Perhatikan tanda ini ya!!
Present (saat ini) : …..
Flashback : 00000
...
...
악순환 -ASH-
Chapter [3]
...
...
...
Klek.
Baekhyun merogoh ponsel yang syukurlah masih ada di saku celananya, setelah ia selesai memakai seragamnya dan sedikit guratan senyum terpahat di wajah anak laki-laki mungil itu saat ia hendak menyampaikan ucapan terimakasihnya pada Kai atas apa yang telah sahabatnya itu lakukan hari ini untuknya. Ia membuka pintu stall sambil berkutat dengan ponselnya, mengetik pesan untuk Kai masih dengan senyum di wajahnya sampai tiba-tiba ia merasakan keberadaan lain selain dirinya di toilet itu.
Baekhyun mengalihkan tatapannya dari layar ponsel dan ia hampir tidak mempercayai sosok yang ditemukan matanya yang tengah berdiri di hadapannya. Berdiri santai memangku kedua tangannya sambil menyandarkan tubuhnya ke wastafel hingga punggungnya yang terpantul di cermin.
"Kau pasti berharap aku adalah temanmu..."
Baekhyun mematung.
"Maaf membuatmu kecewa... "
Apa?
Kenapa?!
00000
"Jadi... bagaimana hubunganmu dengan Do Kyungsoo?" Tanya Baekhyun sambil memasukan sesuap nasi ke mulutnya.
Ini masih terlalu dini untuk waktu istirahat siang, tapi Baekhyun dan Kai sudah membobol kotak bekal makan mereka masing-masing dan menyantapnya bersama di tempat yang sudah seperti base rahasia bagi mereka. Atap sekolah.
Karena tindakan Baekhyun beberapa hari yang lalu membuatnya mendapatkan ASH juga, semua teman-teman sekelas mengasingkannya bersama Kai. Bahkan pagi tadi mereka menemukan bangku mereka sudah tidak ada di tempatnya, dan melapor pada guru pun tidak akan membuat perubahan apa-apa. Jadi untuk sehari ini saja mungkin guru akan memaklumi bolosnya mereka.
Kai sedikit menggaruk tengkuknya canggung, "beberapa hari yang lalu dia menemuiku dan dia bilang... Gara-gara aku sekarang teman-teman sekelasnya mengatainya gay," ia tertawa kecil, "sepertinya dia marah."
Baekhyun berhenti mengunyah nasinya dan menelannya paksa, "apa? dia tidak berterimakasih padamu?" Ia mengernyitkan dahinya.
Kai menggelengkan kepalanya, "tidak Baek. Sepertinya aku memang terlalu gegabah tanpa memikirkan akibat apa yang akan kutimbulkan karena kecerobohanku itu. Lagipula aku tidak berharap apa-apa. Mungkin jika saat itu aku tidak berlari ke arah mereka, aku akan lebih menyesal lagi dan membenci diriku yang tidak berbuat apa-apa. Aku hanya melakukannya untuk membebaskan diriku dari perasaan seperti itu. Aku hanya melakukannya untuk diriku sendiri. Setidaknya sekarang dia tidak menjadi target utama ASH geng Chanyeol."
"Tapi, bukankah setidaknya dia harusnya berteri—"
"Dengan menyukainya saja itu sudah suatu kesalahan Baek."
Baekhyun menatap kotak bekal di tangannya.
"Menjadi orang sepertiku... itu saja sudah kesalahan." Kai sedikit tersenyum kecil, "kau tahu, saat kita menyukai seorang perempuan, apa yang membuat kita tidak berani mengungkapkannya? takut ditolak karena dia tidak mempunyai perasaan yang sama. Hanya itu. Tapi kau tahu, meski perempuan itu tidak menyukai kita, dia pasti tetap merasa senang atau bangga karena disukai oleh seseorang kan?"
Baekhyun menganggukan kepalanya.
"Tapi aku... Kalau kau menjadi aku, tidak seperti itu." Kai memainkan sumpit di kotak bekalnya, "pertanyaan seperti...'apakah dia sama dengan kita? bagaimana kalau dia straight? Dia akan jijik melihatmu setelah tahu perasaanmu, dia akan membencimu. Dan bagaimana pandangan orang-orang... ' akan terus berputar-putar di kepalamu."
Baekhyun mengeratkan pegangan tangannya di kotak bekalnya yang hanya ia tatap isinya.
"Dan aku benar-benar terkejut kau masih mau berteman dengan orang sepertiku... "
"Kai aku—"
"Yang lebih mengejutkanku lagi, kau berani-beraninya membelaku dari Chanyeol di depan banyak orang begitu!"
"Aku benar-benar masih kesal padamu!" Kai menggeplak kepala Baekhyun pelan membuat sahabat kecilnya itu terkekeh. Ya, hari itupun Kai memarahinya.
"Maaf!"
"Bodoh!"
"Aku tahu." Baekhyun pura-pura cemberut.
"Kau benar-benar membuat seorang Park Chanyeol terlihat sangat kesal. Selama ini tidak pernah ada orang yang berani menentang atau menghentikan apa yang ia lakukan semaunya pada korbannya, dan tiba-tiba saja kau dengan bodohnya berteriak begitu. Dia pasti merasa dipermalukan." Celoteh Kai yang entah kenapa ia justru terlihat puas di mata Baekhyun.
Ya. Hari itu ...
Mata itu menatap Baekhyun dengan penuh kemarahan. Park Chanyeol terlihat sangat marah ia mengganggu kegiatannya. Sampai-sampai dia pergi begitu saja? Itu yang tidak Baekhyun duga. Padahal makhluk kecil itu sudah mempersiapkan fisik dan mental untuk menerima apapun itu kekerasan yang akan Chanyeol lakukan padanya. Tapi tidak ada. Dia hanya pergi begitu saja setelah menatapnya untuk waktu yang cukup lama. Bahkan Tao mengernyitkan dahinya saat leader gengnya itu pergi. Tapi Baekhyun masih ingat ancaman Tao saat sebelum akhirnya dia dan juga Luhan pergi, "Kau boleh rileks sekarang, makhluk kecil. Chanyeol hanya terlampau kesal dengan kenyataan sudah ada dua orang berturut-turut yang berani menentangnya di sekolah ini. Tapi kau bersiap-siap saja. Dan manfaatkan waktumu selagi ia masih memberimu kesempatan... " Ucapnya dengan seringaian.
Baekhyun tahu itu.
Tapi dia bersama Kai, sahabatnya. Seperti yang Kai katakan tadi, jika saja ia juga tidak menghentikan Chanyeol menghajar Kai waktu itu, maka saat ini dipastikan ia sedang membenci dirinya sendiri yang tak melakukan apa-apa. Dan dia tidak akan sedang melahap bekal makan mereka berdua di atap seperti sekarang ini, karena ia pasti tidak akan punya muka lagi untuk menemui sahabatnya.
"Kau benar-benar bodoh!!"
"Aku tahu! Sudah berapa kali kau mengucapkan kata itu selama beberapa hari ini?!"
"Aku hanya belum puas! Kenapa kau bodoh sekali sampai berani melakukan itu?!"
"Kau sendiri?! Memangnya hanya kau saja yang boleh sok kuat dan ingin terlihat keren?"
"Kau ingin terlihat keren juga? Di depan siapa?" Kai mengernyitkan dahinya.
Baekhyun mengembungkan kedua pipinya sambil memalingkan wajah.
"Apa itu?! Oi?!" Kai protes sambil tertawa-tawa, karena tingkah sahabat kecilnya itu yang jujur saja...terlihat menggemaskan.
Pokoknya, selama Baekhyun menjalaninya bersama Kai, seluruh orang sekolah membully-nya pun tak apa. Asalkan ia bersama Kai, Baekhyun pikir ia bisa menjalani sisa hari-harinya di sekolah ini, sekalipun hari-hari itu dipenuhi dengan berlari-larian menghindari kejaran pengikut geng Chanyeol yang ingin membullynya, sekalipun ia harus pulang dengan seragam dan tubuh yang kotor, karena ia menjalaninya bersama Kai, namja kecil itu bisa kuat menghadapi hari-hari seperti itu. Ya, asalkan ada Kai yang selalu menemaninya tertawa saat mereka kembali menceritakan kejadian-kejadian itu, Baekhyun tidak apa-apa.
Baekhyun berhenti mengembungkan pipinya dan sedikit menunduk menaruh kotak bekalnya di lantai, "Kai sebenarnya..."
"Hn?" Kai mengernyitkan dahinya, namun kemudian senyumnya melebar, "kau menyukai seseorang?"
Kai melihat tubuh Baekhyun sedikit menegang mendengar kata-katanya, namun akhirnya ia mengangguk kecil membuat senyum Kai semakin melebar.
"Katakan, apa perempuan itu dari kelas kita? Sejak kapan kau menyukainya?" Kai mendadak antusias.
Baekhyun segera menggelengkan kepalanya kuat, membuat Kai kembali mengernyitkan dahinya.
"Atau dari kelas lain?"
"Tidak."
"Dari sekolah lain?"
"Tidak! Aku bukan menyukai perempuan..."
Baekhyun menunduk sambil memejamkan matanya tak ingin melihat ekspresi yang ditunjukan Kai saat ini.
"HEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!??" Kai terperanjat dari posisinya duduk. "Kau... kau..." ia menunjuk Baekhyun.
Baekhyun mengangguk sedikit menggigit bibir bawahnya. "Maaf, aku tidak lebih awal jujur padamu..."
Kai masih terlihat shock, "Kau tidak terlihat—"
"Itu juga yang kupikirkan tentangmu saat kau pertama kali mengatakannya!"
Kai kembali membenarkan duduknya bersila dan sedikit menggaruk tengkuknya, tersenyum canggung, "ternyata kita tidak benar-benar saling mengenal dengan baik haha..." Baekhyun sedikit tidak setuju dengan Kai, mereka dekat, mereka mengenal satu sama lain dengan baik hanya untuk satu hal itu saja mungkin mereka lalai tidak saling memperhatikan, "lalu... siapa orang beruntung itu yang disukai oleh sahabat manisku ini?"
"Kai!" Baekhyun protes, paling tidak suka digoda atau disebut manis oleh sahabatnya itu. Oleh siapapun! Dan Kai hanya tertawa dengan protesannya.
"Jadi, siapa dia?"
...
Baekhyun sedikit mundur saat Luhan beranjak dari tempatnya berdiri melangkah menghampirinya. "Tidak usah tegang begitu, aku tidak akan menindasmu seperti Tao ..." Ia tersenyum.
Apa Baekhyun sedang bermimpi?
Seorang Xi Luhan tersenyum kepadanya?!
Dan yang lebih mengejutkan dari itu...
"Luhan-ssi... Kau... Yang membawa seragamku?" Tanya Baekhyun takut-takut, yang bahkan ragu dengan pertanyaannya sendiri. Tidak mungkin kan? Apa alasannya seorang Xi Luhan repot-repot melakukan itu?
Namun dia mengangguk, "ya..."
"Kenapa?!" Pertanyaan Baekhyun hampir seperti pertanyaan refleks karena kaget dengan jawaban yang ia dapatkan.
"Mungkin karena aku baik?" Canda laki-laki yang lumayan tinggi dan terlihat elegan itu, kembali tersenyum sambil memiringkan wajahnya membuat Baekhyun juga ikut memiringkan wajahnya.
Tapi melihatnya dari jarak sedekat ini... Xi Luhan memang benar-benar sosok manusia yang sempurna bagi Baekhyun. Wajahnya yang tampan tapi juga cantik, tubuhnya yang tinggi ramping, kulitnya yang putih bersih bahkan melebihi perempuan...
"Mungkin... Aku hanya tidak suka cara Tao dan Chanyeol memperlakukanmu. Aku tidak ingin kau menganggapku sama seperti mereka. Sejak dulu, sebenarnya aku tidak pernah setuju dengan apa yang mereka lakukan. Apa lagi melihatmu..." Luhan menatap Baekhyun dengan prihatin. "Rasanya tidak adil anak laki-laki manis sepertimu diperlakukan seperti itu."
Manis?
Baekhyun menunduk merasakan wajahnya memanas dikatai begitu. Padahal biasanya ia paling tidak suka dikatai "manis" oleh siapapun.
"Tapi kau mau janji padaku?"
Baekhyun kembali mengangkat wajahnya.
"Tolong jangan katakan ini pada Chanyeol maupun Tao. Ini adalah rahasia kita berdua, janji?"
Baekhyun tanpa berpikir panjang lagi langsung menganggukan kepalanya.
"Bagus," namja bermata rusa itu kembali tersenyum membuat Baekhyun tidak tahu harus bertingkah bagaimana, "sebaiknya kau berjemur terlebih dahulu sebelum masuk kelas, seragammu masih basah..."
"Iya, terimakasih."
"Jangan terlalu formal begitu denganku..." Luhan sedikit terkekeh.
Baekhyun hampir tidak mempercayai ini...
Fakta baru yang ia temukan, bahwa Xi Luhan ternyata berbeda dengan Chanyeol dan Tao. Memang selama ini Xi Luhan terlihat tidak pernah menindas siapapun bahkan menindasnya, tapi mengetahui dia bahkan sampai repot-repot membawakan seragamnya yang mungkin sudah Tao buang entah kemana, dan mau berbicara dengannya seperti ini... Sungguh suatu hal yang sulit untuk dipercaya.
00000
"Mati kau! Homo!" Dan kedua orang itu tertawa melewati Kai yang tengah memasukan baju seragamnya di loker ruang ganti olahraga. Baekhyun melihat Kai mengepal satu tangannya di samping celana baju olahraganya, dan lagi-lagi Baekhyun merasa sakit dan tidak berguna. Ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuat orang-orang itu berhenti mengatai Kai.
DUAK!
"Kai!"
"Serves You Right~ Faggot ~ Hahaha..." Dan laki-laki teman sekelas Baekhyun itu berhigh-five dengan teman-temannya yang lain setelah dengan sengaja melemparkan bola basket yang mengenai kepala Kai untuk yang kesekian kalinya.
Baekhyun segera membantu Kai untuk berdiri yang terlihat kepayahan karena sakit dan pusing di kepalanya. Baekhyun tidak tahan lagi melihat mereka dengan seenaknya melempari sahabatnya dengan bola lebih sering daripada mereka melempar ke ring.
"KALIAN BENAR-BENAR TIDAK PUNYA HATI!!" Teriak Baekhyun geram, namun mereka hanya tertawa-tawa dan memberinya thumb-down.
"Sudah Baek! Tidak akan ada gunanya," Kai menarik kaos olahraga sahabat mungilnya itu.
"Tapi aku tidak tahan lagi..."
"Sebaiknya kau antar aku ke UKS. Aku benar-benar pusing." Ajak Kai tersenyum. Baekhyun menunduk lalu menganggukan kepalanya. "Ayolah ~ jangan murung begitu! Aku tidak apa-apa!" Kai memukul lengan atas Baekhyun lalu segera merangkul sahabat kecilnya itu. Dan mereka berdua berjalan ke UKS meninggalkan lapangan olahraga setelah sebelumnya meminta izin pada guru.
Kai terus bercanda di sepanjang perjalanan mereka menuju UKS untuk menghibur Baekhyun dan meyakinkan bahwa ia tidak apa-apa, ia tidak akan kalah dengan kelakuan teman-teman sekelas mereka yang kekanak-kanakan itu.
"Aku tidak mau ke UKS," gumam Kai tiba-tiba.
"He?"
"Ayo ke atap, Baekkie!" Ajak Kai riang sambil menarik lengan sahabat kecilnya itu.
"Tapi, kepalamu!?"
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa!"
Baekhyun akhirnya berjalan mengikuti kemana Kai menariknya setelah sebelumnya menggerutu, "dasar!" namun ia tersenyum. Karena membolos bukan hal yang buruk juga dalam keadaan mereka saat ini.
Mereka menghabiskan satu jam pelajaran mereka dengan membicarakan game yang akhir-akhir ini sedang Kai gilai dan keluhan-keluhan Baekhyun di tempat kerja sambilannya sampai Baekhyun menguap dan tanpa sadar tertidur saat Kai asik celoteh kesana-kemari.
"Oi!"
Baekhyun membuka matanya saat merasakan pipinya ditepuk-tepuk sebuah tangan. "Kai?"
"Mau sampai kapan kau tertidur? Dasar kebluk. Ini sudah bel pulang..."
"Eh?" Baekhyun segera membangunkan dirinya. Rasanya baru saja sekejap dia tertidur.
"Ayo ambil tas, dan kita pulang!" Seru Kai sambil membangkitkan tubuhnya berdiri setelah sedikit meregangkan tubuhnya. Akhirnya jam sekolah hari ini berakhir, pikir Baekhyun sambil menepuk-nepuk celana olahraganya lalu berlari mengejar Kai yang telah lebih dulu dengan semangat berlari turun dari atap. Meski begitu, hanya beberapa jam saja dalam sehari mereka akan merasa bebas dari rasa tertekan dan cemas. Karena hari esok masih menunggu, untuk mengulang perasaan yang sama, hal yang sama, lagi dan lagi.
"Hyeri?!"
Ibu Baekhyun sedikit kaget anak laki-lakinya itu tiba-tiba masuk ke kamarnya dan memanggil adiknya yang sudah nyenyak tertidur dengan lantang bagitu. "Ada apa Baek? Hyeri sedang tidur."
"Hyeri... Apa dia mengambil buku sketsaku?" Tanya anak laki-laki mungil itu terlihat panik.
"Tidak, kalau dia mengambil barang-barangmu pasti dia membawanya pada eomma. Ada apa Baek?"
"Buku sketsaku..." Baekhyun bergumam meremat kain sweater di dadanya. Ia tahu. Baekhyun tahu buku sketsa itu selalu ada dalam tasnya, ia tahu bahkan tadi pagi ia melihatnya masih ada di sana. Tapi ia hanya ingin meyakinkan, setidaknya ia ingin kenyataan berubah dan ia akan bersyukur jika ternyata adiknya lah yang mengambilnya. Dicoret-coretpun tidak apa, ia tidak akan lagi marah seperti biasanya! Asalkan apa yang ada dipikirannya tidak benar-benar terjadi...
00000
BRUAK.
Kepala Baekhyun refleks menyamping saat sebuah buku dilempar dengan kasar ke wajahnya. Dan saat buku yang sangat ia kenal itu jatuh berantakan di depan kakinya, Namja mungil itu sedikit tersenyum getir untuk kehidupan ini yang memang seakan membencinya.
"Mati saja kau!" Terdengar seperti gumaman tanpa ekspresi dan emosi yang keluar dari mulut orang itu. Tapi itu sudah cukup untuk membuat Baekhyun benar-benar ingin mati.
PROK... PROK... PROK...
Tao bertepuk tangan seakan meminta perhatian semua pengunjung kafetaria saat itu. "Teman-teman, kita punya sedikit berita yang menarik di sini..." Ucapnya lantang terlihat riang seakan itu adalah hiburan yang menarik untuknya. Tao berjalan menghampiri leadernya dan Baekhyun yang berdiri tidak jauh beberapa langkah di depannya. "Kau seharusnya tidak memperlakukan karya seni kelas tinggi begini dengan tidak berperasaan begitu kan, Yeol?" Tao berjongkok mengambil buku sketsa yang terlihat diabaikan dan membuka-bukanya dengan seringaian.
"Kita punya seorang seniman berbakat di sini, lihatlah! Dan berikan pendapat kalian!" Tao mengangkat buku itu tinggi-tinggi di satu halaman agar semua orang di kafetaria itu bisa melihatnya. Dan semua orang terlihat terkejut dengan goresan-goresan pensil di kertas itu yang membentuk wujud sesosok orang yang sangat mereka kenal dan takuti. Namun baru saja sebentar Tao memamerkannya, Chanyeol segera merebut buku itu dan membuangnya ke sembarang arah. Melihat buku sketsanya diperlakukan seperti itu, Baekhyun benar-benar ingin menangis rasanya.
"Yeol~ tidakkah kau pikir dia seniman yang berbakat? Dia membuat portraitmu dengan sempurna!" Rengek Tao.
Baekhyun yang sedang menatap buku sketsanya tergeletak menyedihkan di lantai, ingin rasanya berlari mengambil buku itu tapi ia seakan tak punya kekuatan meski untuk bergerak hanya satu langkah. Sesuatu yang selalu ia jaga... Tidak pernah terpikir sedikitpun untuknya membuat orang itu tahu. Ia hanya mengagumi sebuah bintang yang tidak mungkin bisa ia raih dan akan mendengar perasaannya.
Tapi kenapa...?
Kenapa hal ini terjadi?
"Menggelikan sekaligus menjijikan..."
Baekhyun mendengar seseorang di belakangnya...
"Apa dia tidak bercermin?"
Baekhyun meremat celana seragamnya, ia ingin berlari sampai tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menyentuh lehernya dan namja mungil itu membulatkan matanya saat satu tangan itu kini mencekik lehernya kuat.
Mata yang menatapnya dengan kemarahan itu...
Tangan yang mencekiknya tanpa belas kasihan.
Park Chanyeol...
Orang yang membuat jantungnya selalu seakan berhenti atau berdebar hebat bukan hanya karena takut...
"EEEEEEEEEEEEEEEHHHH??!!" Untuk kedua kalinya Kai dibuat kaget hari ini oleh sahabat kecilnya. "P-Park Chanyeol?"
"Aku mohon tolong jangan katakan pada siapapun!" Baekhyun panik.
"Tapi... kau sadar Baek? Kau tidak mungkin mendapatkannya! Dari banyaknya laki-laki di dunia ini kenapa dia?! Kenapa harus laki-laki berbahaya seperti dia?! Dan kau tahu, dia straight! Yang telah meniduri banyak perempuan, orang yang mungkin akan membunuhmu karena merasa jijik! Apa kau sadar itu?!"
Baekhyun tahu itu.
Ia selalu menyadarinya.
Jika saja ia bisa memilih, ia juga tidak ingin menyukai orang menakutkan seperti Park Chanyeol!
Baekhyun meronta berusaha melepaskan tangan yang mencekiknya. Tiba-tiba ia melihat sosok sahabatnya berdiri jauh di belakang sana menatapnya.
Kai!
Tolong!!
Baekhyun meronta, ia tidak kuat lagi, ia akan mati.
BRUK.
"Ohok... Ohok... Ohok...!!" Namja mungil itu memegangi lehernya sambil terduduk di lantai. Dia merasa akan mati... Dia hampir saja akan mati...
Saat ia tengah berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk kembali mengumpulkan nyawanya yang sempat terasa hilang, tiba-tiba ia merasakan rambut belakangnya di jambak dengan kuat dan Baekhyun menemukan wajah Tao menyeringai di depan wajahnya, "menyedihkan..." ucapnya dengan tampang prihatin, "kau menyukai Chanyeol, he?" Tanyanya dengan seringaian. Baekhyun salut dengan berbagai macam ekspresi yang bisa Tao keluarkan untuk setiap kata-katanya. "Kau sok berani menentangnya saat itu apa hanya agar mendapatkan perhatian Chanyeol, kecil?" Tao manyun, "kuakui kau cukup berani. Tapi itu tidak akan berakhir baik, seharusnya kau tahu itu?"
Baekhyun berusaha menggelengkan kepalanya tapi jambakan tangan Tao di rambutnya tak membiarkannya melakukan itu.
"Jadi katakan... Do you have some dirty fantasies about Chanyeol? Were you thinking about him while touching yourself, huh?"
"Tidak!" Baekhyun membentak, memejamkan matanya.
Tidak seperti itu.
Dia tidak menyukai Park Chanyeol seperti itu!
"Hentikan itu atau ku hancurkan mulutmu Tao! Kata-katamu membuatku ingin muntah!" Chanyeol melempari teman berambut hazelnya itu dengan kaleng bekas minumannya sambil beranjak dari sana membuat Tao mendengus. Baekhyun kemudian melihat Xi Luhan juga bangkit dari kursinya dan beranjak dari sana mengikuti Chanyeol. Dan meski sebentar, Baekhyun tanpa sengaja menangkap laki-laki cantik itu melirik ke arahnya sebelum ia pergi. Namun kemudian Tao kembali mengambil perhatian Baekhyun dengan menguatkan jambakannya di rambut laki-laki mungil itu.
"Dengar! Kau adalah mainan spesial kami mulai saat ini. Kau berhasil membuat Chanyeol menunjukan emosinya hanya karena dia benar-benar muak denganmu... Itu artinya kau akan mendapatkan kesempatan untuk dia sering-sering terlibat dan turun tangan langsung untuk bermain denganmu, kau senang?" bisik Tao menyeringai, "berterimakasihlah pada temanmu!" Dan Baekhyun membulatkan matanya membuat seringaian Tao semakin melebar, puas dengan reaksi yang ditunjukan Baekhyun atas kata-katanya. "Apa kau tidak berpikir... Siapa yang dengan lancang mengambil barang berhargamu itu dan menyerahkannya pada kami?"
Bohong!
"Jangan tunjukan wajah seakan kau tidak menduga hal ini sama sekali!"
Tidak!
Tao melepaskan tangannya dari rambut Baekhyun dan menyeringai, meregangkan tubuhnya santai sebelum akhirnya ia beranjak dari sana mengikuti kedua temannya meninggalkan Baekhyun yang terduduk shock.
Tidak.
"Menjijikan!"
Baekhyun tidak percaya.
"Beraninya dia punya perasaan begitu pada Chanyeol!"
Tidak mungkin.
"Ngaca woi!"
Baekhyun tak mendengarkan ocehan orang-orang itu yang kini mulai melemparinya dengan makanan dan kaleng minuman. Baekhyun tak perduli dengan benda-benda yang dilempar ke tubuhnya maupun kata-kata ejekan kasar yang mereka tujukan padanya.
Dia hanya memikirkan sahabatnya.
Dia hanya ingin berteriak...
KAI TIDAK MUNGKIN MELAKUKANNYA!!
#TBC#
Terimakasih sudah membaca :)
