Nakyo : Thanks banget buat yang sudah mereview cerita ini, apalagi yang mereview chapter 2 padahal chapter itu terbentuk begitu saja oleh otak saya yang lagi haus adegan 4851 *dihajar mini moscanya Spanner* .Karena chapter lalu udah keluar dari plot awal saya, jadi di cahapter ini saya berusaha mengembalikan cerita ke plot awal saya.

Dan Buat Moonligt Selenia, kayaknya pairing 69D agak susah tapi akan saya usahakan membuatnya. Kemungkinan di chapter depan akan saya munculkan beberapa pairing sekaligus, tapi saya tidak janji *disambit sendal*

Disclaimer: Kalau Tuhan mengkehendaki saya memiliki KHR, saya pastinya tidak perlu membuat fic ini. Amano Akira kasih ke saya k'nape KHRnya *disambit asbak, sandal, vas, dll sama Amano Akira-sensaei*

Rating: Masih tetap T kg….

Warning: Cerita gaje, nggak karuan, ada sedikit nyerempet 4851, dan juga akan banyak pairing nantinya, miss type, cerita pendek-pendek, dsb.

The Time Machine

Chapter sebelumnya:

Irie yang merasa wajahya semakin panas pun lebih memilih tidur dengan maksud agar dia tidak terus-terusan memikirkan Spanner. Tak sampai 1 menit pemuda itu pun tertidur lelap.

-Chapter 3: Sesuatu yang terlupakan-

Seminggu setelah kejadian itu hubungan antara Irie dan Spanner kembali seperti biasanya bahkan jauh lebih akrab dibandingkan sebelumnya. Tsuna yang mengetahui hal itu pun merasa lega. Karena sampai tiga hari yang lalu keduanya terlihat seperti menjaga jarak, dan terkadang terlihat wajah keduanya memerah bila melakukan kontak. Tapi Tsuna yang tidak peka tidak sadar bahwa ada sesuatu yang berkembang diantara mereka berdua. *Tsuna lemot amat ya…[dijitak Tsuna]*

Dua minggu kemudian mesin waktu yang akan ditandingkan selesai. Pada akhirnya rancangan yang digunakan bukanlah rancangan milik Spanner ataupun Giannini, melainkan rancangan milik Irie yang dinilai lebih baik, dan stabil dibandingkan dengan milik Giannini dan Spanner. *Sudah pasti lah, orang Irie yang dalam future arc bisa bikin mesin waktu yang keren kayak gitu [author ketawa gaje]*

"Haah… akhirnya selesai juga", kata Irie sambil merebahkan badannya di lantai mechanic room dengan memasang wajah kelelahan.

"Dengan begini tinggal perlu diuji coba saja", tukas Spanner sambil menghijap permen lollipop rasa strawberrynya.

"Dengan begini Jyuudaimei pasti senang dan bangga pada kerja kita", celetuk Giannini sambil membayangkan Tsuna berterimakasih padanya sambil memasang senyum malaikatnya yang bahkan bisa menyucikan iblis-iblis jahat seperti author cerita ini.


Reader: *gebukin author ampe bonyok*. Udah jadi author jangan kebanyakan bacot, lanjutin ceritanya.

Author: Iya-iya jangan dikebukin dong, ntar saya g bisa ngelanjutin.

Reader: *siap-siap ngehajar author lagi*

Author: I-iya.. LANJOOT….


Setelah memasikan bahwa mesin waktu itu dalam keadaan yang baik, sempurna, tanpa cacat,dll *halah*. Dan memeriksa bahwa semua pekerjaan mereka sudah lengkap dan sempurna, mereka bertiga kembali ke kamar mereka masing-masing setelah bergadang tiga hari tiga malam menyelesaikan mesin waktu yang akan ditampilkan dalam pertandingan satu minggu lagi.

"Hmmm… untuk sementara sudah beres. Tinggal besok kita lakukan uji coba. Dan bila berhasil, maka mesin ini sudah sempurna", kata Spanner dengan nada yang tak bisa ditutupi lagi bahwa dia sangat antusias ingin menguji kehebatan mesin itu.

Sedangkan Irie…. Lho? Mana dia?! "zzzzzz", ooh….ternyata dia ketiduran. Mana sambil berdiri lagi.

Spanner menghampiri Irie dan ingin membangunkannya, tapi niat itu terhenti karena tidak tega membangunkan pemuda berambut merah dan bermata hijau yang tidur berdiri sambil mamasang wajah yang sangat kelelahan *HAH! Diapain Spanner?! -author langsung ditendang Irie dan digiles mini mosca-*.

"Aku dan Shoichi kembali dulu ya. Irie juga tampaknya sudah terlalu lelah.", kata Spanner pada Giannini dan menggendong Irie dengan lengannya *so cwiiit~* dan keluar dari ruangan meninggalkan Giannini.

"Hmm… Semuanya sudah beres." Kata Giannini sambil memeriksa ke seluruh ruangan. "Hoaahm… besok mesin akan diuji coba. Semoga semuanya baik-baik saja". Giannini pun keluar dari mechanic room sambil menahan kantuk sampai-sampai meluputkan suatu benda yang tergeletak di dekat kaki meja, yang kan memunculkan masalah besar yang baru…

CHAPTER 3- END

ᵻᵻN4kyOᵻᵻ


Waiiiii!!! Chapi 3 selese.... wuih saya ngebut banget.

Buat yang ngereview cerita saya, saya ucapkan TERIMA KASIH BUANYAK!!!! Dukung saya biar ini cerita nggak sampai mandeg karena mulai bulan ini author akan menghadapi banyak masalah-masalah di sekolah author, mulai dari tugas, ulangan, dll. Buat yang mau rikues pairing di fic ini juga boleh silahkan kirim lewat review ajah. Maaf sekali lagi karena chapter inipun juga cuma sedikit, karena author ada ulangan fisika, sejarah, dkk minggu depan.*alesan mulu* Selainitu kayaknya saya baru bisa update chapter 4 minggu depan itu saja bila tak terjadi halangan. Tolong maklumilah karena author masih SMA jadi banyak peer dan ujian-ujian. m(_ _)m

READ AND REVIEW PLEASE!!!! *Teriak2 dengan suara bombastis kayak Squalo, langsung dilemparin asbak sama Xanxus karena berisik dan niru-niru suara pacarnya..... [author dihajar XS ]*