Disclaimer : Bleach is not my own....(pasrah aja) tapi ceritanya punya saya lho, saya hanya menggaji para pemeran Bleach untuk mainin cerita saya
Chapter 1
To protect her precious things
She will do anything
Including
To throw away her life
Hinamori membuka matanya dan langsung bangkit dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah, keringat menetes dari dahinya. Spontan, gadis tersebut memperhatikan keadaan sekelilingnya. Hinamori masih berada di dalam kamarnya. Tak ada yang berubah sedikitpun.
"Tuan Putri, ada apa?" tanya seorang gadis di luar kamar Hinamori. Bayangan seseorang tersebut tampak jelas dari pintu kertas kamarnya.
" Tidak ada apa-apa, saya baik-baik saja." jawab Hinamori kepada seseorang tersebut.
"Apakah anda yakin?" tanya seseorang tersebut, suaranya kedengaran cemas.
"Ya, tidak ada apa-apa, tenang saja." Jawab Hinamori lagi.
"Jika anda memerlukan sesuatu, kami para dayang ada di pintu depan." Jawab seseorang tersebut.
Hinamori hanya diam saja. Dia masih shock dengan mimpinya. Mimpinya terasa begitu nyata. Sangat menakutkan. Gadis ini berbaring lagi ditempat tidurnya. Mencoba mengingat lagi pemandangan dalam mimpinya.
Hinamori berdiri di tengah reruntuhan. Di sana- sini tampak puing-puing berserakan. Seakan-akan ada suatu kejadian besar yang telah meluluh lantakkan tempat tersebut. Awalnya, dia tidak tahu tempat apa ini. Semakin dia mencoba mengenali, semakin dia bingung. "Tempat ini....., sepertinya aku kenal tempat ini..." Hinamori mencoba mengingat.
Semakin lama, Hinamori makin meyadari. Ini....adalah negaranya, kerajaannya.
Semuanya hancur berantakan, lumpuh, tak ada satupun bangunan yang selamat. Semuanya telah menjadi puing berserakan. Api menjilat puing-puing yang berserakan. Kemudian...dibawah puing-puing kerajaannya, Hinamori melihat ada seseorang yang terkubur di bawah reruntuhan tersebut.
Hinamori menghampiri seseorang tersebut."Siapakah dia?" tanya Hinamori dengan hati cemas. Semakin didekati, semakin jelas sosok tersebut. Sudah hampir dekat. Hanya tinggal sedikit lagi, Hinamori dapat mengenali seseorang tersebut.
"TIDAAKKK........."jerit Hinamori histeris. Seseorang itu.... ternyata....itu adalah kakaknya. Kakak Hinamori, raja kerajaan tersebut. Belum hilang rasa kaget Hinamori, gadis tersebut dikejutkan lagi dengan banyaknya mayat yang berada di tempat tersebut. Semua orang yang dikenalnya, yang dicintainya, yang bekerja untuknya, yang melayaninya, yang dilindunginya, berada di sana. Berubah menjadi mayat, sudah tak bernyawa lagi.
"TIDAAKKK........"jerit Hinamori lebih histeris lagi.
"Kenapa.....?Kenapa begini.....?" jerit Hinamori.
"Akulah penyebabnya....." jawab seseorang dari belakang Hinamori
Spontan Hinamori langsung menoleh ke belakang. Gelap.
Selesai. Hanya itu yang dia ingat dari mimpinya. Hinamori bangkit lagi dari tidurnya. Mimpi ini membuatnya resah.
Hinamori Momo, gadis berambut hitam dan mata berwarna coklat, ini adalah seorang putri di kerajaan yang bernama Nihon no Kuni. Akan tetapi, gadis ini bukan hanya seorang putri biasa. Gadis ini adalah seorang miko princess Tsukuyomi. Tugasnya adalah untuk melindungi dan memastikan bahwa negaranya, Nihon no Kuni, selalu dalam keadaan aman dan damai. Setiap hari, gadis ini selalu berdoa kepada Tuhan demi keamanan dan kedamaian dalam negerinya.
Gadis ini memiliki kekuatan spiritual yang sangat besar yang tak terkalahkan oleh siapapun. Kekuatan spiritualnya ini bahkan diakui sebagai yang terhebat dan tersuci diantara semua miko yang ada di negara tersebut. Ditambah lagi, gadis ini mempunyai berkah kekuatan melihat masa depan melalui mimpi, membuat rakyatnya dan miko yang lain menghormatinya dan segan padanya.
Akan tetapi, semua berkah dan kemampuan hebat yang dimiliki Hinamori tidak membuat gadis tersebut merasa bangga. Malah sebaliknya, Gadis ini merasa Tuhan mengutuknya dengan berkah dan kekuatan tersebut. Dia benci dengan kekuatannya tersebut. Benci sekali. Orang-orang merasa dirinya sangat hebat. Orang-orang merasa dirinya sangat suci sehingga orang-orang menghormatinya dengan penghormatan yang berlebihan
Tapi, hal yang paling dibencinya, adalah takdirnya sebagai seorang Tsukuyomi dengan kemampuan melihat masa depan melalui mimpi.
"Kenapa...? Kenapa aku harus mempunyai kekuatan ini...? Kenapa aku harus menjadi Tsukuyomi....?" adalah pertanyaan yang selalu Hinamori tanyakan kepada dirinya sendiri.
Benci. Dia merasa sangat benci dengan takdir dan kemampuannya tersebut.
Hinamori memikirkan kembali tentang mimpinya. "Kehancuran itu......adalah takdir kami di masa datang." pikir Hinamori.
"Apa yang harus kulakukan...?" pikir Hinamori. Dia benci merasa bingung seperti ini. Sebagai seorang Tsukuyomi, tentu saja dia harus mencegah kehancuran negaranya tersebut.
Akan tetapi, Hinamori adalah seorang pelihat mimpi. Seorang pelihat mimpi terlarang untuk menceritakan mimpinya kepada orang lain. Menceritakan masa depan, akan mengubah masa depan tersebut. Tentu saja Hinamori ingin masa depan kerajaannya berubah. Tapi, siapa yang bisa menjamin jika dia menceritakan mimpi tersebut takdir masa depan kerajaannya tidak akan menjadi lebih buruk?
Tes
Air mata menetes dari matanya, jatuh ke pipinya.
Lelah.
Hinamori sudah lelah dengan semua ini.
Berat.
Hinamori sudah tidak sanggup menjalani takdirnya sebagai seorang Tsukuyomi.
Ingin rasanya dia berlari
Ke tempat yang belum pernah diketahuinya
Hidup damai
Hanya dirinya
Sendiri
Tidak ada orang lain
Di sebuah padang rumput
Berwarna hijau
Dengan angin yang berembus lembut
Dengan suara rumput yang saling beradu
Dengan langit yang biru
Dan awan yang saling melaju
"Apa yang harus kulakukan dengan mimpi ini...?" Hinamori menangis. Pelan. Terisak.
***
Malam itu pada saat yang sama, dengan jarak puluhan kilometer jauhnya dari kamar Hinamori, seorang pemuda sedang duduk termenung di atas dahan pohon. Rambutnya berwarna putih, seputih sinar bulan purnama yang sedang bersinar. Matanya berwarna hijau, sehijau padang rumput. Pemuda itu hanya duduk termenung, memandangi langit malam.
"Di sana rupanya kau Hitsugaya.....?" seorang pemuda berambut kuning menyapa pemuda yang sedang termenung tersebut.
"Ayahmu mencarimu, sepertinya beliau ingin membicarakan hal yang penting kepadamu." lanjut pemuda berambut kuning tersebut.
Pemuda yang disapa Hitsugaya itu tidak mejawab. Dia hanya memalingkan pandangannya kepada seseorang tersebut, kemudian kembali memandangi langit malam.
"Kau tahu ayahmu, jika beliau menginginkan sesuatu, maka beliau menghendakinya sekarang juga." Lanjut pemuda berambut kuning tersebut.
"Aku sudah dengar, kau tidak perlu mengulangnya berkali-kali, Kira."balas Hitsugaya kepada pemuda berambut kunig yang dipanggil Kira tersebut.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau mengenal sifat ayahmu."jawab Kira
Hitsugaya hanya terdiam saja mendengar perkataan Kira. Pemuda berambut putih tersebut segera meloncat turun dari dahan pohon yang ia duduki dan langsung berjalan menuju tempat ayah pemuda yang bernama Hitugaya tersebut menunggu.
"Kira-kira ada perlu apa ayahmu memanggilmu? Tidak seperti biasanya." tanya Kira kepada Hitsugaya
Hitsugaya hanya terdiam, dia tahu persis apa yang akan dibicarakan ayahnya.
Hitsugaya berhenti melangkah. Ia kembali memandangi bulan.
"Demi kegelapan, cahaya akan menghilang. Aku bersumpah." Ucap Hitsugaya sambil memandangi bulan.
"Heh....., apa yang kau katakan?" tanya Kira
"Tidak ada apa-apa, kita kembali." Ucap Hitsugaya, meninggalkan Kira yang kebingungan.
***
Di sebuah bangunan yang amat luas, bagaikan sebuah istana, Hitsugaya melangkahkan kakinya ke dalam bangunan tersebut. Setiap orang yang dilewati olehnya pasti akan menunduk hormat kepada pemuda tersebut.
Hitsugaya tidak peduli. Dia hanya ingin segera menemui ayahnya. Segera, Hitsugaya telah sampai ke ruangan yang ia tuju. Kepada penjaga pintu kamar, Hitsugaya memerintahkan kepada penjaga tersebut untuk mengumumkan kedatangannya kepada ayahnya.
"Tuan besar, tuan muda Hitsugaya telah datang." Umum penjaga pintu kamar.
"Persilahkan dia masuk."jawab seseorang yang ada di dalam.
Penjaga pintu mempersilahkan Hitsugaya untuk masuk. Hitsugaya melangkahkan kakinya ke dalam ruang tersebut. Ruangan tersebut sangat luas. Di ujung ruangan tersebut, duduklah seorang pria yang sudah berumur. Akan tetapi, walau kelihatannya sudah tua, matanya terlihat sangat tajam dan menusuk ke dalam hati, seakan-akan pria tersebut dapat menembus melihat hati dan mengintimidasi siapapun yang memandang matanya.
"Ayah memanggil saya?" tanya Histugaya sopan kepada pria tersebut.
"Aku yakin kau sudah mengetahui maksudku."jawab pria yang dipanggil ayah oleh Hitsugaya.
"Apakah mengenai Tsukuyomi?"kejar Hitsugaya pada ayahnya. Pria tersebut mengangguk
"Mengenai gadis itu, ayah tidak perlu khawatir, dengan tangan ini, aku akan merampas nyawanya sebagaimana leluhur kita telah melenyapkan Tsukuyomi."ujar Hitsugaya mantap.
"Bagus, berarti kau sudah siap dengan takdirmu. Jangan pernah kau lupakan dendam keluarga kita. Keluarga kitalah yang berhak memerintah negara ini. Amaterasu dan Tsukuyomi telah merampas milik kita. Apa yang telah dirampas harus direbut kembali. Karena itulah keluarga kita telah bersumpah untuk mendendam kepada mereka."jelas pria tersebut.
Hitsugaya hanya diam. Ia sudah paham takdirnya dan tugasnya. Tak ada seorangpun yang perlu menjelaskan kembali kepadanya mengenai kedua hal tersebut.
"Tsukuyomi telah bersinar selama 18 tahun. Aku ingin agar di usianya yang ke 19 adalah takdirnya untuk ditelan kegelapan."perintah pria tersebut kepada Hitsugaya.
"Ayah tenang saja, di usianya yang ke 19, gadis itu pasti akan meninggal." Ucap Hitsugaya kepada ayahnya.
"Bagus, aku percaya padamu. Sekarang kau boleh pergi." Ucap pria tersebut. Hitsugaya menunduk hormat kemudian keluar dari kamar ayahnya. Hitsugaya melangkahkan kakinya ke kolam taman rumahnya. Tampak bulan memantul di permukaan kolam tersebut.
"Amaterasu, Tsukuyomi, lihat saja, kegelapan pasti akan datang kepada kalian." Sumpah Hitsugaya.
***
Malam itu sangat tenang. Benar-benar tenang sehingga tak ada yang menyadari bahwa malam itu adalah awal dari takdir yang sangat menyedihkan.
