Perhatikan tanda ini ya!!
Present (saat ini) : ...
Flashback : 00000
...
...
악순환 -ASH-
Chapter [4]
...
...
...
"Hahaha...lihat wajahnya?" Tao tertawa-tawa sambil melihat ponselnya. "Benar-benar anak yang malang hahaha..." ejeknya tertawa antusias sambil memukul lututnya sendiri. Membuat sofa yang tengah ia dan Luhan duduki seperti berombak turun naik, hingga delikan mata namja cantik yang tengah santai asik membaca majalah fashion menjurus padanya sedikit merasa terganggu. Video yang baru Tao dapatkan hari ini di sekolah benar-benar menjadi sebuah hiburan untuknya, bagi Tao, melihat orang tertindas adalah kesenangan. "Lulu, kau mau lihat?" Tawar Tao merasa dari tadi sahabatnya itu melirik kearahnya terus.
"Aku tidak tertarik." Respon Luhan santai sambil membuka lembar majalah fashionnya.
Tao mendengus. Ia tahu Luhan pasti akan mengatakan itu. Kemudian Tao beralih pada Chanyeol yang baru saja selesai mengakhiri perbincangan di teleponnya. "Yeol... Kau perlu hiburan?"
Chanyeol hanya meliriknya. Namun Tao segera bangkit dari duduknya menghampiri sang leader dengan bersemangat dan menunjukan layar ponselnya sambil memutar video yang baru saja selesai ia tonton dengan segurat seringaian.
Di sana terlihat saat kedua siswa pengikut mereka memegangi lengan Baekhyun dan satu orang lainnya memaksa membuka seragam anak malang itu. Baekhyun terus berusaha memberontak melepaskan diri dan meminta mereka melepaskannya namun ketiga orang itu seakan menulikan diri membuat tawa Tao dan ejekannya menjadi backing theme di video itu sampai terakhir celana seragam namja mungil itu dipaksa dilepaskan.
Suara Tao terus menjadi narator di sana. Saat kedua orang siswa itu mulai melepaskan lengan makhluk mungil itu karena perintah Tao. Baekhyun langsung meringkukan tubuhnya, memeluk lututnya tak ingin menunjukan wajah.
"He? Wae? Apa kau merasa malu dilihat Chanyeol? Hahaha... " Suara Tao terdengar, dan kemudian kakinya terlihat di layar mendorong-dorong pelan tubuh Baekhyun yang membola, "ayolah~ tubuhmu gak jelek-jelek amat, kau setuju denganku kan, Yeol?"
Baekhyun terlihat merapatkan punggungnya dengan dinding di belakangnya sambil membola saat kamera ponsel Tao bergerak untuk mengambil gambarnya dari berbagai angle, "Hey!" Kaki Tao kembali muncul di layar, mendorong tubuh yang meringkuk itu, namun Baekhyun bersikeras tak ingin melepaskan kontak punggungnya dengan dinding yang sepertinya membuat Tao kesal, karena di sana tangan Tao menjambak rambut adik kelasnya itu dan menariknya menjauh dari dinding hingga Tao mendapatkan punggung Baekhyun tertangkap kamera ponselnya. "Ow.. Ow.. " Komentar Tao saat menemukan sesuatu yang tak ia duga di sana. Namun Baekhyun segera kembali menyandarkan punggungnya ke dinding menyembunyikan apa yang baru saja dilihat Tao dan kembali membola. "Kau benar-benar tidak asik!" Terdengar suara Tao merengek setelah menendang-nendang tubuh adik kelasnya.
"Hm... Itu, saat itu kupikir apa anak itu mengalami kekerasan di keluarganya atau bagaimana?" Tao bergumam mengomentari apa yang baru saja dilihatnya lagi di punggung korban ASH mereka itu di videonya.
"Hei, tersenyumlah! say "hi" ke kamera! Sebentar lagi kau akan terkenal!" Tao tertawa-tawa lagi di sana, namun Baekhyun tak juga menunjukan wajahnya, "Woi!! Tunjukan gigi-gigimu!! Atau kau ingin aku merontokannya!!?" Tangan Tao menjambak rambut adik kelasnya itu, membuat wajah anak laki-laki kecil itu menengadah ke kamera namun matanya tetap tak melihat ke sana.
"Apa kau sadar, dia terus-terusan melirik ke arahmu Yeol Hahahah..."
Chanyeol mendengus.
"Sepertinya kau benar-benar telah membuatnya polinlop ~" Canda Tao.
PRAK!!
"Hehh!!"
Luhan mengalihkan tatapannya dari majalah fashionnya saat mendengar suara ponsel yang dibanting tanpa perasaan dengan suara pekikan Tao mengikutinya.
"Y-Yeol?! Apa yang kau lakukan?!" Tao memungut ponselnya yang sudah berantakan di lantai, "Sial, ini sudah hancur." Umpatnya, "Aaah video itu ada di memori ponsel! Aaaaah padahal aku berniat menyebarkannya ke seluruh sekolah!!" Rengeknya jengkel.
Chanyeol bangkit dari sofa, mengambil leather jaket dan kunci mobilnya, mengabaikan rengekan Tao, "Lu, aku ke tempat biasa. Kau ikut?"
"Umm... aku menyusul," respon sepupunya sambil membuka lembaran majalahnya.
"Yeol!! Ada apa denganmu?!" Protes Tao merasa diabaikan. Namun sekali lagi leadernya itu mengabaikannya dengan beranjak dari ruangan itu tanpa mengajaknya, dan Tao semakin dibuat jengkel dengan Luhan yang juga seakan ikut mengejeknya dengan senyuman tipis di bibirnya sambil menggeleng kepalanya pelan. "Ada apa dengannya?" Tao menunjuk Chanyeol yang telah menghilang ke balik pintu ruangan itu dengan raut wajah jengkel. Namun Luhan hanya menggedikan kedua bahunya lalu kembali fokus membaca majalahnya membuat Tao mendengus.
...
"Kerjamu semakin lambat Byun!"
"Maaf... akhir-akhir ini sekolah sedikit melelahkan," Baekhyun menundukan wajahnya.
"Aku tidak menerima alasan. Kerja ya kerja! Kalau sekolah sudah membuatmu kelelahan, tidak usah kerja sambilan!"
"Maaf..."
Baekhyun membungkukan tubuhnya dalam.
"Sudah, sana kembali bekerja!"
"Baik!" Baekhyun buru-buru kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda dengan berusaha lebih semangat. Tapi tubuhnya benar-benar terasa lelah.
"Sebenarnya anak-anak sudah cukup lama menemukannya, tapi mereka tidak berani melaporkannya ke pihak sekolah karena dia adalah mainanmu dan yang lainnya kan?"
Chanyeol mendengarkan celoteh yeoja teman sekolah sekaligus teman bermainnya itu tanpa merespon. Hanya menatap anak laki-laki 'mainan' nya jauh di sana yang terlihat baru saja dimarahi atasannya entah karena apa. Kini anak itu kembali bekerja, mencuci mobil-mobil yang sudah mengantri untuk dibersihkan. Chanyeol tidak menjadi salah satu dari pemilik mobil-mobil itu, ia tidak akan mencuci mobil -mobil Lamborghini dan Ferrari kesayangannya di tempat murahan yang menggunakan jasa manusia seperti itu, tidak akan... ia hanya memarkir mobilnya di tepi jalan.
Berdasarkan informasi yang dibawa yeoja yang kini tengah duduk di samping jok kemudi mobilnya, dia dan teman-temannya tidak sengaja menemukan kalau si Baekhyun itu bekerja di tempat pencucian mobil dan entah karena alasan apa Chanyeol membawanya untuk melihatnya langsung.
"Apa dilaporkan saja?" Yeoja dengan rambut panjang berwarna merah itu menoleh pada Chanyeol.
"Tidak, sebelum aku puas." Keluar respon yang terdengar lebih seperti gumaman.
Yeoja bernama Bae Woo-hee itu tertawa kecil merasa mengerti apa maksud dari kata-kata namja jangkung itu yang ditakuti oleh seluruh siswa sekolahnya di sampingnya. Dia memang menyukai Park Chanyeol karena kekuatannya, kekuasaannya, aura berbahaya yang dilihat oleh yang lain yang ada di sekeliling laki-laki itu justru membuatnya merasa aman dan terlindungi, bisa berada begini dekat dengannya menciptakan suatu kebanggaan tersendiri. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Chanyeol dan berbisik, "I like that. You sounded hella sexy, you sadist!"
Chanyeol menggulir bola matanya ke arah di mana yeoja itu mendekatkan wajahnya ke telinganya dan ia merasakan lidah yeoja itu di daun telinganya sekarang. Sebuah jilatan sebelum sebuah gigitan dirasakannya.
BRUK.
Segurat senyuman tipis mengembang di wajah perempuan bernama Woo-hee itu setelah Chanyeol mendorongnya kuat hingga tubuhnya membentur bagian dalam pintu mobilnya. Sekalipun Chanyeol memperlakukannya kasar, bahkan saat di atas tempat tidurpun, dia menyukainya. Itu justru membuatnya semakin menyukai laki-laki itu yang hanya mendeliknya sekilas dengan mata tajam yang mengintimidasi itu setelah mendorong tubuhnya dengan kasar. Ia suka saat Chanyeol menunjukan kekuatannya, menunjukan siapa yang dominan diantara mereka, ia suka saat Chanyeol membuatnya benar-benar merasa lemah karena didominasi. Woo-hee menyukai perasaan itu. Dan ia hanya mendapatkannya saat bersama Park Chanyeol.
...
"Aku pulang..."
"Selamat datang..." Ibu Baekhyun menghampiri anak laki-laki nya satu-satunya itu di pintu dengan wajah terlihat khawatir, "kau pulang terlambat hari ini Baek... "
"Ah, iya, aku mampir dulu ke toko kaset tadi... Dan keenakan melihat-lihat haha..." Baekhyun tertawa ringan sambil menaruh sepatunya di rak.
"Kau membeli kaset?"
"Tidak, aku hanya melihat-lihat saja." Baekhyun berjalan melewati ibunya, "aku hanya melihat album kaset band favoritku yang beberapa waktu lalu baru rilis apa masih ada di sana, aku berniat membelinya nanti setelah gajian kalau masih ada." Ucap Baekhyun sambil berjalan ke arah kamarnya. Ibunya mengikutinya dari belakang dengan wajah sedikit sedih.
Baekhyun masih remaja, tentu banyak hal yang ia inginkan diusianya yang baru saja mencapai 17 tahun. Saat anak-anak yang lain masih merengek pada orang tuanya untuk minta dibelikan sesuatu yang mereka inginkan, Baekhyun harus bekerja dan mendapatkan uang sendiri untuk itu. Tapi bahkan meski ia sudah bisa mendapatkan uangnya sendiri, ia jarang sekali membelikan sesuatu untuk dirinya sendiri karena banyaknya tagihan sana sini yang juga ia bantu untuk membayar. Padahal saat ibu Baekhyun memutuskan untuk berpisah dengan laki-laki yang sudah ia nikahi lebih dari 14 tahun lamanya itu, ia bertekad akan menjadi ibu sekaligus ayah untuk kedua anaknya. Tapi sepertinya ia telah gagal.
"Apa Hyeri sudah tidur?" Baekhyun menoleh pada ibunya saat membuka pintu kamarnya.
"Maaf Baek..."
Baekhyun mengernyitkan dahinya bingung ibunya tiba-tiba meminta maaf, "kenapa eomma meminta maaf?"
"Karena eomma tidak bisa menjadi orang tua yang baik untukmu dan juga Hyeri... " Baekhyun melihat wanita nomor satu baginya itu terlihat berusaha tersenyum menyembunyikan apa yang ia rasakan sebenarnya.
"Kenapa eomma berbicara seperti itu? Apa ada kata-kataku yang membuat eomma berpikir, aku berpikir seperti itu tentang eomma?"
Jika iya, itu sangat salah! Karena Baekhyun merasa ibunya adalah ibu terbaik di dunia, yang selalu berusaha keras menghidupinya dan Hyeri, memberinya kasih sayang dan kelembutan tanpa pamrih yang tidak akan pernah ia dapatkan dari siapapun lagi di dunia ini, yang merelakan laki-laki yang dicintainya demi melindunginya. Dia adalah seorang wanita hebat di mata Baekhyun. Tak ada yang lebih ia syukuri di dunia ini selain terlahir dari rahimnya. Karena itu Baekhyun suka sekali membuat portrait seorang ibu di buku sketsanya. Ia adalah inspirasi terbesarnya.
Ibu Baekhyun menggelengkan kepalanya tersenyum, "sudahlah, cepat ganti bajumu, dan mandi, setelah itu makan dan tidur! Besok kau harus sekolah."
Baekhyun mengangguk dan segera masuk ke kamarnya.
Sekolah...
Baekhyun selalu merasakan seakan tercekat di tenggorokan dan mual di perutnya setiap mendengar kata itu. Terlalu banyak hal memalukan dan menyakitkan di tempat itu. Jika saja ada tempat untuk melarikan diri dari perasaan gelisah, cemas dan ketakutan itu, ia ingin segera berlari ke sana.
00000
"Katakan... Kau tidak melakukannya kan... Kai?"
Katakan tidak! Baekhyun ingin sahabat baik dan sahabat sejak kecilnya di seberang line teleponnya itu mengatakan tidak! Dan ia akan percaya.
Tao hanya mengarang cerita agar dia lebih menderita. Ia tahu itu. Mereka hanya ingin membuatnya menderita lahir batin. Baekhyun hanya ingin mendengar satu kata dari Kai, dan ia akan merasa lega. Dan Baekhyun akan kembali bersemangat menjalani hari-harinya di sekolah memerangi apapun itu ASH Tao dan gengnya. Ia akan bisa berpikir untuk terus menjaga janjinya agar mereka lulus bersama-sama dan melanjutkan kuliah di universitas yang sama.
Hanya satu kata... Tidak.
'Maaf Baek...'
Baekhyun merasakan pegangannya di ponsel melonggar. Seakan menahan benda kecil itu agar tetap menempel di telinganya adalah sebuah beban yang berat. Ia merasa kehilangan seluruh kekuatan tubuhnya.
Bukan itu yang ingin ia dengar.
"Kenapa?" Baekhyun berusaha mengeluarkan suaranya dengan normal tapi itu keluar bergetar dengan sendirinya. Bayangan saat mereka tertawa bersama, menghabiskan waktu istirahat mereka di atap, Kai yang bercanda dan selalu menggodanya, semuanya terlintas namun segera pecah.
"Bagaimana dengan janji kita?" Baekhyun bertanya dengan suara tertahan.
'Aku hanya kesal.'
"Apa yang membuatmu kesal?"
'KAU SAMA SEKALI TIDAK TAHU PERASAANKU!! DAN KAU TIDAK PERDULI!! KAU TIDAK TAHU BAGAIMANA RASANYA DIKATAI "homo! mati kau! menjijikan!" DAN SEMUA MATA MENATAPMU SEAKAN KAU ADALAH KOTORAN! KAU SAMA KOTORNYA DENGANKU! TAPI KENAPA HANYA AKU YANG DIPERLAKUKAN SEPERTI ITU! KENAPA BAEKHYUN?!'
Baekhyun refleks menutup mulutnya.
'Kupikir kau yang paling tahu aku... Baek,' Baekhyun mendengar nada suara Kai seperti rusak dan ia sakit mendengarnya, ia bertanya-tanya apakah sahabatnya itu menangis di sana. 'Dia yang ingin kulindungi bahkan menatapku dengan tatapan yang sama seperti yang lainnya. Aku tahu ini kecerobohanku, tapi bukankah itu tidak adil? Aku selalu menyadari aku salah mengambil jalan tapi apa hak mereka menghakimiku? Aku tidak tahan lagi.'
Baekhyun tahu Kai selalu berpura-pura menjadi kuat. Tapi ia tak pernah berpikir hal ini akan membuatnya sebegini rapuh.
"Kai—"
'Dan kau mengatakannya...dan dengan tanpa perasaan dan tanpa dosa meminta ku menyembunyikan kekotoranmu yang sama denganku! Kau seakan memintaku menjadi perisai dari semua batu yang seharusnya juga terlempar padamu, kau memintaku merasakan sakit sendiri sementara kau tertidur dengan nyaman di belakangku yang kesakitan!'
Tidak!
'Saat itu kupikir... dimana perasaanmu Byun Baekhyun?'
"Tidak!! Kai dengarkan—"
'Aku bukan teman yang baik... Aku tidak bisa terus selalu melindungimu seperti yang kau harapkan, Baek. Karena itu... Sudah cukup.'
"Tidak!! Kai kita masih bisa membicarakannya baik—"
Tut.
Tut.
Tut.
Tangan Baekhyun terjatuh dengan lemas di samping tubuhnya dan ia tumbang di atas tempat tidurnya. Ia sama sekali tidak pernah menyadari kata-katanya saat itu akan membuat Kai terluka. Ia seorang pengecut! Ia selalu menyadari itu. Itu hal yang ia pikirkan saat meminta Kai untuk merahasiakannya. Dia sama sekali tidak peka, ia tidak memikirkan bagaimana perasaan Kai, ia hanya memikirkan dirinya sendiri.
Ketidak pekaan dan kepengecutan dirinyalah yang membuat Kai sekarang mungkin telah membencinya. Itu salahnya.
Lalu bagaimana sekarang ia akan menjalani hari-harinya di sekolah itu tanpa Kai? Bagaimana ia bisa tetap berusaha tegar untuk memerangi hari-hari kejam yang akan ia lalui mulai saat ini dan seterusnya tanpa canda dan tawa sahabatnya? Apa alasannya untuk terus bertahan di sekolah itu jika Kai bahkan sudah tidak ingin berteman dengannya? Janji pada siapa yang harus ia jaga?
00000
"Aku melihat Chanyeol bersama Woo-hee jalan berdua semalam ..."
"Eh, apa mereka pacaran?"
"Bukan hal yang mengejutkan bukan? Bagi Woo-hee yang sudah seperti putri sekolah ini, obsesinya untuk mendapatkan Chanyeol bukanlah sesuatu yang sulit."
Dan entah bagaimana kemudian Baekhyun merasakan mata-mata itu mengarah padanya saat pembicaraan siswi-siswi di kelasnya tak terdengar lagi.
"Dan lihat orang itu... " Terdengar decihan mengejek, "siapa dia berani-beraninya menyukai Chanyeol? Apa dia merasa dirinya sebagai seorang perempuan?" Dan kemudian suara tawa ejekan menyapa telinga Baekhyun. "Kita saja yang seorang perempuan ORI, berpikir adalah sebuah mimpi dan keajaiban jika bisa bersama Chanyeol! Kemungkinan kita saja satu banding sejuta. Lha, dia berani-beraninya berharap dan sok pamer kemampuan membuat portrait Chanyeol! Dia pikir dengan gambar jeleknya itu bisa membuat Chanyeol jatuh cinta padanya?"
"HAHAHAHAHAHAH... "
"Menggelikan."
Baekhyun berusaha menulikan telinganya. Ia berusaha membekukan perasaannya. Ia tidak ingin memasukan semua kata-kata menyakitkan itu ke hatinya.
Tapi...
Itu tetap terdengar, dan setiap katanya tetap menyayat perasaannya.
Baekhyun tidak pernah sedikitpun berpikir untuk sok pamer kemampuannya. Tapi saat itu, hari itu... entah ada angin apa tiba-tiba tangannya ingin mencoba menggambar sosok seseorang yang dikaguminya. Bahkan ia tidak ada sedikitpun keinginan untuk Chanyeol dan semua orang tahu perasaannya. Ia hanya ingin menyimpan perasaan itu untuk dirinya sendiri.
Karena ia sadar diri.
Baekhyun melirik bangku kosong di sebelah bangkunya.
"sejak kapan kau menyukainya?"
"Kelas satu."
"Eeh! Tapi kenapa? Kenapa kau bisa menyukainya Baek? Aku tidak mengerti!!"
"Aku... Aku juga tidak tahu."
"Heeeh?!"
Baekhyun tersenyum hambar mengingat percakapannya bersama sahabatnya hari itu... hari dimana ia membuat kesalahan fatalnya, kesalahan yang membuatnya kehilangan sahabat sebaik Kai yang pasti akan ia sesali seumur hidupnya.
Park Chanyeol...
Dengan mengingat nama itu saja sudah membuat Baekhyun merinding sampai ke tulang belakang, tapi sekaligus juga membuat jantungnya berdebar.
Jika ditanya apa yang membuatnya menyukai orang seberbahaya Park Chanyeol?
Awalnya Baekhyun hanya merasa... 'Bukankah kakak kelasnya itu keren?' Saat pertama kali melihatnya. Aura yang melingkupinya, cara ia berjalan, tatapan yang tegas, Baekhyun merasa kakak kelasnya itu sosok seorang laki-laki yang benar-benar laki-laki! Sosok yang bahkan membuatnya minder sebagai sesama seorang laki-laki. Sosok yang akan membuat pasangannya merasa aman dan terlindungi. Itulah kesalahan cara pandang Baekhyun terhadap laki-laki berbahaya yang ditakuti diseluruh sekolah Hanyoung ini hingga membuatnya harus mengalami semua ini.
Sejak awal dia dan Kai masuk sekolah ini mereka sudah banyak mendapat berita dan peringatan tentang berbahayanya kelompok Park Chanyeol, tapi entah sejak kapan ia selalu menunggu sosok kakak kelasnya itu lewat di depan kelasnya, entah sejak kapan hanya dengan melihat sosok itu saja sudah membuatnya merasa bahagia dan seakan selalu bisa mencerahkan harinya. Semua berawal dari cara pandang dan perasaan kagumnya, dan kemudian perasaan itu mengalir begitu saja tanpa sekeinginannya. Dan jika saja ia tahu semua itu akan berakhir seperti ini, ia seharusnya lebih menahan diri untuk tidak membuat perasaannya tumbuh lebih jauh.
Sekarang ia menyesalinya.
Kenapa ia seorang gay?
Kenapa ia harus menyukai Park Chanyeol?
Seperti yang dikatakan Kai...
Diantara banyaknya laki-laki di dunia ini...
Kenapa harus Park Chanyeol?
"Eh, aku sudah lihat. Dia masih muda kan?"
"Dan bishie!"
"Ee... Siapa namanya?"
"Jaejoong-ssaem?"
Dan bel masuk berdering membuat sekumpulan siswi penggosip di kelasnya itu membubarkan diri.
Baekhyun masih menatap bangku di sebelahnya yang tak kunjung di datangi pemiliknya. Ia menghela nafas.
Dan sepertinya hari inipun ia tidak bisa bertemu dan berbicara sekali lagi dengan sahabatnya.
#TBC#
Bishie : cowok cantik (bahasa jepang, dari Bishounen xD) Saia gak tahu bahasa koreanya apa? wkwk...
