A/N: I don't own Boboiboy because Boboiboy belongs to Monsta Studio but "Behind the Mask" is mine
Pertama kali menulis di fanfiction namun meski begitu saya baru sekali menulis di fandom ini dan ini yang kedua kalinya. Jadi maafkan saya jika ada kesalahan.
[Warning: Adult + Yandere! Boboiboy, Fem! Fang, Human! Ochobot, Gore, Broken Character!]
Rate: T to M for Bloody Scene and other(s)
Happy Reading, all
- dengan hormat, March -
Dark Switch
"GYAAAAAAAAA! TIDAK! AAAAKKKHHH! LEPASKAN! SAKIT! HUAAAAAA! SAKIT! TOLONG—". Teriakan penuh siksaan itu mengisi kegelapan mengerikan di ruangan ini.
Sang gadis bersurai gelap hanya bisa menelan ludah. Matanya tidak dapat melihat apapun dan tubuhnya diikat oleh rantai dipojok ruangan. Mulutnya terasa kering sehingga tidak dapat mengeluarkan kata-kata apapun.
Flashback
Setelah kegelapan yang diterima sehabis dicumbu oleh 5 persona brengsek tadi, ternyata ia disekap di sebuah ruangan yang dindingnya berwarna merah dan hitam.
Ruangan ini sangat mengerikan dan dapat mendatangkan mimpi buruk apapun, kabar baiknya adalah ia tidak sendirian di ruangan ini, paling tidak ada sekitar 6 orang lain disini...termasuk dirinya...
Tapi—
— kabar buruknya adalah kini 5 persona tadi muncul. Mereka membawa alar-alat penyiksa seperti kapak, gergaji mesin dan sebagainya.
"TIDAK! JANGAN! TOLONG AKU SIAPAPUN—!". Seorang wanita diseret keluar ruangan dengan paksa. Setelah itu, teriakan penyiksaan terdengar hebat.
Orang lain-pun menangis, termasuk Fang meski air matanya tidak mengalir deras. Ia menggigit bibir bawahnya.
"AAAAAAAAAAAAA!"
"TOLONG! SAKIT! SAKIT!"
"GYAAAAAAAAA! HENTIKAN! AAAAAA—"
Banyak teriakan yang terdengar dan pada akhirnya menyisakan gadis bersurai gelap ini sendirian di sebuah ruangan mengerikan.
Sesosok kaki muncul di hadapannya. Dengan ragu-ragu ia mengangkat kepalanya.
Iris matanya bertemu dengan iris mata aqua yang mengerikan
Wajah pemuda itu telah terlumuri oleh darah, begitu pula tubuhnya. Fang yakin itu bukan darahnya...
...melainkan darah korbannya!
"Tenang saja. Siksaan untukmu akan tiba sebentar lagi".
Setelah itu, Fang merasa pandangannya mulai gelap lagi.
"Hey, Dear..."
Air meremas jantung korbannya hingga hancur. Ia sedang tidak lapar tapi jiwa pembunuhnya masih ingin mendapat korban lagi.
"Air!". Suara familiar memanggilnya. Itu adalah suara Api.
Lelaki dengan manik mata merah membara itu menggendong seekor anjing yang setengah sekarat. "Ayo kita mulai eksperimennya~". Anjing itu dilempar ke arah Air dan kemudian Api mengeluarkan alat-alat bedahnya.
Mereka sangat ingin membuat eksperimen untuk mengubah manusia jadi sebodoh anjing.
"Api, Air~". Suara Taufan memenuhi indra pendengaran mereka. Lelaki pengendali angin tersebut menyeret korbannya yang berupa laki-laki tua sekarat. "Aku ikut ya~".
"Roger, Kak Taufan!". Balas Api
Mereka bertiga memulai eksperimen mereka. Pertama, otak manusia dan anjing itu diambil dan ditukar, tentu pak tua tersebut tidak dibius terlebih dahulu. Siksaan sebelum mati itu menyenangkan lho.
Setelah proses penukaran otaknya selesai, kedua lengan pak tua tersebut dipotong. Taufan mengambil sesuatu dari lemari di sebelah kiri ruangan, mayat seekor gorilla.
Mereka memotong tangan mayat gorilla tersebut dan menyambungkannya ke tangan pak tua. Taufan tahu cara menyambungkan syaraf manusia dengan hewan.
Api memotong lidah sang Anjing dan disambung ke lidah sang Pak Tua.
Air mulai membedah tubuhnya, mengganti organ dalam manusia tersebut dengan organ dalam gorilla kemudian menjahitnya dalam 20 jahitan dengan kawat besi.
Gigi sang Pak Tua juga dicabut semua dan diganti dengan setengah dari gigi anjing serta gorilla.
Berikutnya tinggal proses penyetruman agar jadi lebi sempurna.
Dalam hal ini, Halilintar tidak akan dipanggil. Mereka sudah menyiapkan alat mereka sendiri
Anjing dan Pak Tua (Yang sudah bukan manusia lagi) dibawa masuk ke sebuah mesin. Disana Air menyetrum mereka dengan listrik setinggi 80.000 Volt.
Gila? Mereka memang gila.
Pak Tua dan Anjing mati? Oh, lihat saja baik-baik. Keajaiban yang mengerikan akan segera terjadi.
"Kita memang jenius". Ucap Taufan.
"Don't touch me!"
Fang masih tidak bisa melihat apa-apa. Ia hanya bisa mencium bau anyir khas darah yang membuatnya ingin muntah.
Tenggorokannya kering sekali. Ia sudah dibeginikan berjam-jam. Perutnya sakit sekali dan kepalanya-pun pusing.
Fang dapat mendengar suara pintu dibuka. Meski begitu, ia tetap diam saja. Jika mereka atau salah satu dari mereka datang, bukan hal baik yang akan terjadi melainkan kebalikannya.
"...Kau masih hidup?". Penutup matanya terbuka, ia dapat melihat seseorang dengan iris mata merah yang dingin menatapnya tajam.
Fang membalas tatapannya walau tidak terlalu tajam. "...Kh!". Tenggorokannya terlalu kering untuk sekedar bersuara.
"Kau harus melihat karya baru kami".
Beberapa personanya muncul, disaat itu juga mata Fang melebar tak percaya.
MAKHLUK MENJIJIKAN APA YANG BERADA DI HADAPANNYA INI?!
"...Aa...". Tubuhnya bergetar, kalau rantai yang mengikatnya ini terlepas pasti ia sudah lari detik ini juga.
"Lihat~! Ini karya baru kami~! Kami menamainya Voue!". Ujar Taufan dengan senyuman mengerikannya
'Mereka gila! Aku haru kabur dari sini!', batin Fang.
"WOOF! AUWWW! WOOF! WOOF!". Makhluk itu, yang sedikit mirip manusia atau mungkin tidak tengah menggonggong di depannya.
Air mata Fang mengalir, ia menggigit bibir bawahnya kencang hingga berdarah.
'Sreeett!'
Pipinya dicengkram oleh Halilintar dengan kasar. "Kau memang harus takut pada kami. Ini baru awal permainan, target selanjutnya adalah kau. Bersiaplah".
Rantai yang terasa mengikat tangan kini terlepas. Meninggalkan luka biru di tangan. Dengan kesadaran yang masih ada, Fang menatap mereka semua dengan tajam.
"Keris petir!". Sebelum akhirnya benda itu membuatnya hilang kesadaran lagi.
"Gempa, bawa dia pergi". Dihempaskan tubuh Fang ke persona bernama Gempa. Gempa menggendong wanitanya ala bridal dan berjalan keluar.
Para Boboiboy yang tertinggal mulai menjalankan lagi eksperimen mereka.
Permainan untuk Fang akan sangat menyenangkan!
"Shut up, baby"
Setelah sampai di rumah Fang, Gempa segera membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang. Dielus surai gelapnya, gadis ini terlihat rapuh saat tidak sadar begini.
Bisa dihancurkan dengan mudah
Seringai terukir di bibir sang pengendali tanah. Digigit bahu wanita tersebut dengan kencang hingga sang wanita mengeluarkan erangan.
Tanda kepemilikan telah ada sekarang.
Gempa berjalan keluar rumah Fang, ia mencari korban lagi. Tak lupa memakan cemilan berupa bola mata korban setiap berjalan.
"Hm~".
"Please..."
Keesokan harinya Fang masuk sekolah dalam keadaan kusut. Ia minta tukaran tempat duduk dengan Yaya sehingga dirinya bisa duduk dengan Iwan sekarang.
Ini jauh lebih aman.
Sepanjang pelajaran ia menatap buku dan papan tulis secara bergantian tapi tidak ada yang masuk ke otak sampai Iwan menulis sesuatu yang cukup panjang di buku tulis milik Fang.
'Aku janji akan memberitahu-mu tentang Nosferath, kan? Selain dari yang kukatakan padamu di perpustakaan. Sebenarnya aku juga tidak tahu detailnya, aku hanya tahu bentuk-bentuknya itu saja yang pernah kulihat.
Nosferath terbagi menjadi 3. Urutan pertama adalah Nosferath Seed, yang kedua adalah Nosferath Normal dan Nosferath End.
Itu aku yang menjulukinya. Aneh, ya? Aku sendiri sebenarnya juga bingung menamainya.
Nosferath Seed adalah Raja Nosferath. Biasanya Seed akan membunuh Seed, mereka adalah yang kuat dari yang paling kuat. Bahkan mereka bisa hidup 2 kali dan berjutaan tahun mereka hidup tanpa kelemahan yang diketahui.
Nosferath Normal adalah pewaris evil genes dari Nosferath Seed. Mereka memiliki kekuatan yang kuat walau tidak sekuat Nosferath Seed. Bisa saja memanipulasi listrik, hipnotis atau kekuatan yang bisa mengubah diri menjadi monster.
Terakhir adalah Nosferath End. Nosferath yang merupakan zombie, walau lebih pintar Nosferath End daripada Zombie tapi sikap dan perilakunya yang membuat mereka disamakan seperti Zombie.
Walau sudah end tapi mereka tetap saja Nosferath yang cantik, tampan dan elegan. Mereka tidak bisa mendengar kata-kata kita karena yang mereka dengar adalah kata-kata induk mereka.
Berhati-hatilah pada tanah. Biasanya Nosferath End keluar dari tanah pada sore hari menjelang malam hari.
Hanya itu penjelasan yang bisa kujelaskan sekarang. Berhati-hatilah, lebam di tangan menandakan kau sudah masuk ke-permainan mereka'.
Fang meremas kertas tersebut dan disimpan ke dalam saku. Ia bertatapan dengan Iwan cukup lama.
Tidak sadar bahwa manik mata hazel itu menatap mereka dengan tatapan pembunuh
"...Pemain selanjutnya adalah...". Boboiboy bergumam, matanya berkilat marah. "...kau, IWAN".
Fang merasakan hawa pembunuh. Kepalanya terasa pusing lagi, pandangannya mengarah ke Boboiboy.
Ia menelan ludah dengan kasar. Tubuhnya bergetar.
It's show time
(To be Continued)
A/N:
AKHIRNYA PINDAH RATE M JUGA! *SUNGKEMAN*
Maaf gak bisa balas review satu-satu, ini author juga lagi sakit pas ngetik chapter ini. Banyak masalah juga di sekolah. Maaf juga kalau ada typo, gak sempet ngoreksi (lagi) karena pusing, juga cerita yang mungkin gak nyambung hiks ;;;;;
Semoga fict ini masih ada yang suka dan gak basi huhuhu ;;;;;;;
Terima kasih semuanya!
