Perhatikan tanda ini ya!!

Present (saat ini): ...

Flashback : 00000

Apa masih ada yang bingung?

pokoknya perhatikan tanda di atas setiap loncat scene xD

...

...

악순환 -ASH-

Chapter [5]

...

...

.

...

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRGGGHHHHH!!!!!!!!!"

Xi Luhan berdiri bersandar pada jaring-jaring pagar di atap itu santai menyilangkan kedua kaki sambil meneguk minuman kalengnya.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRGGGGGHHHHH!!!!!! "

Kali ini laki-laki berambut coklat terang itu menoleh ke sampingnya dimana ia melihat anak laki-laki yang lebih kecil darinya berteriak-teriak seakan tengah mencoba menghilangkan kepenatan.

"Apa kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Luhan melihat anak itu mulai berhenti dengan aktifitasnya.

Baekhyun menghela nafas dan menganggukan kepala.

"Kalau begitu ini, minumlah!" Luhan mengulurkan tangan dengan minuman kalengnya di genggamannya.

Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sebelum mengambil minuman itu dari tangan Xi Luhan dengan agak ragu dan... segan.

Apa tidak apa-apa ia meminumnya? Baekhyun memandangi minuman kaleng yang entah kenapa terasa begitu mewah hanya karena ia menerima itu dari tangan seorang Xi Luhan. Bukankah akan jadi indirect kiss antara dirinya dan namja tampan sekaligus cantik itu kalau ia meminumnya? Jika perempuan-perempuan pemuja Xi Luhan tahu mereka akan sangat iri padanya!!! Kaleng minuman yang kini ada di tangannya pasti akan jadi bahan rebutan masal mereka.

"Kenapa? Apa kau merasa jijik?" Luhan tersenyum, sedikit bingung dari tadi adik kelasnya itu hanya memandangi minuman kaleng pemberiannya dengan tatapan aneh.

"Ap-Tidak!" Baekhyun menggeleng cepat dan segera meminumnya.

BENAR-BENAR CIUMAN SECARA TAK LANGSUNG DENGAN XI LUHAN!!!

Sebuah teriakan di kepala Baekhyun yang muncul setelah ia selesai menghabiskan minuman kaleng itu dalam satu kali tegukan.

"Te-terimakasih..." Ucap Baekhyun sungkan.

Luhan hanya tersenyum tipis lalu memangku kedua tangannya masih bersandar ke pagar jaring-jaring di belakangnya, kepalanya menengadah ke langit yang terlihat begitu cerah hari ini tanpa ada setitikpun awan menghalangi hamparan luas biru itu di pandangan laki-laki tampan sekaligus cantik bagi Baekhyun itu.

Baekhyun memandang dengan penuh kekaguman kakak kelas sekaligus seorang model itu berdiri dengan elegannya tidak jauh beberapa langkah di hadapannya. Iya, Baekhyun pernah melihat wajah Xi Luhan di sampul beberapa majalah fashion yang berjejer di rak di toko buku dan kaset yang sering didatanginya. Ia bukanlah orang sembarangan. Dan Baekhyun masih tak percaya orang luar biasa itu sekarang menemani waktu istirahatnya di atap, mendengarkannya berteriak-teriak tak jelas, bahkan memberinya minuman kaleng miliknya.

"Apa yang kau sukai dari Chanyeol, Baekhyun-ah?" Tanya Luhan tanpa menarik pandangannya melihat langit biru di atas kepalanya.

"He?!" Baekhyun kaget tiba-tiba ditanyai seperti itu. "Aku... "

"Dia sudah banyak melakukan hal yang keterlaluan kan? Apa kau masih tetap menyukainya?" Kali ini Luhan menurunkan wajahnya melihat langsung ke wajah adik kelasnya yang terlihat kebingungan karena pertanyaannya.

Baekhyun menggenggam kaleng di tangannya dengan kedua tangan dan meremukannya, "aku ingin membencinya..." ucapnya yang tidak lebih dari sekedar bisikan di telinga Luhan.

Ya, Baekhyun sangat ingin membenci orang itu. Sejak awal, menyimpan perasaan suka pada Park Chanyeol adalah sebuah kesalahan. Kesalahan besar yang membuat perubahan besar pada hidupnya.

Tapi perasaannya selalu mengkhianati keinginannya.

00000

"Ayo lakukan! Tunjukanlah kalau kau benar-benar menyukai Chanyeol!" Cicit Tao dengan bersemangat sedikit menepuk-nepuk tangannya dengan sebuah tawa ringan.

Semua mata di kafetaria itu menjurus pada sesosok namja mungil yang jadi mainannya, dengan tatapan mengejek dan ekspresi wajah merendahkan seakan ia adalah sesuatu menjijikan bagi mereka. Waktu istirahat memang sudah seperti menjadi waktu penyiksaan bagi Baekhyun. Dan itu sering sekali terjadi di kafetaria. Tao seakan menjadikannya badut untuk menghibur waktu istirahatnya di tempat itu, dimana semua pengunjung kafetaria juga ikut menyaksikannya.

Baekhyun meremat celana seragam bagian sampingnya mencoba memberanikan diri mencuri pandang ke arah Park Chanyeol yang tampak tak acuh duduk santai di kursi kafetaria sambil menyulut rokok dan berbicara sesuatu pada sepupunya, Xi Luhan.

"Kau membuatku tak sabar!" Tao menendang lutut bagian belakang Baekhyun hingga adik kelasnya itu jatuh bersimpuh di lantai dan seketika itu juga Tao menjambak rambut bagian belakang namja mungil itu. "Kau menyukai Chanyeol kan? Tunjukan seberapa besar kau menyukainya! Apa itu begitu sulit bagimu?" Tao menyeringai sebelum mendorong kepala Baekhyun bersujud di lantai, "bagus, memohonlah! Memohon agar Chanyeol membalas perasaanmu!" Dan seketika tawa ejekan terdengar di sekeliling Baekhyun.

Baekhyun memejamkan matanya rapat. Ia tidak mau! Ia tidak mau perasaannya dijadikan bahan ejekan dan olokan seperti ini!!

"AYO MEMOHON!!" Desak Tao tak sabar. Ia paling tak suka perintahnya tidak segera dilakukan.

"Kumohon jangan seperti ini!" Baekhyun berbisik. Ia ingin menangis, tapi ia tidak ingin membuat dirinya sendiri terlihat lebih memalukan dari ini. Melakukan itu hanya akan membuat semua orang yang kini mengolok-olok dan merendahkannya semakin merasa puas.

"Kau berani menolak perintahku?"

Grek.

Baekhyun melihat Chanyeol berdiri dari kursinya hendak beranjak dari sana, "apa kau masih ingin bermain-main Tao?"

"Eh, kau sudah mau pergi?" Tao bertanya pada leadernya tanpa menunggu jawaban ia segera menjambak rambut Baekhyun dan mendorong tubuhnya hingga tersungkur di bawah kaki Chanyeol. "Tunggulah sebentar, ada seseorang yang ingin membuktikan cintanya padamu Yeol," ucap Tao sambil kembali berjalan menghampiri adik kelasnya yang kini bersimpuh di bawah kaki sang leader yang tengah menunjukan ekspresi merasa terganggu dengan permainannya.

"Ayo lakukan!" Tao mendorong punggung Baekhyun dengan kakinya hingga namja mungil itu bersujud di bawah kaki Chanyeol. "I SAID, BEG! YOU DIPSHIT!" Tao semakin menekan punggung bagian atas Baekhyun dengan kakinya hingga wajah Baekhyun mencium kaki Chanyeol.

"Maaf..."

Tao mengernyitkan dahinya mencoba memastikan ia tidak salah mendengar, "kau-"

"Maaf karena sudah lancang menyukaimu..."

Kafetaria itu mendadak hening karena sebaris kalimat yang keluar dari mulut anak laki-laki berambut kecoklatan itu yang kini bersujud di kaki Chanyeol. Ia mengucapkan dengan volume suara pelan tapi cukup untuk terdengar oleh orang-orang yang berada dekat di sekelilingnya.

Baekhyun tahu, kesalahan terbesarnya di sini adalah dirinya yang tidak tahu diri seperti yang perempuan -perempuan itu katakan. Dirinya yang tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri pada siapa ia sepantasnya memiliki perasaan suka. Meski manusia mempunyai hak untuk menyukai siapapun, dia tidak punya hak itu untuk menyukai seorang Park Chanyeol.

Meski hari-hari itu terasa menyenangkan, saat melihat kakak kelasnya itu bermain basket dengan lincahnya dan terlihat menikmati waktunya bersama yang lain, membuat Baekhyun tersenyum pada dirinya sendiri dari kejauhan. Meski hari-hari itu menyenangkan, hanya dengan melihatnya melewati kelasnya dan Baekhyun akan melompat-lompat kegirangan dalam hatinya. Meski hari-hari itu terasa menyenangkan menyimpan dan menikmati perasaannya sendiri tanpa ada yang tahu, tanpa ada perasaan sedikit pun berharap kakak kelasnya itu tahu dan bisa memilikinya. Meski Baekhyun hanya ingin menikmati hari-hari itu dimana ia mengagumi Park Chanyeol seorang diri, ternyata itupun tidak boleh.

Dia harus lebih tahu diri dan yang harus ia lakukan adalah... mengubur perasaannya.

"Maaf..."

Tao merasa emosi adik kelasnya itu tidak melakukan sesuatu sesuai perintahnya, "AKU TIDAK MEMERINTAHMU UNTUK-"

Duak.

"Ow~" Hampir semua perempuan pengunjung kafetaria itu menunjukan ekspresi seakan mereka yang merasakan sakit dan mengaduh melihat apa yang dilakukan Chanyeol pada anak laki-laki kecil di bawah kakinya itu. Begitupun Tao yang tadi meneriaki anak itu karena tidak melakukan sesuatu sesuai perintahnya, kini wajah nya memimikan kesakitan namun itu adalah sebuah ejekan untuk Baekhyun. Sementara Luhan hanya melirikan matanya pada anak mainan mereka itu.

Baekhyun memegangi hidungnya yang terasa sakit karena baru saja kaki Chanyeol menendang wajahnya. Dan ia merasakan cairan merah sedikit keluar dari sana tersentuh oleh jari-jarinya. Baekhyun sedikit melirik ke wajah Chanyeol dengan takut-takut dan ia menemukan kedua mata itu...dipenuhi dengan emosi. Sebelum akhirnya kakak kelasnya itu beranjak dari sana tanpa mengatakan apapun lagi.

"Ugh, itu pasti sakit kan? Sampai-sampai kau menangis? Haha..." Tao mengejek.

Menangis?

Baekhyun menyentuh pipinya yang ternyata memang ada setetes air mata yang jatuh tanpa ia sadari dan tanpa izinnya di sana.

"Menggelikan." Tao menyeringai gelap sebelum akhirnya beranjak dari sana mengajak Luhan juga ikut bersamanya.

Bukan...

Bukan karena hidungnya yang berdarah. Rasa sakit yang Baekhyun rasakan lebih menyiksa dari itu di dadanya.

00000

"Kau baik-baik saja?"

Baekhyun sedikit mengangkat wajahnya dengan kesusahan, mendengar seseorang berbicara padanya. Tatapannya kabur tapi ia bisa melihat bayangan yang terbentuk di depannya, seseorang berperawakan tinggi, dengan rambut pirang dan jas putihnya.

"Wajahmu sangat pucat, apa kau bisa berdiri?" Tanya orang itu sedikit khawatir melihat Baekhyun dalam keadaan mengenaskan terduduk di lantai di depan toilet sambil bersandar ke dinding dengan lemas begitu.

"Aku... Aku tidak apa-apa." Baekhyun berusaha tersenyum menjawab orang yang tampak mencoba memberinya rasa kepedulian.

Ia hanya tidak memasukan sesuap nasipun sejak semalam, karena ia pulang terlambat dan sangat lelah hingga ia lupa makan malam dan tadi pagipun ia bangun kesiangan hingga tak sempat sarapan dan saat tadi istirahat ia berpikir bisa memenuhi perut keroncongannya dengan bekal terenak buatan sang ibu di atap, orang-orang pengikut gang Chanyeol mengganggu waktu makan siangnya dan menghancurkan bekalnya yang sejak jam pelajaran tadi sudah terbayang-bayang di kepalanya.

Baekhyun hanya kesal ia tidak diizinkan untuk menikmati jatah makan siangnya, padahal perutnya sudah sangat lapar, tubuhnya sudah kehabisan energi untuk pasokan nanti memerangi ASH-nya hari ini. Dan ia marah mereka menghambur-hamburkan bekal buatan ibunya yang telah dibuat dengan penuh kasih sayang. Hingga ia mencoba sedikit melawan, namun satu lawan 5 memang mustahil rupanya.

"Tidak terlihat seperti itu bagiku. Ayo ke UKS! Apa kau bisa berjalan?" Orang itu mengangkat lengan Baekhyun untuk membantunya berdiri, namun namja mungil itu sama sekali tak memberikan usaha pada tubuhnya untuk berdiri. Ia merasa sangat lemas, tak ada energi yang tersisa di tubuhnya hingga ia membiarkan tubuhnya terkulai begitu saja di tangan orang itu seiring dengan kesadarannya yang mulai hilang.

...

Baekhyun melihat Luhan mengetikan sesuatu di ponselnya sebelum ia menegakan tubuhnya berdiri lalu menoleh ke arahnya. "aku harus pergi sekarang, Chanyeol mencariku..."

"Uhm..." Baekhyun refleks menganggukan kepalanya. Pertemuan mereka ini kan rahasia, jangan sampai Chanyeol dan Tao tahu bahwa sahabat mereka, Xi Luhan sekarang mencoba berhubungan baik atau itu bisa dikatakan mencoba berteman dengannya? Baekhyun tahu kakak kelasnya itu mungkin hanya merasa bersalah karena sikap kedua temannya padanya, itu bentuk simpati dan belas kasihan yang ditawarkan seorang Xi Luhan padanya. Tapi meskipun begitu, Baekhyun senang. Setidaknya kakak kelasnya itu masih punya hati dan bukankah itu sesuatu yang perlu pengorbanan untuk orang seelit Xi Luhan bergaul dengan kalangan rendah sepertinya? Xi Luhan telah mengorbankan harga diri dan gengsinya.

"Kau sangat manis melakukan itu..."

"He?"

Memangnya apa yang ia lakukan?

Luhan berjalan menghampiri adik kelasnya, dan Baekhyun merasa waktu di sekitarnya menjadi slow motion saat tangan yang lebih besar dari miliknya itu menyentuh ujung kepalanya dan wajah tampan sekaligus cantik di hadapannya tersenyum dengan begitu manisnya yang jika para perempuan penggilanya itu melihatnya mungkin mereka akan pingsan dan mimisan berjamaah.

"Kau terlalu menggemaskan untuk menjadi korban penindasan Chanyeol dan Tao." Luhan menurunkan tangannya menyentuh pipi Baekhyun dan ibu jarinya mendarat di sudut bibir adik kelas mungilnya itu yang masih terdapat bekas lebaman di sana, "aku tidak tega melihat wajah manis ini dinodai seperti ini..."

Dan refleks Baekhyun menepis telapak tangan lembut itu dari pipinya.

"Ah... Maaf, aku sudah melakukan hal yang tidak sopan?" Luhan terdengar merasa bersalah namun juga sedikit kecewa di nada suaranya.

Baekhyun menggelengkan kepalanya kuat, "tidak aku..." Makhluk kecil itu menggigit bibir bawahnya gugup sambil memegang kaleng minuman yang ia pegang dengan kedua tangannya.

"Kalau begitu aku pergi. Chanyeol adalah orang yang tidak sabaran."

Baekhyun menganggukan kepalanya sambil menunduk tak berani melihat wajah kakak kelasnya yang hanya tersenyum melihat sikapnya sebelum ia pergi meninggalkannya.

Baekhyun merasa sedikit bersalah. Apa sikapnya tadi telah membuat Luhan kecewa padanya? Apa ia tidak akan menemuinya lagi karena itu? Luhan sudah berbaik hati mengasihani dan mencoba berteman dengannya, tapi apa yang ia lakukan? Apa kakak kelasnya itu akan mencapnya sebagai orang yang tidak tahu diri? Apa Luhan juga akan membencinya?

Tapi...

Telapak tangan yang menyentuh pipinya itu terasa begitu lembut dan harum, membuat wajah Baekhyun panas dingin. Jika dibandingkan dengan tangan itu Baekhyun benar-benar merasa kotor, dan kenapa Luhan mau menyentuhnya yang kotor?

Kenapa orang itu begitu baik padanya?

Baekhyun tidak ingin salah paham dan ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama...

Menyukai seseorang yang tidak sepantasnya.

Luhan menuruni tangga dari atap dengan santai sampai alas sepatu nya tiba menapaki lantai dan saat ia mengangkat wajahnya menoleh ke samping, ia menemukan sosok jangkung namja tak sabaran telah berdiri menunggunya di sana.

"Yeol, apa yang kau lakukan di sini?"

"Itu juga yang ingin kutanyakan padamu Lu." Chanyeol memasukan kedua tangannya ke saku celana di sampingnya, menatap sahabat sekaligus sepupunya, "atap bukanlah tempat yang biasa kau kunjungi di waktu istirahat."

Luhan tersenyum kecil, "aku hanya ingin sedikit merokok, kupikir atap tempat yang cocok untuk melakukannya, kan?" Ia menepuk pundak kakak sepupu yang hanya 5 bulan lebih tua darinya itu sedikit cengir. Sejak dulu itu selalu ampuh untuk membuat Chanyeol tak berkata -kata lagi saat ia berbohong dan namja jangkung itu akan menelan kebohongannya mau tak mau,"dimana Tao?"

"Masih di tempat yang sama dengan saat kau meninggalkannya tadi."

"Hm... Baiklah, ayo!" Ajak Luhan santai sambil berjalan meninggalkan tempat itu.

Chanyeol hanya melihat sosok sepupunya itu berjalan semakin menjauh darinya tanpa ada niatan untuk ia kejar. Bola matanya melirik ke ujung atas tangga yang baru saja dituruni Luhan.

Baekhyun meregangkan tubuhnya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Sepertinya hari ini Tao melupakannya, tapi itu adalah sesuatu yang bagus bukan? Setidaknya ada satu hari dimana ia bisa terbebas dari rasa dipermalukan dan teraniyaya di sekolah ini. Sejak ia mendapatkan yang namanya 'ASH' itu, Baekhyun tidak pernah mendapatkan satu haripun absen dari yang namanya dibully dan ditindas Tao dan antek-anteknya. Dan itu benar-benar sangat melelahkan!

Makhluk kecil itu melihat waktu di jam tangannya. 8 menit lagi sebelum bel masuk istirahat berbunyi. Ia segera bergegas berlari ke pintu atap untuk menuruni tangga. Perjalanan dari atap ke kelasnya memakan waktu setidaknya 5-6 menit karena kelasnya berada dua lantai di bawah. Karena itu Baekhyun harus berlari-lari kecil supaya tidak terlambat masuk ke kelasnya. Namun saat ia baru saja menuruni anak tangga pertama, tiba-tiba matanya menangkap sesosok orang di bawah sana yang kini berhenti menaiki tangga karena melihatnya.

Park Chanyeol ...

Baekhyun membulatkan matanya.

Kenapa?Kenapa dia ada di sana?

Baekhyun perlahan kembali menarik kakinya dari anak tangga yang ia turuni dan secepat yang ia bisa segera berlari kembali ke atap dan menutup pintunya menahannya dengan tubuh kecilnya.

Kenapa ada Park Chanyeol di sana?Bukankah seharusnya dia bersama dengan Luhan?

Apa...

Apa mungkin Luhan marah padanya karena sikapnya tadi dan menyuruh sepupu jangkungnya itu untuk menghabisinya saja?

BRAK!!

Tubuh kecil Baekhyun tersungkur ke lantai saat pintu besi yang ia tahan dengan tubuhnya terbuka dengan kasar karena ditendang dengan begitu kuat oleh seseorang dari luar sana.

Bulu kuduk di tubuh Baekhyun sedikit merinding saat melihat sosok yang paling ia takuti itu sudah berdiri di sana dengan tatapan tajam khasnya.

Baekhyun pikir hari ini ia bisa bebas dari ASH-nya tapi ternyata itu memang mustahil. Bahkan berurusan langsung dengan Park Chanyeol begini malah lebih parah daripada penindasan Tao dan yang lainnya!

Baekhyun melihat ke sekelilingnya saat Chanyeol mulai melangkah menghampirinya.

Adakah tempat atau sesuatu yang bisa melindunginya dari keganasan kakak kelasnya itu?!

Ia tidak ingin mati dulu...!!!!

Makhluk kecil itu bangkit dari lantai dan dengan sembarangan berlari menuju pintu. Ia takut, ia ingin segera bebas dari perasaan itu dan ia ingin segera menjauh dari Park Chanyeol. Secepatnya...

Ia hanya perlu mencapai pintu itu dan ia akan bebas dari Park Chanyeol dan segala apapun yang akan menimpanya.

BRUK.

Apa?

Baekhyun membulatkan matanya tiba-tiba tubuhnya sudah di dorong membentur pagar jaring-jaring di belakangnya.

Makhluk kecil itu merasakan sebuah tangan menangkap pinggangnya tadi saat ia tanpa berpikir jernih hanya berlari sembarangan berpikir yang penting segera bebas dari sana. Dan tangan itu menyeret tubuh kecilnya hingga ia berada dalam posisinya sekarang.

"Apa yang kalian lakukan?" Tatapan tajam itu seakan menusuk kedua mata Baekhyun.

Apa yang kalian lakukan?

Baekhyun tidak mengerti. Ia terlalu takut sampai ia tak menangkap apa maksud dari pertanyaan leader geng Tao itu.

"APA YANG KAU LAKUKAN BERSAMA NYA?!" Bentak namja jangkung itu terlihat geram membuat Baekhyun memalingkan wajah sambil memejamkan matanya, namun tangan kakak kelasnya itu menangkap wajahnya dan menekan kedua pipinya dengan ibu jari dan jari telunjuknya memaksanya tetap melihat ke depan dan bertemu tatapan itu lagi.

Tubuh Baekhyun gemetar dan mendadak lemas sampai tanpa sadar tubuhnya merosot dan ia terduduk di lantai.

Chanyeol ikut berjongkok dan meraih leher pucat anak laki-laki yang terduduk lemah di hadapannya,"kau tidak menjawab pertanyaanku?!" Baekhyun kembali merasakan cekikan tangan itu di lehernya.

Apa ini tentang Xi Luhan?

Apa itu karena dia menepis tangan kakak kelasnya itu tadi?

Apa Chanyeol marah karena ia telah lancang pada sepupunya?

"Ma-maaf..."

"A-aku tidak bermaksud lancang!! Aku hanya merasa tidak layak disentuh sep-seperti itu oleh nya!"

Dan Baekhyun merasakan tangan yang mencekik lehernya melonggar sampai tangan itu meninggalkan lehernya.

Apa ia berhasil?

Apa permintaan maafnya diterima?

Baekhyun dapat merasakan sedikit kelegaan di dadanya.

Namun itu hanya berlangsung beberapa saat saja sebelum ia merasakan jambakan kuat di rambut bagian belakangnya.

"Akh!"

Dan rasa sakit di lehernya.

#TBC#

Nah lho!

Baek disembelih xD

Terimakasih yang sudah baca~ (peluk satu-satu) semoga cerita-cerita saia menghibur kalian :'D