"Jimin?" Panggil seseorang sambil mencoba membangunkannya.

"Enghh…" Jimin mengeluh tertahan ketika merasakan seseorang menepuk pelan pipinya, membuka matanya dan mencoba beradaptasi dengan sinar lampu di ruangan yang langsung memasuki retina matanya. Jimin mengerjap beberapa saat dan menemukan sosok Seokjin yang menatapnya dan ternyata Seokjin lah yang membangunkannya.

Jimin bangun dengan perlahan, masih dengan mata yang setengah mengantuk, dirinya memandang hyungnya. "Kau sudah pulang hyung?" Tanya Jimin dengan suara khas bangun tidurnya.

"Apa yang kau lakukan di kamarku?" Alih-alih menjawab pertanyaan adiknya, Seokjin kembali bertanya pada Jimin.

"Aku ketiduran hyung, tadi aku terlalu lama membaca buku-bukumu. Sekarang pukul berapa hyung?"

"Pukul 9 malam, kau mau menginap disini?" tawar Seokjin sembari menatap pada adik kesayangannya.

"Tidak hyung, aku harus menyelesaikan tugasku."

"Baiklah hati-hati di jalan Jim."

"Hm."

Jimin beranjak dari tempatnya dan segera mengemasi barang-barangnya karna tak ingin pulang begitu larut untuk sampai pada apartemennya.

Seokjin mengantar Jimin sampai depan pintu, dirinya sudah 'sangat' terbiasa jika menemukan Jimin yang tertidur di kamarnya, Jimin terkadang juga sering menginap di apartemennya jika pemuda tampan itu sedang malas pulang ke apartemennya sendiri.

.

.

.

Jimin mengendarai motornya menuju apartemennya dengan kecepatan sedang. Jimin tidak suka main kebut-kebutan karna dirinya masih sayang nyawa. Jimin memarkirkan motornya di basemen apartemen, karena kamarnya tertetak di lantai 4 Jimin menggunakan lift yang disediakan daripada menggunakan tangga. Jimin sedang malas menggunakan tangga. Biasanya jika Jimin sedang tidak terburu-buru dan malan dirinya akan menggunakan tangga sekalian melatih otot-otot di kakinya.

Saat lift akan menutup tiba-tiba pandangan Jimin tertuju pada sesuatu. Jimin buru-buru mencegah pintu lift yang akan menutup menggunakan tangannya dan dengan cepat memasuki lift. Jimin melihat seseorang di dalam lift, meneliti dari atas ke bawah. Seorang pemuda mungil memakai pakaian serba tertutup bahkan Jimin tak yakin pemuda mungil yang bersamanya di lift dapat melihat jalan, matanya saja tidak terlihat bagaimana ia bisa melihat jalan batinnya.

"Apa kau bisa melihat jalan dengan pakaian sepeti itu?" Tanya Jimin karena penasaran dengan pakaian yang dipakai oleh pemuda mungil itu.

"…"

"Siapa namamu?" Jimin kembali bertanya karena tidak mendapat jawaban dari pertanyaan sebelumnya.

"…"

"Kau tinggal di lantai berapa? Sepertinya aku baru melihatmu, kau penghuni baru ya?"

"…"

"Kenapa kau memakai pakaian seperti itu?"

"…"

Tetapi semua pertanyaannya sama sekali tidak dibalas oleh pemuda mungil itu. Jimin terlalu asik bertanya hingga tak menyadari bahwa tubuh pemuda mungil itu mulai bergetar. Jimin mendengus kesal karena semua pertanyaannya diabaikan begitu saja, karena terlalu kesal, secara tak sadar Jimin berbalik menghadap pemuda mungil dan membentak pemuda itu.

"YAA! Jika ada orang bertanya padamu jangan diabaikan begitu saja!" Ucap Jimin dengan suara sedikit keras.

Mendengar seseorang membentaknya tubuh Yoongi secara refleks merosot ke lantai, tubuhnya tidak bisa diajak kompromi lagi. Padahal Yoongi sudah berusaha sebisa mungkin untuk tetap berdiri. Yoongi tidak ingin seseorang melihat keadaannya yang seperti ini.

Jimin menatapnya dengan terkejut melihat seseorang yang bersamanya di lift terjatuh ke lantai dengan keadaan tubuh bergetar.

"Hei, kau tak apa? Ada apa denganmu?" Tanya Jimin panik dan berusaha menghampiri pria itu. Jimin merasa sangat bersalah, bagaimanapun juga ini salahnya karna Jimin tidak sengaja tadi membentak pemuda mungil itu karena terlalu kesal.

"…"

"Hei, jawab aku, kumohon. Maaf aku tadi membentakmu. Sungguh aku tak mengira kau akan seperti ini." Jimin merasakan tubuh pria di hadapannya ini menegang ketika dirinya mencoba meraih kedua bahu pemuda munggil itu. Jimin merutuki kebodohannya sesaat, memandang pria mungil itu dengan tatapan penuh rasa bersalah.

"Ku- mo-hon ting-gal-kan a-ku." Ucap pemuda mungil itu lirih. Yoongi bahkan tak sanggup untuk memandang wajah Jimin. Tubuhnya serasa lemas dan tidak bisa bergerak walau dengan sekuat tenaga Yoongi berusaha untuk menopang tubuhnya sendiri.

"Mana bisa begitu, ayo ku atar kemarmu!" Karena terlalu panik Jimin kembali membentak pemuda munggil itu.

"Ku-mo-hon hiks… ting-gal-kan a-ku hiks." Balas Yoongi sambil menggelengkan kepalanya.

Setelah berdemo dengan hati dan pikirannya, dengan berat hati Jimin akhirnya meninggalkan pemuda mungil yang meringkuk di sudut lift. Jimin melangkah dengan perlahan walau sesekali dirnya menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan pemuda yang masih bergetar itu.

Entah bagaimana, Jimin merasa benar-benar kalut dan Jimin segera bersembunyi di balik lorong apartemenya. Jimin mengintip dari ujung lorong dan memastikan bahwa pemuda itu dalam keadaan baik-baik saja. Jimin melihat pemuda mungil itu keluar dengan perlahan dari lift dan pemuda mungil itu berjalan dengan pelan untuk sampai ke dalam apartemennya.

Jimin sedikit tersentak menyadari satu fakta bahwa ternyata apartemen pria itu terletak persis di samping apartemen Jimin. Bagaimana bisa Jimin tidak pernah bertemu dengan tetangga sebelah apartemennya sendiri?

Setelah pria itu sudah menghilang memasuki apartemennya, dengan rasa penasaran yang tinggi, Jimin mengendap-endap lalu tersenyum senang ketika mendapati pintu apartemen pemuda mungil tadi tidak sepenuhnya tertutup rapat. Dengan kelihaiannya Jimin mengintip ke dalam kamar pria itu walau tidak bisa melihat jelas karna suasana apartemen yang sedikit gelap dan temaram. Jimin menunggu sekitar beberapa menit baru dirinya melihat pergerakan dari pemuda mungil. Jimin melihat pemuda mungil itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan segera menelannya tanpa menggunakan air. Jimin menautkan kedua alisnya, Mungkin itu sebuah vitamin, tetapi jika itu sebuah vitamin kenapa dia meminumnya disaat seperti ini, batin Jimin bertanya.

Jimin masih mengintip dari celah pintu yang terbuka dan tak menunggu lama Jimin melihat pemuda mungil mulai bangkit dan berjalan tertatih perlahan menuju sebuah pintu yang bisa Jimin pastikan kamar milik pemuda mungil.

Jimin menghela nafas dirasa tidak ketahuan oleh sang pemilik apartemen. Jimin kemudian terdiam untuk beberapa saat seperti orang bodoh, berdiri di depan apartemen orang asing yang bahkan tidak Jimin kenal sama sekali dan mengintip setiap pergerakan sang pemilik apartemen.

Oh apakah Jimin saat ini terlihat seperti seorang penguntit?

Jimin kembali menggelengkan kepalanya saat pikiran itu melintas di otak tampannya. Jimin terdiam beberapa saat, memikirkan sesuatu yang mengganggunya. Ada yang salah dengan pemuda tadi. Entah karna Jimin adalah termasuk dalam orang-orang dalam tingkat kepekaan yang tinggi atau bagaimana, Jimin sedikit merasa kasihan melihat keadaan pemuda tadi.

Hati nuraninya berkata bahwa pemuda itu membutuhkan perlindungan dan sandaran untuk tempat berkeluh kesah, tetapi Jimin sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa untuk pemuda itu, jadi Jimin bisa apa?

Mungkin memandang dan mengawasi pria tadi dari kejauhan adalah salah saatu hal yang mungkin akan Jimin lakukan. Ya, Jimin bertekat untuk mulai mengamati pemuda itu dari kejauhan.

.

.

.

Beberapa hari setelah kejadian di lift, Jimin tak pernah melihat pemuda yang tinggal di sebelah apartemennya, hal itu membuat Jimin penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda mungil yang tinggal di sebelah apartemennya. Entahlah, Jimin hanya ingin meminta maaf karena telah membuat pemuda itu menangis.

Jimin dengan rasa bersalahnya mencoba untuk meminta maaf pada pemuda di samping apartemennya sekalian berkenalan, setidaknya Jimin mengetahui nama dari pemuda mungil tersebut.

Jimin menekan bel apartemen yang berada di sebelah apartemennya. Sudah berkali-kali Jimin menekan bel, tetapi pintu itu tak kunjung terbuka. Mungkin pemuda yang tinggal di sebelah apartementnya sedang bekerja atau pergi, pikirnya. Karena tak kunjung mendapat jawaban, Jimin memutuskan untuk pergi. Jimin berbalik melangkah pergi menuju kampus untuk mengumpulkan tugas yang diberikan oleh Dosenya. Saat Jimin melangkah menuju menjauh, pintu apartemen yang sejak tadi ditunggunya perlahan terbuka dan menampilkan sosok pucat yang dicari oleh Jimin. Tetapi Jimin tidak menyadari hal itu karena dirinya telah berbalik pergi.

.

.

.

Sudah beberapa hari ini Yoongi tidak keluar dari apartemennya, dirinys masih merasa takut jika harus keluar dari apartemennya. Menurut Yoongi tempat teraman adalah apartemen miliknya, dimana tak seorangpun mengenal Yoongi. Sudah beberapa kali Yoongi mencoba menghilangkan rasa takutannya, tetapi berapa kalipun Yoongi mencoba, usahanya tidak membuahkan hasil sedikitpun, sampai akhirnya Yoongi menyerah.

Yoongi memandangi foto bersama keluarganya, foto itu di ambil tiga hari sebelum kejadian mengerikan menimpaya. Yoongi tidak menyangka bahwa foto itu adalah foto terakhirnya dengan keluarganya, dimana di dalam foto itu Yoongi tersenyum lebar dan tertawa bahagia bersama keluarganya.

Tak terasa air matanya menetes dengan sendirinya tanpa Yoongi minta, sungguh Yoongi sangat merindukan keluarganya. Merindukan ibunya yang selalu mengomelinya jika dirinya terlalu lama terditur, merindukan ayahnya yang dari luar terlihat dingin tetapi dalam hatinya adalah sosok yang hangat dan selalu menomersatukan keluarga. Dan yang paling dirindukannya adalah saat-saat indah berkumpul bersama keluarganya.

Foto tersebut adalah satu-satunya barang berharga peninggalan keluarganya sebelum semua yang ada di hidupnya direnggut secara paksa. Untuk yang sekian kalinya Yoongi menangis seorang diri, Yoongi meringkuk dalam tangisnya, dirinya memeluk dirinya sendiri karena tak akan ada satupun orang yang datang untuk memeluknya.

Apa yang diharapkan dari seorang yang sudah rusak jiwa dan raganya? batinnya miris.

Yoongi menertawakan dirinya sendiri, sangat bodoh jika Yoongi berharap ada seseorang yang datang padanya dan menariknya dari hidupnya yang gelap tanpa cahaya, karena cahaya hidupnya sudah menghilang saat semua yang ada di hidupnya direnggut secara paksa oleh orang-orang tanpa hati itu.

Yoongi menangis sampai dirinya mendengar suara bel apartemennya berbunyi, alaram bahaya dalam dirinya mendadak muncul, karena sejak Yoongi tinggal disini tidak ada satupun orang yang mengenal Yoongi, apalagi berkunjung di apartemennya.

Yoongi mengambil obat di meja nakas samping tempat tidurnya dan segera meminumnya untuk menenangkan dirinya. Yoongi mengacuhkan bel yang terus berbunyi, Yoongi hanya takut jika mereka menemukannya. Sampai bel apartemennya berhenti berbunyi, Yoongi baru beranjak dari tempat tidurnya dan perlahan menuju pintu apartemennya kemudian membuka pintu apartemennya tanpa menimbulkan suara.

Yoongi berfikir apa yang pemuda itu mau dari dirinya, mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Dan hari ini kenapa pemuda itu ingin berkunjung ke apartemennya, ahh sudahlah Yoongi tak ingin memikirkan hal itu lebih jauh. Lebih baik sekarang Yoongi bersiap-siap untuk pergi bekerja. Yoongi sudah beberapa hari tidak bekerja karena kejadian di lift beberapa hari lalu, walaupun Yoongi sudah menghubungi pemilik kedai tetapi Yoongi tetap tak enak hati kalau dirinya terus-terusan membolos.

Ahjumma pemilik kedai berkata tidak apa-apa tetapi tetap saja Yoongi tak enak hati, lagipula Ahjumma pemilik toko sudah lumayan berumur, dan dia harus membuka kedai itu seorang diri.

Setelah selesai bersiap-siap, Yoongi bergegas menuju kedai di persimpangan jalan. Kedai itu belum terlalu ramai karena sekarang adalah jam kerja dan sekolah. Yoongi menghampiri ajhumma pemilik kedai dan meminta maaf secara langsung karena beberapa hari ini tak berangkat bekerja.

"Ahjumma, maafkan Yoongi beberapa hari ini tidak berangkat bekerja." Ucap Yoongi pada seorang wanita tua yang dipanggilnya dengan Ahjumma itu dengan menunduk.

"Tak apa nak, Ahjumma masih bisa mengontrol kedai seorang diri. Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" tanyanya dengan penuh perhatian dan memandang Yoongi dengan penuh kasih sayang. Yoongi menatap Ahjumma itu dengan tersenyum menenangkan.

"Aku baik Ahjumma, terimakasih."

"Syukurlah, tak usah sungkan pada Ahjumma nak. Nak Yoongi sudah seperti putra Ahjumma sendiri."

Yoongi yang mendengar itu lalu tersenyum dengan senang dan mengangguk pelan. Yoongi sedikit membungkukkan badannya, "Sekali lagi terimakasih Ahjumma."

Ahjumma pemilik kedai sedikit mengetahui tentang masa lalu Yoongi, dirinya mengetahui saat terdapat pengunjung yang mencoba merayu Yoongi. Yoongi menceritakan sedikit masa lalunya karena rasa nyaman dari pelukan Ajhuma pemilik kedai. Saat itu Yoongi menangis ketakutan, Ahjumma pemilik kedai secara refleks memeluk Yoongi saat melihat Yoongi dalam keadaan seperti itu, hal itu adalah insting seorang ibu.

Seorang ibu akan memeluk buah hatinya disaat buah hatinya bersedih, takut, kecewa, dan bahagia sekalipun. Karena pelukan Ahjumma pemilik kedai hampir sama dengan pelukan Eommanya, Yoongi mulai bisa mengkontrol dirinya, tangisannya berangsur-angsur mereda tetapi bagaimanapun pelukan dari Eommanya adalah pelukan ternyaman baginya.

.

.

.

Langit sudah menyembuyikan sinarnya yang telah tergantikan oleh cahaya indah sang rembulan. Yoongi membantu Ahjumma pemilik kedai untuk menutup kedainya, setelah selesai Yoongi berpamitan untuk pulang.

Saat perlajanan menuju apartemennya, Yoongi merasa seperti diikuti oleh seseorang, Yoongi melangkah lebih cepat bahkan sedikit berlari, dirinya tidak berani menengok ke belakang. Yoongi berusaha secepat mungkin untuk sampai di apartemennya.

Saat hampir sampai di depan gerbang apartemennya ada seseorang yang membekap mulutnya dan menariknya ke sudut gang yang gelap. Yoongi berusaha berontak sekuat tenaga, tetapi tenaganya tak cukup untuk lepas dari cengkraman itu orang asing itu. Yoongi disudutkan pada dinding dan tubuh pria asing yang membekapnya, dirinya memohon untuk dilepaskan, tetapi pria asing yang membawanya ke sudut gang dalam keadaan mabuk berat, tidak mungkin melepaskan mangsanya begitu saja.

"Kumohon lepaskan aku Ahjussi. Hiks…" ucap Yoongi pelan sambil terisak. Tubuhnya kini benar-benar lemas dan Yoongi harus tetap berdiri berusaha mencari cara untuk melepaskan diri dari cengkraman pria tua di hadapannya itu.

"Kau hik… seorang pria hik… tapi kau sangat manis. Hik… Mari bersenang-senang bersama hik…" Pria itu menyeringai ketika mendapati wajah Yoongi yang ketakutan. Pria mabuk itu sedikit membelai pipi halus Yoongi membuat sang empu bergetar hebat.

"TOLONG… Hiks… TOLONG AKU…" Yoongi berteriak sekuat tenaga, karna hanya itu yang bisa dilakukannya. Saat tangan pria asing itu mulai menjalar ke tubuhnya dan mulai meraba-raba tubuhnya.

Pria mabuk itu seolah menulikan pendengarannya dan semakin menghimpit tubuh bergetar Yoongi lalu menyeringai senang. "Berteriaklah sesukamu manis, karena tidak ada satu orang pun yang akan menolongmu."

Yoongi merasa devaju dengan kejadian ini. Yoongi mencoba memukul badan pria asing itu dengan tangan-tangan kecilnya. Yoongi ingin berlari, tetapi tubuhnya terlalu lelah karena sejak tadi dirinya berusaha memberontak pada pria asing itu, dirinya juga sudah sangat lelah dengan hidupnya. Mungkin mengakhiri hidupnya setelah ini adalah hal yang bagus, itu saja kalau Yoongi masih bisa selamat setelah kejadian ini. Yoongi sudah tidak tahan dengan hidupnya yang terus menerus menderita. Yoongi ketakutan, lelah, tak berdaya, semuanya berbaur menjadi satu.

Sampai saat Yoongi mulai menyerah untuk memberontak, tiba-tiba Yoongi melihat seseorang datang dan memukul belakang kepala pria asing itu hingga pingsan.

Yoongi masih menatap pemandangan di depannya itu dengan tak percaya, tubuhnya masih saja bergetar hebat membuat atensi seseorang yang menolongnya itu tertuju pada Yoongi dan menghampiri.

"Hei, kau tak apa?" Tanya Jimin.

Ya, pemuda yang menolong Yoongi adalah Jimin. Jimin baru saja membeli makanan ringan di supermarket terdekat. Jimin sedang malas menggunakan kendaraannya, jadi dirinya memutuskan untuk berjalan kaki, lagipula jarak antara apartemen dan supermarket tidak terlalu jauh, sekalian berolahraga dengan berjalan kaki.

Sampai saat Jimin hampir sampai di gedung apartemennya, diriya mendengar seseorang menangis dan meminta tolong. Awalnya Jimin berfikir jika itu hanya perasaannya saja, tetapi setelah mendengar teriakan meminta tolong, Jimin memutuskan untuk menghampiri dimana suara itu berasal.

Yoongi mendongakan kepalanya saat merasa seseorang berdiri di depannya dan berkata kepadanya.

Hal pertama kali yang difikirkan oleh Jimin saat matanya menatap wajah pemuda yang ditolongnya adalah sakit di bagian dadanya. Mata pemuda yang ditolongnya terlampau kosong seperti tidak apa cahaya hidup sama sekali. Jimin menyadari bahwa ada yang salah dengan pemuda yang ditolongnya berkat buku-buku kakaknya yang pernah dibaca, tetapi Jimin tidak tau secara tepat tentang itu. Dan Jimin baru menyadari bahwa pemuda yang di tolongnya adalah pemuda yang menangis ketakutan di lift beberapa hari yang lalu.

"Hei, kau sudah aman. Aku Jimin, Park Jimin. Aku bukan orang jahat, aku hanya ingin menolongmu."

"…"

"Kau tidak perlu takut, aku tak akan menyakitmu. Aku berjanji, kau bisa pegang janjiku." Jimin berucap sambil mengulurkan tangannya ke arah Yoongi.

Melihat Yoongi masih ragu dengannya, Jimin kembali berucap dengan sangat lembut, "Percaya padaku."

"To-long a-aku hiks… hiks… kumo-hon to-long a-ku hiks…" Ucap Yoongi menerima uluran tangan Jimin dengan tangan bergetar, dirinya meremat erat telapak tangan itu seolah takut tangan yang dipegangnya akan menghilang.

.

.

.

-TBC-

.

.

.

Hallo saya kembali wkwwkwk…

Saya membaca review kalian, terimakasih sudah membaca, menfollow, menfavorite cerita saya. Percaylah tulisan saya tidak sebagus author-author lain, saya saja meragukan tulisan saya sendiri but terimakasih…

Ohh iya saya membaca review jika ada yang mengatakan saya sadis karena menganggap Jimin tinggi XD jadi anggap saja Jimin tingginya kaya Namjoon XD

Nanti kalo Jimin sama Yoongi pelukan kan lebih enak wkwkwk

So review please?

30.09.2017

-Romana-