Nakyo : Maaf pada chapter lalu saya bilang bahwa adegan-adegan yang nyerempet yaoi masih agak lama. Eh saat saya udah keburu ngetik chapter 2 kog baru nyadar. Karena males ngubah ceritanya jadi saya kasih tau di sini saja…

Disclaimer: KHR bukan punya saya, kalau saya yang punya ntar' jadi cerita yaoian semua, trus Tsuna jadi hermaprodhite *bahaya kan, makanya Amano Akira gak mau ngasih khr ke saya*.

Rating : T aja deh, saya gak jago bikin fic yang ratingnya K ataupun M, maklum bakat nanggung….

WARNING: Cerita gaje, alur lama baget dan muter-muter,banyak pairing, bahasa kadang tak baku, dan YAOI (g parah kog, kalau nggak ratingnya jadi M).

Read n' Review, please..^^

The Time Machine

Chapter sebelumnya:

"Aaakh… sudah kalian berdua jangan betengkar lagi!!!" kata Irie sambil mngacak-acak rambut merahnya hingga rambutnya smakin berantakan. " Kita sama sekali tidak menyelesaikan mesin waktu untuk pertandingan!!! A-adududuh.. perutku sakit lagi." Keluh Irie sembari memegangi perutnya. Spanner yang merupakan teman lama dari Irie dan sangat mngerti kbiasaan Irie bila terlalu tegang maka perutnya akan sakit langsung menolong Irie untuk berdiri. "Jangan memaksakan diri, kemarin kita sudah bergadang untuk mikirkan rancangan yang akqn kita pakai", Spanner yang berkata begitu pada Irie langsung membantu Irie untuk kembali beristirahat di kamarnya.

-Chapter 2: Bunga yang mulai bersemi-

Sepanjang perjalanan dari mechanic room menuju kamar Irie, pemuda berambut merah dan bermata hijau jade itu terus merintih kesakitan sambil memegangi perutnya dan langkah pemuda itu terseok-seok seolah kakinya tak mampu menahan tubuhnya lagi. Spanner yang melihat keadaan Irie yang smakin parah pun menarik tangan Irie dan meggendong pemuda itu di lengannya atau biasa kita sebut bridal-style. *mau ngomong digendong saja kok ribet*

Irie yang tiba-tiba diperlakukan seperti itu pun langsung berontak dan berusaha melepaskan diri, "S-Spanner. Aku sudah tidak apa-apa, ja-jadi lepaskan aku" , kata Irie sambil mendorong dada Spanner dengan harapan Spanner akan melepaskannya, tapi karena Spanner lebih kuat maka usaha pemuda berambut merah itu pun sia-sia saja."Shoichi, kalau kamu bergerak terus kamu bisa jatuh" kata Spanner sambil mempererat dekapan lengannya ke tubuh pemuda berambut merah berantakan itu. Spanner tahu bahwa akhir-akhir ini pemuda yang sekarang dalam dekapannya ini tidak pernah tidur cukup dan sering melewatkan makan siang, maupun makan malam dan Spanner mempercepat langkahnya..

Sesampainya di kamar Irie, Spanner meletakkan pemuda yang dalam gendonganya tersebut ke atas ranjang dengan lembut, takut menyakiti Irie yang sakit perutnya kambuh dan dengan kondisi fisiknya yang seperti itu tidak mungkin pemuda itu dapat bertahan lama tidak memejamkan matanya lagi dan beristirahat. Spanner melirik wajah Irie yang sejak pertengahan jalan dari saat Spanner menggendongnya sampai di dalam kamar tidak meronta-ronta untuk dilepaskan.

Spanner P.O.V

Kaget.

Itu yang kurasakan saat aku melihat ekspresi yang ditampilkan wajah pemuda berambut merah yang beberapa saat lalu kubopong.

Bukan ekspresi marah, ataupun jengkel yang ditampilkan dari wajah manisnya. Melainkan sebuah ekspesi malu-malu yang disertai dengan pipinya yang bersemburat merah seperti kepiting rebus .

Kurasakan wajahku menjadi terbakar 'manis' itulah yang terbesit dalam pikiranku saat melihat wajahnya yang merona seperti itu. Akupun merasa wajahkupun sudah ikut-ikutan merah dan segera keluar dari kamarnya.

"Ah, istirahatlah dulu. Biar aku dan Giannini yang mengurus proyek ini", kataku sebelum aku menutup pintu.

"Aah.. kenapa dia berkspresi seperti itu? Untungnya aku sudah keluar sebelum aku melakukan hal yang aneh-aneh", bisikku sambil berjalan kembali ke mechanic room.

Irie P.O.V

Begitu Spanner keluar dari kamarku dan suara langkahnya tak terdengar lagi dari kamarku, kurasakan otot-otot diriku yang mengejang tadi karena baru pertama kali ini dia sedekat itu dengan seseorang dalam kontak fisik selain dengan ibu dan kakakku, perlahan-lahan otot-otot itu pun mulai mengendur kembali.

"Wajahku… masih terasa panas". Aku memegang wajahku yang memerah.

Tak kusangka aroma tubuh Spanner seperti strawberry bukannya berbau logam-logam seperti mekanik-mekanik pada umumnya. "Eh, kenapa aku malah berpikiran seperti itu!!" Kurasakan wajahku kembali memerah kembali, bahkan lebih merah dan membakar daripada yang tadi.

Normal P.O.V

Irie yang merasa wajahya semakin panas pun lebih memilih tidur dengan maksud agar dia tidak terus-terusan memikirkan Spanner. Tak sampai 1 menit pemuda itu pun tertidur lelap.

CHAPTER 2-END

ᵻᵻN4kyOᵻᵻ

(O.o)… Kog ceritanya mlenceng dari plot awalku ya?! Padahal niatnya adegan Spanner X Irie ini hanya sebagai sampingan doang, eh kok malah jadi 1 chapter sendiri!!! Masa gara-gara pairing ini termasuk pairing favorit saya?! *Disambil sandal sama reader karena banyak bacot*

Maaf bila banyak yang salah ketik atau kalimatnya nggak cocok, dan maaf bila chapter ini juga sedikit.

Akkkh…. Sudahlah review aja…