D. Gray-man © Hoshino Katsura

Story by Chesee-ssu

Rate: T

Warning: standar applied Saya tidak mendapat keuntungan apapun dalam pembuatan fanfiksi ini, kecuali kepuasan batin melihat otp saya berlayar XD /ga


Lavi merasa sedang berada di atas awan.

Empuk, halus, dan hangat.

Ia merasa tak ingin lepas dari kehangatan ini. Sungguh kalau bisa begini saja selamanya.

Tetapi lengkingan yang memekakkan telinga sampai pada alam bawah sadar Lavi. Dia mengernyitkan kening sampai akhirnya memaksakan matanya terbuka. Beberapa kali mengedip, ia menoleh dan melihat Tyki berteriak hebat sambil memegang tangannya yang memerah.

"Tyki!"

Lavi segera bangkit dari tidurnya dan merasa ngilu di sekitar perutnya. Tyki yang asyik berteriak mendadak berhenti sejenak lalu meneriakkan, "Gantai-kun!" sebelum dia mendekati Lavi dan duduk di sisi ranjang.

"Kau ngapain, sih!? Baru sadar main bangkit saja!"

"Kau itu yang ngapain!" ujar Lavi dengan nada tinggi, "tahu-tahu teriak begitu, bikin khawatir, tahu nggak!?"

Tyki kini mulai melupakan rasa terbakar di tangannya. Wajah khawatir Lavi lebih menarik untuk dipandang.

"Gantai-kun khawatir padaku? Aw, senangnya."

Lavi beberapa saat terdiam. Mulutnya terbuka ingin mengajukan sanggahan dan umpatan, tetapi senyum menjengkelkan Tyki membuatnya bungkam. Gantinya, pelan-pelan merah merambati pipinya. Tyki terbahak melihat Lavi yang memerah wajahnya.

"Aw! Jangan memukulku!" ujar Tyki sembari mengelus bahunya. Untuk orang yang baru sadarkan diri, pukulannya luar biasa, man.

Lavi mengabaikan protes Tyki, ia memerhatikan sekeliling. Ditilik dari betapa mewahnya ruangan ini, baik dinding kamar berwallpaper, kasur yang super empuk, sofa merah marun yang terlihat halus, sampai meja rias putih gading yang elegan luar bisa, tentu Lavi menduga Tyki menyewa kamar ini. Atau malah ini kamarnya. Matanya kini mengarah pada kabinet di samping kasur.

Mangkuk, teko, dan gelas berada di atasnya dan mengepulkan asap tipis. Kini mata hijaunya menatap tangan Tyki yang memerah. Pasti lelaki itu kena air panas.

"Ke kamar mandi sana, bilas tanganmu dengan air dingin agar tidak melepuh."

Tyki tersenyum jenaka. "Gantai-kun perhatian sekali, apa aku tidak mimpi—Aw! Aw! Cubitanmu sakit, Gantai-kun!"

"Persetan. Sana ke kamar mandi."

"Iya, Darlingggg."

Tyki segera mengacir ketika Lavi membombardirnya dengan bantal.

Xxx

Lavi memakan buburnya dengan santai. Karena belum bisa berdiri—lebih tepatnya belum boleh, jadinya ia hanya duduk saja di kasur dan tidak melakukan apa-apa. Bosan, sih ... tapi ya, bagaimana lagi?

Sejujurnya setelah dirinya bertemu dengan Road dan ditusuk dengan pisau belati dia tidak ingat apa-apa lagi. Tahu-tahu berada di kamar mewah ini dengan perut yang telah diperban.

Ah, ya, perbannya cukup rapi. Lavi sedikit kaget karena pemuda serampangan seperti Tyki bisa melilit perban dengan baik.

Pintu terbuka, Tyki kembali ke kamar sembari tersenyum ringan saat melihat Lavi makan.

"Bagaimana buburnya, enak?"

"Lumayan," ucap Lavi setelah menandaskan buburnya, menaruh mangkuk tersebut di kabinet di dekatnya. "Kau yang membuatnya?"

Tyki pun ikut duduk di samping Lavi, tersenyum tipis. "Siapa lagi, di rumah ini hanya ada aku saja."

Rumah? Berarti benar dirinya berada di rumah Tyki.

"Kau punya rumah di Paris?" tanya Lavi sedikit takjub, ada rasa tidak percaya juga ketika mendengar hal tersebut keluar dari mulut Tyki.

"Bukan rumah utama, sih. Sheril memberikan rumah ini sebagai kado ulang tahunku yang ke dua puluh empat."

Tyki begitu menyukai wajah Lavi yang kebingungan, nampak seperti orang bodoh. "Sheril itu kakakku," ucap Tyki kalem. "Road, yang kau lawan waktu itu, keponakanku. Anaknya Sheril."

Tersadar setelah berhasil mencerna ucapan Tyki, si pemilik mata sehijau giok itu menyuarakan kaget yang luar biasa. Jadi, bocah gila yang hampir membunuhnya adalah kemenakan Tyki?

Sinting.

Setelahnya, dia baru menyadari bahwa kemungkinan besar Lenalee dan Krory juga dibawa oleh para Noah.

"Tenang saja, aku sudah membuat kesepakatan dengan Road. Kedua temanmu baik-baik saja."

Pandangan Lavi berubah heran. "Kenapa?"

Tyki menatap bingung Lavi. "Apanya?"

"Kenapa tidak membunuh ... kami?" tanya Lavi bingung. "Kalian tentu saja bisa dengan mudah membunuh kami semua saat itu."

Si rambut merah tak mengerti apa yang salah dari ucapannya. Mengapa pria yang lebih tua darinya malah tertawa? Apa yang lucu?

"Tentu kau tahu jawabannya."

"Aku benar-benar tidak tahu?" jawab Lavi jujur. "Jangan bilang kalian tidak membunuh kami karena kau ... benar-benar suka padaku?"

Gelak tawa menyisir ruangan besar yang hanya diisi mereka berdua. "Apa ini, sejak kapan kau jadi sangat narsis?"

Tyki tersenyum tipis dengan sorot mata yang Lavi sendiri tak mengerti.

"Bukannya menyenangkan jika kita bertemu di medan perang nanti?" Tyki berkata dengan nada penuh antusias. "Akan sangat membosankan jika kami membantai kalian sekarang."

Sang calon penerus bookman hanya diam. Tak tahu apa yang ada dalam benaknya sampai dirinya tersenyum lebar.

"Baguslah kalau begitu. Memang tidak seru, sih, kalau saling bunuh di situasi biasa begini," ucap Lavi santai. "Kalau kau mau request soal pemakamanmu, mungkin aku bisa membantu."

Tyki terkekeh lembut. "Apa ini? Pengabdian terakhir kepada pasangan, kah?"

"Percaya diri sekali," ucap Lavi sembari menyikut Tyki. Sialnya, yang kesakitan malah Lavi, bukan Tyki.

"Bodoh, sudah tahu terluka malah banyak bergerak."

Tyki membaringkan Lavi, kedua mata mereka saling tatap cukup lama. Lavi yang memutuskan tatapan mereka, memandang ke arah wallpaper megah dan juga beberapa perabotan dalam kamar Tyki.

"Aku mau tidur," ucap Lavi sembari memunggungi Tyki yang sudah menyelimutinya.

Tyki sendiri tak ambil pusing, dia berniat untuk meninggalkan sang eksorsis sampai sahutan, "Hei," dari Lavi membuatnya berhenti.

Ketika Tyki menoleh, Lavi masih memunggunginya.

"Bisa ... temani aku?" Tyki berani jamin wajah anak itu pasti memerah sekarang. Dia melihat selimut tersebut tertarik ke depan, sepertinya diremat-remat oleh si calon penerus bookman tersebut.

Lucu.

"Kalau tidak mau ... ya tak apa, aku juga tidak masalah—" ucapan yang lebih muda terhenti ketika merasakan kasur tersebut bergerak sedikit.

Lavi makin tak berani berbalik.

"Apakah dengan ini kau bisa tidur?" tanya Tyki.

Suara Tyki terdengar nampak jauh, sepertinya dirinya hanya duduk saja. Tidak ikut berbaring di sebelahnya.

Jauh di dalam hatinya Lavi begitu bersyukur karena Tyki tidak ikut berbaring di sampingnya.

"Iya, aku tidur dulu."

Mungkin Lavi berpikir bahwa mengucapkan terima kasih dengan berbisik takkan mungkin didengar oleh Tyki.

Namun, nyatanya di ruangan sebesar ini dan hanya ada mereka berdua, tentu yang lebih tua bisa mendengarnya dengan baik.

Senyuman lebar muncul di wajah Tyki.

Lucu, pikir Tyki sekali lagi.


a/n: wah, aku mengabaikan fanfic ini dua tahun wkwkkw gatau juga ini kemana endingnya :") tp ya udahlah ya, segini dulu, 900 kata :)))