"Ia berjalan seperti orang mabuk. Apa yang membuatmu memilihnya?," salah seorang tetua bertanya ketus. Ujung matanya melirik tajam pada sosok Putri Hyuuga.
"Ia tidak ingin menginjak semut yang ada di jalan, Tetua Tsunade...," aku menjelaskan sabar.
Percakapan itu terjadi setahun yang lalu, saat musim dingin berlangsung. Bersamaan dengan datangnya ancaman cantik yang aku tidak bisa benci. Setiap pasang lensa alami milik kerajaan bergerak mengamati dan mengawasi para calon selir kehormatan. Otak yang baik akan mencatat sang anggun, sedang yang picik akan merawat catatan kesalahan yang sudah siap dikeluarkan setiap saat; kalau salah satu dari wanita cantik itu melakukan satu kesandung; dan menjegal mereka dengan mudah.
Aku sendiri memakai kimono dengan aroma pekat lemari di lipatannya. Dupa manapun tidak akan bisa menimpa harum yang satu di antara banyak itu adakan. Kata orang, harumnya terasa dingin dan menusuk dan dalam arti dalam; bukan wewangian murah yang lalu menyiksa indra pencium. Bagiku, harum ini adalah hangat. Adalah sebuah pelukan yang akan mengembalikan kenangan pohon evergreen ke dalam benakku. Membuatku tersenyum di dalamnya. Membuatku merasa terperisai dari perang.
"Hamba mewakili klan Yamanaka. Dan Ino adalah nama hamba," seorang ancaman berkata mantap ketika Tetua Tsunade menanyakan judul hidupnya.
Aku melihatnya dari bawah ke atas. Ia memakai kimono ungu polos. Dan obi yang tinggikan gradasi. Ia memilih pakaian yang sederhana, tapi keminimumannya itu membuat ia mencuatkan pesona tersendiri. Aku melihatnya, berharap Sasuke tidak ada di sini, melihatnya juga, karena selalu ada kesempatan yang berujung sial itu. Rambut pirang. Ah, mungkin karena Bangsa Barat? Pantas saja Tetua Tsunade mencercanya dengan tanya. Beliau pasti ingin membuktikan darah dasar Barat luas yang ada di dalam gadis ini. "Tidak ada gadis keturunan barat yang berhasil masuk istana kecuali aku," katanya angkuh pada satu kesempatan, "dan aku akan memastikan gelar itu terawat baik."
Gadis berikutnya memakai kimono biru tua. Warna yang sangat berani, berani untuk dipakai ke dalam acara selayak ini. Gadis lain akan memakai warna cerah, apa yang gadis ini coba katakan? Ia hampir selalu menunduk dan membuat Tetua Orochimaru menghampirinya untuk memerintahkannya agar mendongak. Setelah Tetua Orochimaru berbalik dan berjalan menjauhinya, aku melihat ia gemetar. Aku mengira ia akan meledak, tapi tidak. Ia menarik tangan Tetua Orochimaru, membuat seluruh jiwa di ruangan terkesiap kejut. Ketika mata pucat Tetua Orochimaru seperti sudah akan melompat dari soketnya, gadis yang mewakili klan Hyuuga itu berkata lembut,
"Hamba tidak ingin tuan menginjak binatang kecil di bawah sana..."
-
-
A Naruto romance/drama serial fanfiction by Yvne F.S. Devolnueht
KIMONO
WARNING
AU
OOC
OC
Summary:
Dan satu tamparan didaratkan pada Jenderal Uzumaki dengan lepitan air mata Nona Hyuuga. A next-generation fic situated on the ancient ages. R&R, please?
-
-
"Ah.. Selamat malam, Yang Mulia...," Hinata memberi salam sopan.
Aku tersenyum. "Apa yang kau lakukan di sayap ini sebegitu larut?"
Hinata menatap mataku, memancarkan keindahan detail pucat miliknya. "Aku sedang mencari ilham untuk tugas Tetua Jiraiya pada panen berikutnya, Yang Mulia."
Kepalaku terangguk. "Literatur?"
Hinata menjawab ya dengan pelan.
"Aku juga berpikir begitu kuat saat mendapat tugas itu. Tidak mudah, memang...," aku menanggapi. "Tapi kalau boleh memberi sedikit dari yang kau cari sekarang, carilah sesuatu yang luar biasa dalam kesesatan umum."
Hinata menatapku penuh tanya. "Boleh hamba meminta lebih?"
Sekali lagi aku tersenyum. "Besok, pada fajar awal, kau pergilah ke desa petani di selatan Konoha. Di sana banyak hal yang bisa disebut luar biasa oleh bangsa kita."
Senyum gadis Hyuuga mengembang lebih. Mungkin ia mengerti? Atau hanya sekadar mengatakan sirat terima kasih?
"Baik, Yang Mulia. Hamba akan coba sesuatu hal yang telah diusul seorang Cantik Abadi..."
Aku memandang wajahnya yang tertunduk. Dan entah dari mana perintah itu melintas di kepalaku.
"Aku akan memerintahkan Jenderal Uzumaki menemanimu."
-
-
(Normal POV)
-Sayap Utara Kerajaan-
"Sudah siap, Nona Hyuuga?" seorang pria dengan rambut pirang mencolok tersenyum ramah pada gadis di hadapannya.
Hyuuga Hinata, seorang calon selir yang dihormati karena kelembutannya masih menunduk. Ia hanya mengangguk memberi tanda mengiyakan. Tetap, hati lembutnya tidak mengizinkan kaki-kakinya menginjak makhluk kecil yang tidak semua orang perhatikan atau bahkan peduli.
Pria pirang tertawa kecil. "Baik, silahkan Nona Muda."
Pintu ke sebuah kereta tradisional terbuka oleh tangan kekar sang pria. Hyuuga Hinata, menjadi selir yang sedang diperhatikan pada umumnya, naik perlahan dengan keanggunan yang mengalahkan angin musim dingin.
Wajahnya masih menunduk ketika kereta itu mulai bergerak maju.
-
-
-Kamar Kebesaran-
Ketika ada masanya bunga sakura mekar, membawa senyum pada anak-anak di negeri Api itu, ada saja beberapa wajah yang muram. Terlipat kusut dan membawa amarah pada tiap lipatannya.
Di sanalah duduk seorang wanita yang terkenal akan kecantikannya, berlapis kimono dengan unsur ukiran kayu berwarna hijau terang melapisi putih yang indah. Sesekali lingkaran-lingkaran yang dibuat oleh ahlinya tumpang tindih menghiasi ujung-ujung kain sutra itu. Sang Ratu, pemimpin wanita yang kini mulai kehilangan personanya.
"Aku sudah dengar, ia tidak sempat memberi beras pada lelaki manapun. Mizuagenya(*) tidak terjual."
"Apa kau buta?!" hentak seorang lagi wanita di ruangan itu. Ia memakai jubah tebal dan panjang dengan tulisan kehormatan di punggungnya-- ia seorang tetua. Jika ada satu tetua yang berani menghentak Sang Ratu, maka seluruh telunjuk akan mengarah pada Tetua Tsunade. Pengasuh, penjaga, serupa kakak dan ibu bagi Sang Ratu masa kecil. "Ia seorang Yamanaka!"
Uchiha Sakura mengangkat kepalanya. "Tidak semua Yamanaka berakhir di teater atau berkeliling kota mencari Danna-nya."
Tsunade menatap dengan nafas menderu. "Ia seorang geisha, Sakura. Tidak ada yang bisa menyangkal fakta itu."
"Aku akan mengulang perkataanku, ia tidak pernah memjual mizuagenya pada siapapun. Panggilan kerajaan membuatnya berhenti dari hidup masa lalunya." Sakura berujar tegas.
"Apa jaminannya, Sakura?"
Kali ini, Sang Ratu hanya diam memandang mata kecoklatan milik pemberi hidupnya dulu.
"Apa kau adalah sahabatnya ketika ia masih bermain dengan kipasnya?? Apa kau ibunya??" Tsunade berjalan mendekati Sakura. "Orang-orang yang menyandang gelar itu bahkan belum tentu tahu kenyataan yang ada pada diri Yamanaka Ino...!!!"
Sakura menarik nafas panjang.
"Aku tahu apa yang terbaik untuk negara ini."
Tsunade menggelengkan kepalanya. "Apa?? Negara ini dipimpin oleh seorang penghibur?! Itu yang terbaik?!"
Rambut merah muda itu sedikit begemerincing karena tolehan cepat.
"Aku tahu yang terbaik adalah memberi pemimpin negara ini pendamping yang tepat."
Dan untuk kali ini, Tsunade diam.
-
-
-Daerah Selatan Konoha-
"Dan di ujung sana, dapat anda lihat perbatasan negara," Jenderal Uzumaki menunjuk dengan santai.
Wanita yang kita selalu segankan sebagai benalu hanya melihat tanpa memberi tanggapan sehelai apa.
Jenderal Uzumaki berusaha peluh tidak berhela lelah. Ia hanya memperhatikan kaki-kaki Nona Hyuuga yang beraliran corat-coret anak satuan usia tekuni Kanji. 'Aneh,' pikir Sang Jenderal lancang, 'Sakura pasti punya alasan kuat kenapa harus aku yang mengantar wanita ini.'
"Jenderal...," sebuah suara kecil membuat buah pikir curiga sederhana buyar dan--harus diakui--terkejut.
"Ya, Nona?" pemimpin keberlangsungan gemercik perang manjawab.
"Apa yang membuat desa ini begitu berarti bagi Sang Ratu...?" Nona Hyuuga bertanya tanpa delikan.
Pria pirang hanya tersenyum berapa mili waktu sebermula jawab.
"Kami biasa bermain di sini," jelas Sang Jenderal, "Aku, Sang Ratu, dan Yang Mulia."
Nona Hyuuga berpaling secepat keanggunan dapatkan. "Sang Ratu dan Yang Mulia...? Kau...?"
Kini tawa yang terdengar mengikuti serak pada ilalang yang teratur bermain muncul dari Sang Jenderal.
"Iya, aku, Sakura-chan, dan Teme. Kami teman bermain saat masih kecil dulu," Uzumaki dewasa memapar, "Sekarang masa itu telah lewat. Entah apa yang terjadi, waktu seakan berlalu terlalu cepat."
"Waktu...," Nona Hyuuga mengulang ucap sepatah.
"Iya. Waktu. Dan kejam, waktu juga sangat kejam. Hahaha...," jenderal itu tertawa kembali. "Entah kau peduli atau tidak, aku akan tetap mengatakannya. Kurasa Sakura-chan punya maksud tertentu menyuruhku mengawalmu ke sini."
Sepasang mata pucat itu menatap sedikit raung. "Kau tahu, Yang Mulia dan Sang Cantik Abadi punya suatu panggilan yang lebih hormat terdengarnya..."
Kali ini mata sebiru langit yang menatap panah terbalik. "Kau tahu, aku mengenal Raja dan Ratu itu seperti kakak dan adikku sendiri. Tidak pernah aku menyembah mereka. Di manapun, kecuali urusan kenegaraan. Dan kau tahu? Mereka tidak keberatan."
Nona Hyuuga menatap dorong Sang Jenderal. "Aku hormati mereka, aku ini...-"
"Orang baru," potong Sang Jenderal cepat dan sedikit sayat, "Kau tidak tahu apa yang kau lakukan."
Dan seperti ada peminta dan ada jalangnya, hanya aliran opini dari pendapat yang muncul di ekor.
"Saat ini, kau tidak lebih dari seorang pencuri. Seorang musuh dalam selimut. Haha...," Uzumaki dan tawa sinisnya. "Mungkin Sakura-chan bersikap baik padamu, tapi ia pasti merasa sakit saat orang-orang tidak berhati sepertimu masuk ke istana. Berlomba harap Teme melihat kalian."
Sepatah pembelaan hendak muncul dari Nona Hyuuga, "Aku tidak...-"
"Apapun pembelaan kalian, tetap tidak dapat menutupi kejahatan yang kalian tenun sendiri. Sakura-chan mencintai Teme seperti orang mabuk sake di musim dingin, kalian...," tatapan tajam itu beradu dengan yang pucat, "...hanyalah lacur."
Dan satu tamparan didaratkan pada Jenderal Uzumaki dengan lepitan air mata Nona Hyuuga.
-
-
Demi apa lah udah sejuta taun baru update. Hahaha. R&R, please...? :D
Invisible me, Yvne.
