Warning.. Boy x Boy. Alternative Universal. Dan mengandung MPREG. Tak lupa dibumbui sedikit OOC. Juga terdapat OC bernama Aoi Uchiha.
Rate.. M for Story, Implisit Lemon/Hentai and Rape.
Genre.. ANGST! ANGST! ANGST! Duileh.. saya lagi kejam terhadap pasangan yaoi terhebat sepanjang masa *evil smirk*
Pair.. SasuNaru dan SasuSaku.
Oke! Yang tidak suka dengan hal-hal di atas sebaiknya bergegas menekan tombol back! Dan camkan arti DON'T LIKE DON'T READ!
.
Liaison Amoureuse
By Alluka Niero
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Sasuke bergegas meninggalkan rumah sakit setelah mengetahui keadaan Naruto. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ia hanya lecet saja. Selebihnya hanya tekanan batin. Dokter menyarankan untuk membawa Naruto berlibur atau melakukan hal yang menyenangkan, namun.. Tidak ada waktu liburan bagi seorang Uchiha Sasuke. Lebih baik waktu senggangnya digunakan untuk melakukan hal yang menurutnya membahagiakan. Menemui wanita, ya wanita yang mengandung benihnya.
"Lama sekali.." wanita itu bergelayut manja di lengan pria tampan yang baru saja turun dari mobil.
"Maaf Sakura, Naruto masuk rumah sakit. Kau sih keterlaluan." Kata laki-laki itu santai.
"Jangan salahkan aku Sasuke! Aku juga ingin status yang jelas, aku tidak mau jadi wanita simpananmu terus-terusan!" Sakura mulai merajuk, ia melangkah masuk ke sebuah apartemen mewah di perbatasan Konoha dan Oto. Apartemen milik mereka berdua.
"Hn? Lebih baik kau menghiburku sekarang!"
Bibir-bibir mulai bersentuhan mencari kehangatan, tubuh titisan adam dan hawa saling mendekap erat. Berusaha untuk mengukir kenangan yang teramat manis. Seolah-olah seluruh kemesraan dan keromantisan Sasuke hanya diberikan untuk Sakura.
Sasuke salalu terlena, lupa diri jika sudah berada dalam kendali wanita itu. Wanita yang begitu agresif, manja, caranya mencumbu yang liar juga cara memberi kepuasan pada Sasuke memang luar biasa. Tanpa terasa pakaianpun sudah ditanggalkan, tubuh Sakura mengeliat. Tidak sabar menerima kehadiran Sasuke. Pahanya yang ramping membuka lebar saat sebuah benda keras menerobos masuk. Mereka terus berlomba dengan gerakannya masing-masing.
Sasuke terus mendesah, pelayanan Sakura menerbangkannya lebih jauh dari yang didapat ketika meniduri Naruto. Lenguhan semakin keras terdengar saat ia kembali menumpahkan sari dirinya dalam rahim Sakura.
Tidak sampai di situ, gerakan berulang namun berirama ini terus berjalan sekalipun mereka telah melambung, seluruh kepuasan bermuara di ranjang dalam permainan yang erotis. Sampai akhirnya mereka terkulai setelah mencapai puncak entah yang keberapa kalinya.
--o--o0o--o--
"Ayolah Naruto, kau harus makan, lalu minum obatmu.." Iruka kehabisan akal, isi dari piring yang dipegangnya tidak berkurang sedikitpun.
Naruto tidak bergeming, sejak keluar dari rumah sakit kemarin bibirnya terus bungkam, pandangannya kosong. Aoi yang menangis di sampingnya juga tidak dipedulikan. Bocah kecil itu terus menggoyang tangan Naruto tapi tidak ada balasan. Telinganya memang tidak tuli, ia mendengar tapi tidak tahu harus memperlakukan putranya seperti apa.
"Kaasan.. Kaasan.." panggil Aoi pilu, "Tousan tidak ada.. Kaasan.. Jawab Aoi.. Kaasan.." tangan mungil ini bergerak menggenggam ujung kemeja Naruto erat.
"Iruka, bawa Aoi pergi.. Aku tidak tahan lagi!" Kakashi miris melihat pemandangan ini. "Sasuke sialan itu, harusnya aku tidak membiarkannya saat memergokinya beberapa bulan yang lalu."
"Kau sudah tahu?" Iruka memandang Kakashi sejenak sebelum melangkah untuk mendekati Aoi.
Pegangan Aoi terlalu erat, ia tidak mau jauh dari kaasannya, ia tidak mau kasaannya mengacuhkannya. Tangis yang tadi sama sekali belum berhenti, teriakan kecilnya semakin memilukan. Dibaringkan kepalanya di pangkuan Naruto yang tidak terusik, tetap duduk tenang bagai raga tanpa nyawa. Namun bulir bening juga mengalir pelan dari mata biru langit milik Naruto. Pandangannya yang mengarah keluar jendela mengabur, tapi cukup jelas untuk menangkap mobil Sasuke yang masuk melewati gerbang.
Kakashi yang sudah panas dari tadi bergegas keluar, niatnya ingin menyambut laki-laki yang mengemudikan Lamborgini hitam itu dengan pukulan tepat di wajah. Kalau perlu menghajarnya sampai mati. Sayangnya Kakashi harus mengurungkan keinginannya. Bukan Sasuke yang muncul melainkan wanita berambut pink.
"Kau?!" kata Kakashi geram.
Sakura hanya tersenyum kecil, "Aku tidak ada urusan dengan supir sepertimu." tanpa melihat Kakashi, Sakura memasuki rumah langsung menuju kamar utama, kamar Sasuke dan Naruto.
"Mau apa kau kemari wanita murahan?!" Iruka juga tidak dapat menahan emosi, Aoi yang berhasil digendongnya memandang Iruka dengan heran.
"Tante ini siapa, Ruka-san?" tanyanya polos.
Mendengar itu Iruka melangkah meninggalkan ruangan. Tidak baik untuk kejiwaan Aoi, tentu saja, Aoi akan tumbuh dalam kondisi keluarga tidak sehat. Iruka tidak bisa membayangkan akan menjadi apa Aoi kelak jika Naruto tidak memperdulikannya.
-
Mata Naruto yang awalnya kosong bereaksi atas kedatangan Sakura, "—Ada yang ingin kau sampaikan padaku, Sakura?"
"Sekarang saatnya jika kau ingin menangkap basah Sasuke, dia di apartemenku. Lihat, mobilnya saja aku yang bawa!" kata Sakura bersemangat.
Naruto diam, tetap saja sulit dipercaya Sasuke mampu berubah sekejam itu. Ia tega meninggalkan dirinya di rumah sakit, tidak memperdulikan putranya hanya demi mengejar kepuasan napsunya sendiri.
"Ayo Naruto, kau harus membuktikan sendiri. Dengan begitu kau percaya kalau aku tidak mendustaimu!" Sakura masih bersikeras.
Napas Naruto bagai terhenti sejenak, kepalannya sakit, sekujur tubuhnya mulai gemetar dan jantungnya berontak tidak terkendali. Masih tidak tahu harus mengatakan apa, kecuali merasakan sedih dan hati yang semakin tersayat.
Merasa menang, Sakura melanjutkan dengan tidak sabar. "Kenapa diam Naruto? Kau tidak mau ikut bersamaku? Kau mau begini saja? Kau sudah diperlakukan tidak adil Naruto!" desaknya semakin menjadi.
Sekali lagi Naruto hanya menatap Sakura dengan wajah yang tegang serta pucat. Tentu ia ingin menjebak suaminya, tapi kemudian ia menggeleng.
"Eh?" Sakura heran melihat Naruto yang menolak, "Kau tidak mau ke sana? Kenapa? Ini bukti nyata seperti yang diminta oleh Sasuke."
"Aku tidak perlu membuktikan apa-apa lagi. Cukup dari pemberitahuanmu ini aku sudah percaya." jawab Naruto tenang. "Kalau kau menginginkan Sasuke.. Ambil saja!" lanjutnya penuh ketegasan.
"Paling tidak kau sudah melihatnya, jadi Sasuke tidak akan memojokkanmu lagi!"
Naruto hanya tersenyum getir, berusaha menahan dirinya untuk tidak meneteskan air mata. Setidaknya jangan sampai ia menangis di depan Sakura. "Aku akan menunggunya untuk mengatakan langsung kepadaku. Jika dia ingin menikahimu juga terserah."
"Tapi—"
"Sudahlah Sakura! Sebaiknya kau pulang!" Naruto berteriak, tangannya menuding pintu.
Setelahnya hanya ada suara tangis dalam kamar yang terkunci rapat.
"Sasuke.. bagaimana bisa.." isak tertahan mengiring rintih pedih Naruto.
Naruto yang begitu mempercayai Sasuke. Bahkan ia tidak tahu apa salahnya. Dan Sakura, ia tidak tahu harus menaggapi seperti apa. Mustahilkan jika Sasuke tidak mengetahui kalau wanita itu menyerangnya? Tidak mau berpikir lebih jauh lagi, Naruto jutuh terduduk dan semakin merapat ke dinding saat suara Kakashi dan Iruka memanggilnya dari luar. Terlalu lelah ia memejamkan mata, perlahan kesadarannya hilang.
--o--o0o--o--
"Dia sudah bangun?" Kakashi bertanya saat memasuki pintu kamar Naruto yang semalam didobraknya.
"Ya, aku akan membawa Aoi ke rumah Deidara saja. Diasuh pamannya jauh lebih baik daripada di sini." Iruka menatap Naruto sendu.
"Ti.. dak.." suara Naruto terdengar parau, "Jangan, Aoi harus tetap bersamaku.. Sasuke kecilku.. Putraku.."
Bingung menanggapi, Iruka hanya bisa menoleh Kakashi.
"Kalau kau ingin Aoi, kau harus tegar Naruto." kata Kakashi, "Kau—"
BRAAKK!
"Sa—Sasuke?" Iruka menatap pria yang mendorong pintu kamar dengan keras, sosok emo itu berdiri di depan pintu kamar dengan pandangan nyalang. Detik berikutnya Iruka memutuskan keluar, memberi waktu Sasuke dan Naruto untuk berbicara baik-baik, mungkin..
"Aku hanya mampir untuk mengambil baju!" kata Sasuke acuh.
"Kenapa.." Naruto bangkit, mencengkeram kerah baju Sasuke kasar. "Kau tidak mencintai aku lagi? Kenapa Sasuke?!"
Sasuke menghempaskan Naruto ke ranjang. "Berisik! Ini akibatnya karena kau tidak percaya padaku!"
"Percaya? Percaya pada apa?! Kau—" tangis Naruto kembali pecah, pundaknya berguncang, bajunya yang sedikit tersibak di bagian pinggang membuat darah Sasuke berdesir.
Tanpa kata-kata Sasuke menerjang tubuh Naruto, merobek bajunya dengan kasar. Dibungkamnya bibir mungil Naruto dengan ciuman kasar, mengintimidasi. Berontak Naruto menendang perut Sasuke lalu mencoba kabur, sayang sekali pintu telah dikunci, akal bulus Sasuke tidak tertembus.
Tarikan keras disertai tamparan merobek bibir Naruto, darah yang mengalir dijilat penuh nikmat. Kegilaan Sasuke semakin menjadi melihat tubuh Naruto yang gemetar, meronta ingin bebas. Dilemparnya tubuh tidak berdaya itu ke ranjang. Tangannya ditahan di atas, wajah Naruto dijilat pelan. Mencicipi rasa apapun yang dapat ditangkap oleh indra perasa.
"Keluarkan suaramu! Merintih! Melenguhlah untukku!!" setiap keinginan Sasuke yang tidak terlaksana menjadi sebuah pukulan. Pipi Naruto memerah, memar kerena hantaman telapak tangan yang berulang. Dan jerit kesakitan Naruto merupakan kenikmatan bagi Sasuke.
Lidah kembali menelan rasa, dari leher bergerak semakin turun, hanya untuk membuat tubuh Naruto terluka lebih banyak. Setiap tempat yang dianggapnya menarik akan disayat. Ia meremas milik Naruto tanpa perasaan, hanya untuk mendapatkan geliat tubuh yang menahan sakit.
Rektum yang terkoyak terus mengeluarkan cairan merah. Sasuke tidak peduli, ia terus menerobos jalan yang licin karena darah. Sekalipun tubuh yang disiksanya telah diam, Sasuke terus bergerak liar.
Tidak ada rasa nikmat yang dirasakan Naruto, rasa sakitpun juga menguap, agaknya sakit yang terlalu berlebihan bisa menyebabkan mati rasa, sekarang ia mengalaminya. Mata biru itu memandang kosong, lurus ke wajah Sasuke yang terlihat puas. Puas? Belum saatnya, Sasuke membalik tubuh Naruto untuk tengkurap, ditindih dari belakang. Rambut pirangnya dicengkeram dan ditarik agar wajah mereka berhadapan.
"Balas ciumanku! Setan!" kata Sasuke frustasi. Ia menerobos masuk kembali, membuat darah serta cairan putih yang bercampur semakin banyak terlihat, menodai bed cover ranjang mereka. Penolakan tubuh Naruto membuat Sasuke mengerang marah. Anus yang harusnya semakin elastis tapi tidak ada perubahan. Ia menggeram, mendorong tubuh Naruto ke lantai. Dipaksanya Naruto untuk mengulum kebanggaannya. Dijejalkan benda berlumuran darah itu ke mulut Naruto dan dengan kasar kepalanya digerakkan.
Siapa? Siapa yang menjadi setan di sini? Orang yang hilang kendali itu? Apa pria malang yang dipaksa untuk melayani keputus-asaan? Mata sang setan terpejam. Tidak lagi menikmati saat Naruto melakukan keinginannya dalam diam, membersihkan sesuatu yang bukan hanya dipersembahkan untuk 'istri'nya itu.
"Hentikan!" bentak Sasuke.
"Kenapa? Tidak puas? Kenapa meniduriku kalau begitu?" Naruto membalas. Dipaksanya untuk berdiri, meski bagian belakangnya tidak hanya sekedar sakit.
"Tutup mulutmu!" Sasuke bergerak cepat, mengganti bajunya dengan baju kantor. Tanpa buang waktu dia bergegas pergi, meninggalkan luka yang semakin menganga di hati Naruto.
-
Gemercik air shower menerpa tubuh ringkih, lalu terjun ke lantai keramik. Sedikit darah ikut luruh bersama genangan air. Ia bersandar di dinding menikmati dinginnya air yang menusuk tulang, rasa perih dari kulit yang robek ikut menambah bias kerapuhannya. Semua ingatan tentang masa indah bersama Sasuke tergambar jelas bersama tetes air mata yang terus menganak. Hatinya selalu mencelas jika ingat semua keindahan itu sudah gugur, lebur bersama waktu. Walaupun ia tahu tidak ada yang abadi, cinta pun pasti akan berakhir. Tapi bukan seperti ini yang diinginkannya, kematian yang harusnya memutuskan hubungannya dengan Sasuke, dan ia masih yakin di kehidupan selanjutnya pun Sasuke akan tetap bersamanya. Tidak berlebihan bukan?
Tatap dipaksa tubuh dan jiwanya untuk lebih kuat, meskipun hal itu akan menjadi sebuah kebodohan. Setidaknya dukannya tidak boleh berlarut. Aoi.. Ya, ada Aoi yang masih membutuhkannya. Saat itu ia sadar, segara meraih piyama dan menuju kamar putranya dengan tergesa.
"Naruto?" Iruka terbelalak melihat wajah Naruto yang lebam.
"Aoi?" lupakan fakta kalau tubuhnya terluka, Aoi jauh lebih penting.
"Dia demam. Belum ada tanda panas tubuhnya akan turun." Jelas Kakashi yang baru mengganti kompres.
Naruto mendekat, memeluk putranya yang terbaring pucat. "Panggil taksi, ambulan, atau apapun yang bisa membawanya ke rumah sakit!"
--o--o0o--o--
Sakura memutuskan untuk membolos kerja, kekayaan Sasuke sudah lebih dari cukup walaupun kekasihnya itu bukan menduduki posisi utama di Sharingan corp. Ia memilih bersantai di sofa mewah apartemennya sembari menunggu kedatangan Sasuke.
Angannya melayang, ia sebenarnya kasihan pada Naruto. Biar bagaimanapun mereka dulu bersahabat. Tepatnya mereka bertiga, bersama Sasuke. Tapi dilain piphak Sakura juga tidak mau kehilangan Sasuke, banyak cara yang telah dilakukan agar pria pujaannya itu tunduk. Ia menjebak Sasuke agar tetap mencintainya.
Sakura jatuh hati pada Sasuke bukan baru-baru ini saja, tapi sejak mereka masih di sekolah menengah. Ia tahu kapan Sasuke dan Naruto menikah, ia juga tahu sejak kapan mereka berpacaran. Hanya saja Sasuke tidak pernah mengerti kalau Sakura diam-diam mencintainya. Saat itu ia memang tidak terima kalau Sasuke gay. Tapi apa boleh buat, ia akhirnya merelakan pria yang dicintainya menikahi Naruto.
Sekitar enam bulan yang lalu Sakura bertemu dengan Sasuke secara tidak sengaja, Sharingan corp menjalin kerjasama dengan Hebi corp. Sebagai sekretaris di perusahaan terbesar di Oto tersebut, tentu saja Sakura mendampingi direktur utama untuk mengahadiri pertemuan yang diadakan di Konoha. Dan setelah rapat selesai, saat itulah semua dimulai. Awalnya hanya basa-basi biasa, mengobrol di restoran. Sampai akhirnya Sakura kembali tertarik dengan sosok di hadapannya yang jauh lebih memukau dari beberapa tahun silam. Cintanya bersemi kembali.
Menurutnya saat itu Sasuke begitu memperhatikannya, cara pandangnya juga berbeda, kadang memang sedikit nakal. Beberapa kali pertemuan, ditunjang telpon yang setiap hari berdering yang berbuntut obrolan panjang. Mereka akhhirnya berkencan, tersembunyi. Memanfaatkan keremangan kamar hotel disela jam makan siang yang menjadi berlarut.
Tipuan mulai dilancarkan, siapa yang tidak mengenal Sakura? Sekretaris two in one? Direktur berduit bisa membookingnya kapan saja. Namun ia berhasil memperdaya Sasuke yang tampaknya tidak tahu apa-apa tentang dirinya itu, ia berhasil membuat bukti seolah-olah masih virgin. Lalu ia merasa dirinya sangat murahan, ia sadar akan kekeliruanya. Dan untuk menutup harga dirinya kembali ia harus memiliki Sasuke seutuhnya. Sakura ingin dinikahi Sasuke. Memang bukan hal mudah mengingat Sasuke adalah pria ber'istri'. Dan mustahil Sasuke mau menceraikan Naruto secara baik-baik. Karena itu, ia memutuskan bertindak.
Apa boleh buat, Sakura merasa kalau dirinya memang harus menghancurkan keluarga Sasuke terlebih dahulu. Maka ia berbohong tentang kehamilannya, ia tidak ada jalan selain merusak hubungan Sasuke dan Naruto. Sakura tahu jalan yang dipilihnya tidak benar. Tapi mau apa lagi jika cinta terlanjur memasung.
Sakura menghela napas, ia tetap berharap masa depannya dengan Sasuke akan cerah.
"Kenapa melamun Sakura?"
"A... Sasuke sudah pulang, langsung dari kantor?" tanya Sakura riang sambil memeluk lengan Sasuke.
"Hn." Sasuke tersenyum sekilas. "Kau tadi tidak ke kantor?"
"Hmm.." Sakura mengangguk, masih bergelayut di lengan Sasuke.
"Ya sudahlah. Aku lelah.." lengan Sasuke melingkar di pinggang Sakura, membelai perut Sakura sekilas. "Aku ingin anak perempuan.."
"Iya, aku yakin kau akan mendapat apa yang kau inginkan Sasuke!" Sakura berbalik, tangan dan gerak tubuhnya memanja Sasuke, tanpa buang waktu ia membawa Sasuke ke dunia mereka sendiri.
--o--o0o--o--
Naruto duduk termenung seorang diri di samping tempat tidur putranya yang masih terbaring lemah, dokter memang mengatakan kalau keadaannya parah. Itulah yang membuat Naruto semakin terpukul.
"Naruto, sebaiknya kau pulang dulu. Istirahatlah dirumah, sudah dua hari kau terus-terusan di sini. Biar aku dan Kakashi yang menjaga Aoi." kata Iruka yang baru saja datang.
Naruto menggeleng kemudian mengajak Iruka keluar, "Apa Sasuke pulang?"
"Tidak, kau tidak menghubunginya?" lanjut Iruka.
Sekali lagi Naruto hanya menggeleng, "Harusnya dia tahu sendiri kalau putranya sakit! Aku tidak sudi menghubungi orang seperti dia." Naruto duduk di sofa tunggu. Pikirannya semakin kacau. Sampai dia melihat pria berambut panjang mendekatinya.
"Naruto?" tanya pria itu, "Aku datang diminta Deidara-san."
"Eh?" Naruto menatap Iruka, "Kau menceritakan masalahku pada Deidara-niichan?"
Iruka tersenyum kemudian mengangguk, "Aku mau menjaga Aoi, kalian ngobrol saja."
-
"Begitulah, Neji.." Naruto mengakhiri ceritanya, ia menyeka butir bening yang mengalir dengan sendirinya.
"Sasuke itu bodoh! Jelas dia tidak tahu Sakura. Makanya bisa terjebak!" kata Neji ketus.
"Apa maksudmu?"
"Sakura itu wanita panggilan Naruto, Sai pernah membookingnya. Sai sendiri yang menceritakannya langsung padaku." jelas Neji diiringi ekspresi mual. "Tapi sudahlah, lupakan saja Sasuke itu. Tidak mungkin membangun hubungan kembali dengan dasar yang sudah runtuh kan?"
"Entahlah," Naruto tersenyum hambar, "Beruntung Gaara memiliki orang sepertimu."
Neji tertawa, ia memandang lurus ke depan, "Benar tidak? Sayang?"
"Beruntung dari mana?" terdengar suara rendah di belakang Naruto, "Seandainya bisa memutar waktu aku akan menolak untuk menikah denganmu!"
"Ga—Gaara?" Naruto berdiri dan memeluk sahabatnya itu erat.
Kedatangan dua pria itu dapat sedikit membuat Naruto lebih tenang, walaupun sahabatnya ini tetap memandang aneh pada Naruto. Bagaimana tidak, Naruto jelas mengatakan Sasuke yang pertama dan terakhir, ia tidak akan berpaling walaupun Sasuke telah berpaling. Berakhir memang keinginan Sasuke, tapi ia sama sekali tidak menghendaki hal itu. Selamanya hanya Sasuke yang akan ada di hatinya, dan sedikitpun tidak ada niat untuk mengganti posisinya dengan orang lain.
"Kau memang terlalu bagus untuk Sasuke!" ucap Gaara singkat.
"Bukan, mungkin aku yang terburuk." lanjut Naruto lirih. Kemudian ia melihat Iruka keluar dari ruangan Aoi dengan panik. "Iruka? Ada apa?"
"Aoi, dia kejang. Aku sudang memanggil dokter.." wajah Iruka memancarkan kecemasan yang sebanding dengan kecemasan Naruto.
"Minggir!!" dokter wanita dikuncir dua ini tergesa masuk kamar rawat inap Aoi, beberapa perawat mengikutinya. Naruto ingin menyusul tapi Kabuto menahannya.
"Naruto-kun, biar dokter Tsunade menagani Aoi, kau tenanglah. Aoi pasti baik-baik saja." Perkataan Kabuto tampaknya didengarkan oleh Naruto.
"Kabuto!" Tsunade keluar dari kamar, "Siapkan ruang ICU!"
Dengan sigap Kabuto menuntun jalan bagi perawat yang memindahkan Aoi. Bocah kecil ini nyawanya terancam, tampaknya malaikat maut sudah berjaga. Tapi.. Tsunade menantang malaikat itu, bisa dibilang Aoi ada karena campur tangannya. Ia tidak akan membiarkan bocah manis ini meregang nyawa.
"Dokter!" teriak Naruto, "Apa? Sebenarnya Aoi sakit apa?"
Tsunade menepuk pundak Naruto pelan, kemudian bergegas mengejar Kabuto.
--o--o0o--o--
À Suivre..
--o--o0o--o--
Huwa... Kak Ai, aku gagal, sulit sekali membuat scene sedih! T.T *pundung di pojokan*
Dan jangan bunuh aku Naruto FG *langsung kabur*
.
Thanks for all reviewer, dari dulu sampai sekarang kalian semua tetap penyemangatku! Arigato...
Berkenan review lagi?
