ANGST. SasuNaru, SasuSaku. MPREG, OC bernama Aoi Uchiha, dan cerita yang bertema dewasa.

Oke! Yang tidak suka dengan hal-hal di atas sebaiknya bergegas menekan tombol back! Dan camkan arti DON'T LIKE DON'T READ! Ngamuk setelah membaca? Resiko Anda sendiri.

Sebenarnya saya berencana tidak akan kembali ke fandom ini, tapi karena IFA (Indonesia Fanfiction Awards) menobatkan fic ini sebagai The Best Angst/Tragedy. Saya harus bertanggungjawab. T_T

Dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pembaca, serta yang telah memberikan poling pada fic ini. Juga terima kasih kepada Ambu yang telah memberi semangat untuk mempublish chapter tiga.


Bocah kecil dengan nyawa yang terancam, tampaknya malaikat maut sudah berjaga. Tapi.. Tsunade menantang malaikat itu, bisa dibilang Aoi ada karena campur tangannya. Ia tidak akan membiarkan malaikat mungil ini meregang nyawa.

"Dokter!" teriak Naruto, "Apa? Sebenarnya Aoi sakit apa?"

Tsunade menepuk pundak Naruto pelan, kemudian bergegas mengejar Kabuto.

.

-o-o0o-o-

Liaison Amoureuse

By Niero

Naruto © Masashi Kishimoto

-o-o0o-o-

.

"Aoi.. dia akan cacat permanen, demamnya yang berlebihan menyebabkan kelumpuhan."

Kalimat yang meluncur perlahan dari bibir Tsunade meruntuhkan dinding kekuatan mental Naruto yang susah payah dibangunnya. Ia jatuh terduduk, penjelasan lanjutan dari dokter kepercayaannya itu tidak dapat ditangkap oleh telinganya. Aoi selain akan lumpuh, fungsi jantung dan paru-parunya tidak stabil. Bagaimanapun juga Aoi adalah hasil kehamilan yang tidak normal, wajar jika tubuhnya mengalami berbagai kelainan terlebih organ-organ dalamnya. Berbagai alat penunjang kehidupan memang sudah dipasangkan, namun belum ada jaminan anak itu akan bertahan.

Apakah Naruto bodoh jika saat ini ia mengharap Sasuke ada di sisinya? Memeluknya. Ia ingin bersandar di dada suaminya. Terlalu berat beban yang ditanggungnya sampai berdiripun ia tidak mampu. Meskipun ia merasakan ada tangan-tangan yang memeluknya, ada Deidara yang memberi kekuatan, Neji, Gaara. Tetap saja ia tidak mampu, bahkan untuk menangis pun sudah tidak kuat. Airmatanya telah habis.

"Aku harus bagaimana?" gemetar, Naruto berusaha bertanya tapi tidak ada yang menjawabnya, sabar bukan jawaban. Ini sudah keterlaluan jika disebut cobaan, ujian hidup yang datang bersamaan. Tidakkah ini terlalu kejam?

Dan di mana Sasuke sekarang? Apakah ia tidak merasakan? Putranya terbaring sekarat, ia masih bisa bersenang-senang.

-

Rambut maroon dengan wajah sedingin es, tanpa ekspresi walau ia datang untuk menantang.

"Di mana Sasuke?" tanyanya.

"Sasori, ya? Kakak ipar Naruto?" Sakura tetap menjaga keanggunan yang di mata Sasori itu sia-sia.

"Di mana?" ulang Sasori dengan tatap mata yang semakin tidak bersahabat.

"Sayang sekali dia tidak ada. Kalau ada pesan katakan saja padaku, nanti aku sampaikan."

"Anaknya di Rumah Sakit. Aku tidak mau ikut campur dalam masalah kalian, tapi ini menyangkut darah daging Sasuke!" Sasori tidak mau berlama-lama, ia harus segera ke kantor dan tentunya melihat keadaan Aoi. Setelah mengatakan maksudnya ia langsung angkat kaki dari apartemen itu.

Sakura menghela napas berat. Ia bingung harus mengatakan hal ini pada Sasuke atau tidak. Sedikit hati nuraninya memang menggerakkan untuk berbelas kasihan kepada Naruto. Namun dilain pihak Sakura khawatir jika Sasuke sampai tahu, kekasihnya itu pasti akan memusatkan perhatian pada Aoi, lalu mengabaikan dirinya, kemungkinan terburuk adalah rujuk dengan sang 'istri'. Ia tidak mau itu terjadi.

"Akhir-akhir ini kau sering melamun, ya?" Sasuke melempar tubuhnya ke sofa, matanya mengamati Sakura yang masih terdiam.

"Apa? Kapan kau masuk rumah, Sasuke?" tanyanya bingung.

"Kau memikirkan apa? Sampai kedatanganku saja tidak tahu. Jangan membuatku tambah stress, Sakura."

"Ya?" cepat Sakura memulihkan keceriannya.

Sasuke menghela napas, "Aku tadi pulang, rumah kosong, benar-benar kosong."

"Kenapa kesal? Mungkin saja Naruto menginap di mana gitu, atau jangan-jangan malah kabur dari rumah?"

"Cih, memang kurang ajar Naruto itu. Rumah ditinggal begitu saja. Dia tidak menghargai jerih payahku, apa pedulinya jika rumah sampai dibongkar pencuri." Sasuke semakin emosi sendiri.

Sakura tahu kalau Sasuke terlalu mengada-ada, kekasihnya itu memang memojokkan dan menyalahkan Naruto. Tapi memang ini yang dikehendakinya, Sakura suka jika Sasuke semakin membenci Naruto. Selain itu, berarti Sasuke belum tahu kalau Naruto dan Aoi di rumah sakit. Ini sangat menguntungkan.

Dan Sakura telah memutuskan kalau ia tidak akan memberitahukan hal tersebut pada Sasuke. Ia ingin menikmati malam ini sepuas-puasnya, ingin meraup kehangatan dari diri Sasuke.

Lalu bagi Sasuke sendiri tidak ada hal yang memusingkan, ia yakin Naruto tidak akan protes jika ia menikah lagi. Bahkan ia merasa mempunyai bahan untuk menyudutkan Naruto jika bertemu nanti. Setidaknya untuk saat ini ia lupa akan 'istri'nya, karena Sasuke telah terbuai akan kenikmatan yang belum jelas masa depannya, tenggelam semakin dalam dan akhirnya terlelap dalam buain Sakura.

"AOIII..."

Nafas Sasuke memburu, ia terbangun tiba-tiba. Matanya masih nanar memandang lurus ke depan, berusaha mengamati sekeliling dan menyadari tubuh Sakura yang terbaring di sebelahnya. Tubuhnya dan tubuh Sakura masih sama-sama polos, mengingatkan akan apa yang mereka perbuat sebelum tidur.

Disekanya keringat yang membasahi kening dan leher dengan ujung selimut, ia bangun, tangannya bergerak meraih pakaian yang tercecer. Sasuke mengenakannya tergesa, sampai membuat Sakura terjaga dan memandangnya dengan kening berkerut.

"Sasuke? Mau ke mana? Kenapa berpakaian rapi begitu?" ikut bangkit, Sakura melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Mencari Aoi!"

Sedikit mengernyit, Sakura agak berdebar kaget. "Mencari Aoi? Ini sudah lewat tengah malam, Sasuke. Memangnya ada apa?"

Sasuke duduk di tepi ranjang, mencengkeram rambutnya sendiri membuatnya semakin terlihat berantakan, "Aku bermimpi Aoi meninggal—" ia menarik napas, memberi jeda untuk melanjutkan kalimatnya kembali, "—dan aku tidak mengetahuinya sampai dia dibawa ke makamnya."

Sakura semakin terperangah, ia menelusuri wajah Sasuke yang bertambah tegang. Pikirannya melayang ke Naruto dan Aoi yang terbaring di rumah sakit, khawatir kalau mimpi Sasuke sedang benar-benar terjadi saat ini.

"Kenapa kau sampai tidak tahu kalau anakmu meninggal, Sasuke?" Sakura menyahut, sekedar menimpali dari perkataan Sasuke.

"Saat itu aku sedang bersama dengan seorang wanita—tapi bukan kau, entahlah tidak jelas."

Menghela napas, Sakura semakin cemas. Menurutnya mimpi Sasuke bagai nyata. Tapi ia urung untuk menceritakan tentang Aoi, Sasuke pasti marah karena ia telat menceritakan masalah ini. Dirasanya lebih baik didiamkan, biar Sasuke tahu dengan sendirinya.

"Kau percaya dengan mimpi?" lanjut Sakura berbasa-basi.

"Tidak—tapi entah kenapa aku benar-benar cemas sekarang—" Sasuke berdiri, berjalan ke lemari es yang ada di sudut kamarnya. Mengambil sekaleng softdrink, dan ditenggak sampai isinya tinggal separuh.

"Mungkin kau merindukan Aoi, atau justru Aoi yang rindu padamu, Sasuke. Jadi, kau memimpikannya."

Wajah Sasuke semakin kusut, "Benar, Aoi pasti mencariku. Dia pasti heran kenapa aku tidak pernah pulang." Ia menutup wajahnya dengan tanggannya sendiri, "Aku benar-benar khawatir. Aku harus mencarinya sekarang, Sakura."

Dengan gerak cepat Sakura memegang lengan Sasuke, "Jangan pergi, ini terlalu larut. Lagipula mimpi itu biasanya kebalikan dari kenyataan."

"Maksudmu?" tanya Sasuke, ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Sakura.

Sakura memutar matanya, sedikit berpikir tentang mitos lama, sebisa mungkin ia harus menahan Sasuke. "Kau tidak pernah dengar ya, Sasuke? Jika kau memimpikan Aoi meninggal, kemungkinan putramu itu sehat-sehat saja dan akan berumur panjang."

"Aku harus memastikannya, Sakura!" Sasuke bersikeras, mengibaskan tangan Sakura. "Aku akan mencarinya sekarang,"

"Ke mana? Katamu tadi mereka tidak ada di rumah."

"—Deidara, mereka pasti di sana!" Sasuke mengambil kunci mobilnya, berjalan tergesa tanpa menghiraukan Sakura yang menggerutu kesal.

Sakura sedikit tersinggung, ia merasa tidak lebih dari sekedar cadangan. Walaupun Sasuke selalu mendahulukan dirinya daripada Naruto, tapi tetap saja ia belum menjadi yang utama.

"Tunggu, Sasuke!" Sakura meraih piyama, memakainya asal dan mengejar Sasuke yang sudah hampir membuka pintu apartemen. "Katanya kau akan membuktikan padaku tenang apa yang kau katakan padaku kemarin?"

Paham akan maksud Sakura, Sasuke berbalik menghadap wanita di belakangnya. Ya, memang benar, ia tahu kalau Sakura memang menginginkan dirinya dan Naruto segera bercerai. Apapun yang dilakukan Sakura, setiap baris kalimat yang diucapkan Sakura pada Naruto, Sasuke mengetahuianya dan menyetujui rencana licik itu.

Sasuke telah masuk begitu dalam pada rengkuhan Sakura. Membuatnya terus lupa diri, dan tidak bisa mencegah apa yang diperbuat perempuan ini pada keluarganya. Sepanjang itu aman untuk dirinya, Sasuke akan terus memberikan tanda setuju.

Walaupun Sasuke kadang merasa menyesal, merasa bersalah pada Naruto dan Aoi, namun ia sudah kepalang basah. Mundur—yang didapat justru kehancuran, dan ia tidak memperoleh apapun. Jika Sakura sampai melaporkan semua kelakuannya ini pada ayahnya dan Itachi, hak kepemilikan saham dan warisan akan musnah, bahkan tidak menutup kemungkinan ia akan dicoret dari silsilah keluarga Uchiha. Dan untuk menjaga itu, ia menyudutkan Naruto. Seolah-olah semua adalah salah Naruto.

"Aku memang sudah merencanakan sesuatu." kata Sasuke setelah terdiam beberapa saat.

"Menceraikan Naruto, kan? Kapan?" tuntut Sakura.

Sasuke menghela napas, hal itu tidaklah mudah. Ia masih harus memikirkan Aoi juga, "Kau menginginkan hal itu?"

"Tentu saja! Kau memang tahu apa yang aku inginkan, Sasuke. Aku ingin status yang jelas."

"Menikahimu, maksudmu?"

"Ah.. Ya! Itu yang kau janjikan padaku, bukan?" Sakura memandang mata Sasuke lekat, menegaskan kalau Sasuke memang harus menikahinya.

Berbalik, Sasuke tiba-tiba jengah dengan mata emerald itu, "Tapi tidak sekarang."

"Aku juga tidak menuntut sekarang! Hanya saja—"

"Kau berisik, Sakura! Baiklah, baiklah! Aku akan menikahimu. Puas?"

Senyum lebar tersungging dan pelukan menyambut Sasuke, "Ayo, kita tidur saja! Besok baru cari anakmu itu!"

-o-o0o-o-

Lamborgini hitam yang beberapa hari kemarin dikendarai Sakura kini sudah di tangan pemiliknya. Mobil itu melaju cepat meyusuri jalanan yang sebenarnya tidak lengang. Pagi tadi sang pengemudi—Sasuke Uchiha—baru mengetahui apa yang terjadi dengan Aoi setelah menerima bogem mentah dari Deidara. Katakan pria pirang itu submisif dan anggun, tapi tetap saja seorang pria, kepalan tangannya mampu merobek sudut bibir Sasuke.

Beruntung Naruto lebih lembut kepadanya, tapi hal itulah yang membuat Sasuke mudah untuk menjajahnya. Ia merasa mempunyai kebebasan yang berlebih dengan seorang 'istri' yang tunduk penuh kepadanya, mempercayai dan mendengarkan ucapannya. Jika saja Naruto sedikit keras, seperti kakaknya—tapi Naruto, tetaplah Naruto yang mungkin memang diciptakan untuk mencerahkan hitamnya seorang Uchiha.

Memarkir mobilnya asal, Sasuke cepat melangkah memasuki Rumah Sakit. Perasaan khawatir, bimbang, dan bersalah semakin kuat menghujam saat dilihatnya Aoi terbaring lemah dengan selang-selang yang begitu banyaknya, ingin Sasuke menarik semua alat bantu itu. Alat-alat itu yang membuat dadanya nyeri, kenapa putranya harus menderita seperti ini.

"Apa yang kau lakukan di sini?" desis lirih ini cukup mengagetkan Sasuke. Dan saat membalikkan badan, mata biru yang biasanya seolah tersenyum cerah itu sekarang gelap.

Dari sorot matanya terlihat kalau Naruto tidak begitu menginginkan kedatangan Sasuke. Tiba-tiba ia tidak suka melihat Sasuke menjenguk putranya yang ditelantarkan itu, batinnya yang hancur tanpa bekas setelah mengetahui keadaan Aoi yang akan cacat mungkin telah bergeser menjadi sedikit dendam. Namun Naruto juga tidak ingin bertengkar di tempat ini, dan untuk sementara ia biarkan Sasuke mendekati Aoi.

Merasa berdosa, mungkin benar. Sasuke merasa dirinya begitu rendah, tidak bertanggungjawab, begitu banyak kesalahan yang telah ia perbuat pada Naruto, tapi ia tidak mempunyai daya untuk mengakui semuanya. Kearoganannya tidak mengijinkan untuk menekuk lutut dan meminta maaf. Sasuke justru mempertahankan kemunafikannya. Ia tetap mencari gara-gara dengan mencari-cari kesalahan Naruto, terus memojokkan Naruto. Ia telan perasaannya demi sedikit harga diri.

Karena tidak memungkinkan untuk berbicara di dalam ruangan Aoi, Sasuke manarik tangan Naruto keras dan mengajaknya ke luar, berjalan cepat di koridor dan mencari sudut yang aman untuk meluapkan untaian verbal.

"Mengapa kau tidak memberitahuku kalau Aoi sakit, hah?!" ujarnya kasar.

Naruto yang sudah mengira akan apa yang diperbuat Sasuke sama sekali tidak gentar, ia balas memandang laki-laki di hadapannya itu dengan tajam. Tidak akan dibiarkan Sasuke menghakiminya seolah itu adalah salahnya.

"Jadi aku harus menyusulmu ke rumah perempuan itu?" Naruto tetap mempertahankan nada suaranya untuk tidak bergetar, ia marah. "Jangan harap, Sasuke! Puaskan saja harsatmu dalam pelukannya, tidak usah sok peduli pada anakku!"

Sejenak Sasuke terperangah, tidak pernah terbayangkan kalau Naruto akan berani kepadanya. Ia sama sekali tidak menduga perkataan seperti itu akan keluar dari mulut Naruto.

"Kau jangan berbicara sembarangan, Naruto!" Sasuke masih berusaha membela diri, "Bukti apa yang kau dapatkan sehingga berani menuduhku seperti itu?!"

"Cih! Munafik! Kau hanya bicara bukti, bukti, dan bukti! Aku tidak perlu bukti untuk itu, Sasuke. Hatimu sendiri tahu apa yang sebenarnya terjadi." dengan tegas Naruto menjawabnya, jika tadi kemarahan sempat menguasainya. Namun sekarang ia menahan getar yang lain lagi—terkoyak beberapa kalipun itu tetaplah sakit. Namun sakit itu semakin menggelapkan matanya, kemarahan, kebencian, tidak terima akan perlakuan Sasuke. "Kalau kau tidak berada di rumah perempuan itu, lalu di mana lagi? Jika kau masih peduli pada keluargamu, seharusnya kau selalu ada di rumah tepat pada waktunya."

"Rumah yang seperti itu membosankan." kata Sasuke ringan.

"Bosan? Kenapa bosan, Sasuke?" sahut Naruto tidah kalah ringan dari ucapan Sasuke.

"Karena kau terus-terusan menuduhku yang macam-macam."

Mendengar itu Naruto benar-benar tidak habis pikir, "Ternyata bergaul dengan selingkuhanmu itu membuat kejeniusanmu menguap. Aku tidak bisa kau tipu dengan cara rendah seperti itu! Tidak usah mengelak, Sasuke, aku sudah tahu semuanya. Bahkan saking terlenanya kau sampai tidak tahu anakmu sendiri sakit."

Tapi Naruto tidak akan pernah bilang tentang cacatnya Aoi, ia merasa Sasuke tidak perlu tahu. Tidak akan ada gunanya, cukup dirinya sendiri yang mengurus Aoi. Tidak akan dibiarkan Sasuke menyentuh putranya lagi. Kebencian Naruto hampir sampai pada puncak. Setiap ucapan yang keluar dari bibir Sasuke seperti menjadi pupuk untuk sebuah dendam. Apa yang bisa diharapkannya lagi sekarang? Katakan Naruto selalu lemah menghadapi Sasuke, tapi apa yang menimpanya lebih dari cukup untuk mengubah mentalnya.

"Bagaimana aku bisa tahu kalau tidak ada yang memberitahuku?" lanjut Sasuke.

"Apa aku harus menyembahmu ke sana, sementara Aoi sudah sekarat dan hampir mati?! Sampai mati pun aku tidak akan pernah melakukan itu!" hardik Naruto keras.

"Kau bisa menelpon ke kantorku!" lanjut Sasuke.

"Dengar, Sasuke, seharusnya tanpa aku beritahu pun kau tahu kalau anakmu sakit! Kau pasti bisa merasakannya, Aoi itu darah dagingmu sendiri!" jelas Naruto, ia kemudian memalingkan wajahnya pada sisi lain, enggan melihat Sasuke. "Terserah kau mau menikahi Sakura itu atau apa, tapi jangan seenaknya menyalahkanku! Kau itu pengecut keparat!"

Sekali lagi Sasuke terkejut, ia tersingung sekarang. Sekali lagi tidak menyangka Naruto benar-benar berani kepadanya. Naruto yang selalu menurut kepadanya itu kini berani berkata kasar dan menghardiknya. Jika saja pertengkaran ini terjadi di rumah, Sasuke bisa dipastikan akan menampar Naruto, atau melemparnya ke ranjang dan menperkosanya lagi seperti yang sebelumya.

Namun, kali ini Sasuke memilih diam. Tidak menanggapi lagi ucapan Naruto, dan terkesan untuk menghindar. Dan Naruto juga merasa lebih baik seperti ini, merasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, keduanya berbalik dan melangkah ke arah yang berbeda.

Naruto menuju ke kamar mandi Rumah Sakit, membasuh wajahnya di wastafel dan menyisir rambut pirangnya ke belakang dengan jari. Ia mengamati wajahnya yang terpantul di cermin, mata birunya benar-benar gelap.

"Sasuke.. aku ikuti permainanmu! Aku pastikan kau akan merasakan apa yang Aoi rasakan!"

-o-o0o-o-

À Suivre..

-o-o0o-o-

.

Yah.. sampai di sini dulu. Dan entah kapan akan saya lanjutkan..

Dan saya juga ingin meminta maaf pada fandom ini, karena telah hengkang begitu saja. Maaf tidak bisa membantu mengurangi 'polusi'. Yah.. saya benar-benar kehabisan ide, tidak tahu harus menulis cerita apa, saya bukannya jengah pada fandom, meskipun sebenarnya 'polusi' di sini bikin jengah. Tapi saya tidak lagi tertarik mengikuti cerita Naruto, maaf lagi untukmu Kishimoto-sensei.. Lalu ide saya berkembang di fandom Harry Potter, jadinya saya menetap di sana.

.

Adakah yang masih sudi memberikan sedikit review, rambling, atau feedback?

.

.

NB: belajarlah menghargai yang lain jika ingin dihargai. STOP CHARABASHING, FLAME, dan MEMPUBLISH SESUATU YANG TIDAK PANTAS DISEBUT SEBUAH CERITA!

Fandom ini membutuhkan rasa saling menghormati dan menghargai untuk setiap perbedaan yang ada.