Rahasia Kakek.

"Centaurus A" kenangan lama Kakek, kini telah mengudara. Dulu, tersimpan bagai memori ponsel yang terbakar. Sekarang telah menjelma menjadi sihir paten yang berkuasa.

Leia Organa mengatakan bahwa aku adalah harapan yang baru, tapi aku tidak merasa seperti itu, atau mungkin aku masih ragu untuk mengakuinya? Mungkin saja!

Malah aku merasa kalau aku hanya remaja biasa yang tak pintar sama sekali, aku memang biasa saja untuk anak seusiaku. Aku manusia Bumi, Planet yang kurang populer di kalangan para Rebellion. Mereka kebanyakan akan menahan tawa ketika tahu dari mana aku berasal, tapi mendadak sopan ketika ada suara yang menginterupsi kalau aku ini cucu Obi Wan-Kenobi.

Sekuat itukah pengaruh Kakekku? Aku rasa memang begitu. Seperti Politikus yang tangguh, ya, hal-hal semacam itu.

Seperti keseharianku, aku masih sering berlalu-lalang di dalam Pesawat, menunggu kedatangan Rey yang entah ada di mana dan dia orang sejenis apa. Aku harap dia bukan wanita aneh yang hobi menyuruh-nyuruh, aku tak terlalu suka orang yang banyak bicara dan berisik. Itu menganggu kinerjaku dan rutinitasku.

Bahkan, aku tidak diberitahu seperti apa wajah Rey atau seperti apa penampilannya. Sepertinya orang-orang sini terlalu sibuk memikirkan banyak hal. Mereka punya kegiatan masing-masing, malah kadang lupa diri. Aku pernah diajak oleh lelaki nyentrik bernama Poe untuk mengutak-ngatik tabung yang dipenuhi oksigen, tabung aneh yang dia bilang dapat membawamu dengan kecepatan cahaya.

Beberapa detik kemudian langsung meledak akibat percampuran kimia yang salah. Aku dilindungi oleh punggung Poe dan dia sempat terpental menabrak dinding beton.

Kegiatan anehnya menimbulkan bolong besar di Pesawat, karena hal ini makhluk bertentakel hampir tersedot gravitasi Jupiter? Melayang selama satu menit di ruang hampa dan kulitnya langsung garing. Untung masih bisa diselamatkan.

Aku tak tahu nama Planetnya, aku menyebut Jupiter karena warna yang sama. Karena kami tidak sedang berada di Galaksi Bima Sakti. Jadi, tidak ada istilah Jupiter.

Catatan milik Kakek telah terbaca sepertiga. Dan di sana ia menulis beberapa sifat murid-murid yang paling ia tak suka. Ia tak menyebutkan soal wanita yang ia suka atau bagaimana. Aku jadi heran kalau Kakek tidak pernah jatuh cinta sampai pada saat ia bertemu Nenek.

Soal murid tidak begitu menarik perhatian. Tapi kali ini ia membahas soal Lightstick, senjata selayaknya pedang laser. Warna dari Lightstick memengaruhi kepribadian seseorang, dia mengatakan begitu. Seperti Power Ranger saja, pikirku begitu.

Aku pernah mengatakan itu pada Kakek dan dia langsung tertawa keras, dia bilang Lightstick memilih pengguna, tidak seperti Power Rangers. Tapi hanya orang terpilih yang dapat menggunakannya, seperti sebuah keselarasan. Cosmos.

Ngomong-ngomong Kakek menyebutnya Light Saber. Wow, itu sangat bagus untuk sebuah Lightstick yang sering dipakai Polisi berpatroli.

Kakek menuliskan ada tempat khusus di mana mereka membuat Lightstick ini untuk para Jedi. Semacam bahan khusus, katanya harus yang menyatu dengan alam dan jiwa, sesuatu yang seperti itu sangat jarang. Kakek menambahkan dengan kalimat lucu kalau kebanyakan pengrajin Lightstick itu bukan Jedi.

Wah, ini lucu. Seorang pengrajin cerdas tapi tidak bisa menggunakan kerajinannya! Bukankah itu hal positif yang sangat lucu? Kurang masuk akal maksudku. Tapi, Kakek tidak pernah berbohong ia hanya pandai menyembunyikan rahasia. Jadi aku percaya padanya. Lightstick itu kuat untuk beribu tahun lamanya dan mampu menebas apapun layaknya Katana super, hanya saja bisa menyala-nyala dan agaknya menimbulkan efek panas.

Kupikir kalau di Bumi, aku bisa memamerkan ini di Internet dan bilang kalau ini hasil karya seseorang yang sangat cerdas. Tapi, itu terdengar agak menggelikan. Orang-orang memang suka mendengar gosip dan hal berbau setan-setanan, tapi mungkin Lightstick ini adalah hal yang lain.

Tibalah aku di suatu tempat, kupikir ini semacam bengkel. Adalah ruangan berlangit kubah yang penuh suara mesin-mesin, dominasi ruangan ini agak aneh, ada aroma yang tak dapat aku pahami. Setelah melihat dari jarak pandnagku cukup lama, aku baru tahu ini adalah pangkalan Pesawat dengan 2 penumpang.

Bentuknya agak berbeda dari yang aku lihat di Bumi, pastilah disesuaikan dengan para Alien di sini. Aku rasa itu alasan yang paling jitu.

Robot putih bulat berlengak-lengok di sepanjang jalan yang dapat mataku tangkap, mereka terlihat sama, padahal mereka memiliki nama yang berbeda untuk setiap unitnya. Setiap penghuni di sini memiliki satu robot paling setia, ada yang bisa bicara ada juga yang hanya merocos tidak jelas. Tapi kebanyakan di antara para pemilik mengerti apa yang robot bulat putih katakan.

Aku pernah di tanya oleh Ny. Organa untuk mempunyai satu dari robot itu. Tapi aku tidak mau, aku menolaknya dengan cara halus dan ia tersenyum memaklumi. Bukan aku bersikap sombong, aku kurang pandai menjaga sesuatu yang hidup, bagiku para robot itu hidup, dalam artian lain. Memang mereka benda mati, tapi mereka perlu sedikit apresiasi, bukan?

Berkali-kali aku membuka jurnal milik Kakek ada sesuatu yang membuatku penasaran aku sedang mencari sebuah nama yang disebutkan ketika aku di bawa kemari. Tapi tidak ada bahasan tentang Pria Pesulap itu di sana dan mungkin Kakekku memang tidak mengenal pria itu secara pribadi.

Mendengar soal itu juga mungkin tidak, hal-hal itu mungkin sedang berlangsung ketika Kakek berdansa di Bumi yang tenang dan asri.

...juga.

"Luna?"

Aku melirik sedikit, mendapat sambutan dari seorang pria bernada manis dan hangat. Kulihat, ia adalah lelaki yang pertama aku temui saat di kejar Si Pesulap. Yang aku ingat namanya adalah Finn, mantan pesuruh Captain Phasma. Aku tidak tahu siapa itu Captain Phasma, tapi aku rasa dia membawa sedikit dominasi dalam dunia kegelapan, karena ia ada di sisi yang jahat.

Finn tidak punya nama, dia hanya sekumpulan angka dan alfabet random yang telah disempurnakan. Terlahir menjadi seseorang yang taat, ia membelot menjadi pribadi lain. Merasa bahwa ia terjebak di antara kesemuan yang terbelakang, kemudian bertemu jelaga hangat yang membuatnya tambah bersemangat.

"Luna, bagaimana kabarmu?"

"Spektakuler!" Aku tersenyum, menepuk bahunya sekali. "Kau sendiri?"

"Sama seperti saat pertama kali di selamatkan Rey."

"Oh, Rey..."

"Kau akan bertemu dengannya, bukan?"

"Ny. Organa bilang begitu. Aku sedikit tidak sabar dan penasaran juga, Ny. Organa bercerita hal yang banyak soal Rey. Dia pasti orang yang sangat mumpuni."

Ada tawa persahabatan yang terdengar. "Dia bahkan tidak sadar kalau ada potensi Jedi di dalam jiwanya."

"Bukankah semuanya begitu? Aku merasa begitu juga, Finn..."

"Kau akan menambah pengaruh baik pada Semesta, aku dapat merasakannya. Kau punya sesuatu yang hangat dan berbeda dari kebanyakan Jedi yang aku lihat."

Aku terkesima. "Kau kenal Jedi yang lain?"

"Ya, Luke Skywalker. Dia yang telah lama hilang..."

.

A/N : Ah, chapter 3. Akhirnya terselesaikan juga! Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mengikuti ini dari awal. Mohon jangan pernah bosan untuk membaca.

Selamat untuk salju yang pertama turun. Jangan kedinginan, ok?