kalinya dalam beberapa jam terakhir bahu Changmin rileks dan suara tawa keluar dari bibirnya. Kyuhyun tersenyum melihat wajah tertawa Changmin. Ia mengecup ringan bibir itu dan segera turun dari pangkuan Changmin.
"Nah, ayo kembali bekerja!"
.
.
Minho baru bertemu dengan salah seorang penjual senjata langganannya di pasar gelap. Ia merogoh saku celananya dan membuka pintu apartemen yang disewanya beberapa hari terakhir. Apartemen itu gelap. Minho sengaja membiarkannya demikian. Ia tidak ingin siluet senjata api sampai terlihat oleh orang-orang di sekitar sini. Minho menyimpan senjatanya di lemari sepatu di sebelah pintu masuk dan mulai memasuki apartemennya hingga ia menyadari ada seseorang di apartemennya. Minho segera menarik revolver Beaumont-Addams kaliber .338 miliknya dan bersiap menembak siapapun yang berhasil membobol apartemennya.
"Tahan tembakanmu, Minho-ya."
Minho segera menjatuhkan revolvernya dan menatap Changmin tidak percaya, "Hyung?"
"Aku melihat beberapa orang suruhan appa di kota sebelah. Kau sudah ketahuan, Minho. Menyerahlah," Changmin berucap sambil berjalan mendekati Minho.
"Tidak. Tunggu. Tapi, aku bahkan belum mulai!" Minho meremas rambutnya kebingungan. Wajahnya pucat.
Changmin mengulurkan borgol pada Minho, "Kalau begitu serahkan dirimu."
"H-huh?"
"Aku kemari untuk menahanmu, Choi Minho," Changmin memasangkan borgol pada kedua tangan Minho. Anak itu memberontak.
"Kau ingin aku terbunuh?!" Minho berteriak murka.
Changmin memijat dahinya, "Tolong jangan berteriak. Sudah dua hari aku tidak tidur. Dengar, appa memang seorang pembunuh. Tapi, kau sendiri sadar 'kan bahwa pria itu bukan pembunuh biasa. Pria itu pebisnis handal dan pembunuh yang bijaksana. Kau memiliki banyak informasi mengenai organisasi miliknya, Minho. Jika kau terbunuh dalam penjara maka akan terjadi revolusi besar-besaran dalam kepolisian. Koneksinya dalam kepolisian dan pemerintahan akan terbongkar. Tentu saja pria itu tidak akan menginginkannya, bukan?"
Minho terdiam, nampak berpikir dan mempertimbangkan ucapan Changmin.
"Aku hanya menahanmu untuk persoalan penculikan dan percobaan pembunuhan Cho Kyuhyun, tenang saja. Kau tidak akan di penjara selama itu," Changmin menarik tangan Minho yang sudah pasrah dan memasangkan borgol.
Changmin menatap anak itu kasihan. Anak itu begitu shock rencananya telah gagal, ya? Changmin menemui Inspektur Kim di depan pintu gedung apartemen. Inspektur itu mengangguk dan segera memaksa Minho masuk mobil patroli milik kepolisian.
"Changmin, setelah ini-"
"Aku tidak akan lari. Tenang saja. Sudah kukatakan aku akan membantumu mendapat promosi, 'kan?" Changmin masuk ke mobil dan mengambil posisi di sebelah kursi pengemudi.
Inspektur Kim menghela napas menyerah dan segera memasuki mobil. Menyusuri jalan gelap menuju kantor kepolisian.
.
.
Minho ditahan sampai persidangannya dilakukan sekitar tiga bulan lagi. Ia diperbolehkan menemui tamu setiap hari sesuai janji mereka pada Changmin. Changmin mendatangi Minho hari itu dengan beberapa berkas. Minho menatap sepupunya dengan heran.
"Minho, ini semua berkas kematian tidak terduga yang memberikan keuntungan pada satu pihak khusus. Apa diantara mereka ada yang merupakan target organisasi?" Changmin meletakkan semua berkas-berkas itu di hadapan Minho.
"Untuk apa, hyung?" Minho mengikuti perintah Changmin, namun tentu saja ia penasaran apa tujuan Changmin sebenanya.
"Untuk sekarang, lakukan saja dulu apa yang kuperintahkan," Changmin menyahut singkat dan tidak membiarkan Minho untuk bertanya lebih jauh.
"Ah, ini. Pria ini, kalau tidak salah appa sendiri yang merencanakan pembunuhannya," Minho menunjuk satu foto seorang pria lansia dengan wajah yang tegas dan tampan. Pria itu seorang pebisnis handal yang kekayaaannya kemudian dibagian merata kepada seluruh sanak keluarganya karena ia sendiri tidak menikah dan tidak memiliki anak.
Changmin mengambil berkas pria itu. Kematiannya nampak sangat normal, seolah karena penyakit dan usia. Tidak ada sanak keluarga maupun rekan bisnis yang nampaknya memiliki masalah dengan pria itu. Pria itu juga tidak pernah bersikap curang atau menipu klien miliknya. Catatannya bersih. Tidak ada pihak tertentu yang diuntungkan secara sepihak akibat kematiannya. Polisi hanya memeriksa kematian pria ini karena ada satu anggota keluarga yang memaksa bahwa kematian pamannya adalah akibat pembunuhan, bukan karena sakit atau usia. Polisi tidak menemukan apapun dan semua tersangka memiliki alibi. Anggota keluarga yang melaporkan pembunuhan pamannya tersebut kemudian terbunuh dalam sebuah percobaan perampokan. Perampok itu tidak pernah tertangkap hingga saat ini.
"Setidaknya pembunuhan pria itu paman yang merencanakan. Pembunuhan keponakannya bukan perbuatan paman. Terlalu ceroboh, 'kan?" Minho menjelaskan.
Changmin mengangguk, "Sudah jelas pelakunya salah satu keponakannya sendiri atau pasangan keponakannya. Polisi terlalu bodoh. Lalu, apa ada yang lain?"
"Kau mengharapkan apa, hyung?" tanya Minho.
"Kasus seorang politis atau seorang dari kepolisian."
Minho mengerjapkan matanya, "Kenapa?"
Changmin tersenyum miring, "Aku ingin menghabisi kaki tangan pria itu, Minho."
"Kaki tangannya? Kau gila, ya! Kau lupa sebesar apa organisasi pria itu?" Minho mendesis sambil melirik ke arah kamera pengawas.
"Aku tahu. Aku tidak gila dan mengatakan akan menghabisi organisasi appa. Tujuanku adalah membuat pria itu gelisah," Changmin mulai berbicara tanpa menatap Minho.
Minho menunduk. Memikirkan apa yang dikatakan Changmin.
"Kita tidak mungkin bisa mengalahkannya, Minho." Changmin berkata tegas.
"Dengan kata lain, kau membiarkan kejahatan pria itu berlanjut? Kupikir kau disisi keadilan sekarang?" Minho menatap sinis Changmin.
"Kau tidak realistis, Minho. Kita, kepolisian, tidak cukup dan tidak akan pernah cukup untuk menghancurkan pria itu dan organisasinya," Changmin menatap Minho, menantang pemuda itu untuk membantah ucapannya.
"...aku tahu."
"Karena itu, yang bisa kulakukan hanya sebatas menyelamatkanmu dan Lee Taemin-ssi," Changmin kembali berbicara.
"Menyelamatkanku? Bagaimana kau akan melakukannya?"
"Sudah kukatakan, aku akan mengganggunya dan membuatnya gelisah. Aku akan mengganggu pergerakan organisasinya, menangkap teri-teri kecil dari organisasinya. Ia akan memanggilku begitu ia merasa gerakanku terlalu mengganggunya. Dan saat itulah, Minho –aku akan mengajaknya berbisnis seperti yang ia sukai," ucap Changmin penuh percaya diri.
Senyuman Changmin yang begitu percaya diri itu meyakinkan Minho untuk mempercayakan dirinya dan Taemin pada hyungnya.
"Kalau begitu... mungkin hyung bisa mulai dari kematian officer Hwang."
"Officer Hwang?" Changmin mulai mencari berkas pria bernama Hwang itu dari tumpukan berkas yang ia bawa.
"Pria itu mati tahun 2011 lalu, musim gugur seingatku. Dia dibunuh oleh seorang tersangka pembunuhan dan pemerkosaan," ucap Minho berusaha memberikan detil orang yang ia maksudkan.
Changmin melirik Minho dan tersenyum kecil. Minho memang jadi cerdas kalau sudah tenang. Lihat saja daya ingatnya. Luar biasa, bukan?
Changmin menemukan berkas milik pria bernama Hwang itu. Berdasarkan hasil uji foreksik tercatat ia mati oleh pendarahan kepala. Ia diserang dari belakang dengan benda tumpul. Serangan pertama sepertinya tidak terlalu kuat dan hanya membuat pria itu tidak sadarkan diri. Ada bukti pencekikan dan kepala office Hwang itu dibenturkan ke dinding berkali-kali hingga tulang kepalanya pecah. Benar-benar mengerikan. Melihat modus operasi pelaku, sepertinya pelaku memiliki dendam pribadi terhadap officer Hwang dan dikuasi oleh amarah ketika melakukan penyerangan.
"Aku kurang tahu keuntungan dari kematian pria itu. Tapi, ahjusshi sangat membangkan kesuksesan klien itu," Minho menambahkan.
Changmin mengangguk, "Mungkin dengan kematian pria ini ada pihak yang berhasil mendapatkan promosi dan hal tersebut tentunya bisa menguntungkan appa, karena memiliki informan dalam kepolisian."
Changmin menutup berkas tersebut dan segera keluar ruangan.
"Hyung! Kau melupakan berkas-berkasmu yang lain!" Minho berseru mencegah Changmin.
Changmin berbalik dan tersenyum jahil, "Itu tugasmu, Minho-ya!"
"Huh?"
"Carikan target berikutnya! Kalau bisa yang lebih hebat lagi!"
Sambil tertawa karena mendengar umpatan Minho, Changmin berjalan dengan ceria menuju ruangan yang diberikan pihak kepolisian untuknya dan Kyuhyun.
.
.
"Kita dapat kasus! Ini kasus 7 tahun lalu. Mungkin akan agak sulit menggali bukti-bukti lagi!" ujar Changmin semangat dan membanting berkas ke meja.
Kyuhyun nampak tertarik dan segera membuka berkas di atas meja. Inspektur Kim tiba-tiba masuk, ia terlihat kepayahan.
"Changmin-ssi, bisa bantu aku bawakan barang bukti?" pintanya memelas.
Changmin menatap Inspektur itu iba. Padahal posisinya bagus tapi selalu kena penindasan. Kepribadiannya terlalu lemah, sih! Changmin hanya mengangguk kemudian mengikuti Inspektur Kim keluar.
"Jadi, sudah ada rencana?" tanya inspektur Kim basa-basi.
Changmin menjawab dengan anggukan, "Officer Hwang."
"Eh? Hwang-ssi itu kalau tidak salah-"
"Ada apa dengan Hwang?" suara yang terdengar tua itu tiba-tiba memotong.
"Letnan Park!" Inspektur Kim memekik kaget.
Changmin bersiul, "Sudah naik pangkat lagi? Bukannya gagal memenjarakanku?"
Inspektur Kim menyikut perut Changmin, meminta pemuda itu untuk berhenti menggoda pria tua pemarah di hadapan mereka.
Letnan Park memandang sinis pada Changmin, "Ada apa kalian membicarakan kematian partner-ku?"
Changmin mengangkat alisnya.
"Ah, tidak. Itu, Changmin-ssi, Kyuhyun-ssi, dan saya sedang-"
"Menggosip tentangmu!" potong Changmin. Senyumannya begitu lebar dan memperlihatkan hampir seluruh giginya.
Letnan Park memandang Changmin curiga, "Kalian tidak sedang membicarakan tentang keguguran partner-ku itu 'kan?" ucapnya curiga.
"Gugur? Oh, officer Hwang sudang meninggal?" Changmin berpura-pura kaget.
Wajah letnan Park memerah hebat karena marah, "Aku tidak suka kematian partnerku diusik oleh anjing liar sepertimu. Cepat selesaikan keperluanmu dan keluar dari sini, dasar anjing liar!"
Pria itu kemudian pergi dengan langkah menghentak yang menakuti semua petugas muda. Saking merahnya wajah pria itu Changmin rasanya bisa melihat asap keluar dari kedua telinga pria tua itu.
Inspektur Kim wajahnya mengekrut, "Changmin-ssi, kenapa kau berbohong?"
Changmin mengangkat bahunya, "Entahlah. Tapi, instingku mengatakan bahwa sebaiknya kita tidak mengatakan yang sesungguhnya pada pria tua itu."
"Kau masih dendam karena ditahan oleh Letnan Park?" tanya Inspektur Kim khawatir.
"Dendam? Tentu saja tidak. Kyuhyun melakukan kerja bagus untuk mempermalukan pria tua itu. Hanya… instingku mengatakan bahwa pria itu bukan polisi yang bisa dipercaya," terang Changmin.
"Hmm, dia memang seram, sih," gumam Inspektur Kim.
Changmin tiba-tiba berjongkok dan mengeluarkan suara tangis bohongan.
"Eh? Lho? Changmin-ssi?!" Inspektur Kim panik sendiri.
"Sedih. Padahal tidak muda lagi tapi bertindak sok imut! Menyedihkan! Kasihan!" raungnya membuat Inspektur Kim makin kebingungan.
Changmin tiba-tiba bangkit dan menepuk bahu Inspektur Kim penuh simpati, "Cepat cari istri sana."
"Maksudnya apa ini!"
Inspektur Kim tidak berhenti bergumam kesal sampai semua kardus barang bukti sudah mereka pindahkan.
.
.
"Lama!" seru Kyuhyun melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang wajah kesal. Inspektur Kim buru-buru sembunyi di belakang tubuh jangkung Changmin, ketakutan.
"Kyuhyun-ah~ kau merindukanku~?" Changmin berseru menggoda sambil berlari dengan tangan terentang bersiap memeluk Kyuhyun dan bugh!
Changmin terjatuh memegangi selangkangannya, "Masa depanku!"
Inspektur Kim buru-buru mengamankan selangkangannya.
"Kau tidak mau punya putra atau putri kita sendiri, ya?" erang Changmin.
Wajah Kyuhyun memerah, "Laki-laki tidak bisa hamil, bodoh! Penismu itu tidak berguna!"
Changmin tersenyum menggoda, "Tapi penis ini bisa memuaskanmu, sayang~"
Wajah Kyuhyun semakin memerah, mulutnya siap melemparkan balasan namun teriakan Inspektur Kim memotong perdebatan mereka.
"Aaaaaaaa! Aaaaaaaaaa! TIDAK DENGAR! TIDAK DENGAR! AKU TIDAK DENGAR APA-APA!"
Dari jendela ruangan dapat terlihat wajah-wajah bersimpati para officer muda. Kasihan senior mereka harus jadi babysitter para detektif privat gila itu.
Changmin dan Kyuhyun saling memandang.
"Salahmu!" desis Kyuhyun dan segera berbalik.
Changmin bangkit dan berusaha menenangkan Inspektur Kim.
"Aku sudah baca berkas milik officer Hwang dan beberapa kasus terakhir yang ia tangani," ujar Kyuhyun memulai dengan serius. Menunjukkan bahwa ia tidak main-main lagi. Kini saatnya bagi mereka untuk serius.
Kyuhyun menyodorkan sebuah berkas. Berkas itu berisikan detil hasil penyelidikan dan hasil persidangan dari sebuah kasus pembunuhan dan pemerkosaan yang ditangani oleh officer Hwang. Changmin menerima berkas itu dan mulai membaca dengan detil. Dahinya mengkerut. Ia tidak tahu pasti tapi ia paham bahwa ada yang ganjil dari kasus ini.
"Kau mengerti, 'kan?" tanya Kyuhyun pada Changmin yang sepertinya masih sibuk membaca berkas pembarian Kyuhyun.
"Uhmm… Pelakunya biseksual?" jawab Changmin ragu-ragu.
Kyuhyun memukul keras belakang kepala Changmin, "Baca daftar barang bukti."
Changmin menuruti ucapan Kyuhyun. Dahinya lagi-lagi mengkerut. Kyuhyun menghela napas.
"Aku yakin ada bukti yang diubah atau setidaknya tidak dilaporkan," ujar Kyuhyun terlalu bosan menunggu respon dari Changmin.
Changmin mengangguk-angguk mengerti, "Tapi, kenapa kau bisa menyadarinya, Kyu-ah?"
Kyuhyun tersenyum bangga dan membanting dua berkas kasus lain yang ditangani oleh officer Hwang.
"Polanya tidak sama. Officer Hwang memiliki kebiasaan untuk berbicara pada setiap saksi dan orang-orang yang mungkin terkait dengan kasus baru setelahnya melakukan pengecekan kebenaran alibi mereka. Pengecekan alibi biasanya melibatkan lebih banyak bukti wawancara dan hasil analisis labolatorium. Satu kasus, jumlah orang yang dimintai keterangan bisa melebihi 10 orang!" Kyuhyun menjelaskan dengan berapi-api.
"Tapi, kasus itu sendiri yang berbeda!" Kyuhyun menlanjutkan, "Memang, pihak yang diwawancarai yang lebih sedikit. Aku pikir karena kejadian itu terjadi pada tengah malam dan di daerah yang memang cukup sepi. Hanya saja –pembuktian kesaksian mereka, alibi mereka. Semuanya berantakan. Bukti tidak tersusun dengan baik. Seolah semua orang berbohong dan menyembunyikan sesuatu."
Changmin menggungam memahami apa yang disampaikan Kyuhyun.
"Tapi, bukankah semua itu wajar? Semua orang bisa saja mengalami false memory, Kyu-ah."
"Tentu, tentu. Tapi, Changmin itu karena kau belum membaca laporan kasus lain oleh officer Hwang. Pria itu ahli dalam melakukan wawancara kognitif. Ia pandai menggali informasi secara tepat." Kyuhyun membantah pendapat Changmin.
"Jadi maksudmu, ada pihak lain yang dengan sengaja mengubah isi laporan officer Hwang dan menyebabkan seolah polisi telah menahan pihak yang salah dan tersangka dibebaskan tanpa pengadilan?" tanya Changmin.
Kyuhyun mengangguk yakin, "Ya. Kemudian, yang perlu kita curigai adalah anggota kepolisian yang lain yang menjadi partner officer Hwang dalam menyelidiki kasus ini."
Changmin tersenyum. Kyuhyun menoleh dan mengikuti senyuman Changmin.
"Kena juga si tua bangka itu!" ucap keduanya bersamaan.
"Anu, saya masih di sini, lho," ujar Inspektur Kim merasa diabaikan.
.
.
"Officer Hwang dibunuh seminggu setelah tersangka di bebaskan. Perkiraanku, tersangka itu pasti membuntuti officer Hwang selama seminggu itu sebelum akhirnya melancarkan serangannya," ujar Kyuhyun.
Ia duduk dengan kaki yang ia letakkan di meja. Pemilik meja itu sendiri, yaitu Inspektur Kim duduk di kursi untuk tamu di ruangan itu, berhadapan dengan Changmin. Diantara mereka terdapat meja kopi yang dipenuhi berbagai berkas kasus kejahatan yang di tangani oleh Letnan Park dan officer Hwang. Melalui beberapa wanita tua yang masih menjadi petugas kepolisian, mereka mengetahui gossip bahwa officer Hwang dan Letnan Park adalah saingan. Keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk dipromosikan. Hanya saja, para Chief lebih menyukai officer Hwang yang kerjanya cekatan dan inovatif dibandingkan dengan Letnan Park sendiri yang kerjanya lambat dan menggunakan metode kuno. Tentunya hal tersebut membuat Letnan Park dulu cemburu, karena menurutnya officer Hwang menghalangi kesempatannya untuk dipromosikan. Motif yang cukup kuat untuk melakukan pembunuhan, kalau menurut Kyuhyun.
"Menurut Ibu tua itu-"
"Soojin-ahjumma," koreksi Changmin.
"Ya, ibu tua itu. Officer Hwang adalah pemuda yang mempesona blablabla dan penuh bakti pada orangtuanya. Dengan begitu, kita bisa memprediksikan kemungkinan bahwa officer Hwang pada saat itu masih tinggal dengan kedua orangtuanya. Prediksiku ini diperkuat dengan kenyataan bahwa officer Hwang diserang hanya sekitar 2km dari rumah kedua orangtuanya," ujar Kyuhyun menyampaikan semua prediksinya.
Changmin mengangguk, "Hanya saja, kedua orangtua officer Hwang pindah dari rumah itu sejak lima tahun lalu."
"Benar," Kyuhyun membenarkan, "dan tentu saja kepolisian tidak memiliki informasi penting ini. Dasar kalian lintah pajak tidak berguna."
Inspektur Kim matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis, "Kyuhyun-ssi… kan sudah kukatakan kami tidak bertugas dalam pencatatan sipil."
"Tentu saja! Pencatatan sipil, rahasia blablablabla konfidensial blablabla mencegah adanya usaha balas dendam blablabla. Omong kosong!" seru Kyuhyun marah.
Inspektur Kim melompat di kursinya, terkejut dengan ledakan emosi Kyuhyun.
"Karena itu, Inspektur Kim! Aku menugaskanmu untuk bertanya pada tetangga-tetangga mereka! Tanyakan kemana mereka pergi. Keluarga itu sepertinya sangat disukai orang-orang, ramah dan baik hati. Si ibu juga pasti memiliki satu dua teman dekat. Aku ingin kau menanyakan sedetilnya mengenai keluarga itu dan tanyakan kemana mereka pindah!" ujar Kyuhyun dambil menunjuk Inspektur Kim.
"A-aku? Kenapa aku?" tanya Inspektur Kim menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu saja kau! Kalau Changmin yang melakukannya, tentu saja mereka tidak akan bicara. Dia bukan polisi!" balas Kyuhyun mendengus karena kebodohan Inspektur Kim.
"Lalu, kenapa bukan kau, Kyuhyun-ssi?" tanya Inspektur Kim lagi.
"Kau yakin mengirim Kyuhyun untuk hal seperti ini, Inspektur?" tanya Changmin balik.
Inspektur Kim menyerah. Kepalanya menunduk mengakui kekalahannya, "Kau benar."
Kyuhyun mengangguk puas, "Sudah sana cepat pergi! Aku tunggu kabar baiknya."
.
.
Inspektur Kim datang dengan tubuh yang basah dan pipi yang merah bekas tamparan.
"Untung bukan aku yang pergi," ucap Kyuhyun dan Changmin bersamaan.
Inspektur Kim menghela napas. Ia membuka mantel yang ia kenakan dan mengambil handuk dari loker pribadinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Changmin penasaran.
"Hahh… ibu-ibu memang menyeramkan, ya?" keluh Inspektur Kim.
"Mereka menyalahkan kepolisian dan terutama aku karena sudah membiarkan menantu idaman mereka mati ditangan penjahat," ujar Inspektur Kim.
Changmin dan Kyuhyun mati-matian menahan tawa. Kalau bersama Inspektur Kim memang tidak pernah bosan!
"Tapi, aku mendapatkan apa yang kalian butuhkan," ujar Inspektur Kim, "Ini alamatnya."
Inspektur Kim menyerahkan selembar kertas pada Kyuhyun. Kyuhyun menerimanya dan mengeceknya melalui kompoternya.
"Ya, tidak salah lagi. Mereka untung tidak menipumu, Inspektur Kim. Bagaimana caramu meyakinkan mereka?" tanya Kyuhyun penasaran.
Wajah Inspektur Kim tiba-tiba memerah.
"Wah, wah, Inspektur Kim… kau tidak menggoda wanita-wanita bersuami itu, 'kan?" goda Changmin.
Inspektur Kim menggeleng cepat. Kyuhyun sampai khawatir lehernya patah.
"Mana mungkin! A-aku cuma mengatakan… mengatakan…"
Kyuhyun habis sabar, "MENGATAKAN APA? CEPAT KATAKAN!"
"Aku mengatakan bahwa aku pasti akan membawa keadilan atas kematian officer Hwang!" ujar Inspektur Kim dengan wajah merah.
Changmin dan Kyuhyun menatap Inspektur Kim, "Kau terlalu banyak nonton drama criminal."
"Sudahlah, tidak penting. Sekarang giliranmu, Changmin!" seru Kyuhyun tiba-tiba.
"Eh? Kenapa aku?" tanya Changmin.
"Tentu saja karena kau sosok menantu idaman! Persis seperti officer Hwang itu –atau anggap saja begitu- intinya, kau yang paling cocok di sini. Kau sopan dan sudah biasa bicara dengan keluarga korban. Kau juga bukan orang dari kepolisian. Keluarga itu aku yakin pasti memiliki dendam tersendiri dengan pihak kepolisian, " ujar Kyuhyun menjelaskan.
Changmin mengangguk mengerti, "Baiklah. Serahkan padaku."
.
.
Rumah keluarga Hwang sangat asri. Tidak luas, namun tidak juga sempit. Ada halaman belakang yang ditanami rumput dan kolam ikan koi yang sejuk. Di ujung taman ada pohon-pohon bonsai dan ada tanaman rambat dengan bunga yang sangat manis baunya.
"Silahkan tehnya," ujar Ibu dari officer Hwang.
"Terima kasih," Changmin menerima cangkir dengan sopan dan menyesapnya sekali.
"Kau teman putraku?" tanya wanita itu tidak yakin.
Changmin menggaruk tengkuknya, "Dibilang teman pun… sebenarnya bukan. Saya hanya… orang yang suka ikut campur?"
Wanita itu tersenyum, "Kau mengingatkanku pada putraku. Begitu canggung namun selalu yakin dengan apa yang ia lakukan. Sinar jahil dimata kalian pun mirip."
Wanita itu melirik sedih pada altar putranya. Pada foto itu officer Hwang tampak tersenyum. Ia mengenakan seragam kepolisiannya. Sepertinya foto itu diambil ketika ia baru saja lulus dari akademi polisi.
"Jadi, kenapa kau ke sini, nak?" tanya wanita itu pada Changmin.
Changmin menunduk menatap pantulan dirinya pada teh yang diberikan oleh wanita tua baik hati dihadapannya.
Wanita itu tertawa kecil, "Rumah ini, kami beli dengan uang asuransi jiwa milik putraku," ujar wanita itu memulai.
"Ia selalu berjanji akan membelikan kami rumah sederhana dengan taman dibelakang rumah. Hari itu, dia pulang dengan wajah yang sangat gembira. Ia mengatakan bahwa ia akan segera mendapatkan promosi dan ia mungkin akan segera menepati janjinya pada kami," wanita itu bercerita dengan wajah sendu.
"Kami tentu saja menolak. Dibandingkan membelikan kami rumah, kami lebih ingin ia pergi, berpesiar, bertemu gadis menarik dan menikah. Tapi, anak itu sama keras kepalanya seperti ayahnya. Ia memaksa membelikan kami rumah, baru setelahnya ia akan menikah," wanita itu tersenyum kecil. Matanya terpejam, berusaha mengingat ekspresi di wajah anaknya waktu itu.
"Anda pasti sangat bangga padanya," ujar Changmin.
Wanita itu menoleh menatap Changmin. Senyuman keibuan mengembang di bibirnya. Meski begitu, matanya dilapisi air mata. Matanya yang tua terlihat sendu dan lelah.
"Ia segalanya bagiku."
Changmin menunduk.
"Ia segalanya bagiku, putra kebanggaanku," suara wanita itu bergetar, "dan pria biadab itu membunuhnya."
Changmin mendekati wanita itu dan memeluk tubuh ringkih yang sudah termakan usia itu.
"Apa… apa… kau dari kepolisian?" tanya wanita itu.
Changmin menggeleng, "Saya detektif privat. Saya tidak percaya dengan kerja kepolisian, terlalu banyak kecurangan di sana. Saya memilih bekerja sendiri."
Wanita itu mengangguk, "Aku tahu anakku tidak melakukan kesalahan. Mungkin kau hanya berpikir bahwa pendapatku ini hanya pendapat seorang orangtua yang begitu bangga pada anaknya, tapi itu salah! Aku sangat yakin putraku tidak melakukan kesalahan dalam penyidikan itu."
"Saya juga mempercayai hal itu," ujar Changmin tegas.
Wanita tua itu mendongak, berusaha mencari kebohongan pada mata Changmin namun nihil.
"Saya saat ini sedang berusaha mencari pihak yang bertanggung jawab atas kematian officer Hwang," ucap Changmin.
"Oh, tentu saja maksud saya bukan pelaku pemerkosaan itu. Maksud saya –saya yakin ada orang lain yang sengaja merusak kerja officer Hwang, membiarkan tersangka lepas dan menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan ini terjadi," ujar Changmin menjelaskan.
"Anak muda… tapi anakku meninggal tujuh tahun lalu. Apa kau yakin dengan hal ini?" tanya wanita tua itu.
Changmin mengangguk pasti, "Saya memiliki partner yang dapat diandalkan. Mohon percaya pada saya."
Wanita tua itu tertawa kecil. Wajahnya nampak lebih muda saat tertawa.
"Oh! Wajah jatuh cintamu itu bahkan mirip dengan wajah putraku!"
Wajah Changmin memerah. Ia rasanya seperti sedang digoda oleh ibunya sendiri. Ia merasa malu.
"Baiklah, aku mempercayaimu. Sekarang –apa yang kau butuhkan?" tanya wanita itu mulai bangkit berdiri.
"Uhm, bila ada –apakah officer Hwang menyimpan sebuah jurnal atau mungkin catatan?" tanya Changmin.
Wanita itu mengangguk dan mengajak Changmin untuk ke gudang di mana ia menyimpan semua barang peninggalan putranya.
"Aku menyimpan semua berkas dan buku miliknya di kardus ini. Silahkan kau cari sendiri. Debu tidak baik untuk paru-paruku yang sudah tua," canda wanita itu kemudian meninggakan Changmin sendiri.
Changmin mulai memeriksa semua buku yang ada. Rata-rata berisi catatan kuliahnya semasa di akademi kepolisian atau buku teks mengenai hukum Korea dan hukum Internasional. Beberapa buku mengenai psikologi forensik dan bahasa tubuh. Kemudian Changmin menemukan sebuah notes kecil yang berisikan tulisan-tulisan berantakan. Tapi inilah yang Changmin inginkan, catatan investigasi milik officer Hwang.
Changmin kembali membereskan kardus itu dan mengembalikan ketempatnya. Ia kemudian kembali ke ruang duduk dimana ibu dari officer Hwang itu menunggu.
"Kau mendapatkan apa yang kau cari?" tanya wanita itu.
"Ah, iya. Ini, apa aku boleh membawanya?" tanya Changmin meminta persetujuan. Ia memperlihatkan catatan kotor milik officer Hwang.
Wanita itu tersenyum, "Kerjamu cepat. Aku semakin yakin kau bukan polisi."
Changmin meringis senang, merasa terpuji.
"Para polisi itu bodoh –kecuali anakku tentu saja. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Berotak kosong!" wanita itu menggerutu sebelum kembali tersenyum, "Bawalah. Aku yakin kau sungguh membutuhkannya."
Changmin membungkuk sopan dan berterima kasih. Ia pun menghabiskan teh miliknya sambil menemani wanita tua itu berbincang sedikit sebelum kemudian pamit pergi.
"Mainlah kapan-kapan," ujar wanita itu menepuk punggung Changmin, "Kau sudah kuanggap sebagai anakku sendiri."
Changmin tidak menjawab. Hanya tersenyum dan melangkah pergi. Menganggap ucapan wanita tua itu sebagai mimpi indah belaka.
.
.
Changmin menyerahkan catatan jorok milik officer Hwang pada Kyuhyun yang langsung berteriak semangat. Suaranya melengking tidak enak. Changmin dan Inspektur Kim segera menutup lubang telinga mereka. Kyuhyun kemudian mengusir Changmin dan Inspektur Kim pergi. Mengganggu konsentrasi katanya. Inspektur Kim segera pergi, namun tidak dengan Changmin. Satu dua kali ia menggoda kekasihnya itu sampai selangkangannya hampir ditendang lagi. Ancaman itu efektif mengusir Changmin dari ruangan itu.
Changmin memutuskan untuk menemui Minho di selnya. Hari sudah gelap dan penerangan dalam penjara sungguh buruk. Kasihan mata Minho. Padahal anak itu matanya bagus sekali. Sayang kalau sampai harus ditutup kacama-
"Itu meja dan lampu darimana?" tuntut Changmin meminta penjelasan.
"Oh? Aku minta pada salah satu sipir dan diberikan," ujar Minho menjelaskan.
Sipirnya pasti wanita.
"Kau masih mempelajari berkas-berkas itu?" tanya Changmin.
Minho mengangguk, "Sepertinya orang ini cukup penting," ujar Minho sambil menyerahkan sebuah berkas pada Changmin.
Changmin cemberut, "Calon gubernur! Kenapa bukan kelas menteri sekalian?"
Minho menghela napas, "Hyung, makanya nonton berita di telivisi, dong!"
Changmin terdiam. Yah, kalau berebut waktu menonton mana bisa menang dia dari Kyuhyun? Kyuhyun buas kalau sudah saatnya menonton televise. Rasanya tangannya akan putus kalau berani mengganti saluran televisi.
"Setelah kematian calon gubernur Min itu dan ancaman pembunuhan pada calon gubernur Han dan istrinya, calon gubernur Han mendapatkan banyak simpati dan dukungan. Ia memenangkan pemilihan gubernur dan kau perlu tahu ia bahkan sekarang bisa menempati posisi dalam kementrian." Ujar Minho.
Changmin menyahut, "Polisi tidak bisa memeriksa kebenaran alibi dari pihak yang juga mengalami ancaman sama."
"Ya, kau sudah sadar, 'kan? Pelakunya tentu saja Menteri Han itu sendiri," ujar Minho.
Changmin mengangguk, "Pria ini gila. Dia bahkan meletakkan bom di rumahnya sendiri. Bagaimana kalau istrinya terkena bom tersebut?"
"Dia akan mendapatkan lebih banyak simpati, tentunya," sahut Minho acuh.
Changmin menghela napas, "Ini kasus payah. Siapa yang bertanggung jawab atas klien mentri Han itu?"
"Tentu saja bukan aku dan tentunya bukan paman. Aku tidak tahu. Tapi, sepertinya dapat mengambil hati paman hingga diberikan klien penting begitu," sahut Minho.
Changmin mengangguk, "Yang ini biar aku serahkan sepenuhnya pada Inspektur Kim. Ia bisa menyelesaikannya sendiri."
Minho menatap Changmin tidak yakin, "Kau… mempercayai polisi itu?"
Changmin menatap Minho dengan senyuman, "Kadang –kau bisa bertemu dengan orang-orang baik yang tulus, Minho. Kau… mengerti maksudku, 'kan?"
Minho terdiam. Pikirannya melayang pada Taemin. Ia kemudian tersentak.
"Lee Taemin! Kau sudah mengamankan Lee Taemin, 'kan?" seru Minho tiba-tiba.
"…ah."
Changmin buru-buru menuju toko bunga milik Lee Taemin itu.
.
.
Hari sudah sore. Changmin melihat sosok seorang pemuda yang tengah sibuk menyirami bunga-bunga di pot di depan tokonya. Rambutnya lebih pendek dari yang dikatakan Minho dan berwarna hitam. Mungkin pemuda itu memotong rambutnya dan mengecatnya menjadi warna hitam sebagai simbol hatinya yang berkabung atas 'kematian' Minho. Changmin mendekat dengan hati-hati dan memberi salam.
"Ah, maaf. Toko sudah tutup," sahut pemuda itu tanpa jiwa. Matanya kosong dan katung matanya terlihat gelap. Pemuda itu terlihat sangat lelah.
"Aku tahu. Apa… kita bisa bicara? Mungkin di dalam?" tanya Changmin hati-hati.
Taemin menggeleng, "Minho menulis surat. Hati-hati pada orang asing, jangan biarkan pria asing memasuki toko saat sepi, jangan-"
"Baik, baik!" potong Changmin, "Dengar, aku… kakak Minho."
Mata Taemin menyipit curiga, "Aku tidak melihatmu di pemakaman Minho."
"Ya, karena… Minho masih hidup."
Mata pemuda itu tiba-tiba bercahaya. Harapan memantul dari kilau matanya meski hanya sesaat. Mata itu kemudian dipenuhi air mata.
"Tolong… jangan katakan hal yang tidak mungkin seperti itu. Aku –aku tidak ingin berharap lagi," pemuda itu berkata dengan suara yang parau dan lelah.
Changmin meremas bahu Taemin, membuat pemuda itu menatapnya.
"Minho tidak mati. Semua itu rekayasa," ucap Changmin dengan suara meyakinkan.
"Tapi… kenapa?" tanya Taemin. Pemuda itu menyerah. Ia sudah tidak perduli. Meski ini semua ternyata adalah sekedar kelakar atau kebohongan sekali pun –ia ingin berharap pada harapan samar ini bahwa Minho masih hidup. Kekasihnya masih hidup.
"Karena Minho tidak ingin kau terlibat dalam bahaya yang sedang mengincarnya," Changmin berkata dengan pelan dan suara bernada simpati
"Bahaya?"
Changmin mengangguk, "Minho… ia berurusan dengan orang-orang berbahaya. Ia tidak ingin kau terluka karena perbuatannya."
Taemin Nampak berpikir sebelum kembali berucap, "Minho menjual obat-obatan terlarang, ya?"
Sebenarnya lebih parah tapi –"Ya, seperti itu kira-kira."
Taemin mengangguk, "Baik. Aku mengerti. Lalu, apa tujuanmu kemari? Hanya menyampaikan itu?"
"Minho menghubungiku. Ia ingin aku melindungimu sebagai ganti dirinya sampai ia menyelesaikan semua urusannya dengan orang-orang jahat itu. Kau maukan pergi denganku?" tanya Changmin hati-hati.
"Apa aku bisa bertemu Minho?" tanya Taemin berharap.
"Aku akan bertanya padanya."
Taemin mengangguk, "Aku akan berkemas."
Changmin menahan tangan Taemin dan menggeleng, "Tidak perlu berkemas. Pura-pura jalan dengaku saja. Jangan sampai orang-orang tahu kalau kau akan pergi."
Taemin menatapnya kebingungan "Kenapa?"
"Percaya saja padaku."
.
.
Taemin sudah ia amankan disalah satu tempat yang sering dijadikan tempat perlindungan saksi milik kepolisian. Anak itu penurut. Ia hanya meminta beberapa baju ganti dan bibit bunga. Changmin meninggalkan anak itu di bawah pengawasan beberapa petugas kepolisian yang ia dan Kyuhyun percayai. Ia kemudian kembali ke ruangan dimana Kyuhyun berada.
Begitu buka pintu langsung disambut –disambit- dengan buku undang-undang yang saking tebalnya kalau kena kepala pasti segera lupa ingatan.
"Dari mana saja, kau?" tanya Kyuhyun ketus.
Changmin tersenyum gugup, "Uh… ketemu Taemin-ah?"
Kyuhyun mengangkat alisnya.
"Itu! Kau ingat, 'kan? Kekasih Minho," ucap Changmin buru-buru. Ia memasuki ruangan dan mendapati Inspektur Kim duduk dipojok ruangan hanya dengan kaus kaki dan celana bokser miliknya. Pria itu seperti sedang menggumamkan sebuah mantra Buddha berkali-kali. Seperti habis lihat setan saja.
Changmin melirik pada Kyuhyun, 'Ah, bukan setan. But the devil himself.'
"Kenapa lama? Apa yang kau lakukan dengan anak itu?" tanya Kyuhyun menyelidik.
"Oh ayolah, Kyu! Masa' kau cemburu, sih?" Changmin mengerang.
Wajah Kyuhyun memerah dan ia melemparkan sepatu milik Inspektur Kim ke arah wajahnya.
"Woah!" Changmin mati-matin menghindari lemparan Kyuhyun. Kyuhyun harusnya jadi pemain baseball bukan detektif. Akurasi leparannya mantap!
Kyuhyun mendengus, "Sudahlah. Sekarang dengar. Aku menemukan sesuatu."
Changmin mengangguk patuh dan mengirimkan pandangan prihatin pada Inspektur Kim yang kini mulai menangis sendiri.
"Isi laporan ini dan catatan penyidikan officer Hwang sangat berbeda. Dari yang bisa kuperkirakan. Orang yang melakukan pengubahan laporan ini adalah pertama, dia tidak terlalu pintar. Dia tidak memiliki logika berpikir yang baik. Lihat saja dari kualitas laporannya. Yang jelas kita bisa memastikan pola penulisan laporan officer Hwang dan laporan terakhir ini sangat berbeda. Kedua, ia adalah orang yang temperamental. Penulisan laporannya terbuuru-buru, tidak seperti officer Hwang. Ketiga, ia memiliki kepribadian narsistik. Lihat, dalam laporan milik officer Hwang laporan hasil wawancara selalu dilakukan berdasarkan sudut pandang saksi, bukan hasil penyimpulan arogan dari sudut pandangnya sendiri." Ujar Kyuhyun menunjukkan poin-poin penting pada Changmin.
"Aku sudah mengecek tiga orang lain yang menjadi partner dari officer Hwang dalam menangani kasus ini dan hanya satu orang yang memenuhi kriteria tersebut –Letnan kita, Letnan Park," ujar Kyuhyun menyelesaikan laporan hasil analisisnya.
Changmin mengangguk, "Sekarang kita hanya perlu mencari bukti bahwa Letnan Park lah yang mengubah isi laporan itu."
Kyuhyun mengangguk mengiyakan, "Benar. Laporan seperti ini hanya dituliskan menggunakan komputer dalam kantor kepolisian."
"Dan semua komputer dalam kantor kepolisian membutuhkan ID dan password untuk dapat diakses terutama untuk melakukan pelaporan hasil penyidikan," lanjut Changmin.
"Tepat. Dengan melihat sejarah kegiatan seluruh komputer di kantor kepolisian ini, kita bisa mengetahui pelakunya," ujar Kyuhyun puas dengan kemampuannya.
Changmin menatap Kyuhyun ragu, "Tapi, itu sudah tujuh tahun lalu, Kyu. Akan sangat sulit bagi kita untuk melakukannya."
Kyuhyun mengangguk, "Tentu saja! Makanya aku panggil dia! Ya 'kan, Choi Minho?"
Kepala Minho muncul dari balik tirai ruangan pantry milik Inspektur Kim, "Itu benar, hyung!"
Mata Changmin melotot seolah ingin keluar dari rongganya.
Kyuhyun menepuk bahu Changmin berusaha menenangkan, "Tenanglah. Minho bukan tahanan. Ia masih tersangka. Tidak akan terjadi apa-apa meski kukeluarkan dari selnya, ya 'kan, Inspektur?"
Inspektur mengangguk pasrah dan kembali melamun. Entah apa yang sudah dilihat dan dialami oleh pria itu. Changmin tidak mau tahu, tidak perlu tahu. Kyuhyun berjalan mendekat dan beridiri dekat sekali di sisi Minho, seolah sengaja menggoda.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Eh? Uhm, Letnan Park ini memiliki banyak kegiatan lima tahun terakhir. Hanya kasus-kasus kecil tapi jadi menyulitkan untuk mensortirnya," ujar Minho menjelaskan. Matanya sekali-sekali melirik leher jenjang Kyuhyun. Changmin yang menyadari hal itu segera menyipitkan matanya dan memandang Minho penuh curiga.
"Hmm, begitu ya? Aku akan pergi makan sebentar. Kalau sudah selesai, segera laporkan padaku. Ayo, Inspektur Kim, aku traktir makan," ucap Kyuhyun dengan nada yang terlalu manis hingga terasa pahit. Terutama untuk Inspektur Kim. Pria malang itu bejengit, tapi tetap menuruti ucapan Kyuhyun. Untunglah ia tidak lupa kembali mengenakan pakaiannya.
"Kau awasi Minho, pastikan ia menyelesaikan tugasnya," ucap Kyuhyun tajam.
Changmin memberikan hormat asal-asalan yang dibalas dengusan dari Kyuhyun. Pemuda itu dan Inspektur Kim kemudian menghilang dibalik pintu. Changmin melirik Minho. Matanya menyipit, fokus mata Minho itu kok rasanya-
"Kau memperhatikan bokong kekasihku?" tanya Changmin tidak percaya.
Minho tersenyum lebar, memperlihatkan semua giginya, "Kekasihmu berisi ya, hyung! Seksi!"
Kalau ketahuan Kyuhyun mereka malah main jambak-jambakan pasti sudah kena marah.
.
.
Untung perkerjaan Minho sudah selesai sebelum Kyuhyun kembali. Kalau tidak habis mereka berdua. Hanya saja, hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
"Aku sudah mengecek semua aktivitas ID milik Letnan Park tapi tidak menemukan hal yang mencurigakan, karena itu aku coba cara lain dan menemukan ini," ucap Minho menyodorkan sebuah kertas.
Kyuhyun membaca isi kertas itu sebelum meremas rambutnya frustasi, "Officer Choi?! Tidak! Tidak! Ini tidak benar! Dia pria lemah! Tidak percaya diri! Canggung! Dia bukan orang yang berani melakukan hal seperti ini! Lagipula, dia tidak diberikan keuntungan apapun dengan kematian officer Hwang!"
Changmin meraih pergelangan tangan Kyuhyun. Berusaha menghentikan kekasihnya itu menyakiti dirinya sendiri, "Minho belum selesai, Kyu."
"Uh, ya. Aku dan hyung mencari tahu tentang officer Choi ini. Ia mengundurkan diri beberapa hari setelah kematian officer Hwang," ujar Minho.
"Aku mengira itu bentuk perwujudan rasa penyesalannya karena merasa sudah secara tidak langsung menyebabkan kematian officer Hwang," ujar Changmin menjelaskan.
Kyuhyun nampak berpikir, "Begitu… dia tipe yang tidak bisa merasa tertekan secara emosional."
"Benar. Karena itu, aku dan Minho mengira ia pasti mengalami penindasan dan dipaksa untuk melakukan hal tersebut," ujar Changmin.
Kyuhyun mengangguk, "Kita tinggal membutuhkan kesaksiannya, 'kan?"
Minho dan Changmin mengangguk kompak. Kyuhyun tertawa kecil, "Kau boleh juga Minho."
Wajah Minho sedikit memerah dan Changmin sudah ancang-ancang menjambak rambut Minho lagi.
"Oke! Kalau begitu kau dan aku akan menemui pria ini, Changmin!" ujar Kyuhyun tiba-tiba. Changmin baru akan protes, ia lelah dan menginginkan tidur malam yang nyenyak. Namun, semuanya ia batalkan. Ia segera menutup mulutnya rapat-rapat. Kilatan berbahaya yang sangat ia kenal itu seolah mengatakan 'Ikut atau tidak ada seks sampai kau impoten, Shim Changmin-ssi'. Welp! Dia tentunya harus memikirkan nasib keturunannya nanti, 'kan?
.
.
Begitu sampai di rumah milik officer Choi, hari sudah pagi. Changmin harus menyetir semalaman. Ia sangat mengatuk sekarang. Kyuhyun buru-buru turun dari mobil begitu melihat seorang pria dengan tubuh jangkung namun kurus keluar dari kompleks apartemen itu. Changmin segera mengekor dibelakang Kyuhyun.
"Officer Choi?" panggil Kyuhyun.
Pria itu menoleh.
"Saya Inspektur Kim dan ini… supir pribadi saya," ujar Kyuhyun memperkenalkan dirinya.
Mata Changmin membulat tidak percaya. Ditangan Kyuhyun ada lencana kepolisian milik Inspektur Kim! Jangan bilang Kyuhyun mencurinya dari Inspektur Kim saat mereka makan malam kemarin. Dalam kepalanya Changmin seolah bisa mendengar jawaban Kyuhyun, 'Bukan mencuri. Ini namanya hanya pinjam. Nanti akan kukembalikan.'
"Ah, halo," sapa pria itu canggung. Cara membungkuknya begitu ragu-ragu, Changmin berjengit melihatnya. Pria ini begitu kikuk!
"Kami sedang membuka kembali kasus kematian officer Hwang. Kami rasa kau mengenalinya, 'kan?" tanya Kyuhyun langsung ke intinya.
Wajah pria itu memucat drastik. Pria itu tiba-tiba lari ke semak terdekat dan memuntahkan isi perutnya. Kyuhyun mengernyit jijik.
"Kau –tahu sesuatu, 'kan?" ujar Kyuhyun menyudutkan.
Pria itu akhirnya berhenti muntah dan mengangguk.
"Kurasa ini sudah saatnya kau mengatakan semua kebenarannya, officer Choi."
Seperti dugaan Kyuhyun. Pria canggung itu ditekan oleh Letnan Park untuk mencurangi laporan officer Hwang. Pria itu begitu ketakutan waktu itu. Ia telah lama mengalami penindasan dan berharap dengan menuruti perintah Letnan Park ia akan terbebas dari semua penindasan yang ia alami. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa perbuatannya akan menghilangkan nyawa officer Hwang. Sama sekali tidak. Ia sangat menyesali perbuatannya dan segera mengundurkan diri dari kepolisian.
Kyuhyun merekam semua pengakuan dari officer Choi tersebut untuk dijadikan barang bukti, "Kau –mau menjaid saksi utama di pengadilan Letnan Park, bukan?"
Pria itu mengangguk, untuk pertama kalinya sorot matanya menjadi tegas, "Kurasa sudah saatnya dia –dan aku tentu saja- membayar dosa kami."
Kyuhyun mengangguk puas dan memberikan nomor ponselnya pada pria itu, "Aku akan menghubungimu bila kami membutuhkanmu lagi."
Dalam perjalanan pulang menuju kantor kepolisian, hanya keheningan yang mengisi. Kyuhyun dan Changmin menatap jalanan dengan mata menerawang.
"Sudah selesai," ujar Kyuhyun tiba-tiba.
"Ya," sahut Changmin.
"Tapi… kenapa aku tidak puas?" tanya Kyuhyun. Matanya tidak lepas dari hitamnya aspal jalanan.
Changmin menepuk puncak kepala Kyuhyun, "Karena terlalu banyak kesakitan dalam cerita ini. Terlalu banyak pihak yang tersakiti dalam cerita ini."
Kyuhyun menunduk.
"Dan tidak ada pihak yang bahagia dengan terbongkarnya semua kebohongan dalam cerita ini," lanjur Changmin dengan nada simpatik.
Kyuhyun mengangguk, "Aku tidak suka."
.
.
Persidangan atas tindakan Letnan Park berjalan lancar. Pria itu diberikan hukuman yang pantas. Pria itu menatap Changmin dan Kyuhyun dengan mata penuh dendam. Changmin dan Kyuhyun sendiri berdiri tegap dan membalas pandangan itu dengan pandangan dingin. Mereka tidak takut. Mereka tidak akan membiarkan pria jahat sepertinya kabur.
Kasus Menteri Han ditangani oleh Inspektur Kim. Untuk kali ini, Inspektur Kim menunjukkan kemajuan. Ia berhasil menangani kasus itu dengan baik. Menteri Han dicabut dari jabatannya dan menjadi tahanan rumah. Sayang Psikolog itu menutuskan bahwa menteri Han sepertinya mengalami masalah kejiwaan sehingga tidak bisa menjadi tahanan biasa. Meski demikian, Kyuhyun puas dengan kerja Inspektur Kim. Menteri Han tidak berbahaya sekarang. Ia tidak lagi memiliki ambisi. Ia hanya menerima hukumannya dengan tenang dan sukarela.
Hari-hari mereka entah kenapa menjadi abu-abu. Pandangan Kyuhyun terasa seolah dihalangi oleh sebuah kabut pekat. Ia tidak bisa lagi melihat mimpi dan kehidupan bahagianya. Changmin sendiri sepertinya makin gelisah. Seolah mempersiapkan diri untuk sesuatu yang datang. Insting Changmin bagus, Kyuhyun percaya itu. Karena itu, ia tidak kaget begitu Changmin tiba-tiba saja menghilang dari sisinya.
Ia hanya terdiam. Mengamati sisi tempat tidur yang begitu dingin tanpa pemiliknya. Tidak berdoa agar pria itu kembali karena ia tahu. Sangat tahu. Saat ini… kekasihnya sedang menghadapi masa lalunya. Menghadapi… iblis itu sendirian.
.
.
.
To be continued
Next chapter will be the last! I'm already working on it so don't fret! You'll get it in a month!
Anyways! I'm currently unemployed (only doing some freelancing)! So…
Saya TERIMA FANFIC REQUEST!
Tulis saja PAIR dan HEADCANON/PROMPT yang kalian ingin saya tuliskan di kolom komen (review)!
I'm specialising pairing from Nu'est also Changkyu. So, kalau pair lain mungkin saya akan menuliskannya dengan OOC? (Changkyu saja sudah OOC)
ANYWAYS HOPE YOU ENJOY THIS CHAPTER LIKE I ENJOY WRITING IT!
Don't forget to follow and review! :***
