Kyaa!!!!! Akhirnya beres juga chapter 2 setelah melalui perjuangan keras, pertempuran panjang melawan penjajahan rasa malas dengan bercucuran keringat dan bersimbah darah. LEBAY!!!! Lebay-nya lagi kumat nih!!!!
Thanks bgt ya buat yang dah mau nge-review^^. Sory, ga sempet bales semua. Sinsin lagi sibuk bgt, biasa menjelang UAS banyak ulangan, bayangin, sehari bisa 3 ulangannya, mana mid fisika diulang lagi gara-gara ketahuan ada yang dapet bocoran soal, padahal dah susah-susah dapet nilai 84, hiks......hiks...... TT_TT. Tapi berikutnya pasti Sinsin bales semua kok! Janji ! Bener! Ga boong! Asli! Kecuali kalo sibuk, ya! ^^– dilempar kursi -
Sory, lama banget nih! Sinsin baru beresin ini setelah mungkin lebih dari dua minggu kali, ya? Gomen..... Sinsin di sekolah baru beres ulum praktek, sekarang lagi UAS nih, makanya lama banget, jadi jangan salahin Sinsin, ya! Tapi silahkan salahin sekolah Sinsin – Dilempar sepatu hak 12 cm dengan diameter 1 milimeter (supaya tekanannya makin besar, kata guru fisika) sama kepala sekolah -.
Mayoritas, kalo ga salah banyak yang bilang kalo:
Banyak salah ketiknya!!!!
{Gomen, memang ga biasa ngetik, kalo ada tugas sekolah juga biasa-nya temen satu kelompok yang ngetik bukan Sinsin, gara-gara ikut fanfic aja jadi rajin ngetik, Sinsin usahain deh!}
Banyak juga yang bilang pemenggalan kata atau kalimat (lupalah) banyak yang kurang tepat. Sinsin kurang paham sama yang satu ini bisa diperjelas dunks..........plissss?
Sasukenya OOC bgt, ya? Sorry........ _
Terlalu banyak A/N {Yang ini juga nanya, dimananya?}
Harus dideskripsiin lebih jelas (Sinsin coba, ya!)
Semua kesalahan diatas juga disebabkan oleh sistem kerja empat jam (SK4J) {kalo belajar dari kecil mah selalu, SKSJ (Sistem kerja satu jam) pagi-pagi di sekolah}. Ortu Sinsin bilang kalo Sinsin ga boleh ikutan fanfic, katanya mah takut prestasi Sinsin pada turun gara-gara mamles belajar ^^, padahal waktu masuk SMP pretasi Sinsin emang udah turun drastis, bayangin deh dari juara tiga besar turun ke ranking 17-an, ck..ck..ck.. . Waktu Sinsin denger pada mau pergi bentar, Sinsin langsung buru-buru ngarang chapter 1, selesai dalam waktu 4 jam lebih dikit tanpa disiapin dulu, langsung nembak idenya.
Penyebab Sasuke OOC bgt juga ini, waktu ada yang nge-review, " Aku sampe ngakak loh waktu baca yang pas Sasuke ngomong Aku mau ke toilet dulu, kebelet pipis" Sinsin malah ngakak sendiri, apa sebab? Sinsin juga baru nyadar Sinsin nulis kesalahan super bodoh gitu, soalnya waktu itu Sinsin bener-bener ga dipikirin siapa karakter yang ngomong. Konyol ya! Selain itu, di chapter berikutnya, Sinsin bakal buat Sasuke berubah 180 derajat Cuma di depan Naruto aja, biar kerasa kalo Sasuke suka sama Naruto, tapi di depan yang lain, ya seperti Sasuke biasa khu...khu...khu...
Satu lagi, sebenernya cerita ini tuh, Romance/Angst (nanti dibelakang)/ humor. Tapi karena cuma bisa masukin dua jadi Sinsin masukin Romance/Angst deh!
Ya, udah tanpa banyak bacot, langsung aja ke chapter 2..........
Summary:
Naruto dan Sasuke adalah sepasang sahabat baik. Di sekolah banyak Fans Girl Sasuke yang iri sama Naruto. Namun muncul anak baru bernama Gaara di sekolah mereka. Sepertinya dia suka dengan Naruto, tapi bagaimana kalau ternyata Sasuke secara diam2 selama ini juga suka sama Naruto. Siapa yang akan dipilih Naru? Semuanya berubah ketika Gaara mengetahui kalau dirinya ternyata adalah anak "SHINIGAMI" (dewa kematian) yang bertugas untuk merengaut nyawa Naruto yang ia sukai. Apakah jalan yang akan Gaara pilih?
"Thanks, ya Gaara..."
"Buat?"
"Kan, kamu dah ngaterin aku"
"Oh, ga pa pa. Oh, iya nanti malem kamu ada acara ga?"
"Emang kenapa? "
"Aku mau ngajak kamu keluar"
"aku?"
"Iya, bisa ga?"
"aku..........."
"Love Tears"
- Chapter 2 : Jealous -
Hak4r4 S!n
Tiba-tiba terdengar Hp Naruto berdering.
"Sory, bentar ya, Gaara!" Naruto mengangkat N70-nya ," Hallo, ada apa Ino?"
"Hallo, nanti malem pergi barengnya jadi kan?" Tanya Ino di Hp-nya.
"Loh, emang ada acara kemana?" Naruto balik nanya dengan begonya.
"Ya, ampyun, pyun, pyun, pyun, pyun, pyun, pyun, pyuuuuuuuuuunnnnnnn masa lupa sih? Kan Hari ini Pada janjian mau jalan bareng di PVK (Paris van Konoha)." Kata Ino.
"Oh, iya, sampe lupa!" Naruto baru inget.
"Akhirnya inget juga......." Ino cape ngomong sama Naruto.
"Jadi dong!" Lanjut Naruto semangat.
"Ya udah, cuma mau ngasih tau, kata Sakura ketemunya nanti di ." Ino menyampaikan informasi.
"Oke deh, bye!" Naruto mengakhiri percakapan.
"Bye! Sasuke dikasih tau ya! Tugas kamu sebagai calon pacarnya." Ino langsung menutup N70-nya sambil nyengir sendiri, lalu memandang HP-nya sebentar. Terlintas diotaknya saat dia, Naruto, Sakura, Tenten, Temari, dan Hinata sepakat untuk memilih N70 sebagai HP mereka. Warna hitam punya Naruto, yang punya Hinata yang silver. Punya Ino diganti cashing-nya jadi warna biru keungu-unguan. Yang warna merah (ganti cashing) punya Sakura. Warna putih punya Tenten, yang punya Temari warna putih susu.
Tut.......tut......tut......
"Sial, dimatiin!" gerutu Naruto.
"Kenapa?" tanya gaara.
"Itu, Ino nelpon buat ngingetin soal janjian pergi bareng ke PVK nanti malem, aku ga bisa pergi bareng kamu. Sorry ya." kata Naruto.
"Oh" Gaara menanggapi perkataan Naruto yang panjang dan lebar dengan singkat.
"Kamu ikut aja, ya?" ajak Naruto.
"......." Gaara terlihat berfikir.
"Ikut aja, biar bisa kenal dan deket sama yang lain," kata Naruto, kali ini dengan puppy eyes no jutsu sampil menepuk ke-dua telapak tangannya..
" Em, ok, aku pulang dulu, mau ganti baju. Bye." Kata Gaara datar
"Oke!" Naruto seneng.
"Nanti aku kesini lagi jemput kamu, aku ga tau jalan." kata Gaara sambil jalan menjauh. Naruto masih menatap punggung Gaara.
"Meow.....meow.." Sinsin mengalihkan pandangan Naruto.
"Laper, ya? Bentar" Naruto mulai memasuki pintu depan apartemen itu, langsung menuju kamarnya dengan lift.
Di depan kamar apartemen Naruto
Pintu kamarnya terbuka perlahan. Kamar apartemannya yang kebanyakan bernuansa putih orange itu hanya terdiri dari dua ruangan, yang pertama ruang makan, meja makan sederhana berwarna bening yang atasnya dihiasi oleh taplak meja berwarna putih dengan pot bunga putih yang didalamya ada setangkai daisy kuning selalu menghiasi ruang makan sempit itu sehingga tidak terlihat sepi. Ruang makan itu tidak lupa dihiasi dengan lemari-lemari gantung untuk menaruh bahan-bahan makanan, tentunya ada kulkas, kompor, dan tempat pencucian piring. Bila memasuki ruang apaertemen itu, lalu melihat lurus ke depan, maka akan terlihat sebuah pintu yang dibaliknya ada kamar tidur. Kamar itu sangat sederhana, hanya ada tempat tidur di samping jendela, meja belajar yang berwarna orange-hitam, dan tentunya lemari baju untuk menyimpan pakaian dan barang-barang lainnya. Kamar mandinya ada di dalam kamar tidur itu.
Seprai ranjang Naruto berwarna putih, lalu diatasnya diletakkan selimut tebal berwarna putih dengan corak bulatan-bulatan tiga per empat penuh yang tengah-tengahnya bolong, seperti donat, letaknya tidak berpola berwarna orange-hitam. Selimut ini selalu menghangatkan badannya setiap malam.
Naruto segera menuju ruang tempat tidurnya lalu menghempaskan dirinya di atas kasurnya. Anak kucing putih itu, turun dari pelukannya, lalu berjalan di ranjang Naruto, mendekati wajah Naruto, lalu menjilatinya.
"Sudah, sudah hentikan Sinsin" kata Naruto pada kucing itu sambil tertawa, lalu menggendongnya di udara.
"Ternyata pualang bareng sama Gaara, tadi lumayan juga, ya?" Naruto ngajak ngomong kucing itu,"Tapi, aneh, rasanya waktu tadi aku digendong dia kok rasanya hangat, aneh, ya? Aduh, aku nih mikirin apa sih?"
"Meow...... meow......" kucing itu mengeong ke Naruto.
"Iya, iya aku tau Sinsin laper, kan? Ayo, aku siapin makanan buat kamu" Kata Naruto sambil berdiri dari tempat tidurnya, lalu mengambil makanan yang ia beli tadi bersama Gaara dari tasnya. Anak kucing itu mengikutinya berjalan ke arah ruang makan. Naruto mengambil mangkuk yang tidak terlalu cekung dari lemari gantung yang semi-rapi itu, berarti tidak terlalu rapi loh!
"Nih, makan sampe puas, nanti kamu ikut aku ke PVK, ya?" kata-kata Naruto terpotong ketika Hp-nya berdering.
"Sasuke?" Naruto melihat tulisan 'Sasuke Super Teme'tertera di hp-nya,
"Halo, ada apa Sas?"tanya naruto.
"Eh, tadi aku dikasih tau Sakura, katanya nanti ketemuan di PVK." Kata Sasuke.
"Oh, kalo itu sih tadi udah dikasih tau sama Ino."
"Nanti berangkatnya bareng, ya."
"Oh, jadi tigaan dong?"
"Hah, tigaan?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya ketika Naruto ngomong tigaan.
"Iya, tadi aku ngajak Gaara buat pergi bareng, terus dia ga tau jalan, makanya jadi tigaan."
"Oh"
"Kamu sekarang dimana, Sas?"
"Oh, di lift apartement"
"Loh, kalo udah diapartemen ngapain nelpon? Ga sayang pulsa apa?"
"Males ke kamar kamu, kejauhan"
"Ya ampun, dasar tuan pemales, eh, salah itu julukannya Shikamaru"
"Iya, terselahlah, aku mau mandi dulu, bye Naru"
"Bye, Sas.."
Tut...tut...tut...
Naruto Cuma bisa goyang kepala mendengar alasan klasik Sasuke. Orang satu ini memang bisa dibilang sebelas duabelas sama Shikamaru kalo soal cuek, males, dan otaknya. Padahal tadinya Naruto mau nunjukin Sinsin, kucing kebanggaannya, padahal ga tau siapa pemiliknya. (Hiks, jahat, Sinsin dibilang kucing kebanggaan.)
Di depan kamar apartemen Sasuke.
Sasuke mengeluarkan kunci kamarnya. Entah sejak kapan, yang jelas sekarang ia sudah tidak pernah lagi mengucapkan kata-kata seperti 'aku pulang' atau sebagainya ketika ia sampai di rumah. Rasanya hal-hal kecil seperti itu memang bukanlah hal yang begitu penting sampai harus selalu diingat bagi seorang Uchiha Sasuke, tapi sebenarnya tampa disadari hal-hal kecil seperti itulah yang justru membawakan sesuatu kepadanya yang disebut dengan kehangatan keluarga, ketika ada yang menyambutnya seperti dulu, tapi sekarang bagian kecil yang dulu terisi itu telah menghilang bersama dengan perginya kehangatan keluarga yang dulu ia kenal.
Dingin,
Sepi,
Sunyi,
Hanya itu yang bisa ia rasakan ketika kakinya menginjak lantai kamar apartemennya. Bukan sesuatu yang ia harapkan bila sekarang pada kenyataannya tidak ada seorangpun yang menyambutnya. Bila pada kenyataannya hanyalah sepi yang dengan setia menyambutnya setiap kali ruang apartemen itu terlukis di matanya. Mungkin itu memang sudah menjadi makanan sehari-hari baginya, tapi sebenarnya masih ada harapan di lubuk hatinya yang paling dalam, harapan kecil kalau kehidupannya akan bisa kembali seperti dulu lagi.
Penuh kehangatan,
kebahagiaan,
dan kasih sayang...
"Cih, harapan konyol" desisnya pelan.
Ia membuka pintu apartemennya, kemudian melepas dan menaruh sepatunya ke rak sepatu yang berada di samping kiri pintu, kakinya bergerak lesu kearah kamar yang ada yang berada di samping kamarnya. Pintu itu dibuka perlahan-lahan, seolah-olah takut mengganggu pemilik dari ruangan itu. Yang ia dapati hanyalah ruang yang kosong yang gelap.
"Bodoh, ia tak akan pernah pulang, benarkan?" tanya pemuda berambut hitam itu pada dirinya sendiri.
Senyum patah yang penuh dengan rasa pahit terukir dibibirnya dengan sempurna. Siapapun yang melihat senyum itu pasti akan mengerti,
mengerti kalau ia kecewa,
mengerti kalau rasa sakit telah menusuk dadanya,
mengerti kalau hatinya terluka
mengerti kalau sekeping harapan di dalam hatinya menghilang entah untuk kesekian kalinya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menutup ruangan kosong yang dulu pernah dipakai oleh seseorang yang sangat memperhatikannya, menyayanginya, yang juga sangat ia sayangi. Rasanya kenangan-kenangan itu tidak bisa ia ungkapkan lewat kata-kata. Ia pun mengakui sejak kepergian orang itu kalau dirinya sudah berubah, semua kenangan yang ia punya perlahan-lahan menjadi pudar bersama dengan berjalannya waktu, kepingan-kepingan harapan pergi bersama dengan kekecewaan yang didapatinya setiap menyadari bahwa ruangan itu sudah kosong, tak berpenghuni lagi.
Ia segera menuju kamar mandi, lalu bersiap-siap untuk menjemput Naruto di kamar apartemennya sebelum bertemu dengan teman-temannya nanti. Setidaknya itulah yang bisa mengobati rasa sepi dihatinya sekarang.
Di depan apartemen Naruto
"Yap, semua udah beres, udah rapih, sekarang aku bisa pergi. Ayo, Sinsin!" kata Naruto ceria.
"Meow...meow.." Sinsin mengeong sambil meloncat ke pelukan Naruto.
"Dasar manja, mau digendong mulu." Kata Naruto sambil menyetuh ujung hidung Sinsin.
Naruto membuka pintu apartemennya. Sedikit terkejut ketika didapatinya Sasuke sedang bersandar ke dinding di sebelah pintu kamar apartemennya.
(Untung bukan di pintu, ya kalo di pintu, pas Naruto buka pintunya, terus Sasuke jatuh kan jadi konyol. Tadinya mau Sinsin bikin kayak gitu, tapi pikir-pikir ga jadi, nanti Sasuke jadi OOC banget lagi.)
"Eh, Sasuke?" Naruto sedikit terkejut.
"Lama banget sih?" tanya Sasuke asal.
"Sejak kapan, kamu disitu, kok ga ngetok pintu aja sih?" tanya Naruto.
"15 menit yang lalu, sekarang mendingan kita turun dulu, udah telat nih" ajak Sasuke.
"Ayo, aku udah ga sabar nih! Buruan!" Naruto bersemangat.
"Ngomong-ngomong tuh kucing dari mana?" tanya Sasuke waktu liat Naruto bawa-bawa kucing putih yang bernama Sinsin (me:~sial~).
"Oh, ini, ini kucing yang tadi aku temuin waktu perjalanan pulang. Kakinya luka karena kasian jadi aku bawa pulang. Lucu kan! Kenalin nih, namanya Sinsin." Kata Naruto melepaskan semua kalimat itu dalam satu nafas tanpa titik koma, saktinya.
"Oh" Sasuke hanya ber-oh ketika mendengar penjelasan Naruto yang super ppuuuaaannnjang itu.
Di lobby apartement
Terlihat seorang pemuda berambut merah sedang duduk menunggu seseorang.
"Gaara!" Naruto memanggil dengan semangat sambil sedikit berteriak.
Pemuda itu menoleh pada seorang gadis pirang yang rambut panjangnya dikuncir dua. Hari itu Naruto mengenakan kaos tanpa lengan yang bagian atasnya menutupi setengah dari lehernya dengan warna orange serasi dengan celana pendek putih yang ia kenakan sebagai bawahan tidak lupa memakai tas putihnya ditambah dengan jepit rambut polos berwarna merah marun yang ia pakai untuk menjepit poni rambutnya.
Naruto menarik tangan Sasuke sambil berjalan mendekati Gaara.
"Sudah siap?" tanya Gaara sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Pastinya dong!" Jawab Naruto semangat.
"Ya, udah, pesen taksi buru, males nih nunggu lama-lama!" kata Sasuke asal.
"Udah ada di luar" Jawab Gaara datar.
"Beneran? Yey!" Naruto yang paling semangat langsung ngebirit ke depan.
"Oi, tunggu" Gaara mau mencegah Naruto, tapi telat.
Di depan apartemen.
"Aduh, yang mana taksinya, kok ada 2 sih?" Naruto terlihat bingung.
"Yang kuning kali ya? Kan aku suka warna kuning jadi aku pilih warna kuning aja!" Naruto memustuskan seenaknya. Tanpa liat-liat lagi Naruto langsung membuka pintu taksi warna kuning itu. Ia langsung duduk didalamnya.
"Mau ke mana, dek?" tanya supir taksi itu.
"Mau ke PVK, tapi nunggu temenku dulu masih dalem , pak."
"O, iya" jawab supir taksi itu.
Gaara dan Sasuke baru saja keluar dari apartemen. "Sudah kuduga" kata Gaara. Tanpa banyak bicara Gaara dan Sasuke langsung berjalan menuju taksi warna kuning yang sedang diduduki oleh Naruto. Lalu Sasuke mengetuk pelan-pelan kaca mobil itu tepat di jok belakang yang Naruto duduki.
"Naruto, taksinya bukan yang ini tapi yang di depan" kata Sasuke pelan setelah Naruto membuka kacanya. Naruto nyengir ga enak ke supir taksi itu.
"Oops, maaf ya pak, saya ga tau." kata Naruto
"O, iya de, ga pa pa. He...he...he... ."Supir taksi itu nyengir juga ke Naruto. Dalam hati supir taksi,' Sialan, udah cape-cape nunggu, doain mampus lo, anjing!'. Gila kasar banget nih supir?
Sambil tetep nyengir, Naruto keluar dari taksi. "Maaf ya, pak" kata Naruto keluar dari taksi itu. Mukanya langsung merah padam. Gaara udah nunggu di depan pintu mobil taksi di depan. Setelah Naruto sudah dekat dengan mobil itu, Gaara lalu membukakan pintu untuknya.
"Silahkan" Kata Gaara pada Naruto.
"Iya" langkah Naruto berhenti tepat di depan pintu mobil itu. "Sasuke,kamu berdua aja deh sama Gaara yang di belakang, biar aku duduk di depan. Kan bakal sempit kalo bertiga dibelakang."
"Em" jawab Sasuke singkat sambil masuk ke mobil. Gaara lalu masuk ke mobil dan menutup pintunya.
Di PVK,
"Ya, ampun, tuh orang kayak-nya ke Amerika dulu baru ke sini kali, lamanya minta ampun" kata Tenten ga sabar.
"Iya, gila ga kira-kira lamanya!" Ino juga udah ga sabar.
"Pokoknya nanti kalo sepuluh menit lagi ga dateng kita kerjain." Kata Temari ikut-ikutan.
"Panjang umur" Neji ngelirik tiga orang yang baru dateng.
"Hai semuanya!" sapa Naruto.
"Hai, hai, hai, hai, hai, ga tau apa kita udah nunggu 2 jam disini? Ketularan gaya Kakashi-sensei ya, telat mulu" respon Sakura.
"Gomen, gomen, tadi di jalan macetnya setengah idup." Kata Naruto santai.
"Ya, udalah, lagian sekarangkan udah dateng" kata Sai mendamaikan.
(weissss, Sai lah iya lah pendeta lah!)
"By the way, Sasuke muka lo napa serem gitu?" tanya Kiba.
"Cih"
"Dasar, songong lo! Naruto kamu bawa temen ya? Itu kan tadi Gaara yang di sekolah." Lanjut Kiba.
"O, iya, ini Gaara, aku tadi ngajak dia ke sini, tadi waktu pulang sekolah aku sama Sasuke ketemu dia di IP terus tadi karena Sasuke ada latihan dadakan jadi pulangnya aku dianter dia. Pas di depan apartemen Ino nelpon aku, jadi aku sekalian aja ngajak dia, selagi inget." Kata Naruto panjang lebar, yang diucapkan dalam satu nafas.
Dzing... Kiba, Shikamaru, Neji, dan Sai langsung memicingkan mata ke arah Sasuke 'ternyata bukannya latihan malah bersenang-senang di mall'.
"Kelupaan", jawab Sasuke datar.
"Wah, Sasuke,kamu punya saingan tuh, diliat-liat Gaara lumayan cakep juga tuh!" goda Ino.
"Terserah" respon Sasuke.
" By the way, Anyway, kenalin aku Yamanaka Ino" Kata Ino memperkenalkan diri ke Gaara sambil memberikan tangannya.
"Gaara" jawab Gaara singkat sambil menyambut tangan Ino.
"Udah tau kali dari tadi di sekolah."kata Ino lagi.
"Aku Haruno Sakura" kata Sakura hanya melambaikan tangannya karena tempat duduknya kejauhan.
"Aku Tenten"
"Sai, ga punya nama depan" kata Sai sambil senyum.
"Neji. Hyuga Neji"
" Inuzuka Kiba, yang paling keren" kata Kiba narsis, yang lain tertawa.
"Lo pikir lo keren apa?" tanya Sasuke sambil tersenyum mengejek. Tanpa sadar Gaara juga tesenyum kecil.
"Nara Shikamaru, kalo kepanjangan panggil aja Shika"
"A...aku... Hyu... Hyuga Hinata" kata Hinata malu-malu.
"Temari, by the way pada mau kemana sekarang?" tanya Temari.
"Makan yuk, laper!" Ajak Naruto.
"Ide bagus, tapi sebelumnya ke Game Master dulu, kita maen basket, yang kalah traktir, gimana?" tanya Kiba.
"Kenapa engga, kayaknya rame tuh!" kata Tenten.
"Jangan cuma basket, DDR juga, kalo ga ga adil buat yang cewe!" kata Sakura. (Jangan bilang kalo cowo ga bisa maen DDR, di sekolah Sinsin ada yang jago loh! Walaupun Sinsin ga bisa, termasuk golongan super payah, masa level beginer juga udah game over, hiks TT_TT)
"Oke, siapa takut?" tantang Kiba.
"Tambah percussion master, gimana" usul shikamaru.
"Ok, setuju semua?" tanya Naruto.
"setuju dong!" kata yang lain kompak.
Setelah acara mereka selesai, berhubung Sinsin lagi males ngetiknya ^^
"Yah, tinggal berempat, ga rame nih!" keluh Naruto.
"Kayaknya juga udah harus pulang, bye Naruto" kata Ino.
"Eh, Ino tunggu, jangan pulang dulu dong!" ujar Naruto cepat.
"Have a nice day with two handsome boy ^^" goda Ino.
"Dasar,ya sudalah, bye Ino" kata Naruto lagi sambil melambaikan tangan.
"Bye, gw duluan ya, Sasuke, Gaara " kata Ino mengucapkan salam perpisahan.
"Hn, hati-hati" jawab Sasuke singkat.
Gaara hanya mengangguk kecil. Ino segera berjalan pergi menuju pintu keluar meninggalkan sahabatnya yang sama-sama berambut pirang bersama kedua cowo temannya itu. Ia harus segera pulang dan membantu di toko bunga milik keluarganya, kalau ia sampai terlambat pulang, bisa-bisa ia jadi ikan kepe bakar, rebus, goreng, panggang karena dibunuh ibunya yang super duper hyper ultra, mega cerewet mirip sama dia.
"Sekarang, mau ngapain?" tanya Naruto
Sasuke dan Gaara hanya angkat bahu.
"Pulang aja?" tanya Naruto lagi
"Terserah" jawab Gaara dan Sasuke bersamaan lagi.
"Jadi?"
"Ya, terserah" jawab Sasuke dan Gaara bersamaan lagi. Kali ini mereka segera bertatapan tajam setelah perkataan mereka (dalam waktu yang bersamaan tentunya)
"Maksud" tanya Sasuke ke Gaara dan Gaara ke Sasuke secara bersamaan lagi.
"payah" kata mereka berdua bersamaan lagi.
"Cih" sama-sama lagi.
"Jezz, bisanya cuma ngikutin" ejek Sasuke.
"Kamu yang ngikutin" balas Gaara.
"Cih" sama-sama lagi. Naruto yang ngeliatin sampe cengok.
"Ya udalah pulang aja." Naruto mengakhiri pertengkaran kecil mereka.
Di Depan Apartemen Sasuke dan Naruto.
Naruto melambaikan tangan ke Gaara yang sedang duduk di dalam taksi.
"Bye, Gaara" Kata Naruto ceria sambil tersenyum ke arah Gaara.
"Hn" Jawab Gaara singkat tepat sebelum taksi biru yang ia naiki melaju.
"Masuk?", tegur Sasuke.
"Tentu saja, aku ga mungkin tidur di luar kan?" kata Naruto.
"Ya sudah, kuncinya ada kan?" tanya Sasuke.
"Ada, ayo jalan." Ajak Naruto.
"Hn" Mereka berdua segera masuk ke apartemen itu, lalu menuju ke lift tentunya karena tidak mungkin mereka naik tangga sedangkan kamar ada di atas lantai 10. "
Di depan kamar Naruto
"Loh, kuncinya mana?" Naruto terlihat panik mencari-cari kuncinya yang sedari tadi tidak ia temukan.
"Coba siniin tasnya" tawar Sasuke. Naruto memberikan tas putihnya ke Sasuke. Sasuke memeriksa setiap bagian dari tas itu secara teliti, tampa melewatkan satupun resleting yang ada.
"Ada ga?" tanya Naruto cemas.
"Sabar, lagi dicari" muka Sasuke terlihat lebih serius. Sampai-sampai akhirnya ia mengerutkan dahinya.
"Ketemu ga?"tanya Naruto lagi.
"Ga, coba dicari sekali lagi, liat di saku celana ada ga?" Sasuke menyarankan. Naruto segera memeriksa saku celananya.
"Ga ada" jawab Naruto polos.
"Ah, kau ini bikin susah saja, Dobe" keluh Sasuke sambil memberikan tas putih itu kepada Naruto.
"Maaf, maaf, kan aku juga tidak sengaja" kata Naruto.
"HP mu juga ga ada di tas, kamu pegang ga?" tanya Sasuke.
"Apa, ga ada?!" kata naruto hampir berteriak.
Di dalam taksi yang Gaara naiki pada waktu yang sama.
Gaara mengukir senyum tipis di bibirnya mengingat kejadian-kejadian hari ini yang ia lewati bersama dengan seorang gadis yang baru ia kenal. Aneh padahal baru satu hari, tapi dia yangtidak pernah tersenyum bisa sampai tersenyum sebanyak ini hanya karena satu hari yang baru. Ia menyadari ada sesuatu yang membuat hatinya terasageli.
'Naruto ya........., nama yang bagus, selain itu......' kata-kata dalam pikirannya terhenti ketika ia melihat HP dan kumpulan kunci apartemen Naruto tergeletak begitu saja di jok depan. Ia mengambil barang-barang itu, menatapnya sebentar lalu menggenggamnya erat,' anak yang menarik'.
Di depan apartemen Naruto
Terdengar surara HP Sasuke berbunyi, di layarnya tertera nama 'Naruto Dobe'.
"Halo..." kata Sasuke dingin.
"Hai,..." balas suara dari telepon itu tidak kalah dinginnya.
"Siapa?" tanya Sasuke datar.
"Hmph, begitu kah caramu mengajak bicara orang yang berniat mengembalikan HP dan kunci kamar apartemen temanmu?" tanya suara itu kembali.
"Apa maumu, jangan cari masalah denganku" ancam Sasuke.
"Aku, Gaara ... aku tidak menginginkan apa-apa hanya mau mengembalikan barang-barang ini pada temanmu" jawabnya tenang.
"Baiklah tuan Gaara, dimana?" tanya Sasuke.
"Sedang memutar balik menuju apartemenmu" jawab Gaara datar.
"Kutunggu" balas Sasuke.
Di depan apartemen setelah beberapa selang waktu.
"Cih, datang juga..." Sasuke membuang muka dari arah datangnya taksi biru yang sedang diduduki Gaara.
Pintu taksi itu terbuka perlahan. Turun seorang pemuda tampan berambut merah yang tak lain dan tak bukan adalah Gaara, yang sekarang ini mungkin merupakan musuh terbesar bagi seorang Uchiha Sasuke.
Bagaimana tidak?
Walaupun baru sehari kenal, dia sudah bisa menjalin tali persahabatan yang cukup akrab dengan Naruto. Sasuke sendiri juga tidak bisa mengerti mengapa ia harus merasa kesal hanya karena keakraban Naruto dengan Gaara, kenapa hatinya harus merasa dengki karena Gaara memberikan sedikit perhatian lebih pada Naruto. Belum lagi kejadian-kejadian menjengkelkan yang tadi ia harus saksikan di PVK. Mulai dari Naruto yang lebih memilih gantungan kunci pilihan Gaara dibanding dengan yang ia usulkan ditambah lagi dengan senyum yang diberikan Naruto pada pemuda berambut merah itu ketika segelas lemon tea disodorkan padanya. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa dadanya harus terasa panas ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Gaara memberikan perlakuan-perlakuan lembut pada Naruto dan Naruto juga membalasnya dengan perlakuan-perlakuan yang tidak kalah lembutnya. Bagaimana mungkin mereka bisa seakrab itu, padahal mereka baru berkenalan kurang dari satu hari.
'apakah aku cemburu?'
Terlalu jauh baginya untuk berfikir sampai kesana karena memory otaknya seakan-akan sudah hampir habis untuk memproses data-data yang ia peroleh dari penglihatannya hari ini.
"Ini tas dan kuncimu, Naruto" suara Gaara terdengar bagai gemuruh ditelinganya.
"Thanks Gaara" Kata Naruto sambil memberikan senyuman ramahnya yang sudah khas.
"Lain kali kau harus lebih hati-hati" nasihat Gaara.
"Iya, baiklah tuan teliti berambut merah" respon Naruto pada Gaara, lalu tertawa kecil.
"Ya, sudah, masuk sana, aku mau pulang dulu" Kata Gaara.
"Bye, Gaara,sampai besok di sekolah" Naruto mengucapkan salam perpisahan.
"Bye" Jawab Gaara singkat.
"Ayo Sasuke, kita masuk" Naruto mengajak Sasuke untuk kembali ke apartemen.
"Kamu duluan saja, aku mau ngomong sebentar sama Gaara" Kata Sasuke.
"Ya sudah, aku duluan, ya!" Kata Naruto sedikit berteriak sambil berjalan masuk ke Lobby Apartemen.
"Hn" respon Sasuke singkat. Perlahan-lahan ia berjalan menuju taksi biru yang sekarang sedang dibuka pintunya oleh Gaara.
Gaara membalikkan badannya ketika baunya dipegang oleh seseorang.
"Apa?"
"Aku menyesal menyuruhmu mengantarnya tadi pagi" Sasuke menekankan nada bicaranya pada kata 'menyesal', lalu memberikan tatapan tajam pada Gaara sebelum meninggalkannya sendiri dan masuk ke apartemen.
"Sasuke...Uchiha Sasuke.. ." desis Gaara lalu masuk ke taksi itu dan pulang ke apartemennya.
Di depan kamar apartemen Naruto.
Tok..tok..tok..
Terdengar pintunya diketuk oleh seseorang.
"Iya, iya sebentar" sahut Naruto sembari membuka pintunya.
"Naruto, aku mau bicara sebentar denganmu" kata Sasuke ketika pintunya dibuka oleh Naruto. Mukanya terlihat begitu serius, tatapannya juga berbeda dari tatapan yang biasanya ia berikan pada Naruto.
"Ada apa, Sasuke" tanya Naruto.
"Aku
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC... (To Be Continue)
Yay, akhirnya chapter 2 beres juga ^^ senengnya . –dilempar sendal dan sepatu sama semua pembaca lagi, lebih parah ada yang bawa bambu tumpul sama slepernya biar bisa diserut jadi runcing- gimana sih tiap kali motongnya bagian yang bikin penasaran aja, sialan!
Sory banget ya, kemaren ga sempet balesin review, lagi sibuk banget nih! Fic ini juga Sinsin beresin secara buru-buru abisnya besok udah UAS Matematika dan Sunda (NEKAD !!!) T_T. Tapi ga pa pa makin cepet UAS berarti makin cepet beres, berarti makin cepet libur, berarti bisa cepet-cepet ngarang chapter tiga dong, yay! Tapi nanti disuruh ke jakarta dulu seminggu, hiks.. (digeplak sama semua author dan pembaca).
Btw, buat yang nungguin One Blue Sakura, sabar ya! Idenya udah dapet kok, cuman belom sempat diketik aja^^! Makhluklah orang sibuk. –di lempar besi seribu ton- Tapi bener idenya udah dapet kok!
Pesan special buat Invulnerable Friendship (maaf kalo terkesan tidak sopan, udah biasa di sekolah kalo ngomong ke dia kayak gini ^^) :
Eh, gw tunggu2 profilenya, gimana sih dasar pemalas ga di bikin2, profile aja ga bikin apa lagi mau bikin cerita, seabad kali ya ????? (-di lempar bola bowling nomor 14 sama Invulnerable Friendship-, sendirinya nge-post cerita loamanya banget2an, dasar bisanya ngomongin orang aja!)
Anyway, anyone, pokoknya siapapunlah ada saran atau komen ga? Kalo ada gampang kok caranya,sangat mudah dan sangat sederhana. Cukup dengan mengklik tukisan Sumbit Review di bawah ini maka saran kalian tinggal diketik saja. ^^
~H4vE a N!cE d4Y~
