Perhatikan tanda ini ya!!

Present : ...

Flashback : 000

...

...

악순환 -ASH-

Chapter [02]

...

...

Cklek.

Oh tidak!

Baekhyun mulai panik saat ia mendengar suara 'cklek' an dari luar dan saat ia mencoba membuka pintu stall itu...

BRUASH!

"Hahaha..."

Baekhyun mendengar beberapa siswa dan siswi di luar stall toilet tertawa-tawa setelah menumpahkan seember air dari atas hingga seluruh tubuh kecilnya basah kuyup.

Dan ia terkunci di tempat sempit itu.

"Bersabarlah sampai seorang pangeran menyelamatkanmu dari tempat yang paling cocok untukmu itu!"

"Maksudmu Youngju-ahjussi? Si tukang pembersih toilet?"

Dan Baekhyun mendengar mereka kembali tertawa sebelum akhirnya suara mereka semakin menjauh dan tak terdengar.

Namja mungil itu terduduk di atas kloset yang tertutup dengan tubuh lemah. Ia tidak menggedor-gedor pintu stall itu sambil berteriak 'buka pintunya!' saat siswa-siswa yang telah mengguyur dan menguncinya itu masih berada di sana karena ia tahu itu akan sia-sia. Untuk apa melakukan hal yang sia-sia yang sudah jelas tak ada hasilnya? Lagipula ia sudah lelah.

000

"Kenapa?"

"Aku hanya ingin terlihat keren di depan anak itu," jawab Kai sambil menggaruk tengkuknya, "tidakkah kau berpikir dia manis?" Ucapnya bercanda.

"Kai?"

Kai menghela nafas memalingkan wajahnya, "maaf Baek... Aku ceroboh."

"Siapa anak itu?"

Kai sedikit menunduk menggaruk kepalanya, "kau tahu, ini hal yang selalu tak bisa kukatakan padamu."

"Apa?"

"Dia Do Kyungsoo, aku selalu memperhatikannya sejak ujian masuk sekolah. Dan kau mengertikan?"

"Ya, aku salah satu dari yang mereka sebut sebagai...gay. "

Baekhyun membulatkan matanya.

"Aku tahu. Mungkin mulai saat ini kau akan berpikir bahwa aku menjijikan. Itulah yang selalu membuatku mengulurkan niatku untuk terus terang padamu. Tapi aku tidak mungkin terus menyembunyikan ini darimu. Maaf Baek..."

Itu adalah percakapan terakhir antara Baekhyun dan Kai hari itu. Setelah itu Kai tidak masuk sekolah selama dua hari dan Baekhyun tidak bisa menghubunginya selama itu. Ia tidak bermaksud membuat Kai merasa buruk dengan keadaannya apalagi sampai memutuskan pertemanan hanya karena itu, jujur saja ia kaget dengan pengakuan sahabat sejak kecilnya itu karena selama bertahun tahun berteman dengannya ia sama sekali tidak pernah menyadarinya. Kenapa Kai selalu menolak perempuan yang ingin mencoba dekat dengannya? Baekhyun pikir Kai hanya belum ingin menjalin hubungan dengan perempuan dan meninggalkannya menjadi seorang jomblo seorang diri.

Baekhyun tersenyum kecut pada dirinya sendiri. Ternyata selama ini ia hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri. Tapi itu berarti Kai pintar menyembunyikan sesuatu... sama seperti dirinya.

Sungguh Baekhyun tidak marah ataupun merasa jijik atau apapun. Karena itu saat Kai masuk lagi nanti, mereka harus membicarakannya sekali lagi. Baekhyun ingin menyampaikan perasaan yang sebenarnya tentang semua ini.

- GO TO HELL!!

DISGUSTING

FUCKING FAGGOT!!-

Baekhyun masuk kelas pagi itu dengan disambut tulisan dengan marker yang sengaja dibuat sedemikian rupa besar di whiteboard depan kelas. Dan ia tahu untuk siapa tulisan itu ditujukan.

"Hei!!" Seorang siswi terlihat protes saat Baekhyun dengan segera mengambil penghapus papan tulis dan hendak menghapus tulisan besar itu namun seorang siswa dengan segera menarik tubuhnya menjauhkannya dari depan papan tulis.

"Lepaskan aku!" Baekhyun membentak berusaha melepaskan diri dari seseorang yang menariknya, suaranya sedikit bergetar seakan menahan amarah dan tangis. Mereka tidak berhak menghakimi sahabatnya seperti itu! Baekhyun tidak terima. Ia yang tahu luar dan dalamnya Kai!!

"Berani sedikit saja kau menghapus tulisan itu dan kau berurusan dengan Park Chanyeol!"

Baekhyun menggigit bibir bawahnya meremas penghapus papan tulis di tangannya kuat. Mendengar nama itu membuatnya sungguh menjadi pengecut. Baekhyun tidak pernah ingin bahkan sekalipun dalam mimpi, untuk berurusan dengan ketiga orang itu, terutama Park Chanyeol. Mereka adalah orang-orang tak terkalahkan. Jangankan untuk mengalahkannya, bahkan meraihnya saja pun hal yang mustahil bagi Baekhyun. Dan prinsip makhluk kecil itu tidak pernah berubah, tidak usah mencoba sesuatu yang sudah pasti kegagalannya. Karena itulah yang dinamakan dengan usaha sia-sia yang hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga saja...

Baekhyun merasa nyaman berada di zona aman.

"Aha, sang Maho datang... "

Beberapa siswi di kelas itu terkikik mendengar seorang teman mereka mengumumkan. Dan saat itu Baekhyun langsung menangkap sosok Kai berdiri di ambang pintu kelas sambil menatap whiteboard.

"Kai!" Panggil Baekhyun.

Kai berpaling ke arah Baekhyun dan berjalan ke arah sahabat kecilnya itu. "Selamat pagi Baekkie." Sapanya tersenyum.

"Kemana saja kau? Sampai tidak bisa dihubungi. Kau membuatku khawatir!" Baekhyun meninju pelan lengan atas sahabatnya berusaha tertawa meski perasaannya masih tak enak karena hal tadi.

"Sorry, aku mempersiapkan mentalku haha..." Kai tertawa menggaruk belakang kepalanya.

"Benar-benar mesra..."

"Aku sama sekali tak pernah menduga... Pikiran inosenku menganggap mereka hanya sepasang sahabat yang begitu dekat."

"Ckck... Ternyata homo."

Baekhyun melihat ekspresi wajah Kai menegang dan ia pun mengerti karena Baekhyun sendiri kini tengah mengepal kedua tangannya geram. Ia ingin berteriak menyuruh manusia-manusia itu diam tapi Baekhyun tahu dia tak seberani itu. Sekali lagi ia kecewa pada dirinya sendiri.

"Mereka bilang di sini?"

...

Baekhyun tersadar dari tidurnya mendengar suara yang sangat familiar di telinganya memasuki toilet. Sial. Karena saking lelahnya tanpa sadar Baekhyun tertidur sambil terduduk di atas kloset. Padahal kalau mau, tadi dia bisa memanjat ke atas stall dan keluar dari sini.

"Mari kita lihat! "Yang berani membuka pintu ini akan mendapatkan ASH!" Haha... Aku tidak merasa pernah memberi perintah untuk menempelkan benda seperti ini pada mereka."

Baekhyun mendengar kunci pintu stallnya dibuka dari luar, dan jantungnya berdegup dengan kencang.

"Tapi kuakui mereka melakukan pekerjaannya dengan baik haha... ya kan Yeol?"

Dan Baekhyun sedikit jantungan saat pintu stall di depannya terbanting karena didorong dengan kuat menggunakan kaki dari luar.

"Ohoho~ Look! Who we have here?" Tao menyeringai memangku kedua tangannya menatap Baekhyun yang sedikit gemetar karena basah kuyup. Baekhyun bisa melihat dari sela-sela pintu dan Tao yang berdiri di depan stall, di belakang sana Xi Luhan yang sedang bercermin di wastafel tengah menata rambutnya dan Park Chanyeol yang membasuh tangannya tampak acuh dengan keberadaannya, "kau kedinginan?" Tao mengernyitkan dahinya. "Pasti karena baju basahmu itu kan?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya.

"Ah! Aku paling tidak suka orang yang malu-malu!" Tao menjambak rambut Baekhyun yang masih basah dan menyeretnya keluar stall mengabaikan makhluk kecil itu yang mengaduh dan dengan tak berperasaan mendorongnya tersungkur di lantai. "Hmm... Kau diapakan hari ini ya?" Tao berakting berpikir, memukul-mukul bibir bawahnya dengan telunjuk.

Baekhyun hanya terduduk memeluk lututnya. Ia tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan namja barmata sinis itu, matanya hanya terus melirik dengan takut-takut pada orang itu yang baru selesai mencuci tangannya dan kini tengah bercermin di depan wastafel. Dan jantung makhluk kecil itu seakan berhenti berdetak selama sepersekian detik saat tanpa sengaja kedua mata bulat nan tajam itu bertemu pandang dengannya melalui cermin. Dan saat itu juga Baekhyun menarik pandangannya.

Takut.

Baekhyun selalu merasa takut.

Kedua mata tajam itu seakan selalu melihatnya dengan tatapan jijik dan merendahkan.

Baekhyun selalu merasa ia makhluk paling hina jika menemukan kedua mata orang itu menatapnya.

Tapi itu jaranglah terjadi...

Karena dengan melihat Baekhyun saja mungkin sudah terasa memuakkan baginya.

Baekhyun hanya sibuk dengan pikiran-pikirannya sampai tanpa sadar 3 orang siswa sudah memasuki toilet. Meski ia sedikit melamun tapi ia ingat sepertinya tadi Tao menelpon seseorang.

Apa yang direncanakannya?

Baekhyun menatap kedua siswa itu dengan penuh kehati-hatian dan kewaspadaan.

"Kau kedinginankan?" Tao tersenyum, "biar kubantu membuka baju basah kuyupmu itu ya!"

Dan Baekhyun seperti tersentak saat sadar apa maksud dari kata-kata Tao.

"Telanjangi dia!" Perintah Tao pada ketiga siswa yang dipanggilnya sambil membuka kamera ponselnya bersiap mengabadikan penistaan yang dilakukannya pada Baekhyun.

Ketiga orang itu mengangguk dan segera menghampiri Baekhyun yang memucat.

"Tidak!! Lepaskan aku!!" Baekhyun berusaha memberontak melepaskan diri saat kedua orang dari tiga orang itu memegangi tangannya dan satu orang lagi mulai membuka kemeja seragamnya yang basah. "LEPAS!!!!!"

Tidak.

Jangan di sini...

Jangan sekarang!!!

000

"Baekkie... Aku punya satu permintaan!"

Baekhyun menoleh ke sampingnya dimana Kai duduk. "Ya?"

"Tolong jangan dekat-dekat denganku saat di sekolah."

"Apa?!"

Kai memainkan balpoin di tangannya, "kau lihat? Semua orang menganggapku menjijikan. Aku tidak ingin mereka memperlakukanmu sama hanya karena kau dekat denganku." Kai menoleh ke arah Baekhyun tersenyum tipis, "kau normal Baek. Kau tidak sepertiku. Tidak adil jika kau juga diperlakukan sama denganku."

Tidak.

Baekhyun ingin berteriak TIDAK.

Ia tidak perduli dengan mereka.

Ia ingin selalu makan bekal bersama Kai di atap seperti yang biasa mereka lakukan.

"Yang aku tahu kau itu cengeng dan mudah putus asa. jadi jangan sampai kau terlibat dengan geng Chanyeol. Karena akan sulit jadinya kau lulus dari sekolah ini. Kalau aku... Aku kan kuat! Lagipula sejak hari itu aku memutuskan untuk berlari ke arah mereka, aku sudah tahu bahaya apa yang menunggu di depanku."

Ini justru tidak adil bagi Kai diperlakukan seperti itu hanya karena ia ingin melindungi seseorang yang disayanginya. Ini tidak adil bagi Kai... dijauhi semua orang dan ditatap dengan tatapan jijik oleh setiap mata yang memandangnya dan mendapat memo yang mengatainya dengan kata-kata kejam. Bahkan selama seminggu ini mereka sudah tidak pernah lagi makan siang bersama. Entah itu karena kotak bekalnya yang dibuang ke tempat sampah atau Kai selalu pergi menghilang entah kemana yang kemudian Baekhyun temukan ia terkunci di toilet atau di gudang sekolah.

Hati Baekhyun terasa sakit.

Kenapa ia terlahir sebagai seorang pengecut? Kenapa ia tidak bisa mengatakan apa-apa? Kenapa terasa begitu sulit untuk berterus terang?

"Oi, MaHo!"

Kai menoleh ke arah tiga orang yang sudah berdiri di ambang pintu kelas yang Baekhyun kenali, mereka adalah tiga orang dari beberapa orang yang mengeroyok Kai beberapa hari yang lalu. Baekhyun segera menarik bagian samping seragam Kai saat sahabatnya itu berdiri dari bangkunya.

"Hari ini kau libur kan? Kita main sepuasnya sepulang sekolah. Ok?" Kai tersenyum mengacungkan jempolnya dan kemudian melepaskan tangan Baekhyun dari seragamnya.

Baekhyun duduk mematung seperti yang selalu ia lakukan.

Tak ada yang bisa ia lakukan selain diam dan melarikan diri. Karena hanya itulah yang bisa dilakukan seorang pengecut.

Sosok Kai yang menghilang ke balik pintu bersama ketiga orang itu membuat Baekhyun benar-benar merasa kehilangan. Tapi ia tidak ingin mengikutinya, ia tidak ingin membuat dirinya lebih terasa pengecut lagi.

Tapi perasaannya benar-benar sakit.

BRAK!

...

Baekhyun memeluk lututnya kuat, membola di atas kloset yang sama dengan dimana sebelumnya ia sempat tertidur. Hanya bedanya kali ini ia telanjang dan itu yang membuatnya terasa lebih kedinginan. Hanya celana dalam yang tersisa melekati tubuhnya. Tao membuang kemeja dan celana seragamnya entah kemana.

"Hei, tersenyumlah! say "hi" ke kamera! Sebentar lagi kau akan terkenal!" Tao tertawa-tawa terlihat menikmati pengambilan videonya namun karena Baekhyun hanya memeluk lututnya gemetaran sambil menyembunyikan wajahnya di atas lutut membuat namja berdarah China itu sedikit jengkel. "Woi!! Tunjukan gigi-gigimu!! Atau kau ingin aku merontokannya!!?" Tao menjambak rambut Baekhyun kesal, membuat anak laki-laki kecil itu menengadah dan sekali lagi tanpa sengaja Baekhyun bertemu pandang dengan tatapan mata orang itu yang ia takuti.

Baekhyun mengeratkan pelukan lengannya di kedua lututnya. Bibirnya terkembang tipis namun getir.

Menyedihkan.

Itu yang Baekhyun tangkap dari tatapan kedua mata tajam itu saat melihatnya. Ia memang orang yang menyedihkan...

Pengecut dan menyedihkan.

Kai...

Ingin sekali ia berteriak meminta tolong dan menyebut nama sahabatnya itu saat ketiga orang itu tadi membuka bajunya dengan paksa.

Dan sekarang pun Baekhyun ingin melakukan hal yang sama.

"Kai... Tolong..." Baekhyun menenggelamkan wajahnya di atas lututnya. Bagaimana ia bisa pulang dalam keadaan telanjang seperti ini? "Kai... kumohon datanglah!" Bisiknya pelan sambil berusaha menahan air mata nya yang memaksa keluar. Tidak! Ia tidak boleh menangis!

000

"Berani juga kau!" Tao menatap Kai dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. "Jadi... Katakan! Anak itu teman... Sahabat... Atau kekasihmu?" Tao sedikit berekspresi jijik di kata-kata terakhirnya. Dan terdengar beberapa orang di kafetaria itu terkekeh mengejek.

"Apa kau tidak punya mulut?" Tao mengucurkan minuman kalengnya dengan santai di atas kepala namja tan di hadapannya. "Atau kau menyesali tindakan gegabahmu yang membuat semua orang sekarang tahu bahwa kau seorang HOOOMOOO?!" Tao membulatkan mulutnya sambil menyeringai. Dan lagi-lagi tawa ejekan menjadi background di belakang Kai.

"FUCKING ANSWER MY QUESTION! YOU FAGGOT!!" Tao menampar pipi Kai yang tetap merapatkan mulutnya. "Kau ... benar-benar sok hebat rupanya, berani mengabaikan perintahku, hah?" Tao mengangkat dagu Kai dengan telunjuknya. "Yeol~ katakan sesuatu!" Tao menoleh ke belakangnya dimana kedua temannya tengah bersantai meminum minumannya. "Anak itu yang menumpahkan minumannya di seragammu ... Kau yang memberinya ASH kan?"

BRAK.

Semua orang yang ada di kafetaria saling berbisik dan mulai ribut saat melihat Chanyeol berdiri dari duduknya setelah menendang kursi yang ada di sampingnya. Sementara itu, Baekhyun yang bersembunyi di balik dinding pembatas yang ada di kafetaria itu menahan nafasnya saat laki-laki yang paling ditakuti siswa-siswa Hanyoung itu berjalan menghampiri Tao dan sahabatnya. Kalau Chanyeol sudah turun tangan, itu berarti masalah Kai membuatnya terusik.

Dan ini gawat.

"Siapa namamu?"

Ini pertama kalinya Kai maupun Baekhyun mendengar suara seorang Park Chanyeol...

"K-Kim... Kim Jongin."

Baekhyun menggamit samping celana seragamnya. Topeng Kai telah runtuh.

Baekhyun tahu itu, sejak dulu sahabatnya itu selalu berusaha berpura-pura kuat meski sebenarnya dia juga sama penakutnya dengannya. Tapi Kai selalu mengatakan Baekhyun lebih kecil darinya karena itu sosoknya seperti seorang adik yang harus dilindungi, dan dia seorang kakak yang harus melindungi. Sejak dulu, Kai memang selalu sok kuat kalau demi seseorang yang ingin dilindunginya. Tapi Baekhyun tahu... . Bahkan saat tadi sahabatnya itu menghadapi Tao, meski sedikit Baekhyun melihat tangan Kai gemetar. Namun di depan Tao, Kai masih bisa menggunakan topeng tanpa ekspresinya.

Tapi topeng itu tidak cukup kuat untuk menghadapi Park Chanyeol...

"Kim Jongin-ah... Tahu kah kau, bahwa sikap ke-sok pahlawanmu itu telah mengusikku?"

Kai menatap lantai di bawah kakinya tak berani menatap wajah seseorang di hadapannya.

"Kau tahu kesalahan apa yang dilakukan teman berwajah bulatmu itu? Atau aku sebut saja dia kekasihmu?" Ekspresi wajah Chanyeol tak berubah seperti sebelumnya. Tak terlihat ada kemarahan, kejengkelan, atau emosi yang nampak di wajahnya. Tapi itulah yang dikenal sebagai Park Chanyeol. Kita tidak tahu apakah dia sedang senang, jengkel, marah, bingung atau yang lainnya. Bahkan saat menghajar seseorang sampai hampir matipun ekspresi itulah yang dipakainya. "Dia menumpahkan minumannya di baju seragamku dan karena itu hampir seharian aku harus berkeliaran dengan baju-"

"Aku yakin dia sudah minta maaf." Kai menunduk mengucapkannya hampir berbisik, namun sayangnya Chanyeol punya pendengaran yang sangat tajam.

"Jadi kau mengatakan bahwa aku yang salah?"

Kai mengangkat wajahnya segera, "tidak, aku-"

BUAGH!!

Beberapa siswi di kafetaria itu memekik refleks dan ada juga yang menutup mulutnya saat tubuh Kai tersungkur menabrak meja makan di belakangnya.

"Sepertinya kau tidak tahu cara menjaga mulutmu Kim Jongin-ah."

BUAGH!

Kai merasakan kepalanya pening seketika dan rasa sakit di perut juga pipinya dan rasa darah di mulutnya, membuatnya mual dan tersungkur di lantai.

"Kau tahu aku paling tidak suka seseorang memotong saat aku sedang bica-"

"HENTIKAN!"

Semua mata kini mengarah pada seseorang yang baru saja berteriak seakan menahan kepalan tangan Chanyeol agar tetap berada di udara dan tidak mengenai tubuh Kai lagi yang terlihat sudah kepayahan hanya dengan setelah menerima dua kali tinjuan tangan kakak kelasnya itu.

Oh.

Tidak...

Baekhyun segera menutupi mulutnya sendiri saat Chanyeol menoleh ke arahnya dan ia sadar apa yang baru saja telah ia lakukan.

...

BRUK.

Baekhyun mengangkat wajahnya merasakan sesuatu terjatuh di atas kepalanya. Namja mungil itu menggerakan tangannya untuk meraih sesuatu itu yang ternyata adalah celana dan kemeja seragamnya yang masih sedikit basah.

"Kai?!" Panggil Baekhyun refleks. "Kai?! Kau di situ?"

Namun tak ada suara yang menyahut, hanya terdengar suara langkah kaki dari luar sana.

Baekhyun sedikit tersenyum segera memakai bajunya. Pasti Kai. Tidak salah lagi! Tidak akan ada orang yang mau bersusah-susah mencarikan bajunya dan membawanya kemari kalau bukan sahabat baiknya itu. Tidak ada orang di sekolah ini yang perduli padanya selain Kai. Meski mungkin sahabatnya itu menjauhinya, Baekhyun yakin, ia tetaplah Kai sahabatnya.

#TBC#

Oh ya, di fanfic ini AgSunHwan atau ASH itu nama untuk semacam hukuman yang akan didapat siswa jika mereka mengusik atau tanpa sengaja jadi berurusan dengan Geng Chanyeol dkk. Kayak F4 gitu LOL cerita ini memang sangat terinspirasi dari Hanayori Dango/BBF /Meteor Garden xD #PLAK tapi saia buat plot versi saia sendiri kok. Cuma jangan heran kalo ada yang samanya wkwk~