"Kau, istirahatlah disini. Aku berada di luar, jika kau membutuhkan sesuatu panggil aku." Ucap Jimin tersenyum seraya menuntun Yoongi untuk berbaring di ranjangnya.
Ya, Jimin membawa tubuh ringkih Yoongi ke apartemennya, karena sejak tadi tangannya digenggam erat oleh Yoongi seolah tak ingin melepaskan. Jimin tidak mengetahui sandi apartemen Yoongi, jadi Jimin memutuskan untuk membawa Yoongi ke apartemennya. Lagi pula apartemen mereka bersebelahan, jadi Jimin tak perlu repot mencari alamat tempat tinggal Yoongi.
"Jangan tinggalkan aku." Jawab Yoongi lirih saat mengetahui Jimin akan pergi. Yoongi memandang Jimin dengan tatapan semelas mungkin, berharap Jimin tetap berada di sisinya.
"Aku tak akan meninggalkanmu, aku berada di ruang tamu." Balas Jimin pengertian.
Yoongi tak menjawab, dirinya hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Jimin menghela nafasnya pelan. Sungguh tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang di hadapannya ini. Mengetahui keadaan Yoongi yang seperti ini sungguh membuatnya sesak.
Jimin memutuskan untuk kembali duduk di samping ranjang, menatap pria manis di depannya yang memilih terus menunduk sambil masih menggenggam erat kedua tangannya.
Suasana hening diantara mereka terjadi cukup lama. Jimin terus memerhatikan gerak-gerik Yoongi. Karena Jimin tipe orang yang tak suka dengan suasana kecanggungan memutuskan untuk mencoba mencairkan suasana dengan membuka pembicaraan "Hei, siapa namamu?" Tanya Jimin.
"Yo-yoongi, Min Yoongi." ucapnya dengan bibir bergetar dan masih menunduk.
Jimin menepuk pucuk kepala Yoongi lalu mengelusnya perlahan seolah memberinya ketenangan. "Baiklah Yoongi, sekarang tidurlah. Aku akan menemani dan menjagamu." Ucap Jimin nyaris berbisik.
Jimin membaringkan tubuh Yoongi pada ranjang dengan perlahan, dan mengusap lembut surai lembut Yoongi.
Entah mengapa Yoongi sungguh menikmati sentuhan lembut Jimin di pucuk kepalanya. Yoongi benar-benar terbuai dengan usapan lembut Jimin, sudah lama dirinya tidak merasakan hal seperti ini. Tangannya masih menggenggam erat tangan Jimin yang berada di dekatnya seolah takut jika sang empu akan pergi meninggalkannya. Sampai Yoongi merasa matanya mulai memberat dan genggaman tangannya pada tangan Jimin mulai melemah, dirinya menyerah untuk menutup matanya dan menyerah untuk menuju alam mimpi.
Jimin memandangi sosok pucat yang terbaring di ranjangnya dengan seksama. Disaat Jimin menolongnya dari pria tua yang mabuk dan menemukannya dengan keadaan yang sangat kacau, terlebih sorot matanya yang terlampau kosong membuat hati Jimin sedikit nyeri.
Jimin tidak mengetahui apa yang pernah Yoongi alami sampai membuatnya seperti itu, yang pasti rasa ingin menjaga pria manis di sampingnya ini mulai tumbuh menyeruak. Jimin seolah ingin melindungi Yoongi dan tak ingin meninggalkannya entah apa yang sedang dihadapi olehnya, Jimin ingin selalu ada untuk pemuda mungil ini.
Jimin perlahan melepaskan genggaman tangannya, menarik selimut hangatnya hingga bawah dagu Yoongi untuk menghalau udara dingin malam hari. Merasa Yoongi sudah terlelap dan hangat, Jimin berjalan menuju dapur untuk membereskan belanjaannya yang sempat dibiarkan tergeletak begitu saja dan membuat secangkir cokelat panas untuk dirinya sendiri.
Jimin meminum secangkir coklat panas seraya mengerjakan tugasnya dengan malas. Karena hari semakin malam dan tubuhnya meronta untuk meminta diistirahatkan, Jimin memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu. Tak mungkin kan Jimin tidur satu ranjang ranjang dengan Yoongi yang masih dalam keadaan kacau? Lagi pula keadaan Yoongi jauh dari kata baik-baik saja jadi ia tak ingin membuat Yoongi merasa tak nyaman dengannya.
Setelah membereskan tugas-tugasnya, Jimin berbaring di sofa panjang ruang tamu sambil memikirkan keadaan Yoongi, masih penenasaran dengan keadaan pemuda yang sedang tertelap di ranjangnya. Keinginannya untuk menolong Yoongi begitu kuat, tetapi Jimin tak harus memulai dari mana dan dirinya juga tak mengetahui apa yang harus ditolong dari Yoongi. Cukup lama Jimin memikirkan hal itu semua, tetapi keadaanya yang cukup lelah memaksanya untuk segera mengistirahatkan tubuhnya, dan akhirnya Jimin memilih menutup kedua matanya dan membiarkan alam mimpi menjemputnya.
.
.
.
.
.
Jimin terbangun akibat teriakan seseorang dari dalam kamarnya, mendudukan tubuhnya yang lumayan kaku akibat tidur di sofa. Jimin mengarahkan pandangannya ke jam yang terpasang apik di dinding ruang tamu yang menunjukan pukul tiga pagi. Padahal Jimin terlelap pukul satu pagi. Dengan terhuyung, Jimin bergegas menuju kamarnya karena teriakan itu semakin menjadi, membuka pintu kamarnya dan menemukan Yoongi meringkuk di sudut kamarnya. Kedua bola matanya membelalakkan ketika melihat penampilan Yoongi yang sangat kacau, surai indahnya yang berantakan, tubuh yang bergetar hebat, dan memeluk dirinya sendiri seperti orang yang sedang mencari perlindungan. Sungguh pemandangan yang sangat menyayat hati jika melihat keadaan Yoongi yang seprti ini, Jimin berjalan perlahan ke arah Yoongi, mencoba menenangkan Yoongi yang menangis histeris saat dirinya mencoba mendekat ke arahnya.
"JANGAN MENDEKAT! Hiks…" Teriak Yoongi saat melihat seseorang berjalan ke arahnya.
Jimin mencoba menghiraukan teriakan histeris Yoongi dengan tetap berjalan perlahan untuk mendekatinya.
"Jangan sentuh aku, hiks… hiks… hiks…Jangan lakukan hal itu lagi padaku hiks… lepaskan aku hiks…" Ucap Yoongi disela-sela tangisannya
Bukannya mereda tetapi justru tangisan Yoongi semakin histeris saat mengingat hal mengerikan yang dulu menimpanya. Kenapa mimpi itu selalu datang, tak bisakah Yoongi tidur dengan nyenyak sekali saja? Mimpi mengerikan itu selalu datang padanya setiap hari. Yoongi sudah lelah dengan semuanya. Yoongi tiba-tiba teringat akan kebodohannya karena lupa membawa obatnya, karna terburu-buru pergi bekerja.
"Yoongi, hei, apa yang terjadi?" Tanya Jimin dengan sangat pelan. Jimin tetap mencoba mendekat pada Yoongi walaupun tangisannya tak kunjung mereda.
"Yoongi... Buka matamu. Aku Jimin." Ucap Jimin kembali saat Yoongi tak meresponnya.
Yoongi menyentakkan tubuhnya semakin memojok pada dinding dan mencoba untuk melempar apa saja yang dapat diraih dengan kedua tangan mungilnya agar seseorang yang sedang di depannya berhenti untuk mendekatinya.
"Tidak! Hiks… Kau bukan Jimin. Hiks… pergi hiks…"
Sungguh Jimin tidak pernah mengalami dan mengerti akan situasi seperti ini. Jimin juga bingung apa yang harus dilakukannya untuk menenangkan keadaan Yoongi yang histeris seperi sekarang. Jujur saja Jimin baru pertama kali melihat dan mengalami peristiwa seperti ini, kalau Seokjin jangan ditanya pasti dia sudah berpuluh kali bahkan beratus kali mengalami peristiwa seperti ini. Walaupun Jimin pernah beberapakali membaca buku milik Seokjin, tetapi tetap saja Jimin tidak tau harus berbuat seperti apa dalam keadaan yang seperti sekarang.
Jimin masih berusaha menyakinkan Yoongi bahwa dirinya adalah Jimin, bukan seseorang yang akan menyakiti Yoongi. Jimin tidak meyerah untuk mendekat ke arah Yoongi sambil menghindari barang-barang yang dilemparkan ke arahnya.
Jimin pernah membaca buku dari Seokjin untuk mendekati seseorang yang sedang kacau, hal pertama yang harus dilakukannya adalah dengan membuat orang itu percaya padanya. Jimin harus hati-hati dengan kata-katanya, jika dirinya salah mengucapkan satu kata saja maka Yoongi akan semakin histeris. Jimin berbicara selembut mungkin agar Yoongi sedikit tenang dan percaya padanya.
"Yoongi, aku Jimin. Sekarang buka matamu, liatlah sendiri bahwa aku Jimin. Hm?" Ucap Jimin selembut mungkin. Dan usahanya sedikit membuahkan hasil, Yoongi sudah tak melemparinya dengan barang-barang yang dapat diraihnya dengan kedua tangan mungilnya.
"Aku Jimin, Park Jimin. Kau percaya padaku kan? Aku tak akan menyakitimu, sekarang buka matamu." Pinta Jimin penuh kelembutan. Jimin mencoba meraih pergelangan tangan Yoongi lalu mengusapnya dengan lembut dan menenangkan.
Yoongi mulai sedikit tenang saat dirinya merasa mengenali suara lembut seseorang dan merasakan seseorang meraih tangannya. Membuka kedua matanya dan menemukan Jimin sedang berjongkok di depannya. Yoongi menatap Jimin sayu, tatapan penuh sirat keputusasaan dan permohonan.
Jimin melihat keadaan Yoongi yang sangat kacau dengan tatapan menyakitkan yang terpancar dari kedua matanya segera merengkuh tubuh ringkih Yoongi ke dalam dekapannya. Mencoba menengkan Yoongi dengan bisikan-bisikan halus saat merasakan tubuh ringkih yang berada di dekapannya kembali bergetar dengan tangisan.
"Ssttt, Yoongi tenanglah. Aku disini."
"Jimin, hiks mereka jahat, mereka hiks mereka…" Ucap Yoongi sesegukan.
Jimin mengusap pucuk kepala Yoongi dengan sayang. "Tenanglah Yoongi, mereka tidak akan menyentuhmu. Aku disini, aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu bahkan aku tak akan membiarkan satu orangpun menyentuhmu." Ucap Jimin yakin.
Jimin sedikit tertegun dengan ucapan yang dilontarkannya, yang Jimin tau bahwa ucapan itu keluar sendiri dari bibirnya tanpa Jimin pikirkan. Tidak ambil pusing dengan hal itu, karena baginya yang terpenting untuk saat ini adalah membuat Yoongi berhenti menangis. Jimin sebenarnya juga tidak mengetahui siapa mereka yang sejak diucapkan oleh Yoongi, mungkin besok dirinya akan menanyakan pada Yoongi saat keadaannya sudah lebih baik.
Yoongi mencengkram erat kaos bagian belakang yang di pakai oleh Jimin, menumpahkan semua rasa tertekan, ketakutannya, kesedihannya, kesepiannya yang selama ini dipendamnya.
Bolehkah sekali ini saja Yoongi membagi kesedihannya dengan orang lain?
Tak cukupkah selama satu tahun ini Yoongi menderita sendirian?
Tak bolehkah Yoongi merasa aman dalam hidupnya tanpa di bayangi oleh masa lalunya yang mengerikan?
Yoongi hanya ingin terlepas dari masa lalunya yang mengerikan.
Yoongi tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, namun sekarang yang Yoongi tahu bahwa berada di dekapan seseorang yang baru ditemuinya, seorang yang baru dikenalnya, seseorang pemuda bernama Park Jimin, Yoongi merasa aman.
Tidak bolehkah Yoongi berada didekapan Jimin sampai seterusnya?
Jimin mengangkat tubuh Yoongi untuk membawanya ke ranjang miliknya. Jimin tidak ingin Yoongi sakit jika terlalu lama berada di lantai pada jam seperti ini. Jimin terpaksa ikut berbaring karena Yoongi tak ingin melepaskan pelukannya, mengelus belakang kepala Yoongi guna membuat lebih tenang, tak lupa mengucapkan kalimat-kalimat untuk menenangkan Yoongi.
Yoongi mulai lebih tenang, tangisnya berangsur mereda walau terkadang masih terdengar suara isakan-isakan beberapa kali, nafasnya mulai berangsur teratur, dan Yoongi jatuh tertidur karena terlalu lama menangis.
Jimin memandangi wajah Yoongi yang tertidur di pelukannya, matanya yang membengkak, hidung mancungnya yang merah, dan sisa-sisa air mata yang membekas di pipinya. Menghilangkan bekas air mata yang berada di pipi Yoongi, Jimin merasakan betapa halus dan lembutnya kulit milik Yoongi.
Jimin berfikir jika Yoongi terlalu rupawan untuk merasakan sakit, dan sesaat Jimin berjanji pada dirinya sendiri akan membuat Yoongi untuk tidak merasakan sesuatu yang menyakitkan dalam hidupnya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu Min Yoongi?" Ucap Jimin lirih. Yoongi tidak mendengar ucapannya karena telah berada di alam mimipinya.
Setelah puas memandangi wajah manis Yoongi, Jimin memilih menyusul Yoongi ke alam mimpi.
.
.
.
.
.
Jimin terbangun karena merasakan sesuatu menindih lengannya, perlahan membuka matanya dan membiasakan diri dengan cahaya pagi yang menyilaukan. Setelah cukup lama membiasakan dengan cahaya, Jimin merasakan lengannya semakin kebas dan menemukan pemuda surai hitam yang meringkuk ke arahnya.
Jimin mengingat-ingat kembali kejadian sebelum ini, setelah mengingatnya Jimin mengangkat lengannya sepelan mungkin agar tidak membangunkan Yoongi yang masih terbuai di alam mimpi.
Jimin berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap menuju kampus. Tetapi sebelum itu Jimin membereskan kekaucauan kamarnya akibat peristiwa—pelemparan barang-barang miliknya oleh Yoongi- Jimin sedikit meringis melihat kamarnya yang berantakan, tak menyangka bahwa aksi 'mari melempar barang' yang dilakukan oleh Yoongi akan menjadi seperti ini.
Setelah selesai membereskan kamarnya, Jimin menuju dapur untuk membuatkan Yoongi dan dirinya sarapan. Tidak mungkin Jimin membiarkan tamunya kelaparan, walaupun Jimin hanya dapat membuat roti panggang, omelet, dan secangkir kopi tapi setidaknya itu cukup untuk mengganjal perut mereka.
Jimin meletakan hasil membuat sarapannya pada meja makan, setelah dirasa cukup Jimin kembali ke kamarnya mencoba untuk membangunkan Yoongi karena dirinya juga harus segera bergegas menuju kampus.
Jimin membuka perlahan pintu kamarnya dan menemukan Yoongi masih meringkuk seperti bayi di dalam selimutnya, sedikit terkekeh melihat betapa lucunya posisi tidur Yoongi. Jimin berjalan menuju ranjang dan mencoba untuk membangunkan Yoongi yang masih terlelap dalam mimpinya.
"Yoon, bangun. Sudah pagi, kau harus segera mengisi perutmu."
"Engghh…" Lenguh Yoongi saat mendengar seseorang memanggil namanya.
Yoongi perlahan membuka matanya. Saat matanya perlahan terbuka, sempat terkejut karena menemukan dirinya yang tidak berada di apartemennya dan menemukan seseorang yang telah menolongnya dari pria tua yang mabuk. Yoongi secara reflek menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut milik Jimin.
Jimin tertawa melihat tingkah lucu Yoongi dan wajah paniknya. "Selamat pagi, Yoongi. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" Tanya Jimin.
Yoongi tak menjawab melainkan hanya menenggelamkan wajahnya yang memerah ke dalam selimut tebal yang kini hampir membungkus seluruh tubuhnya.
Jimin hanya tertawa kecil melihat tingkah Yoongi. Bagaimana tidak tertawa jika pemandangan di depannya menampilkan Yoongi yang terbungkus selimut tebal dan hanya menyisakan setengah wajahnya saja, yang terlihat hanya dari pucuk kepalanya sampai setengah hidungnya. Sungguh pemandangan pagi yang sangat menyenangkan.
"Kau cuci mukalah dulu, aku akan menunggu di ruang makan." Setelah mendapatkan jawaban berupa anggukan kepala oleh Yoongi, Jimin keluar dari kamarnya.
Yoongi melangkah dengan ragu menuju ruang makan, saat tiba disana dirinya menemukan Jimin sedang menikmati roti panggang dan omelet yang di buat oleh Jimin sendiri.
Jimin yang melihat Yoongi berjalan menuju kearahanya, menghentikan acara mengunyah sarapannya dan meminta Yoongi untuk duduk di depannya agar Yoongi dapat memakan sarapan yang telah disiapkan oleh Jimin.
Acara sarapan mereka dalam suasana hening, tak satupun dari mereka yang berbicara, Yoongi yang masih takut terhadap Jimin dan Jimin yang tak tahu harus memulai pembicaran seperti apa yang membuat suasana begitu canggung.
Suasana itu tetap hening sampai Jimin bangun dari duduknya dan membereskan peralatan makan, lalu Yoongi menyusul beberapa menit kemudian. Karena merasa sang pemilik apartemen akan pergi maka Yoongi berpamitan untuk pulang ke apartemennya.
"Umm, Ji-jimin-ssi, aku ha-harus pulang." Cicit Yoongi.
"Kau sudah merasa lebih baik? Kau boleh berada disini terlebih dahulu sampai kau merasa lebih baik, tetapi maaf aku tidak dapat menemanimu karena aku harus pergi ke kampus. Lagipula apartemen kita bersebelahan." Jawab Jimin menenangkan.
Yoongi menggeleng pelan. "A-aku sudah me-merasa lebih ba-baik. Lebih ba-baik aku pu-pulang saja."
"Baiklah, aku juga sekalian akan berangkat ke kampus, kita keluar bersama."
Jimin mengambil tas ransel dan jaket miliknya yang berada di kamarnya dan segera menghampiri Yoongi yang masih berdiri diam di ruang tamu. Mereka berjalan beriringan, walaupun Yoongi masih menjaga jarak dari Jimin.
Jimin mengantar Yoongi sampai depan pintu apartemen dan dirinya berpamitan menuju kampus. Tetapi saat dirinya ingin melangkah pergi, Jimin merasakan sebuah tarikan pelan pada jaket yang di kenakannya, memutuskan berbalik menghadap Yoongi—pelaku penarikan jaket- dan melayangkan tanya pada Yoongi memalui tatapan matanya.
"Te-terimakasih." Ucap Yoongi pelan masih dengan menunduk.
Jimin menjawab ucapan terimakasih Yoongi dengan senyum lebar sampai membuat kedua bola matanya tak terlihat. Jimin mengusap pelan kepala Yoongi dan berucap "Sama-sama." Mendengar jawaban Jimin, Yoongi mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk. Sedikit mendongak untuk dapat melihat wajah yang menolongnya, sejak Jimin menolongnya Yoongi tidak benar-benar memperhatikan wajah rupanan milik Jimin karena rasa takutnya yang lebih mendominasi.
Setelah lama saling beradu pandang, Jimin berjalan perlahan meninggalkan Yoongi karena harus bergegas pergi ke kampus. Saat bertatap pandang dengan Yoongi, Jimin terpesona pada kedua bola mata indah milik Yoongi. Jimin baru menyadari bahwa kedua mata Yoongi sangat indah, bola matanya yang berwana coklat menambah kadar keindahan dari kedua matanya.
Saat berbalik pergi Jimin melewatkan sesuatu. Jimin tidak melihat Yoongi tersenyum kecil padanya. Mungkin jika Jimin melihat senyuman seorang Min Yoongi, dirinya akan langsung terjatuh lebih dalam terhadap pesona seorang Min Yoongi.
Yoongi yang melihat Jimin berjalan pergi tersenyum kecil. Ya, tersenyum untuk pertama kalinya setelah peristiwa satu tahun lalu menimpanya. Karena sejak peristiwa itu terjadi, Yoongi tidak pernah tersenyum, kecuali saat bersama Ajhumma pemilik kedai.
Selebihnya Yoongi tidak pernah tersenyum pada siapapun. Entahlah, melihat Jimin tersenyum secara reflek dirinya juga tersenyum. Yoongi tak tahu sihir apa yang digunakan Jimin sampai membuatnya kembali tersenyum.
.
.
.
.
.
Jimin berjalan menuju kelas, sesampainya di kelas dirinya menghampiri Taehyung yang sudah sampai di kelas terlebih dahulu. Sebenarnya saat berjalan menuju kelas Jimin memikirkan apa yang membuat Yoongi sampai seperti semalam. Memikirkan beberapa kemungkinan yang membuat Yoongi seperti itu. Tapi yang melintas di kepalanya hanya perkiraannya saja, Jimin bukan ahli dalam bidang itu.
"Tae?" Panggil Jimin saat tiba di samping Taehyung.
"Eh, Jim. Ada apa?" Tanya Taehyung.
"Kau pernah bermimpi buruk tidak Tae?"
Taehyung mengernyit setelah mendengar pertanyaan sang sahabat, memandang Jimin penuh tanya.
"Jawab saja Kim, tidak usah memandangiku seperti itu." Ucap Jimin merasa risih saat ditatap aneh oleh Taehyung.
"Pernah, memangnya kenapa sih? Kau semalam bermimpi buruk?" Taehyung memutar matanya malas. Apa tidak ada topik lain yang lebih baik dibicarakan di pagi hari yang cerah seperti ini? Batin Taehyung.
Jimin mengabaikan tatapan Taehyung padanya dan kembali bertanya, "Kalau kau bermimpi buruk apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja meminum air putih agar aku lebih tenang. Kau ini kenapa sih Jim?" Taehyung kini merasa kesal, karena paginya yang indah dirusak oleh curhatan yang menurutnya sama sekali tidak penting.
Tanpa menjawab pertanyaan Taehyung, Jimin kembali bertanya "Apa kau akan berteriak ketakutan?"
"Tentu saja tidak. Yang paling menakutkan di dunia ini adalah my baby bunny meninggalkanku." Jawab Taehyung mendramatisir tanpa rasa bersalah.
Jimin melotot kesal pada Taehyung, "Aku serius Kim." Ucap Jimin tajam.
"Kau pikir aku sedang bercanda?" Jawab Taehyung dengan tampang dibuat seserius mungkin.
"Ahh, lupakan! Percuma aku bertanya padamu." Garis-garis kekesalan mulai muncul di keningnya. Seharusnya Jimin sadar, curhat pada seorang Kim Taehyung itu tidak akan memberikan solusi sama sekali.
"Kau ini kenapa sih Jim?"
"Aku? Aku tak apa, lupakan saja perkataanku sebelumnya." Ucap Jimin senewen. Oh sepertinya moodnya di pagi hari ini sedang tidak bagus.
"Oh aku tau, kau sih terlalu banyak menonton film horor jadinya terbawa sampai mimpi. Sudah tau penakut tapi masih saja nekat menonton film horor." Ledek Taehyung. Mendengar perkataan Tahyung, Jimin melemparkan buku yang berada di laci mejanya disertai umpatan-umpatan yang keluar dari kedua bibirnya.
Tetapi tentu saja Taehyung tidak melupakan perkataan Jimin tentang mimpi buruk yang dialami oleh sahabatnya itu. Taehyung tetap merecoki pertanyaan yang sama pada Jimin, namun Jimin hanya mendiamkannya dan menganggapnya pertanyaannya sebagai angin lalu. Sampai akhirnya Taehyung menyerah bertanya, bertepatan dengan dosen yang mengajar mata kuliah memasuki kelas.
.
.
.
Kelas Jimin telah berakhir. Jimin berencana untuk bertemu dengan Seokjin dan menanyakan beberapa hal yang terjadi pada Yoongi, karena menurutnya Seokjin adalah ahli dalam bidang yang akan Jimin tanyakan dan saat ini hanya Seokjin yang dapat membantunya.
Jimin
14.20
Hyung, sedang sibuk tidak?
Seokjin Hyung
14.30
Aku baru saja memeriksa pasien
Ada apa?
Jimin
14.32
Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu.
Seokjin Hyung
14.35
Memangnya lewat pesan tidak bisa?
Jimin
14.37
Tidak hyung.
Aku harus menanyakan ini secara langsung.
Seokjin Hyung
14.40
Kalau begitu kau kemari saja.
Tanyakan pada suster dimana ruanganku.
Hati-hati di jalan.
Jimin
14.41
Oke hyung.
Jimin menutup aplikasi pesan di ponselnya lalu bergegas menuju rumah sakit tempat hyungnya bekerja.
Sesampainya di rumah sakit, Jimin bertanya pada suster yang bertugas dan dengan senang hati diantar oleh suster menuju ruangan Seokjin.
"Hyung?" Panggil Jimin saat membuka pintu ruangan Seokjin.
Seokjin mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya, lalu tersenyum ketika mendapati adiknya yang datang. "Oh, kau sudah sampai Jimin-ah? Duduklah."
Jimin duduk di kursi depan meja kerja Seokjin dan membiarkan suster yang mengantarkan Jimin berpamit untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Jadi ada apa?" Tanya Seokjin langsung pada intinya.
"Aku ingin bertanya Hyung, jika seseorang bermimpi buruk hal itu wajar bukan?"
"Mimpi buruk masih dikategorikan wajar jika itu hanya terjadi sekali dua kali Jimin-ah. Tetapi jika seseorang berlarut-larut mengalami mimpi buruk maka itu dikategorikan tidak wajar. Kenapa? Kau semalam mimpi buruk?"
Jimin diam mencermati penjelasan dari Seokjin, memjawab dengan singkat pertanyaan dari Seokjin, "Bukan aku hyung."
Seokjin mulai menautkan kedua alisnya mendengar jawaban dari Jimin. "Lalu siapa?" Tanya Seokjin kembali.
Bukannya menjawab pertanyaan Seokjin, Jimin justru kembali bertanya, "Hyung, jika kita mengalami nightmare apakah kita akan berteriak histeris? Bahkan sampai ketakutan?"
"Jimin-ah, sebenarnya siapa yang kau maksud? Terjadi sesuatu padamu? Jangan membuatku khawatir bodoh!" Ucap Seokjin sedikit khawatir.
Jimin menggeleng keras. "Tidak hyung, bukan aku. Hanya seseorang yang baru aku kenal."
"Astaga Jimin! Demi seseorang yang baru kau kenal kau sampai datang kesini?" Seokjin memandangnya Jimin tidak percaya. Bisa-bisa adiknya yang bodoh itu sempat membuatnya khawatir.
"Bukan begitu hyung, hanya saja…"
"Hanya saja apa? Jelaskan padaku?!" seru Seokjin gemas karna ucapan Jimin yang berputar-putar, kenapa tidak langsung pada intinya saja sih kan Seokjin menjadi penasaran.
Adiknya yang terkenal dingin dating menemuinya hanya untuk seseorang yang baru dikenalnya?
"Pencapaian yang bagus." Batin Seokjin.
Jimin menghela nafas panjang, karena tidak ada jalan lain untuk meminta bantuan dari orang lain maka Jimin menceritakannya dari awal.
Jimin pun menceritakan dari awal sampai akhir pertemuannya dengan Yoongi. Dari peristiwa yang terjadi di lift, saat Jimin menolongnya dari pria tua yang mabuk, hingga Jimin menemukan Yoongi meringkuk ketakutan di dinding kamarnya. Sungguh saat Jimin menceritakan semua itu pada Seokjin dirinya terbayang wajah ketakutan seorang Min Yoongi yang membuat dadanya menjadi sesak.
Seokjin mendengarkan secara saksama penjelasan dari Jimin. Setelah mendengarkan semua penjelasan dari Jimin, Seokin menyimpulkan ada yang tidak beres pada seseorang yang diceritakan oleh Jimin.
"Jimin, aku tidak bisa menyimpulkan secara akurat. Tapi kau harus membawanya kesini agar aku tau apa yang terjadi pada Yoongi." Jawab Seokjin setalah beberapa saat terdiam.
"Tapi hyung, aku bahkan baru berkenalan dengannya. Jika aku langsung mengajaknya kesini dia akan mengira aku menganggapnya orang gila." Ucap Jimin sedikit frustasi, mengacak rambutnya untuk melampiaskan rasa frustasinya.
"Jimin, dengarkan aku. Tidak semua yang datang pada kami dianggap gila. Tetapi jika mereka memang memiliki sesuatu yang tidak beres pada dirinya sendiri sebaiknya mereka datang pada kami agar kami bisa menolongnya, agar mereka tidak menyakiti dirinya sendiri dan juga orang-orang disekelilingnya terutama orang yang mereka sayangi. Dan sesuatu yang tidak beres yang ada pada diri mereka pun tidak semua menjurus ke dalam hal kegilaan Jimin-ah, mereka hanya 'berbeda'…, ya 'berbeda'. Kau harus meyakinkan Yoongi dan segera membawanya padaku jika kau tidak mau Yoongi berbuat sesuatu yang membahayakan keselamatannya." Ucap Seokjin panjang lebar.
"Tapi hyung bagaimana caranya?!" Ucap Jimin semakin frustasi mendengar penjelasan Seokjin. Memandang kakaknya putus asa meminta pertolongan.
"Kau harus membuatnya percaya padamu. Lakukan pendekatan secara perlahan. Ingat Jimin, perlahan! Jika tidak maka Yoongi akan menjauhimu karena dan semakin takut padamu. Aku menyimpulkan pernah terjadi sesuatu dengan masa lalunya. Dari penjelasanmu tadi, kau merasa Yoongi selalu ketakutan jika dia bersama orang asing kan?"
"Baiklah hyung, aku akan mencobanya. Dan, ya, Yoongi selalu ketakutan jika seseorang mencoba mendekatinya, bahkan sampai berteriak padaku saat aku ingin menolong. Yoongi juga selalu berucap mereka mereka dan mereka, kan aku menjadi bingung hyung. Masalahnya aku tidak tau siapa mereka yang dimaksud Yoongi."
"Tunggu sebentar! Mereka?" Sela Seokjin.
"Iya mereka. Memangnya kenapa?"
Seokjin diam beberapa saat, memikirkan beberapa kemungkinan yang pernah dialami oleh Yoongi. Setelah beberapa lama Seokjin tersentak karena pemikirannya.
"Jimin, kau harus segera membawanya padaku." Ucap Seokjin serius.
"Hyung ada apa? Jangan membuatku khawatir."
"Aku berpikir memang memang pernah terjadi sesuatu padanya, tapi masalahnya yang membuatnya menjadi seperti ini pelakunya lebih dari satu orang. Karena dari penjelasanmu Yoongi selalu berucap mereka bukan? Dari situ aku menyimpulkan memang pelakunya lebih dari satu orang, maka kau harus segera membawanya kepadaku agar aku dapat menolongnya. Jika Yoongi tak nyaman dengan suasana rumah sakit kau bisa membawanya ke apartemenku atau aku saja yang datang ke apartemenmu lagipula apartemen kalian bersebelahan, itu akan mempermudah untuk kita untuk menolongnya." Jawab Seokjin panjang lebar.
Jimin memandang Seokjin sedikit was-was, apakah sampai separah itu? Tapi Jimin yakin bahwa Seokjin dapat menolong Yoongi, lagipula Jimin sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga Yoongi. Rasa khawatirnya pada Yoongi sedikit berkurang saat pemikiran itu melintas di otaknya.
"Satu hal lagi Jim."
"Apa hyung?"
"Jika kau menemukan sesuatu segera hubungi aku. Aku siap 24 jam untukmu. Sepertinya kau juga mempunyai perasaan pada Yoongi sampai kau datang kemari secara langsung. Iya kan? Jujur saja padaku." Nada penuh godaan itu meluncur dari mulut Seokjin yang sukses membuat Jimin bergerak tak nyaman dan jangan lupakan wajah Jimin yang memerah.
"Tidak hyung tidak, b-bukan begitu. Aku, a-aku hanya kasihan padanya. Kau tidak melihat sendiri bagaimana tatapan matanya hyung, sangat kosong dan menyakitkan." Jimin meringis perih ketika teringat bagaimana wajah ketakutan Yoongi yang kembali mengisi otaknya.
"Mungkin sekarang tidak Jim, tapi besok siapa yang tau? Aku sudah mengetahui dirimu luar dalam Jimin-ah, bahkan saat kau masih di rahim Eomma pun aku sudah mengenalmu terlebih dahulu." Ucap Seokjin jahil memainkan kedua alisnya.
Jimin merengut dan menatap jengkel pada Seokjin. "Hyung, jangan menggodaku!"
Seokjin hanya tertawa mendengar jawaban Jimin, kapan lagi sih dirinya dapat menggoda adiknya? Baginya melihat wajah Jimin yang merajuk adalah sesuatu yang lucu. Walaupun wajahnya tidak ada pantasnya menunjukan wajah merajuk.
"Tapi Jimin," Ucap Seokjin tiba-tiba serius.
"Tapi apa hyung?"
"Jika memang kau mempunyai perasaan padanya, kita harus menyembuhkannya terlebih dahulu baru kau bisa menjalin hubungan dengannya. Kau tak mau kan kalau Yoongi terus dihantui oleh bayangan masa lalunya?"
"Hyung! Sudah ku katakan aku tidak mempunyai perasaan padanya." Jimin melotot pada Seokjin yang menatapnya kelewat serius.
Seokjin menjawab perkataan Jimin dengan mengangkat bahunya acuh, hal itu membuat Jimin semakin kesal. Kenapa Seokjin senang sekali menggodanya sih, ide jahil munlintas pada otaknya, lihat saja Jimin akan membalas Seokjin dengan merusak koleksi Mario boys yang berada di kamarnya.
"Ah sudahlah! Selamat tinggal Hyung."
Jimin beranjak dari duduknya dan pergi dari ruangan Seokjin dengan sedikit membanting pintu ruangan Seokjin karena masih merasa kesal. Membuat Seokjin yang melihat Jimin merajuk hanya tertawa keras.
Setelah Jimin sudah keluar dari ruangannya, Seokjin segera beranjak dari duduknya mencari buku yang berisi tentang apa yang ada di dalam pikirannya tentang Yoongi di rak buku yang berada di ruangannya. Setelah beberapa saat mencari akhirnya Seokjin menemukannya dan membaca ulang buku itu, memahami setiap kata yang dibacanya.
Seokjin hanya memastikan bahwa dugaan yang melintas di otaknya akurat. Seokjin membaca buku itu dengan saksama, setelah selesai membaca buku itu Seokjin menutup buku yang sejak dibacanya dan memandang kosong dinding di ruangannya.
.
.
.
-TBC-
.
.
.
Hallo saya kembali hehehehe.
Maafkan jika saya updatenya terlalu lama. Sebenarnya chap ini ingin di up waktu Jimin birthday kemarin tapi karena kesibukan yang memaksa saya untuk menunda update chap ini. Sekali lagi maafkan saya
Masih adakah yang menunggu kelanjutan ff ini? Menurut kalian chap ini bagaimana? Membosankan? Aneh? Alurnya kecepetan apa terlalu lambat? Maaf jika membosankan, aneh, dan alur yang tidak sesuai
Terima kasih juga yang sudah memyempatkan waktu untuk membaca, menfollow, menfavorite, dan mereview cerita saya. Dan review kalian adalah pacuan saya untuk menjadi lebih baik. Gumawo :*
Oh iya saya ingin menjelaskan sedikit tentang mimpi.
Jadi dalam dunia Psikologi mimpi menjadi 2:
Latent content: ini berisi tentang motif, harapan, dan ketakutan yang tidak disadari atau tersembunyi.
Motif, dapat berupa apa yang kita pikirkan atau apa yang akan kita lakukan esok hari.
Harapan, dapat berupa harapan-harapan kita yang belum tercapai.
Ketakutan, dapat berupa trauma akibat suatu peristawa (trauma masa lalu, kecelakaan, phobia, dll).
Manifest content: isi berisi tentang isi yang muncul dalam mimpi (mimpi yang terjadi dalam tidur kita).
PS: Mimpi yang dimaksud di atas lebih menjurus ke analisis mimpi yang dilakukan oleh psikiater.
Tapi memang pada dasarnya orang yang datang pada Psikiater/Psikolog tidak semuanya menjurus pada kegilaan tetaapi dapat juga masalah-masalah yang ringan.
Sudah cukup cuap-cuapnya.
So, review please?
27.10.2017
-Romana-
