What's Wrong With My Pretty BOSS ?

.

Rated : M

.

.

Disclaimer

Naruto : Masashi Kishimoto

HighSchoolDxD : Ichie Ishibumi

Warning : Typo bertebaran

.

.

.

Saat ini semua orang tengah bersiap untuk melakukan perjalanan pulang dari liburan di villa, wajah-wajah yang sebelum datang ke tempat tersebut terlihat suntuk kini sudah tampak lebih segar. Berlibur selama tiga hari dua malam tampaknya cukup untuk mengembalikan energi dan merefresh otak serta pikiran sebelum nanti akan kembali digunakan hari-hari berikutnya.

Semua barang bawaan serta sampah sudah di pisahkan dan dimasukkan ke dalam mobil.

"Tak terasa kita sudah menghabiskan tiga hari dua malam di tempat ini, rasanya seperti belum rela dan puas untuk meninggalkan tempat ini dan kembali ke perkotaan" salah seorang karyawan wanita tampak mengeluh sambil dirinya memegangi kantong plastik yang berisikan sampah.

"Mau bagaimana lagi... tanggung jawab kita di kantor sudah menunggu tapi aku setuju denganmu. Apa kita usul saja supaya waktu liburan di tambah dari tiga hari menjadi seminggu ?" salah satu teman si wanita tadi menimpali keluhan dari orang yang sebelumnya.

Sementara itu, sembari memasukkan tas ranselnya ke dalam bagasi mobil Naruto hanya tersenyum tipis mendengar bagaimana bawahannya sedikit mengeluh karena waktu berlibur yang menurut mereka kurang, tapi pria Uzumaki itu cukup paham karena dia juga sebenarnya masih ingin bersantai di tambah dia bukanlah tipe orang yang gila kerja, dirinya bahkan hampir tidak pernah lembur fan sering pulang tepat waktu kecuali jika ada keadaan yang benar-benar mendesak.

Begitu semua sampah sudah di kumpulkan dan barang-barang bawaan telah disimpan ke mobil kini semuanya sudah siap untuk kembali, namun jika sebelumnya di dalam mobil yanb dikendarai oleh Naruto ada empat orang kini di sana hanya tiga orang saja yaitu Rias, Asia dan dirinya sementara Hinata memutuskan tidak ikut pulang bersama yang lain karena masih belum menyelesaikan lukisannya dan akan pulang nanti saja.

Perjalanan memakan waktu cukup lama bahkan Rias dan Asia lebih dari separuh perjalanan tertidur, hingga saat hari mulai menjelang sore mereka sudah mulai memasuki wilayah perkotaan.

.

Tak lama kemudian mobil pun berhenti di depan sebuah kompleks apartemen bertingkat, tampak Asia turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih setelah dirinya di antar langsung ke kediamannya berbeda dengan yang lain di mana mereka berhenti di parkiran perusahaan karena harus segera mengembalikan mobil.

Usai berpisah dengan duo atasannya kini Asia tinggal naik ke apartemennya namun saat menaiki tangga dirinya berpapasan dengan pria berambut pirang dan berwajah tampan.

"Ha-halo senpai" Asia memberikan salam sembari sedikit menundukkan kepalanya.

"Hm... pasti menyenangkan bisa pergi berlibur di tengah pekan ?" ucapan setengah sarkas meluncur dari mulut pria tersebut dan membuat Asia tertawa garing.

"Hahaha begitulah... aku pamit dulu senpai" Asia segera berpamitan karena tak ingin terlalu lama berada di tempat atau situasi dengan pria yang merupakan salah satu senior di perusahaan sekaligus rival dari departemennya ketika lomba untuk mendapatkan hadiah berupa liburan.

Dengan cepat Asia segera pergi dan memasuki unit apartemen yang sudah beberapa minggu ini dia tempati dan entah berkah atau sial dia bertetangga dengan pria pirang primadona di perusahaan yaitu Yuuto Kiba.

Sungguh Asia masih ingat bagaimana kejadian ketika dirinya baru pindah ke tempat tersebut sekaligus mengetahui bahwa salah satu incaran para wanita berada di lantai yang sama dan tepat di samping unit apartemen sewaannya.

.

Flashback.

.

Saat itu Asia baru saja pulang kerja, dirinya melihat di depan unit apartemennya ada beberapa box berukuran sedang dan kecil tersusun rapi. Selain beberapa box ada juga barang-barang lain yang tak dibungkus seperti kipas angin.

"Akhirnya sisa paketnya sudah datang", Asia cukup senang melihat barang-barangnya tersebut. Dia langsung mengangkat beberapa kotak untuk segera dibawa ke dalam apartemennya.

Dia bolak-balik sekitar dua kali sampai semua kotaknya dibawa ke dalam namun dia menyisakan sebuah kipas angin yang masih berada di luar apartemen, ketika dirinya ingin mengambil tersebut ia mendapatkan sebuah panggilan masuk yang mengakibatkan dirinya harus meninggalkan kipas anginnya.

Di waktu bersamaan dengan Asia yang sedang mengangkat telepon tampak ada seorang pria penghuni lain dari gedung apartemen itu lewat di depan pintu kediaman si gadis pirang. Dirinya mendapati ada sebuah kipas angin yang terletak di sana, pria itu menoleh ke arah belakang dan depan sebanyak dua kali sebelum mendekati kipas.

"Kenapa ini ada di luar ?, apa mungkin ini akan di buang ?", dia mengangkat kipas dan mencoba mengamati serta melihat-lihat benda tersebut untuk mengetahui apa itu akan di buang.

Setelah beberapa saat melihat-lihat dirinya menyimpulkan bahwa kipas itu memang akan di buang karena tak tampak seperti baru, bagaikan tanpa dosa dirinya membawa kipas tersebut dan segera masuk ke unit apartemen yang letaknya tepat di samping apartemen milik Asia.

.

Obrolan Asia dengan orang yang meneleponnya akhirnya berakhir dan ternyata memakan waktu sekitar lima belas menitan, merasa sudah cukup terlalu lama Asia teringat dengan kipas angin miliknya yang masih berada di luar. Dia segera berjalan mendekati pintu dan membukanya namun ternyata saat ini benda tersebut tak ada di posisinya tadi.

Merasa aneh karena kipasnya tak ada Asia keluar dari huniannya tersebut, kepalanya menoleh dan celingak-celinguk untuk melihat sekeliling.

"Kenapa bisa tak ada ?, apa jangan-jangan petugas kebersihan membawanya karena mengira itu sampah ?".

Asia berjalan turun menuju tempat pembuangan sampah untuk mencari kemanakah perginya sang kipas angin, namun dirinya tetap tak menemukan benda tersebut setelah mencari-cari dan menanyakan pada petugas keberhasilan yang mau tak mau dia harus merelakan kipas anginnya tersebut hilang begitu saja walaupun bukan barang baru.

Setelah kembali dari lantai bawah ia kini sudah kembali masuk ke unit apartemennya itu, dirinya sudah berencana sejak kemarin bahwa hari ini dia akan menyapa tetangga sekitar sekalian memberikan kue beras sebagai simbol.

Gadis pirang itu mendatangi dan memberikan kue beras pada semua penghuni apartemen di lantai dua tempat dirinya tinggal, sekitar delapan potong dia selesai bagikan dan tinggal menyisakan satu potongan terakhir akan dia berikan pada tetangga samping apartemennya.

Namun setelah beberapa kali memencet bel penghuni tersebut tak kunjung keluar, hingga salah satu penghuni di sana memberitahu pada Asia untuk mencari orang tersebut di rooftop karena biasanya orang tersebut suka ada di sana.

Asia segera menuruti saran orang tadi dan berjalan ke arah tangga yang mengarah ke lantai atas, begitu sampai di sana ia melihat sekeliling ternyata di tempat tersebut dibuat untuk berkebun dengan cukup banyak tanaman sayur-sayuran tumbuh di dalam pot, dan semua itu sepertinya di urus oleh seseorang yang kini di posisi memunggungi Asia, tampak juga sosok tersebut sedang mengurusi berbagai tanaman yang ia rawat.

Sambil membawa sepotong kue beras di tangannya Asia berjalan mendekati orang tersebut yang merupakan seorang lelaki berambut pirang, "u-um permisi... aku penghuni unit 018 yang baru, ini ada sedikit hadiah tolong diterima !" Asia sedikit gelagapan dan gugup karena dirinya kurang ahli dalam bersosialisasi apalagi di tempat baru dan dengan orang-orang baru.

Pria itu bangkit dari posisi jongkoknya dan segera berbalik untuk melihat siapakah yang memberinya hadiah, begitu dapat melihat sosok tersebut ia sedikit tertegun sejenak kemudian menunjuk ke arah Asia dengan menggunakan jari telunjuk.

"Bukankah kau anak baru dari departemen si Uzumaki ?" tanpa basa basi pria itu langsung bertanya pada Asia dan membuat gadis itu makin gelagapan.

"I-iya..." Asia sedikit takut-takut ketika menjawab.

Pria bernama lengkap Yuuto Kiba itu menerima pemberian Asia dan segera mencicipi rasa dari kue berasnya sebelum kemudian kembali berbicara pada si gadis pirang, "jika ada wanita lain dari perusahaan tahu aku tinggal di sini maka orang yang pertama kusalahkan adalah dirimu".

"Hah ?" dengan keheranan Asia hanya bengong menatap tidak percaya apa yang sudah dibicarakan oleh pria di depannya.

.

Flashback end.

.

.

.

Para karyawan di departemen pemasaran kini sudah kembali ke tempat kerja setelah beberapa hari lalu selesai dari liburan mereka, tampak saat ini Asia dengan dua seniornya yang lain tengah duduk di sebuah meja sembari ketiganya menikmati kopi dan mengobrol.

Di tengah asiknya mereka berbincang bahkan sampai cekikikan lewatlah seorang pria tampan berambut pirang yang cukup menjadi primadona para wanita di perusahaan.

Tampak pria itu tengah menghampiri counter yang menyediakan kopi dan diam menunggu di sana beberapa saat hingga minumannya siap, sontak saja dengan kedatangan pria itu dia langsung menjadi topik pembicaraan dari tiga wanita yang sedang duduk walaupun lebih tepat jika hanya dua orang saja yang membicarakan sementara Asia tidak dan lebih menjadi pendengar saja.

"Lihat itu... bahkan hanya dengan berdiri saja dia sudah sangat menawan" salah seorang berbicara dengan volume suara yang pelan dan hanya bisa di dengar oleh mereka saja yang duduk semeja.

"Huum kau benar, tapi apa kau sadar kalau dia selalu mengenakan stelan yang sama setiap hari ?, dari gosip yang kudengar katanya dia Cuma punya satu stelan" satu orang itu menjawab dengan suara yang dipelankan dan bahkan lebih terdengar seperti berbisik.

"Mana mungkin orang sepertinya hanya punya satu stelan, kurasa dia memang memiliki stelan dengan warna yang sama", orang itu masih mencoba berpikiran positif.

"Kalau menurutmu bagaimana Asia-chan ?", ketika sedang melamun tiba-tiba saja Asia di tanya dan malah membuatnya gelagapan dan bingung harus menjawab apa karena barusan dia sedikit meleng.

"Apa pendapatmu tentang Kiba-san yang punya banyak stelan dengan warna yang sama atau dia hanya punya satu stelan ?" sekali lagi Asia ditanyai.

Sebelum menjawab Asia tampak melihat terlebih dahulu ke arah orang yang menjadi topik pembicaraan mereka, dan rupanya orang tersebut sedang menatap Asia seperti mencoba mengatakan sesuatu dan membuat gadis pirang itu agak kicep.

"Sepertinya pilihan pertama lebih masuk akal" Asia menjawab cepat tanpa mengalihkan pandangannya dari si pria yang terus melihat ke arahnya.

Kedua senior Asia tetap berdebat hingga mereka sepakat untuk bertaruh siapa yang benar, melihat kedua seniornya berdebat tentang sesuatu hal tak penting hanya dimaklumi saja oleh si gadis pirang karena selama ia bekerja di sana dia sudah sering kali melihat kelakuan aneh dan absurd dari para seniornya.

Akhirnya setelah perdebatan konyol itu berakhir ketiga wanita itu segera pergi dari tempat tersebut karena juga waktu istirahat sudah usai sehingga mereka harus segera kembali ke departemen penasaran.

Namun ketika mereka belum berjalan terlalu jauh Asia merogoh sakunya dan tidak menemukan sesuatu yang ia cari, kedua seniornya menyadari itu sehingga membuat mereka bertanya dan menghentikan langkah. "Apa ada sesuatu yang hilang ?" salah satu dari mereka bertanya.

"Sepertinya id card milikku ketinggalan, aku akan mengambilnya dulu" Asia selesai mencari di sakunya dan tak menemukan benda tersebut yang seharusnya dia kalungkan di leher tapi tadi dia lepas.

"Yasudah, kami tunggu di sini saja".

Asia mengangguk lalu berjalan kembali ke tempat tadi dirinya dan sang senior duduk untuk mencari id card miliknya yang tertinggal.

.

Setelah sampai di tempat tadi Asia dapat menemukan benda yang ia cari dan segera mengambilnya untuk kemudian cepat-cepat pergi dari sana namun tepat saat dirinya akan berbalik di hadapannya sudah ada sesosok pria pirang yang menjadi topik obrolannya tadi.

"Apa yang kalian obrolan tadi tentangku ?" tanpa basa-basi pria bernama Kiba itu langsung menodong Asia dengan pertanyaan.

"A-ano kami hanya membicarakan kira-kira berapa banyak stelan jas berwarna biru yang Kiba-senpai miliki" dengan jujur Asia memberitahukan topik obrolannya tadi.

Mendengar hal tersebut Kiba maju selangkah dan mendekatkan wajahnya ke arah Asia sehingga membuat gadis itu mundur, "ingatlah jika rahasiaku terbongkar maka orang yang akan pertama kucari adalah dirimu".

Kiba kembali ke posisi semula dan menggerakkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya ke arah mata sendiri kemudian ditunjukkan ke arah Asia sebagai tanda bahwa dia akan memperhatikan gadis itu.

Asia yang ditunjuk hanya manggut-manggut sebelum kemudian Kiba meninggalkannya sendirian, sepeninggal Kiba kini Asia segera berjalan cepat karena kedua seniornya menunggu.

.

Sementara itu di sebuah ruangan yang terletak di departemen pemasaran seorang wanita merah tampaknya sedang dalam mood kurang bagus, sosok tersebut terlihat malas-malasan ketika mengerjakan tugas-tugasnya.

Dirinya merasa cukup kesepian karena saat ini pria yang biasanya akan selalu siap sedia di sisinya tengah berada di tempat lain yaitu mengerjakan dan menyiapkan semua hal untuk pameran seni perusahaan, sudah sejak kemarin pria itu lebih sering menghabiskan waktunya di tempat lain bahkan sampai untuk jam makan siang saja Rias harus melewatinya sendirian.

Dengan pipi yang bertumpu pada sebelah tangan sedangkan tangan yang lain memainkan mouse dengan bosan wanita itu sesekali melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di dekat keyboard, wanita cantik itu seperti menunggu sesuatu yang sayangnya tak pernah kejadian.

"Sebenarnya dia itu menganggapku kekasihnya atau bukan sih ?, kenapa tak ada telfon atau pesan ajakan makan siang atau apapun itu ?" lagi-lagi Rias misuh-misuh sendiri karena Naruto yang tak memberinya pesan bahkan seingatnya pesan terakhir kiriman dari kekasihnya itu adalah tadi pagi ketika dirinya memberitahu akan berangkat lebih dulu dan tak perlu datang menjemput.

.

.

Walaupun dengan agak malas-malasan dan misuh-misuh sendiri tapi ajaibnya Rias sukses menyelesaikan tugasnya tersebut bahkan lebih cepat dari seharusnya, dan ternyata alasan kenapa dia cepat menyelesaikan tugasnya itu supaya bisa pergi dari ruangannya tersebut dan datang ke tempat pameran seni yang akan diadakan nanti.

Ketika sudah akan meninggalkan departemennya dia berpapasan dengan sang kakak yang tampaknya punya urusan.

"Mau ke mana ?," pria tampan berambut gondrong itu berhasil memergoki sang adik yang terlihat seperti berniat kabur entah kenapa hal apa.

"Um... aku mau keluar sebentar," dengan agak kikuk si gadis Gremory menjawab dan jawabannya itu malah membuat Sirzechs menyeringai.

"Kalau begitu sayang sekali, kau tidak bisa pergi ke manapun karena ada pertemuan yang harus kau hadiri bersamaku dan di sana ada Tou-sama juga," dengan segera Sirzechs menangkap satu tangan dari Rias agar wanita muda itu tidak kabur.

Merasa kurang terima karena niatan kaburnya terancam gagal total Rias berusaha melepaskan genggaman sang kakak dan agak memberontak namun hal tersebut tak berguna, dia malah di seret menuju sebuah ruangan yang Rias tahu ketika sudah masuk ke dalam sana maka dirinya tak akan bisa keluar selama beberapa jam ke depan.

Belum terlalu lama Rias di bawa masuk ke dalam ruangan tadi oleh Sirzechs kini seorang pria pirang tampak baru saja datang ke divisi marketing, kaki panjangnya melangkah menuju sebuah pintu kayu berukuran cukup besar dan membukanya namun saat sudah terbuka ia tak melihat siapapun di dalam sana.

"Eh Naruto-senpai sudah kembali?," sebuah suara dari arah belakang membuat pria itu berbalik demi melihat siapa yang berbicara.

Asia yang baru saja kembali dari luar melihat sosok Naruto yang sedari pagi sudah pergi mengurus hal lain sehingga tak berada di tempatnya dan mendapati pria tersebut saat ini ada di hadapannya.

"Aku ingin mengambil sesuatu, ngomong-ngomong di mana Rias ?".

"Oh tadi aku melihat dia di bawa oleh Sirzechs-sama entah ke mana" Asia memberitahukan apa yang sebelumnya dia lihat tentang Sirzechs yang membawa Rias.

Naruto mengangguk paham lalu kembali menutup pintu ruangan Rias, "kalau begitu nanti saja deh, aku hanya akan mengambil ini dan harus segera kembali ke sana". Pria itu mengambil sebuah map cokelat di atas meja kerjanya dan Asia untuk kemudian kembali pergi meninggalkan tempat tersebut.

.

Dengan Rias yang masih di dalam ruangan kini wajahnya sudah tampak sangat bosan apalagi dia sudah berada di ruangan tersebut lebih dari dua jam dan mendengarkan semua obrolan yang membuat kepalanya dapat mengeluarkan asap, jika bukan karena ada Ayahnya dan di seret oleh Sirzechs mungkin saat ini dia sedang menghirup udara bebas di luar.

Butuh beberapa waktu kemudian sampai akhirnya dia bisa keluar dari ruangan itu karena memang pertemuannya sudah usai, dan dapat di lihat sekarang hari sudah mulai memasuki jam-jam para karyawan pulang.

Mau tak mau Rias yang tadinya ingin pergi kini harus mengurungkan niatnya dan kembali ke ruang kerjanya, namun tepat ketika melewati meja yang biasanya ditempati oleh si Uzumaki dan asistennya yang baru yakni Asia dirinya menghentikan langkah begitu mendengar suara dari si gadis pirang.

"Ada apa Asia ?" Rias yang bisa diibaratkan sudah seperti tanaman layu itu menanggapi panggilan dari sang asisten.

"A-ano... tadi Uzumaki-senpai datang ke sini untuk mengambil sesuatu dan sempat menanyakan keberadaan anda Rias-sama", seperti mendapat kabar baik Rias langsung kembali segar dan sempat berterima kasih lebih dulu pada si gadis pirang sebelum kemudian masuk ke ruangannya.

Dengan segera si wanita Gremory menghidupkan ponselnya yang sempat ia matikan ketika akan masuk ke tempat tadi bersama Sirzechs, dan benar saja saat ponselnya sudah hidup ia mendapati ada beberapa panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari satu orang yakni Naruto.

Rias mencoba menghubungi Naruto balik namun sayang sekali tak di angkat oleh si Uzumaki, akhirnya ia berniat datang ke tempat di mana sang kekasih bertugas tapi jika diingat-ingat lagi tampaknya pria itu tak akan ada di sana karena ini sudah lewat dari jam kerja maka sudah pasti dia sudah pulang lebih dulu.

Oleh karena itu maka sudah di putuskan dia akan langsung ke apartemen Naruto saja, sayangnya arus lalu lintas tampak padat karena bertepatan dengan jam pulang jadinya perjalanan akan memakan waktu lebih lama dari seharusnya.

.

.

Matahari yang tadinya masih sedikit menampakkan wujudnya kini perlahan-lahan mulai tenggelam dan mulai digantikan dengan gelapnya langit.

Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu kini Rias tiba di tempat tujuannya, namun ia belum turun dari mobilnya dan terlebih dahulu mencoba menelfon Naruto. Akan tetapi setelah beberapa kali mencoba panggilannya tak di angkat, "orang ini kemana sih ?".

Ketika kembali mencoba menghubungi Naruto secara tak terduga pria itu berjalan di samping mobil dan tampaknya pria itu sibuk menikmati ice cream yang berada di tangan kanannya sementara tabgan kiri menenteng sebuah kantor plastik berwarna gelap yang entah apa isinya.

Melihat si pria pirang berjalan begitu saja seolah tak mengenali mobil berwarna merah yang di kemudikan Rias membuat wanita itu kesal, sudah dari hari kemarin ia susah bertemu, di tambah tak ada ajakan untuk makan siang bersama atau apapun itu dan sekarang dengan santainya pria itu lewat begitu saja di samping mobil. Akhirnya Rias memencet klakson mobil dengan cukup kencang mengakibatkan Naruto yang kini sudah tepat melewati mobil harus terlonjak kaget, kantong plastik dan ice cream miliknya jatuh akibat keterkejutan dari suara klakson mobil di belakangnya.

Tak terima dan merasa si pengendara mobil sengaja memencet klakson untuk mengagetkannya membuat si pirang berbalik dan menghampiri mobil merah tersebut, dengan jengkel Naruto mengetuk kaca jendela mobil lumayan kencang.

"Hoy apa kau gila ?, untuk apa kau membunyikan klakson seperti itu ?. Jika kau ada masalah denganku ayo cepat turun dan mari kita selesaikan sekarang juga!". Naruto kembali mengetuk kaca jendela mobil tersebut hingga akhirnya dengan perlahan-lahan terlihatlah sesosok wanita berambut merah dengan ekspresi penuh kekesalan tercetak jelas di wajahnya ketika kaca jendelanya turun dengan pelan.

"Ehhhh ?, Rias ?", Naruto nampak terkejut karena ternyata orang yang sedang ia marahi itu adalah pacarnya sendiri, pria pirang itu melangkah mundur untuk melihat plat nomor dari mobil merah tersebut dan ternyata memang benar itu adalah kendaraan milik sang kekasih.

Rias turun dari mobil dan langsung berada di hadapan Naruto, si wanita Gremory tetap memasang ekspresi galak karena kesal. "Jadi mau bagaimana ?, bukankah barusan kau menyuruhku turun ?", tetap dengan wajah cemberutnya Rias menatap tajam Naruto dan menerima tantangan dari si pria pirang tadi.

Sambil cengengesan Naruto menggaruk kepala belakangnya karena ternyata yang ia marahi dan dirinya tantang adalah Rias, namun bukannya Naruto takut atau apa justru dia saat ini cukup gemas melihat ekspresi galak Rias yang jarang dirinya lihat.

Tangan Naruto mencoba meraih tangan kanan milik Rias dan langsung mengelus telapak tangan dari sang pujaan hati, "ahahaha aku barusan bercanda Rias, maafkan aku ya". Pria itu mencoba meredakan kekesalan pada diri Rias yang tercetak jelas itu dengan sedikit merayunya namun rupanya itu belum berhasil.

"Maaf ?, setelah dari tadi susah di hubungi dan bahkan untuk sekedar mengajak makan siang saja tak bisa, sekarang ingin minta maaf begitu saja ?", ekspresi kekesalan dan jengkel dari si wanita Gremory membuat Naruto makin tak tahan ingin mencubit pipi gembil dari pacarnya itu namun jika dia lakukan sekarang yang ada dirinya akan menerima bogem mentah dari yang bersangkutan maka yang harus pertama ia lakukan adalah membuat wanitanya supaya tidak marah lagi dan cara efektif untuk menjinakkan si Gremory adalah dengan memberikannya makanan.

Tak cukup dengan hanya mengelus tangan Rias demi meredakan kekesalan si Gremory kini Naruto menarik pinggang wanita itu supaya dirinya bisa menarik dan menempel padanya, begitu jarak sudah dekat dengan segera ia langsung mengecup singkat pipi Rias ketika wanita itu lengah.

"Maafkan aku karena susah dihubungi dan tak makan siang bersamamu, kalau begitu sebagai gantinya bagaimana jika kita masuk ke apartemenku dan akan kumasakkan makan kesukaanmu ?", dengan senyum memesona serta sedikit memperlihatkan deretan giginya yang rapi bak model iklan pasta gigi sukses membuat Rias sedikit merona merah walaupun wanita itu mencoba mempertahankan ekspresi kesalnya tapi di mata Naruto dirinya telah sukses menjinakkan Rias.

.

Dengan sedikit rona merah di kedua pipinya saat ini Rias coba mempertahankan wajah kesalnya namun tak dapat dipungkiri dirinya tak bisa melawan atau mengabaikan senyuman dan perlakuan dari Naruto terutama ketika mereka hanya berdua saja, seperti yang barusan pria itu tanpa ragu mencium pipinya di tempat umum walaupun saat ini sedang sepi karena saat di tempat kerja mereka harus bersikap seperti biasa dan menjaga jarak.

Tak bisa dipungkiri berpacaran dengan rekan sepekerjaan membuat keduanya harus berhati-hati dan menjaga jarak ketika di kantor apalagi mereka masih merahasiakan status mereka sekarang sebagai sepasang kekasih.

"Aku ingin makan ramen saja !", Rias menyerukan apa yang ingin dia makan dan saat ini dirinya sedang dirangkul oleh Naruto dan mereka tengah berjalan menuju apartemen si pirang.

.

Naruto yang merangkul Rias kini mengambil kantong plastik yang dirinya tang sengaja jatuhkan tadi karena terkejut, namun saat pria itu mengecek apakah benda di dalam berupa telur ayam itu baik-baik saja atau tidak dirinya melihat ada beberapa butir telur ayam yang pecah dan tak mungkin bisa dimakan namun masih ada beberapa yang masih bagus serta hanya mengalami retak kecil sehingga masih layak konsumsi.

Setelah berjalan tak terlalu lama akhirnya mereka sampai juga di dalam unit apartemen yang si pirang tinggali dan jika diingat-ingat lagi ini adalah kali pertama Rias masuk ke dalam setelah selama ini dia hanya menunggu di depan jalan atau parkiran saja.

Keadaan di dalam cukup rapi dan bersih bagi ukuran tempat tinggal pria lajang, Rias dibawa menuju dapur dan Naruto menyuguhkan minuman dingin.

"Naru... boleh aku ikut mandi di sini ?, aku belum sempat pulang dan seharian ini banyak beraktivitas", tanpa ragu sedikitpun Rias malah ingin mandi di sana padahal dia sama sekali tak membawa pakaian ganti.

"Sebenarnya tidak masalah, hanya saja apa kau bawa baju ganti ?".

Rias kembali cemberut setelah ditanya oleh Naruto, "pinjam saja baju milikmu, tenang saja aku tak punya penyakit kulit".

Mendapat jawaban cukup pedas dari Rias mau tak mau Naruto hanya mengiyakan dan memperbolehkan wanita itu mandi di sana dan meminjam pakaiannya nanti.

Ketika Rias sudah masuk ke kamar mandi Naruto membuka lemari bajunya dan mengambil satu set pakaian berupa kaos oblong berwarna oranye berlengan pendek serta satu celana training panjang berwarna hijau untuk digunakan Rias sebagai baju ganti. Ia mengenakan pakaian itu di keranjang samping pintu kamar mandi di atas mesin cuci.

Sembari menunggu wanitanya itu selesai membersihkan diri Naruto memulai acara memasaknya, menu yang dia akan hidangkan adalah ramen seperti yang pernah dia buat ketika di rumah Rias. Karena wanita itu meminta dibuatkan hal tersebut Naruto hanya menurutinya saja supaya ia tak marah lagi padahal dia sebenarnya ingin membuatkan yang lain namun apa boleh buat daripada membuat Rias merajuk jika tak dimasakkan ramen.

Di tengah aktivitas memasaknya Naruto tak menyadari bahwa kini Rias sudah selesai mandi dan berganti pakaian dengan apa yang sudah di sediakan si pirang, tampak baju itu terlalu besar bagi Rias dan membuatnya seperti ditelan bulat-bulat oleh pakaiannya.

"Apa sudah selesai ?", Rias muncul dari balik punggung Naruto dan melihat pekerjaan si pirang yang tampaknya sudah akan selesai.

"Mau makan di meja makan atau di sofa depan televisi ?" tanpa mengalihkan perhatiannya dari kompor Naruto menanyakan tempat yang ingin mereka nanti gunakan.

"Di depan saja" Rias menimpali sambil dirinya mulai berjalan pergi ke tempat yang dimaksud.

.

Beberapa menit berselang makanan sudah siap dan Naruto tengah membawanya ke depan sekalian dengan peralatan makannya, melihat panci dan mangkuk yang dibawa Naruto membuat Rias bertepuk tangan riang karena yang ditunggu datang juga.

Tanpa menunggu lebih lama Rias segera menyerobot mengambil mangkuk dan segera menuangkan ramen dari panci kecil itu, dirinya menyumpit beberapa helai mie dan memasukannya ke dalam mulut.

Melihat bagaimana wanita di hadapannya lahap Naruto hanya tersenyum kecil dan ikut menikmati makanan yang sudah dia buat.

Keduanya makan dengan khidmat sambil sesekali mengobrol, dan uniknya Rias yang tadi marah kini sudah berhasil dijinakkan dengan hanya memberikannya makanan.

Tak membutuhkan waktu lama sampai keduanya menghabiskan makanan tersebut, setelah selesai makan Naruto dan Rias langsung duduk bersantai di sofa sambil menikmati acara komedi di televisi.

.

Suara tawa terdengar dari bibir keduanya karena ada adegan lucu, mungkin orang tidak akan percaya bahwa sekitar sejam yang lalu Rias sedang marah pada si pirang namun kini dirinya malah menempel erat pada Naruto seolah-olah tak membiarkan pria itu kabur.

"Naru ganti chanelnya", merasa cukup bosan dengan acara komedi Rias ingin melihat yang lain dan Naruto menuruti untuk mengganti tontonan ke sebuah dorama romcom kesukaan wanita merahnya.

Walaupun pria Uzumaki itu jarang atau mungkin tak pernah melihat dorama tapi demi membuat Rias diam dan tak marah-marah ya tak ada salahnya juga baginya menemani sang kekasih menonton.

Saat sedang seru-serunya menonton tiba-tiba terdengar suara bel dipencet beberapa kali, Rias yang merasa terganggu dengan bisingnya suara bel ingin bangkit dan melihat siapakah orang tersebut namun terlebih dahulu Naruto berdiri dan meminta Rias supaya duduk saja dan lanjut menonton.

Naruto berjalan mendekati pintu dan terlebih dahulu melihat pada kamera di sisi interkom untuk mengetahui siapakah yang memencet bel apartemennya, begitu mengetahui sosok itu Naruto cukup panik dan kaget karena ketiga temannya sudah berada di depan pintu.

"Hoy Naruto, cepat buka pintunya!" suara seorang pria terdengar lewat interkom, tampak di sana ada tiga orang pria dengan dua orang berambut hitam sedangkan satu orang berambut coklat.

"Gawat!" bukannya membuka pintu Naruto justru kelimpungan dan berlari ke arah Rias yang masih duduk manis di sofa.

"Ada apa ?" Rias yang melihat Naruto berlari padanya dan wajah yang panik cukup membuat wanita itu itu memunculkan tanda tanya, kira-kira apa hal yang membuat si pirang kelimpungan.

"Ayo cepat sembunyi!, teman-temanku ada di depan sana".

Terbawa dengan Naruto yang panik membuat Rias ikut-ikutan panik, wanita berparas cantik itu langsung bangkit dari sofa dan ingin lari ke kamar mandi untuk bersembunyi namun sebelum itu tangannya sudah di tarik oleh Naruto yang membawanya ke dalam kamar tidur, namun tak berhenti sampai di situ saja justru si pirang kini membuka lemari baju untuk Rias bersembunyi di sana.

"Tunggu... jangan bilang aku harus bersembunyi di dalam sana ?", seolah mengetahui isi kepala si pirang tampak Rias tak mau jika harus bersembunyi di dalam sana.

Bukannya menjawab Naruto justru mendorong punggung Rias supaya wanita itu segera masuk ke dalam, "tunggu sepatuku bagaimana ?" dengan setengah hati dan penuh keterpaksaan Rias hanya menurut untuk masuk ke dalam lemari.

Naruto dengan cepat ngibrit keluar kamar untuk mengambil sepatu milik si Gremory, dapat di dengar ketika dirinya ingin mengambil benda tersebut pintu bel terus berbunyi karena ditekan berkali-kali oleh orang yang di luar.

"Ini sepatunya, jangan keluar dari dalam sini sampai aku membukanya mengerti !?" Naruto meminta Rias untuk tetap diam di sana, wanita tersebut duduk dengan posisi memeluk kaki sendiri hingga akhirnya Naruto menutup pintu lemari dan justru konyolnya pria itu malah mengunci pintunya dan membuat Rias melotot, tapi karena dirinya ada di dalam maka tak bisa protes.

.

"Sialan kau membuatku menunggu lama di depan pintu" si pria berambut coklat bernama Inuzuka Kiba tampak kesal karena cukup lama ia dan dua orang lainnya menunggu si Uzumaki membuka pintu.

"Maaf-maaf... aku harus membereskan sesuatu sehingga telat membuka pintu" hanya alasan itulah yang lewat di kepala pirangnya sesaat setelah membuka pintu dan membiarkan teman-temannya masuk ke dalam apartemen.

Selain si Inuzuka tampak dua orang lainnya yaitu Shikamaru serta Sasuke segera nyelonong masuk dan duduk di sofa yang tadi di duduki oleh Naruto serta Rias.

"Dobe kau jorok sekali, bereskan dulu bekas makanmu ini" Sasuke sedikit protes karena di depannya ada sebuah panci kecil dan dua buah mangkuk bekas makan sahabatnya itu.

Tapi tunggu sebentar... kenapa pria bujangan seperti Naruto menggunakan dua buah mangkuk serta dua pasang sumpit ?.

Tak hanya Sasuke yang menyadari keanehan tersebut tapi Shikamaru juga menyadari hal sama, tapi pertanyaannya itu dia simpan terlebih dahulu mungkin bisa saja tadi sebelum mereka ada teman dari si pirang yang berkunjung.

Naruto yang kelupaan membereskan bekas makannya dan Rias harus merutuki dirinya sendiri, bagaimana jika muncul kecurigaan dari Shikamaru dan Sasuke apalagi mereka berdua tergolong jenius untuk menyadari hal-hal kecil.

Setelah menyimpan panci dan mangkuk bekas di dapur si Uzumaki segera kembali menghampiri teman-temannya yang duduk di sofa, "ada perlu apa kalian malam-malam ke sini ?".

Kiba yang menimpali Naruto segera menjelaskan kedatangan mereka.

.

Sembari mendengarkan obrolan mereka tampak Naruto kurang fokus memperhatikan karena dia beberapa kali melirik ke arah pintu kamarnya dan ini sudah cukup lama dia mendengarkan obrolan teman-temannya, hal tersebut dapat disadari oleh Shikamaru dan tampaknya dia mengerti suatu hal bahwa ada yang disembunyikan oleh teman pirangnya itu.

Merasa tenggorokannya kering Shikamaru bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum meninggalkan Naruto, Kiba dan Sasuke mengobrol di sofa.

Mata pria berambut nanas itu terpaku pada suatu benda yang tergeletak di atas keranjang pakaian kotor, setelah selesai menikmati air minum Shikamaru segera mendekati keranjang pakaian kotor untuk memastikan apakah pengelihatannya tepat atau tidak.

Sudut bibir Shikamaru tertekuk ke arah atas begitu melihat ada sebuah bra hitam berenda berukuran besar tergeletak di atas pakaian milik sang sahabat, "sepertinya kita datang di waktu kurang tepat" Shikamaru segera berbalik dan pergi menghampiri ketiga orang yang sedang mengobrol itu.

"Naruto... aku mau ikutan tidur sebentar di kamarmu ya" sebuah tes terakhir dilakukan Shikamaru untuk membuktikan dugaannya tepat.

"Jangan !" Naruto berdiri dari posisi duduknya dan mencoba menghentikan Shikamaru.

"Kamarku masih berantakan dan belom dibersihkan jadi kalau mau tidur bagaimana jika si sofa saja", sebuah alasan yang menurut Shikamaru mudah di tebak karena teman pirangnya itu tak bisa menyembunyikan rasa panik ketika Shikamaru bilang ingin menumpang tidur.

Shikamaru tak lagi bersuara dan kembali ke sofa setelah menyadari ada yang disembunyikan si pirang, dan tampaknya Sasuke juga memiliki pemikiran sama dengan si rambut nanas sedangkan untuk Inuzuka Kiba dirinya tak menyadari apapun dan malah asik bercerita pada Naruto.

Waktu pun berlalu dan sudah cukup lama Naruto menemani teman-temannya mengobrol, dia sebenarnya ingin meminta ketiganya untuk pergi namun tak enak hati di tambah setelah ini pasti Rias akan mengamuk karena di kunci di dalam lemari baju.

"Kurasa ini sudah cukup malam, hey Sasuke ayo kita pulang" Shikamaru yang kasihan pada Naruto yang dari tadi mengkhawatirkan sesuatu akhirnya mengajak Sasuke untuk pulang.

"Kalian mau pulang ?, kalau begitu duluan saja aku bisa nanti saja dan mungkin bisa juga menginap di sini" sebuah ungkapan dari Kiba membuat Naruto kicep dan melotot.

Sasuke dan Shikamaru saling pandang untuk kemudian mengangguk secara bersamaan, "jangan bersikap bodoh, Naruto harus kerja besok jadi biarkan malam ini dia beristirahat" Shikamaru memarahi Kiba dan menyeretnya untuk dibawa pergi.

Keempat pria itu berpisah setelah Naruto mengantar ketiga kawannya keluar dari apartemennya, usai mereka tak terlihat lagi Naruto langsung menutup pintu dan berlari ke arah kamar karena Rias dia kunci di dalam lemari.

Sungguh dia sudah siap jika nanti dihajar oleh Rias karena membuat kekasihnya itu berdiam diri di lemari yang sempit dan pengap.

"Rias kau baik-baik saja ?" Naruto membuka pintu yang dirinya kunci tersebut dan begitu terbuka Rias langsung menoleh dengan wajah yang datar membuat Naruto merasa bersalah.

.

.

.

TBC