Second fic for SasuNaru's Day

ENJOY!!

Disclaimer Masashi Kishimoto

Pairing ChibiSasuChibiNaru, ItaDei

Genre Romance/Family/Humor

Rated T ya? XD

A/N perlu saya informasikan, di fic ini banyak banget adegan fluffy, err-brotherly? Eh, satu lagi, AU lho…

Itachi : 15 tahun

Deidara : 14 tahun

Sasuke : 6 tahun

Naruto : 5 tahun

'italic' : flashback

Bold : inner

00000000000000000

A Little Kiss On Cheek? I Don't Think So

Presented by: kuro nolawalie

Part 2

00000000000000000

"Tuh… lihat, jadi nangis lagi 'kan… kau sih," kata Itachi iba. Jujur saja, ia tidak tega melihat Naruto yang masih terlalu kecil itu mendapat tekanan batin karena sang adik yang egois.

"Ak-aku tidak tahu…" kata Sasuke pelan. Walaupun samar, Itachi bisa menangkap getaran di suara adiknya itu.

"Sasu-chan…?" betapa kagetnya ia melihat sang adik bergetar hebat dan bersandar pada lengan kirinya. Tangan Sasuke meremas bagian punggung kaus hitam yang dipakai kakaknya, sedangkan kepalanya ia lesakkan ke lengan kiri Itachi.

"A-aku tidak tahu akan jadi seperti ini…, huweee… Nii-chan…" kata Sasuke sambil terisak, membuat Itachi menjadi panik seketika.

Wah, gawat kalau sampai ada yang dengar, pikirnya.

"Sssstttt! Sasu-chan diem ya, nanti kalau kedengaran orang trus ketahuan ngintip 'kan nggak lucu, cupcupcup…" kata Itachi sambil membawa wajah Sasuke ke dadanya, berusaha meredam isak tangis dari adiknya itu.

"Sasu-chan merasa bersalah, iya 'kan?" ujar Itachi lembut sambil mengelus rambut adiknya, "saran Nii-chan, kamu temui Naru-chan dan meminta maaf. Nii-chan yakin Naru-chan juga menyayangimu seperti kau menyayangi Naru-chan dan memaafkan kesalahanmu,"

"Hiks, hiks, tapi--"

"Sudah—ayo cepat sana, Nii-chan bantu membukakan jendelanya. Kau masuk pelan-pelan ya…" Itachi membuka jendela besar itu hati-hati supaya tidak terlalu berisik, kemudian mengangkat Sasuke supaya bisa melewati jendela itu.

Haaah… adikku… adikku… kalau dipikir-pikir, sifatmu yang sedingin es itu bisa juga mencair ya… dan itu hanya karena Naruto. Aku yakin kalian memang ditakdirkan bersama…

"Hup! Nah sudah," Itachi mengusek-ngusek rambut adik kecilnya, "semoga berhasil! Nii-chan mau ke bawah dulu, mau menemui Dei-chan. Kau santai saja di sini, jaaa…" ucap Itachi yang segera menghilang dari pandangan Sasuke. Ia melompat ke tangga dan turun ke bawah. Sasuke melihat kakaknya melalui jendela, memastikan kakaknya sudah sampai di bawah dengan selamat.

Ia mengalihkan pandangannya ke ranjang yang berjarak beberapa meter dari tempat ia berdiri sekarang. Di sana terdapat Naruto yang sepertinya sudah tertidur pulas karena kelelahan. Melihat hal itu, Sasuke rasanya ingin menitikkan air mata lagi. Tetapi ia segera mengusap kelopak matanya yang mulai basah dengan punggung tangan.

Dengan langkah pelan ia menghampiri ranjang Naruto, kemudian duduk di sisi ranjang. Setelah berpikir agak lama, ia kemudian masuk ke dalam selimut yang sama dengan Naruto. Sasuke mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Naruto pelan, menghapus sisa-sisa air mata yang tadi sempat keluar lagi dari mata biru itu. Naruto sama sekali tidak terusik, ia sama sekali tidak terganggu oleh kehadiran Sasuke di sampingnya. Matanya masih terus terpejam. Hal ini membuat Sasuke semakin berani untuk melingkarkan tangannya di tubuh kecil Naruto dan mencium rambut pirang lembut itu perlahan. Melihat sama sekali tidak ada reaksi, ia memeluk Naruto erat dan ikut terlelap bersama Naruto ke alam mimpi.

***

Ting-tong!

"Sebentar!" suara Deidara tampak menggema di ruang tamu yang sepertinya kosong itu. Di tubuhnya telah tersampir sebuah celemek oranye, bisa dipastikan Deidara berusaha memasak sesuatu di dapur sebelumnya.

"Selamat da--" Deidara tidak melanjutkan kata-katanya dan segera menyilangkan tangan di depan dadanya, "Mau apa kau?" tanya Deidara ketus, mata birunya melirik ke benda yang dibawa oleh Itachi.

"Ehm… itu… ano…" Itachi menelan ludah melihat Dei yang tampak manis dalam balutan celemek oranye itu, membuat Itachi ingin mempunyai istri detik itu juga, "a-aku disuruh ibu mengantarkan ini untukmu…eh-salah, maksudku untuk Naru-chan," ucap Itachi terbata. Ia menundukkan kepala, tidak berani menatap seseorang yang sudah mendapat pelecehan seksual darinya beberapa hari yang lalu itu. Dalam hatinya ia berharap pisau yang ada di tangan kanan Deidara adalah palsu.

"Hmm…" Dei tampak berpikir, "ada peringatan apa sampai membawakan kue segala?" lanjut Deidara masih dengan wajah siap menerkam Itachi kapan saja.

"Ugh… itu… sekarang tanggal 10 Juli. Kau ingat, Dei?" jawab Itachi dengan mimik wajah penuh harap. Ia berdoa semoga hal ini bisa digunakan sebagai pengalih perhatian.

Deidara mengertnyitkan dahinya, kemudian perlahan-lahan terdapat perubahan ekspresi wajah yang sangat drastis ,"Ah! Aku lupa!" ia menepuk jidatnya, sedangkan Itachi hanya tersenyum hambar, "...hari ini 'kan hari peringatan mereka berdua! Gawat, aku belum masak apa-apa! Aduh…" ujar Dei panik.

Mendengar hal ini, muncul ide brilian di otak Itachi, "Tenang saja, Dei-chan. Jangan terburu-buru. Kita masih ada waktu sampai nanti malam 'kan?"

Deidara mengangguk dengan wajah cemberut.

"Nah, 'kan kuenya sudah ada. Tinggal menyiapkan makanan, minuman, dan dekorasinya," Itachi menjulurkan tangannya ke arah depan, ke arah Deidara, "tolong kau bawa ini,"

Dei menerima kue itu bingung, "Lalu?"

"Ya… aku akan membantumu menyiapkan segala sesuatunya," ujar Itachi sambil tersenyum lembut, "ngomong-ngomong, Iruka-san dan Kakashi-san tidak ada di rumah ya?"

"Iya, mereka sedang bulan madu untuk yang ke delapan kalinya tahun ini," mimik wajah Dei berubah menjadi bosan, "aku mohon bantuannya ya, Itachi-san," kali ini Dei membungkukkan badan dengan setengah hati di depan Itachi. Membuat Itachi jadi ingin pingsan saat itu juga. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.

"Ya sudah, tunggu apa lagi? Boleh aku masuk?" Tanya Itachi tanpa basa-basi.

Orang ini maunya apa sih? batin Deidara geram.

"Si-silahkan masuk, anggap saja rumah sendiri," ucap Dei basa-basi. Padahal dalam hatinya jelas-jelas berkata, Kalau sampai kau menggores barang di rumah ini seujung jaripun, kau tidak akan selamat sampai di rumah.

"Eh, Itachi-san! Tapi, di mana Sasuke? Dia tidak ikut denganmu?" sela Deidara sambil menghentikan langkahnya yang akan menuju dapur. Ia membalik badannya cepat, membuat rambut pirang panjangnya tersibak menutupi setengah wajahnya.

Kami-sama… cantik sekali… pikir Itachi sambil menyedot darah yang hampir mengalir keluar dari hidungnya.

"Sasuke ada di kamar Naru-chan, kok,"

"Apaa?!!"

***

"Ssstt! Hati-hati membuka pintunya, Dei-chan! Jangan sampai mereka terbangun," nasihat Itachi ketika mereka sampai di depan kamar Naruto. Itachi sudah menceritakan semua yang terjadi beberapa saat lalu pada Deidara, yang membuat Deidara menahan emosi sepanjang beberapa menit isi cerita itu. Untung saja sebelum bercerita Itachi sudah mengamankan pisau yang tadi dipegang Deidara dengan kue awan.

"Iya, ini aku juga sudah hati-hati tahu!" balas Deidara sewot.

Kriieett… pintu terbuka sedikit. Dengan sigap Deidara memasukkan kepalanya ke dalam di usahanya mengintip kali ini. Begitu pula dengan Itachi, kepalanya sekarang sudah berada di atas kepala Deidara. Itachi bisa merasakan betapa lembutnya rambut Deidara hanya dengan dagunya saja. Apalagi dengan tangannya?

"Rambutmu halus ya, Dei," puji Itachi sambil melirik ke wajah Deidara yang sedang menahan marah. Detik itu juga Deidara menjedukkan kepalanya ke dagu Itachi, membuat Itachi meringis kesakitan dan tidak bisa membalas perlakuan Dei dengan kata-kata.

"Apa adikmu juga tidur?" Tanya Dei sambil sedikit melebarkan pintu.

"…" tidak ada jawaban.

"Hei, Itachi-san," Dei masih bergeming memperhatikan Sasuke yang wajahnya tertutup selimut milik Naruto.

"…" masih tidak ada suara.

"Oi! Itachi!" kali ini Deidara bertanya sambil menatap wajah Itachi yang hampir menangis. Itachi mengangguk pasrah sambil mengelus dagunya. Terlihat sekali Itachi begitu menikmati hadiah dari calon ukenya itu. Diraba-raba terus sedari tadi.

"Maaf," Ujar Dei santai sambil tertawa mengejek.

"Atiiitt…" ujar Itachi pelan.

"Mereka lucu sekali ya… kyaaa~" teriak Dei gemas tapi pelan.

"Siapa dulu dong, kakaknyaa…" ujar Itachi narsis. Entah kenapa sakit di dagunya menghilang seketika saat bernarsis-ria.

Dei mendengus kesal, "Huh, kau pikir adikku kalah imut daripada adikmu? Justru adikku lah yang paling menggemaskan, tahu,"

"Iya-iya, 'kan kakaknya juga sama seperti adiknya. Sama-sama tipe uke,"

Deidara menoleh bingung, "Apa?"

"Ah, tidak. Kamu cantik setiap saat, Dei," Itachi berusaha menutup-nutupi perkataannya barusan dengan memuji Dei. Padahal tidak ada nyambung-nyambungnya dengan pembicaraan mereka yang sebelumnya.

"Aku ini laki-laki tulen, tahu!" protes Dei sambil memanyunkan bibirnya. Itachi melirik ke arah Dei, kemudian tertawa kecil melihat wajah Dei yang memerah.

"Jangan salahkan aku kalau kamu memang cantik," Itachi mulai meluncurkan jurus-jurus gombalnya, "tidak salah kami berdua memilih Namikaze Bersaudara sebagai seseorang yang sangat berarti…"

Deidara terdiam menatap mata onyx khas Uchiha yang ada di depannya. Ia merasa seperti tersedot dalam lubang tak berdasar di mata hitam itu. Sama seperti Deidara, Itachi juga merasa seperti hilang dan tenggelam di Samudera Antartika setiap menatap mata biru bak langit di depannya.

Itachi mendekatkan wajahnya ke wajah Deidara. Deidara ingin melawan, tetapi mata onyx itu seolah menghipnotisnya dan membuat tubuhnya seakan membeku. Itachi mencengkram lembut bahu Deidara dan merengkuh tubuh itu mendekat. Sedetik kemudian Deidara memejamkan mata merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

***

"Nghh…" bocah kecil berambut pirang itu merasa ada yang berbeda dengan sesuatu yang merengkuhnya. Ia mengira bahwa itu adalah kakaknya, tetapi tidak mungkin karena tubuh yang memeluknya itu terlalu kecil. Ia tidak bisa melihat wajah orang yang merengkuhnya karena sekarang kepalanya tepat berada di dada orang tersebut. Ia ingin bangun tetapi lilitan lengan orang yang bersangkutan sama sekali tidak mengendor.

Siapa? batin Naruto.

"Nii-chan…" suara seraknya memanggil sang kakak. Tetapi tidak ada balasan. Ia semakin yakin bahwa yang memeluknya sekarang bukan kakaknya.

"Ukh… lepas," desah Naruto pelan sambil berusaha melepas belitan tangan orang itu di punggung dan pinggangnya.

Naruto mulai gelisah sekarang, "Ini siapa? Lepasin Naru… Nii-chaannn!" Naruto mulai memukul dada orang yang sama sekali tidak bergeming itu dengan pukulan-pukulan kecil. Kaki kecilnya menendang-nendang kaki orang misterius di sebelahnya.

Tanpa Naruto sadari tindakannya barusan membangunkan bocah berambut hitam yang memeluknya. Perlahan-lahan kelopak mata yang mengekang mata onyx itu membuka. Begitu juga dengan belitan tangannya yang mulai merenggang. Kesempatan ini dipakai Naruto untuk segera bangun dan melihat siapa sebenarnya orang aneh yang memeluknya itu.

"Kau ini tidak bisa diam ya, Dobe." kata Sasuke sambil menegakkan duduknya dan mengucek-ngucek matanya, "…berisik."

Mata biru Naruto berkaca-kaca melihat seseorang yang barusan menghabiskan tidur siang dengannya, "Hiks, hiks, Nii-chaaaannnnn…" panggil Naruto putus asa. Terlihat beberapa air mata yang siap jatuh kapan saja menyangkut di pelupuk matanya.

"Naruto?" Sasuke mengangkat alisnya heran. Matanya tak lepas dari tatapan trauma yang diberikan bocah pirang itu padanya.

Naruto mengusap matanya, kemudian menatap lurus pada bocah berambut biru tua di hadapannya, "Teme… k-kenapa…?"

Sasuke memperpendek jarak di antara mereka. Tetapi tidak berhasil karena Naruto terus mundur ke belakang, "Naruto, kau kenapa sih?"

Naruto menggeleng kecil, kemudian menundukkan kepalanya.

Sasuke menghela nafas, "Baiklah…" tangannya merengkuh pundak Naruto, "…aku minta maaf. Aku tidak bermaksud memarahimu seperti tadi,"

Naruto masih diam, jari-jari kecilnya melepaskan rengkuhan kedua tangan Sasuke di pundaknya. Mata Sasuke membelalak kaget, "Kenapa…"

"Sasuke t-tadi bilang…" Naruto mulai sesenggukan, "...ng-nggak mau ketemu sama Naru lagi…"

Sasuke langsung membawa tubuh Naruto ke pelukannya, "Tidak… bukan…" ia menggelengkan kepalanya polos, "tadi aku bukan marah padamu. Tapi aku emosi karena kau melempar gameboy itu sampai hancur berkeping-keping,"

"Sama saja, hiks," Naruto makin sesenggukan.

"Aduh…" Sasuke merutuki perkataannya barusan, "Naru berhenti nangis dulu ya. Aku jadi bingung harus menjelaskannya dari mana."

"Hiks, hiks…" Naruto diam, hanya isak tangis sesekali keluar dari mulutnya. Kesempatan ini dipakai Sasuke untuk melepaskan pelukannya.

Sasuke menghela nafas, "Maafkan aku. Aku tidak marah padamu, aku hanya kaget benda kesayanganku rusak, apalagi itu hadiah darimu," tangannya mengusap pelan pundak Naruto.

"T-tapi tadi Sasuke… Sasuke… huweee…" tangis Naruto pecah seketika. Teringat akan kata-kata kejam Sasuke tadi siang.

"Aaargh!" Sasuke mengacak rambutnya frustasi. Tanpa pikir panjang didaratkannya ciuman kecil di pipi pemuda pirang di depannya.

***

Di depan pintu kamar sebelah tangga itu kini berhadapan dua pemuda yang saling bertatapan. Nafas mereka terengah-engah, terutama si pirang panjang. Sangat mudah ditebak bahwa si pirang lah yang didominasi oleh si rambut hitam. Tangan si rambut pirang menahan pundak si hitam, mencoba memperpanjang jarak antara keduanya.

"Dei…"

"A-apa yang kau lakukan?!" ucap Dei panik, sebelah tangannya memegangi mulutnya. Sedangkan yang satunya lagi mendorong bahu Itachi menjauh. Wajahnya memerah, entah karena malu, marah, atau kekurangan oksigen.

"Ma-maaf, aku tidak bisa menahan diriku lagi," ujar Itachi terbata. Salah tingkahnya sudah melampaui batas, ditambah lagi wajah Deidara yang sepertinya menahan marah membuatnya bergidik ngeri.

"Kita bahas nanti saja, aku tidak mau ada masalah lagi di hari penting seperti ini," Deidara bangkit dan mengalihkan pandangannya ke pintu kamar adiknya yang sedikit terbuka. Matanya melotot kaget melihat pemandangan di depan matanya.

"Dasar, adik dan kakak sama saja," ujar Dei geram. Itachi yang bingung dengan perkataan Dei ikut-ikutan mengintip dari celah pintu itu. Dan ia tak bisa menahan senyumnya melihat sang adik sudah mulai 'berani' seperti itu.

"Hahaha, dasar baka otouto. Hahah—mmphf!!" Dei dengan sigap membungkam mulut Itachi, takut kalau-kalau dua sejoli cilik yang kini sedang berpelukan memergoki mereka sedang mengintip.

"Kau itu bodoh atau memang tolol sih?" hardik Dei sambil menjambak rambut panjang Itachi, bungkaman di mulut Itachi sudah dilepaskan olehnya, "Nanti kalau kedengaran 'kan nggak seru!"

"Oh, iya. Maaf… mmph-" Itachi masih berusaha menahan tawanya diiringi plototan Dei, "Tapi memang nggak seru ah, cuma di pipi. Coba seperti kita tadi, pasti lebih seru,"

"Ugh." Pemuda pirang itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berusaha menutupi rona merah di wajahnya.

"Sudahlah, kau tambah manis kalau seperti itu." ujar Itachi sebelum kakinya membawa dirinya menuju tangga, "Ayo kita turun. Kita masih harus menyiapkan makanan dan menata ruang tamu 'kan? Biarkan saja mereka berbaikan sendiri," dan Itachi pun meninggalkan Dei yang masih diam terpaku di tempat.

"Yaya, baiklah." Dei menyusul beberapa saat setelah Itachi menuruni tangga, "Aku rasa ini akan menjadi hari jadi yang seru," ujarnya setengah berbisik. Senyuman licik terukir di wajahnya.

***

"Kau mau memaafkan aku 'kan, Dobe?" Tanya Sasuke penuh harap. Sebelah tangannya menggenggam tangan Naruto erat. Pemuda kecil di depannya masih menundukkan wajah, rona merah di pipinya terlihat samar. Sasuke tak punya pilihan lain selain mencium pipi pemuda di depannya. Karena kalau tidak, ia yakin Naruto tidak akan pernah memaafkannya.

Naruto menegakkan wajahnya sedikit demi sedikit. Bekas air mata masih terlihat samar di kedua pipinya, "Un." jawabnya pelan sambil menganggukkan kepala.

"Benarkah? Terima kasih!" ujar Sasuke girang sambil memeluk erat Naruto. Walaupun begitu, Naruto masih belum memperlihatkan senyum secerah mataharinya. Sasuke yang sadar akan reaksi Naruto segera melepaskan pelukannya dan menatap mata pemuda itu dalam.

"Kau… kenapa? Apa ada masalah lagi?"

Naruto menggeleng, "Sasuke ingat hari ini hari apa?"

Sasuke agak tersentak mendengar kalimat yang langsung keluar dari bibir Naruto. Naruto yang menyadari perubahan ekspresi Sasuke malah tersenyum pahit.

"Sasuke tidak ingat ya…"

"Aku ingat." potong Sasuke langsung, "Tadi aku memang tidak ingat, tapi sekarang aku sudah ingat." ujar Sasuke riang. Senyum khas anak-anak terkembang di wajahnya.

"Benarkah…?" kata Naruto ragu. Matanya memandang penuh harap pada pemuda bermata onyx di depannya.

"Tentu," Sasuke diam sebentar, "Masa aku bisa lupa dengan hari jadi kita?" lanjutnya sambil tersenyum lebar.

"Hehehe…" sedetik kemudian Naruto langsung menghambur ke pelukan Sasuke. Sasuke membalasnya dengan ciuman di kening tan Naruto.

Mereka berpelukan lumayan lama, melepas segala kesalah pahaman yang sempat hinggap di hati masing-masing. Ikatan yang sebelumnya hampir terputus kini diperkuat dengan adanya benih-benih cinta antara mereka. Sebuah perwujudan kasih sayang yang tidak bisa disamakan dengan materi, dengan gameboy sekalipun. Mereka tidak menyangka, hanya sebuah kecupan hangat di pipi yang mampu mengembalikan keadaan seperti semula. Mulai detik itu mereka mengikat janji. Janji akan saling mengerti dan saling melengkapi. Menjaga ikatan yang selalu mengiringi langkah mereka hingga detik ini, dan memperkuat ikatan itu dengan cara memilin serat kepercayaan yang ada.

***

Malam harinya…

"Wah, yang membuat ini semua Itachi-san dan Nii-chan? Hebat…" mata sebiru langit itu berbinar menatap berbagai macam makanan yang tersedia di atas meja. Begitu juga dua orang pemuda remaja yang tersenyum bangga akan hasil karya mereka yang sedang dipuji oleh bocah pirang di depannya.

"Dei-san dan aniki juga yang membuat kue ini?" tanya Sasuke sambil menunjuk kue awan cokelat yang telah di hiasi lilin berwarna-warni dengan telunjuk kanannya. Mata onyx Sasuke ikut berbinar menatap kue unik itu.

Itachi menggelengkan kepalanya heran, "Masa kau tidak lihat tadi aku membawanya dari rumah, baka otouto? Kaasan yang membuatnya!" ujar Itachi gemas.

"Hahaha… aku rasa keadaan Sasuke terlalu kacau untuk menyadari keberadaan kue itu. Ia tidak akan tenang sebelum masalahnya dengan adikku selesai," ujar Dei sambil menatap gemas adiknya yang sedang meniup-niup pelan lilin di atas kue.

Naruto menggembungkan pipinya, "Kapan aku dan Sasuke bisa meniup lilinnya? Aku sudah lapar…" ucap Naruto bosan.

"Oh, tunggu sebentar!" Deidara sedikit tergesa menuju ke kamarnya di lantai dua. Sasuke menatap Itachi dengan isyarat 'Ada apa?', tetapi Itachi membalasnya dengan mengangkat bahu.

"Ini dia!" Dei turun dari tangga membawa sebuah kamera digital dan sebuah kotak beludru berwarna biru yang lumayan besar. Ia menaruh kedua benda itu di atas meja dengan semangat.

"Apa itu, Dei-san?" tanya Sasuke sambil menaikkan sebelah alisnya, bingung. Deidara membalasnya dengan senyum manis.

"Coba saja kalian berdua buka!" katanya lagi sambil mengambil kamera di atas meja dan mulai menghidupkannya. Itachi yang merasa tidak ada kerjaan hanya mencolek-colek kue awan sambil sesekali memperhatikan tindak-tanduk tiga orang kelewat girang di depannya.

Sasuke mengangkat kotak beludru itu bingung, tetapi segera direbut oleh Naruto, "Aku saja yang buka!"

"Hn." ujar Sasuke pasrah.

Naruto langsung membuka kotak itu dam matanya membelalak kagum melihat sesuatu yang ada di dalamnya. Dua buah kalung berbentuk sekop terbalik berwarna perak. Naruto menaruh kotak itu di atas meja dan membiarkan Sasuke melihatnya juga.

"Apa itu? Kalung?" tanya Itachi. Ia sudah berhenti mencolek-colek kue dan menatap kalung, Sasuke, dan Naruto bergantian.

"Yap!" kali ini Dei memfokuskan dirinya pada dua bocah di depannya, "Itu adalah kalung hadiah dari Iruka dan Kakashi." lanjutnya lagi.

"Sekarang kalian ambil kalung yang inisialnya berbeda dengan nama kalian ya. Naru-chan ambil yang inisialnya S, sedangkan Sasu-chan ambol yang berinisial N."

Kedua bocah yang sedang berbahagia itu mengikuti instruksi Deidara tanpa banyak protes.

"Nah, sekarang Sasu-chan pakaikan kalung itu di leher Naru-chan. Begitu juga dengan Naru-chan, pakaikan kalung itu di leher Sasu-chan. Harus bersamaan ya!"

Sasuke dan Naruto pun mengangguk dan saling memakaikan kalung. Tepat saat mereka masih saling merangkul untuk mengaitkan kalung…

JEPRET!!

Deidara mengabadikan momen itu di kameranya dalam satu jepretan. Naruto dan Sasuke bengong, Itachi menatap Deidara bingung, Deidara tersenyum penuh kemenangan sambil menggumamkan kata "Berhasil!"

"Nah, sekarang kalian menghadap ke kamera. Keluarkan senyum kalian yang paling manis! Sasu-chan, kau rangkul pundak Naru-chan. Yang mesra ya!"

Itachi tertawa geli. Deidara mulai menyiapkan kameranya lagi untuk sesi penjepretan berikutnya.

"Siap?" tanya Deidara riang.

Naruto hanya mengangguk polos dan membiarkan lengan Sasuke melingkari pundaknya. Sasuke hanya tersenyum boyish. Tetapi kemudian muncul suatu ide gila di otaknya. Seringai licik muncul di wajah Sasuke, yang membuat sang kakak mengernyitkan dahi.

"Kau kenapa, Sasu-chan?"

"1… 2… 3!"

Cup!

JEPRET!!

Naruto membelalakkan matanya kaget. Bibirnya dan bibir Sasuke bersentuhan tepat saat Dei mengambil gambar mereka. Naruto merasakan pipinya memanas saat itu juga. Tiga detik kemudian Sasuke melepaskan ciumannya dan menatap tunangannya dengan senyum penuh kemenangan.

"Bagaimana?" tanya Sasuke jahil.

"…" Naruto masih terdiam dengan wajah memerah.

"…" Deidara masih memegang kameranya dengan posisi siap jepret.

"…" begitu pula Itachi, jari telunjuknya yang barusan mencolek kue alhasil berhenti di bibirnya, kaget akan tindakan adiknya yang sudah di luar batas kewajaran. Bagaimana bisa ia memiliki seorang adik berumur 6 tahun yang sudah pernah merebut keperawanan bibir orang?

"Gyaa!!!" Naruto segera menutup bibir dengan punggung tangannya.

"Eh? Kenapa?" ujar Sasuke polos.

"Ahh!!! Itachiii!!! Lihat kelakuan adikmu itu!!!!" Dei mengamuk sembari mengacung-acungkan pisau roti di depan wajah Itachi.

"Apa salahku?!!" kata Itachi ngeri sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Dei di pergelangan kakinya. Mata Dei berkilat marah bagai iblis siap menyerang.

"Biarkan saja, orang dewasa memang suka aneh." kata Sasuke sambil geleng-geleng kepala sok dewasa. Naruto masih menutup mulut dengan punggung tangan kirinya.

Dan jadilah malam itu dihabiskan dengan menyaksikan pembantaian habis-habisan Uchiha Itachi oleh Namikaze Deidara.

=The End=

Selesai! XD

Apakah di sini terlalu banyak adegan ItaDei? Kalo menurut saya sih enggak *membela diri* -ditampol-

Thanks for reading! Saya berharap fic ini menggerakkan hati Anda para pembenci pair SasuNaru. Kami, SasuNaru FG tidak pernah menghina secara terang-terangan pair favorit Anda. Entah itu SasuSaku, SasuKarin, NaruHina, dan NaruSaku. Saya masih bisa menahan diri apabila Anda masih bisa menjaga sikap. Tetapi kalau Anda sudah kelewatan, Saya tidak akan tanggung kalau fic-fic anda penuh dengan flame dari saya. SaYah SeRiuSh!! (Super Ultra Cute Lovely Girl Mode : ON)

Nyakakakak~ X

a/n—anoo… itu… bukannya apa-apa, tapi kalau mau review per-chapter aja ya? soalnya kalau sekali review langsung dua chapter, kuru suka bingung nentuin letak kesalahannya. Lagipula, kalau anda review per-chapter, anda bisa dengan mudah mengkritik tanpa harus mengingat-ngingat kejadian di chapter lainnya. Betul? :D

*bengong* -padahal sendirinya juga suka review 2-3 chapter sekaligus (=_=")-

Eh, tapi kuru review langsung 2-3 chapter itu hanya untuk fic tertentu lho. Contoh, untuk fic yang uda nyampe jauhhhh tapi kuru baru baca sekarang. Itu sih, karena kuru aja yang males… -ditampol-

Contoh lagi, kalau gak ada waktu. Atau gak sempet. Tapi kuru selalu mengusahakan kalau review dari kuru itu 'benar-benar review'. Dalam arti review itu isinya bisa mendorong dan membantu sang author yang fic-nya diriview sama kuru. Gak lucu juga kan, kalo misalnya kita udah baca sampe chapter 5, tapi semua review kita itu dirangkum dalam satu kesatuan review yang isinya cuma 'Wah! keren nih ficnya! Apdet ya!'

Waduh, jangan kecam saya karena kalimat di atas ya. karena kalau menurut saya, kenapa enggak kalo kita punya banyak waktu dan kesempatan untuk meriview lebih spesifik per-chapternya? Tapi saya juga menghargai kok yang berbuat seperti itu. itu kan berarti mereka menghargai fic kita. Daripada gak review sama sekali? :D

Eh, eh, tapi-tapi-tapi… saya juga gak menyalahkan kalau yang mau review dua chapter sekaligus. Asalkan riviewnya bisa mendorong dan menyemangati saya ajah.. :D

Jangan salahkan saya karena fic ini terpaksa dibagi dua, gara-gara megu tuh! *nunjuk2 megu*

Kata megu ficnya maksimal 6000 words, tapi punya kuru lebih. Padahal cuma lebih dikit, kenapa sama saya dibagi dua ya? *bingung dengan diri sendiri*

Hehe, enggak kok. Siapa tahu ada yang mau review lewat hape, khan Cuma 3000-an words.

Well…

REVIEW, PLEASE? X)