"Hnnn—"
"Umpff—"
"M..miya—"
"Nggg.."
"M–Miyamura, tu—tunggu dulu!"
.
.
.
Yamada-kun to Nannanin no Majo ©Miki Yoshikawa
Kuso Seito Kaichou ga Daisuki! ©unwaltz
Summary : Dua pemuda, satu wanita—berkumpul dalam sebuah ruangan, dengan ekspresi yang berbeda. Asupan bergizi di depan mata; butuh kontrol diri lebih untuk tidak mendokumentasikan. Mampukah sang wanita bertahan?
Warnings : Romance, typos, humor, sho-ai, bahasa ambigu, etc.
Rate : T
Pair : Miyamura x Yamada
.
.
.
Tes tes tes
Cairan berwarna merah menetes dari hidung perempuan bersurai pirang; tidak banyak, namun stagnan. Hanya perasaan saja atau memang ia terlihat bahagia?
Shiraishi's P.O.V
' Kyaaa~ G–godaan apa yang telah kau berikan ini? Demi Dewa homo jika dia benar ada, aku sangat berterima kasih...'
"Oo~h, kita benar-benar kembali! Ini keren~" Miyamura menyeringai senang sembari menatap pemuda bersurai biru yang—habis dicium olehnya.
'A—apa maksud tatapan semeish itu?'
"Oh, dan lagi Yamada—bibirmu manis."
Seringai pemuda bersurai perak itu melebar sembari menjilat bibirnya.
Seksi.
Menggoda.
Itu mungkin kata yang tepat untuk mendeskripsikan Miyamura saat ini.
'T—tahan dirimu Shiraishi, kau pasti kuat!'
"S–sialan! Berhenti menggodaku, Miyamura!"
Tsundere.
Manis.
Berkebalikan dengan Miyamura, Yamada memang lebih ukeish.
'Aaaah, aku benar-benar tidak tahaan'
Hei, kaian berdua. Tidakkah kalian menyadari keberadaan Shiraishi yang sedari tadi sedang berusaha manahan diri? Godaannya terlalu kuat, Shiraishi belum kuat iman, ayolah.
Kepulan asap sudah menguar dari atas kepala perempuan bersurai pirang itu. Sepertinya otaknya sudah overheat kerena mendapat inspirasi untuk doujin seperti tadi.
Yamada yang sepertinya baru menyadari bahwa masih ada orang yang menonton adegan tadi refleks bertanya setelah menyadari kepulan asap mulai memenuhi ruangan.
"O—oi, apa kau baik-baik sa—"
"Kurasa aku bisa beristirahat dengan tenang—"
Bruk
"Hoi!"
.
.
.
"Tch! Semuanya gara-gara kau, sialan!" Umpat pemuda besurai biru kepada temannya. Ia memandang perempuan bersurai pirang yang tengah pingsan di hadapannya.
"Kenapa malah aku?! Salahmu sendiri kenapa berwajah menggoda, aku kan jadi tidak tahan—"
Ucapan teman si pemuda bersurai biru itu dipotong oleh pukulan telak di wajahnya. Salah sendiri. Sudah salah, malah membumbui.
"Diamlah, sialan." Walaupun umpatan yang diucap, hal itu tidak dapat menyembunyikan rona merah di wajahnya. Dasar tsundere.
Miyamura yang menyadari hal itu tidak membuang kesempatan. Menggoda pemuda bersurai biru ini—yang diketahui bernama Yamada—merupakan sebuah kegiatan rutin yang baru untuknya.
"Hee~ wa—"
"Nggh.."
Ucapannya terhenti karena sebuah lenguhan terdengar dari perempuan bersurai pirang tadi. Ah, benar juga. Mereka sama sekali tidak memindahkan perempuan pirang itu saat pingsan, benar-benar bukan gentlemen. Memang bukan sih, mereka kan ho—lebih suka orenji. Sepertinya sih.
Mereka menolehkan kepala bersamaan ke arah suara tadi. Meneliti apakah benar suaranya berasal dari perempuan pirang itu atau ada makhluk lain yang melakukannya.
Alis mata si perempuan berkedut, tanda ia sudah sadar. Tak lama, kelopak matanya perlahan terbuka. Menampilkan iris magenta yang indah. Ia mengerjap, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke pupilnya.
Sedetik setelah ia dapat melihat dengan jelas, perempuan bersurai pirang itu terbelalak. Yang benar saja, alasan mengapa ia pingsan tadi berada tepat di depan wajahnya. Menatapnya dengan intens.
Terlintas sekelebat bayangan beberapa menit, atau bahkan jam—uhh, entahlah. Ia tidak ingat sudah berapa lama ia pingsan, tapi sepertinya tidak terlalu lama—tadi. Ia segera menutup hidungnya, menghalau cairan merah yang memaksa keluar.
Si pemuda bersurai biru yang dilabeli uke olehnya menatapnya panik. Si seme—maksudnya, pemuda bersurai perak merogoh kantung celananya; mencari sapu tangan mungkin?
Si uke—atau bisa kita panggil Yamada—melakukan hal yang sama. Entah apa yang dia cari, yang penting ia terlihat peduli. Setelah mencari dengan intens sebuah benda terjatuh dari kantungnya—apa itu? Tisu?
Hening beberapa saat. Tatapan mereka tertuju ke benda yang tadi terjatuh; kertas—yang berisi tulisan tangan urakan—tentang curahan hati seorang pemuda yang terluka.
Beragam ekspresi berbeda terpampang jelas di wajah mereka, tapi salah satunya menunjukkan ekspresi maklum. Menghela napas, pemuda bersurai perak itu meletakkan tangan ke bahu pemuda yang berada di sampingnya. Ia tersenyum lembut, mencoba menenangkan.
"Hey, Yamada?" Ia memanggil, sorot matanya terfokus pada kertas tadi—sebelum menatap Yamada intens.
"Kau tahu, walaupun kita baru mengenal satu sama lain, kau bisa bercerita tentang masalahmu; siapa tahu aku bisa membantu—"
Sadar akan tatapan heran yang diberikan Yamada, pemuda bersurai perak itu dengan cepat menambahkan,
"—itupun kalau kau mau, aku tidak akan memaksa."
Pemuda bersurai biru yang sedari tadi diajak bicara hanya balas menatap; kemudian menghela napas. Ia tentu saja tidak berpikir untuk mencurahkan isi hatinya ke pemuda yang baru saja ia kenal, namu tetap saja—mengetahui bahwa ada orang yang peduli padamu itu cukup membuat hatinya menghangat.
Yamada mendengus cukup keras; membuat Miyamura dan perempuan berambut pirang—yang entah sejak kapan sudah duduk—itu berjengit. Satu kata meluncur dari mulutnya; singkat, namun tulus:
"Terimakasih."
Keheningan tercipta setalah ucapan pemuda bersurai biru; menginggalkan perasaan janggal dalam diri sang lawan bicara. Berniat mencairkan suasana, Miyamura membuka suara:
"Tidak perlu. Setidaknya, harus ada seseorang yang dapat menjadi saksi akan kehidupanmu di dunia. Tulisanmu jelek—aku yakin tak ada orang yang dapat menerjemahkan catatan yang kau tinggalkan."
Perempatan tercipta di pelilis pemuda bersurai biru; kesal, tentu saja. Wajahnya memerah, ingin sekali ia mencekik pemuda bermulut pedas itu. Suara kamera menghentikan niatnya. Ia menoleh; mendapati satu-satunya perempuan di situ mengarahkan kamera ponsel ke arahnya—masih dengan hidung yang mengeluarkan cairan berwarna merah.
Perempuan itu—Shiraishi—membeku di tempat. Ia baru saja menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Mengambil gambar orang lain tanpa izin itu ilegal, apalagi kalau dilakukan secara frontal. Pemikiran atas apa yang akan terjadi berkumpul dalam benak Shiraishi, membentuk rantai bercabang; namun berakhir di tempat yang sama.
Pikirannya buntu. Peduli setan, setidaknya ia harus meminta maaf. Perasaan bersalah merasuk ke otak, membuat ucapan refleks terlontar tanpa pikir panjang:
"Ups."
Tubuh Shiraishi menegang.
Gila.
Ia pasti sudah kehilangan akal sehatnya. Nafsu akan pemenuhan asupan akan dua sejoli bergender sama menghilangkan kendali akan seluruh fungsi tubuhnya. Jujur saja, ia ingin mengubur diri sekarang. Ucapan refleksnya tadi berbanding terbalik akan perasaan bersalah dan akal sehatnya. Ia terlihat seperti tak merasa bersalah setelah memotret seseorang tanpa izin.
Perempuan bersurai pirang itu balas memandang kedua orang yang menatapnya dalam diam; meminta penjelasan.
'Gawat—' Batinnya.
Shiraishi menghela napas dan membuka mulutnya;
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N:
Halo, sepertinya sudah lama sekali saya tidak melanjutkan fansiksi ini. Sekitar 3 tahun saya rasa. Pertama-tama saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada pembaca yang sudah mengunggu cerita ini yang statusnya masih 'digantung'.
Jujur, tahun 2015 sebenarnya sudah ada chapter 3—tapi karena laptop saya rusak dan datanya hilang, saya jadi kehilangan motivasi untuk melanjutkan cerita ini. Tahun 2016 gaya bahasa dan penulisan saya berubah jadi saya rasa akan sulit kalau menulis ulang dari chapter awal.
Tahun selanjutnya sampai beberapa jam yang lalu, saya masih sibuk dengan urusan di dunia nyata. Awalnya saya cuma mau browsing, tapi entah kenapa saya tergerak untuk melihat review di fanfiksi yang pernah saya buat. Saya termotivasi buat melanjutkan cerita ini setelah membaca review dari pembaca.
Terimakasih sudah membaca fansiksi ini baik sengaja maupun tidak dan terimakasih karena telah memberi dukungan secara langsung maupun tidak langsung. Sampai jumpa di chapter berikutnya!
