Saia ingatkan lagi...
Perhatikan tanda-tanda di bawah ini!
Present : ...
Flashback : 000
...
...
악순환-ASH-
Chapter [01]
...
...
"Aku pulang...!"
"Oppa!!"
Baekhyun tersenyum melihat adik kecilnya Hyeri berlari ke arahnya dan kemudian memeluknya yang sedang membuka sepatu.
"Eomma masak, eomma beli banyak makanan! Hari ini eomma gajian!" celotehnya sambil masih menempel pada kakak kesayangannya.
"Oh, coba kita lihat." Baekhyun tersenyum berjalan menuntun adik perempuannya menuju dapur dimana ia menemukan sang ibu tengah menyajikan banyak makan malam di meja makan mereka masih dengan apron melekat di tubuhnya.
"Kau sudah pulang Baek..." Ibu Baekhyun tersenyum menyadari anak laki-lakinya telah pulang.
"Hu'um..."
"Ayo cepat duduklah! Eomma baru saja selesai masak."
"Yee!! Hyeri makan enak!" Baekhyun melihat adiknya berlari dengan riang naik ke atas kursi makan yang kemudian ia ikuti duduk di samping gadis kecil itu. Ibu Baekhyun tersenyum dan ikut duduk berseberangan dengan kedua anaknya.
"Selamat makan!" Ucap mereka serempak sebelum menyantap makan malam mereka. Ibu Baekhyun tak hentinya tersenyum melihat Hyeri memakan masakannya dengan lahap seakan tak ingin kehabisan. Dan ia beralih pada Baekhyun yang hanya melihat adiknya dengan senyuman tipis, dengan piring makannya yang masih tersisa banyak nasi seakan anak laki-laki satu-satunya itu baru memasukan satu dua suap saja ke mulutnya sementara Hyeri sudah mengambil nasinya yang kedua.
"Baek?"
"Hn?"
"Ada apa?"
Baekhyun melihat kekhawatiran terpancar jelas dari mata sang ibu membuatnya sadar apa yang tanpa sadar telah ia lakukan sampai membuat ibunya khawatir begitu. Jarang-jarang mereka makan enak begini dan biasanya Baekhyun selalu lahap bahkan berebut makanan dengan Hyeri.
"Tidak ada haha... " Baekhyun tertawa canggung sambil melahap makan malamnya berusaha terlihat lahap. Baekhyun selalu berpikir bahwa masakan ibunya adalah yang terenak dan dia tidak pernah bosan, tapi entah bagaimana akhir-akhir ini bahkan semuanya terasa hambar. Dan Baekhyun merasa sedikit berdosa karena merasa seperti itu.
"Bagaimana sekolah?"
Mendadak Baekhyun merasakan mual mendesak ke tenggorokannya saat mendengar kata 'sekolah'. Namun ia hanya mengangguk berusaha menelan nasi di mulutnya. "Semuanya baik-baik saja... "
Rasanya ingin muntah.
Ibu Baekhyun menatap anak laki-lakinya satu-satunya itu dengan penuh perhatian dan kekhawatiran. Sebagai seorang ibu, tentu ia tahu saat ada sesuatu yang salah pada anaknya. Baekhyun yang tidak pernah sekalipun selama ini terdengar berkelahi dengan seseorang, tiba-tiba akhir-akhir ini bukan sekali dua kali ia pulang dengan lebam disudut bibirnya atau bajunya yang kotor bahkan sobek. Namun saat ditanya, ia hanya akan menjawab 'aku laki-laki bu, wajarkan aku berkelahi karena perempuan?' Karena itu ibu Baekhyun hanya bisa menghela nafas dan mengatakan 'wajar tapi kalau sesering ini eomma khawatir'. Tapi sepertinya hari ini anaknya pulang tanpa ada lebam baru ataupun bajunya yang kotor, karena itu Ibu Baekhyun berusaha untuk tidak membahasnya.
"Baek..."
"Hn?"
"Tentang pekerjaan part timemu... eomma khawatir pihak sekolah tahu. Kau tau kan? Kau bisa dikeluarkan." Entah cuma firasatnya tapi sepertinya Baekhyun mengalami keanehan itu sejak ia mulai bekerja part time?
Namja imut itu menggelengkan kepalanya, "tidak eomma. Aku akan berusaha merahasiakannya. Tidak ada siswa siswi yang tahu soal ini kecuali Kai dan Kai tidak mungkin akan memberi tahu seseorang, dia pasti tidak ingin aku dikeluarkan."
Baekhyun berusaha meyakinkan.
"Tapi Baek... Kau tahu eomma bisa memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri. Kau masih dibawah umur, seharusnya kau fokus belajar saja!"
Baekhyun menggeleng kepalanya lagi, "aku tidak bisa membiarkan eomma terus lembur dan pulang larut malam. Lagipula aku menyukai pekerjaanku." Baekhyun tersenyum sebelum kembali menyantap makan malamnya berusaha terlihat lahap.
Ibu Baekhyun menghela nafas, "kau memang kerasa kepala...kalau begitu jaga kesehatanmu! Jangan terlalu memaksakan diri!"
"Hal yang sama juga untukmu, eomma."
Keluarga tanpa seorang ayah...
Baekhyun bangga pada ibunya yang bisa membuat mereka bisa bertahan hidup sampai saat ini walau tanpa seorang ayah untuk mencarikan nafkah. Tapi kini Baekhyun sudah dewasa, ia tidak bisa hanya membanggakan ibunya dan membiarkannya banting tulang seorang diri sementara ada yang bisa dia lakukan.
...
Baekhyun menghela nafas.
Pagi...
Kenapa cepat sekali datang...
Itu yang selalu Baekhyun pikirkan setiap kali matanya terbuka dari tidurnya semalam. Sambil membuka loker sepatunya, mengeluarkan sepatunya dan memasukan sepatu luarnya ke loker, ia memikirkan apa lagi yang akan dilakukan Tao dan teman-temannya padanya hari ini. Bohong jika Baekhyun mengatakan ia tidak takut dan gelisah setiap dihadapkan dengan yang namanya pagi dimana ia akan kembali mengulang apa yang disebut dengan "ASH"nya. Ia takut, tapi ia tidak bisa melarikan diri. Baekhyun bukanlah mereka yang saat mengetahui mendapatkan "Agsunhwan" dan langsung melarikan diri dengan pindah sekolah, karena mereka punya uang. Orang tua mereka punya uang! Dan Baekhyun tidak mungkin terus bolos yang pasti akan beresiko pada beasiswanya. Ia tidak ingin menyerah setelah ia berusaha keras agar bisa masuk ke sekolah ini dan di saat setengah perjalanan lagi menuju kelulusan seperti ini...
Bukan berarti Baekhyun orang yang berani dan kuat, sejak semula ia hanyalah seorang pengecut yang akan melarikan diri saat seseorang meminta bantuannya, hanya saja... tak ada tempat dan cara untuk melarikan diri baginya... Ini hukuman untuknya.
Cklek.
Baekhyun menolehkan wajahnya ke samping dimana di sana berdiri beberapa langkah darinya, sahabat sejak kecil yang selalu mencerahkan paginya dengan senyuman itu mengucapkan 'selamat pagi' padanya, tengah sibuk mengeluarkan dan memasukan sepatunya ke dalam loker.
Padahal mereka hanya berjarak beberapa langkah, tapi Baekhyun merasakan jarak yang teramat jauh bahkan hanya untuk agar suaranya mencapai sahabatnya itu.
Kai merasakan sepasang mata memperhatikannya dan ia segera menutup lokernya tanpa menoleh ke arah orang itu dan segera pergi dari sana dengan terburu-buru.
"Selamat pagi..." Baekhyun tersenyum getir sambil menutup lokernya. "Kai... "
000
"Umm~ Masakan ibumu memang paling enak!" Komentar Kai setelah diam-diam mengambil lauk dari bekal sahabat kecilnya, Baekhyun.
"Dasar kau!" Baekhyun mengambil kotak bekalnya dan menjauhkannya dari jangkauan Kai. "ibumu akan terluka kalau mendengar kata-katamu itu!"
"Masakannya memang tidak enak. Dia tidak pintar masak makanya membayar pembantu untuk melakukan itu kan?" Kai mengangkat kedua bahunya sambil memasukan nasi ke mulutnya.
Baekhyun menatap iba sahabat sejak kecilnya itu beberapa saat. Tidak, Tidak! Jangan tentang keluarga Kai, itu selalu membuat mood sahabatnya itu memburuk kalau membahas tentang orang tuanya. Ia harus mengalihkan pembicaraan !!
"Aa... Beberapa hari yang lalu ..." Baekhyun memulai.
"Hn?"
"Aku melihat seorang siswa tak beruntung yang tak sengaja menumpahkan minumannya ke baju seragam Park Chanyeol... " Baekhyun masih ingat bagaimana kedua mata namja itu menatapnya meminta pertolongan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari sana sebelum melihat sesuatu yang akan semakin membuat perasaan bersalahnya menggunung.
Kai berhenti mengunyah makanannya, "Park Chanyeol?!"
Baekhyun mengangguk.
"Wow! ASH yang akan didapatkan anak itu pasti spesial."
Baekhyun kembali mengangguk pelan.
Ya. Park Chanyeol...
Bisa dikatakan dia adalah leader dari geng Tao. Bahkan Tao yang tak berperasaan itupun takut padanya. Anak dari Park Jinsu yang merupakan CEO perusahan LG Corporation, perusahaan yang namanya sudah mendunia dan memiliki ratusan cabang di berbagai belahan dunia, menjalin hubungan baik dengan mafia dan para petinggi negara. Bahkan hukum bisa dibelinya. Mungkin membunuh satu manusia tidak akan dipermasalahkan jika Park Chanyeol yang melakukannya. Karena itu berurusan dengannya apalagi membuatnya terganggu atau jengkel adalah mimpi buruk bagi siswa-siswi di sekolah ini.
Dan satu orang lagi teman satu geng Tao yang juga ditakuti oleh siswa-siswi Hanyoung High.
Dia adalah Xi Luhan.
Saat pertama kali melihatnya kita tidak akan percaya dia adalah satu dari orang yang ditakuti seluruh siswa di sini. Wajahnya yang lebih cocok dikatakan cantik daripada tampan, dan sering sekali menebar senyum pada orang-orang di sekitarnya, santai dan terlihat kalem. Dia tipe laki-laki yang akan membuat perempuan bersedia menjadi wanitanya yang kesekian-sekian asalkan bisa mendapatkannya. Dia adalah sepupu Park Chanyeol. Anak dari adik perempuan ayah Park Chanyeol yang menikah dengan laki-laki asal China. Dia tidak banyak turun tangan untuk memberi siswa-siswi ASH seperti yang dilakukan Tao. Tapi sebagai sepupu Park Chanyeol, dia tetap lebih ditakuti daripada Tao. Karena saat seorang siswa/siswi membuatnya merasa terganggu, meski ia tidak memberi mereka ASH, mungkin Chanyeol yang akan menggantikannya memberi perintah pada para siswa pengikut mereka. Dan itu berarti ASH yang akan mereka terima lebih daripada sekedar bullyan seperti dijauhi semua siswa dan dikunci digudang sekolah selama seharian yang biasa diberikan Tao. Untuk kasus yang pernah terjadi sebelumnya bahkan ada seorang anak yang sampai dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Oleh karena itu, berurusan dengannya mungkin sama halnya berurusan dengan Park Chanyeol.
"Kasihan ya..." Kai bergumam sambil memasukan sesuap nasi, "apa kita pernah melihat anak itu sebelumnya?"
Baekhyun tampak berpikir beberapa saat, "kurasa aku pernah melihatnya. Sepertinya seangkatan dengan kita... "
"Hm..." Kai kembali mengangguk memasukan sesuap nasi lagi ke mulutnya.
"Kai..."
"Hn? "
"Aku selalu berpikir... Bagaimana jika orang yang menjadi korban ASH Tao dan gengnya adalah orang yang kita kenal dan tak sengaja kita melihatnya dibully di depan kita, apa kita akan diam saja dan melarikan diri?"
Kai mengernyitkan dahinya, "seperti teman sekelas kita yang pada brengsek itu? Yang hanya pamer kekayaan orang tua mereka dan memandang rendah kita?" Kai menggelengkan kepalanya kuat, "tidak, tidak! Karena itulah kita membatasi diri untuk tidak terlalu dekat dengan mereka kan? Kita tidak perlu merasa bersalah kalau-kalau menemukan mereka dalam keadaan seperti itu."
Baekhyun tertawa kecil, "tidak semua teman sekelas kita seperti itu!" Dan Kai menggulir bola matanya.
Memandang rendah kita?
Baekhyun sedikit menunduk memasukan makanannya ke mulutnya. Sebenarnya yang mereka pandang rendah hanyalah dirinya, tapi karena Kai selalu bersamanya, ia jadi ikut diperlakukan sama. Tapi pernah beberapa kali tanpa sengaja Baekhyun menemukan beberapa teman sekelasnya mengajak Kai ber main dan bahkan ada seorang perempuan di kelas mereka yang pernah menyatakan perasaannya pada sahabatnya itu, namun namja tan itu menolak semuanya, hanya karena ia tidak ingin Baekhyun merasa tertinggal. Itulah Kai. Sejak dulu dia selalu berdiri untuknya. Bahkan ialah yang selalu membela saat teman-teman sekolah dasar Baekhyun menjailinya. Karena itu Baekhyun merasa sangat beruntung bisa berteman dengan Kai. Ia akan melakukan apapun untuk agar selalu bisa menjadi temannya... Teman yang baik untuknya.
"Terimakasih atas hidangannya~" ucap Baekhyun dan Kai serempak lalu segera membereskan kotak bekal mereka.
"Baek, kapan kita bisa main sepulang sekolah lagi? Sejak kau kerja paruh waktu, waktu kebersamaan kita jadi berkurang," keluh Kai.
"Haha... aku tahu, kalau aku libur... bisa kan?"
"Tapi kapan hari liburmu itu? Tidak jelas." Kai menggerutu.
"Nanti aku beri-"
DUK... DUK... DUK... DUK... DUK...
Kai dan Baekhyun serempak menolehkan wajah mereka ke arah pintu atap, sumber dari mana mereka mendengar suara seperti banyak langkah kaki yang naik berlari menaiki tangga. Dan saat pintu atap terbuka dengan kuat, Baekhyun dan Kai segera menyembunyikan diri mereka di balik dinding bagian belakang pintu atap.
"Haha... Mau lari kemana lagi kau?"
Baekhyun menahan nafasnya saat melihat anak laki-laki yang kemarin tak sengaja menumpahkan minumannya ke seragam Park Chanyeol itu dengan wajah ketakutan terpojok di sana dengan 6 orang siswa mengepungnya. Tak ada geng Tao diantara mereka tapi Baekhyun tahu mereka pastilah suruhan geng itu.
"Kau tahu? Dengan menyusahkan kami seperti ini hukumanmu akan lebih berat." Salah satu dari lima orang siswa itu menyeringai.
"Aku mohon lepask-ugh!"
Namja bertubuh kecil itu terduduk di lantai setelah salah seorang dari kelima siswa yang mengepungnya menendang perutnya.
Baekhyun memalingkan wajah tak tega melihatnya. Ia berpaling pada Kai yang entah kenapa terlihat mengepal tangannya dengan sorot mata seperti... marah?
"Bagaimana kalau kita telanjangi saja dia terus kita buang semua bajunya?"
"Eww!! Terdengar menjijikan tapi ide yang bagus!"
Dan Baekhyun mendengar kelima orang itu tertawa serempak.
"Kai—"
BUAGH!!
Baekhyun membiarkan tangannya tetap terulur karena orang yang tadi bermaksud ia hentikan dari perginya dengan menarik seragamnya tak berhasil ia hentikan, karena gerakannya yang begitu cepat seperti hendak memburu.
Kenapa?
"Brengsek! Siapa kau hah?!" Salah seorang dari kelima orang itu terlihat geram setelah mendapatkan tinjuan di pipinya dari Kai.
"Sedikit saja kalian menyentuhnya lagi, aku akan—"
BUAGH!!
Siapa anak itu bagi Kai?
"Menghajar kami? HAHAH!!"
Baekhyun hanya berdiri mematung melihat kelima orang itu sekarang mengeroyok dan menghajar sahabatnya. Kakinya terasa mati rasa, kepalanya terasa berputar dan saat itu ia menyadari betapa menyedihkannya dirinya. Seorang pengecut yang hanya bisa berdiam diri melihat sahabat baiknya dipelakukan seperti itu.
Itulah yang selalu ia lakukan selama ini?
Pada mereka yang dalam hatinya menjerit meminta tolong padanya?
Tapi ia tak bisa bergerak dari sana... Kakinya serasa terpaku.
Setelah puas menghajar Kai dan anak yang menjadi sasaran awal mereka, kelima orang itu pergi dari sana karena mendengar suara bel sekolah berbunyi setelah mengatakan, "sampai jumpa besok pasangan homo loveydovey!"
"Dan kau!" Salah seorang dari mereka menunjuk Kai, "kau akan menyesal karena mengganggu kesenangan kami! " Kemudian mereka pergi sambil tertawa-tawa.
Baekhyun masih terdiam di tempatnya, tak punya muka untuk menunjukan dirinya di depan sahabatnya itu setelah menunjukan betapa pengecutnya dia. Namun Kai melihat kearahnya, dan tersenyum dengan sudut bibir lebam dan berdarahnya, "Maaf Baek... Aku melanggar janji."
Dan saat itulah tanpa terasa setetes air mata menetes dari satu mata Baekhyun.
#TBC#
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA :)
