"Hei, kau tak apa?" Pemuda bersurai biru itu melihat pemuda yang sempat ia 'tabrak'
tadi.
"Oi, apa kau mendengarku?" Masih tak ada respon. 'Sepertinya pemuda bersurai silver ini pingsan.' Pikir pemuda bersurai biru itu.
"OI!"
"OI! BANGUN!" pemuda bersurai biru itu mulai mengguncang-guncangkan bahu pemuda bersurai silver itu.
'Eh? Tunggu, surai silver? Bukankah itu miliknya?'
Setelah meneliti wajah pemuda yang sedang pingsan itu ia terbelalak.
'H-hei, tidak mungkin'kan kalau..' pemuda itu mengambil smartphonenya yang tergeletak di tanah saat ia jatuh tadi dan melihat wajahnya. Setelah itu wajahnya memucat dan sedetik kemudian ia berteriak.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
.
.
.
Yamada-kun to Nannanin no Majo ©Miki YoshikawaKuso Seito Kaichou ga Daisuki! ©undeuxtroisWaltz
Summary : Yamada,berandalan sekolah bertukar tubuh dengan Miyamura, seorang Ketos kece. Miyamura yang mengetahui bagaimana cara mereka bisa bertukar tubuh, membuat perjanjian dengan Yamada. Shiraishi-san yang tanpa sengaja mengetahui rahasia mereka, malah selalu mengikuti mereka sambil membawa digital kameranya. Bagaimana kisah mereka? Yah, kita lihat saja. Chapter 2 updated.
Warnings : Romance yang absurd, Humor(mungkin), Sho-ai~, bahasa campuran baku+non-baku, pendek, fanservice yang tidak terduga, POV berubah tanpa peringatan, rada OOC.
Rate : T
Pair : Miyamura x Yamada
.
.
.
Hngg, apa sudah pagi? Kepalaku pusing sekali, kenapa ya? Ah, iya! Aku ingat sekarang! Tadi saat aku sedang bersantai ada seorang pemuda 'gila' yang sedang 'belajar terbang' dan akhirnya gagal kemudian jatuh tepat di atasku.
Pemuda itu benar-benar menjengkelkan!
Aku membuka mataku perlahan, pandanganku masih buram. Aku mengejapkan mataku berkali-kali agar pandanganku jalas. Saat aku sudah mendapatkan kasadaranku sepenuhnya, aku melihat dengan jelas wajah pemuda yang sudah menabrakku.
Wajahnya benar-benar mirip seperti wajahku. Surai biru, wajah tampan—hei, aku jauh lebih tampan!, Iris biru laut… Ah, benar-benar mirip! Seperti melihat pantulan diriku sendiri di cermin.
Sekarang pemuda itu sedang melihatku dengan terbelelak dan wajahnya memucat. Hei, Apa ada yang aneh dengan wajahku? Atau apakah aku setampan itu?—Hei, jangan tertawa! Sudah kubilang berkali-kali kalau aku itu tampan!
Aku mengeluarkan cermin dari tempat 'Persembunyian Barang-Barang Yamada Ryu'—di dalam pohon—yang sudah seperti lubang tikus—untuk melihat pantulan diriku. Kalian bertanya-tanya kenapa aku menyimpan cermin di tempat 'Persembunyian Barang-Barang Yamada Ryu'? Jawabannya adalah, karena cermin adalah salah satu alat untuk menyontek ala Yamada Ryu. Kau tahu, aku memiliki 1001 cara menyontek yang baik dan benar dan bahkan aku sudah merilis bukunya—yang belum terjual satupun. kalau kalian ingin membeli, silakan hubungi aku di—Apa?! Tidak ada yang berminat?! Ukh, K-kalian pasti akan menyesal! Li-Lihat saja saat bukuku sudah laris terjual, kalian akan menyesal karena aku tidak akan menjualnya kepada kalian! Sama sekali! Ingat itu, Sama sekali!
Saat aku melihat pantulan diriku di cermin, reaksiku hanya speechless. Ahahahaha, ini hanya 'topeng' 'kan? Kalau kutarik dapat lepas 'kan?
Aku mulai menarik 'topeng' yang melekat di wajahku. Tch, 'topeng' ini tidak mau lepas. Apakah lemnya sekuat itu? Aku mulai akan menarik 'topeng' yang melekat di wajahku sampai sebuah suara—yang mirip dengan suaraku—menginterupsiku.
"NYUUUYAAAAAAHH~"
BUAK! DUAK! PRANGG! Uangku kabur?! CLASH, TRANG! DUARRR, Tangkap gurita itu! NURUFUFUFUFU~ Ternyata F! Ah, bukan, yang benar itu G~ Eh, Tunggu yang terakhir itu apaan? Dan terjadilah pertumpahan darah—
Ehm, Kesalahan teknis. Sepertinya teksnya tertukar oleh teks assasination milik fandom sebelah. Adegan tadi akan diulangi sekali lagi. Mohon maaf sebelumnya.
"OI, Jangan sembarangan menarik wajahku! Kalau wajahku yang tampan itu kenapa-kenapa, kau mau tanggung jawab haaah?!" Orang yang meneriakkan ini sepertinya tidak sayang nyawa karena berani memerintah seorang Yamada Ryu.
Aku menolehkan kepalaku ke arah pemuda itu.
"Haaah?! Apa maksudmu?! Aku hanya ingin melepas 'topeng' ini, apa hakmu melarangku?!"
"Tentu saja aku punya hak, karena itu WAJAHKU!" balas pemuda itu tak mau kalah.
"Wajahmu? Oh, aku mengerti sekarang. Kau yang memasangkan 'topeng' ini ke wajahku karena kau iri dengan ketampananku! Benar kan?!"
Ah, sepertinya kau terlalu narsis Yamada.
"Haaah?! Aku ti—"
"Kau iya! Buktinya kau memasang 'topeng' yang sama seperti wajahku 'kan?"
Narsis sedikit tidak apa 'kan? Lagipula ketampananku memang tidak ada tandingannya.
"Hei jangan asal me—"
"Itu kenyataan, berhentilah mengelak! Dan bersyukurlah dengan wajahmu sendiri walaupun tidak setampan wajahku, itu sudah takdir! Melakukan hal semacam ini sudah merupakan kejahatan kau tahu, aku bisa saja mela—"
"Berhentilah menyela setiap ucapanku!"
Ah, sepertinya pemuda ini marah karena dari tadi ucapannya selalu kusela.
"Dengar ya, pemuda narsis-menyebalkan-berisik-barbar-apapun hal buruk lainnya yang kau miliki—"
Pemuda ini ucapannya tidak tersortir ya, seenaknya saja dia mengatakan aku barbar. Menyebalkan sekali.
"—aku, Miyamura Toranosuke—"
Jadi namanya Miyamura ya. Terdengar menyebalkan, seperti sikapnya.
"—menyatakan bahwa wajahku jauh lebih tampan dibandingkan denganmu! Jadi tidak mungkin kalau aku yang derajatnya ketampanannya jauh lebih tinggi darimu ini, iri dengan wajah dibawah standar milikmu itu! Ahahahahaha, apa kata dunia kalau aku iri denganmu?"
Aa, maji de. Aitsu wa hontou(1)—
- MUKATSUKU(2)!
"Hahaha! Begitu ya?!"
Kurasa perempatan sudah muncul di dahiku saat ini dan aura di sekitar kami yang tadinya sejuk berubah menjadi panas.
"Tentu saja, ketampananku sudah diakui oleh seluruh sekolah dan dinobatkan sebagai pangeran sekolah! Dan aku juga seorang ketua OSIS, jadi wajar saja aku terkenal!" jawab pemuda itu dengan bangganya.
Tch, dia ternyata dapat dukungan dari murid dan guru di sekolah ya. Satu-satunya yang memujiku tampan cuma ibuku—dan diriku sendiri—yang pastinya tak dihitung.
Aku baru akan membalas perkataannya saat sebuah suara cempreng ditambah kesan okama(3) yang benar-benar khas menghentikanku.
"Kora(4)! Apa yang kalian lakukan di sini?!" ucap guru itu sambil menaikkan kacamatanya yang tidak melorot.
Aku dan pemuda itu refleks menoleh ke okamegane-sensei(5)—panggilanku untuk guru itu—dengan tatapan mengintimidasi karena telah berani mengganggu kami.
Mataku membulat ketika menyadari bahwa okamegane-sensei itu sebenarnya tidak sendiri. Tepat di belakangnya berdiri sesosok bertubuh besar yang setelah kuamati dengan seksama adalah gakuenchou(6) SMAku.
Kami—aku dan pemuda itu—mulai berkeringat dingin karena sesosok makhluk itu mulai berjalan mendekati kami berdua.
Yabai! Oretachi wa..(7)
OWARI DA!(8)
.
.
.
Tch, bagus sekali!
Karena pertengkaran tidak jelas tadi, aku dan pemuda ini dipaksa masuk masuk conseling room dan ditinggalkan berdua di suatu ruangan terkunci agar kami lebih 'akrab'.
Apa-apaan maksud gakuenchou itu?! Dan juga apa maksud seringai si okamegane-sensei saat akan mengunci pintu tadi?! Menyebalkan sekali!
Kalian juga jangan ikut-ikutan memasang wajah seperti okamegane-sensei itu!
Dan yang paling menyebalkan adalah kenapa mereka—gakuenchou dan okamegane-sensei—memanggil nama kami—aku dan pemuda ini—dengan terbalik?! Sudah jelas 'kan kalau aku ini Yamada, bukan Miyamura! Apa mereka sebegitu bodohnya sampai melupakan nama muridnya?!
Sepertinya kau melupakan suatu hal yang membuat mereka bersikap 'seperti itu', Yamada.
Setelah beberapa menit bungkam, akhirnya pemuda menyebalkan di depanku membuka suara.
"Hei, Siapa namamu?—maksudku, aku sudah memberitahukan namaku, jadi setidaknya beritahu aku namamu." Ia berkata sambil memalingkan wajahnya.
Tch, sepertinya tidak ada alasan untuk menolak permintaannya. Ya, aku tahu aku tampan, jadi jangan melihatku sambil malu-malu begitu.
'Walaupun ia jadi terlihat manis sih..'(A/N:Itukan wajahmu Yamada) Tch, apa yang kupikirkan tadi?! Hei, aku tidak malu-malu! Dan sudah kubilang untuk berhenti memasang wajah seperti okamegane-sensei itu 'kan?!
"Dengar ya, aku hanya akan memberitahu namaku sekali saja. Jadi ingat baik-baik!" ucapku dengan gaya yang dibuat se-kakkoi(9) mungkin.
Pemuda itu mengangguk.
"Namaku Yamada Ryu." Ucapku dengan polos.
Untuk sesaat suasana hening.
.
.
.
'Eh, tunggu? Cuma itu aja perkenalannya? Ngapain pasang wajah sok cool tadi kalau cuma gitu aja?!' Inner Yamada mulai protes.
Yah, mau bagaimana lagi? Dengan suasana dan kapasitas otak Yamada yang 'begitu', wajar saja kan kalau dia gak kepikiran apa-apa?
Miyamura yang sempat speechless, kembali membuka suara. "Jadi, akan kujelaskan tentang masalah yang tadi."
Aku berhenti dari acara perang batin karena perkenalan tadi dan berusaha mencerna perkataan pemuda di depanku ini.
"Oh, masalah tukar-tukar wajah itu ya?" Ucapku sambil kembali mengingat-ingat kejadian yang membuat kami jadi di hukum seperti ini.
"Bisakah kau tidak menyebutnya seperti itu? Lagipula tidak hanya wajah saja, tubuh kita juga tertukar. Tidakkah kau menyadarinya?" Pemuda bernama Miyamura itu sepertinya kesal walaupun tidak terlalu ditunjukkan.
"Jadi kau ingin menjelaskan tentang masalah tukar-tukar tubuh ini?" Tanyaku sekali lagi.
'Bisakah kau berhenti menyebutnya seperti itu? Perkataanmu itu benar-benar ambigu sekali, bodoh' Miyamura mulai mengumpat pertanyaan yang keluar dari mulut Yamada.
"Yah, bisa dibilang begitu. Jadi dengarkan baik-baik. Ini dimulai pada saat pagi tadi, aku—"
Miyamura mulai menceritakan masalah tukar-tukar tubuh—ralat, kisahnya dari mulai bangun tidur sampai berangkat ke sekolah yang memakan waktu lama dan kejadian kemarin-kemarinnya yang tidak ada hubungannya dengan acara tukar-tukar tubuh yang malah terdengar seperti drama yang menggunakan alur maju-mundur cantik. Oke, abaikan yang terakhir itu.
Aku menguap—entah untuk yang keberapa kalinya saat mendengar celotehan pemuda ini. Aku mulai berpikir untuk menuliskan kisahnya yang sudah seperti drama ini untuk kaa-san ku. Lumayan, untuk nambah uang jajan.
"—dan kau tahu? Dari sekian banyak hadiah dan surat cinta yang sudah menumpuk di lokerku, aku hanya—"
Yang benar saja?! Ceritanya belum selesai juga? Dan sekarang ia mulai menyombongkan dirinya dengan pamer keadaan loker!
Tidak, aku tidak cemburu padanya karena mendapatkan banyak hadiah, itu wajar karena di gakuen-ouji(10). Hei, apa maksudmu aku cemburu pada gadis-gadis itu?! Aku tidak—, Aku hanya—, Hei! Aku tidak cemburu! Dan berhentilah mengejekku tsundere!
"—saat aku pulang sekolah dua minggu yang lalu—"
Yang benar saja?! Apa peduliku dengan kehidupanmu itu HAH?!
"—aku di kejar oleh sekelompok yakuza. Mereka—"
APA?! Tch, yakuza sialan. Apa mereka sengaja mengincar anak dari sekolahku karena tidak bisa mengalahkanku?!
"— kemudian meminta foto dan nomor handphoneku, benar-benar mengejutkan." Lanjut pemuda ini.
Kenapa baru bilang, HAH?! Untuk apa aku tadi sempat mengkhawatirkanmu—maksudku, apa peduliku! Itu bukan urusanku!
"Jadi, bagaimana penjelasanmu tentang acara tukar-tukar tubuh kita?" Tanyaku.
(A/N:Yang benar saja Yamada, bisa gak sih jangan pakai kalimat yang mengandung unsur keambiguan begitu? Author di sini udah gak kuat/lambai-lambai tangan ke kamera/)
"Oh, soal itu aku belum tahu pasti." Jawabnya dengan wajah datar.
"Yang benar saja! Jadi apa keuntungan aku mendengarkan ceritamu yang jika di buat drama bisa jadi lima season itu?!" (A/N:Jangan pake kuah juga kali mas, di sini jadi hujan lokal)
'Ck, Ano Kuso Seito Kaichou!(11)' Kurasa kesabaranku mulai menipis seperti lapisan ozon. Semoga saja tidak terjadi global warming yang menyebabkan pohon-pohon(baca: rambut) di kepalaku tumbang.
"Tenangkan dirimu Yamada. Aku bukannya tidak tahu, tapi belum yakin."
Kurasa ia mencoba menenangkanku yang sepertinya lumayan berhasil.
"Jadi? Bagaimana cara memastikannya hah?"
"Dengan mempraktekkannya. Saat jatuh, kepala kita berbenturan. Bisa saja jiwa kita tertukar saat itu." Jelasnya.
"Baiklah, akan kucoba."
.
.
.
Setelah beberapa kali adu kepala yang mungkin saja dapat membuat gegar otak, kami berhenti karena takut terjadi sesuatu yang lebih berbahaya. Seperti amnesia mungkin?
Padahal gegar otak jauh lebih berbahaya dari amnesia. Oh, iya, Yamada kan gak punya otak, jadi gak masalah.
Dan di sinilah kami, terkapar di lantai dengan keadaan mengenaskan. Lebam yang memerah—bahkan membiru di dahi kami dengan tubuh yang mulai bepeluh.
"Muda da(12), Miyamura."
Masa bodoh lah, aku menyerah soal adu kepala ini! Ini tidak berhasil sama sekali!
"Tch, sepertinya memang itu ya."
"….apa maksudmu?" ucapku sedikit curiga.
"Oi, Yamada. Berdirilah."
"Hah?! Aku tidak ingin beradu kepala lagi! Bisa-bisa—"
"Berdiri. Sekarang."
Entah kenapa setelah dia mengucapkan perintah yang penuh intimidasi itu, aura di sekitar kami mulai menggelap bahkan suara petir ikut meramaikan suasana.
Baru kali ini aku takut dengan seseorang. Apa ini kemampuan seorang seitou kaichou?
"H-hai" bahkan suaraku juga ikut bergetar karenanya.
Aku melihat Miyamura berdiri dan berjalan ke hadapanku. Mau apa dia?!
Pluk! (sound effect apa itu?)
'E-eh?' A-apa? Apa-apaan ini? Miyamura memegang pipiku dengan kedua tangannya. U-uwaaa, wajahnya terlalu dekat! Dan apa pula maksud background spakling begini. Dan suasana yang tadinya suram berubah jadi penuh bunga begini, apa yang terjadi?!
Tok tok tok
"Hairu yo"(13)
Tunggu, sepertinya aku mendengar suara ketukan dari luar. Bisa gawat kalau—
Chuu~
Sebelum aku sempat berfikir, sebuah kecupan lembut mengejutkanku. Di saat itu pula masuklah seorang gadis berambut pirang sambil membawa nampan berisi camilan.
Gadis itu hanya terdiam di ambang pintu saat melihat adegan fanservice gratis dari kami. Sepertinya aku melihat ada cairan merah keluar dari hidungnya. Apa itu? Darah? Yang benar saja!
.
.
.
TBC
.
.
.
Author's Note :
1 : Aa, beneran deh. Orang ini—
2 : NGESELIN
3 : Banci
4 : Hei!
5 : Guru banci berkacamata
6 : Kepala Sekolah
7 : Gawat, kita..
8 : TAMAT
9 : Keren
10 : Pangeran sekolah
11 : Ck, Ketua OSIS sialan itu
12 : Percuma saja
13 : Aku masuk
.
.
.
Uwaaah! Gak nyangka, ternyata udah lama gak update~/dilemparin sendal/
Akhirnya, saya lagi gak mager ngetik. Padahal idenya udah cukup lama kesimpen di otak, tapi males ngetiknya~
Saya seneng loh, ada yang review, bahkan fav sama follow (~‾⌣‾)~
Yosh, bales review guest dulu deh :
Qwei-tan : Hahaha, saya juga suka~ Mereka kan canon/nahloh/ Ini sudah diupdate, semoga anda suka~
Kira : Iya, Yamada sama Miyamura itu kurang cinta/plak/ Ini sudah di update, semoga bisa jadi asupan untuk anda~
Guest1 : Ini udah di update, terima kasih sudah sabar menunggu~
Guest2 : Sudah di lanjut pak ( ゚∀゚) Semoga anda senang~
MichaelKuchiki : Makasih ^⌣^, ini udah di lanjut kok~
deviluk shin ryu : Makasih atas pujiannya, ini udah update~ Eh, masuk M? M itu bates umurnya berapa ya? Kalo 18 berarti belum bisa~ kalo 17 yaa.. masih belum bisa buat juga sih ( ̄ヮ ̄) /plak/ saya kan baru masuk SMA tahun kemaren/loh kok malah curhat/ belum cukup umur, maaf ya~
Akhir kata, Review please~
