Perhatikan tanda ini ya!!

Present (saat ini): ...

Flashback : 00000

...

...

악순환 -ASH-

Chapter [6]

...

...

.

.

00000

"Dia adalah mainanku dan Chanyeol! Tidak seharusnya kau membantunya!"

"Aku seorang dokter, tidak mungkin membiarkan orang yang terluka di depan mataku begitu saja."

"Cih!"

Baekhyun terbangun karena suara cek-cok-an dua orang yang berada di satu ruangan dengannya. Makhluk mungil itu mengerjap-ngerjapkan matanya dengan irama lambat masih memproses kesadarannya yang belum sempurna.

Srek.

"Oh, kau sudah bangun?"

Baekhyun melihat seseorang yang masuk dari balik tirai tak asing baginya, orang itu tersenyum saat melihatnya tersadar. Dia adalah Wu Yi Fan, dokter khusus di sekolah Hanyoung ini. Sepertinya dia yang telah membawa Baekhyun ke ruangan dimana ia berada sekarang.

"Tubuhmu sangat lemah, dan perutmu terus berbunyi. Berapa lama kau tidak makan? Sepertinya itu yang disebut gejala kelaparan haha..." Candanya tertawa ringan sambil membawakan se-tray makanan dan menyuruh Baekhyun mengganti posisinya untuk duduk.

Saat Baekhyun bangkit dan mengganti posisinya menjadi duduk, ia melihat Tao yang bersandar ke dinding sambil memangku kedua tangan di samping meja kerja dokter Wu, melihat ke arahnya dengan jengkel yang kemudian ia beranjak dari sana keluar ruangan dengan diakhiri debaman pintu kasar.

"Maaf..."

"He?" Baekhyun mengangkat wajahnya, menatap dokter muda tampan yang tengah meletakan se-tray makanan di lahunannya.

"Atas kelakukan Tao dan yang lainnya ..." Ucapnya tersenyum, menyelesaikan kalimatnya yang menggantung yang membuat Baekhyun bingung, "aku mewakilinya sebagai seorang kakak..."

Eh?

Fakta baru yang baru Baekhyun ketahui.

"Aku hanya bisa minta maaf. Tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena Chanyeol yang punya kekuatan dalam hal ini." Baekhyun bisa mendengar penyesalan dan menyayangkan di nada bicara dokter Wu dan ia hanya tersenyum menanggapinya sambil melihat makanan di lahunannya. Memang tidak akan pernah ada jalan keluar maupun orang yang bisa menolongnya dari lingkaran kejam yang diciptakan Park Chanyeol dan kawan-kawannya itu.

"Aku hanya perlu bertahan sampai satu tahun beberapa bulan ke depan dan aku akan terbebas dari ini," Baekhyun tersenyum hambar kemudian mulai memasukan sesuap demi suap makanan yang disajikan untuknya. Ia hanya perlu menyemangati dirinya sendiri karena tak akan ada lagi orang yang melakukan itu untuknya. Tidak ada Kai yang akan selalu berada di pihaknya.

"Siapa namamu?"

Baekhyun mengangkat wajahnya dengan mulut penuh makanan. "Byun Baekhyun."

"Byun...Apa kau tidak terpikir untuk pindah sekolah seperti yang kebanyakan siswa-siswi sekolah ini lakukan saat mereka mendapatkan ASH?"

Baekhyun kembali menundukan kepalanya menggeleng kecil, "ada orang yang beruntung, dan ada yang tidak. Aku adalah si orang tidak beruntung yang dengan sengaja tidak diciptakan jalan keluar untuk masalah ini."

Dokter Wu mengernyitkan dahinya.

"Aku bisa berada di sekolah ini karena beasiswa. Keluargaku tidak punya uang sebanyak itu sampai aku bisa berpindah-pindah sekolah." Ucap Baekhyun sebelum memasukan sesuap nasi ke mulutnya.

"Aku tidak apa-apa!" Baekhyun tersenyum dengan banyak makanan di mulutnya, merasa dokter muda yang sudah berbaik hati menolongnya itu mulai menatapnya dengan iba.

"Kau anak yang kuat." Komentar dokter Wu tiba-tiba.

Baekhyun kembali menundukan wajahnya tersenyum pahit.

Tidak.

Dia hanya berusaha untuk terlihat kuat.

Baekhyun hanyalah seorang pengecut dan penakut yang sedang berpura-pura kuat.

00000

BRUK.

Tubuh Baekhyun tersungkur di dalam ruangan gelap setelah ketiga orang pengikut geng Chanyeol tadi menyeretnya dengan paksa.

"Baik-baik di sini ya anak manis!"

"HAHAHAHAHAH..."

Dan ruangan itu menjadi benar-benar gelap setelah ketiga orang itu menutup pintunya dan menguncinya dari luar. Tak ada ventilasi atau celah apapun yang bisa membuat cahaya dari luar masuk ke dalam ruangan itu. Benar-benar gelap gulita.

Baekhyun berjalan dengan meraba-raba ke arah pintu dan saat ia telah sampai, ia memastikan apakah pintunya telah benar-benar orang-orang itu kunci ? Siapa tahu ada keajaiban bahwa mereka lupa mengunci atau cara mengunci mereka salah atau sebagainya kan? Ia hanya sedikit berharap, meskipun ia tahu yang namanya keajaiban tidak akan pernah datang padanya.

Baekhyun memutuskan duduk di samping pintu itu sambil memeluk lututnya. Kini matanya mulai terbiasa dengan kegelapan ruangan itu dan ia bisa melihat tumpukan barang-barang yang memenuhi ruangan hingga tanpa sengaja ia melihat sesuatu seperti manusia melihat ke arahnya. Baekhyun hampir terlonjak kaget kalau saja ia tak segera sadar bahwa itu hanya manekin usang dari ruang biologi yang sudah tak terpakai. Meski begitu ia jadi sedikit was-was. Ia berada di tempat yang siswa-siswi sekolah ini sebut sebagai gudang sekolah kan? Tempat yang sering Tao jadikan tempat untuk mengurung orang-orang korban ASH-nya? Tempat yang katanya juga telah beberapa orang melihat penampakan makhluk halus di sana jika malam menjelang?

Ini sore, bel pulang telah berbunyi beberapa waktu lalu. Sekarang seharusnya Baekhyun sudah berada di perjalanan menuju tempat kerja sambilannya kalau saja ketiga orang itu tidak menyeretnya paksa dari kelas. Sebentar lagi pukul 6... Itu artinya malam akan segera menjelang. Jantung Baekhyun berdetak dengan kencang memikirkan sesuatu yang tidak-tidak yang bisa saja ia alami di sana.

Sampai kapan mereka akan mengurungnya di sana? Apa mereka semua akan pulang dan meninggalkannya di tempat gelap itu sampai seseorang kembali membuka pintu gudang besok? Sampai ia menjadi salah satu saksi mata dari angkernya tempat itu?

Makhluk kecil itu merogoh ponsel di saku celananya dan saat ia menemukan kontak Kai di layar ponselnya. Ia menggeleng kepalanya pelan. Tidak pantas rasanya ia meminta sahabatnya itu untuk menolongnya sekarang setelah apa yang dia lakukan. Setelah Kai membencinya. Baekhyun tidak bisa terus menerus bergantung pada sahabatnya yang sejak dulu selalu ada saat ia butuhkan, seperti sosok seorang kakak. Kai akan semakin membencinya jika ia terus menjadi pengecut dan meminta perlindungannya.

'Baek?'

"Eomma... maaf, sepertinya hari ini aku tidak pulang."

'Eh, ada apa Baek?'

"Aku harus mengerjakan tugas kelompok di rumah teman. Sepertinya ini akan lama jadi aku akan menginap." Ucap Baekhyun bohong.

'Begitu? Baiklah. Tapi apa tidak apa-apa? Kau tidak membawa baju ganti ?'

"Tidak, aku akan meminjam punya teman."

'Baiklah. Oh ya, jangan lupa makan!'

"Iya." Baekhyun tersenyum menumpu'kan dagunya di lengan yang ia letakan di atas kedua lututnya. "oh ya, eomma, tolong telepon tempat kerjaku, katakan hari ini aku tidak bisa masuk."

'Baiklah.'

"Terimakasih. Kalau begitu... aku tutup." Baekhyun tidak ingin mengatakan itu. Ia ingin terus berbicara dengan ibunya, mendengar suaranya, agar ia tidak merasa sepi dan hening di tempat gelap itu. Tapi ia sudah mengatakannya, dan sambungan teleponnya telah terputus.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun merasakan hawa dingin menyapa tubuhnya dan keheningan ruangan itu membuatnya takut. Ia memainkan ponselnya berusaha membuat pikirannya terdistraksi dari keadaan sekeliling, dan dari bayangan film-film horor yang pernah ditontonnya selama ini.

Krak.

Baekhyun sedikit terkaget dengan suara seperti sesuatu yang bergeser dari arah tumpukan benda -benda usang di depannya.

Jantung makhluk kecil itu berdegup dengan kencang membayangkan sesuatu yang tak ia inginkan.

Itu hanya tikus!

Baekhyun meyakinkan dirinya sendiri dan kembali memainkan ponselnya, berusaha tak memikirkan suara itu yang kembali terdengar menyapa telinganya.

Krak.

Baekhyun berusaha fokus memainkan game di ponselnya sampai sesuatu membuat matanya teralih dari layar ponselnya dan saat ia menoleh ke samping, manekin usang itu telah berpindah ke samping tubuhnya.

"HUAAAAA!!!!!"

Baekhyun terlonjak, tersadar dari mimpinya. Nafasnya tersenggal-senggal dan jantungnya masih berdetak dengan begitu cepat. Masih terbayang dengan jelas manekin menyeramkan itu tiba-tiba saja ada di sampingnya, menatapnya.

Tapi syukurlah... Syukurlah itu hanya mimpi!!!

Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya.

Tunggu?

Rambut...

Harum tubuh ini...

Baekhyun segera melepaskan pelukannya di tubuh orang itu yang entah bagaimana dan sejak kapan sudah berada di hadapannya.

PARK CHANYEOL?!!!!

Baekhyun beringsut menempelkan punggungnya ke dinding dengan takut.

Ia baru saja tanpa sadar memeluk Park Chanyeol!!! Dia pasti akan dibunuh! Baekhyun telah dengan lancang memeluk laki-laki yang paling ditakuti di sekolah ini!

TAPI KENAPA KAKAK KELAS MENAKUTKANNYA ITU ADA DI SINI?

Tapi ada sedikit perasaan senang di dada makhluk kecil itu.

Tapi namja jangkung itu pasti akan membunuhnya!!

Baekhyun kadang benci dirinya sendiri yang selalu tak bisa menempatkan perasaannya di situasi yang tepat. Jika itu saat berhubungan dengan Chanyeol, maka perasaan senang, berdebar-debar dan rasa takut akan bercampur di dadanya. Bahkan saat kakak kelasnya itu menjambak rambutnya seperti sekarang, ada sedikit perasaan senang dengan kenyataan bahwa tangan kakak kelasnya itu menyentuh rambutnya. Sedikit saja kontak yang terjadi diantara ia dan Park Chanyeol akan membuatnya senang. Tapi juga takut...

Meski pada akhirnya rasa takutnya memang lebih besar.

"Apa yang kau inginkan dariku?"

"Maaf!!" Baekhyun memejamkan matanya kuat merasakan jambakan di rambutnya mengencang. Ia sama sekali tidak bermaksud melakukan apa yang tadi telah ia lakukan! Bahkan dalam mimpi pun ia tidak berani melakukannya. Ia sama sekali tidak pernah berani membayangkannya!!

"Kau mengincar uang?"

Baekhyun membuka matanya, sedikit bergidik merasakan wajah Park Chanyeol begitu dekat ke telinganya, bahkan nafasnya membentur leher makhluk kecil itu. Tunggu?!

"Atau tubuhku?"

Apa?

Baekhyun refleks mendorong dada kakak kelasnya yang berbahaya itu tapi Park Chanyeol terlalu kuat. Ia menangkap satu tangan Baekhyun dan menguncinya di dinding di samping kepala adik kelasnya itu.

"Katakan, apa yang kau inginkan?"

Baekhyun menahan nafasnya karena Park Chanyeol terlalu dekat.

"Jangan katakan kau ingin keduanya? Rakus."

Baekhyun menggelengkan kepalanya kuat. Dan kembali, rambut belakangnya dijambak dengan kuat.

"Aku paling tidak suka manusia munafik! Aku tahu semua orang yang datang padaku dengan kata-kata 'suka'. Hanya menginginkan itu!"

Baekhyun seakan bisa melihat kedua mata di hadapannya begitu penuh emosi meski wajahnya tanpa ekspresi.

"Kau tahu, aku pernah tidur dengan seorang laki-laki dan kurasa itu tidak terlalu buruk."

Baekhyun tak bisa berpikir jernih, sesuatu yang ia rasa adalah paling tepat untuk ia lakukan saat itu, maka ia melakukannya.

Baekhyun mendorong perut Chanyeol kuat dengan kakinya hingga laki-laki siswa nomor satu yang paling ditakuti di Hanyoung high itu sedikit terjengkang ke lantai di belakangnya.

Park Chanyeol telah 'menyentuhnya'.

Baekhyun menutupi mulutnya sendiri menyadari apa yang baru saja terjadi, dan apa yang baru saja telah ia lakukan.

Kini ia melihat kakak kelasnya itu menatapnya dengan ganas dan Baekhyun merasa ingin mengubur dirinya sendiri saat itu juga sebelum sebuah kepalan tangan mendarat di pipinya hingga ia tersungkur.

"Baru pertama kali ini kutemui orang semunafik dan setidak tahu diri kau!" Chanyeol menggamit kerah seragam Baekhyun geram. "Kau pikir siapa dirimu? Aku sudah menawarkan sesuatu yang tidak mungkin bisa begitu saja orang dapatkan dan kau—"

"Kumohon jangan seperti itu!" Suara Baekhyun bergetar. "Aku tidak menyukaimu seperti itu."

"Aku lebih ingin kau menghajarku sepuasnya daripada kau memperlakukanku seperti itu." Tubuh kecilnya gemetar karena rasa sakit dan takut.

Park Chanyeol telah salah memandang perasaannya. Park Chanyeol telah memelecehkan dan menganggap perasaan tulusnya sesuatu rendah yang membuat otaknya tak bisa lagi memerintahkannya untuk tetap diam.

Baekhyun tidak suka perasaan tulusnya diinjak-injak dan dikotori dengan cara seperti itu.

Chanyeol mengeratkan gamitannya di seragam anak laki-laki yang lebih kecil darinya dengan sudut bibirnya yang sobek karena pukulan kepalan tangannya, "jangan sok naif! Isn't that what you all faggot want—"

"Dengan melihatmu saja sudah memberikan kebahagiaan untukku. Itulah bagaimana aku menyukaimu." Untuk pertama kalinya Baekhyun memberanikan diri menatap lurus kedua mata tajam itu untuk waktu yang cukup lama, meski rasa takut terpancar jelas di wajahnya, ia mencoba sekuat kekuatan tubuhnya untuk tersenyum. "tapi aku sadar bahkan itu pun aku tidak layak merasakannya." Baekhyun tersenyum getir dengan bibir gemetar, "Aku tidak perduli jika kalian menganggapku sampah. Tapi aku tidak terima direndahkan dengan cara seperti itu!"

"Pukul aku! Hajar aku sepuasnya!" Baekhyun telah berusaha menahannya. Ia berusaha menahan air matanya untuk tidak menetes dari sudut matanya tapi rasa sakit di dadanya terlalu kuat, seperti ada sesuatu di tenggorokannya yang membuatnya sulit untuk bernafas dan tercekat.

Ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia lelah dengan perasaan itu di dadanya...

"Pukul aku sepuasnya! Buatlah perasaan lancang ini hilang!" Setetes air yang tak mampu lagi ia bendung mengalir dengan perlahan dari sudut matanya. Mengaliri pipi pucatnya turun ke lehernya.

Baekhyun ingin menghilangkannya...

Perasaan yang membuatnya mengalami lingkaran kejam ini dalam hidupnya. Semuanya salah perasaan lancang itu hingga ia bahkan harus kehilangan sahabatnya...

Semua salahnya...

"Kumohon!"

Hilangkan lah perasaan itu dari dadanya...

Bruk.

Tubuh Baekhyun didorong dengan kasar hingga membentur dinding di belakangnya. Dan laki-laki kecil itu segera memeluk lututnya sendiri menunggu permintaannya dikabulkan Park Chanyeol. Menunggu pukulan-pukulan kepalan kuat tangan kakak kelasnya itu menghantam tubuhnya. Tapi beberapa lama ia menunggu, tak ada apapun yang datang kepadanya. Baekhyun mencoba mengangkat wajahnya takut-takut, melihat orang itu yang hanya berdiri di depannya dengan tatapan yang tak ia mengerti. Dan kemudian kakak kelasnya itu beranjak dari sana tanpa melakukan apapun. Tanpa meninggalkan satu lebaman pun di tubuh gemetar Baekhyun.

Dan itu adalah hari terakhir kalinya Baekhyun merasakan Park Chanyeol terlibat langsung menindasnya. Untuk hari-hari selanjutnya bahkan saat Tao membullynya, Chanyeol tidak pernah sedikitpun melirik kearahnya.

Tapi Baekhyun mengerti. Kakak kelasnya itu pasti sudah terlalu muak dengannya dan perasaan lancang yang ia miliki. Dan Baekhyun hanya bisa tersenyum hambar menyikapi kesimpulannya sendiri.

...

"Sa... A-akh!"

Satu tangan Baekhyun menutupi mulutnya sendiri meredam suaranya yang ingin berteriak dan satu tangan lainnya memegangi bahu tegap laki-laki di hadapannya dengan kuat hampir meremas dengan upaya mendorongnya.

Baekhyun memejamkan matanya kuat dengan telapak tangan menutupi mulutnya dengan erat berusaha untuk tidak menjerit merasakan sakit di sudut antara leher dan bahunya. Ia bisa merasakan gigi-gigi itu tenggelam di kulitnya, menembus dagingnya.

Sakit...

Baekhyun segera memegangi sudut lehernya dengan kedua tangannya dimana ia merasakan sedikit aliran darah keluar dari luka yang diciptakan laki-laki menakutkan di hadapannya yang kini telah melepaskannya dan menatapnya dengan tatapan yang sekali lagi... Seperti saat itu...

Tak bisa dimengerti.

Namun Baekhyun tak bisa berlama-lama menatapnya. Ia takut. Ia segera menundukan kepalanya dengan satu tangan memegangi luka di lehernya dan satu lainnya menarik kedua lututnya menyentuh dadanya.

Apa yang telah Park Chanyeol lakukan?

"Kau berpikir sudah tidak mungkin mendapatkanku, dan sekarang kau beralih pada Luhan?"

Apa?

Baekhyun mengangkat wajahnya cepat.

"Apa kau baru menyadarinya bahwa Luhan lebih menarik dariku?"

Tidak...

"Dan yang penting bagimu, ia bergelimpangan harta..."

"Tida-ekh!!"

Baekhyun kembali merasakan cekikan itu di lehernya. Dan yang membuatnya terasa lebih menyiksa, tangan kakak kelasnya menekan luka gigitan yang ia ciptakan di sudut lehernya.

"Sok suci..."

Kedua tangan Baekhyun menggenggam pergelangan tangan yang mencekiknya berusaha melepaskan.

Park Chanyeol salah paham.

"Kau tidak ada bedanya..."

Baekhyun merasakan cekikan di lehernya terlepas namun ia kemudian merasakan jambakan kuat di rambut atas kepalanya lalu tangan itu seakan membuang kepalanya ke lantai hingga tubuh kecilnya juga ikut ambruk tersungkur.

"Pada akhirnya, kau sama jalangnya dengan mereka!" Keluar ucapan dingin yang membuat bulu kuduk Baekhyun merinding sampai ke tulang belakangnya sebelum kaki Park Chanyeol beranjak dari sana meninggalkannya yang tengah bergelut dengan proses pembentukan keberanian untuknya menjelaskan bahwa apa yang dipikirkan kakak kelasnya itu salah!

"Kau...K-kau SALAH!"

Seberapa inginpun ia mengubur perasaannya. Seberapa keterlaluan pun Park Chanyeol memperlakukannya. Seberapa menderita pun hari-harinya karena perasaan itu, seberapa sakitpun luka yang tercipta dari perasaan itu, orang yang dia sukai tetaplah Park Chanyeol.

"AKU TIDAK SEPERTI ITU...!!!!!" Baekhyun meremat kain seragam di dadanya.

Berapa kali harus ia katakan? Berapa kali harus ia yakinkan?!

Baekhyun melihat tubuh tegap itu berhenti beberapa langkah sebelum mencapai pintu.

Dan rasa takut kembali mendatangi makhluk kecil itu dengan kemungkinan bahwa kakak kelasnya itu akan kembali padanya dan mungkin akan kembali menghajarnya karena tidak suka diteriaki seperti apa yang telah ia lakukan tadi.

Tapi tidak.

Park Chanyeol kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Baekhyun di tempat itu seorang diri.

...

"Yeol~ darimana saja? Luhan datang, malah kau yang menghilang!" Gerutu Tao memangku kedua tangannya sok, saat leadernya baru saja kembali datang dari urusan entah apa itu yang ia tidak tahu dan tidak mau tahu.

Chanyeol hanya mendudukan dirinya di kursi di samping laki-laki bermata rusa yang baru saja memasukan sebatang rokok diantara bibirnya tanpa menjawab Tao yang dibuat mendengus karenanya. Namja jangkung itu hanya memperhatikan laki-laki yang baginya terlihat seperti perempuan cantik itu di sampingnya, sampai kemudian ia merebut rokok dari mulut sepupunya itu dan memasukan batangan nikotin itu diantara bibir plumnya, menghisapnya.

"Yeol—"

"Lu..." Chanyeol masih menghisap dan mengepulkan asap rokok dari mulutnya beberapa kali saat ia menyebut nama kecil sepupunya itu, namun kemudian ia berhenti dan menoleh, "untuk kali ini saja..." Ia mengapit rokok sepupunya itu diantara jari telunjuk dan tengahnya, "biarkan aku memiliki sendiri apa yang kuinginkan!" Ucapnya sebelum mengembalikan rokok di tangannya ke mulut Luhan.

#TBC#

mind to RnR? :)