Jimin sejak tadi berdiri di depan pintu apartemen Yoongi, dirinya ingin mengetuk pintu apartemen milik Yoongi tetapi diurungkannya. Jimin tidak tahu harus berbuat apa untuk mendekati Yoongi secara perlahan seperti perkataan Hyungnya.
Jimin berdiam di depan pintu apartemen Yoongi cukup lama, berdiam diri seperti orang bodoh. Sebernarnya Jimin sedang memikirkan berbagai cara agar dapat mendekati Yoongi. Jimin memikirkan cara yang paling perlahan agar Yoongi tidak takut padanya, tidak mungkin kan dirinya langsung menyeret Yoongi ke tempat praktek Seokjin? Tidak lucu kalau orang-orang berfikir jika Jimin akan menculik Yoongi. Karena terlalu sibuk berdiri di depan pintu apartemen Yoongi, Jimin tak menyadari bahwa sang pemilik apartemen sedang berjalan menuju arahnya.
"Jimin-shi?"
"E-ehh Yoongi?"
"Jimin-shi se-sedang apa berdiri di de-depan pintu a-spartemenku?"
"Itu—anu…"
Yoongi menyirit heran melihat Jimin yang kebingungan menjawab pertanyaannya, tetapi Yoongi hanya diam tanpa berniat berbicara lagi. Yoongi sehabis pulang kedai tempat berkerja, saat berjalan menuju apartemennya Yoongi melihat seseorang yang tak asing untuknya. Yoongi seperti mengenal perpawakan dari pria itu, Yoongi berjalan secara perlahan dan memastikan jika pria yang berdiri di depan pintu apartemennya adalah seseorang yang dikenal. Saat sudah cukup dekat Yoongi menghela nafas lega saat mengetahui siapa pria yang berdiri di depan pintu apartemennya.
"A-aku, aku ingin mengajakmu makan bersama. Ya makan bersama." Jawab Jimin cepat.
Yoongi semakin menyirit heran mendengar perkataan Jimin.
"Ma-makan bersama?"
Jujur saja Yoongi masih sedikit takut jika berdekatan dengan Jimin, tetapi Yoongi mengingat bahwa Jimin telah menolongnya dari pria mabuk maka Yoongi berusaha mengenyahkan rasa takutnya.
"Ya makan bersama. Kau mau kan?"
"A-aku…"
Bahkan Yoongi belum sempat membalas perkataan Jimin, Jimin sudah membuka mulutnya kembali, "Jangan menolakku, aku tak suka penolakan."
"A-ahh baiklah. Ta-tapi kita makan di a-apartemenku saja ba-bagaimana? A-aku tidak terbiasa ma-makan di luar."
"Tentu saja aku mau, kau yang memasak kan?" Jawab Jimin antusias.
Dasar Park Jimin tidak tau diri, sudah mengajak Yoongi makan bersama tetapi Yoongi sendiri yang memasak.
"N-ne."
Yoongi memasukan sandi apartemennya. Setelah terdengar bunyi 'klik' Yoongi segera mendorong pintu apartemennya dan mempersilahkan Jimin untuk masuk.
Yoongi menyuruh Jimin menunggu di ruang tamu sedangkan dirinya mulai memasak di dapur. Jimin melihat penjuru apartemen milik Yoongi dengan kedua mata tajamnya. Tidak ada yang aneh dengan apartemen milik Yoongi, apartemen milik Yoongi tidak jauh berbeda dengan apartemen miliknya. Hanya saja suasanya apartemen milik Yoongi terlihat kosong dan suram. Kosong dalam artian bukan tidak ada barang yang memenuhi ruang apartemennya, tetapi kosong dalam arti seperti seseorang yang kesepian.
Jimin masih menyelusuri apartemen milik Yoongi, Jimin baru menyadari bahwa tidak ada satu pun foto yang terpasang di dinding apartemen milik Yoongi. Setahu Jimin, biasanya orang-orang akan memajang paling tidak beberapa foto di ruang tamu, tetapi kenapa tidak dengan Yoongi? Jimin dibuat bingung dengan situasi seperti ini.
Setelah dirasa cukup menyelusuri ruang tamu milik Yoongi, Jimin berinisiatif untuk menyusul Yoongi di dapur dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Yoongi. Saat sampai di dapur Jimin melihat Yoongi yang sedang memasukan beberapa bumbu dan adonan ke dalam masakannya. Posisi Yoongi yang membelakangi Jimin membuat Jimin leluasa untuk memandangi Yoongi dengan bebas, Jimin melihat punggung Yoongi, entah kenapa punggung itu terasa rapuh untuknya. Punggung milik Yoongi seolah berkata jika membutuhkan seseorang yang memeluknya dan melindunginya dari dunia luar. Jimin menjadi mempunyai keinginan untuk merengkuh tubuh mungil milik Yoongi ke dalam dekapannya dan akan melindungi Yoongi apapun yang terjadi.
Jimin menghela nafas pelan saat pemikiran itu melintas di otaknya. Ayolah Jimin membutuhkan petunjuk agar dapat menolong Yoongi seperti perkataan Seokjin, tetapi sejak tadi Jimin tak menemukan petunjuk apapun kecuali ruang tamu yang terlihat kosong.
Jimin masih diam mengamati kegiatan yang dilakukan Yoongi, dapat Jimin lihat masakan yang dibuat oleh Yoongi hampir selesai. Jimin juga dapat mencium aroma lezat dari masakan buatan Yoongi, Jimin jadi tidak sabar ingin mencicipi masakan buatan Yoongi.
Jimin tertawa pelan saat melihat ekspresi Yoongi yang sedikit terkejut saat membalikan badannya. Mungkin karena Yoongi terlalu keasikan memasak sehingga tak menyadari bahwa sejak tadi Jimin berdiri di belakangnya.
"Sudah selesai?" Tanya Jimin.
"Se-sebentar lagi. Jimin-shi bisa du-duduk terlebih dahulu di me-meja makan."
Tanpa banyak kata Jimin berjalan menuju meja makan dan menunggu Yoongi beserta makanan yang dibuat oleh Yoongi. Tadi saat Jimin mencium aroma masakan milik Yoongi cacing-cacing di perutnya sudah berdemo untuk meminta makan.
Yoongi telah selesai menata masakannya di meja makan, dirinya melirik Jimin yang sejak tadi hanya diam memandangi masakannya tanpa ada niat untuk memakannya. Sehingga Yoongi berinisiatif untuk mengambilkan makanan untuk Jimin, Yoongi mengambil nasi dan lauk yang dimasaknya dan meletakannya di hadapan Jimin. Yoongi sedikit memasak lebih banyak karena dirinya makan bersama orang lain maka otomatis porsinya bertambah, juga Yoongi memasak lebih banyak untuk mengucapkan rasa terima kasihnya untuk Jimin karena kemarin malam Jimin telah menolongnya dari pria mabuk.
"Si-silahkan dimakan Ji-jimin-shi. Ma-maaf jika aku hanya da-dapat membuat ini."
"A-ah tidak apa-apa kok, ini sudah lebih dari cukup."
Jimin mulai memakan makanan yang disiapkan Yoongi untuknya, saat merasakan suapan pertama Jimin langsung dengan lahap memakan makanan buatan Yoongi.
"Ini enak sekali, sungguh." Puji Jimin dengan mulut yang dipenuhi makanan.
Yoongi yang mendengar pujian dari Jimin hanya dapat menunduk malu. Yoongi tidak pernah mendapat pujian dari seseorang setelah keluarganya meninggalkannya, dan saat Yoongi menerima pujian dari Jimin membuat pipinya merona. Yoongi hanya dapat menyembunyikan rona malunya dengan menunduk dalam, berusaha menutupi pipinya yang memerah.
Jimin yang melihat Yoongi tersipu malu tertawa pelan, sungguh saat ini Yoongi sangat menggemaskan jika tersipu malu seperti itu. Jimin melanjutkan kegianan makannya yang tadi sempat tertunda, sungguh saat ini Jimin makan dengan lahap seperti orang yang tidak diberi makan selama satu minggu.
"Tidak usah malu, masakanmu memang enak. Kau juga makan, jangan hanya aku yang makan."
Dasar Jimin memang tidak punya urat malu, menumpang makan tetapi bertindak seolah saat ini sedang berada di apartemen miliknya dan masakan yang dimakannya adalah buatannya sendiri.
"Ne. Jimin-shi ma-makannya pe-pelan-pelan saja na-nanti tersedak."
Jimin membalas perkataan Yoongi dengan menampilkan cengiran bodohnya, cengiran yang menghilangkan kedua bola matanya dan membentuk satu garis tipis, tak lupa dengan pipi yang mengembung lucu karena banyaknya makanan yang berada di mulutnya.
Setelah selesai makan malam, mereka berpindah ke ruang tamu agar lebih nyaman. Jimin sudah bertekat jika dirinya akan mengorek informasi dari Yoongi, sehingga saat ini otak Jimin sedang bekerja untuk menyusun pertanyaan.
"Mm Yoongi, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Jimin.
Yoongi terdiam cukup lama saat mendengar ucapan Jimin.
Melihat Yoongi yang terdiam, Jimin beranggap sebagai jawaban tidak. "Jika tidak boleh tidak apa-apa kok." Ucap Jimin mencoba tersenyum. Walaupun sebuah senyuman sedikit terpaksa.
"Bo-boleh."
"Benar boleh?" Tanya Jimin memastikan.
"I-iya. Jimin-shi ma-mau bertanya a-apa?"
"Sepertinya kau lebih tua dariku?"
"A-aku kelahiran ta-tahun se-sembilan puluh ti-tiga."
"Berati kau lebih tua dariku. Mulai sekarang aku akan memanggilmu hyung. Bolehkan?"
"I-iya boleh. Me-memangnya Jimin-shi ke-kelahiran tahun be-berapa?"
"Aku sembilan puluh lima hyung."
Mendengar jawaban Jimin, Yoongi hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya berkali-kali sambil membuat mulut seperti huruf O tanpa suara tanda mengerti yang membuat Jimin menjadi gemas dengan tingkah lucu Yoongi.
Jimin terus bertanya mengenai hal-hal yang ringan seperti apa makanan kesukaan Yoongi, warna kesukaannya, kegiatan sehari-harinya, hobinya, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya tidak menyudutkan Yoongi agar tidak membuat Yoongi menjadi takut kepadanya.
Yoongi menganggap Jimin adalah orang baik sehingga Yoongi menjawab semua pertanyaan Jimin dengan senang hati. Ini pertama kalinya Yoongi berbicara panjang lebar dengan orang lain selain Ahjumma pemilik kedai tempat Yoongi bekerja. Ini juga pertama kalinya Yoongi merasa nyaman dan aman dengan orang lain.
Yoongi menyukai bagaimana cara Jimin berbicara lembut padanya sehingga tidak membuat Yoongi menjadi takut berdekatan dengan Jimin, walaupun Yoongi masih menjaga jarak yang baginya 'aman'. Yoongi juga menyukai senyuman milik Jimin yang menenggelamkan kedua mata Jimin dan membuat satu garis tipis saat Jimin tersenyum. Saat melihat Jimin tersenyum seperti itu Yoongi merasa 'hangat' tidak seperti dirinya yang 'dingin'.
Jimin seperti matahari untuknya.
Dan yang paling Yoongi sukai dari Jimin adalah dekapan milik pemuda yang memiliki senyuman bak bulan sabit itu. Dalam dekapan Jimin, Yoongi merasa aman, dalam dekapan Jimin, Yoongi merasa jika mereka tidak adan menemukannya. Dan Yoongi ingin terus berada dalam dekapan milik Jimin jika Tuhan mengizinkan.
"Hyung?"
"Yoongi hyung?"
"Oyy Yoongi hyung?" Ucap Jimin sedikit berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya di wajah Yoongi, karena tiba-tiba Yoongi mengabaikannya.
Yoongi tersentak saat melihat Jimin sudah berada di dekatnya sambil melambaikan tangannya di depan wajahnya. "Eh-ehh Jimin-shi a-ada apa?" Tanya Yoongi gelagapan.
"Hyung mrngacuhkanku." Ucap Jimin cemberut.
"Ma-maaf."
"Hyung memikirkan apa sih sampai mengacuhakanku begitu."
"Ti-tidak apa-apa."
Jimin tidak bertanya lagi, dirinya sibuk dengan kegiatannya memandangi wajah rupawan milik Yoongi. Dilihat dari jarak dekat seperti ini Yoongi terlihat sangat cantik, kedua bola mata coklatnya yang sangat mempesona membuat Jimin jatuh ke dalam posona milik Yoongi. Tetapi satu yang menganjal di hati dan benak Jimin, kedua bola mata indah itu Jimin dapat melihat jika mata itu menyimpan sebuah kesakitan dan ketakutan, dan bodohnya Jimin tidak mengetahui apa yang membuat Yoongi menjadi seperti itu.
Jimin terus memandang mata itu seperti ingin mencari jawaban yang bersarang di benaknya. Sehingga secara tak sadar Jimin terus memajukan wajahnya hingga berjarak lima senti meter dari wajah Yoongi.
Jimin mencari jawaban yang bersarang dibenaknya sambil memngagumi karya Tuhan yang sangat indah. Bagaimana wajah putih mulus tanpa cacat milik Yoongi, hidung mancung, bibir tipis berwarna seperti buah cherry yang minta dikecup dan dilumat. Jimin jadi ingin merasakan bagaimana rasa bibir Yoongi yang seperti buah cherry itu.
Yoongi semakin memundurkan badannya, tetapi apa daya dirinya terjebak diantara punggung sofa dan tubuh Jimin. Yoongi membawa tangannya di depannya untuk mencegah agar tubuh Jimin tidak semakin dekat padanya.
Jantung Yoongi berdegup kencang melihat Jimin dari jarak sedekat ini, Yoongi dapat melihat dengan jelas wajah tampan milik Jimin, rahang tegas, hidung mancung, bibir tebal yang menggoda, dan jangan lupakan sepasang mata tajam milik Jimin yang membuatnya terpesona dan jatuh dalam jurang pesona milik seorang Park Jimin.
Mereka berdua saling menggagumi karya Tuhan yang menurut mereka sangat indah.
"Ji-jim.."
"Ji-jimin.."
"Kau ter-terlalu de-dekat."
Acara saling terpesona mereka berdua terhenti akibat bunyi ponsel milik Jimin. Jimin baru menyadari jika dirinya berjarak sedekat ini dengan Yoongi. Menyadari kecerobohannya, Jimin dengan cepat menarik tubuhnya yang membuat Yoongi dapat bernafas karena Jimin sudah tidak sedekat tadi dengan dirinya.
Yoongi memegang dadanya yang masih berdegup kencang seperti ingin meledak, memukul pelan dadanya bertujuan untuk menenangkan degupan itu.
Jimin juga salah tingkah sendiri, tak jauh berbeda dengan keadaan Yoongi. Tetapi bedanya Jimin merasakan kencangnya degupan jantungnya.
"A-anu hyung, maafkan kelancanganku tadi."
"Huh? Ti-tidak apa-apa."
"Sekali lagi maafkan aku hyung."
"Ti-tidak apa."
Sebenarnya Yoongi menjawab pertanyaan Jimin dengan menundukan kepalanya tidak berani melihat Jimin, Yoongi takut terpesona untuk yang kedua kalinya. Sekalian menyembunyikan rona merah di pipinya, agar Jimin tidak dapat melihat kedua pipinya yang sedang bersemu.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya hyung."
"N-ne."
Jimin berjalan menuju pintu sedikit tergesa-gesa, bagaimanapun Jimin masih merasakan degupan di jantungnya itu yang membuat Jimin bertingkah seperti ini. Dan Yoongi mengantarkan Jimin sampai depan pintu dalam keadaan yang masih menundukan kepalanya. Sampai di depan pintu, Jimin berbalik menghadap Yoongi.
"A-aku pulang ya hyung."
Yoongi hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya.
"Langsung tidur ya hyung."
Yoongi menganggukan kepalanya lagi.
"Selamat malam hyung."
Yoongi menganggukan kepalanya lagi.
"Mimpi indah hyung."
Yoongi menganggukan kepalanya lagi
"Kau masuklah dulu hyung."
"Selamat malam Yoon."
Yoongi mendongak untuk menatap Jimin, menampilkan senyuman yang selama ini disembumyikannya. Jimin balas tersenyum dan mengusak pelan rambut Yoongi.
Yoongi berbalik untuk masuk kembali ke apartemennya, tak lupa untuk menutup dan mengunci pintu apartemennya.
Setelah Yoongi masuk ke dalam apartemennya, Jimin menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Jimin malu man, terpesona lagi dengan seorang Min Yoongi. Yoongi itu manis sekali sih, dan apa-apan senyum manisnya saat membalas ucapkan selamat malamnya, membuat Jimin menjadi lebih jatuh dalam pesona milik Yoongi.
Jimin rasa malam ini dirinya akan bermimpi indah jika mengingat senyuman manis milik Yoongi. Jimin memasuki apartemennya dengan perasaan bahagia, dirinya jadi ingin cepat-cepat tidur dan bermimpi indah tentang Yoongi. Sejak tadi senyumnya tak pernah luntur dari wajah tampan milik Jimin, bahkan saat dirinya menuju alam mimpi senyumannya masih terpasang apik di wajah tampannya.
Keadaan Yoongi tak jauh berbeda dengan keadaan Jimin, senyum indah milik Yoongi belum juga luntur dari wajah cantikya. Sampai dirinya menuju alam mimpipun, senyumannya tidak luntur dari wajah cantiknya.
Dan untuk kedua kalinya, Yoongi mimpi mengerikan itu tidak datang kepadanya. Untuk yang kedua kalinya Yoongi dapat tidur dengan nyenyak, untuk yang kedua kalinya Yoongi merasa dunia tidak membencinya, untuk kedua kalinya tidak merasakan sakit setelah kejadian mengerikan itu, untuk yang kedua kalinya Yoongi tidak merasakan takut.
Dan itu semua berkat pemuda tampan yang baru dikenalnya, pemuda tanpan bernama Park Jimin.
.
.
.
Yoongi terbangun akibat suara bel apertemen miliknya, melihat ke meja nakas untuk mengetahui jika sudah menunjukan pukul delapan pagi. Rupanya Yoongi tertidur cukup lama, masih membiaskan dengan keadaan sekitar Yoongi mencoba bangun dari tidurnya. Yoongi beranjak dari tempat tidurnya saat mendengar bel apartemennya berbunyi berulang-ulang. Melangkah pelan untuk membukakan pintu dengan keadaan yang masih setengah sadar, melupakan alarm bahaya dalam dirinya dan tanpa curiga sedikitpun dengan si pengunjung.
Yoongi membuka pintu apartemennya, terkejut pelan saat menemukan Jimin—sang tetangga apartemennya—berdiri dengan senyum lebar memakai pakaian rapi, dan tas ransel yang nemempel di punggungnya. Lenyap sudah rasa kantuk Yoongi.
"Ji-jimin-shi?"
"Pagi hyung."
"Pa-pagi juga Jimin-shi."
"Hyung boleh aku menumpang sarapan?" Ucap Jimin dengan wajah dibuat semelas mungkin.
"Aku ada kelas jam sepuluh, tetapi kulkasku sudah kosong aku lupa mengisinya lagi. Dan aku terlalu malas sarapan di luar. Boleh ya hyung? Ya? Ya? Ya?"
Padahal itu hanya akal-akalnya Jimin saja, Jimin kan habis berbelanja. Hanya saja Jimin ingin sarapan di tempat Yoongi, sekalian melakukan pendekatan.
Yoongi mengerjap pelan kedua mata indahnya saat melihat wajah Jimin yang dibuat melas itu, sangat tidak cocok dengan wajah tampannya.
"Ba-baiklah."
"Yash! Terimakasih hyung."
"Ma-masuklah dulu. A-aku akan membuatkanmu sa-sarapan setelah a-aku cuci mu-muka."
"Ne hyung."
Jimin masuk ke dalam apartemen milik Yoongi dan bergegas menuju meja makan untuk menunggu Yoongi, sedangkan Yoongi menuju kamarnya untuk membersihkan mukanya.
Setelah selesai mencuci mukanya, Yoongi bergegas menuju dapur untuk membuatkan Jimin sarapan. Yoongi memasak sederhana, tetapi cukup jika untuk mengganjal perut sampai siang nanti.
Jimin melihat Yoongi yang sedang memasak makasan untuknya dengan senyum lebar. Dalam benaknya sudah terlintas jika Jimin adalah suami yang sedang menunggu istrinya memasak dan Yoongi adalah istri yang sedang memasak untuk suaminya. Benar-benar keluarga bahagia.
Jimin tersentak dengan pikirannya,
Tunggu dulu, apa tadi?
Suami?
Istri?
Keluarga bahagia?
Sepertinya Jimin sudah mulai gila.
Jimin menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran absurdnya.
Yoongi selesai dengan masakannya dan meletakan semua masakannya di hadapan Jimin, "Si-silahkan dima-makan Jimin-shi."
"Terimakasih hyung. Yoongi hyung juga makan jangan hanya aku saja."
"Ahh n-ne."
Mereka memulai sarapannya dengan tenang, Jimin yang makan dengan lahap karena masakan Yoongi yang benar-benar enak dan Yoongi yang makan dengan perlahan tetapi tersenyum kecil melihat Jimin memakan masakannya dengan lahap.
Jimin melesaikan sarapannya dengan cepat, meminum air putih yang tadi disediakan oleh Yoongi dengan perlahan sampai habis.
"Terimakasih hyung, masakanmu sangat enak."
"Ter-terimakasih." Yoongi menjawab dengan rona merah di pipinya saat Jimin memuji masakannya.
"Oh iya hyung. Panggil aku Jimin saja, jangan terlalu formal padaku."
"A-ah ne."
"Sekarang coba hyung panggil aku Jimin saja."
"Ji-jimin." Cicit Yoongi
"Apa hyung? Aku tidak dengar."
"Ji-jimin." Jawab Yoongi lebih mengeraskan suaranya.
"Hyung, aku tidak dengar. Lebih keras lagi."
Sebenarnya Jimin sudah mendengar Yoongi, tetapi dirinya hanya ingin menggoda Yoongi saja. Baginya Yoongi terlihat sangat manis dengan rona merah di pipiya.
"Jimin."
Keduanya terdiam sesaat. Yoongi yang terdiam karena berhasil menyebut Jimin dengan lancar, dan Jimin yang terdiam karena Yoongi sudah tidak tergagap lagi saat berbicara padanya.
"Nah begitu dong hyung." Ucap Jimin mencoba mencairkan suasana yang sempat hening.
Yoongi hanya mengerjapkan kedua matanya dan menatap Jimin polos yang membuat Jimin menjerit dalam hati. Yoongi memang sangat manis.
"Hyung tidak bekerja?"
"Ah se-sebentar lagi a-aku bekerja."
Baru juga Jimin merasa senang karena Yoongi tidak berbicara tergagap padanya, tetapi saat ini Yoongi kembali berbicara tergagap.
Jimin mendesah pelan, mencoba menyembunyikan rasa kecewanya Jimin kembali berucap "Mau aku antar hyung?"
"Ti-tidak usah Jim."
"Tidak apa-apa hyung, toh kita searah sekalian saja. Dari pada hyung harus berjalan kaki."
Akhirnya dengan bujukan Jimin yang menyerempet paksaan Yoongi menerima tawaran Jimin untuk mengantarkan dirinya di tempat kerja.
Jimin menunggu Yoongi bersiap-siap di ruang tamu, tetapi sebuah ide muncul di benaknya. Jimin berjalan pelan menuju kamar Yoongi, melihat dan meneliti kamar Yoongi dengan cermat. Untung saja hanya ada dua kamar di apartemen ini sehingga Jimin tidak terlalu kesulitan untuk menemukan kamar milik Yoongi.
Jimin menyelusuri kamar itu, berharap Jimin mendapatkan sebuah petunjuk entah itu sekecil apapun. Mata tajam milik Jimin melihat sebuah foto di meja nakas samping tempat tidur, mengambil ponsel miliknya dan memfoto foto tersebut. Jimin juga membuka laci yang ada di nakas tersebut, dan Jimin menemukan sebuah obat yang diletakan disebuah tabung obat kecil, Jimin mengambil satu butir obat tersebut dan diletakannya sebutir obat yang diambilnya pada sapu tangan pemberian dari sang Ibu yang selalu dibawanya.
Sapu tangan yang khusus dibuatkan sang Ibu untuk Jimin, sapu tangan yang bertuliskan namanya. Dan tentu saja Seokjin juga mempunyai sapu tangan yang serupa, hanya berbeda tulisan nama dan warna.
Milik Jimin berwarna biru laut, sedangkan milik Seokjin berwarna pink.
Seokjin itu pecinta warna pink, seperti seorang perempuan saja dengus Jimin.
Jimin keluar kamar Yoongi dengan tergesa-gesa saat mendengar suara langkah kaki yang ingin keluar dari kamar mandi yang terletak di dalam kamar Yoongi. Jimin kembali menuju ruang tamu, mengeluarkan ponsel pintarnya untuk menghubungi Seokjin.
Jimin
09.05
"Hyung, aku menemukan sesuatu."
Seokjin Hyung
09.07
"Bagus, segera bawa padaku."
Jimin
09.09
"Ne. Sepulang kuliah aku akan ke tempatmu hyung."
Seokjin Hyung
09.11
Hati-hati Jimin-ah.
Setelah selesai menghubungi Seokjin, Jimin memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Tak lama setelah itu, Yoongi sudah siap untuk berangkat bersama.
"Sudah siap hyung?"
"N-ne."
"Kalau begitu ayo berangkat."
"N-ne."
Mereka berjalan beriringan menuju basemen tempat Jimin memarkirkan motornya. Jimin memberikan helm kepada Yoongi dan meminta Yoongi untuk berpegangan padanya. Dan Jimin segera membelah jalanan Seoul bersama Yoongi dengan kecepatan sedang. Sudah dibilang bukan jika Jimin tidak menyukai acara ngebut-ngebutan kecuali jika dirinya sedang tersedak atau terlambat?
Yoongi turun dari motor Jimin saat sampai di tempatnya bekerja. Melepaskan helm yang dipakainya dan memberikan helm itu pada Jimin sambil berkata, "Te-terimakasih Jimin". Jimin hanya membalas dengan tersenyum.
"Oh ya hyung, nanti pulang pukul berapa?"
"Me-memangnya kenapa?"
"Nanti aku jemput hyung."
"Ti-tidak usah, nanti me-merepotkan." Tolak Yoongi secara halus.
"Tidak merepotkan kok hyung. Sungguh."
"Ji-jimin ti-tidak usah."
"Tidak apa-apa hyung, dari pada nanti hyung diganggu pria mabuk lagi bagaimana? Memangnya hyung mau?" Desak Jimin, dan Yoongi dengan cepat langsung menggeleng.
"Makanya jawab hyung pulang pukul berapa nanti Jimin jemput."
"Pu-pukul delapan."
"Oke pukul delapan. Nanti tunggu Jimin datang ya hyung, jangan pergi sebelum Jimin datang."
Yoongi mengangguk dengan polos seperti anak umur lima tahun yang diberi nasehat oleh orangtuanya.
"Kalau begitu aku berangkat dulu hyung."
"Hati-hati di jalan Ji-jimin."
"Arraseo." Jawab Jimin sambil mengusak pelan rambut indah milik Yoongi.
Yoongi masih melihat Jimin saat pemuda tampan itu melaju menjauh, Yoongi terus melihat Jimin sampai Jimin menghilang dari pandangannya, setelah memastikan bahwa Jimin benar-benar menghilang dari pandangannya, barulah Yoongi masuk ke dalam kedai tempat Yoongi bekerja.
Yoongi bekerja dengan senyum tipis yang tak pernah luntur dari wajahnya, sampai-sampai Ahjumma pemilik kedai selalu menggodanya tentang pemuda tampan yang mengantar Yoongi bekerja hingga kedua pipi dan telingganya berwarna merah.
Ahjumma pemilik kedai berucap syukur dalam hati karena melihat Yoongi kembali tersenyum seperti sekarang, berucap terimakasih pada pemuda yang sudah membuat Yoongi kembali tersenyum.
Tersenyum tanpa beban.
.
.
.
Jimin berjalan menuju kelasnya dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya, sampai membuat teman-teman Jimin yang melihat senyum itu menatapnya horor.
"Mungkin Jimin sedang kerasukan arwah yang suka tersenyum." Batin mereka semua.
Bagaimana teman-teman Jimin tidak menatap horor seperti itu jika di kampus saja Jimin itu jarang tersenyum, senyum Jimin saja dapat dihitung dengan jari.
Ingat dihitung dengan jari!
Dan saat ini teman-teman Jimin melihat Jimin tersenyum lebar seolah ingin merobek belah bibir sexynya. Kan teman-teman Jimin menjadi takut, bisa-bisa nanti arwah yang merasuki Jimin berpindah tempat ke tubuh mereka. Pikir mereka sinting.
Jimin yang melihat teman-temannya menatapnya bak melihat hantuk hanya menatap mereka malas dan tetap menjalanjutkan langkahnya menuju kelasnya.
Tetapi tenang saja. Jimin tidak sedang kerasukan kok. Jimin hanya sedang bahagia saja. Tetapi teman-teman bodohnya itu hanya tidak tau saja jika Jimin sedang bahagia.
Setelah sampai di kelasnya, Jimin mengambil tempat duduk di pojokan dekat jendela dan membayangkan senyuman manis milik Yoongi yang terus terintas di pikirannya. Senyum manis yang pasti akan membuat orang-orang yang melihat senyum itu akan ikut tersenyum dan terpesona pada Yoongi.
Tetapi Jimin sudah mengklaim jika senyuman itu hanya boleh dilihat oleh dirinya, biar saja dirinya egois. Pokoknya hanya Jimin seorang yang boleh melihat senyuman itu dan orang lain tidak akan Jimin biarkan melihat senyuman milik seorang Min Yoongi.
Bayangan senyuman milik Yoongi buyar seketika saat mendengar sahabatnya—Kim brengsek Taehyung—berteriak tepat di telinganya.
"Hoyy Jimin."
"Apa sih Kim. Mengganggu saja." Jawab Jimin ketus.
"Jadi Park brengsek Jimin kau sedang kerasukan setan apa sehingga membuatmu tersenyum seperti orang idiot seperti itu?" Tanya Taehyung sambil menaik turunkan kedua alisnya bermaksud menggoda Jimin.
"Berisik." Jawab Jimin kesal melihat tampang bodoh sahabatnya.
"Mendapat mainan baru ya Jim?"
"Mainan apanya, aku saja baru berkenalan dengannya. Dan dia bukan mainan Kim." Sembur Jimin tajam.
"Ohh kenalan baru. APA KENALAN? SEJAK KAPAN PARK BRENGSEK JIMIN BERKENALAN DENGAN ORANG LAIN? DUNIA BENAR-BENAR SUDAH KIAMAT." Taehyung berteriak histeris. Seorang Park Brengsek Jimin berkenalan dengan orang lain? Yang benar saja! Jimin yang terkenal dingin tanpa peduli sekitar berkenalan dengan orang lain? Dunia benar-benar akan kiamat.
Pernah beberapa kejadian seorang wanita dan laki-laki yang berstatus bottom yang menyukai Jimin dan mencoba menarik perhatian pemuda bermarga Park itu dengan menjatuhkan diri mereka ke dalam pelukan Jimin saja langsung ditepis dengan mendorong mereka tanpa menoleh sedikitpun sambil membersihkan bajunya yang seolah terkena virus berbahaya yang harus segera dilenyapkan.
Dan penghuni kampus yang melihat hal itu hanya mampu terdiam tanpa berani berbuat apapun. Lebih melilih tidak perduli daripada harus berurusan dengan manusia bernama Park Jimin
Dan sekarang pria bermarga Park itu berkenalan dengan seseorang?
Hanya satu kata yang dapat keluar dari bibir sexy Taehyung, "WOW." Taehyung harus bertemu orang yang dapat berkenalan dengan manusia es seperti Jimin. Harus!
"Kim brengsek Taehyung jika kau tidak bisa tutup mulut embermu itu, akan ku buat kau tidak bisa bicara selama seminggu penuh." Ancam Jimin ketika Taehyung berteriak heboh di depannya.
Taehyung dengan cepat memperagakan mengunci mulutnya dengan tangan. Jimin itu kalau sudah berkata demikian maka perkataan itu akan menjadi kenyataan. Jimin itu sangat jago berkelahi man, bahkan Jimin pernah menghajar lima preman tanpa luka di tubuhnya. Yang ada para preman itu yang babak belur dihajar Jimin. Taehyung yang melihat perkelahian itu bertekat dalam hati tidak akan pernah mencari masalah dengan Jimin, yang ada jika Taehyung mencari masalah dengan Jimin nyawanya akan melayang dengan mudah dan tidak bisa menikahi bunny montok miliknya.
"Bagus. Sekarang kembali ke tempat dudukmu. Sudah sana pergi." Ucap Jimin sambil melambaikan tangannya bermaksud mengusir Taehyung.
"Ok Jim." Jawab Taehyung. Tetapi Taehyung dengan cepat berbalik ke arah Jimin lagi, "Jim, kenalanmu manis tidak? Kenalkan padaku ya? Siapa tau dia jatuh cinta padaku."
Taehyung langsung berlari cepat menghindari amukan Jimin, lihat saja Jimin yang sudah siap melemparkan kursi ke arahnya.
"Huh, wajah tampanku selamat." Ucap Taehyung sambil mengusap wajahnya dramatis saat berhasil menghindar dari amukan Jimin.
Tak lama setelah Taehyung kembali ke tempat duduknya, dosen yang mengisi kelas Jimin dan Taehyung tiba. Dan kelas mereka pun dimulai.
.
.
Setelah menyelesaikan kelas, Jimin dan Taehyung berjalan menuju kantin kampus untuk makan siang. Sambil menunggu pesanan milik mereka, Jimin dan Taehyung berbicara hal-hal random seperti orang kebanyakan.
"Jungkook kapan pulang Tae?"
"Kookie bilang lusa sudah kembali ke Korea. Memangnya kenapa Jim?"
"Tak apa. Hanya bertanya, sebentar lagi sepertinya aku akan menjadi obat nyamuk kalian lagi."
"Tidak Jim, kau tenang saja. Kan kau sudah punya gandengan sendiri."
"Gandengan apanya." Dengus Jimin.
"Itu yang membuatmu tersenyum seperti orang idiot sebelum kelas dimulai."
Taehyung mengangkat kedua jarinya tanda menyerah saat Jimin menatapnya sangat tajam.
"Jungkook apa kabar?" Jimin kembali bertanya setelah melihat wajah idiot sahabatnya yang meminta ampun padanya.
"Dia kabar baik Jim. Lusa aku menjemputnya di bandara, kau mau ikut tidak?"
"Pukul?"
"Pukul empat. Setelah kelas selesai aku langsung menuju bandara."
Jimin berfikir sejenak, pukul empat dan Yoongi pulang pukul delapan. Sehingga Jimin dapat menjemput Yoongi tepat waktu.
"Hm, aku ikut."
"Kookie pasti senang melihatmu disana."
"Tentu saja. Aku kan sangat tampan."
Mendengar perkataan Jimin, Taehyung memperagakan seorang yang sedang ingin muntah. Untung sahabatnya jika tidak Taehyung akan senang hati memukul kepalanya. Eh, tetapi jika Taehyung memukul kepala Jimin yang ada Jimin akan memukul kepalanya berkali-kali lipat. Taehyung menjadi horror sendiri saat membayangkannya.
"Oh iya Jim, setelah kelas berakhir kau ada acara tidak? Kau mau bermain mau tidak? Aku punya game baru."
"Tidak bisa. Nanti aku akan ke tempat Seokjin, lain kali saja." Tolak Jimin.
"Ada urusan apa ke tempat Seokjin hyung?"
"Tidak tau, Seokjin yang menyuruhku kesana." Bohong Jimin. Jimin belum menceritakan apapun tentang Yoongi pada sahabatnya, sehingga Jimin memilih bohong. Jika Jimin berkata jujur yang ada dirinya diledek habis-habisnya oleh Taehyung.
"Oh begitu. Salam untuk Seokjin hyung. Dan satu hal lagi Jimin, demi Tuhan Seokjin hyung itu lebih tua dari kita tapi kau hanya memanggil namanya saja. Dasar tidak sopan."
"Hm." Balas Jimin malas.
Dan Taehyung benar-benar ingin memukul Jimin saat ini juga.
Tak lama kemudian, pesanan milik mereka datang. Mereka pun memakan makan siang mereka dengan tenang, sesekali melempar pertanyaan tentang tugas akhir mereka.
Setelah selesai memakan makan siang Jimin dan Taehyung berjalan beriringan menuju kelas terakhir mereka pada hari ini. Sebenarnya Jimin dan Taehyung itu cukup populer di kampus mereka. Berterimakasihlah pada wajah rupawan bak pangeran yang dimiliki mereka berdua sehingga membuat Jimin dan Taehyung cukup populer di kalangan kaum adam yang berstatus bottom dan kaum hawa. Tak sedikit yang mencari perhatian mereka secara terang-terangan.
Jimin yang memilih acuh dan bersikap dingin terhadap mereka, tetapi hal itulah yang membuat Jimin semakin diincar oleh mereka. Berbeda dengan Taehyung yang memilih menanggapi mereka dan terkadang balik menggoda mereka, tetapi tenang saja, di hati Taehyung hanya milik bunny kesayangannya seorang. Taehyung hanya bersenang-senang saja kok tidak lebih.
Untung saja Jungkook tidak disini. Jika Jungkook melihat kelakuan Taehyung maka ucapakan selamat tinggal pada kebanggannya. Jungkook akan dengan sadis menendang kebangaan Taehyung sampai Taehyung berguling-guling di lantai pun Jungkook tidak akan perduli. Biar saja, salah siapa kardus sana-sani.
Jungkook itu walaupun memiliki wajah polos seperti anak TK, tetapi jika Jungkook marah bahkan cemburu maka hidup Taehyung tidak akan pernah tenang. Taehyung harus extra sabar menghadapi Jungkook yang marah dan cemburu itu. Dan membuat Jimin dengan suka rela tertawa bahagia saat melihat Taehyung membujuk Jungkook agar tidak marah lagi. Jimin akan dengan senang hati tertawa bahagia di atas penderitaan Taehyung.
.
.
.
Setelah menyelesaikan kelas terakhirnya Jimin bergegas menuju tempat Seokjin bekerja. Tentu saja Jimin menghubungi Seokjin terlebih dahulu jika dirinya akan menuju ke tempat Seokjin, dan Seokjin membalas jika dirinya tidak sedang memeriksa pasien dan meninta Jimin langsung menuju ruangannya, tak lupa Seokjin mengucapkan agar Jimin hati-hati seperti biasanya.
Setelah sampai di tempat Seokjin bekerja Jimin berjalan menuju ruang kerja Seokjin.
Melihat Jimin masuk ke ruangannya, Seokjin langsung berbicara to the point, "Jadi apa yang kau temukan Jim?"
"Aku menemukan dua penjuk hyung. Yang pertama ini." Ucap Jimin menunjukan foto dalam ponselnya.
"Sepertinya aku tidak asing dengan mereka." Jawab Seokjin saat melihat foto di ponsel Jimin.
"Hyung kenal mereka?"
"Aku seperti pernah melihat mereka, tapi aku lupa dimana. Nanti aku akan mengingat-ingatnya lagi. Lalu yang kedua mana Jim?"
Jimin mencari sesuatu di tasnya. Menggeledah isi tasnya satu persatu, sampai Jimin menemukan apa yang dicarinya. "Ini hyung," Ucap Jimin sambil menyodorkan sesuatu ke hadapan Seokjin.
Suasana hening beberapa saat, Seokjin yang sedang mencermati apa yang disodorkan oleh Jimin. Sampai Seokjin sedikit terbelak saat sudah mengetahui sesuatu apa yang digenggamnya.
"Jimin kau mendapatkannya dari mana?!" Ucap Seokjin sedikit berteriak.
"Aku mendapatkannya di laci meja nakas samping tempat tidur Yoongi. Menangnya ada apa?" Tanya Jimin sedikit khawatir melihat Seokjin berteriak.
"Ini obat penenang anti depresan Jim. Obat penenang jenis alprazolam obat ini digunakan untuk mengatasi gangguan kecemasan, gangguan panik, dan depresi ringan. Tetapi jika seseorang mengkonsumsi obat ini terus menerus maka akan menimbulkan ketergantungan, dan jika seseorang sudah ketergantungan dengan obat ini maka membutuhkan waktu sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menghilangkan ketergantungannya."
Jimin tidak dapat berkata setelah mendengar penjelasan Seokjin. Walaupun Jimin bukan ahli dalam bidang ini, tetapi Jimin dapat menyimpulkannya secara garis besar. "Tidak. Yoongi tidak boleh seperti ini" batin Jimin.
"H-hyung a-apakah separah itu?"
"Jimin-ah. Kau harus segera membawa Yoongi padaku. Sesegera mungkin. Aku serius Jimin, ini obat yang cukup berbahaya. Aku harus tau sampai mana Yoongi mengkonsumsi obat ini, obat yang kau bawa memiliki dosis 0.50 gram jadi aku menyimpulkan jika Yoongi sudah cukup ketergantungan dengan obat ini."
"H-hyung ba-bagaimana bisa?"
Seokjin beranjak dari duduknya dan berjalan ke hadapan Jimin. Seokjin berjongkok di hadapan Jimin, memegang kedua tangan adiknya yang mungkin sekarang dalam keadaan sedikit syok.
"Aku juga tidak tau Jimin-ah. Tetapi kau harus segera membawa Yoongi padaku agar aku dapat menyembuhkannya. Lebih cepat lebih baik, bukankah begitu?" Ucap Seokjin lembut.
"N-ne hyung."
Seokjin membawa tubuh Jimin ke dalam pelukannya. Seokjin tau jika sekarang Jimin membutuhkan sebuah pelukan. Seokjin sudah mengetahui Jimin luar dalam.
"Aku akan berusaha sekuat tenaga menyembuhkan Yoongi. Kau jangan khawatir, percaya saja padaku." Ucap Seokjin mencoba menenangkan Jimin. Bisa Seokjin rasakan Jimin menganggukan kepalanya dan membalas pelukannya.
"Hyung, tolong sembuhkan Yoongi. A-aku menyayanginya. Aku tau ini terlalu cepat tapi saat aku melihat ke dalam matanya, matanya terlalu kosong. Hyung tau kan jika firasatku tidak pernah salah? H-hyung aku menyayanginya. Aku ingin melindunginya."
"Arra. Hyung tau. Hyung akan menyembuhkan Yoongi, kau tenang saja ne? Percayalah jika Yoongi dapat sembuh Jim."
"Aku percaya pada hyung, dan aku juga percaya jika Yoongi akan sembuh."
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Min Yoongi?" Batin Seokjin miris.
.
.
.
Selesai urusan dengan Seokjin, Jimin bergegas menuju tempat Yoongi bekerja untuk menjemput pemuda manis itu. Sekarang menunjukan pukul setengah delapan malam jadi Jimin dapat menjemput Yoongi tepat waktu.
Jimin mengendarai motornya secara perlahan. Tidak membutuhkan waktu cukup lama Jimin telah sampai di tempat Yoongi bekerja. Jimin turun dari motornya dan menyenderkan tubuh tegapnya pada motor kesayangannya seraya menunggu Yoongi selesai dengan pekerjannya. Jimin melihat jam yang melingkar di tangannya, masih ada waktu lima menit lagi sebelum Yoongi selesai bekerja.
Jimin memikirkan perkataan Seokjin. Ya, Jimin harus percaya bahwa Seokjin dapat menyembuhkan Yoongi dan Jimin harus percaya jika Yoongi bisa sembuh. Jimin hanya harus membuat Yoongi lebih terbuka padanya dan segera membawa Yoongi pada Seokjin agar Yoongi dapat disembuhkan oleh Seokjin. Jimin bertekat dalam hati akan menghabisi seseorang yang telah membuat Yoongi seperti ini. Bagi Jimin, Yoongi itu terlalu indah dan rapuh untuk disakiti. Tetapi orang tak berperasaan justru membuat Yoongi yang notabenya terlalu rapuh disakiti tersakiti. Jimin tidak akan memaafkan siapa pun yang membuat Yoongi seperti. Tidak akan.
Jimin melihat Yoongi keluar dari kedai dan berlari kecil ke arahnya seolah takut jika Jimin menunggu terlalu lama. Dengan secepat kilat Jimin merubah wajahnya yang sempat serius menjadi tersenyum lebar seolah-olah tidak terjadi apapun. Biar saja Yoongi tidak mengetahui apa yang sedang Jimin lakukan terhadap Yoongi untuk menolongnya, yang terpenting adalah Yoongi dapat selalu tersenyum dan tidak merasakan sakit lagi.
"Ji-jimin menunggu la-lama?" Tanya Yoongi setelah tiba di hadapan Jimin.
"Tidak, aku baru sampai lima menit yang lalu. Kita pulang?"
"Y-ya. Kita pu-pulang."
Jimin memakaikan helm yang dipakai Yoongi pagi tadi pada Yoongi. Yoongi tersipu dengan perlakuan lembut Jimin. Perlakuan Jimin yang membuat dadanya kembali berdegup dengan kencang.
Saat Jimin ingin menaiki motornya, Jimin melihat seorang Ahjumma yang berdiri di depan kedai tempat Yoongi bekerja. Jimin membukuk sekilas pada Ahjumma itu, dan dibalasnya dengan tersenyum pada Jimin dan berkata hati-hati tanpa suara.
Jimin menaiki motornya, disusul oleh Yoongi. Setelah merasa Yoongi sudah nyaman, Jimin melajukan motornya menuju apartemen tempat mereka tinggal. Tetapi sebelum Jimin melajukan motornya, Jimin membawa tangan Yoongi untuk melingkarkan tangan itu pada tubuhnya.
"Pegangan yang erat hyung."
Dan Yoongi membalasnya dengan merapatkan tangannya yang melingkar pada tubuh Jimin. Tak lupa senyum yang merekah di bibir masing-masing.
.
.
.
-TBC-
.
.
.
Hallo saya kembali wkwk…
5k words untuk kalian sebagai tanda maaf saya karena sudah late update. Semoga berkenan di hati teman-teman. Eeaaakkkkk…
Ada yang kangen dengan saya? Ada yang masih ingat dengan cerita ini? Atau sudah lupa dengan cerita ini? Hehe. Ada yang menunggu cerita ini tidak?
Maaf ini sangat late update. Kemarin sempat ada beberapa kejadian yang membuat saya menjadi late update. Sekali lagi maaf jika sudah terlalu lama menunggu (jika ada yang menunggu hehe…)
Saya dari awal sebenarnya sudah planning jika akan update satu minggu sekali, tapi apa daya keaadaan kemarin tidak memungkinnya. Tetapi mulai sekarang saya akan rutin update satu minggu sekali (Amin). Doakan saja yaa teman-teman wkwkwk.
Saya tau ini sudah sangat terlambat tetapi megucapkannya tak apa kan?
Merry Christmas bagi kalian yang merayakan, and Happy New Year untuk kira semua. Semoga harapan-harapan kita dapat tercapai di tahun ini (Amin.)
Selalu semangat dan bersyukur dalam hidup agar kita bahagia. Yeyyy…
Last words, saya ingin mengucapkan banyak terimaksih pada teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk membaca, menfollow, menfavorite, bahkan review cerita saya ini. Saya tau tulisan saya tidak sempurnya, masih banyak kekurangan yang terdapat di cerita saya, semoga teman-teman memaafkan kekurangan yang terdapat di cerita saya ini. Pokoknya terimakasih banyak untuk teman-teman.
Xanax (alprazolam) merupakan obat yang depresan yang termasuk ke dalam golongan benzodiazepine (minor tranquileer) yang berkerja dengan cepat setelah dikonsumsi. Biasanya obat ini dikosumsi untuk mengatasi anxiety (kecemasan), panic attack, serta depresi ringan.
Xanax tersedia dalam dosis 0.25 mg (berwarna putih), 0.50 mg (berwarna merah muda), dan 1 mg (berwarna biru muda). Pemakaian xanax dapat mengakibatkan adiksi (ketergantungan) psikis dan fisik. Pada beberapa orang pemakaian obat ini dosis yang dibutuhkan makin meningkat karena kebutuhan otak pasien akan xat alprazolam makin meningkat seiring berjalannya waktu jika pengguna obat ini tidak diawasi dengan ketat.
Pengguna Xanax tidak mungkin dihentikan secara mendadak karena tubuh pengguna akan "berontak" yang mengakibatkan withdrawal symptom, tubuh terasa sangat tidak nyaman, badan mengigil, muncul keringat dingin, tubuh pegal-pegal, tremor, tidak dapat berfikir tenang, hilang napsu makan, dll. Dan untuk menghilangkan ketergantungan pada obat ini membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan mungkin bertahun-tahun.
Untuk menghilangkan ketergantungan pada obat jenis ini membutuhkan terapi psikosomatis jenis Hipnoterapi yang membantu mempercepat mnghentikan ketergantungan dan membantu pasien untuk membangun aspek kejiwaan dengan cara "memprogram" kembali alam bawah sadar klien. Jika masalah psikis klien dapat diselesaikan maka secara otomatis konsumsi Xanax akan berkurang sampai pada titik klien akan keluar dari belenggu ketergantungan Xanax.
Dan hanya seorang psikiater yang dapat memeberikan dosis yang terdapat dalam obat ini pada pasien/klien.
Jadi sudah tau apa yang akan terjadi pada Yoongi kan teman-teman? Hehehe… saya sudah memberikan klue lohh di atas wkwk…
Cukup sudah cuap-cuapnya.
So review please?
14.01.2018
-Romana-
